
********
“Seharusnya kamu nggak usah datang. Kamu, kan, bisa bilang sama Bunda kalau kamu sibuk.” Tutur Jingga pada Biru yang kini sibuk memeriksa tekanan darahnya.
“Aku nggak sibuk. Lagian aku nggak bisa bohong kayak kamu.” Sahut Biru seraya membereskan sphygmomanometernya, ucapannya penuh nada sindiran.
Ingin sekali Jingga menyahuti ucapan Biru, namun tubuhnya yang sakit tidak cukup kuat untuk berdebat. Terlebih, di luar ada Bunda.
“Pergi sana. Aku benci sama kamu.” Usir Jingga dengan suara lemah seraya menepis tangan Biru yang hendak menyentuh dahinya. Gadis itu memalingkan wajahnya dari Biru.
“Jingga.” Tegur Biru menatap tajam, sesaat setelah Jingga menepis kasar tangannya begitu dia akan menyentuh dahi gadis itu.
“Aku udah bilang kamu pergi aja.”
Biru menggeram dalam hati, sebisa mungkin menahan emosi yang mulai meluap. Biru benci sikap penolakan Jingga.
“Kamu kayaknya lebih suka Langit yang ngobatin, ya?” Ucap Biru geram.
Jingga mendelik, lalu mengubah posisinya membelakangi Biru, dan menarik selimutnya hingga menutupi leher. “Aku pikir itu lebih baik.”
Biru yang tak suka akan jawaban Jingga hanya bisa menahan gemuruh di hatinya. Dia menghembuskan napasnya kasar dan mengusap wajahnya dengan gusar.
“Aku harus ngukur suhu tubuh kamu, Ji.” Biru menatap punggung Jingga yang membelakanginya.
“Udah tadi sama Bunda.” Sahut Jingga malas tanpa menoleh ke arah Biru.
“Tapi aku harus mastiin sekali lagi.” Biru menyentuh pundak Jingga agar gadis itu berbalik ke arahnya. Tapi Jingga tak mengindahkanya, gadis itu bergeming dalam posisinya.
Kembali menghela napas kasar, Biru kemudian mengambil termometer lain dari tasnya, lalu dia kembali mendekati tubuh Jingga untuk mengukur suhu tubuh gadis itu.
“Ngapain kamu?” Tanya Jingga mendongakkan kepalanya, menatap Biru penuh waspada saat merasakan tangan cowok itu menyentuh rambutnya.
“Udah diem dulu.” Titah Biru seraya menahan tubuh Jingga agar tetap dalam posisi semula. Dia kemudian merapikan rambut Jingga yang terurai agar tak menghalangi telinganya.
Jingga bernapas lega begitu mengetahui ternyata Biru hanya mengukur suhu tubuhnya. Cowok itu mengarahkan sensor inframerah dari termometer tepat pada lubang telinga Jingga.
“Kamu mikir apa?” Cibir Biru sembari menarik salah satu sudut bibirnya. Kini matanya fokus melihat suhu tubuh Jingga yang ditunjukkan termometer.
Jingga tak menanggapi ucapan Biru. Wajahnya yang memang sudah panas terasa lebih panas dari sebelumnya. Dalam hati dia merutuki dirinya sendiri, karena sempat-sempatnya berpikiran kotor.
“Jingga baik-baik aja, kan, Bi?” Bunda tiba-tiba masuk dan menghampiri mereka dengan semangkuk bubur dan segelas air putih di atas nampan yang dia bawa di tangannya.
“Jingga cuma butuh istirahat aja, Tan.” Jawab Biru seraya memamerkan senyum hangatnya.
“Syukurlah.” Bunda menghembuskan napas lega. “Tante khawatir kalau Jingga sakit parah.” Imbuhnya seraya menyimpan nampan yang dibawanya di atas nakas yang ada di samping tempat tidur, lalu menyuruh Jingga untuk bangun.
“Bunda jangan berlebihan, deh. Aku nggak akan terkena sakit parah cuma gara-gara kehujanan. Lagian besok juga pasti sembuh sendiri.” Jingga mendengus kesal seraya membawa tubuhnya untuk duduk dan bersandar pada headboard ranjang.
“Lagian Bunda heran, kok, bisa-bisanya kamu main hujan-hujanan.” Omel Bunda sembari mengambil mangkuk bubur dan duduk di tepi ranjang di sebelah Jingga, bersiap untuk menyuapi anak gadisnya.
“Kehujanan, Bun.” Jingga mengoreksi.
“Sengaja, Tan, main-main. Seneng banget kayaknya kemarin.” Timpal Biru menyindir. Jingga langsung memutar lehernya ke arah Biru dan mendelik selebar-lebarnya.
