
********
Siang itu, Biru mencari Jingga untuk mengajaknya makan siang bersama sekalian membahas apartemen. Biru akan membuat gadis itu segera pindah dari apartemennya yang sekarang.
“Jingga di mana?” Biru bertanya-tanya dalam hati. Pasalnya, dia sudah menghubungi Jingga lewat telepon, tapi gadis itu kembali mengabaikan panggilannya, pun saat dia datang ke ruangan Jingga, Biru tak menemukannya di sana.
Selain itu, Biru juga bertanya pada Hana, tapi perawat itu mengatakan kalau terakhir kali dia bertemu saat di ruang UGD, dan Jingga keluar lebih dulu.
“Bi, kamu mau ke mana?” Panggilan dan pertanyaan seseorang menghentikan langkah Biru yang baru memasuki area taman samping rumah sakit.
“Luna.” Gumam Biru sesaat setelah dia melihat sosok yang memanggil namanya.
“Kamu mau ke mana, Bi?” Ulang Luna sekali lagi.
“Aku mau nyariin Jingga.” Wajah Luna seketika berubah masam setelah mendengar itu.
“Kenapa nggak di telepon aja?” Tanya Luna heran.
“Jingga nggak angkat telepon aku.” Jawab Biru seraya kepalanya celingukkan mencari-cari siapa tahu Jingga ada di sina, mengingat kemarin pagi dia juga menemukan Jingga di taman itu.
Melihat Biru yang celingukkan, kepala Luna juga ikut bergerak untuk mencari sosok Jingga. Dia penasaran, untuk apa Biru mencari-cari Jingga seperti ini?
“Itu bukannya Jingga, ya?” Matanya memicing untuk memastikan yang dilihatnya benar-benar Jingga, gadis itu terlihat sedang duduk di salah satu kursi taman bersama seseorang.
Biru mengikuti arah pandang Luna, sorot matanya menatap tak suka saat mendapati Jingga yang tengah duduk berdua dengan Langit. Tanpa banyak bicara, dia melangkahkan kakinya untuk menghampiri Jingga.
Namun langkahnya terhenti saat dengan samar dia mendengar percakapan mereka. Biru mengepalkan tangannya geram saat telinganya menangkap Langit mengatakan perasaannya pada Jingga adalah urusannya.
“Dia berani-beraninya. . . .” Biru menggeram dalam hati. Rasanya dia tidak terima ada cowok lain yang menyukai Jingga, terlebih menyatakannya secara terang-terangan seperti Langit.
“Jadi Langit suka sama Jingga?” Gumam Luna pelan agar suaranya tak terdengar Jingga dan Langit yang sedang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini.
“Jingga tahu itu, seharusnya dia bisa menjaga jarak. Apalagi dia sama kamu sebentar lagi mau nikah, Bi.” Luna dengan sengaja mengatakan itu untuk membuat emosi Biru tersulut. “Tapi aneh aja malah biarin Langit untuk tetap dekat sama dia.”
Mata Luna melebar saat melihat Jingga yang tiba-tiba memeluk Langit, dia tersenyum menyeringai. Sungguh pemandangan yang menarik dan pada waktu yang tepat.
Sementara Biru, dia semakin menatap mereka dengan marah, rahangnya sudah mengetat. Biru merasakan wajah dan hatinya sangat panas. Ingin sekali dia melepas paksa tubuh Jingga yang sedang memeluk Langit, lalu mendaratkan pukulan keras di rahang cowok itu. Tapi niatnya diurungkan karena ponselnya tiba-tiba berdering, tanda ada panggilan darurat.
Mendengus kasar, lantas dengan perasaan marah dan kesal dia beranjak dari tempatnya.
“Dasar serakah.” Luna melihat Jingga dengan tatapan penuh kebencian. Tatapannya seolah memandang rendah Jingga yang ingin memiliki dua cowok baik itu sekaligus di sisinya.
********
Sore hari, Biru sengaja menunggu Jingga di dekat ruangannya. Dia akan menegur Jingga dan benar-benar membawa pindah dari apartemennya sekarang juga agar gadis itu tidak dekat-dekat dengan Langit lagi.
Tak lama kemudian, dia melihat Jingga yang sedang berjalan untuk masuk ke ruangannya sambil mengulum senyum tipis. Wajahnya tidak murung seperti kemarin dan tadi pagi saat bersamanya.
