
********
Jingga melihat kepergian Biru dengan tatapan sendu setelah beberapa saat yang lalu cowok itu berpamitan padanya karena ada hal mendesak, sesaat setelah Biru menerima telepon. Jingga tidak tahu siapa yang menghubunginya tadi, Biru juga menjauh saat berbicara di telepon.
Jingga mengira mungkin Biru sedang berbicara dengan orang penting terkait pekerjaannya. Jadi, dia tidak terlalu mempedulikannya. Namun ketakutan menyergap hatinya saat dengan samar Biru menyebut nama Luna. Jingga jadi menerka-nerka, kenapa berbicara dengan Luna saja Biru harus menjauh darinya?
Jika itu benar, maka Jingga kembali dibuat kecewa oleh Biru. Selain mungkin Biru pergi meninggalkannya untuk menemui Luna, Biru juga tidak jujur padanya, mengingat tadi Biru menjauh darinya saat menerima telepon. Padahal, biasanya Biru tidak pernah seperti itu.
“Apa kamu selalu kayak gini kalau menyangkut Luna?” Jingga tersenyum getir. Baru saja Biru meminta maaf padanya dan setuju untuk berusaha menjaga jarak dengan Luna. Tapi apa yang dilakukannya sekarang? Mungkinkah semua itu hanya angin lewat?
“Apa kamu juga akan ngelakuin itu sama aku? Langsung lari cepat saat aku manggil kamu.”
Jingga menatap hamparan langit yang mulai melukiskan semburat jingga saat matahari mulai bergerak untuk kembali ke peraduannya dan siap menyongsong malam.
Setidaknya, melihat pertunjukan ini cukup menenangkan geliat gelisah hati Jingga yang cukup lelah bergulat.
Jingga memejamkan mata seiring dengan air mata yang menetes tanpa seizinnya. Dalam cerahnya jingga sore hari ini, Jingga berharap agar Tuhan segera menepikan sedihnya dan menguatkan hatinya untuk bertahan, setidaknya sebentar lagi hingga Biru benar-benar memanfaatkan kesempatan yang dia berikan dengan baik.
“Sebentar lagi, sampai suatu hari dia menggenggam tanganku lagi. Tapi, hanya sampai titik di mana hati aku lelah.”
********
“Bi . . . .” Luna berteriak menyambut kedatangan Biru sembari berdiri di samping mobilnya.
“Kok kamu bisa di sini?” Tanya Biru heran begitu mengedarkan pandangannya ke sekitar. Tempatnya begitu sepi, mungkin karena jauh dari pemukiman. Lampu penerangan jalan yang temaram dan hanya beberapa yang menyala. Sepertinya jalanan itu jarang dilintasi kendaraan.
“Tadi siang sepulang dari rumah sakit, aku nganter Ibu ke rumah saudaranya. Pas pulang, nggak tahu kenapa ban mobil aku pecah. Aku udah nunggu kendaraan lewat buat minta bantuan, tapi nggak ada. Malah makin sore. Aku takut, Bi. Makannya telepon kamu, lagian aku bingung mau minta bantuan siapa lagi.” Jelas Luna panjang lebar.
Biru melihat keadaan mobil milik Luna. Benar saja, dia melihat salah satu ban belakang bagian kiri pecah.
“Kamu nggak bawa ban cadangan?” Tanya Biru setelah selesai memeriksa mobil Luna. Gadis itu hanya menggeleng.
“Ini udah mau malem. Mobil kamu tinggalin aja di sini, Lun. Nanti biar bengkel yang bawa. Sekarang kamu pulang sama aku.” Ujar Biru.
Mereka akhirnya masuk ke dalam mobil dengan Luna duduk tepat di samping Biru yang mulai melajukan mobilnya untuk mengantar pulang Luna kembali ke rumahnya.
“Makasih, ya, Bi. Aku kira kamu nggak bakal datang.” Ucap Luna dengan wajah berbinar senang, begitupula dengan senyum mengembang di wajahya yang tak surut sejak kedatangan Biru.
