
*********
Saat ini Biru sudah berdiri di atap gedung rumah sakit. Sebenarnya malas sekali menemui Luna. Namun, terpaksa dia harus menemuinya untuk memberi peringatan agar gadis itu tidak menghubungi atau mendekatinya lagi. Terlebih karena dia akan segera menikah dengan Jingga. Biru tidak ingin membuat gadis itu khawatir akan keberadaan Luna.
“Ada apa?” Tanya Biru dingin, lalu kembali memberi peringatan. “Aku udah bilang jangan pernah gangguin aku lagi, baik dalam bentuk chat, telepon, atau apapun.”
“Bi, apa kamu nggak bisa ngasih aku kesempatan?” Tanya Luna memelas, tak peduli dengan peringatan yang dilontarkan Biru.
“Kalau kamu minta aku ke sini cuma buat bahas ini, aku pergi.” Biru kira Luna sudah menyadari kesalahannya, namun Luna ternyata masih sangat angkuh.
“Tolong jangan ngehindarin aku lagi, Bi.” Luna mengejar Biru yang mulai berjalan pergi hendak meninggalkannya, lalu dengan cepat memeluk cowok itu hingga membuatnya membelalak kaget.
“Luna, kamu apa-apaan? Lepasin aku.” Biru berusaha melepaskan tangan Luna, tapi nihil karena gadis itu memeluknya terlalu erat.
“Aku udah ada di sisi kamu dari kecil. Tapi kenapa dengan mudahnya Jingga yang dapetin hati kamu, Bi?” Tanya Luna penuh emosi.
Biru mengetatkan rahangnya, berusaha menahan diri untuk tidak melakukan kekerasan fisik pada Luna karena mengingat ibunya dan Jingga juga seorang perempuan. “Lepasin, atau kamu akan tahu akibatnya!”
“Ini nggak adil. Bahkan dia akan menikah sama kamu.” Lanjut Luna menggebu-gebu, masih mengabaikan peringatan Biru.
Ingatan tentang semalam ibunya mengatakan bahwa Biru akan segera menikah dengan Jingga minggu depan membuatnya benar-benar tak terima. Ini tidak boleh terjadi.
“Sejak awal kamu tahu kalau kita nggak bisa lebih sekedar dari teman.” Ujar Biru tegas.
Luna menggeleng dan semakin mengeratkan pelukannya.
“Sekarang lepasin aku!” Biru mendorong tubuh Luna kasar hingga pelukannya terlepas, tapi buru-buru gadis itu kembali memeluknya, meski sakit hati atas perlakuan Biru barusan.
“LUNA.” Bentak Biru yang sudah hilang kendali diri, kembali mendorong tubuh Luna agar menjauh.
“Apa kamu nggak bisa ngasih sedikit aja cinta kamu ke aku?” Luna mulai terisak.
“Cinta? Bahkan untuk berteman sama kamu aja aku nggak mau. Kamu orang yang licik, Luna.” Sahut Biru penuh penekanan.
Luna menggeleng dengan air mata berhamburan. “Enggak, Bi–”
“Dan setelah aku tahu semua kelicikan kamu, kamu bahkan sama sekali nggak sadar.” Sambar Biru cepat. “Selama ini kamu udah berhasil nyiksa Jingga dengan cara manfaatin hubungan pertemanan kita.”
“Jingga yang bilang gitu?” Bibir Luna terangkat membentuk seringai. Kedua tangannya lantas mengusap air matanya asal. “Tck, si pick me yang suka playing victim.”
“Aku nggak nyangka ternyata kamu sesombong ini. Berhenti menyudutkan Jingga, Luna.” Biru menatap tajam gadis di depannya. Terselip amarah dan kekecewaan di sana.
Seringai di wajah Luna semakin lebar. “Aku nggak tahu apa udah yang Jingga kasih sampai kamu bisa segila ini. Tubuh dia?”
