
********
Memasuki usia kehamilan Jingga yang ke 28 minggu, rencana untuk melahirkan di luar negeri sudah cukup matang.
Biru dan Jingga sudah mengurus segala perlengkapan dan dokumen yang dibutuhkan seperti medical check up, surat rujukan, dan data penting lainnya. Begitupula dengan tempat tinggal dan rumah sakit yang akan menjadi tempat Jingga melahirkan nanti, semuanya sudah siap. Mereka akan berangkat ke Korea besok lusa.
“Kak, nanti pas nyampe di Korea, kita langsung jalan-jalan ke N Seoul Tower, ya?” Pinta Jingga pada suaminya yang sedang ikut membantunya membereskan pakaian musim dingin dan pakaian harian lainnya ke dalam dua buah koper. Satu miliknya dan satu lagi milik Biru.
Tampak Biru kebagian tugas untuk mengambil pakaian dari dalam lemari, sementara Jingga yang memasukannya ke dalam koper karena gadis itu cukup kesulitan untuk jongkok dan berdiri seiring dengan perutnya yang semakin membesar.
“Mau ke mana aja, boleh. Kan kita punya banyak waktu di sana.” Jawab Biru sembari menyerahkan beberapa baju yang sudah diambilnya pada Jingga.
“Iya, kita emang punya banyak waktu, tapi aku nggak bisa banyak gerak.” Seru Jingga dengan bibir mengerucut lucu. Dia meratapi dirinya sendiri yang sudah tidak bisa bergerak sebebas dulu, sebelum perutnya membesar seperti saat ini.
“Ya udah, nanti kita jalan-jalannya ke tempat yang deket aja.”
Jingga mendengus. “Ish, maksud aku, tuh, kamu bawa jalan-jalan akunya sebelum perut aku tambah gede gitu, lho.”
Sejenak Biru memandang Jingga yang sibuk memasukkan pakaian mereka dengan tatapan prihatin. Dia sadar, Jingga seperti itu karena ulahnya, seandainya saja dia bisa membantu istrinya membawa beban berat di perutnya itu.
Menghela napas, lantas Biru ikut berjongkok dan mengambil alih pekerjaan Jingga yang sebenarnya nyaris selesai.
“Iya siap, Sayang.” Sahut Biru kemudian, membuat Jingga berseru girang.
Gadis itu lalu meraih ponsel yang dia letakkan di dekatnya untuk membuat daftar tempat-tempat yang memungkinkan untuk bisa dia kunjungi.
“Tapi kamu bukannya udah pernah ke N Seoul Tower, ya? Kalau udah pernah, ngapain ke sana lagi?” Tanya Biru sembari menutup koper yang sudah terisi penuh itu.
“Kan sama kamu belum pernah, terus aku juga mau masang heart lock di sana.” Jawab Jingga tanpa mengalihkan perhatiannya dari ponsel yang tengah dia operasikan.
“Tck, ngapain? Mau nulis nama kita di gembok cinta, terus lempar kuncinya jauh-jauh biar cinta kita abadi, gitu?” Cibir Biru berdecak geli karena istrinya mempercayai mitos gembok cinta yang jelas-jelas belum teruji kebenarannya.
“Ahh, kamu mah nggak asyik.” Cebik Jingga.
“Nggak usah percaya kayak gituan.” Biru mengusap penuh wajah Jingga menggunakan telapak tangannya hingga membuat gadis itu mendengus. “Menurut aku, masang-masang gembok cinta itu cuma nambahin sampah aja, tck, mencemari lingkungan.”
Biru berdecak sinis, menunjukkan ketidaksukaannya akan keberadaan gembok cinta. Selain itu, menurutnya orang-orang yang memasang gembok yang katanya sebagai simbol cinta itu sangat bodoh, mereka seperti menaruh harapan pada gembok alih-alih meminta pada Tuhan.