“Udah seharusnya sesama teman itu saling menolong.” Jawab Biru datar. Luna yang mendengar itu tampak kecewa, namun sebisa mungkin dia menyembunyikannya.
“Emm, Jingga tahu kamu jemput aku ke sini, nggak?” Tanya Luna ragu. “Aku takut dia marah dan salah paham lagi sama kita, kayak waktu itu.” Lanjutnya kemudian.
“Dia nggak bakalan marah, kok, kalau tahu aku bantuin orang. Apalagi kamu teman aku. Dia pasti ngerti.” Sahut Biru yakin tanpa memalingkan wajahnya dari arah jalanan.
“Ya tetap aja, walaupun dia tahu aku teman kamu, tapi yang aku lihat dia suka cemburu sama aku.” Gerutu Luna sambil membuang napas kasar, ekspresinya dibuat seolah dia benar-benar terintimidasi dengan sikap Jingga padanya.
“Kamu pernah mikir nggak, sih, kalau dia itu terlalu terobsesi sama kamu?” Pertanyaan Luna selanjutnya berhasil membuat Biru menoleh ke arahnya.
“Maksud kamu?” Biru mengerutkan keningnya dalam.
“Maksud aku, Jingga, kan, nggak suka banget lihat aku deket sama kamu. Jingga, tuh, kayak penginnya kamu cuma merhatiin dia aja.” Terang Luna.
“Aku jadi mikir kalau Jingga itu pick me. Dia selalu pengin jadi pusat perhatian semua orang terutama cowok. Dia juga udah berhasil menarik banyak perhatian laki-laki di rumah sakit, termasuk teman-teman kamu. Albi, Bian, sama Bisma, mereka dengan mudah menerima Jingga.” Sungut Luna kemudian seraya mengambil napas untuk melanjutkan penuturannya.
“Tapi kamu itu cowok yang paling dia suka, jadi mungkin harga diri Jingga terluka saat melihat kamu nggak cuma perhatian sama dia. Makannya dia nggak rela kamu deket sama aku, padahal dia jelas tahu aku cuma teman kamu.” Lanjut Luna.
Biru sendiri masih memilih diam, mendengarkan Luna selesai berbicara sambil mencengkram setirnya kuat-kuat. Rasanya dia tidak terima dengan penuturan panjang gadis yang duduk di sebelahnya itu.
“Yaa, kamu tahu sendiri. Jingga, tuh, cantik banget, jelas harga dirinya akan terluka kalau aja dia nggak berhasil mendapatkan perhatian kamu sepenuhnya.”
Sepertinya Luna tak ingin berhenti menjelek-jelekkan Jingga. Biru menggeram menahan emosi, rahangnya nampak mengetat.
“Aku akan berpura-pura nggak denger hal ini, Luna.” Sambar Biru dingin, raut wajahnya tampak kecewa mendengar penuturan seperti itu terlontar dari mulut sahabat yang sejak kecil dikenalnya itu.
“Jingga orang baik, kamu nggak tahu karena nggak pernah deket sama dia.” Tambah Biru tanpa melihat ke arah Luna yang kini menundukkan wajahnya.
“Maaf, aku udah berprasangka buruk.” Cicit Luna seraya meremas tangannya yang berkeringat. Dia menekuk wajahnya, hatinya geram karena Biru sama sekali tak terpengaruh dengan provokasinya.
“Jingga bener-bener udah menggoyahkan hati Biru.” Luna menggeram dalam hati.
“Aku akan ngelupain apa yang kamu bilang tadi.” Ucap Biru dengan wajah dinginnya.
Biru masih menghargai Luna sebagai sahabatnya, maka dari itu dia berusaha untuk tidak marah. Dia akan menganggap Luna sedang tidak sengaja membuat kesalahan.
