
********
Keesokan paginya, Jingga berjalan menuju ruangan Biru dengan senyum mengembang di wajahnya. Sebelah tangannya menggenggam satu botol yoghurt strawberry untuk diberikan pada Biru. Dia ingin mengingatkan bahwa dulu Biru sering memberinya minuman tersebut dan Biru juga sangat menyukainya.
Sebenarnya dia masih sedih karena kejadian semalam dan Biru yang seolah mempermainkan perasaannya seperti ini. Tapi mengingat bahwa dia akan memberi kesempatan dan mencoba untuk membawa hati cowok itu kembali padanya, Jingga berusaha melupakan itu.
Jingga belum ingin menyerah sekarang. Dia sudah memutuskan untuk terus melangkah ke arah Biru dan mendapatkan hatinya kembali.
Tanpa mengetuk, Jingga mendorong pintu ruangan Biru. Dia berani melakukan itu karena merasa waktu masih terlalu pagi, jadi kemungkinan Biru belum sibuk dan tidak banyak orang di sekitaran sana. Tapi tubuhnya seketika dibuat mematung di ambang pintu saat melihat Biru dan Luna sedang sarapan berdua di sana.
“Makannya jangan belepotan, dong, Bi. Kamu kayak anak kecil, deh.” Luna terkekeh seraya tangannya terulur membersihkan remahan makanan yang sedikit belepotan di pipi Biru.
Pemandangan inilah yang menyambut kedatangan Jingga di sana. Dan yang paling menjengkelkan adalah Biru menerima perlakuan Luna begitu saja.
Jingga hendak berbalik kembali sebelum mereka menyadari kedatangannya. Namun sialnya, kaki Jingga malah tak sengaja menendang pintu hingga menimbulkan suara. Otomatis Biru dan Luna menoleh ke arahnya. Lantas dengan terpaksa Jingga berbalik kembali.
“Jingga . . . .” Suara Luna seperti terkejut.
“Jii, kamu di sini?” Tanya Biru dengan raut wajah heran karena tak biasa Jingga datang ke ruangannya tanpa mengetuk.
Jingga masih bergeming. Menatap dua manusia di depannya yang memasang wajah seolah tanpa dosa itu.
“Jingga. . . .” Panggil Biru menyadarkannya.
Jingga lantas berjalan menghampiri sofa di mana Biru dan Luna duduk. Jingga memperhatikan bekal sarapan berisi nasi goreng di atas meja.
“Kamu lagi sarapan, ya?” Jingga berucap lirih, matanya lalu bergulir menatap miris botol yoghurt di tangannya.
“Luna bawain sarapan buat aku.”
Lagi. Biru lagi-lagi tak menghargai perasaannya.
“Harusnya kamu bilang kalau belum sarapan, aku bisa temenin kamu atau bawain bekal juga.” Tutur Jingga dengan raut wajah kecewa.
“Kamu jangan terganggu dengan ini, Jingga. Lagian, aku udah biasa bawain Biru sarapan dan temenin dia.” Lagi-lagi Luna sepertinya memberitahu kedekatannya dengan Biru.
“Lain kali, kamu nggak usah ngelakuin itu lagi, Luna.” Ujar Jingga dingin dan penuh peringatan, membuat Luna terkesiap, begitupula dengan Biru.
“Jingga, mungkin kamu salah paham . . . .”
“Enggak, jujur aku emang terganggu sama kedekatan kalian.” Sambar Jingga cepat. Kali ini dia tak bisa menahan rasa geramnya lagi pada gadis itu.
“Jingga, kamu nggak berhak ngomong kayak gitu.” Sentak Biru, membuat Jingga terperanjat kaget.
Sudut hatinya berdenyut nyeri. Bukan semata karena bentakan Biru, tapi karena sikap Biru yang membentaknya di depan orang lain. Secara tidak langsung, cowok itu sudah mempermalukannya.
“Ya aku berhak, karena sekarang aku tunangan kamu.” Sahut Jingga tak mau kalah.