“Aku, tuh, bukannya percaya, Kak. Tapi aku cuma mau ikut-ikutan orang aja. Nikmatin momentnya, gitu.” Elak Jingga kemudian. Biru hanya berdecih geli mendengarnya.
“Bisa aja ngelaknya kamu.” Sekali lagi Biru mengusap gemas wajah Jingga.
“Ihh, siapa yang ngelak?” Jingga tak terima. “Dan kamu harus tahu, aku mau masang gemboknya bukan buat kita.”
Biru mengerutkan keningnya heran. “Terus?”
“Tapi buat Langit. Aku mau nulis mantra cinta buat Langit di gembok itu nanti.”
“Kok, Langit?” Tanya Biru, dia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya untuk menutup koper yang satunya lagi.
“Karena aku mau Langit bahagia kayak kita.” Jawab Jingga seperti sebuah doa.
“Ciee, perhatian banget sama temennya.” Sindir Biru sesaat setelah dia selesai menutup kopernya.
“Iya, dong. Kan sayang.” Balas Jingga seraya menyunggingkan senyum usil. Ucapannya ini jelas saja membuat Biru mendengus sebal.
“Tapi aku lebih sayang kamu.” Jingga bergelayut manja di lengan Biru seraya menyandarkan kepalanya di bahu laki-laki itu. “Soalnya uang kamu lebih banyak.” Guraunya sembari terkikik pelan. Biru yang mendengarnya hanya menatap gemas istrinya cantiknya itu.
“Ohh, jadi kalau uang aku dikit, kamu nggak mau sama aku, gitu?” Biru mencubit pipi Jingga yang kini sedikit lebih berisi itu dengan gemas.
Gadis itu pura-pura berpikir dengan mengetuk-ngetukkan telunjuknya di dagu.
“Kayaknya, sih, iya.” Jawabnya dengan senyum menggemaskan.
Biru mendesis, istrinya ini benar-benar menyebalkan sekaligus menggemaskan. Kalau saja tidak ingat ada Winter di dalam perutnya, Biru yakin seyakin-yakinnya akan menerkam Jingga di atas lantai kamar yang sedang mereka duduki saat ini juga.
“Ternyata istri aku ini matre, yaa?” Biru mencubit pelan pinggang Jingga hingga membuat istrinya itu terkekeh.
“Ihh, baru tahu, ya? Kamu, tuh, udah ketipu sama aku. Sebenarnya dulu aku pura-pura lugu biar kamu kena trap.” Ujar Jingga terus berkelakar.
“Wahh, ternyata selain matre, istri aku juga tukang tipu.” Balas Biru. “Tapi nggak apa-apa, deh, aku ketipu. Soalnya penipunya cantik, jadi aku nggak rugi-rugi banget.”
Jingga yang mendengarnya sontak memasang ekspresi seolah mau muntah. Yuck.
“Ihh, ngeledek. Cium, nih.” Ancam Biru, dia kembali mencubit pinggang Jingga dengan gemas.
“Cium aja, nih.” Tantang Jingga, dia lantas menyodorkan wajahnya ke hadapan Biru seraya menutup mata. Lebih tepatnya, merem ayam.
“Beneran, nih?” Tanya Biru dengan seringai licik yang terlihat sangat menyeramkan dan mengandung maksud lain. Jingga yang melihat itu lantas kembali membuka mata sepenuhnya.
“Ngapain kamu senyum-senyum kayak gitu?” Tanya Jingga takut-takut seraya menjauhkan tubuhnya. Perasaan Jingga mulai tidak enak. Hiish, seharusnya dia tadi tidak perlu pura-pura menantang Biru seperti itu.
“Pindah ke kasur, yuk.” Dan ujung-ujungnya Jingga kembali terjebak dengan permainannya sendiri.
“Kalau mau cium, ya, cium aja, ngapain pake pindah ke kasur segala?” Sahut Jingga mencoba untuk menghindar.
