Still In Love

Still In Love
EP. 30. Trophy


__ADS_3

********


Jingga turun dari taksi. Dia merogoh tasnya untuk mengambil uang, namun tak kunjung menemukan dompetnya. Mungkin karena dia mencarinya dengan terburu-buru, makannya sulit ditemukan.


Dalam hati, dia merutuki dirinya sendiri karena bisa-bisanya malah naik taksi, padahal dia membawa mobil. Terburu-buru terkadang membuat orang lupa beberapa hal.


“Duhh, di mana, sih?” Gurutunya frustrasi karena tak kunjung mendapati dompet di dalam tasnya. Beruntung Langit saat itu lewat. Jingga langsung mencegatnya dengan menarik lengan cowok itu dan memintanya untuk membayar taksi.


“Lang, tolong bayarin taksinya. Aku buru-buru.” Pinta Jingga setengah berteriak, untuk kemudian masuk ke rumah sakit dengan langkah cepat.


Langit dibuat melongo dengan tingkah Jingga. Baru saja hari ini dia bertemu dengan Jingga, eh, sudah dipalak begitu saja. Dia berdecak geli, kemudian menghampiri taksi yang dinaiki Jingga, mengeluarkan dua lembar uang seratus ribuan dari dompetnya dan menyerahkannya pada sopir taksi.


********


Sementara itu di restoran, Biru masih bergeming memandangi foto yang tersimpan manis di dalam dompet Jingga yang ketinggalan.


Foto tersebut menampilkan gambar dirinya yang sedang mencium mesra pipi Jingga. Latar belakang taman bermain membuatnya teringat akan tempat yang selalu dia lihat di dalam kilas ingatan dan mimpinya.


Benar kecurigaannya selama ini. Ternyata gadis itu memang menyembunyikan sesuatu darinya, terlihat dari gelagatnya yang aneh sejak mereka bertemu di acara makan malam keluarga.


“Bi, sana susulin malah bengong. Keburu pergi Jingganya.” Tegur Papa sekali lagi. Namun Biru tetap bergeming.


“Kak, kamu simpan yang ini.”


“Ngapain, sih, disimpan di dompet segala – ”


Biru mendesis, menahan rasa sakit di kepala saat suara gadis itu berdengung jelas di telinganya. Dia juga melihat gadis itu menyerahkan sesuatu, namun tak begitu jelas. Biru memaksakan diri untuk mengingat itu, tapi kepalanya malah semakin sakit.


“Mana dompet kamu?”


“– Awas aja kalau kamu sampai tergoda cewek bule di sana.”


“Selamanya kamu akan selalu ada di sini dan di sini.”


“Promise me?”


“I promise.”


“Aww.”


Biru menutupi kedua telinganya saat suara itu mendadak bersahut-sahutan, membuat telinganya berdenging keras dan rasa sakit luar biasa menyerang kepalanya.


“Bi, kamu kenapa, Sayang?”


Mama yang khawatir segera beranjak menghampiri Biru. Mama lantas mengusap-usap kepala sang anak dengan penuh sayang.


“Kamu inget sesuatu? Udah jangan dipaksakan.” Papa menyerahkan air minum setelah Biru lebih tenang. Napas cowok itu nampak memburu dan keringat dingin memenuhi pelipis hingga keningnya.


“Aku nggak tahu, Pa.” Ucap Biru lemah.


“Emang kamu lihat apa, sih, di dompet Jingga sampai kayak gi –”


Mata Mama membelalak tak percaya setelah merampas dompet Jingga dari tangan Biru dan melihat isinya.


“Bi, ini . . . .”


“Bi, ini nggak salah?” Tanya Papa yang ikut melihat foto di dalam dompet Jingga.


“Nggak heran Jingga waktu makan malam bersikap aneh. Dan tadi juga. . . .” Gumam Mama mengingat sikap Jingga yang cukup aneh sejak bertemu Biru.


“Sekarang Papa ngerti, kenapa ada seorang gadis yang menghantui kepala kamu.” Timpal Papa.


Sementara Biru memilih diam sebentar dengan sisa denyutan sakit di kepalanya. Dia juga mencoba untuk mengkorelasikan penemuan barunya ini.


“Dan Jingga adalah bagian yang hilang dari ingatan aku.” Ucap Biru. Ada perasaan lega dalam hati karena akhirnya dia benar-benar menemukan gadis yang membayang-bayanginya selama sembilan tahun ini. Bukan perkiraan lagi.


