Still In Love

Still In Love
EP. 33. Roller Coaster


__ADS_3

********


Biru dan Jingga saat ini dalam perjalanan menuju rumah sakit setelah cowok itu mendapat telepon dari Luna yang mengabarinya bahwa dia mengalami kecelakaan. Terlihat guratan cemas di wajah Biru yang saat ini sedang memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Tentu saja reaksi Biru itu sedikit mengganggu hati Jingga. Tapi Jingga segera menepis perasaan tersebut, dia tidak boleh egois. Jingga bukan orang jahat yang akan mengedepankan perasaannya sendiri. Jingga juga akan khawatir seperti Biru jika kecelakaan itu menimpa Langit, karena mereka sahabat yang saling menyayangi.


Sebenarnya tadi Jingga menawarkan dirinya untuk pulang naik taksi dan membiarkan Biru pergi ke rumah sakit sendiri. Tapi Biru tidak mengizinkannya. Dia meminta Jingga untuk ikut ke rumah sakit dan akan mengantar Jingga pulang setelahnya. Jingga akhirnya hanya bisa menuruti permintaan Biru, itu lebih baik daripada mereka harus berdebat pada akhirnya.


Tak sampai satu jam, kini mereka sudah tiba di rumah sakit. Jingga mengekori Biru yang melangkah dengan tergesa-gesa menuju UGD. Jingga heran saat melihat Luna yang tampak baik-baik saja duduk di kursi yang tak jauh dari ruang UGD.


Luna langsung berhambur memeluk Biru kuat-kuat saat cowok itu datang mendekatinya. Tangisnya seketika pecah setelah gadis itu berhasil menenggelamkan kepalanya di dada bidang Biru.


“Aku nabrak orang, Bi. Aku takut” Ucap Luna dalam tangisnya, dia mempererat pelukannya, seolah meminta perlindungan dari Biru. Biru membalas pelukan Luna seraya mengusap-usap punggungnya untuk menenangkan.


“Aku nggak tahu harus hubungin siapa lagi.” Cicit Luna kemudian.


“Now I’m here. Semua akan baik-baik saja. Kamu tenang, Lun.” Biru menenangkan. Luna mengangguk dalam dekapan Biru.


“Mobil yang kamu kasih mungkin sedikit rusak. Maaf.” Ucap Luna kemudian.


“Apaan sih, Lun? Kamu nggak usah pikirin itu.” Sahut Biru seraya mengelus rambut panjang Luna yang tampak berantakan.


Jingga menghela napas berat melihat kejadian yang sedang disuguhkan di depan matanya. Dia merasa tubuhnya melemas, tenaganya seolah meluap begitu saja.


Dengan tangan gemetar, dia meremas ujung rok yang dikenakannya seolah menyalurkan rasa sakit yang kini perlahan mulai merayap di hatinya. Jingga tidak menangis, hanya saja hatinya benar-benar terluka melihat ini. Sangat terluka, hingga dia kesulitan untuk bernapas.


Akal sehat Jingga menerima dan memaklumi Luna yang mungkin butuh perlindungan sekarang, Jingga berpikir mungkin Biru satu-satunya orang yang bisa membantu Luna saat ini. Tapi, hati Jingga tidak bisa ikut bekerja sama dengan akal sehatnya.


Melihat cara Biru yang memperlakukan Luna seperti itu, hatinya tidak bisa menerima ini. Tidak bisakah Biru menjaga sikapnya sedikit saja? Meski sekarang Biru tidak mencintainya, setidaknya dia bisa menghargai Jingga sebagai calon istrinya.


Atau Biru memang lupa kalau saat ini Jingga ada bersamanya?


Tak tahan melihat itu, lantas dengan sekuat tenaga Jingga membalik tubuhnya untuk beranjak pergi dari sana. Dengan langkah lemas dan kaki gemetar, Jingga akhirnya bisa membawa dirinya keluar dari dalam rumah sakit itu. Saat ini Jingga sudah berada di depan gedung rumah sakit menunggu taksi.


********


Tangan Jingga yang lemas terulur untuk menekan beberapa digit angka pada keypad sebagai kode akses masuk ke dalam unit apartemennya. Namun belum selesai Jingga memasukkan semua angka, tiba-tiba bunyi bip dari unit sebelah berbunyi, disusul dengan suara pintu yang terbuka. Jingga menggerakkan kepalanya untuk menoleh ke arah Langit yang baru saja keluar dari dalam unitnya. Buru-buru Jingga menyembunyikan wajah sedihnya.