“Soalnya aku nyiumnya nggak cuma di wajah kamu, Ji. Ayo.” Biru beranjak, lalu mengulurkan tangannya pada Jingga untuk membantu istrinya berdiri.
“Tapi aku lagi males.” Rengek Jingga, tapi Biru tak peduli sama sekali. Salah sendiri Jingga sudah menantangnya.
“Dan aku lagi semangat.” Balas Biru tak peduli.
Jingga mendengus, kalau sudah begini dia tidak akan bisa menghindari suaminya ini. Apalagi perutnya sudah besar, akan sulit walaupun dia berniat melarikan diri dari kamar ini.
“Tapi pijitin aku dulu, ya? Badan aku pegel-pegel, nih.” Pinta Jingga diiringi puppy eyesnya.
“Boleh.” Sahut Biru sembari menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Jingga segera beranjak.
Jingga kemudian beranjak untuk berdiri dibantu Biru, satu tangannya terlihat memegangi pinggang untuk menyangga tubuhnya. Ahh, ternyata hamil seperti ini, untuk berdiri saja dia kepayahan.
Rasanya Jingga harus berterima kasih pada Bunda yang sudah rela susah payah mengandungnya serta kedua kakaknya. Duhh, Jingga jadi menyesali perbuatannya yang selalu melawan Bunda, perjuangan seorang ibu itu luar biasa.
Kelak, Jingga berharap semoga kelakuan anaknya tidak mirip seperti dirinya.
********
“Ayo.” Jingga menepuk-nepuk punggungnya sesaat setelah dia duduk bersila di atas tempat tidur. Sementara Biru sendiri duduk di belakang punggung sang istri, siap untuk jadi tukang pijat pribadi Jingga.
“Ikat rambut kamu mana?” Tanya Biru yang sedikit risih melihat rambut Jingga yang tergerai. Sebenarnya bukan risih, tapi mengganggu, akan lebih mudah baginya menciumi tengkuk Jingga jika rambut istrinya diikat.
“Buat apa?” Tanya Jingga tanpa menoleh ke arah Biru.
“Turutin aja apa kata tukang pijit. Mana?” Tanya Biru lagi. Jingga yang tak mau mempermasalahkan segera menyodorkan tangannya.
Setelah Biru mengambil ikat rambut dari pergelangan tangan Jingga, dia lantas meraih dan mengumpulkan rambut istrinya yang sudah sedikit lebih panjang dari sebelumnya itu ke dalam satu genggaman, kemudian mencepolnya tinggi-tinggi.
“Kamu nggak mau potong rambut, Ji?” Tanya Biru di sela-sela kegiatan mengikat rambutnya. Bukan dia tidak suka rambut Jingga yang panjang, tapi mengingat istrinya itu akan segera melahirkan dan menyusui, rambut panjang sepertinya akan sedikit menyulitkannya.
“Nanti aja deh, kalau udah deket ke waktu lahiran, biar nggak cepet panjang lagi.” Jawab Jingga yang hanya diangguki oleh Biru, karena ucapan istrinya itu ada benarnya. Percuma potong rambut sekarang kalau nanti saat lahiran sudah panjang lagi.
Biru tersenyum menyeringai saat melihat tengkuk Jingga sudah terbuka.
Jingga mengerjap, karena bukannya pijatan yang dia rasakan, melainkan sebuah kecupan lembut dari bibir Biru yang hangat dan lembab menyentuh tengkuknya.
“Kakaaaak! Kan aku minta pijit, kok malah dicium?” Protes Jingga menoleh ke arah Biru.
“Kan tadi kamu bilang badan kamu pegel-pegel, jadi aku mau bikin makin pegel sekalian. Biar nanti pijitnya sekalian juga.” Jawab Biru dengan senyum penuh kemenangan di balik tengkuk Jingga, dia kemudian melanjutkan kegiatannya menciumi tengkuk istrinya itu.
__ADS_1
“A–aku mau pipis.” Jingga berusaha mencari alasan untuk menghindar. Dia benar-benar malas melayani Biru sekarang.
