
********
Jingga duduk bersandar pada headboard ranjang di kamar Sagara. Dia menghembuskan napas berat sesaat setelah mengakhiri telepon bersama teman-teman MSFnya. Jingga tidak tahu harus bersyukur atau bersedih. Di satu sisi, dia bersyukur karena lolos dari serangan ledakan itu. Namun di sisi lain, dia sedih karena kehilangan beberapa temannya.
“Radit, Mia, Jingga. It’s part a God’s plan. Kalian udah ada di tempat yang damai sekarang.” Gumam Jingga dalam hati seraya mendesah pelan. Dia benar-benar sedih mendapat kabar mereka menjadi korban yang tewas akibat ledakan itu.
Masih jelas dalam ingatannya saat terakhir kali dia berpamitan dengan mereka sebelum pulang, terutama teman yang sama-sama bernama Jingga. Saat itu Jingga membalut tangannya yang terluka menggunakan sapu tangan miliknya, gadis yang bernama sama dengannya itu mengatakan pada Jingga bahwa dia juga akan segera pulang.
“Aku nggak nyangka kamu bakal pulang kayak gini, Ji. Padahal kita udah ngerencanain mau liburan bareng kalau kita udah sama-sama di Indonesia.” Jingga kembali bergumam dalam hati.
“Putri mahkota kita udah bangun?” Sindir Sagara yang melihat Jingga baru terbangun di sore hari seteah hampir semalaman clubbing.
“Ayah sama Bunda dari kemarin nelponin terus. Kamu ngomong, gih, biar mereka nggak khawatir lagi.” Titah Sagara sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Sejenak Jingga terdiam, lalu terdengar ringisan kecil dari bibirnya. “Nggak, ahh, males. Ntar malah diomelin.”
Sagara tergelak kecil, lalu tangannya terjulur menyentil gemas dahi Jingga. “Lagian pake bohong segala. Untung aja nggak beneran mati di sana.”
Jingga merengut sambil mengusap-usap keningnya yang sedikit ngilu. “Habis kalau nggak bohong, mereka nggak bakal kasih izin.”
“Kenapa nggak bilang sama Kakak, sih, Ji? Padahal, Kakak bisa aja ajak kamu te tempat yang lebih baik dari itu. Kenapa sembarangan pergi ke tempat berbahaya?” Omel Sagara.
“Ya tadinya biar lebih gampang aja lupain dia kalau aku ngelakuin kegiatan amal.” Cicit Jingga sambil meringis kecil, masih teringat betapa menegangkan hidupnya beberapa hari yang lalu.
Sagara yang mendengar itu berdecak dengan gelengan kepala kecil. “Sekarang gimana?”
“Huh?”
“Berhasil, nggak, ngelupain dia?” Tanya Sagara dengan nada meledek.
“Aku. . . .” Jingga menggantungkan kalimatnya seraya berpikir. Jujur, Jingga juga tidak tahu jawabannya. Tapi yang jelas, di sana bukannya mengobati patah hati, dia malah mendapat penyakit baru karena mengalami gangguan panik sekarang.
Berbulan-bulan berada di tempat mengerikan seperti itu, ternyata telah membawa dampak kesehatan psikologis bagi Jingga.
Jingga teringat waktu itu, tepatnya pada malam hari saat sedang tidur lelap di kamar hotel, jam tiga dini hari dia mendengar suara pesawat yang tengah lewat. Jingga mendadak mengalami serangan panik, dia seketika bangun dari tidurnya dan lari keluar dari hotel. Dia terbiasa karena saat di Yaman, jika mendengar suara seperti itu, maka harus waspada, dan saat itu Jingga tidak sadar kalau dia sedang ada di Madrid.
“Nggak berhasil, kan?” Cibir Sagara kemudian dengan gemas mengusap penuh wajah Jingga menggunakan telapak tangannya, hingga membuat gadis itu tersadar dari lamunannya.
