
********
Menginjak usia enam bulan kehamilannya, perut Jingga semakin hari semakin membesar diiringi dengan kenaikan berat badan yang signifikan hingga membuat tubuhnya kian berisi, namun hal itu sama sekali tidak mengurangi kecantikannya. Justru Jingga terlihat semakin cantik, di mata Biru tentunya.
Rencana awal Jingga yang hanya akan mengambil cuti bekerja selama tiga bulan, kini malah dia teruskan sampai batas waktu yang tidak ditentukan. Selain karena semua keluarga melarangnya untuk bekerja, Jingga juga ingin fokus dan menikmati masa-masa kehamilan pertamanya.
Walaupun tidak bekerja, Jingga tidak merasa bosan sama sekali karena dia mengisi kegiatannya dengan berbagai hal, seperti berkebun, bermain games, membaca buku seputar kehamilan dan persalinan, senam hamil, dan masih banyak lagi.
Sesekali Jingga juga berkunjung ke rumah kakaknya Bintang dan bermain dengan keponakan barunya yang ternyata berjenis kelamin laki-laki, tidak sesuai harapannya yang menginginkan keponakan perempuan. Tapi, itu tidak masalah karena sebentar lagi dia akan memiliki anak perempuan.
Satu minggu yang lalu, Biru dan Jingga kembali memeriksakan kandungannya dan melakukan USG sekalian untuk mengetahui jenis kelamin bayi yang memang sudah terlihat. Hasilnya, ternyata benar apa kata Papa, jenis kelamin anak mereka adalah perempuan.
Semua orang bahagia mendengarnya, terutama Papa yang memang sangat menginginkan kehadiran anak perempuan dalam keluarganya. Seluruh keluarga tidak sabar menantikan bayi perempuan yang dijuluki Starla itu lahir.
Selama Jingga hamil, dia mendapatkan perhatian penuh baik dari Biru maupun keluarga. Mama bahkan ikut tidak bekerja demi menemani Jingga di rumah dan menyerahkkan butiknya pada orang kepercayaannya.
Begitupula dengan Ayah dan Bunda, mereka selalu mengunjungi Jingga dua kali dalam seminggu hanya untuk memastikan putri semata wayangnya itu sehat dan kehamilannya berjalan lancar.
Sementara Biru, sang suami. Laki-laki itu terlihat sangat sabar menghadapi masa kehamilan Jingga.
Misalnya, di saat Jingga mengalami perubahan mood, maka Biru akan berusaha mengontrol emosi istrinya. Saat Jingga menginginkan susuatu dan membangunkannya di tengah malam, Biru tidak pernah protes dan selalu menuruti keinginan istrinya meski dirinya sangat lelah karena seharian bekerja. Begitupula saat Jingga mengeluh pinggang dan punggungnya pegal, maka Biru dengan penuh ketulusan akan mengusap-usapnya.
Biru benar-benar menjadi support system yang baik untuk Jingga, dia selalu berusaha dan bersedia melakukan segala sesuatu demi kepuasan dan kebahagiaan istrinya.
“Aku keringetan, Kak.” Protes Jingga risih karena Biru terus bergelayut manja padanya. Selalu seperti ini saat laki-laki itu libur bekerja, menempel pada Jingga layaknya cicak di dinding.
Saat ini Jingga tengah duduk di sofa ruang keluarga setelah beberapa saat lalu dia melakukan senam hamil bersama instruktur senam yang sengaja Biru datangkan ke rumah.
Laki-laki itu terlalu posesif tidak memperbolehkan Jingga mengikuti kelas senam ibu hamil di luar, hal itu semata-mata karena Biru tidak bisa selalu menemaninya, dan dia akan merasa khawatir jika Jingga keluar tanpa ditemani dirinya.
“Nggak apa-apa, kok, aku suka.” Ucap Biru sembari menghirup aroma tubuh Jingga dalam-dalam di ceruk lehernya. Aroma parfum yang bercampur keringat tercium jauh lebih baik, Biru menyukainya.
“Jangan gini, ihh. Nanti kalau ada orang lihat gimana?” Jingga menggerak-gerakkan bahunya pelan agar Biru menyingkir, namun laki-laki itu kini malah mencium dan menggigiti kecil telinga Jingga.
“Mama sama Papa, kan, lagi pergi kondangan, Ji. Jadi kita bebas mau ngapain aja di rumah ini.” Biru lalu beralih menciumi bahu Jingga yang terbuka karena saat ini gadis itu hanya memakai tanktop berbahan elastis. “Mau guling-guling di sini juga bisa.”