“Brengsek!” Maki Biru nyaris tak membuka mulutnya, tangannya terkepal erat-erat, matanya nyalang tajam, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak memukul Luna.
“Pergi dari hadapan gue sekarang juga!” Perintah Biru dingin dan tegas. Dia benar-benar muak melihat wajah Luna. Tidak akan dia biarkan siapapun menghina gadisnya.
Luna terperangah mendengar Biru mengganti panggilan mereka. Hatinya semakin diremas kuat.
“Bi, aku bisa ngelakuin yang lebih baik dari Jingga. Terima aku dan berikan sedikit hati kamu, please.” Pinta Luna memelas seraya menggenggam tangan Biru. Namun, dengan cepat Biru menghempaskan tangannya.
“Dan di mata gue Jingga adalah yang terbaik. Nggak akan ada yang lebih baik dari dia.” Sambar Biru tegas, membuat Luna menggeram tertahan.
Luna menatap tajam Biru dengan bibir tertarik membentuk senyum sinis. “Oke, kalau gitu aku akan membuat Jingga membenci kamu.”
Biru mengerjap, mencoba mencerna maksud ucapan Luna. Tapi tak bisa berpikir lama setelah Luna meraih wajah dan mencium bibirnya dengan paksa.
Biru membelalak, mendapat serangan kejut bertubi-tubi karena bertepatan dengan itu suara lirih Jingga berdengung di telinganya.
“Kakak . . . .”
Lantas dengan gerakkan cepat dia mendorong tubuh Luna, sangat keras hingga gadis itu jatuh ke lantai.
“Ji . . . .”
Biru mendapati Jingga yang berdiri dari jarak tak jauh darinya, sedang menatapnya dengan tatapan kecewa.
“Ji, aku bisa jelasin.” Biru hendak menghampiri Jingga. Namun, gadis itu dengan cepat berbalik, setengah berlari pergi meninggalkan atap.
Luna yang melihatnya tersenyum puas, dalam hati dia berdoa dan berharap penuh untuk kehancuran hubungan mereka. Dia tidak rela Jingga yang datang setelah dirinya memiliki Biru dengan semudah itu. Tidak akan pernah rela.
“Ji, please dengarin aku dulu.” Biru berusaha mengejar Jingga yang kini sudah keluar dari area atap gedung rumah sakit.
Gadis itu hanya terdiam dengan wajah tanpa ekspresi.
“Jingga . . . .” Biru meraih pergelangan tangan Jingga yang hendak masuk lift.
“Maaf, aku harus segera ke ruang operasi, Prof. Biru.” Ucap Jingga dingin seraya menghempas kasar tangan Biru yang bertengger di pergelangan tangannya.
“Ji . . . .” Dan Biru hanya bisa menatap kepergian Jingga seiring dengan pintu lift yang tertutup.
Mendengar dari cara Jingga memanggilnya. Biru sadar bahwa Jingga pasti marah padanya.
“Shit*.” Biru mengacak-acak rambutnya frustrasi.
Kenapa Jingga bisa berada di atap, sih? Bukannya gadis itu tadi masih anteng di ruangannya saat dia berpamitan untuk pergi?
“Lihat akibatnya nanti karena kamu berani ngelakuin ini, Luna.” Biru menggeram dengan tangan yang mengepal.
Dia tidak akan memaafkan Luna jika sampai terjadi hal buruk dengan hubungannya. Bukan hanya itu, Biru bahkan tak akan segan untuk memukul gadis itu jika sampai Jingga salah paham dan kembali meninggalkannya.
********
Sementara itu di dalam lift, Jingga tersenyum getir dengan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya. Bukan karena dia melihat Biru berciuman dengan Luna, bukan. Dia bahkan tahu Luna yang menciumnya lebih dulu, karena dia memang menyaksikan semuanya.
