Still In Love

Still In Love
EP. 61. Just a Dream


__ADS_3

********


Langit yang sedang mentertawakan wajah Biru yang ditekuk karena menakut-nakutinya dengan gadis muda yang lebih akan lebih tertarik dengan om-om ganteng, seketika menghentikan tawanya begitu ponselnya tiba-tiba berdering.


Langit meraih ponselnya yang dia letakkan di atas meja, dia mengernyitkan dahi saat melihat pesan masuk berupa video yang dikirim melalui aplikasi surat elektronik.


“Jingga?” Matanya membelalak sempurna saat dia membaca siapa nama pengirimnya. Namun saat dia hendak membuka pesan tersebut, bersamaan dengan itu pula ponselnya kembali berbunyi tanda ada panggilan masuk.


Langit terpaksa mengurungkan niatnya untuk membuka pesan dari Jingga karena mendapat telepon dari rumah sakit yang menyampaikan code blue dan menyatakan ada kecelakaan parah bus rombongan anak-anak PAUD.


“Code blue. Ke rumah sakit sekarang.” Langit meraih jacketnya yang tersampir di kursi sambil beranjak dari duduknya.


Sementara Biru hanya menganggukkan kepala dan segera beranjak untuk ikut bersama Langit ke rumah sakit. Padahal ini hari libur mereka, tapi panggilan darurat mengharuskan keduanya untuk lebih memilih menjalankan tugas sebagai seorang dokter. Karena pada dasarnya, pekerjaan mereka bukan hanya tentang uang, tapi lebih utamanya adalah tentang kemanusiaan.


********


Malam harinya, setelah Biru membantu menangani pasien anak-anak yang kecelakaan tadi, dia memutuskan untuk menginap di rumah sakit karena sudah terlanjur malam.


Biru yang sedang tidur dengan posisi meringkuk di sofa ruang kerja, tiba-tiba terbangun dari tidur lelapnya saat dia merasakan ada sebuah tangan membelai wajahnya. Perlahan dia membuka mata hingga terbuka dengan sempurna.


Biru terhenyak kaget tatkala melihat siapa sosok yang sedang berbaring di sampingnya dengan tangan yang sedang mengelus lembut wajahnya.


Biru terdiam menatapnya, dia benar-benar tak percaya Jingga ada di hadapannya. Bahkan gadis itu sekarang terbaring di sebelahnya sambil memperhatikan dengan tatapan yang tak bisa Biru baca.


Cowok itu mengerjap berulang kali untuk memastikan penglihatannya tidak salah. Rasanya ingin sekali Biru berhambur memeluk gadis yang sangat dirindukannya itu. Namun seolah tubuhnya membeku, dia hanya bisa diam dalam posisinya.


“Jingga.” Panggil Biru lirih.


Gadis cantik yang dipanggil namanya itu menyunggingkan senyum simpul ke arahnya, lantas dipandanginya Biru dengan tatapan sendu.


“Tadi sore aku sama Langit ngomongin kamu. Ehh, sekarang kamu datang ke mimpi aku.” Biru merasakan matanya mulai berkabut seiring dengan perasaan rindu yang tertumpuk di hatinya terhadap gadis itu. Tenggorokannya tercekat dan dadanya terasa sesak seiring dengan tangis yang dia tahan.


Menghela napas panjang, tanpa menyurutkan senyum di bibirnya Jingga berucap lirih. “Kamu pasti kanget banget, ya, sama aku sampai aku datang ke mimpi kamu?”


“Sekarang bahkan aku bisa denger suara kamu.” Biru tersenyum getir dengan tatapan sedihnya. “Apa semenyenangkan itu liburan keliling Eropa kamu sampai nggak mau pulang?”


“Keliling Eropa?” Tanya Jingga sambil mengernyitkan dahinya. Biru hanya mengangguk lemah.


“Kamu seneng, ya, ninggalin aku kayak gini? Karena nggak ada aku di sisi kamu, apa kamu bahagia?”


Jingga tak menjawab pertanyaan Biru, gadis itu hanya menatap lurus Biru dengan senyuman tipis. Tangannya kemudian terulur untuk menggenggam tangan Biru, lalu mengelus lembut punggung tangannya menggunakan ibu jari.