Biru kemudian menyesap bahu Jingga hingga terdengar suara berdecit, hingga membuat istrinya itu harus menggigit bibir bawahnya guna menahan desahannya agar tidak keluar.
“Ke gep sama bibi malu, lho.” Jingga mengangkat kepala Biru dari bahunya, membuat laki-laki itu menatapnya dengan protes.
“Bibi nggak bakalan ke sini.” Biru kemudian mendekatkan wajahnya untuk mempertemukan bibir mereka.
Jingga menyambutnya dengan senang hati, membiarkan Biru memagut bibirnya yang terbuka, hingga akhirnya lidah mereka saling membelit di dalam sana.
Jingga melenguh saat tangan Biru diam-diam bergerak, menyelinap masuk ke dalam baju yang Jingga kenakan, lalu mengelus lembut perut yang di dalamnya terdapat buah cinta mereka.
Jingga menggigit keras bibir bawah Biru saat merasakan tangan laki-laki itu mulai naik ke dadanya, hingga akhirnya pagutan bibir mereka terlepas.
“Kenapa aku digigit?” Biru mendesis dengan napas tak beraturan seraya memegang bibirnya yang sedikit berdarah.
“Tangan kamu nakal.” Jingga memukul pelan satu tangan Biru yang masih menyusup di balik baju, memainkan puncak dada Jingga seduktif.
“Biasanya juga nggak apa-apa.” Sahut Biru dengan raut wajah merengut lucu dan mau tidak mau manarik tangannya.
“Aku, tuh, cuma takut ada orang masuk ke sini.” Ujar Jingga seraya mengusap darah dari bibir Biru menggunakan ibu jarinya, gadis itu sedikit meringis melihatnya. Apa dia tadi terlalu keras menggigitnya?
“Berdarah.” Cicit Jingga kemudian memasang wajah tak bersalah sembari menunjukkan ibu jarinya yang berdarah ke hadapan Biru.
“Iya lah, orang kamu gigitnya pake tenaga.” Biru mendengus sebal.
“Lebay kamu.” Jingga berdecak geli dan sekali lagi mengusap bibir Biru.
“Gimana kalau aku nggak bisa cium kamu lagi gara-gara bibir aku luka?” Biru menggerutu, masih terdengar berlebihan.
“Ya ampun, Kak. Cuma luka dikit doang, nggak sampai robek atau jontor.” Seru Jingga sembari mengelus lembut bibir Biru.
“Dikit doang, tapi tetap berdarah. Sakit, tahu, Yang.” Biru masih merajuk. Jingga sendiri hanya memutar bola matanya malas.
“Lagian salah kamu sendiri. Kalau mau lebih, kenapa nggak di kamar coba?” Omel Jingga sedikit kesal.
Masalahnya, rumah ini tidak seperti di apartemen yang akan bebas melakukan apa saja dan di mana saja. Ada beberapa penghuni rumah ini yang bisa saja tiba-tiba datang dan melihat mereka melakukan permainan panas.
“Ya udah, ayo. Aku mau nyapa Dedek.” Seru Biru semangat saat mendengar penuturan Jingga yang seperti memberinya lampu hijau.
“Nanti aja, lah. Aku capek, masih mau istirahat di sini.” Tolak Jingga malas saat Biru menarik tangannya untuk membantunya berdiri.
“Tapi aku maunya sekarang.” Rengek Biru seraya terus menarik tangan Jingga seperti anak kecil yang minta diantar untuk membeli jajan pada ibunya.
“Sebentar, deh. Aku capek naik tangganya. Kamu duduk lagi aja, sini.” Jingga menepuk-nepuk tempat duduk yang sebelumnya ditempati Biru menggunakan dagu.
“Aku gendong, yuk, ala bridal style gitu.” Rayu Biru sambil menaik-turunkan alisnya.
“Nggak mau, ahh. Nanti kamu capek, terus nyuruh aku mijit kayak waktu itu.” Tutur Jingga saat teringat satu minggu yang lalu Biru menggendongnya sepulang jalan-jalan dari taman kompleks hingga sampai di rumah. Alhasil, Biru mengeluh punggungnya sakit dan meminta Jingga memijatnya.
“Tinggal pijit aja, kan kamu jago.” Sahut Biru seraya menyunggingkan senyum penuh arti.