Alasan yang membuatnya diliputi rasa kecewa adalah mendapati Biru berbohong. Kenapa Biru tidak jujur? Untuk apa dia berbohong? Seandainya dia jujur, Jingga juga tidak akan melarang cowok itu untuk menemui Luna, dan bahkan Jingga akan menemaninya hingga insiden dipeluk dan dicium itu mungkin tidak akan terjadi.
Beberapa saat yang lalu saat dia dan Biru masih ada di ruangannya, entah kenapa Jingga mendengar keraguan dari jawaban Biru saat dia menanyakan apakah cowok itu mendapatkan panggilan darurat.
Perasaan gelisahpun menghampiri hati Jingga begitu Biru pergi dari ruangannya, terlintas dalam pikirannya jika Biru akan menemui Luna, namun dia segera menepis pikiran buruknya itu karena percaya Biru sudah tidak berhubungan lagi dengan gadis itu.
Biru sendiri yang mengatakan padanya bahwa dia dan Luna sudah tidak bisa lagi berteman seperti dulu, dan dia pula yang mengatakan padanya tidak ingin berhubungan lagi dengan Luna bahkan untuk sekedar berteman.
Tak ingin terus berpikiran buruk, akhirnya dengan iseng Jingga mengikuti Biru, mengingat masih ada waktu sebelum jadwal operasinya tiba.
Namun, dia dibuat heran karena saat Biru menaiki lift, lantai tujuan Biru bukanlah lantai tempat di mana dia bekerja, ataupun turun ke lantai dasar menuju ruang UGD. Lift yang dinaiki Biru malah naik ke lantai paling atas.
Dan dengan insting tajam seorang perempuan, Jingga memiliki firasat jika Biru akan pergi ke atap untuk menemui seseorang.
Benar saja, karena saat Jingga tiba di sana, dia melihat Luna sedang memeluk Biru. Jingga berdiri dan menyaksikan semuanya dari kejauhan, sampai saat Luna tak sengaja melihatnya dan gadis itu dengan gilanya lalu mencium Biru.
“Aku kecewa sama kamu, Kak.” Lirihnya dalam hati seraya menghapus air mata yang lolos jatuh dan mengalir di pipinya.
********
Jam tujuh malam, Biru mondar-mandir di dalam ruangan Jingga sembari terus berusaha menghubunginya melalui ponsel. Setengah jam yang lalu dia bertemu Bisma yang baru keluar dari ruang operasi dan menanyakan keberadaan Jingga. Cowok itu mengatakan jika Jingga sudah kembali ke ruangannya.
Namun, saat Biru menyusul, dia tak mendapati Jingga ada di ruangannya. Ruangannya kosong, terlihat juga jas dokter milik Jingga yang sudah bertengger rapi di standing hook, menandakan bahwa si pemilik ruangan sudah pergi dari sana.
__ADS_1
“Kamu ke mana, Ji?” Biru bertanya-tanya dengan raut wajah cemas dan khawatir saat Jingga tak kunjung menjawab panggilannya. Pikiran buruk tentang Jingga akan kembali pergi meninggalkannya berkeliaran di kepala.
Kepergian tanpa jejak Jingga waktu itu menjadi trauma tersendiri untuk Biru. itu adalah bagian paling buruk dalam hidupnya.
Lalu dengan gerakkan cepat, Biru melangkah keluar dari ruangan Jingga untuk pergi ke rumah orang tuanya. Dia yakin jika Jingga sudah pulang.
Cowok itu mengendarai mobilnya dengan perasaan gusar, ingin sekali saat ini dia memiliki ilmu teleportasi agar bisa sampai di rumah orang tua Jingga dalam sekejap.
“Sial.” Biru memukul setir mobilnya saat terjebak macet. Jelas, ini masih jam pulang kerja. Tentu saja jalanan padat.
Berulang kali Biru mengusap wajahnya dengan kasar, sesekali berteriak penuh kekesalan, bahkan saat dia mengangkat panggilan telepon dari ibunya, Biru menjawab dengan nada suara kesal.
“Ada apa sih, Ma?” Sahut Biru begitu dia menyelipkan earpiece di telinganya.
