
*********
Setelah selesai sarapan, Biru dan Jingga kembali ke kamar. Jingga dengan manja meminta Biru untuk memeluknya.
Hari ini seharusnya Biru pergi bekerja, tapi dia tidak tega meninggalkan istrinya yang sakit sendirian. Selain itu, dia juga ingin melepaskan rindu pada istri cantiknya ini.
“Kamu yakin nggak mau minum obat?” Tanya Biru karena Jingga terus menolak untuk meminum obat.
“Enggak, orang aku cuma demam sedikit.” Jawab Jingga. Dia memang bukan tipe orang yang akan langsung minum obat kalau sakitnya tidak parah.
“Sedikit gimana? Ini kamu udah parah, lho.” Kekhawatiran masih tak menyurut dari wajah Biru.
“Enggak, ahh. Peluk gini aja seharian. Pasti cepat sembuh, kok.” Jingga lantas mengeratkan pelukan pada tubuh Biru dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu, lalu menghirup aroma tubuhnya dalam-dalam.
Mendengus geli, Biru lalu membalas pelukan Jingga lebih erat. “Ya udah, tapi kalau panas kamu sampai naik, aku nggak mau denger penolakan kamu buat minum obat.”
“Hmm.” Jingga mengangguk dalam dekapan Biru.
“Kangen banget sama kamu.” Biru mengecup puncak kepala Jingga berkali-kali.
“Aku juga.” Jingga mendongakkan kepalanya, mengambil sedikit jarak agar bisa menjangkau pandangannya dengan Biru.
Biru tersenyum, kemudian dia mendekatkan wajahnya, lalu membenamkan bibirnya di kening Jingga, cukup lama hingga membuat gadis itu merasa damai dan nyaman.
Mengakhiri ciuman keningnya, Biru lantas beralih mendaratkan ciuman di kelopak mata Jingga kiri dan kanan bergantian.
“I love you.” Ucapnya lirih, menatap Jingga dalam-dalam dengan satu tangan mengelus sebelah pipi Jingga lembut . “I love you, Jingga. Get better soon.”
“You win.” Balas Jingga.
Raut wajah Biru seketika berubah bingung, gagal mencerna jawaban istrinya itu.
“Iya, kamu menang. Aku pikir bisa bilang aku cinta kamu duluan. Tapi, ternyata kamu lebih cepat dari aku.” Terang Jingga sambil menahan tawanya.
“Bisa aja kamu, tuh.” Biru menggigit ujung hidung Jingga dengan gemas hingga membuat gadis itu terkekeh geli.
“Jorok kamu.” Dengus Jingga sambil mengusap hidungnya yang sedikit basah. Biru hanya terkekeh geli.
“Udah, ahh, cepetan tidur, biar kamu cepat sembuh.” Biru membenamkan wajah Jingga ke dalam dekapannya.
“Tapi boleh minta usap-usap punggung aku, nggak? Punggung aku sakit banget soalnya.” Jingga kembali mendongakkan kepala dengan memasang puppy eyesnya, membuat Biru kembali dibuat gemas.
“Kamu mau bayar aku pake apa?” Tanya Biru tersenyum misterius.
“Ish, sama istri sendiri pake harus dibayar segala.” Jingga memukul pelan dada Biru, wajahnya merengut lucu.
“Pokoknya kamu tetap harus bayar.” Ucap Biru, lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Jingga untuk berbisik. “Aku mau bayarannya kita main seharian di kamar kalau kamu udah sembuh.”
Sontak ucapannya tersebut membuat wajah Jingga memerah, teringat permainan panasnya bersama Biru terakhir kali.
Rasanya, sudah lama sekali mereka tidak melakukan itu. Jingga merindukannya, semua sentuhan Biru di setiap jengkal tubuhnya.
Membayangkan itu membuat tubuhnya seketika meremang. Seandainya saja Jingga dalam kondisi yang baik, mungkin saja mereka saat ini sudah bergelung di bawah selimut sambil berolahraga sampai berkeringat.
“Kok bengong?” Suara Biru berhasil membuyarkan lamunan Jingga dari pikiran liarnya.
“Eung a–aku. . . .” Jingga gelagapan.
“Setuju, nggak?” Sambar Biru. Jingga buru-buru menganggukkan kepala sebelum Biru menyadari bahwa dia sedang berfantasi liar terhadapnya.
“Oke. Awas nanti pas ditagih jangan banyak alasan.” Biru memperingati. Jingga mendengus dan sekali lagi memukul pelan dada suaminya itu.
