Still In Love

Still In Love
EP. 68. Blue Film


__ADS_3

*******


Biru beranjak, lalu berjongkok dengan satu kaki dan menggenggam satu tangan Jingga.


“Tolong jangan melarikan diri lagi. Please, jangan pernah minta aku buat nyerah sama kamu.”


Jingga bergeming. Sebenarnya dia tidak tega melihat Biru seperti ini. Tapi sekuat tenaga Jingga mencoba membuka hati, rasa takut dan kecewa itu kembali mencuat ke permukaan.


“Pelan-pelan aja, terima aku lagi di hati kamu. Hum?” Biru masih mendominasi percakapan.


“Aku nggak yakin itu membutuhkan waktu yang sedikit.” Balas Jingga menatap Biru ragu.


“Nggak masalah. Aku bisa nunggu kamu selama apapun itu.”


“Kamu nggak bisa nuntut aku untuk cepat kembali bersikap kayak dulu lagi.” Jingga memastikan sekali lagi. Bagaimanapun, memperbaiki kepingan kaca yang retak itu tidak mudah, bahkan mungkin tidak akan kembali seperti semula. Ke depannya, mungkin akan selalu ada ragu untuk Biru di hati Jingga.


Biru menggeleng dengan seulas senyum tipis. “Aku nggak masalah. Tapi Jingga, aku mau minta satu hal sama kamu.”


Satu alis Jingga terangkat mewakili pertanyaan yang ingin diajukannya.


“Aku tahu ini sedikit keterlaluan.” Biru melepaskan genngamannya, kini tangan itu beralih mengelus pipi Jingga. “Tapi kalau bisa, tolong lupain semua hal yang membuat hati kamu sakit karena aku. Jingga aku janji mengganti semua itu dengan kebahagiaan.”


Jingga terdiam menatap kesungguhan dari mata kelam Biru. Namun tetap saja, dia takut mencoba untuk kembali menggantungkan harapannya pada cowok itu.


“Jangan berharap banyak.” Elusan lembut di pipi Jingga terhenti saat Biru mendengar ucapan itu, sorot matanya berubah sedih, tapi tak lama setelah Jingga berucap. “Tapi aku akan mencobanya. Aku akan berusaha sebisa aku.”


“Kamu nggak akan melarikan diri lagi dari aku, kan?” Tanya Biru memastikan. Jingga hanya mengangguk samar sebagai jawaban.


Biru tersenyum, tapi perasaan takut terselip di dalam hatinya. Takut jika besok Jingga berubah pikiran dan kembali mengabaikannya seperti sebelumnya.


“Boleh aku peluk kamu?” Tanya Biru penuh harap. Jingga terdiam sebentar, lalu kembali mengangguk.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan, Biru lantas beranjak dan berhambur memeluk Jingga. Hatinya bungah karena Jingga tidak defensif lagi meski tak ada balasan untuk pelukannya tersebut. Kedua tangan Jingga menggantung di sisi tubuhnya.


“Aku sayang kamu.” Bisik Biru sambil membenamkan ciuman cukup lama di ceruk leher Jingga yang tertutup rambut.


Untuk beberapa saat Jingga membiarkan Biru memeluknya. Rasanya tidak berubah, tubuh kokoh yang sedang mendekapnya itu masih terasa nyaman dan menyenangkan.


Biru menarik diri, menyisakan jarak yang begitu dekat di antara mereka hingga Biru masih bisa mencium jelas harum wangi parfum dari tubuh Jingga.


Biru menangkup kedua sisi wajah Jingga, mengusap-usap wajah halus itu menggunakan ibu jarinya Mereka saling berpandang untuk beberapa saat.


“Boleh?” Tanya Biru hati-hati saat elusan ibu jarinya turun di bibir kemerahan Jingga.


Gadis itu terdiam bingung selama beberapa detik, tapi tanpa persetujuan kepalanya mengangguk kecil.


Biru tersenyum senang, lantas dengan bersemangat cowok itu mendekatkan wajah mereka, dan ketika jarak mereka semakin terkikis, Jingga dengan cepat menunduk hingga bibir Biru hanya menyentuh kepalanya.


“Maaf, aku belum siap.”


Biru tersenyum lemah, lalu tangannya terulur mengacak rambut Jingga. “Aku bisa nunggu.”