“Lho, kok kamu kesel gitu jawabnya? Nggak sopan lho sama orang tua.” Omel Mama di seberang telepon.
“Iya, ada apa, Ma?” Biru sambil menahan emosi yang membuncah di hati sebisa mungkin merendahkan nada suaranya.
“Kamu di mana? Ini Jingga udah selesai fitting bajunya, lho.”
Mata Biru membulat seketika mendengar penuturan Mama barusan. Gadis itu fitting baju? Itu berarti dia sekarang ada di butik?
“Jingga selesai fitting baju?” Biru ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
“Iya. Kamu kalau kerjaannya udah beres langsung ke butik aja. Kalo bisa dicepetin, ini udah malem.” Jawab Mama.
“Oke. Aku ke sana sekarang juga. Mama tolong bilangin Jingga jangan dulu pulang.” Sahut Biru seraya mengakhiri panggilannya, lalu segera berbalik arah menuju butik di mana ibunya dan Jingga berada.
Menghela napas lega, perasaannya sedikit tenang mengetahui Jingga ada bersama Mama sekarang.
********
Biru tiba di butik dengan penampilan awut-awutan, rambut yang berantakkan karena tadi terlalu sering mengacak-acak rambutnya frustrasi, serta kemeja yang sudah keluar sebagian dari sela celana di pingganggnya. Siapa yang akan menyangka dia seorang Kepala Rumah Sakit?
Cowok itu menghembuskan napas lega saat matanya menangkap Jingga yang sedang duduk di sofa sambil mengobrol ringan dengan Mama.
“Ji. . . .” Dengan tak sabaran dia menghampiri Jingga dan berhambur memeluknya, hingga membuatnya terkesiap.
“Hiish, kamu tuh, ya. Inget tempat, dong, kalau mau peluk-peluk.” Tegur Mama sambil memukul keras pundak Biru menggunakan kipas lipat di tangannya.
Bagaimana tidak? Karena di sana masih ada pegawai butik yang memperhatikan mereka. Bahkan pegawai butik itu tampak salah tingkah menyaksikan tingkah Biru.
“Sakit, Ma.” Protes Biru setelah menarik diri. Jingga sendiri hanya seditkit mendelik, enggan untuk melihatnya apalagi berbicara.
“Lagian kamu, datang-datang main peluk aja. Mama suruh kamu ke sini buat nyobain baju, bukan buat mesra-mesraan.” Mama kembali mengomel, sekali lagi memukul lengan Biru dengan kipas lipatnya hingga membuat cowok itu meringis kesakitan.
“Udah sana ke fitting room, pasin sendiri tuh baju masih oke, kebesaran, atau kekecilan di tubuh kamu. Mama sama Jingga tunggu di sini.” Titah Mama kemudian, gregetan sendiri karena Biru masih diam di tempatnya.
“Ish, iya-iya.” Ucap Biru malas, kemudian beranjak untuk masuk ke ruang ganti. Dia harus segera menyelesaikan ini agar bisa secepatnya meluruskan kesalahpahamannya dengan Jingga.
“Gimana?” Tanya Mama setelah Biru keluar dari ruang ganti.
“Masih oke, kok, Ma. Nggak ada yang harus diperbaikin.” Jawab Biru yakin. Mama menghela napas lega mendengarnya, itu berarti urusan baju pengantin sudah selesai dan dia tinggal mengurus sisanya.
“Ya udah, kalau gitu ayo kita makan malam.” Ajak Mama sambil beranjak dari duduknya.
“Nggak bisa, Ma.” Sambar Biru cepat.
“Lho, kenapa? Kamu masih ada urusan di rumah sakit? Ya udah, nggak apa-apa. Mama sama Jingga bisa pergi berdua.” Sahut Mama santai, lalu menarik pelan lengan Jingga agar gadis itu beranjak. “Ayo, Ji.”