“Aku tahu kamu bohong.” Biru lantas menghisap kuat-kuat tengkuk Jingga hingga meninggalkan bekas kemerahan di sana.
“Aku nggak . . . . eungh.” Kalimat Jingga tertahan begitu dia merasakan tangan Biru menyusup ke dalam daster piyama dan meremas dada sebelah kanannya. Entah kapan laki-laki itu berhasil membuka kancing bagian atasnya, Jingga tak menyadarinya.
“Jingga, ini makin nnggak muat di tangan aku.” Sejenak Biru memperhatikan buah dada Jingga dalam tangkupan tangannya, lalu kembali memainkan bagian itu sensual.
“Ampun, Kak– ahh.” Jingga ingin menghentikan ini, tapi malah suara desahannya yang keluar begitu tangan Biru terus bergerak memberi pijatan di dadanya. Begitupula dengan bibirnya yang terus bermain-main di leher dan telinganya.
“Kenapa minta ampun? Hem?” Biru yang tak peduli semakin gencar menyerang Jingga, satu tangannya yang bebas bahkan kini mulai meraba paha bagian dalamnya, terus naik hingga menyusup ke dalam kain tipis berenda untuk kemudian bertemu dan bermain-main dengan pusat tubuhnya.
“Akuhh–”
“Udah kamu kalau lagi males diem aja.” Sambar Biru tersenyum puas mendapati Jingga yang terlihat sudah pusing dan merem melek keenakan.
“K-kak . . . .” Jingga menggigit bibir bawahnya, tangan Biru yang bermain-main di dada dan intinya seketika membuat sekujur tubuhnya memanas.
Hingga sejurus kemudian, Jingga yang mulai terbawa suasana lantas menoleh untuk mencari bibir Biru, lalu menciumnya. Keduanya berciuman dengan penuh gairah.
Pada akhirnya, Jingga pasrah karena dia memang sudah tidak bisa melawan ataupun berusaha menghindar lagi. Setelah melepas ciumannya, dia lantas menyandarkan kepalanya di dada bidang Biru, memejamkan mata, dan menikmati apa yang Biru lakukan pada tubuhnya.
Jingga terus merintih saat Biru menaikkan kecepatan tangannya yang berada di dada dan pusat tubuhnya, hingga akhirnya dia melenguh panjang bersamaan dengan sesuatu yang meledak di pusat tubuhnya.
Biru mengecup puncak kepala Jingga, membiarkan sejenak pelepasan sang istri, sebelum kemudian dengan cepat dia merebahkan tubuh Jingga.
Untuk beberapa saat mereka saling memandang, Biru tersenyum melihat dada Jingga yang naik turun seiring dengan deru napasnya yang terengah, gadis itu lantas menatapnya dengan tatapan sayu.
“Masih males?” Tanya Biru dengan seringai mengggoda.
Jingga mendengus, kemudian meraih wajah Biru dan mulai mencium bibir suaminya itu dengan rakus, meminta hal lebih.
Mendapat respon seperti itu, Biru jelas tak ingin menyia-nyiakannya, dia pun balas mencium Jingga tak kalah rakus seiring dengan tangan yang kembali bermain-main nakal di dada istrinya.
“Jingga. . . .”
Biru dan Jingga kembali saling melempar pandangan sayu setelah tautan bibir mereka terlepas.
“Hum?”
Detik berikutnya pandangan Biru mencuat ke arah dada kanan Jingga yang masih dia tangkup gemas. “Kayaknya aku nggak mau berbagi ini sama Winter.”
Jingga terkekeh lirih, lalu menggenggam tangan Biru yang digunakan untuk menangkup dadanya. “Ke depannya ini emang bakalan jadi punya Winter. Kamu yang harus minta izin sama dia kalau mau.”
Biru merengut. “Berarti aku harus puas-puasin dari sekarang sebelum Winter ambil alih.”