“Ciee, yang habis ngambil cincin tunangan sampai senyum-senyum sendiri kayak gitu.” Ledek Langit saat melihat senyum mengembang di wajah Jingga.


“Udah, deh, jangan ngeledek.” Balas Jingga dengan bibir mengerucut gemas. Langit hanya terkekeh melihatnya.


“Ohh, iya. Aku mau ke minimarket nih. Mau nitip, nggak?” Tanya Langit menawarkan saat mengingat kembali tujuannya keluar dari apartemen. Jingga terdiam seolah memikirkan sesuatu.


“Emm, kalau kamu nggak keberatan . . . .” Jingga melirik Langit ragu.


“Apa sih, Ji? Kayak nggak pernah nyuruh aja.” Tanya Langit mendesak seraya mencibir. Jingga kemudian mendekatkan mulutnya ke telinga Langit untuk membisikkan kalau dia butuh pembalut.


Sebenarnya ini bukan yang pertama kali Jingga meminta Langit untuk membelikannya pembalut, hanya saja Langit akan menggerutu dan mengeluh terlebih dahulu saat Jingga memintanya. Seperti halnya saat ini.


“Malu, Ji. Nggak mau, ahh.” Tolak Langit dengan wajah merengut.


“Ya udah, kalau gitu ngapain tadi nawarin segala?” Ketus Jingga seraya beranjak untuk membuka pintu apartemennya. Namun dengan cepat Langit meraih lengannya untuk mencegat.


“Berapa senti?” Tanya Langit, suaranya tampak tidak ikhlas. Jingga tersenyum, lalu mengangkat tiga jari dengan sebelah tangannya.


“Puluh?” Tanya Langit polos. Jingga menghela napas seraya memutar bola matanya malass.


“Sampai saat ini belum ada pembalut yang panjangnya 300 cm, Lang.” Sungut Jingga sebal.


Tanpa banyak bicara lagi, Jingga kemudian masuk ke dalam apartemen miliknya, meninggalkan Langit yang nampak masih ingin menanyakan sesuatu.


“Bersayap atau enggak, ya? Bodo, ahh. Beli dua-duanya aja.” Gumam Langit yang masih berdiri mematung di depan pintu apartemen Jingga, sebelum akhirnya beranjak pergi dari sana.


Sementara itu Jingga, tanpa melepas tas dan mengganti pakaiannya, dia langsung merebahkan dirinya di kasur. Pandangannya lurus menatap langit-langit kamar, ingatannya menerawang pada kejadian yang dia lihat di rumah sakit beberapa saat yang lalu.


Tanpa seizin Jingga, air matanya lolos begitu saja, mengalir teratur melewati sudut matanya. Apakah dia akan melihat kedekatan Biru dan Luna setiap hari seperti itu? Memikirkan hal tersebut membuat perutnya seketika terasa mual, seolah ada yang mengaduk-aduk paksa isi perutnya di dalam sana.


Tangan Jingga terulur merogoh tasnya untuk mengambil ponsel yang tiba-tiba berdering. Dia mentatap malas nama Biru yang tertera di layar ponselnya sebelum kemudian dia menempelkan benda pipih itu di daun telinganya.


“Kamu di mana, Ji? Aku nyariin kamu, tapi udah nggak ada.” Jingga menyuggingkan senyum tipis mendengarnya. Jingga pikir Biru tidak akan peduli kalau dia masih ada di sana atau tidak.


“Jii. . . .” Biru memanggilnya sekali lagi saat tak kunjung mendapat sahutan dari Jingga.


“Uhm. Maaf, tadi perut aku tiba-tiba sakit. Jadi, aku pulang duluan.” Jelas Jingga berbohong. Terdengar helaan napas lega di seberang telepon.


“Kenapa nggak bilang dulu, sih, sama aku? Mama bisa marah kalau tahu aku nggak anterin kamu pulang.” Seru Biru dengan nada sedikit tinggi. Terdengar seperti bentakan hingga membuat hati Jingga mencelos sakit.


Senyuman tipis yang baru tersungging di bibir Jingga kini menyurut kembali. Jadi, Biru tidak benar-benar peduli padanya? Cowok itu hanya ingin memastikan Jingga kembali pulang karena takut dimarahi ibunya.