Biru sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang Luna katakan, karena Biru tidak melihat Jingga seperti itu. Walaupun dia belum tahu perasaannya saat ini bagaimana, tapi mendengar Luna mengatakan hal buruk tentang Jingga, rasanya hatinya tidak terima.
Biru tahu Jingga sangat cantik, tapi dia tidak pernah melihat Jingga berusaha untuk menarik perhatian siapapun, bahkan dirinya. Di samping cantik, kepribadian Jingga yang ramah dan baik hati tentu akan membuat siapa saja menyukainya. Tidak hanya laki-laki, perawat dan dokter perempuan juga menyukainya.
********
“Apa kita bisa mampir ke restoran dulu buat makan malam?” Tanya Luna tiba-tiba setelah lama suasana hening.
Biru menghela napas dalam seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah hampir setengah delapan, dan sebenarnya dia harus segera kembali ke rumah sakit untuk mengantar Jingga pulang.
“Aku belum sempat makan dari tadi siang.” Lanjut Luna memelas, hingga akhirnya Biru mengiyakannya. Dia bukan orang yang akan dengan tega membiarkan seseorang kelaparan.
Biru menghentikan mobilnya di sebuah restoran Italia, karena restoran itulah yang terdekat dengan jaraknya saat ini.
Luna mengekor langkah Biru dan duduk di kursi yang mengarah pada kaca di sampingnya. Merekapun memesan makanan dan minuman yang sama. Tidak ada percakapan apapun di antara keduanya selagi menunggu pesanan datang, hingga seorang gadis dengan bola mata hazel menghampiri dan memecah keheningan di antara mereka.
“Biru . . . .”
Biru yang sedang fokus memainkan ponselnya menoleh ke arah sumber suara, begitupula dengan Luna yang penasaran dengan gadis yang menyapa Biru tiba-tiba. Mata Luna menyoroti penampilan gadis itu, jelas sekali bukan orang Asia.
“Amber . . . .” Seru Biru seraya menunjuk gadis keturunan Amerika Serikat itu, setelah beberapa saat dia tersadar. Gadis bernama Amber itu langsung memeluk Biru dengan gaya khas Amerikanya
“Long time no see.” Ucap Amber senang setelah melepas pelukannya, lalu mendudukkan diri sejenak di samping Biru.
“Kapan kamu datang ke sini? Kok nggak bilang-bilang aku?” Tanya Biru tak kalah senang bertemu dengan teman seperjuangannya di Sekolah Kedokteran di Amerika.
“Tadi pagi. Aku sengaja datang ke Indonesia untuk liburan sama pacar aku.” Jawab Amber senang.
Biru mengangguk-angguk tanpa melepaskan senyumnya. “Kebetulan banget ketemu. Ohh, iya. Kamu ke sini buat dinner sama dia?” Tanyaya seraya mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok yang mungkin datang bersama Amber.
__ADS_1
“Bukan, aku ada janji sama teman Dokter aku. Tapi kayaknya mereka belum datang.” Jawab Amber sembari melirik kanan-kiri memastikan temannya belum datang.
“Aku kira cuma aku teman kamu di Indonesia. Aku iri kamu janjian sama mereka, tapi nggak sama aku.” Ujar Biru memasang raut wajah pura-pura sedih.
Gadis itu terkekeh pelan. “Haha, lain kali kita bertemu lagi. Rencananya di sini aku agak lama.”
“Bener, ya? Awas, lho, kalau enggak.” Biru memastikan. Gadis itu hanya mengangguk. “By the way, kamu masih di John Hopkins?”
Gadis itu kembali mengangguk, lalu sudut bibirnya tertarik saat teringat sesuatu. “Ohh, iya. Teman dokter aku itu dulu juga kerja di John Hopkins sebelum mereka pindah ke sini.”
“Pantesan kalian akrab.” Sahut Biru.
“Mereka udah kayak adik aku. Lain kali aku kenalin, deh, sama kamu. Ohh, iya, yang satunya sangat cantik, kayaknya cocok sama kamu.” Seru Amber sedikit menggoda Biru sembari mengedipkan sebelah matanya. Luna yang mendengarnya hanya menatap Amber tak suka.