“Semenyenangkan itu dapat pengakuan cinta dari Langit?” Biru dengan pikiran dangkalnya selalu membuat dirinya sendiri salah paham. Emosinyapun semakin membuncah, lantas buru-buru dia menghampiri dan menarik tangan Jingga sebelum gadis itu masuk ke dalam ruangannya.
Namun tanpa mereka sadari, Langit yang memang sengaja akan ke ruangan Jingga untuk mengajaknya ke mall setelah pulang kerja, melihat Biru yang sedang menarik paksa tangan Jingga.
Dia heran kenapa Biru memperlakukan Jingga sekasar itu? Karena yang dia tahu, hubungan mereka belakangan ini baik-baik saja.
Penasaran, Langit mengikuti ke mana Biru akan membawa Jingga pergi, hingga akhirnya dia menyaksikan semuanya. Terlebih saat dia mendengar kata-kata rendahan yang dilemparkan Biru pada Jingga, membuatnya bergegas menghampiri Biru dengan marah.
PLAAAK . . . .
Satu tamparan keras berhasil mendarat di pipi Biru hingga cowok itu terhuyung ke belakang. Namun, Jingga dibuat terbengong-bengong dengan itu. Tangannya masih melayang di udara, belum sempat mengenai pipi Biru.
Jingga menoleh ke arah orang yang telah menggantikannya menampar Biru.
“Langit.” Mata Jingga mengerjap. Kenapa dia ada di sini? Kenapa jadi begini? Jingga ingin menampar Biru dengan tangannya sendiri sampai babak belur. Langit mengacaukannya.
“Ini karena lo udah membuat Jingga terdengar kayak cewek rendahan.” Bentak Langit marah.
Jingga membelalak, karena seumur hidupnya mengenal Langit, dia belum pernah melihat wajah Langit dengan rahang mengeras seperti itu. Cowok dengan tingkah laku konyol dan selalu cengengesan itu ternyata memiliki emosi yang bisa dia tunjukkan juga.
PLAAAK . . . .
Satu tamparan sekali lagi Langit daratkan di pipi Biru. Sangat keras, hingga darah segar mengalir dari sudut bibir cowok itu. Jingga sedikit meringis, dia yakin pipi Biru akan memar dan sulit menggerakkan bibirnya setelah ini.
“Ini karena lo udah bersikap kejam ngatain dia pick me. Siapa lo berani-beraninya ngomong kayak gitu, HAA?” Bentak Langit sekali lagi dengan emosi yang menggebu-gebu.
Tak sampai di situ, sebelum Biru bergerak dan membalasnya, Langit buru-buru meraih kerah kemeja yang dikenakan Biru . Satu tangannya melayang di udara, siap memberikan bogeman mentah di wajah tampan cowok itu sekali lagi.
“Lang . . . .” Suara Jingga menghentikan niat Langit untuk memukul Biru. Gadis itu menggeleng-gelengkan kepala, sorot mata yang sudah dipenuhi air mata itu memelas agar Langit tidak melakukannya.
“Kita pergi aja, Lang.” Ucap Jingga susah payah dengan suara tercekat karena menahan sakit di hatinya.
“DAMN.” Umpat Langit seraya menghempaskan tubuh Biru dengan kasar. Tangannya kini beralih, meraih lengan Jingga untuk dia bawa pergi.
“Ji . . . .” Biru meraih lengan Jingga yang satunya, menghentikan langkah gadis itu yang bersiap pergi. Ekspresi menyesal nampak di raut wajahnya.
Langit dengan sigap menyentak tangan Briu hingga terlepas dari pergelangan tangan Jingga.
“Lain kali, seharusnya lo berpikir dua kali sebelum mengeluarkan kata-kata yang nggak masuk akal.” Langit menggeram menahan emosi, dia menatap Biru dengan tatapan ingin membunuh.
Jingga sendiri hanya memalingkan pandangannya ke sembarang arah, enggan untuk melihat wajah Biru.
“Gue emang suka sama Jingga. Tapi Jingga nggak kayak itu, kata-kata lo terdengar sangat murahan, Prof. Biru.” Ucap Langit kemudian dengan penuh penekanan di akhir kata. Jingga yang memang sudah tidak kuat untuk sekedar membuka mulutnya, hanya bisa membiarkan Langit mewakili apa yang ingin dia ucapkan.