“Kamu ngomong apa, sih? Kan aku udah bilang kehujanan.” Sambar Jingga kesal. Dia menatap Biru dengan tatapan jengkel. Cowok itu sungguh tak melihat keadaan untuk mengajaknya berdebat. Biru membuat kepalanya semakin sakit saja.
“Eh, eh, kok ngomongnya kesel gitu sama Biru?” Tegur Bunda tak suka. Jingga hanya mengedik tak peduli. “Ayo cepet makan dulu, habis itu minum obat yang yang udah Biru siapin.” Tutur wanita itu kemudian sembari mengarahkan sendok ke mulut Jingga.
“Aku cuma demam, Bun, bukan lumpuh. Aku bisa makan sendiri.” Jingga merampas mangkuk berisi bubur dari tangan Bunda.
Gadis itu kemudian memakan bubur buatan Bunda dengan susah payah. Lidahnya yang terasa pahit membuatnya tidak bisa menikmati makanannya. Namun, Jingga tetap berusaha untuk menelan makanannya meski tenggorokannya terasa penuh dan ingin memuntahkannya kembali. Dia menghargai Bunda yang telah membuatkan bubur untuknya, dia tak boleh mengeluh seperti anak kecil dan membuat wanita itu semakin khawatir.
Jingga mempercepat makannya dengan menelan bulat-bulat setiap suapan yang dia masukkan ke dalam mulutnya, hingga akhirnya membuat dia tersedak.
“Pelan-pelan makannya, Ji.” Biru dengan sigap memberikan tepukan di belakang punggung Jingga, tangannya kemudian terulur mengambil gelas dari tangan Bunda dan memberikannya pada Jingga, kemudian menuntunnya untuk minum. Bunda tersenyum melihat sikap perhatian Biru. Itu mengingatkannya pada masa mudanya dulu bersama Ayah.
“Ngapain, sih, caper banget? See, dia cuma lagi pura-pura baik.” Jingga menggerutu dalam hati di sela-sela minumnya. Sesekali matanya menatap sebal Biru.
“Eung. Maaf, ya, Bun. Kayaknya aku udahan aja, deh, makannya.” Jingga akhirnya menyerah, dia benar-benar tidak kuat jika harus menghabiskan semua buburnya yang masih tersisa setengah lagi.
“Ya udah gak apa-apa, yang penting kamu udah makan. Sekarang minum obatnya.” Jawab Bunda diiringi senyuman lembut.
Jingga mengambil obat yang diberikan Bunda, lalu menelannya dengan cepat. Dia benar-benar ingin segera tidur setelah ini.
“Tidur, Ji.” Ucap Biru sembari mengelus kepala Jingga dengan lembut, tapi Jingga tak tersentuh sama sekali. Mungkin jika hubungan mereka baik-baik saja, Jingga akan sangat senang dengan perlakuan yang diberikan Biru.
“Ehem. Kalau kalian masih mau kangen-kangenan, Bunda keluar dulu, deh.” Suara Bunda menghentikan tangan Biru yang masih mengelus kepala Jingga. Biru tersenyum kikuk ke arah Bunda yang kini beranjak keluar seraya membawa peralatan bekas makan Jingga. “Tapi pintunya Bunda biarin terbuka, ya.”
Sementara Jingga, dia hanya memutar bola matanya malas saat mendengar penuturan Bunda. Tck, kengen-kangenan apanya? Itu terdengar sangat menggelikan. Rasanya Jingga muak melihat cowok yang sedang duduk di sampingnya itu.
“Biru. . .” Panggil Jingga setelah beberapa saat hening selepas kepergian Bunda.
__ADS_1
Biru mengernyitkan alisnya. Heran karena tak biasanya Jingga memanggil namanya secara langsung, dan Biru tidak suka mendengarnya.
“Apa aku bisa minta sesuatu dari kamu?” Tanya Jingga kemudian, menatap Biru dengan sorot mata sendu. Biru hanya diam menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.
“Apa?” Tanya Biru yang melihat gadis itu tampak ragu untuk mengatakan kalimat selanjutnya.
Jingga menatap Biru ragu, untuk kemudian berucap. “Aku nggak mau kita ngelanjutin perjodohan ini. Aku nggak bisa.”
“Jangan ngaco!” Seru Biru dengan nada dinginnya, rasa kesal menyelimuti hatinya setiap kali Jingga mengatakan sesuatu tentang mengakhiri hubungan mereka. Dia hendak turun dari tempat tidur, namun tangan Jingga menahan lengannya, sehingga membuatnya terduduk kembali.