Akhirnya, dia bisa menemukan kepingan ingatannya yang hilang.


********


Biru kembali ke rumah sakit, langsung mendatangi bagian Bedah Toraks dan Kardiovaskuler.


Semua Dokter dan Perawat yang ada di sana heran dengan kedatangan Kepala Rumah Sakitnya yang tiba-tiba menanyakan Jingga. Bukankah sebaiknya tinggal telepon dan menyuruh Jingga ke ruangannya jika ada keperluan? Kenapa jadi terbalik?


Terang saja Biru tidak melakukan hal itu karena pikirannya sedang tidak fokus karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah bertemu Jingga dengan segera untuk meminta penjelasan.


“Mungkin Dokter Jingga nggak bisa dihubungin.” Seorang Perawat berbisik-bisik dengan teman perawatnya.


“Atau kemungkinan lain, itu bukan urusan pekerjaan.” Jawab temannya dengan mata memicing dan tatapan penuh arti.


Sementara itu, Hana berjalan dengan membawa catatan medis beberapa pasien Jingga. Dari kejauhan, dia melihat Biru sedang berdiri di depan ruangan Jingga.


Keningnya berkerut heran, lalu bergumam. “Orang cantik emang beda.”


Hana merasa tidak aneh melihat itu. Pasalnya tidak jarang para Dokter laki-laki yang masih muda sengaja berdiri di sana untuk bertemu Jingga.


“Prof. Biru.” Sapa Hana sembari membungkukkan sedikit badannya. Biru menoleh ke arahnya.


“Ada keperluan dengan Dokter Jingga?” Tanya Hana ramah.


Biru mengangguk. “Di mana dia?” Tanyanya mendesak. Hana terdiam sebentar seraya melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


“Dokter Jingga masih menangani pasien kritis. Dan sepertinya dia tidak akan cepat kembali karena ada jadwal operasi setelah ini.” Jelas Hana.


“Kemungkinan Dokter Jingga akan kembali pada jam sembilan atau sepuluh malam.” Lanjut Hana.


“Ada yang ingin anda sampaikan? Biar saya bantu sampaikan nanti.” Tawar Hana kemudian.


“Nggak perlu. Saya bisa sampaikan sendiri.” Jawab Biru dingin, kemudian berlalu dari hadapan Hana begitu saja.


Hana hanya bisa menelan ludahnya susah payah sambil meliihat punggung Biru yang semakin menjauh.


“Bener-bener kulkas sepuluh pintu.” Gerutu Hana yang selalu mendapati sikap Biru tidak ada ramah-ramahnya pada hampir semua dokter maupun perawat perempuan di rumah sakit ini.


********


Jam sudah menunjukkan pukul 21.30. WIB.


Jingga baru saja tiba di apartemennya. Buru-buru dia keluar setelah pintu lift terbuka.


Jingga lelah, dia ingin mengistirahatkan tubuhnya setelah enam jam lamanya bergelut di ruang operasi.


Jingga berjalan gontai menuju unitnya, matanya setengah terpejam. Namun samar-samar dia melihat ada seseorang yang berdiri sambil bersandar di pintu apartemennya.


Gadis itu memicingkan mata dan sosok itu semakin jelas begitu Jingga mendekat.

__ADS_1


“Lho, kamu? Ngapain di sini?”


“Tempat kamu oke juga.” Komentar Biru sambil menegakkan tubuhnya.


“Dari mana kamu tahu aku tinggal di sini?” Tanya Jingga yang merasa tidak pernah memberitahu siapapun tentang tempat tinggal barunya.


“Bawel. Cepetan Buka!” Titah Biru.


Jingga mendelik sambil menatapnya protes. Tapi Biru tak mempedulikannya dan malah mengedik ke arah pintu, memberi isyarat agar Jingga lekas membukanya.


Gadis itu mendengus sebal, lalu dengan terpaksa membuka pintu apartemennya setelah dia memasukkan beberapa angka passcode.


“Aku belum izinin kamu buat masuk.” Dengan segera Jingga berbalik mencegat Biru di ambang pintu. Dia merentangkan tangannya lebar-lebar.


“Dan aku nggak butuh izin kamu.” Sahut Biru datar sambil menerobos tubuh Jingga hingga membuat tubuhnya sedikit limbung.