“Enggak.” Lirih Jingga pelan, nyaris seperti berbisik. “Sama sekali nggak menyenangkan, aku nggak bahagia.”


“Kenapa? Bukannya ini yang kamu mau? Lepas dari aku?”


Jingga menggeleng lemah, menatap Biru dengan tatapan sedih. “Cause I can’t stop thinking about you. I miss you, all day, everyday.”


“Haha. . . .” Seru Biru tertawa miris seolah tak percaya dengan penuturan Jingga. “Jangan membuat aku tertawa.”


“Aku cinta sama kamu.” Ucap Jingga kemudian seraya menangkup kedua sisi wajah Biru. Cowok itu tertegun dan menatap Jingga tak percaya.


“Apa?” Biru meminta Jingga untuk mengulangi ucapannya.


“Aku cinta sama kamu, sangat banyak.” Ulang Jingga seraya menghapus air mata yang membasahi pipi Biru dengan usapan lembut.


Biru ingin meminta Jingga mengulanginya lagi. Namun suaranya tercekat dan dia mulai menangis tersedu-sedu.


“Bohong. Aku tahu kamu nggak mau ada di sisi aku, karena saat bangun nanti, kamu pasti udah pergi lagi.” Ujar Biru dengan suara yang kian memberat. Dia kemudian menyerukkan wajahnya di ceruk leher Jingga, menyembuyikan tangisnya di sana.


“Kamu jahat, Jingga.” Sambungnya kemudian. Sebenarnya Biru ingin mengatakan kalau dia lebih mencintai Jingga, tapi entah kenapa mulutnya berucap tanpa kendali. “Tolong jangan pergi lagi.”


“Maafin aku. Aku nggak akan ke mana-mana lagi.” Sahut Jingga sambil mengelus lembut kepala Biru.


“Tapi nyatanya, kamu masih belum kembali.” Cicit Biru diiringi tangis yang mulai terisak.


“Aku akan segera kembali. Dengan sepenuh hati, aku akan kembali sama kamu. Kamu tahu kenapa?”


Biru hanya menggeleng lemah, menunggu Jingga untuk melanjutkan kalimatnya.


“Cause I’m your home.” Ucap Jingga lembut untuk kemudian membenamkan satu kecupan di puncak kepala Biru. Cukup lama.


Biru memejamkan matanya, merasakan ciuman di kepalanya yang begitu menenangkan dan terasa sangat nyata. Kalau boleh dia meminta pada Tuhan, semoga Dia tidak membangunkannya saja.


“Ini mimpi apaan, sih, Ji? Ini terlalu menyedihkan buat aku?” Biru bertanya-tanya dengan suara bergetar seiring dengan air matanya yang terus berhamburan melalui sudut matanya. “Tapi nggak apa-apa, aku seneng bisa lihat kamu kayak gini. Aku seneng ketemu kamu, bahkan kalau ini cuma mimpi.”


“Please, don’t cry.” Jingga mendekap Biru yang tubuhnya kian terguncang semakin kencang seiring dengan isak tangisnya yang semakin menjadi.


Dan di saat bersamaan, Biru merasakan tubuhnya semakin terguncang kencang, seolah seseorang tengah berusaha untuk membangunkannya dari alam bawah sadar.


“Bi, Biru.” Langit mengguncang tubuh Biru yang terlihat menangis dalam tidurnya. “Biru, wake up. Get up quickly.”


Langit meringis, ekspresinya antara bingung dan iba. Ini pertama kali dalam hidupnya Langit melihat orang menangis sambil tertidur.


Sekali lagi, Biru kembali terbangun dari tidurnya. Dia membuka matanya secara perlahan. Tapi kali ini penampakkan pertama yang dilihatnya adalah Langit yang sedang mengernyitkan dahi.


Mengerjapkan mata. Biru tersadar bahwa pertemuannya dengan Jingga tadi itu benar-benar mimpi. Ini kali pertama Jingga muncul di dalam mimpinya selama gadis itu pergi.


“Langit?” Ucap Biru dengan suara serak khas orang bangun tidur, dia kemudian terbangun dan beranjak duduk. Biru merasakan kepalanya sedikit pusing, mungkin itu efek menangis dalam tidurnya tadi.


“Mimpi apa lo sampai nangis kayak gitu? Mimpi basah?” Tanya Langit meledek sembari menyerahkan segelas air putih pada Biru.


