Still In Love

Still In Love
EP. 45. Bad Morning


__ADS_3

********


Sesampainya di depan gedung apartemen miliknya, Jingga bertemu dengan Langit yang menenteng kantong plastik berisi minuman bersoda di tangannya. Sepertinya Langit baru pulang dari minimarket.


“Butuh hiburan?” Pertanyaan Langit menyapa Jingga begitu mereka bertemu.


Langit yang melihat kedatangan Jingga sejak turun dari mobil dengan raut wajah sedih dan langkah gontai, tidak bisa menahan diri untuk tidak menghampiri gadis itu dan mencari tahu kenapa sahabat kesayangannya seperti itu.


“Bisa nggak, sih, kamu pura-pura nggak tahu aja?” Sahut Jingga diiringi dengusan geli. Mungkin karena mereka selalu bersama sejak kecil, membuat Langit sangat peka padanya, seberusaha apapun Jingga menyembunyikan perasaannya.


“Aku juga maunya pura-pura nggak tahu, tapi kamu muncul dengan ekspresi jelek kayak itu. Emot sedih nggak cocok buat kamu.” Ledek Langit, membuat dengusan geli keluar dari bibir Jingga.


“Kalau gini–” Jingga menarik kedua sudut bibirnya ke atas, hingga membentuk senyuman yang dipaksakan. Tapi kesedihan tidak dapat dia sembunyikan dari sorot mata jernihnya. “Masih jelek, nggak?”


“Makin jelek.” Balas Langit sambil mengusap penuh wajah Jingga dengan telapak tangan. “Jelek banget. Jingga jelek banget, jelek kuadrat.”


“Ish.” Jingga hanya mendengus sebal, kemudian dia kembali melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam gedung apartemen.


Namun baru saja beberapa langkah, Langit kembali memanggilnya, sehingga membuat gadis itu mau tidak mau harus berbalik.


“Masih jam sembilan, ayo main basket.” Ajak Langit sambil mengedikkan ibu jarinya ke arah lapangan basket. “Lagian kita udah lama nggak main bareng buat senang-senang.”


Tersenyum geli, Jingga tahu ini adalah bentuk penghiburan Langit untuknya.


Jingga senang memiliki teman seperti Langit. Saat dia bersedih, Langit tak akan bertanya apa yang menjadi sebab sedihannya sampai Jingga sendiri yang bercerita padanya. Cowok itu selalu memiliki cara tersendiri untuk menghibur Jingga, tanpa harus merasa dikasihani.


“Tangan kamu udah nggak sakit?” Jingga mengedikkan dagu pada tangan Langit yang tampak sudah dilepas gipsnya.


“Hmm.” Langit mengangguk cepat. “Buktinya kemarin aku bisa gendong bayinya Bisma. Lagian aku bisa, kok, main basket pake satu tangan. Kamu tahu, nggak, kalau aku itu lebih baik dari Michael Jordan?” Sambungnya dengan percaya diri.


Sejenak Jingga menatap ragu tangan Langit. “Awas saja kalau kamu kalah.” Cibirnya kemudian.


Keduanya lantas berbalik arah dan berjalan menuju lapangan basket sebagai salah satu sarana olahraga yang disediakan apartemen itu.


“Kalau aku kalah, kamu mau apa?” Tanya Langit yang berjalan mengekor di belakang Jingga.


“Eung, gimana kalau kamu nyanyi buat aku? Terus kalau aku yang kalah, aku akan dengerin kamu nyanyi.”


Langit berdecak geli dan sebal sekaligus, tapi tidak protes. Malam ini dia akan membiarkan Jingga mendapatkan apa yang diinginkannya.


Sesampainya di lapangan basket, Jingga mengikat rambutnya terlebih dahulu, dia mencepol habis seluruh rambutnya agar tak mengganggu saat dia bermain nanti.


Bola berada di tangan Jingga, gadis itu mulai menantulkan bola basket, lalu mendribblenya rendah sehingga membuat Langit kesulitan merebut bola dari tangannya.