“Dan satu lagi. Lo nggak usah nahan-nahan Jingga lagi, baik dengan alasan perjodohan atau kesembuhan ingatan elo.” Langit mendorong dada bidang Biru dengan sebelah tangan, hingga membuat cowok itu sedikit limbung.
“Lo nggak berhak ngomong kayak gini!” Sambar Biru menatap tajam Langit.
“Dan elo lebih nggak berhak nyakitin Jingga! Lepasin dia. Jingga nggak butuh cowok brengsek kayak lo. Lo nggak pantes sama dia.” Balas Langit menohok.
“Ji, aku–”
Jingga menepis tangan Biru yang nyaris meraih pergelangan tangannya. Tatapan cowok itu nampak memelas, tapi buru-buru Jingga kembali memalingkan wajahnya.
Pada akhirnya, gadis itu membiarkan Langit membawanya pergi dari sana, meninggalkan Biru tanpa sepatah katapun yang terucap dari mulutnya.
Biru hanya bisa terdiam lesu dengan rasa sesal yang mulai menyelinap di hatinya, menatap kepergian Jingga yang semakin jauh dari pandangannya.
********
Biru mengendarai mobilnya dengan perasaan kalut, tujuannya adalah apartemen Jingga. Perasaannya kini bercampur aduk dan meluap-luap, antara rasa marah dan perasaan bersalah bercampur menjadi satu.
Karena tidak terima Jingga memeluk Langit seperti itu, ditambah dia mengetahui Langit menyatakan perasaannya pada Jingga secara terang-terangan, seketika membuat emosinya tersulut dan lepas kendali.
“I’m fucked up.” Umpat Biru, semuanya terasa kacau balau akibat dirinya sendiri.
“Angkat, Ji.” Gumam Biru dengan tatapan gusar saat panggilan teleponnya tak kunjung mendapat jawaban.
“SHIT*.” Biru terus mengumpat, sesekali dia memukul keras setir mobilnya.
Hingga sampai di apartemen Jinggapun, Biru tak mendapati Jingga di sana. Begitupula saat dia menekan bel apartemen Langit, cowok itupun tak membuka pintu apartemennya. Sepertinya mereka memang tidak pulang.
Biru menghela napas kasar, tangannya mengepal keras hingga urat pada buku-buku jarinya menonjol. Darahnya kembali mendidih saat di pikirannya terlintas Jingga pergi berdua dengan Langit.
Dengan hati berkecamuk, Biru kembali mengemudikan mobilnya, menyusuri jalanan yang tampak padat karena ini jam pulang kerja.
“Damn!” Biru kalang kabut, tak tahu harus mencari Jingga ke mana lagi saat dia kembali tak mendapati Jingga di taman bermain.
Dengan langkah gontai, dia menghampiri ayunan dan duduk di sana. Biru terdiam, berkutat dalam pikirannya sendiri.
Apakah dia menyesal?
Jujur, Biru sangat menyesal karena emosi telah mengalahkan akal sehatnya. Biru sadar, kali ini dia memang sudah sangat keterlaluan.
__ADS_1
Biru tak bermaksud untuk mengatakan hal seperti itu pada Jingga, itu terlontar begitu saja dari mulutnya seiring dengan emosi yang menguasai hati dan pikirannya.
Entahlah, Biru memang tidak bisa mengendalikan dirinya saat melihat Jingga dekat atau tertawa dengan cowok selain dirinya, apalagi melihatnya berpelukan seperti tadi. Biru tidak suka, hingga akhirnya dia akan marah pada Jingga tanpa berpikir, dan berakhir menyakitinya tanpa dia sadari. Karena saat emosi menyelimuti dirinya, Biru selalu merasa benar dan tak bisa berpikir dengan baik.
Jika ditanya bagaimana perasaan Biru pada Jingga. Jujur saja, dia bingung. Pada awalnya, dia tidak melepaskan Jingga karena memang butuh gadis itu. Biru sama sekali tidak tertarik untuk menyukai Jingga. Ingatkan saja dia skeptis terhadap gadis cantik yang mandiri.
Tapi seiring berjalannya waktu, kehadiran gadis itu mulai mengganggu pikiran dan hati Biru yang selama ini terasa kosong dan hampa. Senyum dan wajah Jingga selalu ada di kepalanya saat Dia akan tidur, bahkan saat sedang sibuk sekalipun.