Biru mendelik sebal. Baru saja bangun, Langit sudah melemparkan pertanyaan konyol padanya. Tanpa menjawab pertanyaan nyeleneh Langit, Biru meneguk air yang diberikan cowok itu hingga tandas. Tenggorokannya yang kering terasa sangat lega sekarang, dia juga sedikit lebih tenang.


“Lo ngapain di sini?” Tanya Biru setelah dia meletakkan gelas ke atas meja, merasa heran karena Langit tiba-tiba masuk ke ruangannya.


“Gue mau nunjukin video ini.” Sahut Langit yang kini sudah duduk di hadapan Biru seraya mengotak-atik ponselnya untuk menunjukkan video yang tadi dikirimkan Jingga untuknya.


Setelah Langit membersihkan diri di ruangannya, cowok itu nyaris saja tidur sebelum kemudian teringat tadi sore Jingga mengirimkan sesuatu ke surelnya. Lantas dengan segera dia bangun kembali dan mengambil ponsel yang dia letakkan di atas meja kerjanya, kemudian mengunduh file yang Jingga kirim.


Langit menggerutu antara senang dan kesal sekaligus, karena Jingga Jingga baru menghubunginya lagi setelah sekian lama. Terakhir kali gadis itu mengirimnya pesan empat bulan yang lalu, dia seolah hilang ditelan bumi.


Jingga hanya selalu menghubungi orang tuanya satu minggu sekali, itupun pada malam hari, tidak lama, dan hanya mengabarkan kalau dirinya baik-baik saja. Begitu menurut penuturan Ayah dan Bunda. Membuat semua orang khawatir saja,

__ADS_1


Tak ingin melihatnya sendirian, Langit memutuskan untuk melihatnya bersama Biru. Langit pikir, mungkin Biru akan senang dengan itu.


“Gue masih waras buat nggak nonton video blue, apalagi sama elo.” Sahut Biru malas dan hendak kembali merebahkan dirinya. Langit mendengus kesal, bagaimana bisa Biru berpikiran murahan seperti itu? Lagipula dia juga tidak mau mengotori mata sucinya dengan hal-hal semacam itu.


“Jingga ada hubungin gue.” Ujar Langit membuat Biru terkesiap. Seketika ucapannya tersebut membuat Biru mengurungkan niatnya untuk kembali tidur.


“Mana? Gue mau ngomong sama dia.” Dengan antusias, Biru menadahkan tangan, meminta Langit menyerahkan ponselnya.


“Bukan telepon, dia ngirim video lewat surel. Gue udah berusaha telepon dia, tapi kayak biasa nggak ada jawaban.” Jelas Langit seraya menghembuskan napasnya.


“Kenapa lewat surel?” Tanya Biru heran. Langit hanya mengedikkan bahunya.


“Gue belum lihat videonya. Ayo lihat bareng.” Ujar Langit kemudian seraya berpindah untuk duduk di sebelah Biru. Keduanya lalu fokus untuk melihat video yang dikirim Jingga setelah Langit mulai memutar video tersebut.


********


Sementara itu Jingga yang sudah bergabung dengan MSF, setelah empat bulan berada di Pakistan untuk memberikan bantuan medis kepada korban perang. Sekarang gadis itu berpindah tugas ke Yaman. Hari ini adalah tepat satu bulan dia berada di sana.


Saat di Pakistan, Jingga merasa dirinya baik-baik saja dan keberaniannya masih tinggi, di mana dia hanya dihadapkan dengan banyak pengungsi dalam kondisi yang sangat mengenaskan, terutama pasien anak kecil yang mengalami malnutrisi akut. Jingga menikmati tugasnya sebagai dokter di sana.


Namun nyalinya sedikit menciut saat dia berada di Yaman. Kondisi Yaman yang keadaannya jauh lebih mengerikan karena perang masih berkecamuk sangat menguji komitmennya sebagai tenaga medis.


“Hiks, aku mau pulang.” Rengek Jingga dalam hati saat mengetahui kalau jarak rumah sakit tempatnya bekerja dengan wilayah perang hanya sekitar lima km saja. Terlebih saat dia mengetahui kalau ada salah satu rumah sakit yang dibantu MSF dihantam peluru kendali dan menewaskan serta melukai beberapa staf rumah sakit, itu semakin membuatnya ragu untuk melanjutkan kegiatan amalnya itu.