“Kamu nggak perlu khawatir, lagian aku nggak bakal ngadu sama Tante, kok. Aku mau tidur, ada yang lain?” Lirih Jingga, dia kembali menahan sesak di dadanya.


“Ya udah, besok aku jemput.” Ujar Biru dingin seraya memutus panggilannya.


“Kenapa dia harus berubah kayak gini? Aku kangen Biru yang dulu.”


Jingga merasa hari ini Biru telah berhasil membuat perasaannya seperti roller coaster. Tadi sore saja Biru bersikap hangat setelah berhasil menciumnya, dan sekarang sikapnya kembali dingin.

__ADS_1


Jingga menepis air mata yang mengalir di kedua sudut matanya menggunakan punggung tangan. Dia kemudian beranjak dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi, berharap guyuran air dari shower mampu menenangkan hati dan pikirannya yang saat ini kalut.


********


Pagi harinya, Jingga dibuat terkejut saat Biru datang menjemputnya bersama Luna yang sudah duduk di kursi bagian depan, tepatnya di samping Biru.


“Maaf, Jingga. Kayaknya kehadiran aku udah ganggu kamu. Mobil aku masih di bengkel, jadi tadi aku minta Biru buat jemput aku, dan dia nggak keberatan.” Jelas Luna saat melihat Jingga berdiri mematung sembari memegang pintu bagian depan mobil yang terbuka.


“Kalau gitu, aku bisa pindah ke belakang.” Ucap Luna kemudian, dia hendak menurunkan kakinya, namun Jingga dengan cepat menahannya.


“Aku nggak merasa terganggu, dan kamu nggak usah pindah. Biar aku aja yang duduk di belakang.” Tutur Jingga seraya berusaha untuk tetap bersikap setenang mungkin. Tak lupa dia sematkan senyum palsunya.


Jingga sedikit mengulur waktu untuk membuka pintu mobil bagian belakang, berharap Biru memintanya untuk duduk di depan, tapi itu tidak terjadi. Jingga tersenyum kecewa.


Jingga akhirnya duduk di kursi belakang, walaupun sebenarnya hatinya terluka. Dia sedih karena sikap Biru yang tampak tak peduli padanya. Dan juga, kenapa cowok itu tidak mengatakan kalau Luna akan ikut bersamanya? Kalau tahu seperti ini, Jingga lebih baik membawa mobilnya sendiri.


Jingga menyandarkan punggungnya di sandaran kursi seraya memandang ke arah luar kaca jendela mobil. Berulang kali dia menghela napas berat untuk menahan sesak di dadanya.


“Kenapa tadi malam kamu pulang gitu aja, Ji?” Pertanyaan Biru yang memecahkan suasana hening di dalam mobil saat itu membuat Jingga mengalihkan pandangannya ke depan. Tampak Biru tengah memperhatikannya dari kaca spion yang menempel di bagian dalam mobil.


“Jingga tadi malam sama kita?” Serobot Luna dengan ekspresi terkejut yang langsung dijawab anggukkan oleh Biru.


“Tapi dia pulang duluan.” Jelas Biru kemudian.


“Maaf aku semalam aku nggak tahu kalau ada kamu, aku terlalu panik.” Ucap Luna dengan raut wajah dibuat bersalah seraya menolehkan kepalanya ke arah Jingga sekilas. Jingga hanya membalasnya dengan senyum paksa.


“Pasti Jingga pulang duluan karena bosen nunggu kamu yang nemenin sampai korban yang aku tabrak selesai dioperasi.” Ujar Luna dengan penuh penekanan. Entah kenapa, Jingga merasa jika Luna sedang pamer. Apa maksudnya?


“Harusnya kamu nggak usah datang, Bi. Pasti aku ganggu waktu kebersamaan kalian, ya?” Sesal Luna dengan raut wajah bersalah.


“Iya, ganggu banget.” Sahut Jingga ketus, tapi hanya bisa mengatakan itu dalam hati.


“Enggak, kok. Tadi malam aku pulang duluan karena emang ada urusan.” Sambar Jingga, hatinya dongkol mendengar penuturan Luna yang menyebutnya bosan.


“Perut kamu udah baikan?” Tanya Biru, mengingat semalam Jingga mengatakan kalau perutnya sakit. Matanya tak lepas memperhatikan Jingga dari balik kaca spion, membuat Jingga jadi tak nyaman dibuatnya.


“Hmm.” Jawab Jingga singkat seraya menganggukkan kepalanya.


“Kenapa bisa sakit perut?” Tanya Luna.