Selain itu, Biru juga senang berbagi cerita saat dia mengingat sesuatu, Jingga adalah orang pertama yang selalu dia beri tahu lalu Biru semakin terganggu saat melihat Jingga dekat atau tertawa dengan cowok lain. Dia tidak bisa menerima itu.
Tapi meski demikian, Biru sangsi jika itu adalah cinta. Karena kebingungan akan perasaannyalah, tanpa sadar Biru telah bersikap keterlaluan dan membuat hati Jingga terluka.
Satu-satunya alasan yang jelas Biru ingin Jingga ada di sisinya adalah karena dia butuh.
“Aww . . . .” Biru mengerang sembari memegang kepalanya yang mendadak berdenyut nyeri. Dia mengerjap-erjapkan mata saat pandangannya sedikit mengabur.
“You’re the one I love, Jingga. Aku nggak akan bisa jatuh cinta sama cewek lain.”
Biru memejamkan matanya dalam saat potongan ingatannya muncul. Dia mencoba mengingatnya lebih jauh.
“Kamu harus jadi dokter yang sukses dan banyak uang. Soalnya aku suka jajan.”
Selanjutnya, tawa geli Jingga terngiang-ngiang di kepalanya.
Biru menenangkan diri dengan metode inhale exhale karena napasnya sedikit memberat seiring dengan kepalanya yang terasa sakit.
Setelah itu, dia memutuskan untuk pulang, dan menemui Jingga besok saja. Dia sempat berpikir untuk menanyakan Jingga pada orang tuanya, tapi hari sudah malam. Rasanya tidak sopan dan akan aneh jika dia malam-malam menelepon atau datang ke rumah menanyakan Jingga.
********
Langit memang selalu tahu bagaimana cara menghibur Jingga. Kini mereka duduk di kursi panjang yang terbuat dari bambu, menikmati pemandangan dari ketinggian di Bukit Bintang. Tempat itu cukup untuk menghibur hati Jingga yang gamang.
Jingga berdecak kagum saat matanya disuguhi keindahan bintang yang bertaburan menghiasi langit malam. Belum lagi pemandangan citylight yang tampak mempesona dari puncak bukit tersebut. Pancaran lampu-lampu kota itu juga bisa didefinisikan sebagai bintang yang menambah keindahan panoramanya.
“Ehh.” Jingga terkesiap saat Langit tiba-tiba menyampirkan jacketnya di sepanjang bahu Jingga agar gadis itu tidak kedinginan.
“Kalau kamu hipotermia, itu pasti bakal ngerepotin aku.” Langit langsung menyambar sebelum Jingga membuka suaranya.
“Ish, dasar. Padahal kamu, tuh, cukup diem aja, Lang. Biar kelihatan romantis gitu.” Dengus Jingga seraya merapatkan jacket Langit ketika udara dingin menusuk kulitnya. Nampak bibir gadis itu juga sedikit memucat karena memang udara di puncak bukit tersebut sangat dingin saat malam hari.
“Nggak, ahh. Nanti kamu baper.” Gurau Langit yang dibalas delikkan sebal oleh Jingga.
“Becanda . . . .” Ucap Langit kemudian sembari mengacak-acak rambut Jingga dengan gemas.
“Ngeselin.” Jingga mendengus kesal seraya merapikan kembali rambutnya yang berantakan. Sementara Langit hanya terkekeh geli melihatnya.
Sejenak, kebisuan kembali mengambil alih. Keduanya hanyut dalam keheningan malam dan pikirannya masing-masing. Hanya hembusan napas berat yang meriuhkan suasana hening di antara mereka.
“Lang. . . .” Panggil Jingga lirih.
“Hem?” Langit menoleh ke arah Jingga seraya mengangkat sebelah alisnya.
“What should I do?” Tanya Jingga lemah. Pandangannya menerawang lurus pada hamparan lampu kota di bawah sana.
Jauh sebelum tiba di Bukit Bintang, sebelumnya Jingga menceritakan semua tentang Biru pada cowok itu. Tentu saja hal tersebut membuat Langit geram dan semakin ingin memukuli Biru. Selain itu, Langit juga sedikit kesal karena Jingga memendam semuanya sendirian dan tak berbagi dengannya.
“Nggak apa-apa, kamu bisa berhenti sekarang.” Jawaban Langit seketika membuat Jingga menolehkan kepala ke arahnya, dan menatapnya dengan binar mata sendu.
Menghembuskan napas kasar, Langit sungguh menyesal dulu sempat menyarankan Jingga untuk jangan menyerah pada Biru.