Langit terus mengejar Jingga yang menggiring bola. Cowok itu bukan mengalah, tapi Jingga memang pandai bermain basket.


Saat kesempatan datang, Jingga melompat tinggi melewati ring, gadis itu seperti sedang berjalan di udara. Langit bahkan terperangah melihatnya sambil geleng-geleng pelan. Usia sepertinya tidak mempengaruhi kemampuan gadis itu, masih saja hebat seperti dulu.


“Slam dunk.” Jingga bersorak senang, bangga pada dirinya sendiri setelah berhasil menembakkan bola ke dalam ring.


Mereka terus bermain hingga tak terasa waktu sudah sangat malam, mereka tampak menikmati permainannya dengan gembira. Meskipun terkadang Langit merebut bola basket dari tangan Jingga dengan curang, begitupun sebaliknya. Tapi itu tak menyurutkan kegembiraan di hati mereka, hingga Jingga mampu melupakan kesedihan di hatinya untuk sejenak.


Mereka berbaring bersebelahan di tengah lapangan setelah mengakhiri permainannya. Napas mereka yang memburu saling bersahutan, sesekali gelak tawa lolos dari bibir keduanya.


“Udah lama kita nggak main kayak gini, ya.” Ucap Langit seraya meletakkan kedua tangan di belakang untuk menumpu kepalanya. Pandangannya lurus menatap langit malam yang kelam tak berbintang.


“Emm.” Jawab Jingga mengangguk menyetujui seraya melakukan hal yang sama dengan Langit. Memang terakhir kali mereka bermain bersama saat di lapangan tenis, itupun bukan bersenang-senang. Langit hanya melihat Jingga melampiaskan kemarahannya pada bola tenis waktu itu.


“Kamu habis dari mana?” Tanya Langit setelah berhasil mengatur napasnya kembali normal.


“Makan malam.” Jawab Jingga singkat, dadanya kembali bergemuruh mengingat hal itu.


“Sama Biru?” Tanya Langit memastikan.


“Hmm.”


“Kok pulang-pulang kusut gitu wajahnya?”


Jingga menghela napas berat, lalu berucap sekenanya. “Makanannya nggak enak. Dia ngasih aku makanan murah.”


Lagi, Jingga menghela napas berat. Dia benar-benar tak ingin membahas hal itu. Langit mengerti dan memilih untuk tidak bertanya apapun lagi.


“Kamu kalah. Cepetan nyanyi.” Titah Jingga mengalihkan pembicaraan.


Langit berdecak tak terima. “Ihh, kamu tadi mainnya curang gitu, mana ada kalah dan menang?”


“Aku nggak peduli, cepatan nyanyi.” Desak gadis itu. Dan entah kenapa, rasanya Jingga ingin sekali mendengar Langit bernyanyi. Jingga ingat saat masih kecil dulu, tak jarang Langit bernyanyi untuk menghiburnya, lalu dia akan tertawa karena suara Langit sangat buruk dan buta nada.


Mengambil napas dalam, Langit merubah posisinya menjadi miring agar bisa manatap Jingga, lalu dia mulai bernyanyi .


Gadis itu tertegun, suara Langit sangat enak didengar. Suaranya terdengar merdu dan lembut seperti lullaby, Jingga menikmati alunan lagu yang dilantunkan Langit, hingga dia tidak sadar apa arti di balik lagu yang dinyanyikan cowok itu.


. . . . . . . .


. . . . . . . .


Now I realize you are the only one


It’s never too late to show it

__ADS_1


Grow old together, have feelings we had before


Back when we were so inocent


*I pray for all your love


Girl, our love is so unreal


I just wanna reach and touch you, squeeze you, somebody pinch me


I must be dreaming, this is something like movie


And I don’t know how it ends, girl


But I fell in love it my best friend


I fell in love it my best . . . .