“Aww–” Pekik Jingga karena Biru meremas buah dadanya itu terlalu keras. “Jangan keras-keras.”
Biru hanya terkekeh, lalu kembali menyatukan bibirnya dengan bibir Jingga, ********** hingga mengeksplor rongga mulut gadis itu.
Jingga pun tidak tinggal diam. Dia membalas setiap kecupan yang Biru berikan di atas bibirnya. Semua terjadi begitu menggairahkan, terlebih tangan Biru ikut bergerak nakal menyentuh titik paling sensitif Jingga.
“Ya ampun, ini anak muda.”
Mendengar seruan seseorang dan pintu kamar yang terbuka. Sontak saja membuat mereka melepaskan ciuman panasnya dan saling menjauhkan wajah.
Terlihat Mama berada di ambang pintu sembari memegangi handlenya begitu mereka menoleh ke arah sana.
“Eung. . ..” Mama mengerjap-erjap salah tingkah, lalu segera kembali menutup pintu kamar “Mama cuma mau manggil kalian buat makan malam.”
“Kak–”
“Mama nggak lihat.” Teriak Mama kemudian sesaat setelah pintu kamar tertutup,
Wanita paruh baya itu menghembuskan napas gugup sambil mengelus dadanya. Anak dan menantunya yang kepergok, tapi kenapa rasanya dia yang malu? Mama lantas menggelengkan kepalanya, berusaha melupakan apa yang dia lihat di dalam kamar anaknya tadi.
“Sekarang gimana?” Hanya pertanyaan itu yang tiba-tiba lolos dari mulut Biru. Dia merasa tanggung kalau tidak dilanjutkan karena bagian bawah tubuhnya sudah menegang.
“Nggak tahu.” Jawab Jingga yang rasa malunya sudah menggantikan gairahnya yang tadi membuncah.
“Kamu laper, nggak?” Tanya Biru sembari menjauhkan tangan Jingga yang digunakan untuk menutupi wajahnya.
Jingga dengan wajah yang sudah memerah bak kepiting rebus hanya menggelengkan kepalanya, dia lebih baik tidak makan daripada harus bertemu ibu mertuanya di bawah sana.
“Ya udah, kalau gitu kita lanjut aja.” Ujar Biru kemudian, laki-laki itu kembali mendekatkan wajahnya untuk menempelkan bibirnya di bibir Jingga, melanjutkan kembali kegiatan mereka yang sempat tertunda.
Jingga yang juga merasa kepalang tanggung memilih untuk membiarkan Biru kembali menjamah tubuhnya. Ya, lanjutkan saja ini sampai kenyang. Tidak perlu makan malam.
********
Dua hari yang lalu, Biru dan Jingga sudah tiba di Korea. Mereka menempati apartemen Om Resky yang terletak di dekat rumah sakit yang akan menjadi tempat Jingga melahirkan Winter nanti.
“Kak, katanya kalau kita duduk di sini bisa buat harapan.” Seru Jingga dengan riang setelah beberapa saat lalu mereka mendudukkan dirinya di heart chair.
Biru dan Jingga saat ini sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan yang disuguhkan N Seoul Tower yang merupakan landmarknya kota Seoul, Korea Selatan, yang terletak di Gunung Namsan.
“Ahh, itu paling cuma strategi promosi, biar semua orang tertarik datang ke sini. Wisatawan aja yang bodoh percaya gitu aja, kayak kamu ini.” Ujar Biru apatis seraya mendorong pelan kening Jingga menggunakan telunjuknya.
“Ish, ngeselin, aku, kan, cuma ngasih tahu. Julid banget kamu.” Dengus Jingga dengan bibir yang mengerucut lucu. Yaa, bagaimanapun Biru adalah warga +62, nggak asyik kalau nggak julid.
Biru yang melihat istrinya merengut hanya terkekeh geli. “Emang kamu mau buat harapan apa?”