“Tapi gimana sama Ayah – Bunda? Orang tua Biru juga?” Hal ini menjadi salah satu alasan yang membuat Jingga berat mengambil keputusan untuk mengakhiri semuanya.
“Kamu sendiri gimana? Kamu nggak apa-apa terus terluka kayak gini?” Pertanyaan Langit membuat Jingga menggelengkan kepalanya lemah. Tentu saja dia tidak mau, dia juga harus menyayangi dirinya sendiri. Jingga tidak akan membiarkan orang lain menyakiti dirinya sesuka hati.
“Kalau gitu, kamu bisa lepasin dia sekarang.” Tutur Langit kemudian seraya meraih satu tangan Jingga untuk digenggamnya.
“Udah cukup, jangan berusaha keras sendirian lagi. Kamu udah ngelakuin semua yang kamu bisa.” Imbuh Langit.
“Aku yakin kamu bisa mengambil keputusan yang terbaik, Ji.” Ucap Langit seraya mengulum senyum simpul. “Ingat, yang akan ngejalanin semuanya itu kamu.”
Gadis itu menjilat bibirnya yang terasa kering, bergeming menatap Langit yang tersenyum teduh padanya.
“Kalau gitu beliin aku makanan enak sekarang.” Pinta Jingga, membuat Langit menatapnya dengan kening berkerut heran.
“Aku harus nyiapin banyak tenaga buat ngasih pengertian sama Ayah dan Bunda.” Lanjut Jingga dengan senyum mengembang.
“Let’s go . . . .” Seru Langit dengan senyum yang tak kalah mengembang. Cowok itu kemudian beranjak dari kursi dan mengulurkan tangannya untuk membantu Jingga berdiri. Namun Jingga malah menepis uluran tangan tersebut.
“Kenapa?”
“Aku mau kamu gendong aku.” Lantas tanpa aba-aba, Jingga melompat ke punggung Langit dan melingkarkan tangannya erat di lehernya. Aksinya yang tiba-tiba itu seketika membuat tubuh Langit nyaris tersungkur ke depan.
“Kamu berat, Ji.” Protes Langit. Tapi meski demikian, dia mulai berjalan menuju warung makanan yang tersedia di sana.
“Ihh, enak aja. Bukannya aku ringan banget, ya, kayak bayi?” Jingga mendengus tak terima, lalu dengan santai meletakkan dagunya di bahu Langit.
“Iya, bener. Kamu emang ringan kayak bayi, tapi bayi gajah.” Balas Langit meledek. Jingga mendengus sebal dan memberi pukulan di bahu Langit dengan gemas.
Keduanya lalu tertawa ringan. Sesekali Langit menjahili Jingga dengan berpura-pura akan menjatuhkannya, jelas saja hal itu membuat Jingga mengomel padanya.
“LANGIT.” Jingga memekik nyaring sembari mengeratkan tangannya yang melingkar di leher Langit agar tak terjatuh.
“Ji, kamu mau bunuh aku?” Langit protes karena lehernya merasa tercekik.
********
Keesokan harinya, Jingga datang ke rumah sakit diantar oleh Langit dengan tergesa-gesa. Subuh hari dia mendapat panggilan darurat dari Albi. Katanya, ibu hamil dengan riwayat gangguan jantung bawaan yang kemarin dia periksa akan segera melahirkan, namun kondisinya tidak baik.
Alhasil, Jingga yang masih dirundung rasa kantukpun harus bangun dan melakukan tugasnya sebagai seorang dokter. Jingga meminta Langit mengantarnya karena mobil miliknya masih di rumah sakit.
“Thank you.” Ucap Jingga saat Langit menghentikan motornya di depan rumah sakit. Namun Langit kembali memanggilnya, sehingga membuat gadis itu berbalik menatapnya.
“Helmnya, Ji . . . .” Langit memutar bola matanya malas. Kebiasaan Jingga sejak SMA tidak hilang.
“Ahh, iya.” Jingga nyengir lebar untuk kemudian menyerahkan helmnya pada Langit. Sengaja cowok itu memilih untuk naik motor agar mereka cepat sampai di rumah sakit.
Jingga mengambil langkah besar agar segera sampai di ruang operasi. Dia berharap kedatangannya tidak terlambat.
Beberapa jam kemudian . . . . .