“Hish, stop it.” Jingga menutup kedua telinganya dengan telapak tangan saat menyadari lagu yang dinyanyikan Langit cukup menyedihkan. Terlebih, lagu dari Jason Chen yang berjudul Best Friend itu menceritakan tentang sepasang sahabat dari kecil yang tumbuh besar bersama, hingga saat dewasa ternyata si laki-laki sadar sudah jatuh cinta pada sahabat kecilnya selama ini.


Jingga tidak ingin mendengarnya lagi, baik dari mulut Langit atau dinyanyikan oleh penyanyinya secara langsung. Akan sangat menyedihkan, seandainya apa yang ada di dalam lirik lagu tersebut terjadi pada mereka. Jingga bergidik ngeri membayangkannya. Tidak, itu tidak boleh dan tidak akan terjadi.


“Ngeselin. Kenapa ngerusak konser aku?” Protes Langit sambil mendengus sebal saat mendengar Jingga berteriak dan memintanya berhenti bernyanyi, padahal dia sedang enak-enaknya.


“Ini adalah lagu paling buruk yang pernah aku denger. Udah, ahh, aku mau balik ke kamar.” Jingga beranjak dari tidurnya, lalu menepuk-nepuk kotoran yang menempel pada baju dan roknya, sebelum kemudian dia bergerak pergi meninggalkan Langit.


“Lain kali, pilih judul lagu lebih bagusan. Selera kamu bener-bener jelek.” Teriak gadis itu yang sejenak menghentikan langkahnya untuk berbalik menatap Langit.


Langit beranjak untuk duduk, menatap kepergian Jingga sembari menyunggingkan senyum yang sulit diartikan. “Dasar nggak peka.”


Dari kejauhan, tanpa mereka sadari. Sejak awal ada sepasang mata yang menatap mereka dengan rahang mengeras selama melihat interaksi keduanya di sana. Tangannya terkepal hingga buku-buku jari tangannya menonjol, seolah melampiaskan seluruh emosinya di sana. Sudut bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman sarkas.


********


Sesampainya di kamar, Jingga tak bisa menahan kesedihan hatinya lagi. Dia menangis sembari menekuk lututnya saat mengingat Biru lebih membela Luna daripada dirinya. Terlebih sampai menudunhya seperti itu.


Menginginkan perhatian Biru sepenuhnya? Berbohong? Licik? Bagaimana bisa Biru berpikiran seburuk itu padanya? Tidakkah Biru berpikir jika dia sudah keterlaluan padanya?


Sebenarnya bagaimana perasaan Biru padanya? Terkadang dia bersikap hangat, terkadang dingin. Biru selalu berubah-ubah, dan itu membuat hati Jingga bingung.


Haruskah Jingga tetap bertahan pada istana pasir yang hancur? Bukankah itu hanya akan menjadi harapan semu dan sia-sia, terlebih jika dia hanya mempertahankannya seorang diri.


Tak ingin membuang energi dengan menangisi kesedihan hatinya, Jingga memilih untuk tidur. Jingga pikir, tidur akan menjadi pelarian terbaik saat dia merasa sedih. Tidur akan membuatnya sejenak melupakan rasa sedih, sakit, dan amarah di hati. Berharap saat bangun nanti, hati dan pikirannya menjadi lebih baik.


Jingga mulai memejamkan matanya, menarik napas dalam hitungan empat, menahannya hingga hitungan tujuh, dan menghembuskan napasnya perlahan pada hitungan delapan.


Begitulah kebiasaan Jingga membantu menenangkan dirinya, serta menurunkan tingkat stres dan kekhawatiran yang dialaminya. Cara tersebut membuatnya lekas terlelap dibanding obat tidur atau menghitung domba.


********


“Makasih, Pak.” Ucap Jingga seraya memberi selembar uang seratus ribu sebagai tip.


“Terima kasih kembali, Dokter Cantik.” Jawab petugas parkir itu dengan senyum semringah, sebelum kemudian berlalu pergi. Jingga hanya tersenyum tipis menanggapinya.