Jingga mendelik selebar-lebarnya, mulutnya ternganga, lalu mulutnya komat-kamit mengumpat Biru di balik punggungnya.


Sejenak Biru terdiam, matanya menyusuri setiap sudut ruangan yang bisa dijangkaunya.


Dia melangkah pada rak lemari berisi koleksi action figure milik Jingga di dekat televisi. Cowok itu tersenyum sangat tipis, bahkan nyaris tak terlihat. Biru mengira jika Jingga lebih suka koleksi boneka lucu.


Namun detik berikutnya raut wajah Biru berubah masam saat matanya menangkap bingkai foto terselip di sana. Foto Jingga dan Langit di acara wisuda. Mereka terlihat sangat dekat.


“Maaf, Kak. Ini udah malem. Kamu mau ngapain ke sini?” Tanya Jingga membuat cowok itu memutar tubuh dan melihat ke arahnya.


“Aku belum makan malem. Bisa buatin aku apa aja?” Sahut Biru.


Jengga memutar bola matanya jengah. Jengkel sendiri dengan Biru. Sebenarnya apa, sih, mau cowok itu? Kenapa terus mengalihkan pembicaraan?


Menghembuskan napas lemah, Jingga menunjuk meja makan, mengisyaratkan Biru untuk duduk di sana. Biru menurutinya.


“Aku cuma punya ini.” Jingga menyodorkan sandwich buah yang baru saja dia ambil di lemari es ke hadapan Biru.


“Nggak apa-apa, kan, makan ini doang?” Tanyanya yang kini sibuk menuangkan susu ke dalam gelas, lalu kembali menyodorkannya pada Biru.


“Nggak apa-apa.” Biru mengambil roti isi itu dan menggigitnya besar-besar. “Kelihatan nggak bisa masaknya.” Ledek Biru kemudian setelah menelan potongan sandwich yang digigitnya, dia mengatakan itu dengan nada datar dan tanpa ekspresi.


Jingga mendelik sewot. “Sok tahu kamu.”


Cowok itu hanya mengedik dan kembali menikmati sandwichnya dengan mata tak lepas memandangi Jingga yang duduk berhadapan dengannya. Sementara itu Jingga mendadak salah tingkah dan melarikan diri dari tatapan Biru ke sembarang arah.


“Cowok itu beneran pacar kamu?”


Jingga memutar kepala dan menatap Biru dengan kening mengernyit.


“Langit.” Jelas Biru malas, lalu meneguk susunya hingga habis setengah.


Jingga mendengus sebal. “Aku emang pernah kalau bilang dia cowok aku?” Tanyanya sengit.


“Kalau gitu siapa pacar kamu?” Biru mulai memancing.


Jingga bergeming, lalu menggigit bibir bawahnya untuk menyembunyikan kegugupan yang mendadak datang.


“Di mana dia sekarang?”


“Dia –” Jingga menghentikan kalimatnya, dia menghela napas berat. Kedatangan Biru ke apartemennya malah membuatnya sedih dan teringat pada masa lalunya. “Dia pergi jauh dan nggak akan kembali. Jadi, kamu nggak usah mempermasalahkan ini lagi. Dan satu lagi, aku punya atau nggak punya pacar. Aku tetap nggak mau nikah sama kamu.”


“Berarti dia jahat.” Biru mengabaikan kalimat terakhir Jingga.


“Dia nggak akan ninggalin kamu kalau baik.” Cibir Biru.


“Dia cuma nggak bisa kembali karena alasan tertentu.” Bela Jingga, tidak terima Birunya yang dulu dikatai seperti itu.


Entah kenapa. Meski Biru yang ada di hadapannya saat ini adalah orang yang sama, tapi Jingga benar-benar memandangnya sebagai dua orang yang berbeda.


“Alasan apa?” Biru terus menyudutkannya. Ternyata tidak sulit membuat gadis itu terpancing.


“Kamu nggak harus tahu karena itu bukan urusan kamu.” Sahut Jingga mulai beranjak dari duduknya untuk melarikan diri dari tatapan Biru yang mengintimidasi.


“Kamu udah selesai, kan?” Jingga meraih gelas dan piring Biru yang menyisakan remahan kecil dari roti isi yang dimakannya. “Ini udah malem, kamu mending pulang aja sana.” Usirnya kemudian seraya berjalan menuju wastafel cucian piring.