“Masalahnya, kalau aku mijit kamu, kamu mintanya plus-plus sekalian mijit yang lain.” Cebik Jingga yang tak mau rugi dua kali.
“Jadi nggak mau ke kamar sekarang, nih?” Tanya Biru merengut.
“Tunggu sebentar lagi, kamu nggak sabaran banget, sih.” Jawab Jingga sedikit kesal.
Biru mendesah pasrah, lantas dia merebahkan dirinya di sofa dengan menggunakan paha Jingga sebagai bantal kepalanya. “Kangen banget aku, Ji.”
“Udah mau punya anak, tapi malah makin manja.” Jingga berdecak geli melihat kelakuan suaminya yang semakin hari semakin kolokan. Bahkan terkadang laki-laki itu meminta Jingga untuk menyuapinya makan, tak tahu malu walaupun sedang di depan orang tuanya.
__ADS_1
“Kan kalau dia udah lahir, aku nggak bisa sering manja-manjaan kayak gini, Ji. Malah mungkin nggak kebagian, jadi aku puas-puasin sekarang.” Ujar Biru seraya mengubah posisi tidurnya menjadi miring untuk menghadap perut Jingga.
“Iya, deh, terserah kamu.” Sahut Jingga, dia membenarkan ucapan Biru.
Memang benar, mungkin setelah bayi lahir, perhatiannya akan lebih condong pada bayinya.
Seketika dia teringat ucapan Senja yang mengatakan akan sulit mendapatkan waktu untuk quality time berdua bersama pasangan setelah memiliki anak. Boro-boro bisa quality time, bisa berduaan seperti ini saja mungkin nanti akan susah.
“Ehh, kamu ngapain?” Jingga tersentak saat tangan Biru menyingkap bajunya ke atas hingga menampakkan perut buncitnya. “Nanti di kamar, Kak.” Tegurnya kesal.
“Ihh, emang aku mau ngapain?” Cibir Biru dengan tatapan penuh ledekan karena Jingga berpikiran macam-macam.
“Ya terus mau ngapain buka-buka baju aku? Malu, tahu.” Gerutu Jingga sembari berusaha menurunkan kembali bajunya, namun tangan Biru menahannya.
“Aku, tuh, cuma mau periksa perut kamu aja.” Ujar Biru sambil terus memperhatikan perut Jingga lekat-lekat.
“Periksa apaan? Kamu, kan, bukan dokter kandungan.” Seru Jingga sedikit ketus.
“Maksud aku, periksa kulit perut kamu.” Biru meralat ucapannya. “Perut kamu mulus-mulus aja, ya, Ji. Aku tadi baca di artikel kalau sebagian ibu hamil biasanya muncul garis linea nigra.”
“Ehh, iya. Aku nggak ada, ya?” Tanya Jingga seolah tersadar seraya menunduk dan memperhatikan perutnya yang mulus-mulus saja. Tidak terlihat sedikitpun di perutnya ada garis kelahiran yang membentang dari bagian pusar sampai ke area ******** itu.
Jingga juga tidak memiliki stretch mark karena dia mengikuti saran dokter dengan menjaga pola makan, minum air putih, tetap menjaga kelembaban kulitnya, serta olahraga teratur untuk mencegah stretch mark yang dapat mengganggu penampilan tubuhnya.
“Tapi normal nggak sih kalau nggak punya?” Tanya Jingga sedikit was-was.
“Katanya normal, kok. Albi bilang, nggak semua ibu hamil punya garis itu.” Jawab Biru menenangkan sembari bersyukur dalam hati karena perut istrinya tetap mulus, enak dipandang mata.
“Hai, anak cantik. Papa ganteng udah nggak sabar nunggu kamu lahir.” Biru mengecup perut Jingga lama, untuk kemudian dia menurunkan kembali baju Jingga seperti semula.
“Dihh, muji diri sendiri. Pede banget.” Cibir Jingga.
“Ihh, biarin.” Sahut Biru tak peduli, laki-laki itu lantas melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang Jingga.
Sejenak, suasana hening mengambil alih. Biru memejamkan matanya saat elusan lembut tangan Jingga dia rasakan di kepalanya. Rasanya menenangkan, membuatnya ingin berlama-lama dalam posisi ini.
“Kak. . . .” Panggil Jingga membuat Biru membuka mata dan mendongakkan kepalanya untuk mempertemukan pandangan mereka.