“Haha, apa aku kelihatan nggak laku sampai mau dikenalin sama cewek segala?” Protes Biru ikut tergelak.
“Tapi kayaknya kamu udah punya pacar.” Sesal Amber seraya melirik Luna yang duduk di seberangnya.
“Maaf.” Amber memasang raut wajah bersalah pada Luna, dia merasa tak enak hati karena tak menyadari Luna ada di sana. Mungkin karena terlalu senang bisa bertemu dengan teman yang sudah lama tak bertemu.
“Dia bukan pacar aku. She’s my friend, Luna.” Sanggah Biru tegas saat melihat wajah tak enak Amber. Raut wajah Luna yang sudah masam semakin masam mendengar penuturan Biru.
“Haha, kamu nggak usah malu gitu.” Ledek Amber seolah tak percaya. Biru hanya mendengus.
“Uhm, kayaknya aku harus pergi sekarang.” Ucap Amber kemudian setelah melihat jam di pergelangan tangannya. “I’ll call you later, ok?” Pamitnya kemudian dan kembali memberi pelukan perpisahan pada Biru. Biru hanya mengangguk dan mengatakan dia akan menunggu Amber untuk menghubunginya.
Selang beberapa saat, pesanan mereka datang. Tanpa banyak bicara, mereka langsung menikmati makanan yang mereka pesan. Sesekali Luna mengajak Biru berbicara dan menanyakan Amber, Biru hanya menjawab seperlunya. Perasaan cowok itu benar-benar masih kesal padanya.
“Kalian ngapain di sini?”
Luna merasa kesal saat ada seseorang kembali menghampiri dan menyapa mereka. Dia hanya ingin makan berdua dengan Biru, tapi kenapa ada saja gangguan?
“Langit . . . .” Sahut Biru mendapati Langit sudah berada di samping mejanya, menatap mereka penuh selidik.
“Kok nggak sama Jingga?” Tanya Langit menatap Biru dan Luna dengan pandangan tak suka.
“Gue baru mau jemput dia habis dari ini.” Jawab Biru.
Langit mendengus dengan wajah ditekuk. “Okay.”
Tak ingin berlama-lama di sana, Langit lantas beranjak, namun kembali berbalik saat ada yang sesuatu yang lupa dia sampaikan.
“Ohh, iya. Jingga pasti nggak akan suka lihat ini.” Sindir Langit seraya melirik Luna sekilas, kemudian menepuk pelan pundak Biru sebelum akhirnya berlalu pergi meninggalkan mereka.
“Kenapa Langit bisa ada di sini?” Gumam Luna yang merasa dunia sungguh sempit.
“Ini, kan, restoran, siapapun bisa datang ke sini. Cepat habisin makanannya, aku harus jemput Jingga. Dia pasti udah nunggu” Titah Biru, membuat hati Luna kembali geram saat nama gadis itu disebut.
********
“Ji, kok ngelamun?” Tegur Tante Lisa heran melihat Jingga yang terus memainkan sedotannya dengan pandangan kosong, sesekali gadis itu menghela napas berat.
Masih jelas dalam ingatan Jingga saat tadi malam dia menelepon Biru untuk sekedar menanyakan apa Biru bisa mengantarnya pulang atau tidak, karena Jingga takut kalau urusan yang Biru katakan saat mereka di atap belum selesai.
Jingga dibuat terkejut saat mendengar bukan suara Biru di seberang telepon sana, melainkan Luna yang mengatakan kalau Biru sedang berada di toilet.
Tidak ingin mendengar lagi apa yang akan dikatakan Luna, dengan segera Jingga menutup sambungan teleponnya.
Jingga tersenyum getir, ternyata urusan yang dimaksud Biru adalah menemui Luna. Kecurigaannya tidak salah saat itu. Ternyata benar, yang berbicara di telepon dengan Biru adalah Luna, dan Biru langsung pergi setelah berbicara dengannya.