“Bii, Jingga harus pulang.”


Keduanya tersentak kaget saat suara melengking Mama dari kejauhan terdengar.


“Ayo.” Biru mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Jingga menatap uluran tangan itu sejenak sebelum kemudian dengan ragu menerimanya.


Biru menggenggam tangan Jingga erat, menautkan jari-jari mereka hingga keduanya berjalan sambil bergandengan.


Dia ingat terakhir kali menggandenga tangan Jingga adalah saat di Lembang, saat itu Biru menarik kasar tangan Jingga hingga pergelangan tangannya memerah. Hati Biru berdenyut ngilu mengingatnya, dengan sepenuh hati dia kembali  berjanji tak akan pernah sekalipun  melakukan hal yang membuat Jingga terluka lagi.


Biru tersenyum, sesekali melirik genggaman tangan mereka. Tidak ada penolakan dari Jingga. Biru sangat merindukan moment ini. Lama mereka bergandengan, bahkan saat tiba di teras depan di mana semua orang ada di sana, Biru tak kunjung melepaskan genggamannya.


Semua orang tersenyum melihat itu, tapi memilih untuk tak berkomentar apapun.


“Ayo pulang, Ji.” Jingga tersentak mendengar suara Ayah, buru-buru dia melepaskan tangannya.


Jingga lantas berpamitan pada Om Rendi dan Tante Lisa. Sesaat dia merasa kikuk saat ingin berpamitan dengan Biru.


“Pulang dulu.” Pamit Jingga sembari menyerahkan jas milik cowok itu.


“Hmm, take care.” Balas Biru menerima jasnya.


Jingga merasa jantungnya berdebar saat Biru memberi elusan lembut di lengan bahunya sebelum dia masuk ke dalam mobil.


*******


Minggu pagi, Jingga sudah rapi dengan pakaian tenis lapangannya. Hari ini Jingga memiliki rencana untuk bermain tenis seharian di klub dengan Langit. Setelah sekian lama, Jingga benar-benar merindukan memukul bola tenis di lapangan.


Setelah sarapan, Jingga memilih untuk duduk di kursi teras rumah untuk menunggu Langit menjemputnya. Senyum mengembang terukir di bibirnya, matanya menyoroti tukang kebun yang sedang merapikan beberapa tanaman.


Hinggga beberapa saat kemudian atensinya teralihkan pada Langit yang datang dengan penampilan kasualnya.


Jingga mengernyit. “Lho, kok, pake baju kayak gitu?”


“Kita nggak jadi main tenis. Aku maunya ke mall.” Sahut Langit enteng.


“Mana bisa kayak gitu?” Protes Jingga seraya beranjak dari duduknya. “Ya udah, kalo gitu aku berangkat sendiri.”


“Mana bisa, kamu harus ikut aku.” Sambar Langit menghentikan langkah Jingga yang hendak masuk kembali ke dalam rumah.


“Nggak.”


“Kamu lupa udah janji buat nemenin aku keliling sepuluh mall setelah pulang?” Langit mengingatkan dengan sangat jelas.


Jingga mendengus, seketika dia menyesal pernah menjanjikan hal seperti itu. Mungkin, dulu dia mengatakan hal seperti itu karena terpengaruh suasana hatinya yang memang ingin pulang.


Sekarang, dengan sangat terpaksa Jingga harus menepatinya.


“Cepetan ganti baju!” Titah Langit yang melihat Jingga terdiam dengan wajah ditekuk.


“Ish, iya-iya, bawel.” Menghentakkan kakinya kesal, lalu dengan langkah malas Jingga beranjak masuk ke dalam rumah untuk mengganti pakaiannya.


Langit sendiri hanya memandangi punggung Jingga yang perlahan menghilang dari pandangannya.


“Ayo, mana mobil kamu? Kok nggak dibawa masuk?” Tanya Jingga sambil celingukkan mencari mobil Langit yang tidak ada di halaman rumahnya.


“Di depan gerbang. Ayo.”


Tanpa bicara lagi, Jingga mengekori Langit yang sudah berjalan mendahuluinya.


Sesampainya di depan gerbang, Jingga terkejut melihat Biru yang bersandar di samping mobil milik Langit. Cowok itu tersenyum ke arah Jingga, namun gadis itu tak membalasnya.