Gadis itu mendengus kecil. “Apaan, sih?”
Sagara mengacak rambut Jingga, membuat gadis itu berdecak kesal dan menepis tangan Sagara dari kepalanya.
“Nggak semudah itu ngelupain orang.” Ujar Sagara, dia mengubah posisinya dengan ikut bersandar di sebelah Jingga.
“Iya, kamu bener, Kak.” Sahut Jingga sambil menghela napas berat, air mukanya berubah sedih.
“Nggak mau ngasih dia kesempatan?” Sagara menatap dalam-dalam mata Jingga.
“Dia udah jahat sama aku. Kenapa harus?” Sahut Jingga ketus. Padahal, dia sudah menceritakan semuanya pada Sagara, tapi kakaknya itu masih saja menanyakan hal tersebut.
“Yaaa, setiap orang, kan, bisa berubah. Lagian Kakak denger dari Ayah, selama kamu pergi Biru, tuh, udah nyes–”
“Nggak semudah itu buat aku, Kak.” Sela Jingga. “Kakak nggak tahu apa yang aku rasain. Udah, deh, Kakak mending keluar.” Lantas dia kembali berbaring dengan menutupi seluruh tubuhnya menggunakan selimut.
“Makan dulu, Ji.” Titah Sagara sambil mengguncang tubuh gadis itu.
“Nggak laper.” Sahut Jingga malas. Mendengar nama Biru benar-benar membuat moodnya rusak.
Menghembuskan napas berat, untuk beberapa saat Sagara memandangi tubuh sang adik yang tertutup selimut. Sagara tahu, hati Jingga berkata lain.
“Jangan keras kepala.” Ujar Sagara sembari mengusak puncak kepala Jingga sebelum kemudian beranjak pergi.
********
Hari sudah menjelang malam saat Biru berdiri di depan pintu apartemen seseorang. Dia menatap pintu di depannya selama beberapa detik, lalu tangannya terjulur menekan bel.
Hembusan angin dari pendingin ruangan langsung berhembus menusuk kulitnya. Biru merasa canggung berada satu ruangan dengan Sagara. Sesekali mata kelamnya melirik Sagara yang sedang mengambil minuman di lemari es untuk mengamati. Secara visual memang Sagara tidak jauh berbeda dengan Bintang, sama-sama tampan, hanya saja Sagara lebih mirip Om Rendra, lebih tinggi, dan sedikit kurang ramah. Poin terakhir Biru memaklumi, wajar saja setelah Sagara mengetahui apa yang terjadi pada adiknya karena dia.
“Minum.”Sagara menyodorkan kaleng soda ke hadapan Biru.
“Thanks.” Ucap Biru dengan senyum canggung seraya meraih kaleng soda tersebut.
Sagara hanya mengangguk santai dan mengambil soda miliknya untuk kemudian dia teguk.
Sesaat hanya sunyi yang terdengar. Keduanya menarik napas silih berganti, lalu saling melempar pandangan seolah saling menilai.
“Jingga kapan pulang?” Tanya Biru memberanikan diri, mengingat gadis itu katanya sedang ke luar saat Biru menanyakannya di awal kedatangan.
Sagara mendesah, menatap Biru ragu. “Kayaknya ini bukan waktu yang tepat buat lo ketemu Jingga.”
“Tapi, Kak–”
“Bukannya Ayah udah bilang buat nunggu? Kenapa lo malah nyusul ke sini? Jangan sampai Jingga pergi lagi gara-gara lihat lo ada di sini.” Sela Sagara terdengar dingin.
“Gue mau ketemu Jingga.” Ada sorot mata putus asa dan penuh permohonan dalam tatapan Biru. “Please.”
“Biru, gue udah denger semuanya.” Sambar Sagara menatap tajam Biru.
Biru menghela napas berat. Ada senyum sedih mendengar Sagara mengingatkannya akan hal itu. “Gue tahu, gue udah jahat.”