“Maaf, gara-gara aku kalian jadi berantem kayak gini.” Merasakan situsai yang memanas, dengan raut wajah sedih Luna beranjak dan bergerak keluar dari ruangan Biru. Meninggalkan Biru dan Jingga yang sedang bersitegang.
“Jingga, aku harus bilang berapa kali sama kamu untuk jangan membatasi atau mencampuri urusan aku sama teman-teman. Aku juga udah bilang sama kamu untuk nggak saling menuntut.” Ujar Biru masih dengan nada tingginya setelah melihat kepergian Luna.
“Nggak bisa kayak gitu, Kak.” Sambar Jingga dengan suara yang nyaris tercekat. “Baik aku ataupun kamu, kita sama-sama nggak bisa untuk nggak saling menuntut apapun.”
Jingga menyeka air matanya yang tak sengaja lolos, sebelum kemudian kembali berucap. “Kamu aja selalu nuntut aku dalam beberapa hal, iya, kan? Terus aku nggak boleh nuntut apapun dari kamu? Jangan egois, Kak. Kamu sendiri yang bilang hubungan kita mutualisme. Tapi kamu cuma mikirin diri kamu sendiri.”
“Tapi sikap kamu ke Luna itu tetap salah.”
Jingga mendengus lelah karena Biru malah mengalihkan pembicaraan. Selalu saja ingin menang sendiri dan tak menyadari kesalahannya.
“Karena cemburu, kamu bersikap kekanak-kanakkan kayak gini.” Lanjut Biru kemudian yang langsung dihujamkan tatapan tak terima Jingga.
“Oke, karena aku kekanak-kanakkan kayaknya kamu harus mempertimbangkan kembali hubungan kita. Aku lebih suka kalau perjodohan kita dibatalin.” Balas Jingga penuh emosi.
"JINGGA. . . ." Bentakkan Biru tak kalah emosi, tapi gadis itu tak mengindahkannya.
“Maaf aku udah ganggu sarapan romantis kalian, Prof. Biru.” Ucap Jingga penuh penekanan untuk kemudian beranjak pergi dari ruangan Biru dengan perasaan kecewa dan marah sekaligus.
********
Untuk pertama kalinya Jingga menginjakkan kaki di atap gedung rumah sakit itu. Matanya bergerak menyusuri sekitar. Jauh dari tempatnya berdiri, di sana terdapat helipad sebagai landasan helicopter atau ambulance udara yang biasa digunakan untuk penanganan dan medical evacuation dalam keadaan darurat. Fasilitas rumah sakit itu memang tidak bisa di remehkan.
__ADS_1
Jingga menyandarkan tubuhnya di tembok pembatas yang hanya sebatas dadanya, tatapannya lurus memandang halaman rumah sakit yang terlihat segar di pagi hari.
Gadis itu mengeluarkan tangisnya yang sejak tadi tertahan.
Kenapa Biru seperti ini? Kenapa Biru terus membuatnya bingung?
Berjuang sendirian memang menyakitkan. Hanya Jingga yang selalu berusaha mendekat pada cowok itu.
Maka sekarang, Jingga sepertinya harus mempertimbangkan untuk menyerah saja dengan cintanya. Walaupun tadi sempat bersemangat untuk terus melangkah ke arah Biru dan mendapatkan hatinya kembali, tapi rasanya dia tidak akan sanggup jika harus berjuang sendiri.
Masa bodoh dengan tunangan dan perjodohan orang tua mereka. Jingga bisa kembali ke Amerika. Tidak masalah hidup sendiri di sana.
“Kenapa Tuhan jahat banget sama aku? Kenapa cuma aku yang ingat? Kenapa cuma aku sendiri yang tetap mencintai Kak Biru? Kenapa Tuhan nggak meluluh lantahkan perasaan aku aja?” Jingga terus terisak dalam diam. Dia tidak menyangka kisah cintanya akan sedramatis ini.