Jingga mulai tertidur saat tangan Biru dengan lembut mengusap-usap punggungnya. Ternyata usapan tangan Biru mampu mengurangi rasa sakit di di sana. Sangat nyaman, hingga membuatnya mengantuk.
********
Jingga menggeliat kecil dalam dekapan Biru, dia terbangun dari tidurnya karena merasa kerongkongannya sangat kering. Begitupula dengan kepalanya yang terasa semakin berat.
Mendongakkan kepala, dilihatnya sang suami tengah tidur lelap dengan deru napas teratur. Tubuh Biru yang terasa lelah membuatnya ikut tertidur bersama Jingga.
“Jam dua?” Gumam Jingga dalam hati sesaat setelah melihat jam di ponselnya yang menunjukan pukul dua siang. Seharusnya Jingga memasak untuk makan siang, tapi sepertinya dia tidak bisa. Tubuhnya benar-benar lemas sekarang.
“Maaf. . . .” Ucap Jingga lirih seraya membelai lembut wajah Biru yang terlihat lelah. Dia jadi merasa bersalah karena harus sakit di saat Biru baru saja tiba dan malah merepotkannya.
Merasakan belaian lembut menjalar di wajahnya, Biru mulai terganggu, dia melenguh kecil. Lalu perlahan, laki-laki itu mengerjapkan matanya hingga terbuka sempurna.
“Udah bangun?” Tanya Biru begitu dia membuka mata, lalu mencium telapak tangan Jingga yang menempel di pipinya. Namun, gadis itu tak menjawabnya, Jingga hanya menyunggingkan senyuman tipis.
“Kok tambah panas?” Gumam Biru sesaat setelah dia meletakkan tangannya pada dahi Jingga. Demamnya semakin tinggi, dan Biru semakin khawatir dibuatnya.
“Minum obat, ya?” Bujuk Biru. “Hem?”
“Nggak mau! Besok juga sembuh, aku cuma butuh istirahat aja.” Jingga menolak dengan tegas.
“Tapi Ji–”
“Aku bilang nggak mau!” Sambar Jingga cepat.
Biru mendengus pelan, tak tahu lagi bagaimana caranya membujuk Jingga. Gadis itu dari tadi sangat keras kepala tidak mau minum obat. Apa dia tidak tahu kalau Biru sangat mengkhawatirkannya?
Bisa saja dia memaksa, tapi bisa Biru pastikan gadis itu akan kesal, dan dia tidak ingin memulai pertengkaran di saat mereka baru saja bertemu.
“Kak. . . .” Panggil Jingga dengan suara sedikit serak.
“Iya, kenpa?” Sahut Biru.
__ADS_1
“Aku haus.” Suara Jingga mulai tercekat.
“Tunggu sebentar, biar aku ambilin.” Biru menarik sebelah tangannya yang digunakan sebagai penumpu kepala Jingga, kemudian beranjak dari tempat tidur dan berlalu meninggalkan kamar untuk mengambil air minum di dapur.
Beberapa saat kemudian, Biru kembali ke kamar dengan segelas air di tangannya. Dia lalu menyerahkan air itu pada Jingga yang kini duduk bersandar di headboard ranjang.
Jingga meneguk habis segelas air putih yang baru saja dibawakan Biru dari dapur. Dia merasakan kelegaan pada kerongkongannya yang semula terasa sangat kering.
“Masih haus?” Tanya Biru sesaat setelah dia melihat Jingga menghabiskan airnya. Jingga tersenyum sambil menggelengkan kepalanya pelan, lalu menyimpan gelas kosong itu ke atas nakas.
“Udah waktunya makan siang. Kamu mau makan apa? Kita pesen lewat aplikasi aja, ya? Soalnya di lemari es nggak ada bahan makanan.” Biru mengambil ponselnya, lalu mencari aplikasi pesan antar makanan online.
“Maaf, ya. Karena aku sakit, kamu jadi kerepotan kayak gini.” Ujar Jingga tak enak hati.
Mendengar itu, Biru langsung mengalihkan perhatiannya pada Jingga, menatap tak suka atas ucapannya. “Kamu ngomong apaan sih, Ji? Aku nggak ngerasa direpotin, ngaco kamu.”
“Tapi–”
“Udah, kamu mau makan apa?” Biru dengan cepat menyela ucapan Jingga sebelum gadis itu kembali meracau.
“Sop iga kayaknya enak.” Jawab Jingga setelah beberapa saat berpikir, seketika dia langsung ngiler membayangkannya.
“Wahh, boleh tuh. Aku juga mau.” Biru yang tadi bingung memikirkan menu makanan untuk dirinya sendiri jadi bersemangat saat mendengar menu yang disebutkan Jingga.