“Sebenernya gue pengin mukul sejak lo berdiri di depan pintu. Tapi gue nggak mau nyakitin cowok yang adik gue sayang.”
__ADS_1
“Lo bisa ngelakuin itu kalau mau.” Sahut Biru dengan senyum geli.
Sagara berdecih, lalu meneguk kembali sodanya dan menggeleng. Sudah cukup Jingga menghukum cowok itu.
“Gue bener-bener nyesel. . . .”
“Gue tahu. Gue udah denger semuanya dari Ayah.”
Biru tersenyum kecut dengan tatapan sedih. “Jingga pasti kecewa banget sama gue.”
Sudut bibir Sagara tersungging tipis. “Konsekuensi yang harus lo terima.” Terselip nada meledek dari ucapan cowok maskulin itu.
“Gue bener-bener butuh untuk ketemu Jingga. Jadi tolong izinin gue ketemu dia.” Biru mengatakan hal itu dengan nada terendah, seolah mengungkapkan rasa putus asanya yang tak kunjung menemukan keberadaan gadis itu, bahkan saat dia menyusul ke Spanyol pun.
“Suasana hati Jingga lagi nggak baik-baik aja sekarang. Percuma lo temuin dia.”
“Kak–”
“Tunggu dia pulang ke Indonesia. Biarkan dia nenangin dirinya di sini.” Sagara kembali menyela, tak peduli tatapan memelas Biru.
“Gue kangen sama dia.”
“Nggak semua hal harus berjalan sesuai keinginan lo. Jangan egois!” Balas Sagara cepat.
Helaan napas berat kembali terdengar. Kepala Biru menunduk miris, merasa tertohok dengan ucapan Sagara barusan.
“Jingga itu kesayangan di keluarga kami. Kami ngasih dia banyak cinta . . .”
Biru kembali mengangkat kepala untuk mempertemukan pandangannya dengan tatapan dingin Sagara.
“Ayah, Bunda, Kak Bintang, ataupun gue, kami sebisa mungkin menghindari hal-hal yang bisa bikin dia sakit sekecil apapun itu. Tapi lo? Lo siapa berani nyakitin hati Jingga kayak gini?”
Biru hanya terdiam, tak mendapat balasan untuk kalimat Sagara barusan. Sudut hatinya meringis begitu mengingat kesalahannya pada Jingga.
“Dan kalau sekiranya lo nggak bisa ngasih dia banyak cinta, seenggaknya perlakukan dia dengan baik. Tck, gue nggak tahu kenapa Ayah bisa mutusin buat nikahin lo yang brengsek sama Jingga, dan bahkan sekarang dia ngasih lo kesempatan.” Sagara berdecak kesal, lalu kembali menenggak sodanya hingga tandas.
“Makannya gue nggak akan bisa maafin diri gue sendiri sebelum Jingga maafin gue. Dan seandainya Jingga ngasih kesempatan, gue janji akan memanfaatkan kesempatan itu dengan sebaik-baiknya.” Ada jeda sejenak sebelum kemudian Biru melanjutkan ucapannya. "Gue bener-bener nyesel atas semua perlakuan gue sama Jingga."
“Sebenernya gue mau bilang, lebih baik lo jangan ganggu dan balik lagi sama Jingga karena jelas sebagai kakaknya gue nggak mau Jingga punya suami kayak lo. Tapi gue nggak berhak untuk itu. Jingga yang akan memutuskan untuk ngasih kesempatan sama lo atau enggak.”
“Gue minta maaf.” Ucap Biru lemah. Dalam hati dia merasa bersyukur karena keluarga Jingga tidak menghakiminya meski sudah membuat kesalahan. Biru benar-benar malu sudah menyakiti hati seseorang yang diperlakukan seperti putri di keluarganya. Sagara benar, Biru memang sangat keterlaluan.