“Kenapa nangis, Dokter Jingga yang cantik?”
Mendengar kedatangan seseorang, buru-buru Jingga menghapus air matanya yang tadi keluar berhamburan. Terlihat Bian bergerak dan ikut berdiri di samping Jingga dengan raut wajah penasaran.
“Aku nggak nangis. Tadi mata aku kena angin.” Elak Jingga seraya terus mengeringkan air mata di wajahnya, dan berusaha menghindari tatapan Bian. Bian hanya tersenyum geli mendengar alasan konyol Jingga.
“Aku percaya kalau itu angin ****** beliung. Tapi angin di pagi hari masih terlalu sejuk.” Ledek Bian, membuat sudut bibir Jingga sedikit tertarik saat mendengarnya.
“Tadi aku lihat pasien yang meninggal, makannya aku nangis. Keluarga mereka sedih banget kayaknya.” Jingga memberi alasan yang cukup bisa diterima. Jingga memang tadi pagi melihat orang meninggal, tapi itu bukan pasiennya.
Bian tergelak pelan. “Haha, mana bisa kamu jadi dokter dengan hati selemah itu? Jadi dokter, tuh, nggak boleh lemah.” Cibirnya kemudian sambil menyikut Jingga pelan.
Jingga mendengus pelan. “Bukan lemah, tapi aku punya rasa empati yang tinggi.”
Bian hanya mencebikan bibirnya seolah meledek Jingga cengeng dan terlalu berperasaan.
“Ish, udah, deh. Aku beneran.” Dengus Jingga tak terima Bian memasang ekspresi meledek seperti itu padanya. “Aku mau ke bawah. Kamu mau ini?” Gadis itu mengulurkan yoghurt strawberry yang masih digenggamnya sejak tadi. Dia sampai lupa tujuan awal memberi Biru itu gara-gara ada kejadian tak diharapkan.
“Buat aku?” Tanya Bian heran dan tak langsung menerimanya. Jingga memutar bola matanya malas, jelas di sana hanya ada mereka berdua. Memang untuk siapa lagi?
“Kalau nggak mau ya udah.” Ketus Jingga seraya menarik tangannya kembali dan bersiap pergi, namun buru-buru Bian menyambar susu fermentasi tersebut.
“Tapi ini nggak di kasih racun, kan? Aku belum mau mati, lho, habis minum ini. Belum sempat nikah dan ngerasain enak-enak.” Bian berseloroh.
“Nyesel aku nggak naburin racun dulu di sini.” Gerutu Jingga kesal sambil merebut kembali yogurt dari tangan Bian, lalu benar-benar meninggalkan cowok itu.
“Ji, hey. Kok diambil lagi?” Teriak Bian menatap tangannya yang melayang kosong.
********
Terhitung tiga hari setelah kejadian pagi itu, Jingga menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Karena dengan melakukan itu, dia bisa melupakan sejenak kegundahan hatinya.
Jingga menunggu Biru meminta maaf, namun sepertinya tak ada tanda-tanda cowok itu akan meminta maaf padanya. Boro-boro minta maaf, sadar saja sepertinya tidak.
Jingga tak mengindahkan sapaan senyum yang diberikan Luna saat tiba-tiba gadis itu masuk ke dalam lift yang sedang dinaikinya. Sial sekali, mood Jingga yang sedang buruk semakin bertambah buruk saja. Kenapa dia harus bertemu Luna? Parahnya, di dalam lift itu hanya mereka berdua, tidak ada orang lain.
“Ada istilah nggak selamanya pertemuan itu untuk menyatukan, terkadang pertemuan juga harus memisahkan.” Luna tiba-tiba bersuara setelah beberapa saat suasana dalam lift cukup mencekam.
Mata Jingga yang sedang menatap lurus ke arah pintu lift, kini terpaksa dia alihkan untuk melihat Luna. Jingga menautkan alisnya, tak mengerti dengan ucapan yang dilontarkan gadis itu.