“Minumnya?” Biru kembali meminta rekomendasi.
“Es teh dingin.” Jawab Jingga nyeleneh.
“Yang namanya es, udah pasti dingin, Ji.” Biru lantas mengusap penuh wajah Jingga dengan gemas hingga membuat istrinya itu terkekeh.
“Ada lagi yang mau kamu beli?” Tanya Biru sebelum dia benar-benar membuat pesanannya.
Sejenak Jingga terdiam untuk berpikir, lalu menjawab. “Es krim tiga rasa.”
“Oke, siap.”
“Cup besar, ya.” Imbuh Jingga dengan mata berbinar.
“Oke. Kayaknya emang seger banget siang-siang gini makan es krim.” Ujar Biru. Air liur dalam mulutnya seketika terkumpul membayangkan es krim perpaduan rasa coklat, vanilla, dan stroberi itu.
“Tapi, Ji. Es krim kayaknya nggak usah pesen, deh. Di bawah, kan, ada minimarket. Aku beli aja di sana, gimana?” Usul Biru kemudian.
“Enggak, kita pesen aja. Aku nggak mau kamu tinggalin.” Biru tersenyum melihat tingkah istrinya yang tiba-tiba manja seperti ini.
“Tumben manja?” Biru meledek. Dia lantas berpindah yang semula duduk di tepi ranjang untuk duduk di sebelah Jingga.
“Emang nggak boleh manja sama suami sendiri?” Jingga bergelayut manja di lengan Biru.
“Boleh banget, doong.” Sahut Biru seraya meraih kepala Jingga untuk dikecupnya dengan sayang.
“Harusnya aku aja yang sakit.” Tambah Biru sesaat setelah dia mengecup puncak kepala Jingga.
“Pindahin aja sakit kamu sama aku.” Imbuh Biru kemudian sembari menempelkan keningnya dengan kening Jingga.
********
Dua hari berlalu, kondisi Jingga sudah lebih baik. Namun, Biru masih melarangnya untuk pergi bekerja. Laki-laki itu mengatakan pada Jingga untuk beristirahat setidaknya satu hari lagi untuk memastikan kondisinya benar-benar pulih. Padahal, Jingga merasa sudah sangat sehat. Bahkan dia bisa lari-larian sekarang kalau mau.
Tadinya Jingga ingin membantah, tapi Biru mengancam akan memecatnya dan meminta Jingga menjadi ibu rumah tangga saja jika dia tidak menurut.
“Tck, ngeselin.” Jingga menggerutu sesaat setelah dirinya keluar dari kamar mandi sehabis membersihkan dirinya.
Tadi pagi-pagi sekali saat bangun tidur, Biru meminta Jingga untuk melayaninya di atas ranjang hingga membuatnya baru bisa mandi setelah laki-laki itu pergi bekerja karena sebelumnya Jingga juga harus menyiapkan segala keperluannya.
“Aku bakalan mati bosen kalau tinggal di apartemen seharian. Mana sendirian lagi.” Jingga menghembuskan napas kasar seraya mendudukkan dirinya di depan meja rias.
“Ssshh, aww. . . .” Jingga meringis saat kembali merasakan nyeri pada bagian dadanya. Ini lebih sakit dari nyeri saat datang bulan.
Ngomong-ngomong tentang datang bulan, Jingga teringat sepuluh hari yang lalu dia mendapat menstruasi, walaupun hanya dua hari dan berupa bercak darah saja. Tidak normal seperti biasanya. Namun, dia mulai ragu apakah itu darah menstruasi atau bukan.
Sejenak Jingga termenung, dia lalu meraih kalender duduk yang tergeletak di sudut meja. Dia kemudian menghitung masa subur seraya mengingat-ingat kapan dia pertama kali berhubungan dengan Biru setelah menstruasi terakhirnya bulan lalu. Lebih tepatnya, setelah mereka pulang dari bulan madu.
Jingga memang cukup mengerti dengan gejala-gejala kehamilan. Namun, dia baru disadarkan dengan semua yang terjadi padanya akhir-akhir ini.
Sebelumnya Jingga selalu merasa pusing, mual dan muntah, sensitif pada bau dan makanan tertentu, lebih cepat lelah, mengalami peningkatan gairah, dan terakhir bercak darah serta perubahan pada ***********. Itu semua merujuk pada tanda-tanda kehamilan yang Jingga ketahui. Tapi, dia masih ragu apa itu benar tanda-tanda kehamilannya atau bukan.
Menggigit bibir bawahnya pelan, dia lantas mengusap perutnya yang masih rata. Seketika jantungnya berdebar cepat, tapi dia tidak mau terlalu senang dulu. Jingga belum bisa meyakinkan jika apa yang diprediksinya ini benar.