“Aku juga nggak tahu. Mungkin salah makan.” Jawab Jingga malas.


Jingga kembali menatap jalanan dari balik jendela kaca mobil saat tak ada lagi percakapan di antara mereka. Itu lebih baik daripada melihat pemandangan di depan yang akan membuatnya sakit hati.


Luna tak berhenti mengajak Biru berbicara, saat ini bahkan telinga Jingga menangkap bahwa Luna mengajak Biru untuk mengunjungi coffee shop tempat biasa mereka nongkrong siang nanti, Luna mengatakan coffee shop tersebut menyediakan menu baru. Biru tampak senang dan ikut membahasnya. Sikap Luna ini seolah sedang menunjukkan pada Jingga bahwa mereka sangat dekat.


Jingga hanya tersenyum miris melihatnya. Dia bahkan merasa seperti menjadi orang ketiga di tengah-tengah mereka.


Biru tampak tersenyum dan menyambut Luna dengan senang hati. Lagi-lagi Jingga hanya bisa melihat cowok itu dari belakang dengan tatapan sedih.


Melihat orang yang dia cintai malah memberikan senyumannya untuk orang lain, hati Jingga tentu saja terluka.


********


Siang harinya, Jingga mengganti seragam scrubnya yang tadi dia gunakan di ruang bedah dengan seragam scrub baru yang biasa digunakan staf medis di luar ruang operasi. Dia memandang dirinya dari pantulan cermin yang ada di ruangannya.


“Kenapa kamu cantik banget?” Jingga memuji dirinya sendiri sembari mengetuk-ngetuk cermin yang memantulkan bayangan dirinya. Jingga terkekeh geli, dia sepertinya sudah ketularan Langit yang selalu memuji dirinya sendiri sangat tampan.


Perhatian Jingga teralihkan saat ponselnya berbunyi tanda seseorang menghubunginya. Dengan cepat tangannya meraih benda pipih yang tergeletak di atas meja kerjanya.


Wajah Jingga seketika menjadi khawatir, cemas, dan takut menjadi satu setelah menjawab panggilan telepon tersebut. Dia menyambar jas dokter yang tersampir di kursi kerjanya, untuk kemudian berlari turun menuju UGD. Jelas saja, karena tempat Jingga bekerja ada di lantai delapan rumah sakit itu.


Kaki Jingga terus bergerak-gerak tak sabaran saat mendapati pintu lift di depannya tak kunjung terbuka, hingga akhirnya dia memilih untuk menuruni tangga darurat.


“Langit . . . .” Dengan panik dan tergesa-gesa dia membuka setiap tirai yang menjadi sekat antar pasien yang sedang ditangani. Beberapa dokter dan perawat yang ada di sana heran melihat Jingga yang panik seperti itu, termasuk Biru yang pada saat itu juga sedang berada di sana, terus memperhatikannya sejak Jingga datang.


Jingga menghembuskan napas lega saat melihat Langit tampak baik-baik saja bersama Bian yang sedang menanganinya.


Beberapa saat yang lalu saat dia mengganti pakaian di ruangannya, Hana menelepon Jingga dan mengatakan bahwa Langit mengalami kecelakaan. Tidak mendengar penjelasan Hana lebih lanjut, Jingga malah langsung berlari karena panik.


“Aku lari-lari ke sini lewat tangga darurat dari lantai delapan, dan kamu cuma luka kecil kayak gini?” Gerutu Jingga menghampiri Langit yang duduk di atas ranjang rumah sakit seraya mengatur napasnya yang ngos-ngosan.


Langit yang mendengarnya hanya mendelik sebal, lagipula siapa yang menyuruh gadis itu untuk turun melalui tangga darurat? Rumah sakit ini bahkan sudah menyediakan lift untuk mempermudah akses.


“Langit nggak bisa menggunakan tangan kirinya sampai tiga sampai atau empat minggu. Ini bukan luka kecil, Dokter Jingga yang cantik.” Jelas Bian membela Langit


Jingga memperhatikan lengan Langit yang kini diberi gips, lalu berali ke bagian tubuh lain seolah matanya adalah scanner.


“Aku kira tadi dia kritis.” Jawab Jingga mengatakan itu sangat santai, membuat Bian menahan tawa geli.


“Lagian siapa juga yang bilang kalau aku luka parah?” Tanya Langit sewot. Jingga hanya nyengir kaku, sadar kalau dia sudah menyimpulkan terburu-buru. Seharusnya dia tadi mendengarkan Hana selesai berbicara.


