
*********
Tirai yang tergantung tak mampu menghalau cahaya matahari yang merambat lurus melalui kaca jendela kamar hingga mengganggu seseorang yang tengah tertidur lelap di dalamnya.
Perlahan, Jingga membuka mata saat silau cahaya matahari pagi mengganggu penglihatannya. Dia lantas meraba-raba tempat tidur di sebelahnya, namun terasa kosong. Matanya membola sempurna saat pandangannya menangkap jarum jam yang menunjukkan tepat pukul delapan pada dinding kamar.
“Aku kesiangan.” Jingga yang tersentak kaget langsung beranjak duduk sambil memegangi ujung selimut agar tetap menutupi tubuhnya yang polos.
“Kak–” Dia melirik ke tempat di sampingnya yang sudah kosong. Alisnya bertaut bingung, bertanya-tanya di mana keberadaan suaminya saat ini.
“Dia udah berangkat, ya?” Gumam Jingga, mengingat sekarang sudah jam delapan pagi. Ditambah aroma parfum dan pomade Biru yang masih tercium menyengat di hidungnya.
“Kenapa dia nggak bangunin aku, sih?” Dengus Jingga seraya mengerucutkan bibirnya lucu. Dia merasa jadi istri yang tidak berguna karena bangun kesiangan sampai tidak bisa menyiapkan keperluan suaminya.
Menghela napas dalam-dalam, sejenak pandangannya mengedar ke seluruh ruangan kamar, hingga akhirnya berhenti pada dua buah post it berwarna biru terang yang tertempel pada kaca rias.
Jingga kemudian turun dari tempat tidur dan berjalan menghampiri meja rias, lalu tangannya dengan cepat mencopot post it tersebut.
Selamat pagi, cantik. Tidur kamu nyenyak banget.
Pasti mimpi indah tentang kita, kan?
From : Orang Ganteng ❤
Jingga menahan tawa geli saat membaca post it pertama. “Orang ganteng? Tck, percaya diri banget.” Cibirnya dalam hati.
Aku berangkat duluan, Sayang.
Maaf nggak bangunin kamu. Soalnya kamu cantik banget, sih, kalau lagi tidur, aku jadi nggak tega banguninnya.
Ohh, iya. Aku juga udah siapin sarapan buat kamu dan Dedek di meja makan.
Sampai ketemu di rumah sakit nanti.
From : Orang Ganteng ❤
“Hiish, jadi kalau bangun aku jelek?” Dengus Jingga sambil melempar catatan post it yang kedua ke atas meja rias.
Tadi pagi Biru memang terbangun lebih dulu. Dia melihat Jingga yang masih tertidur lelap di sampingnya. Wajah gadis itu terlihat lelah hingga Biru tak tega untuk membangunkannya. Alhasil, laki-laki itu menyiapkan sendiri segala keperluannya termasuk membuatkan sarapan untuk dirinya dan Jingga.
Selesai membersihkan diri dan berpakaian rapi, Jingga melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju dapur. Di sana, Jingga kembali melihat catatan di post it yang Biru tempelkan di atas meja makan.
Sarapan khusus buat istri dan anak aku.
Dihabisin, yaa. Kalau nggak habis, nanti aku cium kamu seratus kali.
From : Papa Ganteng ❤
“Dasar gila. . . .” Jingga kembali menahan tawanya dengan tangan terulur membuka tudung saji.
Terlihat omelet yang sudah diberi gambar wajah tersenyum menggunakan saus di atasnya, tak lupa segelas jus apel untuk pereda mual Biru letakkan di samping piring omeletnya.
Jingga tersenyum bahagia menatap sarapan yang dibuatkan Biru untuknya, dia lantas mengambil sendok dan mulai memakannya. Namun, senyumannya surut saat merasakan perutnya bergejolak begitu makanan itu tertelan.
********
Siang harinya, Jingga dalam perjalanan ke rumah sakit untuk memeriksa kandungannya dengan di jemput Pak Rudi, sopir keluarga Biru.
Biru mulai protektif berlebihan dan memberi Jingga banyak peraturan baru demi menjaga anak mereka yang ada di dalam perutnya. Biru bahkan meminta Jingga makan di kamar kalau bisa, tapi jelas Jingga tidak setuju untuk yang itu. Dia hanya hamil, bukan sakit lumpuh. Biru benar-benar menyebalkan.