Biru tak lepas menatap Jingga yang bergerak lihai untuk mencuci piring.


“Jingga kamu siapa?”


Jingga mengerjap, gerakkan tangannya yang sedang mencuci piring berhenti sejenak. Keningnya berkerut tak mengerti maksud ucapan Biru.


“Aku capek, mau tidur.” Jingga tak menanggapi perkataan itu, kembali mencoba untuk mengusir Biru dan melanjutkan kegiatannya mencuci piring.


“Berhenti berpura-pura, Jingga.” Ucap Biru membuat Jingga benar-benar menghentikan kegiatannya.


Jingga mengerjap, tangannya melayang sejenak, mencoba mencerna ke mana arah pembicaraan Biru.


“K-kamu ngomong apa, sih?” Suara Jingga bergetar gugup, lantas buru-buru menyelesaikan kegiatan cuci piringnya, dan berniat kembali mengusir Biru keluar. Namun saat akan berbalik, tiba-tiba Biru sudah ada di belakang dan menarik pundak Jingga hingga berhadapan dengannya.


Jingga mengambil satu langkah mundur menyadari jarak mereka terlalu dekat. Lantas dia memalingkan wajahnya, berusaha menghindari tatapan Biru.


“Apa cowok itu aku?” Biru menatap Jingga lebih dekat, semakin dekat hingga gadis itu kembali melangkah mundur dan kakinya membentur kabinet.


“Jangan ngaco kamu.” Jingga mencoba mengelak. Dia tidak bisa bergerak ke mana-mana lagi.


“Oke. Kalau gitu ini apa?” Biru mengacungkan dompet milik Jingga setelah sebelumnya dia ambil dari sakunya.


Jingga terbelalak kaget mendapati dompetnya ada di tangan Biru. Sekarang dia sadar kenapa dia tadi tidak menemukannya di dalam tas. Ternyata dompetnya tertinggal di restoran saat isi tasnya terjatuh.


“Di dalam foto ini aku, kan?” Desak Biru.


“Kamu buka dompet orang sembarangan?” Protes Jingga sambil merampas kasar dompet tersebut dari tangan Biru.


“Jangan mengalihkan pembicaraan dan jelasin semuanya.” Ucap Biru. Tatapannya yang tajam membuat Jingga tak bisa berkutik.


“Kamu mendingan pulang aja, deh. Aku mau tidur.” Jingga masih mencoba mengelak, lalu dengan cepat menerobos tubuh Biru, bermaksud untuk masuk ke kamar, tapi cowok itu malah mengejar dan menyentak tangannya begitu Jingga melewati ruang tengah.


“Mau sampai kapan kamu nyembunyiin semua ini?” Sentak Biru dengan geraman tertahan.


Jingga terpaku sambil merapatkan bibirnya. Perlahan dia menarik napas yang terasa berat, lalu melangkahkan kakinya untuk duduk di sofa. Biru mengikuti dan duduk di sebelahnya.


“Iya. Itu kamu, kamu orang jahat yang udah buat aku nunggu selama semblilan tahun,” Akunya dengan suara lirih. Biru sudah melihat foto di dalam dompetnya. Jingga tidak punya alasan lagi untuk mengelak.


“Kenapa kamu nyembunyiin ini setelah kita bertemu lagi?” Tanya Biru, tidak puas dengan pengakuan singkat Jingga.


“Karena aku memilih untuk melepaskan kamu.”


Biru terdiam sebentar. Ada perasaan tak terima di hatinya begitu mendengar jawaban Jingga.

__ADS_1


“Setelah tahu aku hilang ingatan?” Tanyanya ingin memastikan alasan gadis itu ingin melepaskannya.


“Enggak.” Jingga menggeleng sedih, matanya mulai berkaca-kaca. “Karena kamu udah jadi orang yang berbeda sekarang. Kamu bukan lagi Biru yang aku kenal dulu.” Suara Jingga tercekat oleh sesak saat asupan udara ke dalam paru-parunya seolah berkurang.


“Jadi, walaupun kenyataannya dulu kamu pacar aku dan aku masih cinta sama kamu. Aku tetap nggak bisa menerima perjodohan ini.” Lanjut Jingga mencoba menguatkan diri. Karena pada kenyataannya, jauh di lubuk hati yang paling dalam, Jingga sangat ingin berlari memeluk Biru dan membawa kembali padanya. Tapi semesta tidak mendukung untuk itu.