Tapi melihat banyaknya pengungsi yang berbondong-bondong datang meminta bantuan, membuat hati Jingga terenyuh. Dia akan bertahan, setidaknya satu bulan saja.


Kalau begini, bagaimana dia tidak bisa melupakan Biru? Setiap hari Jingga hanya memikirkan dirinya dan berdoa untuknya sendiri agar diberikan keselamatan dan masih bisa hidup setidaknya sampai hari esok. Dia yakin, saat pulang ke Indonesia, Biru akan sepenuhnya hilang dari hati dan pikirannya.


Memang, awalnya Jingga dibuat senam jantung setiap harinya setiap kali dia mendengar dan melihat langit mendadak berubah warna menjadi merah tanda bom sedang diledakkan. Tapi setelah satu bulan dia berada di sana, telinga dan jantungnya sudah bisa beradaptasi dengan suara ledakan bom dan tembakan senapan. Dengan keadaan seperti itu, Jingga merasa jadi Kang Mo Yeon dalam serial drama Korea yang pernah dia tonton, karena nyaris setiap hari dihadapkan dengan situasi menegangkan.


“I want to go home, this is enough.” Gumam Jingga pelan saat dia berada di atap rumah sakit sembari menyaksikan cahaya merah di langit malam itu. Jingga menganggap itu adalah efek letupan kembang api yang besar.


“Pulang sana. Kamu ketakutan dan nggak tenang setiap harinya, mungkin itu karma karena kamu nggak ngasih tahu orang tua kamu. Walaupun kamu menjalankan tugas mulia, itu tetap salah karena kamu nggak mendapat izin dari orang tua.” Dokter Yaman yang seusia dengannya itu selalu mengingatkannya akan hal tersebut setiap kali Jingga mengeluh gelisah.


“Kamu bener, Ameera. Kayaknya aku emang harus pulang.” Sahut Jingga seraya menghembuskan napas berat.


“Lagian kamu aneh. Masa iya mau move on, tapi healingnya ke tempat kayak gini.” Ledek Ameera tak habis pikir dengan pikiran Jingga.


Sebab jika dia jadi Jingga, dia mungkin akan memilih pergi ke tempat yang lebih indah daripada ke tempat seperti ini, itu sama saja dengan bunuh diri. Apa Jingga memang berniat meninggalkan calon suaminya itu hingga ke akhirat?


“Yaaa aku pikir nggak bakalan seseram ini.” Ucap Jingga. Ameera mendengus geli memperhatikan wajah merengut Jingga yang terlihat menggemaskan.


“Sekarang, apa kamu berhasil ngelupain dia setelah pergi sejauh ini?” Tanya Ameera kemudian.


Sejenak Jingga terdiam, lalu mengalihkan pandangannya ke sembarang arah, memikirkan jawaban dari pertanyaan Ameera.


“Aku . . . .” Jingga kembali terdiam dengan tatapan kosong dan menggantungkan kalimatnya begitu saja.


“You’re still in love with him.” Ameera berdecak kecil seraya menyikut pelan lengan Jingga.


Jingga menggeleng pelan. “Aku nggak tahu. Tapi yang jelas, rasa sakit hati aku masih jauh lebih besar.”


“Jangan menyimpan dendam. Apa kamu lupa apa itu kata maaf?” Ameera kembali menasihati Jingga.


“Terus apa yang kamu bilang barusan?” Ameera menatap Jingga penuh ledekan.


“Maksudnya, aku emang udah maafin dia, tapi bukan berarti hati aku baik-baik aja.” Elak Jingga.


“Itu sama aja kamu masih menyimpan dendam, dasar bodoh.” Ameera terkekeh kesal.


“Ish, udah, deh, nggak usah bahas dia lagi. Kamu ngerusak suasana tahu, nggak? See, kembang apinya meledak lagi.” Jingga mengalihkan pembicaraan dengan menunjuk langit yang menyala merah. Ameera sendiri hanya mendengus.


Sejenak mereka terdiam, tenggelam dalam pikirannya masing-masing sembari menatap langit dengan cahaya merah dan suara dentuman seolah mereka sedang berada di festival kembang api.