“Apa sayang?”
“Kalau Dedek udah lahir, aku nanti panggil kamu apa, ya?” Tanya Jingga.
“Kalau di depan anak kita ya panggil Papa, lah. Masa manggilnya Kakak, nanti dia ngikutin.” Jawab Biru sambil tersenyum geli. Ada-ada saja pertanyaan istrinya ini. “Lagian Kak Senja sama Kak Bintang juga manggilnya Mami-Papi kalau lagi di depan Biel.”
“Tapi geli, ahh. Aku ngerasa aneh kalau manggil kamu kayak gitu.” Keluhnya bergidik geli saat membayangkan dia memanggil Biru dengan sebutan Papa.
“Coba-coba, aku mau denger.” Pinta Biru seraya beranjak dan memasang telinga dengan baik untuk mendengar Jingga memanggilnya Papa.
“Ngak mau, ahh. Malu, geli juga.” Tolak Jingga, namun Biru terus memaksanya hingga akhirnya membuat Jingga mau tidak mau harus mengatakannya.
“Yang bener, dong.” Protes Biru.
Jingga mengambil napas, kemudian mencoba mengulanginya. “Pap–aah, aku nggak bisa.”
“Aku cium kamu sepuluh kali di sini kalau nggak bisa.” Ancam Biru membuat Jingga mendengus.
“Pa-pa. . . .” Ucap Jingga kemudian, namun dengan gerakkan bibir yang sedikit terbuka hingga terdengar seperti gumaman kecil.
Biru terdiam sambil melemparkan ancaman melalui tatapan matanya seolah meminta Jingga untuk mengulanginya lagi.
“Papa.” Jingga menahan tawa begitu dia berhasil mengatakannya. “Papa ganteng, puas?” Lanjutnya sambil menepuk pelan pipi Biru.
“Puas, Mama.” Sahut Biru, lalu mendaratkan satu kecupan singkat di bibir Jingga untuk kemudian menjauhkan tubuhnya, lalu kembali menatap Jingga yang juga sedang menatap ke arahnya.
“Mama . . . .” Ucap Biru menahan tawanya.
“Iya, Papa . . . .” Sahut Jingga, hingga sejurus kemudian mereka sama-sama tertawa geli.
“Udah, ahh. Geli, tahu?” Ujar Jingga setelah tawanya terhenti. “Aku udah nggak capek, nih. Kamar, yuk.” Lanjutnya dengan kerlingan mata nakal.
Melihat Jingga yang memancingnya seperti itu, Biru jelas tak ingin berlama-lama berada di ruang keluarga. Lantas dengan gerakkan cepat dia meraih punggung dan bagian belakang lutut Jingga sekaligus untuk membopong tubuh istrinya dari samping.
Tak peduli dengan pekikan dan protes yang Jingga keluarkan agar menurunkannya, Biru tetap membawa tubuh gadis itu menuju kamar mereka untuk mencari kepuasan di siang hari itu.
********
Malam harinya, terdengar perdebatan kecil antara Biru dan kedua orang tuanya di meja makan setelah makan malam berlangsung.
Biru mengatakan pada Mama dan Papa akan membawa Jingga ke Korea Selatan setelah usia kehamilannya memasuki 28 minggu nanti.
Biru dan Jingga berniat untuk menetap di Korea Selatan sampai Jingga melahirkan, sekalian menghabiskan waktu berdua selama menunggu kelahiran anak mereka di sana.
“Mama nggak setuju! Kenapa harus lahiran di sana segala, sih? Kan di sini juga bisa. Rumah Sakit Papa kamu udah yang paling bagus di Negara kita.” Ujar Mama yang tak bisa membiarkan putri menantunya jauh dari pandangannya.
“Bukan gitu, Ma, tapi biar keren aja nanti di kartu identitasnya, tertera kalau dia lahirnya di Korea gitu.” Jawab Biru asal hingga membuat Mama gregetan ingin melempar sendok bekas makannya ke wajah sang anak.
Sebenarnya ada alasan lain Biru memilih Korea Selatan sebagai tempat kelahiran anaknya kelak. Laki-laki itu ingin berburu musim dingin karena perkiraan Jingga akan melahirkan pada akhir bulan Desember atau awal Januari.
Biru tidak mau nanti anaknya dinamai Starla seperti keinginan Papa. Konyol memang, tapi itulah Biru. Dia akan melakukan apapun untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya, termasuk memberi nama anak perempuannya Winter.