“Makasih, Pak.” Ucap Jingga begitu dia turun dari mobil yang berhenti tepat di depan pintu masuk utama rumah sakit.
Gadis itu tersenyum riang, terhitung sudah empat hari dia tidak datang ke rumah sakit. Jingga benar-benar merindukan tempat kerjanya ini.
Jingga mulai menapakkan kakinya pada teras rumah sakit, senyumnya semakin mengembang saat dari kejauhan melihat Biru tersenyum dan melambaikan tangan padanya.
“K–”
“Prof. Biru.”
Baru saja Jingga membuka mulut untuk memanggil Biru, tiba-tiba seseorang di belakangnya dengan lantang meneriakan nama suaminya itu.
Jingga otomatis menoleh, alisnya bertaut saat melihat seorang gadis menggunakan penyangga leher sedang tersenyum melambaikan tangannya ke arah Biru yang kini berjalan untuk menghampiri Jingga.
Tapi, tunggu. . . .
Jingga merasa tidak asing dengan wajah gadis itu, seperti pernah melihatnya, tapi dia lupa di mana.
“Prof. Biru. . . .” Gadis itu dengan ceria menyapa begitu Biru mendekat ke arahnya. Tepatnya, ke arah Jinggga.
“Sayang, kok, nggak hubungin aku kalau kamu udah di sini?” Senyum gadis itu menyurut saat melihat Biru menghampiri dan meraih tas dari tangan Jingga.
“Ehh, ohh–” Jingga yang tengah memperhatikan gadis itu sedikit terkejut dengan Biru yang tiba-tiba datang dan meraih tasnya.
“Ayo.” Biru merengkuh pinggang Jingga untuk mengajaknya pergi. Jingga yang masih merasa bingung hanya menurutinya.
“Prof. Biru.” Panggil gadis itu kesal sebelum Biru dan Jingga melangkahkan kakinya. Mereka sontak menoleh ke arahnya.
“Kamu?” Biru memicingkan matanya sambil mengingat-ingat nama gadis berambut warna-warni seperti gulali itu, karena yang dia ingat gadis itu adalah pasien gila yang dia serahkan pada dokter lain karena harus pergi ke Surabaya waktu itu.
“Kamu kenal sama dia, Kak?” Jingga langsung melemparkan tatapan penuh curiga.
“Dia–”
“Apa dia adik kamu?” Gadis itu menyambar kalimat yang hendak diucapkan Biru. Senyumnya kembali merekah saat telinganya menangkap ucapan Jingga yang memanggil Biru dengan sebutan “Kak”.
“Adik kamu cantik banget, mungkin karena kakaknya ganteng kali, ya?.” Gadis itu tersenyum manis ke arah Jingga, menyoroti penampilannya dari atas sampai bawah.
Ruffled collar blouse putih yang dipadukan dengan rok warna hitam selurut membuat Jingga terlihat sangat cantik, feminim, dan manis. Gadis itu tak mengelak kalau Jingga jauh lebih cantik darinya.
“Kenalin, aku Shanna, Pasiennya Prof. Biru. Tapi hubungan kami lebih dari itu.” Gadis bernama Shanna itu lantas mengulurkan jabatan tangan ke arah Jingga sembari mengedipkan sebelah matanya sok akrab. Namun, Jingga tak menerima uluran tersebut, dia lebih memilih menoleh ke arah Biru, meminta penjelasan melalui sorot matanya yang mulai menajam.
Seketika mata Biru membulat mendengar penuturan si gadis gila yang kini dia ingat namanya Shanna itu. Sembarangan sekali dia. Ini tidak bisa dibiarkan, dia harus segera menjauh dari gadis gila itu sebelum Jingga salah paham padanya.
__ADS_1
“Maaf, Shanna, tapi dia istri saya.” Sambar Biru sebelum gadis gila itu meracau ke mana-mana.
“Hei, jangan becanda. Kamu sengaja ngomong kayak gini buat ngehindarin aku, kan?” Shanna menarik uluran tangannya yang tak diterima Jingga seraya tersenyum kaku.