“Kamu pasti seneng, kan, ketemu lagi sama cinta monyet kamu?” Ucap Luna penuh penekanan.
Sekarang Jingga mulai mengerti ke mana arah pembicaraan Luna.
“Dia bukan cinta monyet aku, Luna.” Jingga mencoba protes.
“Yaa menurut kamu begitu, karena kamu masih suka sama dia. Tapi Biru enggak.” Sahut Luna santai seraya tersenyum menyeringai.
“Biru udah nggak cinta sama kamu, Dokter Jingga yang cantik. Cinta Biru buat kamu itu sudah terhapus bersama dengan ingatannya yang hilang. Jadi mulai sekarang, jangan lagi membebani dia dengan hubungan masa lalu kalian.” Lanjut Luna penuh peringatan.
“Aku nggak pernah membebani dia.” Sahut Jingga dalam hati. Mengingat Biru sendiri yang memintanya untuk tinggal di sisinya di saat Jingga sendiri ingin melepaskannya.
“Jangan menggoyahkan hati Biru, Jingga.” Tambah Luna
Untuk yang ini, Jingga benar-benar tak mengerti, sehingga dia hanya diam menunggu Luna melanjutkan apa yang akan disampaikannya.
“Kamu tahu, aku dan Biru sudah dekat dari dulu. Tapi kamu tiba-tiba datang dan dengan mudahnya minta dia untuk kembali sama kamu.”
__ADS_1
Jingga menggeram kesal, karena itu sama sekali tidak benar.
“So, dengan kata lain kehadiran aku udah ngerusak segala kemungkinan yang akan terjadi sama kamu dan Kak Biru, gitu?” Sahut Jingga mulai menarik menyimpulkan. Dia memejamkan matanya sejenak untuk menetralisir emosi yang membuncah di hatinya.
“Jadi, kamu bener-bener suka sama Kak Biru?” Lanjut Jingga memastikan, tetap dengan nada tenang.
“Iya, kamu bener. Aku suka sama dia, bahkan sejak dari kecil. Sebelum akhirnya kamu datang dan mengacaukan semuanya.” Jawab Luna tak menyangkal.
Jingga cukup terkejut melihat Luna hari ini. Wajah lemah lembut bak malaikat itu ternyata berbanding terbalik dengan hatinya.
Jingga tersenyum menyeringai, menatap Luna penuh cemooh. “Kayaknya kamu nggak percaya diri, Luna.”
Luna seketika menatap tajam ke arah Jingga, tidak terima dengan ucapannya barusan.
“Tadi kamu kayaknya yakin banget bilang kalau Kak Biru udah nggak cinta sama aku. Terus kenapa kamu harus khawatir kalau kehadiran aku akan menggoyahkan hati dia?”
Wajah Luna seketika memerah padam, rahang gadis itu tampak mengeras memperlihatkan emosi yang tertahan.
“Dan satu lagi. Aku yakin jauh di dalam hatinya, Kak Biru masih cinta sama aku. Bahkan sekalipun kamu bilang itu sudah terhapus. Cinta nggak akan semudah itu hilang, karena cinta nggak bersemayam dalam ingatan, tapi itu terpatri di dalam hati.” Jingga merasa dirinya sudah seperti cupid sekarang. Rasanya dia mual sendiri mendengar kalimatnya.
Entahlah, Jingga hanya ingin membuat Luna kesal, makannya dia berkata demikian. Dan sepertinya berhasil, sekarang gadis itu nampak menggeram tertahan dengan tangan yang mengepal. Matanya bahkan terlihat menyala.
“Permisi, Luna.” Pamit Jingga tersenyum puas seraya meninggalkan Luna yang masih bungkam setelah lift tiba di lantai tujuannya.
Walaupun mungkin Jingga akan menyerah pada Biru, tapi Jingga tidak akan pernah menunjukkan dirinya lemah di hadapan gadis ular ini.