Jingga berniat untuk membeli beberapa alat tes kehamilan nanti. Dia akan mengeceknya sendiri sebelum pergi menemui dokter kandungan karena takut akan menanggung kekecewaan jika saja prediksinya ini tidak terbukti.
Lantas, dengan segera dia beranjak dari duduknya untuk mengambil pakaian di dalam lemari.
Saat Jingga baru saja membuka ikatan tali bathrobenya, dia tiba-tiba dikejutkan dengan pintu kamar yang tiba-tiba terbuka sangat keras. Lalu, tampaklah Biru masuk ke kamar dengan napas terengah-engah.
“Kamu ngapain balik lagi?” Tanya Jingga heran sambil kembali mengikatkan tali bathrobenya asal-asalan.
“Hape aku ketinggalan.” Jawab Biru tanpa menoleh ke arah Jingga. Laki-laki itu sibuk mencari ponselnya yang lupa dia letakkan dimana.
“Kak, ya ampun. Jangan diberantakin lagi, dong. Aku baru aja beresin tempat tidurnya.” Jingga mengomel kesal saat Biru menyibakkan selimut dan melemparkannya begitu saja, begitupula dengan semua bantal.
“Maaf, Ji, aku harus nyari hape aku.” Sahut Biru enteng.
“Aku nggak ada lihat hape kamu di kasur tadi.” Jingga mengambil selimut yang sebagian menjuntai ke lantai untuk kembali merapikannya.
“Terus di mana, ya? Bantu cariin, dong, Ji.” Biru lantas beralih pada sofa dan mencari ponselnya tak sabaran hingga membuat bantal sofa berantakan.
__ADS_1
Jingga menghembuskan napas kesal saat melihat kamar mereka yang semula rapi, kini kembali berantakan. Percuma saja dia tadi membereskannya, percuma. Ingin rasanya Jingga melempari suaminya dengan bantal saat ini juga.
“Ji, kok malah diem, sih? Ayo bantu aku cariin.” Protes Biru yang melihat istrinya diam saja tak membantunya. Kini laki-laki itu menggaruk bagian belakang kepalanya yang tak gatal dengan frustrasi.
Jingga mendengus, kemudian berjalan menghampiri meja nakas di samping tempat tidur, yang ternyata ponsel Biru tergeletak begitu saja di sana.
“Udah dicari di atas meja nakas?” Tanya Jingga yang melihat Biru kini tengah membuka pintu lemari. Awas saja sampai mengacak-acak pakaian, dia benar-benar akan memukulnya.
“Udah.”
“Ada?” Tanya Jingga lagi.
“Kalau ada, aku nggak mungkin masih nyariin, lah, Ji.” Sahut Biru sedikit kesal.
“Terus, ini apa?” Jingga mengacung-ngacungkan ponsel Biru, hingga berhasil menghentikan tangan laki-laki itu yang hendak mencari ponselnya di antara tumpukan pakaian di dalam lemari. Lagipula, mana ada ponsel nyasar ke dalam lemari pakaian, konyol sekali.
“Itu–, kamu nemuin di mana?” Biru berjalan menghampiri Jingga yang kini sudah duduk di tepi tempat tidur.
Jingga tak menjawabnya, hanya menunjuk meja nakas dengan ponsel Biru yang sedang dia pegang.
“Aku tadi udah cari di sana. Tapi, kok nggak ada, ya?” Biru nyengir kaku saat dia menghampiri sang istri yang sedang menatapnya dengan tatapan kesal.
Biru sadar akan kesalahannya, kamar yang semula rapi sudah dia buat berantakan.
“Mana aku tahu. Kamu nyarinya sambil merem, kali.” Sahut Jingga ketus sembari mengedikkan bahunya. Dia lantas beranjak dari duduknya, namun dengan cepat Biru menarik lengannya hingga gadis itu jatuh tepat di pangkuannya.
“Maaf, deh.”
Jingga mendengus sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
“Kalau cemberut gini jadi tambah gemesin tahu, nggak?” Biru dengan cepat menyambar bibir Jingga.
“Apaan, sih?” Jingga memukul pelan bahu Biru. “Udah sana pergi, hapenya, kan, udah ketemu.” Lanjutnya berusaha turun dari pangkuan Biru. Namun, laki-laki itu malah merengkuh erat pinggangnya.
“Apa aku nggak usah berangkat kerja aja, ya, Ji?” Biru tiba-tiba berpikir untuk bolos kerja saat dia melihat belahan dada Jingga yang sedikit mengintip dari balik jubah mandi yang terpasang asal-asalan itu. Imannya runtuh begitu saja.