“Aku serius.” Ucap Jingga. “Jadi, ayo kita bicara sama orang tua kita kalau kita nggak bisa ngelanjutin ini, hum?” Pintanya kemudian dengan sorot mata penuh harap.
“Itu nggak akan pernah terjadi.” Biru menyentak tangan Jingga, sorot matanya menghunus tajam.
“Tapi aku nggak akan bahagia. Kamu juga.” Suara Jingga terdengar putus asa, pun dengan sorot matanya.
Biru mendengus kasar, lalu menghela napas dalam-dalam guna menahan kesabaran dalam menghadapi gadis di depannya itu.
“Aku bilang itu nggak akan pernah terjadi.”
“Kenapa? Kenapa kamu terus mempertahankannya, padahal kamu nggak cinta sama aku?” Entah untuk ke berapa kalinya Jingga menayakan hal ini.
“Karena kamu punya aku. Baik dulu, sekarang, ataupun nanti.” Dan hanya jawaban tidak masuk akal seperti ini yang selalu Jingga dapatkan.
“Aku merasa sepertinya aku ini mainan. Sesekali aku merasa sangat dicintai, tapi kemudian kamu melukai aku sesuka hati. Begitu terus berulang-ulang. Tolong berhenti membuat aku bingung, karena hati aku nggak mati rasa kayak kamu.” Suara Jingga nyaris tercekat, tatapannya marah dan putus asa.
Jingga merasa dadanya sesak setiap kali mengingat Biru yang memperlakukannya seperti sebuah mainan. Biru mungkin tidak membuangnya, tapi tetap saja Biru tidak pernah mencintainya. Biru membuat Jingga merasa seperti itu, dan itu sangat melukai hatinya.
“Kamu makin ngaco.” Ucap Biru sambil beranjak dari duduknya. “Kamu butuh istirahat, aku keluar dulu.”
Gadis itu menatap Biru berang, napasnya memburu menahan amarah. Selalu saja Biru menghindar atau mengalihkan pembicaraan setiap kali dia mengatakan hal itu.
“Mengakhiri atau kata lain dari itu. Jangan pernah kamu mengatakannya lagi, karena aku nggak akan membiarkan kamu pergi.” Nada suara Biru penuh peringatan sebelum akhirnya dia melangkah keluar dari kamar Jingga.
“Ini nggak adil. Hati aku terluka, tapi dia seperti baik-baik saja.” Gumam Jingga lirih, air matanya menetes, mengalir melewati pipi mulusnya sebagai ekspresi rasa sedihnya. Hatinya kini seolah tak mampu lagi menahan segala perih yang datang.
“Dear my heart, I’m sorry to hurting you again. Kamu bisa ngutuk aku karena aku terlalu bodoh, maaf membuat kamu terlalu lemah. Maaf karena kamu harus bersemayam di tubuh aku.” Jingga berbicara pada hatinya sendiri, dia merasa bersalah karena begitu mudahnya melepaskan hatinya pada seseorang seperti Biru yang tak dia sangka akan sangat melukai hatinya separah ini.
Mata Jingga mulai memberat karena efek obat yang dia minum tadi mulai bekerja, perlahan matanya tertutup seiring dengan air mata yang masih mengalir di pipinya.
“Sebentar lagi, aku akan menjauhkan kamu dari hal-hal yang menyakiti kamu. Aku nggak akan membuat kamu terluka lagi. Percayalah.” Jingga menguatkan dirinya sendiri sebelum akhirnya benar-benar pergi ke alam bawah sadarnya.
********
Sebenarnya kemarin Jingga juga sudah sehat, tapi kedatangan Tante Lisa yang pagi-pagi sekali menahannya untuk pergi bekerja. Wanita paruh baya itu memaksa Jingga untuk beristirahat sehari lagi. Entah dari mana wanita paruh baya itu mengetahui dirinya sakit, Jingga tebak mungkin Biru yang memberitahunya.
Seharian Tante Lisa menemani Jingga istirahat, menggantikan Bunda yang harus pulang karena Senja akan menitipkan Biel. Di sela-sela menemaninya, Tante Lisa menunjukan katalog baju pengantin untuk pernikahannya dengan Biru.
Melihat Tante Lisa yang begitu antusias, Jingga tak tega untuk tidak menanggapinya. Wanita paruh baya itu meminta Jingga memilih baju yang akan digunakannya nanti, dan dia mengatakan akan menyiapkan semuanya.
“Ahh, tapi mending kamu sama Biru langsung pilih bajunya di butik aja, sekalian fitting. Lagian Tante juga udah pilihin beberapa baju yang kira-kira cocok buat kalian. Nanti Tante ikut nemenin, deh.”