“Apa dia nggak bisa langsung ngirim orang bengkel aja?” Gumam Jingga dalam hati, mengindahkan Tante Lisa yang terus memanggil namanya.
Mereka saat ini sedang berada di ruang keluarga, di rumah wanita paruh baya itu. Kemarin Tante Lisa menemuinya dan meminta untuk datang ke rumahnya karena hari ini Jingga Libur.
Wanita paruh baya itu mengatakan pada Jingga bahwa beliau ingin menunjukkan beberapa contoh model undangan pernikahan. Seharusnya dia datang bersama Biru hari ini, tapi cowok itu mengatakan akan menyusul setelah menemani sang ayah bermain golf bersama koleganya.
“Jahat.”
“Jingga . . . .” Tante Lisa yang tak mendapat sahutan memanggilnya kembali sambil melambaikan tangannya di depan wajah gadis itu.
“Ehh. Iya, Tan?” Jingga tersadar dan mendongakkan kepalanya untuk menatap Tante Lisa, tak lupa dia meletakkan gelas berisi jusnya terlebih dahulu.
“Mikirin apaan, sih, Ji? Tante panggil dari tadi nggak nyahut-nyahut.” Tanya Tante Lisa penasaran. Jingga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia bingung harus menjawab apa.
“Eung, aku nggak lagi mikirin apa-apa, kok, Tan.” Jawab Jingga sambil tersenyum kaku. Namun Tante Lisa tak percaya begitu saja, matanya memicing tajam tak puas dengan jawaban Jingga.
Jingga menghela napas dalam, otaknya berusaha keras untuk mencari alasan, tapi tidak bisa. “Aku cuma lagi mikirin Kak Biru. Aku nggak nyangka bisa ketemu lagi sama dia. Aku kira. . . .”
Gadis itu menggantungkan kalimatnya, dia menghela napas berat, raut wajahnya berubah sendu.
Tante Lisa tersenyum, dia lantas meraih tangan Jingga untuk kemudian digenggamnya, lalu memberi elusan lembut pada punggung tangan gadis itu.
“Kamu pernah denger istilah ini, nggak?” Tanya Tante Lisa, Jingga hanya terdiam menunggu wanita itu melanjutkan ucapannya. “Katanya, kalau sesuatu itu milik kita, maka itu akan kembali pada kita, sejauh apapun itu hilang atau pergi. Tante yakin, Biru adalah milik kamu, begitupun sebaliknya.”
Jingga tersenyum kecil mendengar penuturan Tante Lisa.
“Kayak aku.”
Sesaat dia teringat pada ucapan Biru yang seolah memiliki firasat kalau dia akan mengalami hilang ingatan.
“Aku akan selalu kembali sama kamu, sejauh apapun aku pergi. Kamu tahu kenapa?”
Jingga mengerjap-erjap untuk menahan air mata yang mulai menggenang. Rasa rindu yang mendalam pada masa lalunya itu muncul lagi.
“Cause you’re my home. . . .”
Lagi. Jingga merindukan Biru yang dulu. Birunya yang baik, Biru yang selalu memperlakukannya seperti seorang putri.
“When will I see you again?” Lirihnya dalam hati.
Jingga ingin menjerit sekeras-kerasnya jika dia benar-benar merindukan Biru, Biru yang dulu. Jingga ingin Birunya kembali.
“Jadi, kamu jangan pernah menyerah untuk Biru, ya. Tante yakin, walaupun kamu hilang dari ingatannya sekarang, tapi tidak dari hatinya.” Lanjut Tante Lisa, membuat Jingga terkesiap. Wanita itu lantas mengulurkan tangannya untuk menyentuh dan mengelus lembut pipi Jingga.
__ADS_1
“Gitu, ya, Tan?” Suara Jingga terdengar ragu, pun dengan sorot matanya.