Jingga menghampiri mobil dan bersiap untuk masuk. Tapi baru saja dia akan membuka pintu mobil, tuba-tiba dia dikejutkan dengan Biru yang kini ada di hadapannya, dan sedang menatapnya dengan tatapan dingin. Jingga heran, sejak kapan cowok itu datang? Kenapa dia tidak menyadarinya? Mungkin karena tadi Jingga melamun, jadi tak sadar ada cowok itu datang.


Untuk sejenak pandangan mereka saling mengunci. Hening, tidak ada satu patah kata pun yang terlontar dari mulut keduanya, hingga akhirnya Jingga yang pertama melepaskan pandangan mereka.


Mengabaikan Biru, Jingga kembali melanjutkan niatnya untuk membuka pintu mobil. Namun dengan sigap cowok itu menahan tangannya.


“Aku buru-buru.” Ucap Jingga dengan suara lemah, meminta Biru melepaskan tangannya. Ini terlalu pagi untuk berdebat dengan Biru, Jingga benar-benar malas jika harus mengawali pagi dengan perdebatan. Itu akan mengganggu fokus dari aktivitasnya nanti.


Tapi bukannya mendengarkan. Biru malah menarik Jingga untuk berjalan ke arah mobil miliknya. Tanpa melepaskan cekalan tangannya, Biru membukakan pintu mobil.


“Masuk!” Peritah Biru dengan nada dingin setelah dia berhasil membukakan pintu. Namun Jingga malah bergeming, dia menatap Biru dengan tatapan kesal. Apa bisa cowok itu sekali saja tidak memaksanya?


“Aku bawa mobil sendiri.” Tolak Jingga malas seraya berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Biru.


Menghembuskan napas kasar, Biru dengan segera meraih kunci mobil dari tangan Jingga dan membuangnya jauh ke dalam semak-semak.


Jingga terperangah melihat Biru membuang kunci mobilnya, itu pasti akan sulit dicari, dan bisa-bisa dia akan terlambat masuk kerja.


“BIRU.” Teriak Jingga berang, wajahnya sudah memerah menahan amarah. Biru benar-benar telah membuat paginya menjadi buruk. Sangat buruk.


“Aku bilang, berangkat sama aku.” Titahnya sekali lagi. Sorot matanya begitu mengintimidasi, seolah meminta Jingga untuk tak membantah perintahnya lagi.


“Nggak mau!” Tolak Jingga tegas seraya menghempaskan tangan Biru.


Penolakan tersebut membuat Biru harus memaksa tubuh gadis itu untuk masuk ke dalam mobilnya. Mengabaikan Jingga yang berusaha memberontak, Biru sedikit mendorong tubuh Jingga hingga bisa masuk sepenuhnya, lalu dengan cepat dia menutup pintu mobilnya.


Setelah memastikan Jingga benar-benar memasuki mobil, Biru kemudian berjalan untuk meyusul gadis itu masuk dan duduk di sebelahnya. Tapi sebelumnya dia terlebih dahulu meminta petugas kebersihan yang sedang menyapu di halaman gedung apartemen untuk mencari kunci mobil milik Jingga. Cowok itu sadar jika yang dilakukannya tadi salah.


“Biru. . . .” Panggilan seseorang berhasil menghentikan langkahnya yang nyaris membuka pintu mobil. “Ngapain lo pagi-pagi udah di sini?”


“Salah kalau gue ke sini buat ****** tunangan gue?” Sahut Biru ketus, ucapannya penuh penekanan. Sorot mata kelamnya menatap Langit dengan tatapan tajam.


“Ya, kan, gue cuma nanya. Lo nggak usah ngegas kayak gitu juga, kali.” Timpal Langit tak kalah ketus.


“Gue nggak butuh lo sok akrab sama gue.” Balas Biru dingin, lalu bersiap untuk membuka pintu, tapi ucapan Langit selanjutnya kembali membuat gerakan tangannya berhenti.