Biru lantas merangkul pundak Jingga untuk membuat tubuh mereka lebih merapat.
“Eung, apa, ya?” Ditanya seperti itu, Jingga bingung sendiri. Sejauh ini hidupnya bersama Biru sudah cukup bahagia dan penuh cinta, dan Jingga tidak merasa kekurangan apapun.
“Aku mau kamu cium aku aja, deh.” Ucap Jingga sambil menunjuk sebelah pipinya.
“Terkabul.” Biru mencium pipi Jingga sekilas sebelum kemudian dia dan Jingga terkekeh pelan.
“Aww, ssssh. . . .” Jingga meringis di sela-sela kekehannya, dia lalu mengelus perutnya saat merasakan bayinya bergerak di dalam sana.
“Kenapa?” Tanya Biru panik seraya ikut mengelus perut Jingga. “Ehh, dia gerak.” Raut wajah panik Biru seketika berubah senang saat merasakan tendangan kecil dari dalam sana.
“Kayaknya dia protes gegara kita cuekin.” Jingga tak berhenti mengelus perutnya lembut.
“Kamu mau Papa cium juga, ya?” Tanya Biru, lalu menundukkan kepalanya dan mendaratkan satu kecupan di perut Jingga.
“Ngajak mainnya nanti aja, ya. Mama sama Papa mau pacaran dulu.” Ucap Biru kemudian, membuat Jingga gemas untuk mendaratkan cubitan kecil di pinggang laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.
“Jangan ngomong aneh-aneh.” Jingga mendengus geli. Biru hanya terkekeh mendengarnya.
“Belum lahir aja Winter udah ganggu, gimana kalau udah lahir? Aku pasti nggak kebagian karena kamu habis dijajah dia.”
“Kak, ihh.” Jingga kembali melayangkan cubitan kecil di pinggang Biru.
Biru meringis dengan tatapan geli. “Iya-iya.”
“Awas kamu ngomong aneh-aneh lagi. Udah, ahh, ayo aku mau beli gembok.” Ajak Jingga kemudian yang langsung diiyakan oleh Biru. Laki-laki itu lantas beranjak dan membantu Jingga berdiri.
Mereka kemudian bergegas masuk ke dalam gift shop yang berada di lantai dasar N Seoul Tower itu untuk mencari gembok.
“Ji, kamu suka Shawn, kan?” Tanya Biru sembari menyentuh gembok dengan karakter domba begitu mereka sampai di gift shop, terdapat banyak gembok aneka warna dan bentuk di sana. Bahkan Jingga bingung sendiri memilihnya.
“Iya, tapi Shawn Mendes, bukan Shaun The Seep.” Seru Jingga merengut, tak terima penyanyi idolanya disamakan dengan domba. Namun, Biru tak mengindahkannya.
“Yang ini aja.” Jingga meraih gembok berbentuk kotak berwarna merah muda sebagai pilihannya.
__ADS_1
Setelah mendapatkan gembok, Biru dan Jingga memilih untuk istirahat sebentar, mereka duduk di pojok caffe yang tak jauh dari gift shop tempat mereka membeli gembok tadi.
“Susah juga, ya, cari kata-kata yang bisa muat di gemboknya.” Jingga sedikit menggerutu karena dia tidak bisa menulis banyak di atas gembok itu, padahal banyak kata-kata romantis yang terlintas dalam otaknya.
“Kalau mau nulis banyak, ya, di kertas aja, Ji.” Sahut Biru enteng. Jingga hanya mendengus mendengarnya.
“Oke, selesai.” Seru Jingga setelah dia berhasil menuliskan kata-kata yang menurutnya pas.
“Kamu nulis apa?” Tanya Biru penasaran dan berusaha mengintip.
“Lihat punya kamu dulu.” Biru kemudian menunjukkan gemboknya.
“Kesehatan.”