“Dan menyia-nyiakan penantian kamu selama tembilan tahun?”


“Aku nggak peduli. Aku bisa aggap Biru yang dulu udah mati.”


Biru terdiam, menatap Jingga dengan tatapan yang tak bisa dimengerti. “Tapi aku yang akan nahan kamu. Sebesar apapun usaha kamu untuk lepas dari aku, sebesar itu pula usaha aku buat nahan kamu di sisi aku.” Ucapnya penuh peringatan.


“Kenapa?” Tanya Jingga tak terima.


“Karena kamu adalah bagian yang hilang dari ingatan aku. Aku butuh bantuan kamu untuk mengembalikan ingatan aku yang hilang.” Jawab Biru.


“Setelah ingatan kamu pulih aku boleh pergi?” Jingga bernegosiasi. Soal membantu orang, dia tidak bisa mengabaikan hal ini.


Biru menghembuskan napas gusar, dia benar-benar tak suka Jingga mengatakan itu. “Enggak. Aku tetap akan mempertahankan perjodohan ini.” Tegasnya.


“Kenapa kamu peduli banget sama perjodohan ini? Aku tahu kamu nggak punya perasaan apapun sama aku.”


Biru tersenyum sarkas. “Sebenarnya aku nggak terlalu peduli sama perjodohan ini. Tapia ada beberapa hal yang membuat aku memutuskan untuk menerima ini. Yang pertama aku mencoba menjadi anak yang baik untuk kedua orang tua aku, yang kedua aku emang butuh seseorang yang bisa dijadikan piala kebanggaan aku.”


“Piala kebanggaan?” Tanya Jingga. Ada nada tidak suka dari apa yang diucapkannya.


“Ya, piala kebanggan. Kamu cewek yang nyaris sempurna. Aku butuh seseorang yang cocok untuk ada di sisi aku sampai akhir.” Jelas Biru.


Jingga terpaku sambil tersenyum miris, tidak menyangka ucapan jahat itu keluar dari mulut Biru. Jingga tahu jika Biru hilang ingatan, tapi Jingga pikir Biru masih bisa berpikir waras untuk tidak bersikap kejam. Cowok itu tidak kehilangan kewarasannya juga, kan?


“Jahat. Kamu egois.” Jingga menggeleng tak percaya. “Aku nggak ngerti sama jalan pikiran kamu.”


“Aku juga nggak minta kamu buat ngerti.” Biru mengedik, tatapan tajamnya masih belum lepas dari Jinggga. “Lagian kamu juga butuh aku.”


Gadis itu terdiam tak mengerti.


“Aku tahu Om Rendi dan Tante Mona mendesak kamu untuk menikah. Kamu nggak punya pilihan.” Terang Biru.


“Aku bisa milih untuk menikah sama orang lain.”


Biru tersenyum menantang. “Coba aja kalau bisa. Kamu udah masuk ke hidup aku, dan selamanya kamu nggak akan bisa lepas.”


“Jahat.” Umpat Jingga lirih sambil menatap berang Biru. “Kamu pikir kamu siapa?”


Biru beranjak dari duduknya, lalu membungkuk untuk membisikan sesuatu di telinga Jingga. “Aku Biru dan aku terbiasa mempertahankan apa yang menjadi milik aku.”


“Dan aku bukan milik kamu.” Sahut Jingga geram.


“Iya setelah kamu datang di hidup aku.” Biru menegakkan tubuhnya, lalu bergerak meninggalkan apartemen Jingga.


Jingga menatap kepergiannya dengan tatapan marah dan sedih sekaligus. Birunya yang dulu benar-benar sudah mati.


*******


Satu minggu berlalu, Jingga menjalankan aktivitasnya dengan suasana hati yang murung. Namun sebisa mungkin dia tetap memasang wajah ceria seperti biasa karena tidak ingin terlihat aneh di depan orang-orang, kecuali Langit.


Hanya pada Langit, sahabat satu-satunya yang sudah dia anggap saudara itu Jingga bisa menunjukkan segala bentuk perasaannya. Dia bisa tertawa dan menangis sekaligus di hadapan cowok itu.