Sebisa mungkin Shanna menyangkal bahwa makhluk cantik di hadapannya adalah istri Prof. Biru dambaannya. Tidak! Mana boleh secantik ini. Seandainya saja kecantikan Jingga berada di bawahnya satu tingkat saja, Shanna, kan, jadi bisa menindas dia. Kalau seperti ini, rasanya dia jadi yang insecure. Dia sudah kalah telak oleh visualnya.
“Apa suami saya ngegodain kamu?” Kali ini Jingga angkat bicara dengan tatapan kesal.
“Nggak gitu, Ji.” Biru tak terima, pertanyaan Jingga seolah sedang menuduhnya.
“Ohh, pantesan aja kamu minta aku buat berhenti kerja. Ternyata biar bebas godain pasien-pasien cantik.” Sambar Jingga sinis.
“Jangan nuduh Prof. Biru kayak gitu. Aku yang ngegodain dia.” Shanna menginterupsi, membuat Jingga kembali menoleh ke arahnya.
Biru sedikit bernapas lega dengan penuturan Shanna barusan. Dia kira, Shanna akan menyudutkan dengan menuduh Biru menggodanya seperti di film-film.
“Atau Prof. Biru ini ngaku-ngaku jomblo sampai kamu berani ngegodain dia?” Tanya Jingga lagi, dia masih tak percaya.
“Ji, kamu jangan ngaco. Udah, ahh, ayo kita pergi. Dokternya udah nunggu.” Jingga menghempaskan tangan Biru yang hendak membawanya pergi. Laki-laki itu hanya menghembuskan napas frustrasi, beruntung saat ini tidak banyak orang berlalu-lalang di depan pintu masuk utama.
Shanna tersenyum santai. “Cowok ganteng dan sukses kayak dia, semua cewek pasti suka. Kayak aku, nggak peduli dia udah nikah atau belum, aku tetap mau ngegodain dia karena aku suka.”
Jingga terperangah. Berani sekali gadis ini. Apa dia sudah gila sampai terang-terangan mengatakan menyukai Biru di depan istrinya sendiri?
“Tapi, itu beberapa detik yang lalu. Kamu nggak usah khawatir karena aku suka yang lain sekarang.” Tuturnya kemudian, membuat Biru maupun Jingga mengernyitkan keningnya tak mengerti.
“Kayaknya yang ini lebih baik daripada suami kamu yang mirip kanebo kering. . . .”
Pandangan Biru dan Jingga mengikuti Shanna yang kini memperhatikan seorang dokter yang sedang berjalan ke arah mereka, Langit.
“Tck, dia cepet banget berubah pikiran.” Gumam Biru tanpa sadar, dan Jingga mendengarnya sangat jelas, meski laki-laki itu mengatakannya dengan suara pelan.
“Kalian ngapain berdiri di sini? Ngalangin jalan orang aja tahu, nggak?” Tegur Langit begitu dia menghampiri kedua sahabatnya.
“Jadi patung selamat datang.” Sahut Jingga ketus sambil berlalu pergi dari sana.
“Kenapa?” Tanya Langit menatap Biru dengan heran. Namun, laki-laki itu tak mengindahkannya. Biru lebih memilih untuk mengejar istrinya yang sedang ngambek sekarang.
“Ji . . . , tunggu.” Biru meninggalkan Langit yang masih bertanya-tanya.
“Awas aja mereka kalau minta bantuan sama gue nanti.” Dengus Langit kesal karena Biru dan Jingga mengabaikannya.
“Wow! Perfect. Cocok buat aku.” Mendengar ada seseorang berbicara, Langit lantas menoleh ke arah sumber suara karena sejak tadi perhatiannya hanya tertuju pada Biru dan Jingga.
“Kamu single? Punya pacar? Atau istri?” Shanna tersenyum lebar begitu Langit melihatnya dengan pandangan tertegun.
“Ahh, aku nggak peduli. Yang jelas, aku suka sama kamu sekarang, ayo kita mendekatkan diri.” Shanna dengan senyum ceria mengulurkan tangannya pada Langit. Tapi, laki-laki itu bergeming, menatap gadis itu dengan pandangan aneh.
“Kamu . . . .” Langit menunjuk Shanna setelah beberapa saat dirinya terdiam. Dia jelas mengingat wajah ini, tapi anehnya tampak berbeda. Wajah yang beberapa waktu lalu dia lihat sepucat salju, tapi yang dia lihat saat ini secerah bunga di musim semi.