“Tante bisa pastiin itu. Biru akan kembali sama kamu, pasti.” Jawab Tante Lisa yakin untuk kemudian membawa Jingga ke dalam pelukannya, mengusap lembut punggung gadis itu seolah menyalurkan semangat.
“Tapi, kalau semisal suatu saat aku harus menyerah sama kak Biru. Apa Tante akan benci sama aku?” Tanya Jingga seraya menarik diri untuk menjangkau pandangannya dengan Tante Lisa.
Tante Lisa orang yang sangat baik dan menyayanginya seperti anak sendiri. Rasanya, Jingga akan sangat sedih jika sampai Tante Lisa membencinya.
Tidak bisa dipungkiri kalau mungkin suatu saat nanti bisa saja Jingga akan menyerah untuk Biru, karena dia belum tahu akhirnya akan seperti apa. Tapi dia tetap berharap Biru tidak akan membuatnya menyerah.
“Mana bisa Tante benci sama anak cantik kayak kamu.” Sahut Tante Lisa sambil mencolek dagu Jingga, membuat gadis itu terkekeh kecil.
“Tante bisa aja.” Jingga tersipu malu.
Tak berselang lama setelah mereka melepaskan pelukannya, derap langkah kaki terdengar semakin mendekati ruangan tempat mereka berada saat ini. Sudah bisa Jingga tebak, mereka adalah Biru dan Om Rendi.
“Udah lama, Ji?” Tanya Om Rendi setelah berhasil mendudukkan dirinya di sofa yang diikuti Biru.
“Lumayan, cukup lama sampai Tante selesai ngajarin aku masak.” Jawab Jingga seraya menyunggingkan senyum ramahnya.
“Mama ngajarin Jingga masak?” Tanya Biru.
“Iya, tapi nggak seru, soalnya Jingga cepat ngerti. Mama jadi nggak bisa ngospek dia, deh.” Sahut Tante Lisa mengingat Jingga yang cepat sekali belajar.
“Haha, Mama ada-ada aja. Justru bagus, dong. Satu lagi poin plus Jingga yang bisa Mama pamerin sama geng sosialita Mama.” Sindir Om Rendi yang membuat Tante Lisa mendengus kecil.
“Udah, ahh. Mending Papa ganti baju sekarang, ayo, Mama udah siapin.” Ajak Tante Lisa mengakhiri percakapan.
“Kamu juga ganti baju, Bi. Habis itu kita sama-sama pilih desain undangan.” Titah Tante Lisa kemudian, sebelum akhirnya wanita paruh baya itu mengekori suaminya untuk masuk ke kamar.
Selepas kepergian orang tua Biru. Kini suasana di ruang keluarga itu hening sejenak, sebelum akhirnya Biru mulai membuka suara dan beringsut duduk di samping Jingga.
“Kenapa tadi malam pulang duluan?” Tanya Biru, mengingat semalam dia menghubungi Jingga dan menanyakan keberadaannya untuk mengantar pulang. Tapi gadis itu dengan tegas menolak agar Biru tidak perlu menjemputnya karena dia sudah pulang lebih dulu naik taksi.
“Aku nggak mau ganggu kamu sama Luna.” Sahut Jingga datar, tapi penuh penekanan dalam kalimatnya.
Biru bergeming dengan ekspresi sedikit kesal, mengira Langit pasti sudah mengadukannya pada Jingga.
“Luna yang ngasih tahu aku. Dia yang angkat telepon di hape kamu tadi malam.” Jelas Jingga, membuat Biru mengangguk mengerti dan terkejut sekaligus karena Luna tidak memberitahunya jika Jingga menelepon.
“Kamu marah?” Tanya Biru menatap lekat wajah Jingga.
“Menurut kamu?” Jingga mendelik sebal.
“Kemarin Luna mita bantuan aku buat – “
“Aku tahu.” Sela Jingga tak ingin membahasnya lagi. Lantas dia mengambil ponselnya, mengabaikan Biru dan memilih berselancar di media sosial.
“Aku minta maaf.” Ucap Biru.