Jingga tersenyum seraya menghela napas berat mengingat kehebohan Tante Lisa.
“Lusa, kamu sama Biru kosongin jadwal di sore hari, ya.”
Lagi, Jingga teringat wajah antusias dan semangat Tante Lisa dalam mempersiapkan segala keperluan pernikahannya dengan Biru
“Mana bisa aku ngecewain Tante Lisa.” Jingga membatin.
Tapi Jingga juga sudah berjanji pada hatinya sendiri untuk menjaganya agar tidak terluka lagi. Jingga harus bagaimana? Jingga sudah muak dengan Biru.
Haruskah dia bertahan sebentar lagi?
“Dokter, kamu mau ke mana?” Tanya Hana sedikit berteriak saat melihat Jingga yang malah berjalan ke lorong lain.
“Dokter Jingga . . . .” Sekali lagi Hana berteriak saat tak mendapatkan sahutan. Jingga yang tersadar dari lamunan menghentikan langkahnya dan berbalik. Satu alisnya terangkat, heran karena Hana tidak mengikutinya dan malah terdiam beberapa langkah di belakangnya.
“Han, kok, kamu malah diem? Ayo kembali ke ruangan.” Ucap Jingga setengah berteriak.
Hana berdecak geli sambil memutar bola matanya malas. “Kamu yang salah jalan.”
Jingga mengerjapkan mata, pandangannya menyusuri sekitar, lalu tersadar jika dia salah lorong karena terlalu fokus melamun.
“Ohh, iya.” Jingga nyengir lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Butuh Aqua?” Cibir Hana sembari terkekeh pelan. Jingga hanya mendengus dan kembali mengambil langkah.
Mereka akan menaiki lift, namun diurungkan saat mendengar ada keributan di salah satu ruangan VIP. Meski dari kejauhan, tapi mereka dapat melihat dan mendengarnya dengan jelas. Terlihat beberapa dokter dan perawat berkerumun di depan ruangan itu.
Karena penasaran, Hana dan Jingga memilih untuk melihat apa yang sedang terjadi di sana.
__ADS_1
“Ini ada apan, sih?” Tanya Hana to the point pada salah satu perawat. Dia lantas berjinjit untuk melihat ke dalam ruangan, tapi matanya tak bisa menjangkaunya karena terhalang kerumunan.
“Seorang pasien melecehkan Perawat, hampir saja. Untung Prof. Biru kebetulan lewat. Kayaknya dia bakal hajar aki-aki hidung belang itu.” Jawab salah satu Suster di kerumunan.
Jingga langsung menerobos kerumunan saat mendengar Biru hendak menghajar orang, Hana dengan susah payah mengikutinya.
Jingga terkejut melihat Biru yang sedang mencengkram kerah baju pasien lelaki paruh baya dengan tubuh yang sedikit gembul, tampangnya memang mirip pria hidung belang seperti di film-film. Dan Jingga semakin dibuat terkejut saat mendapati Luna menangis sesenggukkan berdiri tak jauh dari Biru. Apa perawat yang dilecehkan itu Luna?
Sialan. Malaupun Jingga tidak menyukai Luna, tapi Jingga tak akan pernah terima kalau kaumnya dilecehkan. Jingga terperangah, bisa-bisanya seorang pasien melakukan hal ini. Gadis itu jadi merasa iba pada Luna.
“Suster ini berbohong. Dia yang menggoda saya.” Lelaki hidung belang itu membela diri, ketakutan melihat Biru yang menatapnya dengan buas seolah siap memangsa.
“DAMN.” Biru semakin menarik kerah baju pria itu, lalu menjatuhkannya dengan keras. Tidak peduli dia itu seorang pasien di rumah sakit miliknya.
Biru kemudian menarik pria hidung belang itu berdiri kembali. Dia menatap marah seakan ingin membunuhnya. Luna menghampiri Biru, berusaha menahan dan menenangkannya. Tapi, Biru tidak bisa membiarkan pria itu lolos begitu saja, hingga dia mendorong Luna untuk menjauh.
Jingga meringis, khawatir Biru akan mencelakai pria hidung belang itu. Dia heran, dari banyaknya orang yang berkerumun, tapi tak ada seorangpun yang berniat menghentikan Biru.
Kemarahan yang sudah menyelimuti Biru membuat cowok itu hendak memukul kembali si pria hidung belang. Tapi dengan cepat Jingga menghampiri dan menahan tangannya yang sudah melayang siap memberi bogeman mentah.