Seperti yang Jingga katakan bahwa akan sulit menerima cowok itu kembali. Sampai hari ini pun gadis itu masih bersikap dingin pada Biru meski ada sedikit perubahan karena dia mulai jarang menghindarinya lagi.


“Lang, kok, ngajak orang lain?” Protes Jingga dengan wajah merengut.


“Emang siapa yang bilang kalau kita pergi berdua doang?” Sahut Langit menantang.


“Aku nggak mau ada orang lain.” Sahut Jingga seraya melirik sekilas ke arah Biru. Penolakan Jingga tersebut membuat Biru sedikit kecewa. Tapi sebisa mungkin dia menyembunyikannya. Kembali lagi, dia harus sabar menghadapi Jingga.


“Ya udah gue nggak ikut aja, Lang.” Biru mencoba mengalah.


“Gak!” Sambar Langit cepat, lalu beralih pada Jingga. “Kamu nggak bisa gitu, dong. Biru, kan, teman aku juga.”


“Ya udah kalau gitu aku yang nggak ikut!” Ancam Jingga. Langit mendengus sebal mendapati tingkah Jingga yang kekanak-kanakkan seperti ini.


“Ya udah, nggak apa-apa.” Sahut Langit santai. Jingga merengut karena Langit lebih memilih Biru.

__ADS_1


“Padahal kamu bisa dapetin raket bertanda tangan Rafael punya aku.”


Jingga yang hendak masuk kembali ke dalam rumah seketika menghentikan langkahnya. Dia diam mematung seolah mengalami dilema besar, Langit benar-benar tahu bagaimana cara membujuknya. Oke, demi tanda tangan Rafael Nadal. Si petenis terbaik dunia yang dikaguminya.


“Kenapa balik lagi?” Cibir Langit yang melihat Jingga memutar kembali tubuhnya.


“Aku ambil raketnya ke rumah kamu habis ini.” Jingga tak mengindahkan cibiran Langit, lalu membuka pintu mobil dan duduk di jok belakang.


“Kenapa kalian suka Rafael?” Tanya Biru seraya mulai berjalan untuk masuk ke dalam mobil.


“Lo sendiri, kenapa suka Dakota?” Biru terkesiap mendegarnya. Bagaimana Langit bisa tahu?


“Gue yang buka passcode apartemen lo kalau lo lupa.” Sahut Langit yang mengerti kebingungan Biru. “Tck, dan lo udah ngeracunin gue.”


“Jangan bilang lo nonton?” Biru menatap Langit curiga.


“Ya kali ada film pemersatu bangsa gue anggurin.” Sahut Langit jujur.


“Kampret, elonya aja yang mesum. Bukan gue yang ngeracunin.” Cibir Biru setelah mereka berhasil mendudukan dirinya di kursi mobil bagian depan.


“Kan semuanya berawal dari lo. Kalau waktu itu lo nggak mabok dan nyebut-nyebut nama dia, nggak bakalan gue cari tahu.” Sambar Langit kemudian dan mulai menjalankan mobilnya.


“Siapa yang mesum?” Jingga yang penasaran dengan pembicaraan dua cowok di depannya ikut nimbrung.


“Langit.” Biru menyahuti. Tak menyia-nyiakan celah yang dibuat Jingga untuk membuka komunikasi.


“Kamu diajakin Langit nonton porn*o?” Tanya Jingga sambil menyondongkan tubuhnya ke depan, lalu menatap Biru dan Langit bergantian.


Biru melipat bibirnya menahan tawa. Sementara Langit yang merasa disudutkan langsung mendelik tak terima.


“Apaan sih, Ji? Enak aja.” Protes Langit, lalau mengelak. “Jangan karena kamu pernah mergokin aku sekali, kamu jadi ngira aku suka nonton itu.”


“Pfft . . .” Jingga menahan tawanya. Masih jelas dalam ingatannya, saat itu mereka masih kelas sebelas SMA.


Flashback on


Jingga saat itu datang ke rumah Langit untuk belajar bersama. Seperti biasa, mereka akan belajar di kamar Langit. Jingga sudah mengetuk pintu berulang kali, namun tak ada sahutan.


Jingga hendak membuka pintunya, tapi terkunci. Dia jadi sedikit panik karena teringat berita bunuh diri anak SMA yang dilakukan dengan mengurung diri di kamar dan minum racun karena banyaknya tuntutan sekolah yang harus dilakukan.