Selama satu minggu ini juga, Jingga menghindari Biru yang selalu berusaha untuk menghubunginya. Saat di rumah sakit, Jingga akan sengaja berlama-lama di ruangan pasien atau sengaja mengungsi ke ruangan Langit saat waktunya sedikit senggang. Itu semata-mata agar Biru tak menemukannya.


Jingga benar-benar tidak bisa menggambarkan perasaannya saat ini. Perasaannya campur aduk, kenyataan yang didapat sudah membuatnya terguncang.


Jingga ingin marah pada semesta karena mengembalikan Biru padanya dalam keadaan yang berbeda.


“Aku pinjemin buat kamu. Gratis.” Kelakarnya, Langit duduk di sebelah Jingga dan memunggunginya seraya menepuk-nepuk bahu., membuat Jingga yang sedang duduk termenung di sofa ruang kerja cowok itu tersenyum geli.


Tanpa banyak berpikir, Jingga langsung memeluk Langit dari belakang dan menenggelamkan wajahnya di bahu lebar langit.


“Awas jangan sampai air mata sama ingus kamu kena baju aku. Euuw, jijik..” Ucapan nyeleneh Langit membuat Jingga yang hampir menangis seketika berdecak sebal. Benar-benar merusak suasana.


“Aku harus gimana, Lang?” Tapi Jingga memilih untuk mengabaikan ucapan Langit.


Jingga menghembuskan napas frustrasi. Langit tak langsung menjawab, menunggu gadis itu menyelesaikan keluh kesahnya.


“Apa aku balik aja, ya, ke Amerika biar bisa kabur dari Biru?” Keluh Jingga lagi.


“Bukannya bagus kalau kamu bantu dia ngembaliin ingatannya? Siapa tahu hati dia juga ikut kembali sama kamu.” Langit memberi saran setelah beberapa saat terdiam.


Jingga terdiam untuk berpikir.


“Mau coba kasih dia kesempatan terakhir sekali lagi?” Tanya Langit sambil berbalik hingga kini posisinya berhadapan dengan Jingga.


“Aku bingung.” Jawab Jingga, lalu menunduk sedih, menyembunyikan tangisnya yang kembali pecah.


Langit tersenyum dan meraih dagu Jingga untuk kembali mempertemukan pandangan mereka. “Hati kamu gimana?” Tanyanya sambil mengusap air mata di pipi Jingga menggunakan ibu jarinya.


“Aku mau dia kembali sama aku.”


“Ya udah, kalau gitu kamu bisa mencobanya.”


“Tapi dia udah berubah jadi orang yang berbeda. Aku udah ceritain semuanya, kan, Lang, sama kamu?” Jingga berkelit, teringat apa yang terjadi malam itu.


“Tapi itu karena si breng – ehh, maksud aku Biru. Biru nggak tahu perasaan sebenarnya sama kamu. Kalau kamu mau, kamu bisa coba ngertiin kondisi dia.”


Jingga kembali terdiam. Dia benar-benar bingung apa yang harus dilakukannya.


“Coba aja. Aku takut kamu nyesel kalau nggak ngelakuin ini.” Langit kembali menyarankan. “Tapi, jangan sampai sakit hati. Semampunya aja. Kalau kamu emang udah nggak sanggup, kamu bisa menyerah.”


Jingga mengangguk lemah. “I’ll try.”


Langit tersenyum, lalu membawa gadis itu ke dalam pelukannya. “Girl, I was there right by your side.”


Langit akan selalu mendukung Jingga, Langit akan selalu ada di samping Jingga apapun yang terjadi. Namun di dalam hatinya dia berdoa agar kebaikan selalu menyertai Jingga. Cukup sembilan tahun ini perasaan Jingga tersiksa karena menunggu Biru, jangan ditambahkan.


Langit harap Biru bisa kembali pada Jingga. Menjadikan gadis itu paling spesial seperti dulu, dan membuatnya selalu tersenyum.


“Thank you for always beside me, Langit.” Cicit Jingga seraya mengulas senyumnya.


“I hope everything will be alright. Break a leg, Jii.” Langit menyemangati Jingga dengan tulus. Jingga menganggukkan kepala untuk kemudian melepaskan pelukannya dari Langit.


“I love you. . . .” Imbuh Langit dalam hati sambil tersenyum menatap Jingga yang kini sedang membersihkan sisa air mata di pipinya.


********


To be continued. . . . .

__ADS_1


__ADS_2