“Udah lo sekarang pulang, gih, sebelum Jingga datang.” Sagara mengedikkan dagu ke arah pintu.
“Tap–”
“Lo itu bebal, ya, udah gue bilang kasih Jingga waktu.” Sambar Sagara cepat, membuat Biru kembali mengatupkan mulutnya pasrah.
********
Jantungnya dibuat berdebar setiap hari, dia tak sabar untuk melihat wajah cantik Jingga di hadapannya. Dia merindukan gadis itu, dia ingin memeluknya dan meminta maaf.
“Udah siap semua?” Tanya Langit pada Albi yang tadi memasukkan bahan makanan, mainan anak-anak, perlengkapan sekolah, dan pakaian untuk di sumbangkan ke yayasan panti asuhan.
Hari ini Langit serta Biru dan teman-temannya akan mengunjungi yayasan panti asuhan. Ini adalah kegiatan sosial yang biasa Biru dan teman-temannya lakukan setiap dua kali dalam satu tahun. Mereka berempat adalah donatur tetap di salah satu yayasan panti asuhan yang bernama Yayasan Sayap Ibu.
Biru mengajak Langit untuk ikut bersamanya. Langit dibuat terkejut mendengar nama yayasan yang ternyata adalah yayasan panti asuhan yang didirikan ibunya. Keluarga Langit bahkan menjadi donatur utama untuk keberlangsungan panti asuhan tersebut.
Ibu Langit yang bernama Rossa mendirikan panti asuhan itu sekitar 25 tahun yang lalu sebelum Langit lahir karena kecintaannya pada anak-anak dan rasa sosialnya yang tinggi.
Saat masih kecil, Langit dan ibunya sering mengunjungi panti asuhan tersebut. Namun setelah ibunya meninggal, dia hanya setahun sekali mengunjungi panti asuhan itu di hari ulang tahun ibunya bersama Jingga, sekaligus untuk berziarah ke makam ibunya yang terletak tak jauh dari panti asuhan itu. Dan hari ini adalah hari ulang tahun ibu Langit.
“Udah. Ayo berangkat.” Sahut Albi yang dibalas anggukan kepala oleh Langit. Mereka kemudian masuk ke dalam mobil, menyusul Bisma, Biru, dan Bian yang sudah duduk di sana lebih dulu.
Sesampainya di panti asuhan, mereka langsung disambut baik dengan anak-anak panti di sana. Berbondong-bondong anak-anak panti membantu mengeluarkan barang bawaan mereka.
Pemandangan ini selalu menjadi hiburan tersendiri untuk mereka, mereka merasakan kedamaian di hatinya saat melihat senyum anak-anak itu. Mereka juga menjadi lebih bersyukur setelahnya, bersyukur karena mereka memiliki kehidupan yang jauh lebih beruntung.
“Nak Langit. . . .” Sambut wanita paruh baya yang penampilannya masih nampak segar. Wanita paruh baya itu merentangkan tangannya untuk memeluk Langit.
“Bu Kinan . . .” Langit menghampiri dan berhambur memeluk wanita paruh baya yang bernama Kinan itu. Bu Kinan sangat mengenal Langit. Terang saja karena beliau adalah orang yang bersama-sama ikut mendirikan panti asuhan tersebut bersama ibunya.
“Apa kabar, Nak?” Tanya Bu Kinan kemudian setelah mengurai pelukannya. Lantas dia pandangi wajah Langit dengan tatapan hangatnya.
“Kabar baik, Bu. Ibu sendiri gimana?”
“Lebih dari baik.” Jawab Bu Kinan senang, lalu mengalihkan perhatiannya pada Biru dan yang lain. “Eh, empat sekawan juga datang, ya?”
Wanita itu kemudian menyapa dan memberi mereka pelukan sebagai sapaan hangatnya.
“Kalian datang bersama? Kalian saling kenal?” Bu Kinan menatap Langit dan Biru bergantian.