Dengan demikian, Jingga bergegas menemui Senja di kamarnya untuk meminta kunci cadangan kamar Langit.


Setelah mendapatkan kunci cadangan, Jingga buru-buru membuka pintu kamar Langit dan ternyata apa yang dilihat Jingga benar-benar di luar dugaan. Langit hanya sedang menonton pertandingan gulat di laptop dengan memakai headphone.


Mata Jingga membelalak tak percaya, dia tak cukup bodoh untuk tidak bisa mengartikan apa yang dilihatnya.


“Kak Senjaaaa . . . . .” Jingga yang panik langsung berteriak memanggil Senja dan segera berlari ke kamarnya.


Langit yang menyadari kehadiran Jingga ikut panik dan bersiap menyusul Jingga yang akan keluar dari kamarnya. Namun sialnya, kabel headphone yang dia pakai terlepas dan terdengarlah suara aneh dari laptop. Semakin paniklah keadaan di sana.


“Ish, sial.” Langit susah payah mematikan laptopnya terlebih dahulu.


“Ini gila, ada suara mengerang dari kamar Langit dan dia nggak berhenti remes-remes pahanya. Langit udah gila, Kak.” Senja yang saat itu sedang membaca buku di kamar hanya mengernyitkan dahinya bingung melihat Jingga yang tiba-tiba datang berbicara aneh.


“Kamu ngomong apaan, sih, Ji?” Tanya Senja yang tak bisa mencerna ucapan Jingga. Namun baru saja Jingga akan membuka mulutnya kembali, Langit tiba-tiba datang dan membekap mulunya, lalu dengan cepat membawanya keluar dari kamar Senja.


“Jingga, jangan gangguin Kak Senja.” Langit menyeret Jingga untuk kembali ke kamarnya.


Setelah kembali ke kamar, Langit lalu menjelaskan pada Jingga bahwa yang dia lihat tadi hanya ritual yang biasa anak remaja laki-laki lakukan.


“Trend. Aku cuma ngikutin trend sekarang..” Terang Langit kemudian yang melihat wajah Jingga kebingungan.


“Trend? Emang ada trend kayak gitu?” Tanya Jingga dengan polosnya. Langit hanya mengangguk cepat, lalu mengalihkan topik pembicaraan dengan mata pelajaran yang akan mereka pelajari bersama-sama hari itu.


Flashback off


“Jingga, aku udah bilang untuk lupain itu.” Langit mendengus kesal melihat Jingga yang kelepasan tertawa hingga wajahnya memerah dan sudut matanya berair.


“Haha, trend? Bisa-bisanya kamu bohongin aku waktu itu.” Ledek Jingga tak henti-hentinya.


Biru tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan. Yang dia tangkap, mungkin Jingga pernah menangkap basah Langit yang menonton blue film.


Maka dari itu, dia hanya diam dan memperhatikan Jingga yang tertawa lepas dari kaca spion, sudah lama sekali Bitu tak melihat gadisnya seperti itu.


“Ish, udah, deh diem. Lagian, semua cowok juga pasti pernah ngelakuin itu.” Elak Langit.


“Kamu emang kayak gitu juga?” Tanpa sadar Jingga bertanya pada Biru.


“Kayak gitu gimana?” Tanya Biru tak mengerti maksud pertanyaan Jingga.


“Yaa nonton porn*o sambil main tangan.” Jawab Jingga enteng. Seolah pembahasan seperti ini hal biasa.


Biru sampai tersedak ludahnya sendiri saat mendengar Jingga menanyakannya. Dia lalu mengambil air mineral yang ada di dashboard mobil untuk melegakan tenggorokannya yang gatal.


“Halaah, nggak usah pura-pura kaget gitu, lo. Gue yakin lo nggak sekedar nonton film si Dakota.” Cibir Langit.


“Gue emang nonton doang.” Sahut Biru tak terima. Menurutnya bermain solo itu perbuatan tercela.


“Halaah, nggak percaya gue. Lagian, ya. Cowok belum beristri yang nggak ngelakuin itu udah pasti satu dari dua kemungkinan.”


Biru mengernyit. “Maksud lo?”


“Antara nggak punya tangan atau nggak punya kejantanan.” Jelas Langit kemudian, membuat Biru nyaris tersedak lagi. Sementara Jingga di belakang hanya menahan tawa mendengar ucapan Langit.