Untuk cintanya Langit
“Uhh, kita emang jodoh.” Seru Jingga dengan mata berbinar begitu dia membaca apa yang ditulis Biru di gemboknya. Jingga lantas menunjukkan gembok miliknya pada Biru yang bertuliskan.
“Panjang umur.”
Untuk cintanya Langit
“Ihh, kamu nyontek punya aku, ya?” Ledek Biru membuat Jingga mendengus. “Enak aja.”
********
“Sebenarnya aku nggak suka nulis harapan di gembok kayak gini. Tapi, aku berharap sama Tuhan, semoga dia selalu diberi kesahatan dan umur yang panjang.” Tutur Biru sesaat setelah dia menggantung gembok cintanya di Love Padlock. Sesuai tujuan awal, mereka membuat harapan untuk sahabatnya, Langit.
“Aku harap, Langit dan dia bisa bahagia kayak kita bahkan lebih.” Tambah Jingga.
“Aamiin.” Ucap Biru sembari memeluk tubuh Jingga dari belakang. Sejenak mereka terdiam menikmati udara dingin dan panorama kota Seoul dari atas sana.
“Kak. . . .” Panggil Jingga setelah beberapa saat terdiam.
“Hum?” Sahut Biru mengeratkan pelukannya.
“Kamu seneng, nggak, kita bisa sampai tahap ini?” Jingga menyandarkan kepalanya di dada Biru.
“Nggak ada yang lebih menyenangkan di hidup aku selain bisa hidup sama kamu.” Kecupan lembut bisa Jingga rasakan di kepalanya. “Sampai tahap manapun, asalkan sama kamu, aku pasti seneng.”
“Aku juga.” Balas Jingga lirih, lalu menoleh untuk mempertemukan pandangannya dengan Biru. “I love you.”
“Aku selalu lebih mencintai kamu.” Biru menyambar cepat bibir Jingga.
Keduanya lantas terdiam, sama-sama menikmati pemandangan yang ada di depannya sejenak.
“Ohh, iya. Dulu kamu bilang kita pertama kali ketemu di ruang guru, kan?” Tanya Jingga teringat akan hal itu.
“Yep.” Balas Biru.
“Tapi aku kok nggak inget ya pernah ketemu kamu di sana?” Gumam Jingga seraya berusaha mengingat-ingat, namun tetap saja tidak ingat.
“Mungkin mata kamu dulu ketutup kali, massa ada orang ganteng di depan mata tapi dibiarin.” Cibir Biru, mengingat saat itu Jingga sama sekali tidak tertarik untuk melihatnya.
“Bukan ketutup, tapi kamunya nggak ganteng aja, kali, waktu itu. Soalnya, biasanya kalau lihat orang ganteng mata aku langsung jadi hijau.” Balas Jingga diiringi gelak tawa ringan setelahnya.
“Ish, ngeselin.” Biru mendengus sebal.
“Ihh, emang iya. Mata aku biasanya langsung jernih kalo lihat orang ganteng.” Jingga tak ingin berhenti menjahili suaminya itu.
“Jangan ngikutin Mama kamu, ya, sayang. Matanya jelalatan.” Ujar Biru kemudian seraya mengelus perut Jingga.
“Ihh, apaan sih? Enak aja.” Jingga memukul pelan tangan Biru, tak terima dikatai jelalatan.
Keduanya lalu kembali terdiam hingga hening kembali mengambil alih untuk sejenak. Biru semakin mengeratkan pelukannya untuk menghalau udara dingin yang mungkin menyerang tubuh istrinya.
“Ohh, iya, Ji.”
Jingga menoleh, sorot matanya menunggu Biru menyelesaikan apa yang ingin dikatakannya.
“Bagian mana yang kamu suka dan nggak suka selama kenal sama aku?” Tanya Biru kemudian.
Jingga kembali melempar pandangangannya ke depan, terdiam sejenak untuk berpikir, untuk kemudian menjawab.