Jingga keluar dari ruangan operasi sekitar pukul tujuh pagi. Terjadi serangan jantung di tengah operasi, oleh karena itulah dia sedikit lebih lama menangani pasien tersebut.
Jingga meregangkan otot-ototnya yang kaku sembari menguap lebar-lebar. Untung saja tidak ada orang di koridor yang sedang dia lewati saat ini.
Masuk ke ruangannya, dia kemudian merebahkan diri di sofa dengan satu tangan dia simpan di atas keningnya. Jingga tidak tidur, pandangannya lurus menatap kosong langit-langit ruangannya.
Jingga merenung, memikirkan harus mulai dari mana dia menjalankan keputusnnya.
Keputusan Jingga sudah bulat. Dia akan mengakhiri semuanya dengan Biru, dan akan menerima segala kemungkinan konsekuensi yang akan dia dapatkan.
“Satu mingggu.” Gumam Jingga seraya menghembuskan napas berat. Kemungkinan Jingga hanya butuh waktu satu minggu untuk menyelesaikan semuanya, sesuai dengan apa yang telah dia rencanakan tadi malam selama merenung di kamarnya.
Setelah sekitar setengah jam bergelut dengan pikiran dan hatinya, dia kemudian beranjak bangun, lalu bergegas ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan mengganti bajunya dengan seragam scrub yang baru, karena Jingga harus bersiap-siap untuk orang pertama yang akan dia temui dan beritahu tentang ini.
********
“Dokter Jingga . . . .” Giselle tersenyum ramah menyapa Jingga.
“Pak Direktur ada di dalam nggak, Mbak? Maksud aku, beliau nggak lagi sibuk, kan?” Tanya Jingga sedikit ragu.
“Enggak, kok. Kamu bisa langsung masuk saja, Dok.” Jawab Giselle mempersilahkan Jingga masuk tanpa berniat mengantarnya, dia berpikir karena Jingga adalah calon menantu dari atasannya, maka dia bisa sedikit membebaskan gadis itu.
__ADS_1
“Oke, makasih, Mbak Giselle.” Ucap Jingga dengan senyum mengembang.
Tak langsung mengetuk, sejenak Jingga mematung di depan pintu untuk menenangkan dirinya. Dia meremas tangannya yang mulai berkeringat dingin, nyali Jingga sedikit menciut. Membayangkan dia akan kena damprat dari Om Rendi di dalam sana nanti.
“Huuft.” Jingga menghembuskan napas panjang, untuk kemudian mengetuk pintu kaca di depannya. Jingga lalu masuk dengan kaki gemetar setelah mendapat sahutan.
“Selamat pagi, Om.” Sapa Jingga gugup, namun dia berusaha menyembunyikannya. Ini kali pertama dia berhadapan dengan Om Rendi, hanya berdua.
“Duduk, Ji.” Om Rendi meminta Jingga untuk duduk di hadapannya.
“Ada apa, Ji?” Tanya Om Rendi, heran mendapati calon menantunya menemuinya seperti ini.
“Eung. Sebelumnya aku minta maaf karena mengganggu waktunya, Om.” Ujar Jingga sedikit tak enak hati.
“Kebetulan Om lagi nggak sibuk, kok. Jadi kamu santai aja.” Sahut Om Rendi sambil menyunggingkan senyumnya.
“Jadi begini . . . .” Jingga menarik napas dalam-dalam untuk menetralisir rasa gugupnya.
“Sebenarnya aku ke sini untuk urusan pekerjaan dan pribadi.” Lanjut Jingga mulai mengutarakan niatnya.
“Iya?” Tanya Om Rendi penasaran.
“Yang pertama, soal pekerjaan. Aku mau nyerahin ini.” Dengan tangan gemetar, Jingga mengambil sebuah amplop dari saku jasnya, lalu menyerahkan amplop tersebut pada Om Rendi.
“Surat pengunduran diri?” Om Rendi nampak terkejut sekaligus bingung. “Kenapa, Ji?”
Jingga menggigit bibir bawahnya keras-keras, dia bingung lagi menyusun kalimat untuk dikatakan pada lelaki paruh baya di hadapannya itu.
“Atau karena kamu akan segera menikah dan bersiap-siap untuk jadi ibu rumah tangga?” Lanjut Om Rendi menggodanya. Jingga hanya tersenyum canggung.
“Om nggak masalah kalau begitu. Hanya saja, sayang pendidikan kamu. Rumah sakit ini juga masih sangat memerlukan kamu.” Ucapnya kemudian, sedikit menyayangkan.