“Enggak, enak aja.” Biru menarik lengan Jingga hingga tubuh gadis itu berada di sisinya. “Aku ada urusan sama Jingga. Lain kali aja Mama makan malam sama Jingga, oke?”
“Kamu, kan, udah seharian ketemu Jingga, urusan kalian nanti aja. Sekarang giliran Mama.” Mama tak mau kalah kembali menarik lengan Jingga hingga bergerak ke sisinya.
“Enggak. Mama lain kali aja.”
“Enggak, pokoknya kamu ikut sama Tante, Ji.”
Jingga memutar bola matanya malas menjadi rebutan calon suami dan mertuanya. Perkara makan malam saja mereka harus ribut.
“Kita makan malam dulu aja.” Ucap Jingga berusaha menengahi.
“Tuh denger, kan?”
“Enggak, aku harus bawa Jingga pergi sekarang.” Biru dengan cepat menarik tangan Jingga untuk pergi dari hadapan Mama.
“Bi, heh nggak bisa gitu, dong, Mama dtinggal sendirian. Biru. . . .”
Suara melengking Mama masih samar terdengar sampai dia dan Jingga keluar dari butik.
“Lepasin aku.” Jingga menyentak tangan Biru sesaat setelah mereka sudah tidak terlihat dari jangkauan Tante Lisa.
“Kamu mau ke mana?” Biru meraih lengan Jingga untuk menahan langkahnya yang bergerak ke arah lain.
“Pulang.” Jawabnya dingin, kembali melangkah menuju mobil miliknya sesaat setelah menyentak tangan Biru.
“Kan sama aku.” Biru mengejar dan mensejajarkan langkah dengan Jingga.
“Pak Asep udah nunggu.” Sahut Jingga tanpa menoleh.
“Pak, Bapak duluan aja, Jingga pulang sama saya.” Titah Biru saat mereka tiba di depan mobil milik Jingga. Tangannya menggenggam tangan gadis itu agar tidak melarikan diri.
Lelaki berseragam sopir itu mengernyit seraya menatap Jingga ragu.
“Apaan, sih? Pak Asep nggak usah dengerin di–”
“Bapak pulang sekarang atau saya minta Om Rendra buat pecat Bapak?” Sambar Biru megancam, tatapannya yang penuh intimidasi membuat Pak Asep takut dan mengiyakan, lalu benar-benar pergi.
“Kamu apa-apaan, sih?” Sentak Jingga kesal, beusaha melepaskan tangan Biru, tapi tak berhasil karena cowok itu menggenggam tangannya begitu erat. “Kamu emang suka seenaknya kayak gini, ya.”
“Bukan gitu. Tapi kita harus bicara, ada yang mau aku omongin sama kamu.” Ujar Biru sabar.
“Ya udah ngomong aja di sini.”
“Nggak di sini, Ji.” Sahut Biru frustrasi. “Ikut aku, ya? Hem?” Rayunya kemudian.
Jingga mendengus tanpa ingin menyahuti cowok itu, dan Biru menganggap keterdiaman Jingga adalah setuju.
“Ayo.” Dengan hati-hati Biru meraih pundak Jingga untuk membimbing gadis itu berjalan menuju mobilnya.
“Aku bisa jalan sendiri.” Jingga menyentak bahunya agar tangan Biru menyingkir.
“Oke.” Biru mengalah dan melepaskan tangannya dari pundak Jingga, membiarkan gadis itu berjalan mendahuluinya tanpa bisa melawan.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, mobil yang dikemudikan Biru berbelok masuk ke dalam basement sebuah bangunan apartemen mewah miliknya. Jingga yang baru menyadari Biru tidak membawanya pulang, sontak menatap Biru dengan mata menyalang.
“Kok ke sini?”
“Iya, kita ke apartemen aku dulu. Habis itu aku anterin kamu pulang.” Jawab Biru sambil membuka seatbeltnya.
__ADS_1
“Aku nggak mau.”