“Ameera.” Panggil Jingga memecah keheningan di antara mereka.


“Hmm.” Ameera menoleh ke arah Jingga dengan satu alis terangkat.


“Ikut pulang sama aku.” Ajak Jingga sungguh-sungguh. Dia sudah memutuskan untuk pulang dalam waktu dekat. “Kamu bisa wujudin semia mimpi dan cita-cita kamu kalau ikut sama aku.”


Jingga teringat saat dengan iseng dia menanyakan tentang mimpi dan cita-cita pada Ameera. Namun, jawaban Ameera membuat Jingga terenyuh. Ameera mengatakan kalau dalam kondisi perang, tak ada waktu untuk memikirkan mimpi di masa depan. Yang dia pikirkan hanyalah rasa khawatir kalau-kalau mereka akan menjadi korban bom selanjutnya.


Maka dari itu, Jingga ingin mengajak Ameera pulang bersamanya agar dia tidak perlu khawatir akan nyawanya lagi, dan mulai memikirkan mimpinya.


“Terus gimana sama mereka yang masih butuh aku di sini?” Sahut Ameera. Jingga terdiam, tak ada kalimat balasan untuk itu.


“Kalau kamu mau bantu aku, cukup kirim banyak doa untuk keselamatan aku dan teman-teman yang lain.” Lanjut Ameera seraya menatap Jingga dengan tatapan sendu.


Untuk selanjutnya, Jingga berhambur memeluk Ameera. Tidak ada kata-kata yang bisa dia ucapkan lagi.


“Aku seneng bisa keemu sama kamu.” Ucap Jingga yang merasa beruntung bertemu dengan gadis itu. Keberadaan Ameera sangat membantunya yang merasa kesulitan di awal-awal kedatangannya.


“Aku juga. Pulanglah dengan selamat, dan jangan kembali lagi ke tempat kayak ini, Jingga.” Balas Ameera sambil mengusap punggung Jingga.


“Dan aku akan menasehati kamu sebagai seorang teman . . . .” Ujar Ameera seraya melepaskan pelukannya. Jingga menatapnya dengan alis yang saling bertaut. “Kalau nanti calon suami kamu meminta kesempatan, kamu harus ngasih itu.”


“Kenapa?” Tanya Jingga dengan raut wajah protes, membuat Ameera memutar bola matanya malas.


“Karena setiap orang berhak mendapatkan kesempatan kedua.” Sahut Ameera sambil mencolek gemas ujung hidung Jingga.


Jingga mendesis kesal, lalu menyanggah. “Tapi nggak setiap orang bisa ngasih itu.” Sanggah Jingga.


“Ish, jangan sampai kamu jadi orang keras kepala dan berakhir nyakitin diri kamu sendiri nantinya. Ingat baik-baik ucapan aku!” Ucap Ameera memperingati.


“Hmm.” Balas Jingga malas.


“Jingga.”


“Iya, Ameera.” Sahut Jingga penuh penekanan. Ameera tersenyum gemas dibuatnya.


Setelah mengobrol dengan Ameera, Jingga kembali tempat yang disediakan untuk staf medis beristirahat. Setiap malam memang Jingga akan kesulitan tidur seperti ini. Bagaimana tidak? Karena setiap malam adalah malam maut untuknya.


Mengingat dia akan segera pulang dalam waktu dekat, Jingga teringat Langit. Dia akan memberi cowok itu kejutan kepulangannya dan berpikir untuk memberikan spoiler terlebih dahulu. Dengan demikian, buru-buru dia mengambil ponsel miliknya dan merekam video dirinya untuk dia kirimkan pada Langit.

__ADS_1


********


“Hai, Langit. Apa kabar? Long time no see. Kamu pasti kangen sama aku, kan? Eits, jangan kesel dulu, aku nggak bermaksud untuk membuat kamu khawatir. Cuma, aku terlalu bersenang-senang di sini sampai nggak sempat buat chat atau telepon kamu.” Langit menekan pause saat videonya sedang berjalan.


“Sialan. Kamu tahu, nggak, gimana khawatirnya aku? Di sini aku khawatir dan kamu bersenang-senang?” Langit menggerutu kesal di depan video yang masih menampakkan wajah Jingga itu.