“Lho, kok gitu?” Alis Jingga bertaut bingung.
“Aku . . . , boleh minta lagi yang tadi pagi, nggak?” Biru dengan perlahan menarik ikatan bathrobe Jingga hingga terlepas.
“Kak, kamu ngapain, sih?” Jingga tersentak saat menyadari Biru sudah melepaskan ikatan pada tali bathrobenya.
Biru menyeringai, menatap wajah Jingga yang terkejut. Lalu, dengan cepat dia menurunkan bathrobenya sampai sebatas pinggang. Hingga kini terpampanglah setengah tubuh polos Jingga tepat di depan matanya.
“Kamu apa-apaan?” Pekik Jingga saat Biru mulai mendaratkan kecupan-kecupan kecil di atas dadanya.
“Kamu yang godain aku.” Sahut Biru disela-sela ciumannya.
“Godain kamu gimana? Ngaco kamu.” Jingga memukul pelan pundak Biru. tapi laki-laki itu tak mengindahkan dan fokus dengan kegiatannya.
“Kamu harus berangkat kerja, Kak– ahh. . . .” Jingga mengingatkan. Namun, Biru kembali tak mengindahkan. Kini dia beralih menghisap puncak dada Jingga layaknya seorang bayi.
“Kak– ahh . . . .” Jingga kembali mendesah, mengerang saat tangan Biru ikut mengelus paha bagian dalamnya.
Dan sialnya, Jingga menikmati itu. Dia mendongakkan kepalanya. Kedua tangannya yang semula bebas kini meremas rambut Biru, lalu menekannya agar suaminya terus melakukan itu.
Namun, sejurus kemudian Jingga mendapatkan kembali kesadarannya. Dia harus menghentikan Biru sebelum laki-laki itu berakhir tidak masuk kerja karenanya.
Jingga kemudian mendorong bahu Biru kuat-kuat untuk menghentikan kegiatannya yang tengah asyik menyesap dadanya. Tentu saja, Biru langsung menatap Jingga penuh protes.
“Kak, ya ampun. Kamu bisa telat.” Lirih Jingga dengan napas terengah.
“Aku bolos aja, deh.” Biru menatap Jingga penuh harap.
“Enggak! Kemarin udah nggak masuk kerja dua hari, bisa-bisa kamu dipecat sama Papa. Terus, habis itu jadi pengangguran. Aku belum siap makan rumput, Kak.”
Biru sontak tergelak mendengar penuturan Jingga. Istrinya ini sungguh tak terduga, ada-ada saja isi kepalanya.
“Iya, deh. Karena yang Mulia Ratu ini nggak bisa makan rumput, aku berangkat kerja sekarang biar bisa beliin makanan enak setiap harinya.” Ujar Biru berlebihan seraya memperbaiki kembali jubah mandi Jingga.
“Ya udah, lepasin tangan kamu.” Jingga memukul pelan tangan Biru yang diam-diam kembali menyusup dan menyentuh pahanya. Laki-laki itu terkekeh, kemudian menurunkan Jingga dari pangkuannya.
“Kak, ihh, kamu mau berangkat jam berapa? Ini udah siang.” Jingga geram sendiri melihat Biru yang belum beranjak dari kamar dan malah berdiri mematung sambil memandanginya.
“Masih ada yang ketinggalan. . . .” Jingga memutar bola matanya malas. Lantas, dengan cepat Jingga berjinjit dan mengecup bibir Biru sekilas.
“Kurang lama.” Biru tersenyum menggodanya.
“Cepetan berangkat!” Dengan gemas, Jingga lalu mendorong punggung Biru sampai ke depan pintu apartemen.
“Seneng banget ngusir suaminya.” Cebik Biru saat Jingga membukakan pintu apartemen untuknya.
“Udah sana pergi.” Usir Jingga tak peduli.
“Ohh, iya. . . .” Biru kembali berbalik saat hendak melangkahkan kakinya.
“Ada apa lagi?” Tanya Jingga gregetan.
“Kamu mau aku bawain sesuatu, nggak, nanti pas aku pulang?” Tanya Biru kemudian.
Sejenak Jingga terdiam memikirkan sesuatu, tersenyum jahil, lalu menjawabnya. “Bawain orang ganteng, boleh?”
“Ohh, kalau itu kamu udah punya. Malah udah yang paling ganteng.” Sahut Biru dengan bangga. Jingga mendengus, lalu segera menutup pintu apartemen begitu saja.
********
__ADS_1
To be continued . . . .