“Kamu bisa bunuh dia.” Tegur Jingga. Biru yang sudah hilang kesabaran lantas mendorong lelaki itu dengan sebelah tangan hingga tersungkur di lantai.
“Saya akan mengajukan gugatan pada rumah sakit ini atas dasar tuduhan pelecehan, pelayanan tidak ramah, dan penganiayaan.” Ancam si lelaki hidung belang yang tidak terima diperlakukan seperti itu.
“Silahkan saja. Itu berarti anda siap mengantarkan diri anda sendiri ke dalam penjara.” Balas Biru yang masih diselimuti emosi.
“Tugas Perawat bukan untuk melayani kamu seperti itu. Anda salah tempat datang ke rumah sakit, pergi ke club malam sana.” Imbuh Biru untuk kemudian berlalu sembari menarik tangan Luna keluar dari sana setelah petugas keamanan datang.
Biru mengabaikan Jingga yang melihat kepergiannya dengan tatapan getir. Tak ingin memikirkannya, Jingga kemudian keluar dari ruangan itu diikuti Hana.
“Han, kayaknya aku nggak jadi balik, deh, ada yang ketinggalan tadi di UGD. Kita langsung ketemu di kantin buat makan siang.” Ucap Jingga tanpa menunggu balasan Hana, lalu dengan cepat beranjak dari hadapan Hana untuk pergi ke atap. Rasanya Jingga butuh waktu untuk menenangkan diri.
Melihat Biru yang sangat marah untuk membela Luna tadi, Jingga sedikit terluka, hatinya sakit meski dia berusaha berpikir positif jika Biru hanya sedang membela kaumnya yang sedang dilecehkan. Tapi sebesar apapun usahanya mengalihkan perhatian, Jingga tetap cemburu.
Salahkah?
********
Sepertinya sulit sekali untuk Jingga menjaga hatinya sendiri agar tidak terluka. Tak disangka, setelah tiba di atap dia malah harus melihat pemandangan tak mengenakan.
Biru sedang memeluk Luna yang menangis parah. Cowok tampak mengusap-usap punggung Luna untuk menenangkannya.
“Aku takut, Bi. Aku merasa jijik.”
Jingga bisa mendengar jelas Luna mengucapkan itu. Hatinya mencelos sakit melihat gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang Biru.
“Lupain itu.” Biru berucap dengan nada lembut.
“Kalau nggak ada kamu, mungkin aku udah–”
Kalimat Luna tergantung saat Biru tiba-tiba meraih wajahnya. “Shuut. Aku bilang lupain kejadian tadi.” Lantas dia menyeka air mata Luna dengan kedua ibu jarinya.
Ingin sekali Jingga pergi dari sana sekarang juga, namun kakinya seolah membeku. Dia hanya tetap berdiri mematung, menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak indah di hadapannya.
“Aku anterin kamu pulang, ya. Dan sebaiknya kamu nggak perlu masuk kerja untuk beberapa hari ke depan.” Ujar Biru kemudian sembari mengurai pelukannya.
“Bapak tadi gimana? Mungkin dia akan menuntut kita dan rumah sakit ini.” Ucap Luna khawatir.
“Tenang aja. Aku bisa mengurus itu dengan mudah.” Jawab Biru yakin.
“Ayo. . . .” Biru meraih pundak Luna, menuntunnya untuk beranjak.
Saat mereka berbalik untuk meninggalkan atap, Biru sedikit terkejut dengan keberadaan Jingga yang tengah menatapnya dengan wajah sedih.
“Ji. . . .”
“Kamu udah lama di sini? Kok gak negur aku?” Tanya Biru sedikit gugup.
“Baru dateng, kok.” Jawab Jingga sambil memaksakan senyumnya, terlihat masam.
“Aku mau anterin Luna pulang dulu. Kita ketemu nanti malam.” Ucap Biru sembari mengusap puncak kepala Jingga singkat dan menyunggingkan sedikit senyum ke arahnya, untuk kemudian dia berlalu pergi bersama Luna.
Sungguh tidak adil. Hati Jingga menahan sakit, sementara Biru tersenyum seperti itu.
“Aku harap dia dihukum. Sakit. Sama seperti aku.” Seumur hidup, Jingga tidak pernah mendoakan hal buruk seperti ini pada orang lain.
Mungkin saat ini Jingga belum menemukan jalan untuk keluar dari keadaan ini. Tapi Jingga yakin, suatu saat Tuhan akan menolong dan memberikannya jalan keluar. Jika Tuhan sudah menolong, maka tak ada satupun yang akan mengalahkannya. Jingga hanya perlu bersabar, sebentar lagi.
********
To be continued . . . .
__ADS_1