“Lo bisa diem dulu, nggak, sih?” Protes Biru mendengus kesal karena Langit menghentikan videonya. Lalu tanpa seizin Langit, Biru menekan tombol play untuk melanjutkan.


“Dengein dulu aku ngomong dan jangan ngomel lagi.” Jingga seolah tahu apa yang akan terjadi setelah Langit melihat videonya.


“Sebelumnya, maafin aku karena nggak pernah mau ngasih tahu aku ada di mana dan berapa lama. Aku cuma butuh waktu sendiri dan liburan dengan tenang. Dan ternyata, liburan sendiri tanpa kamu kayak gini emang seru.”


“Banyak tempat indah dan menyenangkan yang udah aku kunjungi, apalagi tempat yang sekarang. Tahu, nggak? Saking bagusnya tempat ini, jantung aku sampai berdebar setiap hari. Aku mau nikmatin semua ini sendirian, makannya aku nggak ngasih tahu kamu karena nggak mau berbagi.”


“Ohh, iya. Aku juga dapat banyak teman baru di sini. Dan yang paling menarik, hampir tiap hari aku lihat banyak cowok ganteng dan seksi (tentara) di sini, itu jadi salah satu alasan kenapa aku belum mau pulang. So, kamu nggak usah khawatir aku pergi jauh sendirian, karena aku bener-bener bersenang-senang dan bisa menjaga diri dengan baik.”


“Tapi Langit, kayaknya ini udah terlalu lama. Kayaknya udah saatnya aku pulang. See, aku akan ngasih kamu kejutan nanti. Kamu tahu apa kejutannya? Kepulangan aku.” Jingga berseru senang sembari menunjuk dirinya sendiri.


“Kamu siap-siap, ya. Kita akan melakukan banyak hal yang menyenangkan lagi setelah aku pulang. Aku janji, kalau kamu mau, aku akan nemenin kamu keliling ke 10 mall sekaligus buat gantiin waktu kita yang hilang selama 5 bulan ini.”


“Udah dulu, yaa. Intinya, aku cuma mau ngasih tahu itu. I’ll be back.” Pungkas Jingga mengakhiri videonya.


Biru memasang raut wajah sedih selama dia menyaksikan video dari Jingga. Rasa iri menyusup ke dalam hatinya. Biru cemburu dengan Langit yang mendapatkan kiriman video dari Jingga, dan dia sedih karena di sepanjang video, Jingga bahkan tak menyebut namanya barang satu kali. Kenapa hanya Langit? Padahal, Biru juga menunggu kepulangannya.


“Sorry, gue nggak bermaksud bikin lo cemburu, Bi.” Ucap Langit tak enak hati. Dia tidak bodoh untuk tidak bisa membaca perubahan air muka Biru. Seketika Langit menyesal karena tidak melihat isi videonya terlebih dahulu sendirian.


“I’m okay. Gue seneng, kok, karena dapat kabar Jingga akan pulang.” Tutur Biru dengan senyum dipaksakan. Setidaknya mendengar Jingga mengatakan dirinya akan segera kembali membuat hatinya senang. Itu berarti, mimpinya tadi akan menjadi kenyataan.


“Tapi, sayang banget dia nggak bilang kapan tepatnya bakalan pulang.” Langit mendesah lemah.


“Gue harap secepatnya.” Lirih Biru pelan.


Langit mengangguk. “Gue harap juga begitu.”


“Ya udah, kalau gitu lo keluar sekarang, terus nanti kasih tahu gue kalau Jingga ada ngehubungin lo lagi.” Usir Biru kemudian.


“Ish, ngeselin lo.” Langit mendengus kesal seraya beranjak dari duduknya utuk pergi meninggalkan ruangan Biru.


Biru sendiri hanya menatap punggug Langit hingga menghilang dibalik pintu kaca. Perasaannya campur aduk antara senang dan cemburu. Senang karena mendapat kabar jika Jingga akan pulang, dan dia cemburu karena gadis itu memberi Langit kabar, tapi tidak dengan dirinya.


********


Keesokan harinya, Biru keluar dari rumah sakit dan pergi ke kedai kopi untuk menemui temannya saat di Sekolah Kedokteran dulu yang kebetulan sedang berlibur di Indonesia. Masih ingat, kan, dengan teman seperjuangan Biru di Sekolah Kedokteran Amerika yang bernama Amber?