********
“Cepet banget berubah pikiran? Tck, Lucu.” Jingga membanting pintu ruangan Biru keras-keras begitu dia memasukinya.
Laki-laki itu merutuki dirinya sendiri, bisa-bisanya dia berucap seperti itu di saat Jingga tadi mungkin masih kesal.
Sial, mulutnya ini memang tidak bisa dikendalikan. Padahal, tadi dia hanya terkejut karena ini pertama kalinya melihat seorang gadis yang mudah beralih dalam hitungan detik begitu saja.
Apa si gadis gila itu terobsesi dengan semua laki-laki berwajah tampan? Wahh, Biru tak percaya ada gadis sejenis itu di dunia ini.
“Kayaknya kamu kecewa banget, Prof. Biru.” Sindir Jingga masih dengan nada sinis sambil melemparkan pantatanya di atas sofa.
“Siapa yang kecewa? Aku malah seneng karena dia nggak bakal gangguin aku lagi.” Biru membela diri. Namun, Jingga hanya memalingkan wajahnya kesal.
Lagipula siapa yang tidak akan kesal kalau melihat suami sendiri digoda perempuan lain? Untung saja suaminya itu sedikit kurang normal jika dihadapkan dengan perempuan selain dirinya. Ingatkan saja Biru akan berubah menjadi kulkas sepuluh pintu kecuali saat sedang bersama Jingga.
“Ji, kamu jangan salah paham gini, dong.” Biru lantas berlutut dengan satu kaki seraya menggenggam tangan Jingga.
“Tahu, ahh, kakmu rese.” Jingga mendelik sewot.
“Sini lihat aku dulu.” Bujuk Biru. “Atau kamu aku cium, nih.” Ancamnya kemudian, membuat Jingga yang tengah memalingkan wajahnya, kini memutar kepala hingga pandangan mereka bertemu.
“Siapa lagi selain dia?” Tanya Jingga dengan wajah merengut.
Biru menautkan alisnya tak mengerti. “Siapa lagi?”
“Cewek yang godain kamu, atau sebaliknya.” Lanjut Jingga seraya memutar bola matanya malas.
“Aku nggak pernah godain cewek selain kamu.” Biru lantas mencium punggung tangan Jingga yang sedang digenggamnya.
“Siapa tahu aja kamu jadi dokter plus-plus.”
Seketika Biru terperangah mendengarnya. “Ya ampun Ji, pikiran kamu jelek banget sama aku.”
“Dengerin, ya, sayang. . . .” Jingga mendengus mendengar ucapan Biru yang penuh rayuan. “Walaupun banyak cewek yang godain aku, tapi aku nggak akan pernah tergoda sama sekali, karena mata aku udah tertutup untuk semua cewek selain kamu. Aku cuma bisa tergoda sama kamu.”
Hiliih, Jingga ingin muntah mendengarnya. Dasar laki-laki, mulutnya manis sekali. Yuck.
“Udahan dong ngambeknya.” Biru mengelus lembut salah satu pipi Jingga.
“Siapa yang ngambek? Aku cuma kesel.” Elak Jingga.
Biru hanya bisa menghela napas dalam-dalam guna mempertahankan kesabarannya. Lagipula, ngambek dan kesal apa bedanya?
“Kalau ngambek aku nggak ngomong sama ngacangin kamu, kalau kesel aku masih bisa ngomel-ngomel kayak gini.” Sambar Jingga seolah bisa membaca isi pikiran Biru.
Biru mendesah frustrasi. Terserah apapun definisinya, yang jelas dia mengalah saja. Tidak akan menang melawan perempuan sedang marah.
“Iya, deh. Ya udah kalau gitu kamu jangan kesel lagi, dong. Kasihan nanti Dedeknya.” Biru kemudian mengelus lembut perut Jingga.
Mendengar itu seketika membuat Jingga terdiam. Dia sadar, dia tidak boleh kesal karena bisa saja akan mempengaruhi kondisi bayinya. Lantas yang dia lakukan selanjutnya adalah diam sambil mengatur napasnya untuk membuat dirinya menjadi lebih tenang.
“Gitu, dong, Sayang.” Biru tersenyum sambil mengacak-acak rambut di puncak kepala Jingga.