Biru dulu gagal membuatnya di musim dingin, tapi sekarang dia bisa membuat anaknya lahir di musim itu.
“Papa juga nggak setuju, soalnya nanti di sana Jingga nggak ada yang ngawasin, Bi.” Timpal Papa yang sependapat dengan istrinya.
“Kan aku ngambil cuti, Pa. Jadi selama di sana aku yang jagain Jingga, 24 jam NON STOP.” Seru Biru.
__ADS_1
Menghela napas, Papa sejenak terdiam untuk berpikir. Ahh, tidak berpikir juga dia tetap harus menyetujuinya karena anaknya itu sangat keras kepala.
“Papa tetap nggak setuju.”
“Pa–”
“Tapi kalau kamu bisa menjamin Jingga dan cucu Papa selamat, silahkan.” Sela Papa, membuat Biru berbinar senang.
“Pa–” Mama menatap Papa tak setuju, sedetik kemudian beralih pada Biru. “Mama nggak bisa kalau nggak ngawasin Jingga. Udah, deh, Bi, kamu nggak usah aneh-aneh.”
“Mama bisa ikut kami.” Sambar Biru. Tapi, Mama mengatakan itu tidak mungkin karena itu berarti harus meninggalkan Papa sendirian.
“Nggak apa-apa, Ma. Lagian di sana ada Resky yang bisa mantau mereka sesekali.” Ujar Papa menenangkan, mengingat ada adik bungsu dan keponakannya yang tinggal di Korea Selatan.
“Nah, tuh. Bener kata Papa. Di sana ada Om duda. Jadi Mama nggak usah khawatir sama kami.” Ujar Biru, membuat Jingga bertanya-tanya tentang siapa Om duda yang laki-laki itu maksud.
“Tetap aja Mama khawatir.” Ada helaan napas sejenak, matanya menyoroti Jingga ragu. “Tapi . . . , ya sudahlah terserah kalian.”
“Lagian Mama tenang aja, aku bisa jagain Jingga, kok, percaya, deh.” Biru meyakinkan.
“Atau gini aja, biar Mama sama Papa nggak khawatir, gimana kalau selama di sana kalian tinggal sama Om Resky?” Usul Mama dengan senyum yang kembali terbit. Papa langsung setuju dengan usulnya. Namun, tidak dengan Biru. Laki-laki itu menolak usul Mama.
“Nggak mau, ahh. Males banget tinggal sama Om duda, anak-anaknya pada ngeselin.” Tolak Biru mentah-mentah.
“Huush, nggak sopan kamu ngeledekin orang tua. Om duda-Om duda, Om Resky.” Tegur Mama tak suka. “Terus jangan suka ngomong aneh-aneh, kamu juga udah mau punya anak sebentar lagi, lho.”
Biru yang tersadar langsung memukul mulutnya pelan seraya mengelus perut Jingga dan berdoa semoga anaknya tidak menyebalkan seperti sepupunya.
“Nggak lagi deh, Ma. Maaf, aku nggak sengaja.” Cicit Biru kemudian. “Tapi, Om Resky, kan, emang duda, Ma. Aku nggak salah-salah banget.”
Biru memang merasa bersalah mengatai sepupunya menyebalkan. Tapi dia merasa tidak salah memanggil adik dari Papa itu dengan sebutan Om duda, karena memang dia duda.
“Nggak baik ngeledekin orang kayak itu, Bi. Ikutan jadi duda, baru tahu rasa kamu.” Papa yang gregetan ikut menegur. Tapi beliau tidak sungguh-sungguh mengatakan kalimat terakhirnya.
“Amit-amit, Pa. Kalau ngomong jangan ngasal, dong.” Protes Biru tak suka dengan ucapan Papa.
“Makannya jangan kayak gitu lagi. Dia Om kamu, lho.” Papa kembali mengingatkan. Biru mendengus tak menyahutinya.
“Om duda–” Jingga menjeda kalimatnya sejenak dan menatap Mama penasaran “Siapa, Ma?”
“Jinggga kamu jangan ikut-ikutan Biru manggil Om duda. Dia itu adik bungsunya Papa yang tinggal di Korea, namanya Om Resky. Beliau juga dokter, sama kayak Biru.” Jelas Mama. Jingga ber-ohh ria mendengarnya.
“Aku baru tahu.” Ucap Jingga.