“Please, sebentar aja, oke?” Bujuk Biru dengan nada lembut. Bagaimanapun, dia harus berhati-hati menghadapi gadisnya yang sedang marah ini.
Dan dengan hati yang dongkol, Jingga turun dari mobil Biru. Gadis itu kemudian menutup pintu mobil dengan membantingnya sekeras mungkin, hingga membuat Biru terperanjat kaget, tapi juga tidak bisa berbuat apa-apa.
“Ayo. . . .” Biru meraih tangan Jingga dan hendak menautkan jemari tangannya, namun dengan segera Jingga menepisnya.
“Okay, ayo masuk.” Dan Biru kembali mengalah dengan menjauhkan tangannya dari tangan Jingga.
Biru kemudian berjalan mendahului Jingga, membiarkan gadis itu mengekorinya dari belakang.
Tiba di unit apartemennya, Biru meminta Jingga untuk duduk di sofa, sementara dia mengambil minum di lemari es untuk mereka berdua.
“Minum dulu, Ji.” Biru menyodorkan botol air mineral pada Jingga. Gadis itu hanya mengedikkan bahu.
Biru berusaha sabar, lalu bergerak duduk di samping Jingga, meraih satu tangannya untuk digenggam.
“Aku tahu kamu marah, tapi kamu salah paham, yang tadi kamu lihat itu nggak bener. Aku juga nggak tahu kenapa Luna tiba-tiba–”
“Kamu bohong sama aku.” Sela Jingga.
“Enggak Ji.” Biru menggeleng. “Aku nggak bermaksud bohong sama kamu. Tadi aku ketemu sama Luna cuma mau ngingetin dia untuk jangan gangguin aku, kamu, dan hubungan kita lagi.”
Bibir Jingga mengatup, entah harus percaya atau tidak dengan ucapan cowok itu.
“Aku nggak mau kamu merasa terganggu, makannya aku nggak ngasih tahu kalau tadi Luna yang hubungin aku.” Lanjut Biru.
“Terganggu atau enggak, seharusnya kamu terus terang sama aku. Lagian ujung-ujungnya aku tahu juga, kan?” Ucap Jingga lirih. Mata jernihnya menatap Biru sendu, masih jelas terpancar kekecewaan di sana.
“Ji. . . .”
Biru tertohok, tak bisa mendapat balasan untuk penuturan Jingga, dan Biru menyesal.
“Kita sebentar lagi mau nikah, kan? Kenapa kamu belum bisa terbuka sama aku?”
“Aku minta ma–”
“Aku nggak suka kamu bohong sama aku, walaupun itu cuma hal kecil.” Jingga masih berujar lirih, air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Iya, aku minta maaf. Aku nyesel.”
Jingga menggeleng dengan tatapan kecewa. “Pernikahan kita. . . .” Lalu menghela untuk menjeda kalimatnya sejenak. “Kayaknya aku harus mempertimbangkannya lagi. Aku nggak mau nantinya punya suami tukang bohong.”
Biru membelalak dengan jantung berdentum cepat. Tidak pernah sedikitpun dia ingin mengecewakan Jingga lagi sampai gadis itu berbicara seperti ini.
“Enggak, Ji. Jangan ngomong kayak gitu.” Biru meraih tubuh Jingga untuk dibawa ke dalam pelukannya.
“Aku nggak mau nikah sama kamu.”
“Jangan ngomong kayak gitu. Aku ngaku salah, maafin aku, aku nggak akan ngulangin itu lagi.” Biru mengeratkan pelukannya.
“Kemarin-kemarin juga kamu minta maaf dan bilang gitu, kan? Harus aku percaya sama kamu lagi?” Jingga mendongak untuk mempertemukan pandangannya dengan Biru.
Biru merasa terluka, bukan karena ucapan Jingga, melainkan karena rasa sakit yang terpancar dari mata gadis itu.
“Pukul aku, Ji. Aku emang brengsek sama kamu.”