__ADS_1
“Tapi kamu nggak jadi dokter plus-plus, kan?” Jingga masih merajuk.
“Ya ampun, Jingga.” Biru menyugar rambutnya frustrasi. “Kalaupun aku mau jadi dokter plus-plus, itu cuma sama kamu.”
Jingga tersenyum kesal seraya memukul pelan bahu suaminya. “Ish.”
“Ya udah, berangkat sekarang, yuk, kita periksa Dedek.” Biru terkekeh pelan dan beranjak, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Jingga berdiri. Jingga hanya mengangguk pelan sembari meraih uluran tangan Biru.
********
Jingga dan Biru kini sudah duduk di ruang pemeriksaan Dokter Obgyn yang sudah menanti kedatangannya sejak beberapa waktu lalu.
Sebelumnya Jingga protes karena dokter kandungannya bukan Albi yang merupakan Dokter Spesialis Obgyn terbaik dan terkenal di RH Hospital. Namun, Biru tidak setuju dengan hal itu.
Biru tidak mau ada laki-laki lain yang melihat dan menyentuh tubuh Jingga selain dirinya. Terlebih, Albi adalah temannya. Bukannya Biru menghina profesi Albi, jelas dia tahu Albi bekerja sesuai kode etik. Tapi karena ini menyangkut istrinya, Biru tidak bisa melihat Albi sebagai dokter, melainkan tetap seorang laki-laki.
“Kalau begitu, kita langsung USG saja. Sebelumnya saya sudah mendengar Prof. Biru mengatakan kalau Dokter Jingga positif hamil. Jadi, kalian berdua ke sini bermaksud untuk memastikan terjadi atau tidaknya kehamilan, benar?” Dokter bernama Alice itu memastikan kembali maksud dari kedatangan keduanya.
“Benar, Dok.” Jawab Biru singkat mewakili Jingga.
“Kalau begitu, silahkan langsung berbaring di sana.” Dokter Alice menunjuk ranjang khusus untuk pemeriksaan. Lalu, seorang perawat dengan ramah menuntun Jingga untuk berbaring.
Jingga merasakan tubuhnya mulai menegang begitu dia membaringkan tubuhnya telentang di atas ranjang. Jingga benar-benar gugup luar biasa, begitupula keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya.
“Ehh, mau ngapaiin?” Jingga tersentak kaget seraya menahan tangan perawat yang hendak mengangkat sebagian baju atasnya. Padahal, sebelumya perawat itu sudah meminta izin dan Jingga mengiyakannya.
“Sayang, kamu tenang aja.” Biru yang berdiri di sisinya lantas menggenggam tangan Jingga untuk menenangkannya. Dokter dan perawat itu hanya tersenyum melihatnya.
Perasaan Jingga seketika menghangat, dia menatap Biru yang tersenyum ke arahnya. Senyuman hangat yang selalu menenangkan.
“Oke. Kalian bisa lihat ke layar monitor, yaa.” Ujar Dokter Alice yang sudah siap menggenggam transduser di tangannya sesaat setelah perawat mengoleskan gel khusus di atas perut Jingga.
“Rileks, Dokter Jingga.” Ucap Dokter Alice yang melihat wajah Jingga kembali menegang. Jingga hanya mengangguk sambil tersenyum kaku.
Kini, baik Biru ataupun Jingga mulai memusatkan perhatiannya pada layar monitor USG saat dokter Alice mulai menggerakkan transduser di atas perut Jingga.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya saat merasakan geli bercampur sedikit nyeri akibat gerakkan alat tersebut, membuat Jingga jadi tidak fokus untuk mendengarkan penjelasan Dokter Alice.
“Ji, Dedeknya kelihatan.” Seruan Biru mengejutkan Jingga. Namun, bukannya kembali fokus ke layar, Jingga malah melihat wajah Biru yang tengah fokus memperhatikan tampilan layar monitor yang menampakkan sebuah titik kecil yang ditunjukkan Dokter Alice.
“Usianya sekitar tiga minggu.” Ujar Dokter Alice berbicara sendiri seraya mengangkat transduser dari atas perut Jingga.