“Bukan begitu, Om.” Sambar Jingga. Menarik napasnya lagi, dia kemudian memberanikan diri untuk menatap Om Rendi dengan serius.
“Justru karena aku nggak mau nikah sama Kak Biru. Makannya aku berniat untuk mengundurkan diri dari rumah sakit ini. Maaf, Om.” Suara Jingga mencicit di akhir kalimat, dia buru-buru menundukkan kepalanya, takut dengan reaksi yang akan diberikan Om Rendi.
“Apa maksud kamu, Ji?” Tanya Om Rendi. Jingga mendongak takut-takut, ekspresinya Om Rendi sungguh tak terbaca.
“Aku nggak mau ngelanjutin perjodohan ini, Om. Aku nggak bisa nikah sama Kak Biru.” Jawab Jingga tegas.
“Kalian ada masalah? Apa Biru udah nyakitin kamu?” Tanya Om Rendi lagi dengan sorot mata penuh selidik.
“Enggak. Kami nggak ada masalah apa-apa, kok. Aku cuma nggak mau aja.” Bantah Jingga, tapi perubahan raut wajah Jingga yang menjadi sedih tak bisa membohongi Om Rendi.
Lelaki paruh baya itu menghembuskan napas kasar. “Om nggak akan menerima surat pengunduran diri kamu.”
Jingga terkejut dan blingsatan melihat Om Rendi malah merobek surat pengunduran dirinya.
“Sekalipun kamu nggak menikah sama Biru, kamu akan tetap bekerja di sini, karena rumah sakit ini butuh kamu.” Lanjut Om Rendi.
“Oke, kalau gitu aku nggak akan mengundurkan diri, tapi aku minta Om izinin aku untuk mengakhiri perjodohannya.” Jingga mencoba membuat kesepakatan. “Aku mohon, Om.” Pintanya memelas.
“Berikan Om alasan yang jelas, kenapa kamu mau mengakhrinya.” Suara Om Rendi terdegar dingin.
Jingga menelan ludahnya susah payah, suasana di ruangan itu mulai tidak enak. Keberaniannya menghadapi Om Rendi runtuh sedikit demi sedikit.
“Aku punya pacar Om. Aku udah nggak cinta sama Kak Biru.” Jawab Jingga bohong. Meski mungkin dia akan dicap buruk, tapi Jingga lebih tidak mungkin lagi mengadu jika Biru sudah menyakitinya. Bisa habis dipukuli Om Rendi cowok itu nanti.
Om Rendi menyelisik ke dalam mata Jingga yang berusaha menghindarinya. Beliau menemukan kebohongan di sana. Lagipula Om Rendi tahu Jingga tak akan semudah itu melupakan Biru yang sudah ditunggunya selama sembilan tahun.
“Jingga, jangan membohongi orang tua.” Ucap Om Rendi diiringi dengusan geli. Wajah gadis itu terlihat konyol sekarang.
“Om dengar, di kalangan anak muda ada istilah break up to make up. Om akan izinkan kamu mengambil cuti sampai batas waktu yang tidak ditentukan untuk menenangkan diri dan merenungkan semuanya. Om bisa menunda pernikahan kalian.” Tutur Om Rendi kemudian.
“Tapi, Om–”
“Udah, kamu keluar. Om ada pekerjaan.” Om Rendi menyela ucapan Jingga yang akan protes.
“Om–”
“Giselle . . . .”
“Oke, aku keluar sekarang.” Sambar Jingga sebelum Om Rendi memanggil Giselle untuk mengusirnya secara paksa.
“Apa yang dilakukan berandal itu?” Om Rendi menggeram tertahan setelah kepergian Jingga.
“Biru, ke ruangan Papa sekarang juga.” Titah lelaki paruh baya itu tak ingin dibantah, membuat Biru di seberang sana langsung menjauhkan ponsel dari telinganya karena suara sang ayah terlalu tinggi.
********
Jingga menekuk wajahnya begitu mengetahui usaha pertamanya tak membuahkan hasil. Ternyata membujuk lelaki tua itu tidak mudah.
Tapi tidak apa-apa, Jingga hanya cukup memberitahu para orang tua, masa bodoh mereka setuju atau tidak. Jingga akan tetap mengakhiri itu, karena hatinya sudah terlalu lelah.