Biru sadar, tidak seharusnya dia menyembunyikan apapun dari Jingga. Ingatkan bagaimana sulitnya dia membawa gadisnya kembali. Tapi dia dengan mudah kembali membuatnya kecewa.
“Jahat. . . .” Jingga memukul punggung Biru sekuat tenaga, meluapkan kekesalan dan kekecewaannya di sana.
“Brengsek.”
“Tukang bohong.”
Jingga terus memukul punggung Biru tanpa ampun.
“Kenapa, sih, kamu harus datang ke hidup aku?”
Biru memejamkan matanya menahan sakit, membiarkan gadis itu meluapkan kemarahannya.
“Kenapa kamu nggak mati aja waktu ketabrak mobil?”
Biru tertawa lirih di sela-sela rasa sakitnya begitu mendengar ucapan nyeleneh Jingga.
“Ji, aku bisa mati beneran kalau kamu terus mukulin aku kayak gini.” Kelakar Biru, dia merasakan pukulan tangan Jingga di punggungnya sedikit melemah.
“Ya udah mati aja. Aku nggak keberatan.” Dan pukulan terakhir dia daratkan di pundak Biru dengan sisa-sisa tenaganya. Cowok itu meringis, kemudian menarik diri tanpa mengikis jarak di antara mereka.
“Aku nggak akan mati sebelum nikah dan punya banyak anak sama kamu.” Seloroh Biru. Jingga hanya mendengus dengan wajah tertekuk kesal.
“Kamu udah nggak marah, kan?” Biru menyeka sisa air mata yang masih membasahi pipi gadis itu. “Mau maafin aku, kan?” Lalu punggung ibu jarinya menyeka ingus Jingga.
“Terserah.” Jingga memalingkan wajahnya, lalu menyandarkan punggungnya di sandaran sofa sambil menyeka ingus yang sedikit keluar dari hidungnya dengan kasar menggunakan lengan bajunya sendiri.
“Oke, terserah, berarti dimaafin.” Biru membawa kepala Jingga untuk bersandar di dada bidangnya.
Cukup lama mereka terdiam dalam posisi tersebut. Biru membiarkan Jingga untuk benar-benar meredakan tangisnya sebelum dia kembali berbicara.
“Aku udah mutasi Luna ke rumah sakit cabang Surabaya.” Ucap Biru setelah dirasa Jingga jauh lebih tenang.
“Lho, kenapa?” Tanya Jingga mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Biru.
“Yaa, biar dia nggak gangguin kita lagi. Nggak apa-apa dibilang gak profesional, yang penting aku sama kamu baik-baik aja.” Jawab Biru santai dengan senyum tersungging di bibirnya.
“Yakin mau mutasi dia? Dia, kan, teman kesayangan kamu.” Nada bicara Jingga terdengar penuh sindiran.
“Kesayangan aku itu cuma kamu.” Biru menjawil ujung hidung Jingga gemas. Ingin sekali dia membawa gadis itu menginap di apartemennya.
“Gombal kamu ngalahin si Dilan, tahu, nggak?” Cibir Jingga ketus.
“Ihh, aku serius, tahu.”
“Terserah.”
“Kamu ngegemesin, tahu, nggak?” Biru menarik pipi Jingga gemas, lalu menangkup kedua sisi wajahnya. “Aku cium boleh, nggak, sih?”
“Nggak!” Jingga menahan bibir Biru yang hendak menciumnya. “Aku bisa muntah-muntah kalau kamu cium, soalnya bibir kamu bekas orang.”
“Aku udah bersihin, kok.”
“Ya tetap aja itu bekas. Aku nggak mau.” Jingga lantas beranjak dari duduknya, lalu memberi peringatan. "Jangan coba-coba cium aku sampai aku lupa sama kejadian tadi!"
Biru terperangah dengan mulut sedikit menganga, bola matanya bergerak mengikuti Jingga yang berjalan masuk ke kamar untuk mencuci muka.
********
To be continued . . . .
__ADS_1