__ADS_1


Alis Biru sedikit terangkat melihat Langit berjalan mendekatinya, cowok itu menatap Biru dengan tatapan tak terbaca.


“Gue cuma mau ingetin lo satu hal. Kalau lo emang nggak mampu mencintai Jingga, lepasin dia. Biar gue yang ngelakuin itu.” Tutur Langit setengah berbisik, ucapannya terdengar sungguh-sungguh. Wajah petakilan Langit yang biasa Biru lihat setiap hari mendadak berubah serius. “Sekali lagi lo bikin dia nangis, gue pastiin ambil dia dari lo.”


Biru bergeming, rahangnya mengetat menahan emosi yang Langit timbulkan. Dia tidak bodoh untuk tak bisa mengartikan ucapan cowok itu.


“Jangan harap!” Ucap Biru geram, nyaris tak membuka mulutnya. Lantas dia masuk ke dalam mobil, meninggalkan Langit yang menatap kepergiannnya dengan tatapan dingin.


********


“Jangan pernah lihat cowok lain, apalagi pas bareng sama aku.” Ucap Biru saat menyadari Jingga sedang melihat Langit yang masih berdiri menatap kepergian mereka dari kaca spion. Lalu dengan sengaja Biru langsung menutup spionnya.


Jingga hanya mendengus sebal, lantas dia memilih untuk melihat jalanan di depan, tanpa mengeluarkan kata-kata protes. Padahal mulutnya sudah sangat gatal untuk melemparkan berbagai kata-kata kasar pada cowok yang sedang duduk di sebelahnya ini. Tapi perasaan marah dan kesal pada Biru yang masih bercokol di hatinya membuat Jingga memilih untuk diam.


“Apa kamu nggak bisa pindah aja dari apartemen kamu yang sekarang?” Tanya Biru setelah beberapa saat hening, Jingga langsung menoleh ke arahnya dengan tatapan tak terima. Bukannya minta maaf karena kejadian tadi malam, cowok itu malah kembali menyulut emosinya dengan kalimat seperti ini.


“Kenapa?” Tanya Jingga.


“Kebetulan aku punya dua unit di tempat aku. Kamu bisa tinggal di sana.” Ujar Biru tak mengindahkan pertanyaan Jingga.


Jingga menghembuskan napas kasar, lalu berucap malas. “Tempat aku sekarang udah bagus, kok. Aku nyaman tinggal di sana.”


Biru menarik salah satu sudut bibirnya, membentuk senyum sarkas. “Jelas aja kamu nyaman, orang tinggal bersebelahan sama teman kesayangan kamu, dan kalian bisa main sepuasnya setiap hari.”


Ingatannya melayang pada tadi malam, Biru menyusul Jingga karena merasa dirinya sudah keterlaluan melayangkan tuduhan tak berdasar pada gadis itu. Namun niatnya dia urungkan tatkala melihat Jingga malah asyik bermain dengan Langit hingga larut malam.


Tangannya mencengkram setir mobil, dadanya bergemuruh saat mengingat Jingga tertawa lepas bersama Langit tadi malam. Rasanya Biru tak terima melihat gadis itu tertawa di depan cowok lain. Terlebih saat melihat Langit bernyanyi untuknya. Sebagai sesama cowok, Biru mengerti jika Langit sedang mengungkapkan perasaannya secara tidak langsung.


“Iya, kamu bener. Aku emang nyaman, kok, tinggal deket sama Langit.” Sahut Jingga sebal seraya memalingkan pandangannya dari Biru.


“JINGGA!”


Mendengar penuturan Jingga membuat hati Biru kembali memanas dan otomatis mengerem mobilnya mendadak, hingga tubuh keduanya terdorong ke depan. Beruntung saat itu tidak terlalu banyak kendaraan yang lewat.


Jingga menatapnya kesal. “Kamu apa-apan, sih, Kak? Kalau mau celaka, ya celaka aja sendiri nggak usah ngajak-ngajak aku!”


“Kamu yang apa-apaan ngomong kayak gitu tadi?”