“Hana yang ngasih tahu aku kalau kamu kecelakaan.” Cicit Jingga pelan seraya mengusap tengkuknya.


Jingga menggigit biibir bawahnya sambil menatap Langit dengan tatapan bodoh.


“Kebiasaan kamu, Ji. Pasti nggak dengerin informasi sampai selesai.” Tebak Langit mencibir. Jingga kembali nyengir, memperlihatkan deretan giginya yang rapi.

__ADS_1


“Terus, kenapa kamu bisa kecelakaan kayak gini?” Tanya Jingga penasaran


Langit lalu menjelaskan bahwa tadi dia berusaha menolong anak kecil yang sedang bermain-main dengan kursi roda hingga tak sengaja kursi roda tersebut meluncur melalui tangga. Langit menahannya dari bawah dan tubuhnya malah tertimpa kursi roda serta anak itu. Akibatnya tangan kirinya sedikit retak.


“Ceroboh . . . .” Tegur Jingga. Langit hanya mengedikkan bahunya tak peduli.


“Kenapa harus tangan kamu yang terluka?”


Mendengar itu, Bian dan Langit sontak mengalihkan pandangannya pada Jingga diikuti dengan kening yang berkerut.


“Tangan kamu itu sangat berguna buat anak-anak yang butuh penanganan kamu.” Jingga mengelus lembut tangan Langit yang terluka dengan wajah sedih yang dibuat-buat. Langit jadi tersentuh mendengarnya, tapi tidak lama


“Seharusnya, kamu terluka di bagian wajah. Seenggaknya wajah kamu nggak akan mempengaruhi pekerjaan, Lang.” Penuturan Jingga selanjutnya sontak membuat Bian tergelak, namun sebisa mungkin dia menahannya mengingat mereka sedang di ruang UGD.


“Sialan.” Langit menjitak kepala Jingga sekeras-kerasnya hingga membuat gadis itu mengaduh kesakitan.


“Sakit.” Protes Jingga menggeram tertahan. Tangannya mengelus-elus kepalanya yang sakit.


“Lagian kamu ngeselin banget.” Ucap Langit dengan wajah kesal. Sementara Bian, kini memegang perutnya yang terasa sakit karena sedari tadi dia tertawa dalam diam, wajahnya bahkan kini sudah memerah.


“Terus aja ketawa sampai mulut lo kering, Dokter Bian.” Sungut Langit benar-benar kesal. Tak peduli jika Bian adalah seniornya baik saat di sekolah dulu ataupun sekarang.


“Haha, habis kalian ini lucu. Kalian ini kayak Tom and Jerry tahu, nggak?” Sahut Bian masih tergelak geli, lalu menghapus sudut matanya yang berair.


Langit yang mendapati Bian tidak berhenti tertawa hanya bisa mendengus. Sementara Jingga sibuk mengusap-usap sambil meniup-niup tangan sahabatnya itu.


********


Setelah memastikan keadaan Langit baik-baik saja. Jingga meninggalkan ruang UGD.


Keadaan Langit memang tak terlalu parah, cowok itu hanya perlu mengistirahatkan tangan kirinya kurang lebih selama satu bulan, Langit masih tetap bisa bekerja di rumah sakit dan menangani pasien rawat jalan dengan sebelah tangannya. Itu tidak terlalu buruk.


Saat ini Jingga dan Hana berdiri untuk menunggu pintu lift yang akan membawa mereka turun terbuka. Setelah beberapa saat yang lalu mereka melakukan kunjungan pasien, kini mereka harus kembali ke lantai di mana bagian Bedah Toraks dan Kardiovaskuler berada.


Jingga dan Hana membungkukkan sedikit badannya saat mendapati Biru ada di dalam lift. Tidak ada sapaan atau senyum mengembang dari Jingga, mengingat Biru yang memintanya untuk tak menunjukkan hubungan atau kedekatan mereka saat di rumah sakit.


Mereka kemudian masuk ke dalam lift. Secara otomatis Biru memundurkan tubuh, membiarkan Jingga dan Hana berdiri di depannya.


“Dokter, apa bener kamu sama Dokter Langit cuma temenan?” Tanya Hana tiba-tiba.


Jingga memutar bola matanya malas. Sementara Biru yang berdiri di belakang mengerutkan keningnya, dia berusaha memasang pendengarannya dengan baik untuk mencuri dengar percakapan mereka.