“Gilaa. Nggak beres kepala lo.” Jingga kembali menahan tawa mendengar pertanyaan yang Biru lontarkan.


“Tck, kayak lo nggak pernah aja.” Balas Langit tanpa mengalihkan fokusnya pada jalanan.


“Enggak! Gue nonton doang, nggak sampai main tangan.” Sahut Biru.


“Oke nggak main tangan, tapi lo ngebayangin si Dakota sampai ngompol, kan? Udah ngaku, deh, lo.” Sungut Langit penuh cibiran


“Dakota? Who’s that?” Tanya Jingga penasaran karena dari tadi kedua cowok itu membahas nama tersebut.


“Ya objek fantasi Biru, Ji.” Sahut Langit.


Jingga manggut-manggut, bisa menebak Dakota adalah bintang yang pasti pernah bermain dalam film dewasa. Tidak terkejut sama sekali, mengingat hampir semua teman laki-lakinya di sekolah kedokteran dulu sering membicarakan film dewasa.


“Gue masih waras, ya.” Protes Biru tak terima. Dia memang menyukai Dakota dan pernah mennonton filmnya satu kali, tapi sumpah, Biru tak pernah menjadikannya objek fantasi. Langit benar-benar menyebalkan.


“Tck, apa ini definisi **** bagi kalian? Dibilang dekat, tapi jauh. Dibilang jauh, tapi dekat. Aku kasihan sama cewek yang dijadiin objek fantasi kalian.” Cibir Jingga menghentikan perdebatan kecil antara Langit dan Biru.


“Kayak kamu enggak aja, Ji.” Ucap Langit yang membuat Biru menoleh ke belakang dan menatap Jingga dengan mata sedikit memicing.


“Aku nggak pernah nonton film porn*o.” Bantah Jingga tak terima.


“Terus drama Korea?” Tanya Langit.


“Drama Korea mana ada porn*onya.” Sanggah Jingga.


“Tetap aja ada adegan ciuman, ranjang juga aku pernah lihat.” Langit tak mau kalah hingga suasana dalam mobil sangat gaduh.


“Cuma ciuman salahnya di mana? Lagian itu adegan romantis, bukan erotis kayak yang kamu tonton. Adegan ranjangnya juga cuma ngajakin ke kasur doang, mana bisa kamu samain sama film porn*o?” Sahut Jingga membela drama Korea yang jelas-jelas beda genre.


Biru tersenyum geli dengan gelengan kepala kecil mendengar Jingga bisa sesantai itu membicarakan hal seperti ini.


“Iya, deh, cuma ciuman. Habis itu kamu praktekin sama Biru, malah nyampe ke leher-leher aku pernah lihat dulu leher kamu merah-merah.” Sungut Langit yang seketika membuat suasana di dalam mobil berubah canggung.


“Ehem.” Jingga berdehem guna menetralisir kegugupan. “Kamu ngomong apaan, sih, Lang?”

__ADS_1


Jingga merasakan wajahnya benar-benar panas sekarang. Dia bergerak-gerak salah tingkah terlebih saat matanya bertemu dengan tatapan Biru dari kaca spion dalam. Cowok itu tersenyum tipis padanya.


Sementara Langit memilih diam dan menyetel musik guna mengusir rasa canggung yang tiba-tiba melanda.


********


Setibanya di mall, Biru dan Jingga mengekor di belakang Langit menyusuri toko demi toko di mana Langit akan membuang uangnya di sana.


“Habis ini kita nonton, ya, Lang. Aku udah lama gak nonton film.” Pinta Jingga di sela-sela Langit memilih jam tangan.


“Hmm, habis aku beli kemeja kerja.” Jawab Langit tanpa menoleh ke arah Jingga.


“Kemeja kamu masih banyak yang baru di lemari, Lang.” Jingga protes.


“Saya mau yang ini.” Langit tak mengindahkan Jingga yang sedang memprotesnya.


“Ngeselin.” Jingga menghentakkan kakinya kesal dan berjalan menghampiri Biru yang duduk di sofa. Dia kemudian mengambil duduk di ujung sofa untuk menjaga jarak dari Biru.