Jingga tersenyum miring. “Kamu yang mulai.”


Biru berusaha meraup udara banyak-banyak guna mencari kesabaran dalam menghadapi gadis yang duduk di sebelahnya ini. Lantas perlahan dia kembali melajukan mobilnya.


“Pokoknya aku mau kamu pindah dari sana ke apartemen aku. Aku akan siapin semuanya.” Ucap Biru tak ingin dibantah, meski dia mengatakannya dengan nada datar.


“Aku nggak mau!”


“Berhenti mendebat aku!”


“Aku bukan mendebat kamu. Lagian, kenapa kamu jadi ngurusin hidup aku sampai sejauh ini? Kamu nggak berhak ngatur-ngatur aku!” Balas Jingga menantang.


“Aku berhak ngatur kamu karena kamu punya aku!” Bentak Biru kemudian hingga membuat Jingga terperanjat kaget. “Aku nggak suka kamu tinggal dekat-dekat sama Langit.”


“Kenapa? Aku sama dia cuma tinggal bersebelahan, bukan tinggal bareng.” Jingga menghembuskan napas gusar, matanya berkaca-kaca. Dia benci Biru membentaknya seperti ini.


Sekali lagi. Jingga merindukan Biru yang dulu, sangat banyak.


“Langit suka sama kamu. Dan harus kamu ingat, aku nggak suka sesuatu yang udah jadi milik aku disukai sama orang lain.” Sahut Biru penuh dengan penekanan.


“Aku bukan barang, Kak.” Suara Jingga kian tercekat seiring dengan sesak di dadanya. Hatinya terluka. “Lagian, siapa yang bilang Langit suka sama aku? Itu nggak mungkin.” Imbuhnya tak percaya.


Biru berdecak, memejamkan mata sembari menghela napas kasar. “Kayaknya kamu nggak bisa buka mata dengan baik.”


“Bukannya itu kamu, ya?” Jingga balik menyindir. “Tadi malam aja kamu udah nuduh aku bohong. Terus, apa barusan kamu bilang?”


“Itu beda, karena yang aku bilang barusan jelas kenyataan.” Sanggah Biru.


“Dan aku juga nggak bohong!” Ucap Jingga putus asa. Ingin rasanya dia berteriak di telinga cowok itu untuk mengatakan bahwa dirinya benar-benar tidak berbohong.


“Kamu udah nuduh Luna karena cemburu.” Cowok itu kekeuh dengan pemikirannya.


“Seburuk itu, ya, aku di mata kamu.” Jingga tersenyum getir, dia lantas menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi, memalingkan wajahnya dari Biru. Terkadang memang lebih mudah membiarkan orang dengan asumsinya sendiri daripada menjelaskan kenyataaan yang lebih rumit.


“Bukan buruk, tapi kenyataannya kayak gitu.” Sahut Biru tanpa memalingkan pandangan dari jalanan di depannya.


Jingga menggeram dalam hati. Berusaha untuk meredam emosinya. Lihat saja, suatu saat Biru akan tahu sejauh mana Jingga bisa bertahan untuk tetap berada di sisinya.


“Pokoknya, aku akan tetap membuat kamu pindah dari apartemen itu. Aku akan bilang ini sama Om dan Tante. Mereka pasti nggak akan keberatan.” Biru kembali pada topik awal.


Jingga memilih diam tak menyahuti ucapannya sembari menghembuskan napas berat.


“Terserah.” Sahut Jingga malas. Dia tahu, berdebat dengan Biru tak akan ada ujungnya, itu hanya buang-buang tenaga dan waktunya saja.


Sesampainya di parkiran basement rumah sakit, Jingga dengan kasar membuka pengait sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil dan mengambil langkah besar tanpa ingin mengucapkan apapun lagi pada cowok itu.


Biru benar-benar sudah membuat suasana hatinya buruk seburuk-buruknya.


Pagi yang buruk untuk Jingga.


********

__ADS_1


To be continued. . . .


__ADS_2