“Kamu udah tahu jawabannya.” Jawab Jingga malas.


“Kalian, tuh, deket banget kayak jarum dan benang. Semua orang juga ngiranya kalian itu pacaran. Apalagi tadi semua orang di UGD lihat kamu panik banget karena Dokter Langit kecelakaan.” Tutur Hana seraya tersenyum penuh arti. Terlebih rumor dari dokter dan perawat yang melihat Jingga di ruang UGD beberapa saat yang lalu tersebar begitu saja.


“Jangan ngaco, kamu. Itu nggak bener.” Sahut Jingga tak terima.


“Makannya kamu cari pacar, dong. Orang kan jadi bikin gossip aneh-aneh. Masa cantik-cantik gini jomblo.” Hana meledek. Jingga hanya mendengus geli. Mentang-mentang Hana tidak jomblo jadi bisa meledeknya seperti itu.


“Apa iya, ya, aku harus nyari pacar? Kamu ada kenal orang baik, nggak? Kenalin sama aku, doong.” Gurau Jingga seraya terkekeh geli. Dia lupa jika ada Biru yang saat ini sedang menghunuskan tatapan tajam di belakangnya.


Namun belum sempat Hana menimpali ucapan Jingga, lift berdenting diiringi dengan terbukanya pintu dari benda kubus tersebut.


“Hallo, Dokter Jingga yang cantik.” Sapa Bian sambil mengedipkan sebelah matanya genit, lalu bergerak masuk ke dalam lift.


“Hi, Dokter Bian yang ganteng.” Jingga memberi sapaan balik dengan hangat seraya mengangkat sebelah tangannya, tak lupa senyum mengembang yang menghiasi wajah cantiknya dia ikut sunggingkan pada Bian.


Biru hanya mendengus kecil seraya menatap mereka tak suka.


“Selamat sore Pak Kepala.” Bian beralih pada Biru sambil tersenyum nyeleneh. Biru hanya menanggapi dengan acuh dan tatapan dinginnya.


“Masih ada jadwal setelah ini, Dokter Jingga yang cantik?” Tanya Bian masih menggoda gadis itu.


Jingga terdiam berpikir. “Sore ini nggak ada. Tapi nanti malem ada operasi. Kenapa?”


Bian tersenyum semringah, lalu menjentikkan jarinya. “Oke, bagus. Gimana kalo kita ke kedai kopi rumah sakit ini?”


Jingga kembali terdiam mempertimbangkan ajakan Bian. Tidak ada salahnya menikmati waktu luang di sana. Lagipula, jadwal operasinya masih lama.


“Tapi aku nggak terlalu suka kopi.” Tutur Jingga ragu.


“Nggak apa-apa. Kita bisa minum latte atau minuman lain, aku juga kurang suka kopi. Ternyata kita sama. Jangan-jangan kita jodoh.” Sahut Bian nyeleneh. Tapi dia memang sengaja ingin membuat sahabat yang saat ini berdiri di belakangnya kesal.


“Haha, ada-ada aja. Boleh, deh. Lagian aku belum pernah ke sana. Pernah ke sana tapi take away.” Ucap Jingga menyetujui.


Bian berseru senang mendengarnya. Tapi tidak dengan Biru yang saat ini sedang menggeram menahan kekesalannya dengan kedua tangan yang terkepal di sisi pahanya.


“Tapi, aku boleh ngajak Hana, kan?” Tanya Jingga, membuat Hana berbinar senang. Bian langsunng menyetujuinya dengan anggukkan.


“Oke, kalau gitu aku ambil dompet di ruangan. Habis itu aku sama Hana nyusul.” Ujar Jingga.


“Ehh, nggak usah. Aku traktir kamu. Kita pergi bareng. Anggap aja ini ucapan selamat datang dari aku karena kedepannya kita akan berteman baik.” Sambar Bian seraya mengedipkan sebelah matanya. Jingga hanya tersenyum geli, lalu mengangguk.


“Dokter Jingga! Maaf sebelumnya, bisa ke ruangan saya sebentar?” Biru yang sejak tadi menahan rasa kesal kini angkat bicara. Hal ini sontak membuat semua orang mengalihkan perhatian padanya. Jingga terkesiap, dia lupa jika Biru ada di sana.


Sementara Bian, cowok itu hanya menarik salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyum mencibir.

__ADS_1


********


To be continued. . . .


__ADS_2