“Kami bekerja di rumah sakkit yang sama, Bu. Aku sama Jingga udah nggak di Amerika lagi.” Jelas Langit membuat Bu Kinan melebarkan matanya dan ber-ohh ria.
“Terus Jingganya mana?” Tanya Bu Kinan dengan kepala celingukkan mencari keberadaan gadis itu.
“Kebetulan hari ini Jingga nggak ikut, Bu.” Jawab Langit.
“Lho, kenapa?” Bu Kinan sedikit kecewa, padahal anak-anak akan senang setiap kali Jingga datang.
Langit mendesis, lalu menjawab bohong agar Bu Kinan tidak bertanya lebih jauh. “Jingga sibuk, jadi nggak bisa ikut, Bu.”
__ADS_1
Bu Kinan mengangguk-angguk mengerti dan tak mempermasalahkannya meski dia masih menyayangkan gadis itu tidak ikut bersama Langit.
“Kalau gitu, akupermisi ke nemuin Mama dulu, Bu.” Ucap Langit kemudian.
“Mau Ibu temenin?” Tawar Bu Kinan. Langit hanya menggeleng sembari tersenyum.
“Gue pergi dulu.” Pamit Langit pada teman-temannya untuk kemudian dia berlalu pergi menuju makam ibunya yang hanya butuh waktu lima menit berjalan kaki dari panti asuhan.
Sebelumnya Biru menawarkan diri untuk ikut menemaninya, tapi Langit menolaknya. Dia tak ingin Biru atau siapapun melihat dirinya sedih saat dia berada di hadapan pusara ibunya nanti.
********
“Selamat ulang tahun, Ma.” Langit berjongkok di depan pusara sang ibu dan meletakkan sebuket bunga tulip putih kesukaannya di sana.
“Aku kangen Mama, sangat banyak.” Lanjut Langit dengan suara tercekat seiring dengan air matanya yang ikut menetes membasahi pipinya. Langit sangat merindukan sang ibu yang telah meninggalkannya selama 16 tahun itu.
Langit tidak bisa apa-apa selain menangis setiap kali dia merindukan ibunya, ibu yang selalu memberikan cinta yang paling murni, Langit sangat merindukannya. Seberapa keraspun usaha Langit memanggil ibunya, ibunya tidak pernah menghampirinya lagi.
“Hari ini aku datang sendiri, Ma. Jingga nggak bisa ikut.” Langit mulai bercerita seperti yang biasa dia lakukan setiap kali berkunjung sana.
“Mama mau, nggak, kenapa Jingga nggak bisa ikut?”
“Jingga, cewek berandal itu–”
“Aduh, jangan ngadu dong . . . .” Suara seseorang yang sangat tidak asing di telinga Langit mampu menghentikan ucapannya.
Mata Langit mengikuti pergerakan seseorang yang kini ikut berjongkok di sebelahnya seraya meletakkan bunga tulip di atas pusara ibunya.
“Happy birthday, Tante. Maaf aku terlambat datang. Pesawatnya delay.” Ucap Jingga dengan senyum mengembangnya, menatap gundukan tanah merah yang ditumbuhi rumput hijau di depannya.
“Tck, masih bisa tersenyum kayak gitu setelah apa yang terjadi? Nggak sadar udah bikin semua orang panik?” Ujar Langit sinis seraya beranjak. Dia merasa kesal dan marah pada Jingga yang tiba-tiba muncul seperti ini.
“Kenapa udah pulang?” Tanya Langit masih dengan nada sinisnya.
“Lho, kamu nggak suka aku pulang? Aku ngasih surprise, lho, sama kamu.” Jingga ikut beranjak dengan dahi mengernyit.
“Sama sekali enggak. Kenapa nggak mati aja sekalian di sana?” Teriak Langit kesal.