Lalu dengan sigap, perawat membersihkan sisa-sisa gel yang masih menempel di perut Jingga menggunakan tisue basah, kemudian menutup kembali baju Jingga.
“Ohh, udah?” Jingga yang masih asyik menatap wajah suaminya kembali dikejutkan saat tiba-tiba Perawat menutup bajunya.
“Kamu nggak merhatiin, ya?” Biru dengan gemas menjawil hidung Jingga.
“Jadi hasilnya gimana? Aku beneran hamil, kan?” Tanya Jingga saat tersadar.
“Ihh, bener-bener kamu, yaa.” Kali ini Biru mencubit pipi Jingga. Dia tak percaya, istrinya malah melewatkan moment ini.
“Jadi gimana?” Tanya Jingga tak sabaran.
“Kata dokter, bayinya udah sebesar kepala jarum pentul.” Jelas Biru dengan senyum mengembang.
“Wahh, yang bener? Aku kira nggak bakalan kelihatan karena masih tiga minggu.” Mata Jingga langsung berbinar mendengarnya. “Aku mau lihat, dong.” Rengeknya yang sebenarnya sudah terlambat.
“Nanti nunggu hasilnya di print aja. Lagian siapa suruh tadi nggak ngeliatin?” Ledek Biru, membuat Jingga merengut.
Sejurus kemudian, Jingga beranjak dari ranjang khusus pemeriksaan dibantu Biru. Keduanya lalu kembali duduk di hadapan dokter untuk berkonsultasi mengenai kehamilan Jingga.
Dokter Alice memberikan Jingga buku panduan ibu dan anak, serta resep vitamin dan susu khusus ibu hamil yang harus dikonsumsi Jingga. Pertemuan mereka berakhir sesaat setelah Dokter Alice selesai mengatur dan menuliskan jadwal check up Jingga selanjutnya di buku panduan.
********
Seusai melakukan pemeriksaan, mereka kembali ke ruangan Biru. Di sana, sudah ada Langit yang tak sabar menunggu kepastian kabar bahagia ini dari mereka.
“Jadi kamu beneran hamil, Ji? Mau punya anak, gitu? Anaknya Biru? Atau anaknya siapa?”
Dan satu pukulan keras dari tangan Biru mendarat tepat di kepala Langit hingga membuatnya meringis sakit.
“Emang anak siapa lagi? Kan suaminya gue.” Biru mendengus kesal.
“Gue cuma nanya, kenapa lo malah mukul? Gue tuh ikut seneng denger kabar ini.” Seru Langit tak kalah kesal sambil mengusap-usap kepalanya.
“Pertanyaan lo ngeselin, kambing.”
“Hiish, berisik kalian.” Gerutu Jingga karena Biru dan Langit mengganggu kegiatannya yang sedang fokus melihat foto USG dengan mata berbinar.
“Itu hasil USGnya ya, Ji? Mana aku mau lihat?” Langit menadahkan tangannya untuk meminta foto hasil USG itu. Tapi Jingga memilih meletakkan foto hasil USG tersebut di meja untuk dilihat bersama-sama.
“Ini. . . .” Jingga menunjuk pada titik kecil dalam foto buram itu.
“See! Ini anak aku, Lang. Anak akuuu.” Ujar Jingga heboh.
“Anak aku juga, Ji. Kan bikinnya berdua.” Timpal Biru tak terima.
“Hehe, iya. Anak kita.” Jingga mengoreksi kalimatnya seraya terkekeh kecil.
“Ngomong-ngomong, dia jadinya di mana, ya? Pertama kali di rumah Papa, kan?” Biru menggeser tubuhnya untuk lebih merapat dengan Jingga dan kembali memperhatikan foto hasil USG.
“Nggak tahu. Atau mungkin juga pas udah di apartemen? Kita, kan, jor-joran ngelakuin itu di sana.” Tambah Jingga untuk kemudian dia dan Biru sama-sama tertawa.
Sementara Langit yang menyaksikan itu hanya mendengus sebal. Dia merasa seolah dirinya itu cicak di dinding.
Benar-benar risih berada di dalam satu ruangan yang sama dengan dua makhluk aneh ini. Bisa-bisanya mereka membicarakan urusan ranjang di depan perjaka ting-ting seperti dirinya.
Benar-benar pasangan absurd.
********
To be continued . . . .
__ADS_1