Sore hari ini Jingga menunggu kedatangan Biru di taman bermain. Biru sejak tadi menghubungi dan memintanya untuk bertemu. Jingga langsung menyetujui, mengingat dia juga harus bicara dengan Biru tentang keputusannya.
“Jingga . . . .” Panggilan seseorang yang tak lain adalah Biru membuyarkan lamunannya. Bola mata Jingga mengikuti Biru yang berjalan dan duduk di sebelahnya.
“Ji, kok kamu ngomong kayak gitu ke Papa?” Tanya Biru langsung, dia bahkan melupakan niatnya untuk meminta maaf pada Jingga.
Biru ingat, tadi siang Papa memanggilnya ke ruangan. Beliau menanyakan apa yang terjadi pada mereka sampai Jingga ingin membatalkan pernikahannya. Biru tak menjawab pertanyaan lelaki itu, dia langsung keluar begitu saja dengan perasaan terkejut dan marah sekaligus. Biru benar-benar tidak suka Jingga mengatakan apapun tentang mengakhiri hubungan.
“Kamu nggak bodoh untuk nggak bisa menggartikannya, kan?” Sahut Jingga.
“Ji, kalau itu karena ucapan aku yang kemarin, aku minta maaf. Aku cuma emosi aja lihat kamu sama Langit.”
Jingga tersenyum miris. Minta maaf memang sangat mudah. Tapi apa Biru benar-benar tidak memikirkan perasaannya sama sekali?
“Bukan karena itu. Aku cuma nggak mau ngelanjutin ini.” Jingga meraih telapak tangan Biru dan menyerahkan cincin tunangan miliknya.
“Kamu apa-apaan, sih?” Sambar Biru kembali emosi.
“Aku bukannya nggak mau mempertahankan kamu, tapi kamu yang udah membuat aku menyerah dengan sendirinya.” Gadis itu tak mengindahkan ucapan Biru, suaranya terdengar lirih.
“Lagian kamu butuh aku cuma untuk bantu ngembaliin ingatan kamu yang hilang sama jadi piala kebanggaan aja, kan?” Jingga menghela napas sejenak untuk menjeda kalimatnya. “Mulai sekarang aku nggak bisa bantu kamu lagi. Lagian ada Dokter Johan yang lebih mampu untuk bantu kesembuhan kamu. Dan satu lagi, aku nggak mau jadi piala kebanggaan kamu, aku juga bukan pick me seperti yang kamu bilang.”
“Aku tahu, dan aku nggak bermaksud buat ngomong kayak gi–”
“Tapi aku udah terlanjur sakit hati.” Sela Jingga, matanya mulai berkaca-kaca.
“Mungkin kamu lupa, aku pernah mengiyakan permintaan kamu untuk mencoba menjatuhkan hati aku sama kamu waktu itu.” Ujar Biru mengingatkan permintaan Jingga di apartemennya waktu itu.
“Iya, tapi apa kamu mencobanya? Enggak, Kak. Jadi apa gunanya aku terus mempertahankan kamu?” Jingga menarik sudut bibirnya miris. Sudut hatinya kembali berdenyut nyeri, mengingat selama ini dia hanya berjuang sendirian.
“Kamu nggak akan bisa ngelakuin ini. Cause I know that you still love me.” Biru masih tak bisa menerimanya. Tidak, dia tak akan pernah membiarkan Jingga pergi. Jingga adalah miliknya.
“Iya, aku emang cinta sama kamu. Tapi kamu? Apa pernah sekali aja kamu peduli sama aku?”
Biru tertegun, tak bisa membalas perkataan Jingga.
“Aku udah capek berjuang sendirian. Daripada sama kamu, aku akan lebih suka bersama dengan orang yang mau berjuang buat aku.” Lanjut Jingga.
Memang terasa menyakitkan, ketika seseorang yang kita perjuangkan tidak berjuang untukmu kembali.
“Aku akan berpura-pura nggak denger ini.” Sahut Biru seraya kembali menyerahkan cincin itu ke tangan Jingga. Sorot matanya menampakkan penolakan penuh.
“Terserah kamu. Aku pergi sekarang.” Ucap Jingga dingin dan beranjak dari duduknya, meninggalkan Biru yang masih menatapnya dengan tatapan tajam.
“Jangan harap itu akan terjadi, Ji.” Ujar Biru setengah berteriak. Tapi Jingga tak mengindahkannya.
********
__ADS_1
To be continued . . . .