“Kamu marah?” Tanya Jingga sembari mengulum senyum simpul. Dia gemas melihat air muka kesal Langit.
“Ngapain aku marah?” Elak Langit ketus.
“Kamu emang marah.” Ledek Jingga sambil mencolek sisi perut Langit.
“Iya, aku marah, kenapa kamu ngeselin banget, sih? Kenapa selama ini kamu gak pernah telepon atau chat aku? Kenapa kamu bohong dan nggak bilang kalau mau jadi dokter lintas batas? Kamu tahu, nggak, semua orang cemas dan mengalami kesulitan karena kamu.” Teriak Langit meledak-ledak.
“Ya udah aku minta maaf.” Ucap Jingga dengan polosnya. Langit mendelik kesal.
“Mau aku peluk?” Jingga merentangkan tangannya. Langit hampir bergerak mendekatkan tubuhnya, namun dia teringat sedang kesal.
“Nggak!.” Tolak Langit, dia merajuk dan pergi meninggalkan Jingga untuk kembali ke panti asuhan.
“Langit, aku kangen sama kamu. Sini peluk aku.” Jingga mengejar Langit dan terus menggoda cowok itu untuk memeluknya.
“Don’t you miss me, Langit?” Tanya Jingga yang berusaha mensejajarkan langkahnya dengan Langit. Tapi cowok itu terus mempercepat langkahnya hingga Jingga sedikit kesulitan.
“Nggak sama sekali. Udah sana pergi lagi. Pergi sejauh yang kamu mau.” Sahut Langit terdengar kesal.
“But I miss you so much.” Ucap Jingga.
“Terserah.” Sahut Langit tanpa mau melihat Jingga. Dia terus berjalan dan memasuki halaman panti asuhan yang cukup luas itu. Jingga tak mau menyerah utnuk mengikuti dan memanggilnya.
“Aww.” Langkah Langit terhenti, dia berbalik mendapati Jingga yang terjatuh sambil mengaduh dan memegangi pergelangan kakinya.
“Are you okay?” Langit menghampiri Jingga dengan raut wajah khawatir. Jingga pernah cedera parah pada bagian kakinya, tidak heran Langit selalu khawatir bahkan jika gadis itu hanya terkilir sedikit.
“Kaki aku . . . .” Jingga terdengar meringis.
“Kaki kamu kenapa?” Tanya Langit panik sambil menyentuh pergelangan kaki Jingga.
“Nggak apa-apa.” Jawab Jingga dengan senyum yang terlihat menyebalkan bagi Langit. Ini mengingatkannya saat mereka masih kecil dulu, selalu saja Jingga menipunya dengan pura-pura terjatuh dan kesakitan untuk menarik perhatiannya.
“Haha. It’s just a prank, bro.” Seru Jingga sambil beranjak berdiri.
“Nggak lucu, tahu.” Sentak Langit semakin kesal. Lantas dia kembali berjalan meninggalkan Jingga untuk menghampiri anak-anak yang sedang bermain bola di sana.
“Ish, kan cuma becanda dikit. Laaang.” Jingga terus memanggilnya, namun Langit tak mengindahkan. Cowok itu sekarang malah berlari dan menyapa anak-anak yang sedang bermain bola.
“Langit, tunggu ak–” Kalimat Jingga terhenti saat sebuah bola menggelinding dan berhenti tepat di kakinya. Jingga berjongkok untuk mengambil bola tersebut.
“I got it.” Seru Jingga saat bola sudah berada di tangannya.
“Maaf bolanya–” Biru menghampiri Jingga untuk meminta bola yang ada di tangan gadis itu.
Jingga mendongakkan kepala ke arah seseorang yang meminta bolanya. Namun dia seketika menjatuhkan kembali bola tersebut saat menyadari siapa orang yang sedang berdiri di hadapannya saat ini.
“Jingga . . . .” Panggilnya lirih.
*******
To be continued . . . . .
__ADS_1