“Ya kamu emang nggak tahu, Ji. Soalnya Om Resky kemarin nggak datang ke pernikahan kalian. Terus Mama sama Papa juga belum sempat cerita sama kamu, jadi pasti kamu bingung siapa Om Resky.” Sahut Mama kembali menjelaskan. Jingga hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum tipis.
Selama ini yang Jingga tahu, ayah mertuanya itu hanya memiliki satu adik yang tinggal di Jakarta yaitu Om Restu, dan dia pernah bertemu dengannya saat acara tunangan dan pernikahannya dulu. Tapi kenyataan Papa memiliki seorang adik lagi, dia baru mengetahuinya sekarang.
“Tapi tenang aja, besok Om Resky sama anak-anaknya mau ke Indonesia dan nginap di sini. Jadi kamu bisa ketemu sama dia, Ji.” Penuturan Papa sontak membuat Biru terkejut.
“Om du–eh, Om Resky mau ke sini? Besok?” Tanya Biru seolah keberatan. Ahh, sejak dulu dia memang tidak pernah suka rumahnya kedatangan sepupunya yang sangat menyebalkan.
“Iya. Dua hari yang lalu dia telepon Papa. Katanya sengaja mau ngajakin anak-anaknya liburan musim panas di sini.” Jawab Papa Rendi terlihat senang.
“Kok Papa sama Mama nggak ngasih tahu aku sebelumnya?” Tanya Biru protes, kalau dia tahu dari jauh-jauh hari, kan, bisa mengungsi dulu ke rumah orang tua Jingga.
Sumpah, anak-anak Om Resky benar-benar menyebalkan. Dia tidak akan tahan.
“Ya ini, kan, Papa udah ngasih tahu.” Seru Papa, membuat Biru mendengus karena lelaki paruh baya itu sepertiya tidak mengerti maksud pertanyaan Biru.
“Maksud aku, kenapa Papa baru ngasih tahunya sekarang gitu?” Tanya Biru memperjelasnya.
“Kemarin atau sekarang apa bedanya?” Sahut Papa sedikit kesal karena anaknya mempermasalahkan hal kecil seperti ini.
********
Keesokan harinya di sore hari, Biru dan Jingga turun dari mobil begitu Biru memarkirkan mobilnya di garasi rumah.
Seharian ini Jingga ikut ke rumah sakit dan menunggu Biru di ruangannya. Jingga cukup senang karena di sana dia bertemu dengan Hana dan membicarakan banyak hal.
“Ayo, Sayang.” Jingga menyambut uluran tangan Biru begitu Dia turun dari mobil. Mereka pun berjalan untuk masuk ke rumah sambil bergandengan tangan.
Namun, begitu Biru membuka pintu, mereka dikejutkan dengan pekikan gadis kecil yang sepertinya tak sengaja terdorong karena sebelumnya gadis kecil tersebut berada di balik pintu.
“Rai . . . .” Biru terkejut saat mendapati anak perempuan berusia sepuluh tahun jatuh terjerembab. Buru-buru Biru membangunkan anak perempuan itu dan memeriksanya siapa tahu saja ada yang terluka.
“Rai, are you okay?” Tanya Biru khawatir, ia meringis saat melihat dahi anak perempuan yang Biru panggil dengan sebutan “Rai” itu sedikit benjol.
Jingga yang melihatnya bertanya-tanya. Siapa anak perempuan itu? Kenapa bisa ada di rumah mertuanya?
“Oke gimana? Sakit jidat aku.” Jawabnya kesal sembari menunjuk dahinya.
“Ya salah kamu sendiri, kenapa berdiri di belakang pintu?” Seru Biru tak kalah kesal dan tak peduli.
“Yang salah Kakak, masuk rumah, kok, nggak pencet bel.” Gadis kecil itu tak mau kalah.
“Ihh, ini, kan, rumah aku. Mau aku langsung dobrak pintunya juga nggak masalah.” Sahut Biru bersungut-sungut.
Jingga sendiri hanya bergeming menatap heran suaminya yang tengah bertengkar dengan gadis kecil itu.
“Ahh, terserah. Pokoknya yang salah Kakak. Terus gara-gara Kakak juga, nih, medali aku jadi rusak.” Gadis kecil itu lantas mengacung-acungkan sebuah medali emas dengan talinya yang sudah usang dan terlepas ke hadapan wajah Biru.
********
To be continued . . . .
__ADS_1