“Semua hal menyenangkan yang aku lakukan sama kamu, aku suka. Tapi yang aku nggak suka–”
“Kejadian di villa?” Sambar Biru yang mendapati Jingga mendadak diam dengan wajah sedih.
Gadis itu menggeleng.
“Atau Luna?”
Jingga tersenyum masam. “Dua-duanya emang aku nggak suka. Tapi ada yang paling aku nggak suka.”
“Apa?” Tanya Biru dengan kedua alis saling bertaut penasaran.
“Kamu bilang bakalan pulang tiap musim liburan, tapi enggak.” Jingga meringis. Mengingat saat-saat dirinya menunggu Biru seharian di taman bermain setiap memasuki musim liburan, namun yang ditunggu tidak pernah datang.
“Maaf, Sayang.” Ujar Biru. Merasa bersalah karena telah membiarkan gadisnya menunggu tanpa kepastian. “Itu di luar kendali aku.”
Ya, siapa yang mengira jika dia akan mengalami kecelakaan sampai kehilangan ingatannya.
“Kenapa minta maaf? Emang jalan ceritanya harus kayak gitu, kali.” Tutur Jingga, lalu kembali tersenyum kecut mengingat kisahnya bersama Biru di masa lalu yang penuh drama.
“Tetap aja aku merasa bersalah. Kalau aja aku nggak hilang ingatan, kamu pasti nggak harus banyak sakit hati karena aku.” Ujar Biru penuh penyesalan.
Jingga menoleh, lalu memberikan senyuman tipis. “Tapi aku bahagia sekarang.” Terangnya seolah tak ingin mengungkit kenangan di masa lalu yang cukup menyakiti hatinya itu.
“Dan aku akan bahagiain kamu seterusnya.” Sambar Biru penuh keyakinan, dia lantas mendaratkan kecupan singkat di bibir Jingga.
“Aku percaya sama kamu.” Balas Jingga tanpa ragu.
“Tapi ada yang harus kamu tahu, Ji.” Ucap Biru saat teringat sesuatu.
“Apa?”
“Waktu dulu aku hilang ingatan dan semua kenangan tentang kamu terhapus, aku tetap jatuh cinta lagi sama kamu.” Jawab Biru. “Ternyata kata-kata aku di taman waktu itu bener. Walaupun aku hilang ingatan, tapi kamu nggak hilang dari hati aku, dan jantung aku tetap berdebar buat kamu.”
“Aku tahu, kamu pernah bilang ini dulu.” Sahut Jingga.
Biru mendengus, lalu menjawil gemas hidung Jingga. “Bukan itu intinya. Jadi gini, kalau aja aku hilang ingatan lagi. Kamu nggak usah khawatir karena aku pasti akan menemukan kamu dan jatuh cinta lagi sama kamu.”
Binar mata Jingga meredup begitu mendengar itu, dia lantas menyentak kasar tangan Biru yang melingkar di perutnya. Laki-laki itu benar-benar merusak suasana.
“Ji–” Biru terkejut karena Jingga tiba-tiba menyentak tangannya dan menjauhkan diri darinya.
“Kalau kamu hilang ingatan lagi, aku pastikan kamu nggak akan pernah bisa ketemu aku sama anak kamu.” Ucap Jingga bersungut-sungut.
Baginya, ucapan adalah doa. Jadi, mendengar Biru yang asal bicara seperti ini membuatnya kesal dan takut sekaligus, ditambah dulu Biru pernah berbicara seperti ini dan benar saja laki-laki itu kehilangan ingatannya.
“Kamu jangan asal ngomong, dong.” Jingga menghentakkan kakinya kesal, sebelum kemudian dia pergi meninggalkan Biru dengan hati dongkol.
Sementara itu Biru, laki-laki itu hanya bisa meringis sembari merutuki dirinya sendiri. Pasti akan sangat sulit membujuk Jingga setelah ini, gadis itu sepertinya benar-benar kesal padanya.
*******
To be continued . . . .
__ADS_1