“Hmm.” Sahut Jingga tanpa mengalihkan fokus dari ponselnya.
“Ji, katanya nggak marah?” Biru merampas ponsel dari tangan Jingga.
Jingga berdecak dengan sorot mata nyalang tajam ke arah Biru.
“Aku nggak suka kamu nggak jujur sama aku.” Gadis itu berucap lirih, tatapannya berubah sedih.
Tak langsung menjawab, Biru malah meraih tubuh Jingga untuk dibawa ke dalam pelukannya. Cowok itu menyandarkan dagunya di bahu Jingga, menyerukkan wajahnya di leher Jingga yang tertutupi rambut.
“Ish, lepasin.” Jingga berontak dengan memukul pelan punggung Biru. Pasti akan sangat malu jika tiba-tiba orang tua Biru datang dan melihat mereka seperti ini.
“Aku minta maaf.” Ucap Biru mempererat pelukannya.
Jingga mendengus sebal. “Iya-iya. Cepetan lepas, nanti Om sama Tante lihat.”
“Nggak apa-apa. Lagian Papa udah pernah lihat kita lebih dari ini.” Ucap Biru nyeleneh.
Jingga kembali mendengus kasar. Dia bingung dengan sikap Biru. Terkadang cowok itu sangat hangat, tapi tiba-tiba bisa langsung berubah dingin. Cowok itu selalu membuat Jingga senang dan sedih tanpa aba-aba. Selalu berubah-ubah.
“Ish, kamu, tuh, ya.” Sekali lagi Jingga memukul punggung Biru. Tapi cowok itu malah semakin menyerukkan wajahnya di ceruk leher Jingga, menghirup aroma gadis itu dalam-dalam.
“Kak, ihh. Udah sana ganti baju.” Titah Jingga berhasil mendorong tubuh Biru.
“Nggak mau bantuin aku kayak Mama?” Tanya Biru menggoda. Gadis itu hanya memutar bola matanya malas.
“Ish, udah Sana.” Jingga mendorong tubuh Biru geram.
Cowok itu tergelak pelan, membuat Jingga merasa de ja vu, dia seolah menemukan Biru yang dulu. Biru yang sering tertawa bersamanya.
“Ya udah, kalau gitu ayo ikut ke kamar aku.”
“Aku nggak kayak seseorang yang bisa main nyelonong masuk kamar orang lain.” Sahut Jingga penuh sindiran.
“Kamu lagi ngomongin aku?” Kedua alis Biru menukik tajam.
“Aku nggak bilang itu kamu.” Seru Jingga dengan senyum mencibir.
“Kayaknya aku harus cium kamu sepuluh kali, ya. Sini . . . .”
Biru lantas menarik pinggang Jingga dan bersiap mendekatkan wajahnya, namun dengan sigap gadis itu menahan wajah Biru dengan telapak tangan.
“Dulu kamu, tuh, nggak kayak gini. Kenapa sekarang suka banget peluk-peluk sama cium-cium aku? Apa ini kebiasaan baru kamu karena tinggal di Amerika terlalu lama?” Tanya Jingga kesal.
“Aku cuma ngelakuin itu sama kamu.” Sahut Biru tak terima.
“Kenapa?” Tanya Jingga lagi, tanpa melepaskan tangkupan tangannya dari kedua sisi wajah Biru.
“Aku juga nggak tahu. Mungkin ini, tuh, karena feromon dari tubuh kamu yang bikin aku kayak gini.” Jawab Biru santai, dan kalimat selanjutnya yang dibisikkan Biru benar-benar membuat gadis itu terperangah. “Dan bikin Biru yang lain bangun.”
“Kamu gila.” Jingga beringsut mundur untuk menjaga jarak saat merasakan sesuatu yang mengganjal menyentuh sisi pahanya.
Sementara Biru tersenyum menyeringai, membuat Jingga terus memundurkan tubuhnya takut.
__ADS_1
********
To be continued . . . .