“Capek?” Tanya Biru yang melihat wajah Jingga tertekuk masam. Jingga menoleh dan menggelengkan kepalanya pelan.


“Masih saja irit ngomong.” Gerutu Biru seraya menghembuskan napas berat. Gadis ituu kadang sadar kadang tidak sadar belakangan ini.


“Gak mau beli jam tangan?” Tawar Biru.


“Nggak.” Jawab Jingga singkat. Raut wajahnya masih tanpa ekspresi.


“Ayo.” Jingga dan Biru mendongakkan kepala saat melihat Langit menenteng paper bag di tangannya.


“Nonton.” Seru Jingga dengan senyum mengembang.


“Aku bilang mau beli kemeja dulu.” Sahut Langit, padahal belanjaannya sudah sangat banyak.


Dan akhirnya, karena Jingga sudah berjanji akan menemani Langit keliling mall, gadis itu hanya bisa mengalah walau harus menahan kesal.


Jingga dan Biru kembali mengekori Langit di belakang dengan kedua tangan mereka penuh kantong belanjaan milik Langit. Mereka sudah seperti asisten Langit saja.


“Ish, berat.” Dengus Jingga pelan. Ingin sekali dia melempar semua kantong belanjaan yang ada di tangannya saat ini juga.


“Sini, biar aku yang bawa.” Tawar Biru yang tak sengaja mendengar ucapan Jingga.


“Aku masih kuat buat bawa.” Tolak Jingga ketus dan berjalan mendahului Biru.


“Keras kepala.” Biru kembali menggerutu dalam hati, lalu dia ikut mengekori gadis itu.


Sesampainya di toko kemeja yang Langit tuju, Jingga menyimpan semua belanjaan di lantai dekat sofa, kemudian keluar lagi. Langit berteriak memanggil, namun Jingga tak mengindahkannya.


“Dia mau ke mana?” Tanya Langit. Biru hanya mengangkat bahunya tanda tak tahu, lalu menyandarkan punggungnya yang cukup lelah di sandaran sofa sembari menunggu Langit memilih kemejanya.


Saat Biru tengah sibuk memijat keningnya yang terasa berdenyut nyeri. Dia tiba-tiba dikejutkan dengan sebuah cup bubble drink rasa stroberi yang melayang di hadapannya.


Biru mendongakkan kepala, terlihat Jingga menyodorkan buble drink itu tepat di depan wajahnya.


“Ambil.” Perintah Jingga.


“Makasih.” Ucap Biru seraya mengambil bubble drink itu dari tangan Jingga, tak lupa sebuah senyuman hangat dia sunggingkan untuk gadis itu.


“Aku nggak beliin ini buat kamu..” Ujar Jingga setelah berhasil mendudukkan dirinya di sebelah Biru. Cowok itu hanya mengangguk.


“Aku kelebihan beli.” Tambah Jingga yang gengsi mengatakan kalau sebenarnya dia memang sengaja membeli dua cup minuman untuknya dan Biru.


“Hmm.” Sahut Biru pura-pura percaya. Padahal, dalam hati tersenyum senang. Biru senang Jingga memperhatikannya meski gadis itu masih bersikap dingin.


“Aku nggak bohong.” Jingga mempertegasnya.


“Iyaa . . . .” Sahut Biru dengan nada lembut seraya menoleh ke arah Jingga. Namun tatapannya penuh ledekan, hingga membuat gadis itu membuang muka dengan jutek. Biru tersenyum gemas dibuatnya.


“Punya gue mana, Bi?” Tanya Langit yang tiba-tiba datang menghampiri dan mendapati Biru dan Jingga tengah menikmati bubble drink. Biru hanya menggelengkan kepala tanpa melepaskan sedotan dari mulutnya.


“Ji, punya aku mana?” Langit beralih bertanya pada Jingga.


“Tangan aku cuma dua, susah kalau bawa tiga.” Jawab Jingga sambil mengangkat kedua tangannya acuh.


“Tck, nggak adil banget.” Protes Langit dengan raut wajah ditekuk. Jingga hanya mengangkat bahunya tak peduli.


“Ya udah aku minta.” Langit kemudian dengan santai merebut minuman milik Jingga. Tapi baru saja dia akan menempelkan sedotan di bibirnya, Biru dengan cepat berdiri dan mengambil minuman milik Jingga, lalu mengganti dengan minuman miliknya.