Tadi pagi gadis itu menghubungi dan memintanya untuk bertemu. Amber mengatakan dia akan memberinya undangan pernikahan. Lantas Biru meminta Amber untuk bertemu di kedai kopi yang ada di rumah sakitnya.


“Amber.” Sapa Biru dengan senyum mengembang seraya menghampiri dan berhambur memeluk gadis bermata hazel itu.


“Apa kabar, Bi?” Tanya Amber setelah melepas pelukannya.


“Kabar baik, kamu sendiri apa kabar?” Tanya Biru dan mengambil duduk berhadapan dengan Amber.


“Lebih baik.” Jawab Amber sambil menyunggingkan senyum terbaiknya.


Biru berdecak kecil, lalu meledek gadis itu. “Jelas aja, kamu sebentar lagi mau nikah.”


“Haha. Ini, nanti datang sama pacar kamu.” Amber menyerahkan undangan pernikahannya pada Biru.


“Ngomong-ngomong, mana dia?” Tanya Amber membuat Biru mengernyitkan alisnya tak mengerti.


“Siapa?” Tanya Biru.


“Cewek yang sama kamu di restoran Italia waktu itu.” Jawab Amber. Biru sejenak berpikir untuk mengingat-ingat. Dia ingat, beberapa bulan yang lalu bertemu dengan Amber adalah saat dia makan malam di restoran Italia bersama Luna.


“Ohh, Luna? Kan aku udah bilang dia bukan pacar, dia teman aku.” Sahut Biru tegas.


“Yaa yaaa, just friend.” Amber mengerlingkan mata seolah tak percaya. Biru hanya mendengus.


“Jadi, tiga minggu lagi kamu akan menikah?” Tanya Biru mengalihkan pembicaraan seraya membaca tanggal yang tertera pada undangan pernikahan tersebut. Masih lama, tapi Amber sudah memberinya undangan secepat ini.


“Bali? Kamu menikah di Bali?” Biru sedikit terkejut saat membaca tempatnya.


“Iya. Itu karena calon suami aku orang Bali.” Jawab Amber senang.


“Wahh, aku nggak nyangka kamu dapat orang Indonesia.” Ucap Biru ikut senang. “Tapi, itu buat siapa lagi?” Tanyanya kemudian, penasaran karena masih ada dua buah undangan di dekat Amber.


“Ohh, iya. Ini buat teman dokter aku yang dulu kerja di John Hopkins. Tahu, nggak? Ternyata mereka juga kerja di rumah sakit yang sama dengan kamu, Bi.” Jawab dan jelas Amber antusias.


“Ohh, ya? Siapa?” Mata Biru berbinar cukup senang, dunia ini sempit sekali.


“Langit. . . .” Amber melambaikan tangannya tatkala teman dokter yang ternyata Langit itu tengah berjalan mengahampirinya.


“Amber. Aku kangen banget sama kamu.” Langit mendekati dan memeluk Amber.


“Aku juga.” Jawabnya seraya mempererat pelukannya.


“Amber?” Panggil Biru yang berusaha mencerna situasinya. Mendengar itu Amber langsung menarik diri dan mengalihkan atensinya pada Biru, pun dengan Langit melakukan hal yang sama.


“Amber, jadi teman dokter yang kamu bilang itu Langit?” Tanya Biru memastikan. Sama halnya dengan Biru, Langit juga terkejut mendapati Biru duduk bersama Amber.


“Haha, dunia ini bener-bener sempit, ya. Kalian saling kenal? Ohh, iya, jangan bilang kamu kenal sama Jingga juga?” Amber balik bertanya.


“Kami berteman baik.” Biru menganggukkan kepalanya. Langit berdecih geli. Masih terasa aneh di telinganya setiap kali mendengar kata “teman baik” dari mulut Biru.


“Ya bagus kalau gitu. Kita nggak akan canggung kalau mau kumpul-kumpul lagi kayak ini.” Seru Amber tersenyum senang.


“By the way. Apa Jingga belum pulang dari Yaman?” Tanya Amber kemudian karena tak melihat Jingga ikut bersama Langit.


“Ya–Yaman? Apa maksud kamu, Amber?” Tanya Langit yang gagal mencerna apa dikatakan Amber.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2