********
Malam hari setelah pulang dari rumah sakit, Jingga berjalan gontai menuju unit apartemen miliknya. Sengaja dia berjalan melewati tangga darurat untuk membuat tubuhnya semakin lelah. Karena dengan begitu, dia bisa cepat tidur tanpa harus memikirkan Biru yang selalu membuatnya sulit tidur selama tiga malam belakangan ini.
“Tengah malam begini, kenapa baru pulang?” Suara dingin dan tatapan tajam seseorang yang seolah siap menerkam menyambut Jingga di depan pintu apartemennya.
Jingga terkejut mendapati Biru yang tengah berdiri di sana. Namun sebisa mungkin dia sembunyikan rasa keterkejutannya itu. Jingga hanya meliriknya sekilas, tanpa memberi sapaan atau menjawab pertanyaan yang sempat Biru lontarkan tadi. Jingga melewati Biru begitu saja dan mulai menekan kode aksesnya pada keypad.
“Pergi sana! Aku nggak mau nerima tamu malam-malam gini.” Usir Jingga dengan nada datar. Memang sudah malam, jam juga sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam.
Memang tadi setelah pulang dari rumah sakit, sebelumnya Jingga pergi ke taman bermain untuk menenangkan dirinya, hingga tak sadar ternyata waktu sudah sangat malam. Akibatnya dia pulang selarut ini.
Tapi sepertinya yang diusir tidak mendengarkan. Biru malah menerobos masuk bertepatan dengan terbukanya pintu apartemen Jingga.
Jingga tersentak kaget mendapati Biru yang kini berhasil menerobos dan ikut masuk ke dalam apartemennya.
“Kamu itu emang suka seenaknya, ya?” Geram Jingga menahan emosinya.
Sementara Biru tak mengindahkan. Cowok itu sibuk menyusuri setiap sudut apatemen Jingga yang bisa dijangkaunya. Cukup bersih untuk orang sesibuk Jingga. Terlihat sekali, sepertinya apartemen tersebut dibersihkan setiap hari.
Perasaannya mendadak kesal saat melihat kembali foto kebersamaan Jingga dan Langit yang tersimpan di rak lemari. Biru mendengus, lalu memilih duduk di sofa meski tak dipersilahkan.
Matanya kembali bergerak mencari keberadaan Jingga yang hilang sesaat dari pandangannya, tapi tak lama gadis itu muncul dari dalam kamar.
“Kamu dari mana pulang semalam ini? Nggak baik cewek sendirian pulang malem.” Tegur Biru datar, namun terdengar nada khawatir saat mengucapkannya.
“Bukan urusan kamu.” Balas Jingga malas seraya mendudukkan dirinya di sebelah Biru.
“Aku berhak karena aku tunangan kamu, kalau kamu lupa.” Seru Biru dingin.
“Cuma tunangan. Masih bisa dibatalin.” Sahut Jingga santai, membuat emosi Biru naik.
“JINGGA.”
Meski terkejut dengan sentakan itu, Jingga berusaha tenang dan mengabaikan tatapan tajam Biru yang kini menghunus padanya.
“Ohh, iya. Aku mau ngasih kamu ini.” Jingga lantas menyerahkan sebuah travel jurnal ke pangkuan Biru. “Di sana tertera semua hal yang pernah kita lakukan, termasuk tempat-tempat yang pernah kita kunjungi, di sana banyak foto-foto kita. Aku selalu ngasih keterangan di bawah foto. Kamu lihat dan ingat-ingat sendiri.”
“Aku capek, aku mau nyerah aja. Kayaknya aku lebih bahagia kalau melepaskan kamu.” Lanjut Jingga, membuat Biru melayangkan tatapan protes mendengar penuturannya.
“Kamu nggak akan bisa melepaskan aku, sebelum aku sendiri yang akan melepaskan kamu.” Biru mencekal tangan Jingga, suaranya terdengar menajam, begitupula dengan tatapannya.
********
To be continued . . . .
__ADS_1