“Lo boleh minum punya gue.” Dan Biru tidak rela bibir Jingga bersentuhan dengan bibir Langit walau itu secara tidak langsung.


“Yee kampret, ngeselin lo.” Langit menggerutu kesal, namun Biru tak peduli.


Jingga berdecak geli saat menerima kembali minumannya dari tangan Biru. Salah satu sudut bibirnya terangkat dan membentuk sebuah senyuman tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat.


********


Hari sudah menjelang sore. Jingga akhirnya bisa tersenyum senang karena penantiannya untuk menonton film akan segera terwujud. Setelah beberapa saat yang lalu Langit mengakhiri acara belanjanya, mereka mencari makan, menyimpan belanjaan ke dalam mobil, dan sekarang mereka berjalan menuju gedung bioskop dengan Jingga yang memimpin.


“Aku beli tiketnya dulu.” Ucap Jingga semangat seraya berlalu meninggalkan Langit dan Biru untuk membeli tiket dengan pilihan film bergenre komedi.


“Beli porcorn sama cola sana.” Titah Langit, membuat Biru mendengus sebal. Langit adalah satu-satunya bawahan yang bisa memerintah atasannya seenak jidat.


“Terus, lo ngapain?” Tanya Biru.


“Lo nggak lihat apa tadi gue habis belanja keliling mall? Gue capek. Jadi lo aja yang beli.” Jawab Langit bersungut-sungut. Ingin sekali Biru menjawab perkataannya, memang seharian ini dia diam? Seharusnya Langit sadar siapa yang membawa barang belanjaannya yang super banyak itu.


Memilih untuk tak berdebat, Biru mengalah dan beranjak untuk membeli popcorn dan cola sesuai permintaan Langit.


Setelah Jingga mendapatkan tiket, dia kembali untuk menghampiri Biru dan Langit. Tapi raut wajah yang tadinya senang, seketika berubah muram saat dia melihat Luna ada bersama Biru dan Langit terlihat seperti sedang mengobrol.


“Nggak nyangka, ya, kita bisa ketemu disini.” Samar ucapan Luna terdengar di telinga Jingga yang kini langkahnya mulai mendekati mereka.


“Jingga?” Luna terkejut mendapati Jingga ternyata ikut bersama Langit dan Biru. Jingga tak menggubrisnya, dia hanya menatap Luna dengan tatapan dingin seolah Elsa yang siap menjadikan Luna patung es.


“Kalian mau nonton film komedi juga?” Tanya Luna yang tak sengaja melihat tiket yang dipegang Jingga ternyata sama dengan miliknya.


“Aku juga nonton film itu. Kita bisa nonton bareng kalau gitu.” Ajaknya semangat. Sungguh tak tahu malu setelah apa yang terjadi.


“Kayaknya nggak bisa deh, Lun.” Jingga menatap sinis Biru yang menyahuti ucapan Luna.


“Lho, kenapa? Kita, kan, nonton film yang sama?” Tanya Luna heran.


“Aku nggak nonton ini. Aku sama Jingga nonton film yang lain.”


“Ini, Lang. Tiket pesenan lo.” Biru meraih tiket dari tangan Jingga dan menyerahkannya pada Langit. Cowok itu hanya melongo tak mengerti.


“Ayo, sayang.” Jingga terkejut dengan Biru yang tiba-tiba menautkkan jemari tangannya dan menggandeng mesra dirinya menuju loket pembelian tiket. Tidak, bukan hanya itu. Tapi, kata sayangnya.


Tidak hanya Jingga, Luna juga tak kalah terkejut melihat adegan yang baru saja terjadi di depan matanya.


“Mereka bukannya udah putus, ya? Kok bisa?” Luna kembali menahan geram di hatinya.


“Gara-gara Jingga, pantesan Biru jadi menjauh dari aku akhir-akhir ini.” Luna mengepalkan tangannya dengan sorot mata penuh amarah.


Berbeda dengan Luna, Langit merasa kesal dengan dua orang itu yang meninggalkannya begitu saja. Awas saja, dia juga akan meninggalkan mereka pulang. Biar saja mereka naik taksi.


Dan akhirnya, tanpa mempedulikan Luna, Langit berlalu begitu saja. Rusak sudah mood dan rencana menonton film komedi yang akan dia tonton bersama teman-temannya.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2