Still In Love

Still In Love
EP. 77. Marriage Proposal


__ADS_3

********


Tiba di malam pertemuan keluarga. Biru benar-benar serius membawa orang tuanya malam ini.


Kedatangan Biru dan kedua orang tuanya disambut baik oleh Ayah dan Bunda.


Biru tampak tegang berhadapan dengan orang tua Jingga. Tak pernah dia merasa setegang ini dalam hidupnya. Sebelumnya dia tidak merasakan hal ini karena dulu tinggal mengikuti rencana orang tuanya.


Sejenak, hanya ada perbincangan kecil di antara kedua orang tua. Hingga beberapa saat kemudian, Papa mulai membicarakan apa maksud dan tujuan mereka datang ke sana.


“Jadi, kamu serius mau nikahin anak Om?” Tanya Om Rendra.


“Iya, Om, aku serius. Serius banget malah.” Jawab Biru berusaha tegas agar Om Rendra bisa melihat keseriusannya.


“Tapi Biru. . . .” Om Rendra menggantungkan kalimatnya sejenak sambil menatap dalam Biru untuk mencari kesungguhan di sana. “Jingga mungkin seorang Dokter yang berbakat, tapi dia nnggak terlalu pintar dan sangat kurang dalam beberapa hal.”


Jingga yang duduk di sebelah Bunda langsung mendelik, karena Ayah terdengar seperti sedang membicarakan keburukannya.


“Iya, aku tahu Om, dan aku bisa terima itu.” Sahut Biru dengan suara bergetar karena gugup, hingga membuat kedua orang tuanya menahan tawa geli.


“Kalau libur Jingga susah bangun di pagi hari. . . “ Jingga semakin mendelik dengan mulut sedikit mengaga.


“Iya, aku tahu Om, aku nggak keberatan.”


“Jingga nggak terlalu pintar masak. Terakhir kali goreng ikan malah gosong–”


“Ak tahu, Om. Tapi, dia cepat belajar.”


“Jingga juga manja, berpikiran dangkal, cerewet, over active, suka nyolot, dan kadang-kadang dia bikin onar–”


Jingga mendengus kasar. “Ya ampun Ayaaah.”


Sementara Bintang dan Senja yang ikut duduk di sana hanya menekap mulut sambil menahan tawa, sesekali melempar tatapan meledek pada Jingga.


“Aku nggak keberatan dengan semua itu Om.” Biru masih berusaha bersikap santai dalam menanggapi ucapan Om Rendra, meski saat ini tangannya sudah berkeringat dan gemetar.


“Tapi di samping semua itu, Jingga tetap punya kelebihan. Jingga ini sangat cantik dan akan selalu melakukan yang terbaik.” Sambung Om Rendra tersenyum bangga pada Jingga. Gadis itu balas tersenyum padanya.


“Iya, Om, aku tahu.” Sahut Biru seraya melirik Jingga sekilas.


Untuk yang satu ini Biru sudah sangat tahu dari dulu. Kelebihan utama Jingga adalah cantik dan juga seksi. Mendadak fantasi liarnya terhadap gadis itu muncul.


Sial. Keimanannya benar-benar sudah runtuh. Bahkan di tengah-tengah keluarga seperti ini, bisa-bisanya Biru berpikiran kotor.


“Kamu yakin bisa mencintai Jingga sebanyak kami mencintainya? Kamu yakin ke depannya anak Om bisa bahagia sama kamu?”


Biru terkejut begitu suara Om Rendra kembali berdengung di telinganya. Dia mengerjap. “Aku akan berusaha, Om.”


“Lho, kok, kayak nggak yakin gitu?” Sahut Om Rendra nyeleneh.


Biru membelalak, sedikit kelabakan. Apa dia salah ucap? Memangnya harus menjawab seperti apa?


“Aku serius Om.” Sambarnya cepat. “Aku janji, aku akan mencintai, menjaga dan melindungi Jingga, juga memberikan semua hal yang terbaik untuk dia sebatas kemampuan aku sebagai laki-laki.”


“Ya ampun, Biru sweet banget nggak, sih?” Bisik Senja pada Bintang.


Bintang bergidik dengan bibir mencibir. “Apaan? Gombal doang itu. Paling baca di quotes ig.”


“Ish.” Senja mencubit pelan pinggang suaminya yang dirasa julid.


“Oke. Kalau begitu, Om tunggu pembuktian dari ucapan kamu.”


“Jadi–” Biru menatap Om Rendra meminta kepastian.


Lelaki tua itu mengangguk dengan senyuman hangat. “Dengan senang hati Om dan Tante merestui kamu untuk menikahi Jingga. Silahkan.”


Kedua mata Biru membulat sempurna. Meski sudah yakin jawabannya akan seperti ini. Tapi tetap saja ini membuat jantungnya berdebar. Rasanya melegakan.


“Oke, fix. Sepuluh hari lagi kalian menikah. Hari Sabtu depan, semua orang wajib mengosongkan jadwal.” Dan semua orang yang duduk di ruang tamu dibuat terperangah mendengar penuturan Mama.


“Ma, jangan mutusin segala sesuatu sesuai kemauan Mama.” Protes Biru yang merasa ibunya ini agak seenaknya. Hal ini bahkan tidak ada dalam rencana sebelum mereka datang ke rumah orang tua Jingga.


“Kamu ini.” Mama mendelik tajam dan memukul lengan Biru menggunakan kipas lipatnya. “Kemauan Mama-kemauan Mama. Kan kamu sendiri yang bilang mau cepet-cepet nikah.”


“Ya nggak dalam waktu sepuluh hari juga, Ma.” Cicit Biru takut-takut.


“Terus, kamu maunya kapan? Ngapain ngulur-ngulur waktu? Lebih cepat, lebih baik, kan?” Semua mata tertuju pada mereka, melirik ke arah Biru dan Mama secara bergantian, memperhatikan pasangan ibu dan anak yang tengah berdebat kecil itu.


Om Rendra dan Papa ingin berkomentar, setidaknya butuh waktu sesingkatnya satu bulan untuk persiapan pernikahan. Namun, baru saja mereka membuka mulut, wanita itu sudah kembali menyambarnya.


“Pokoknya nggak boleh ada yang protes! Aku yang akan mengurus segala persiapannya. Kalian semua hanya perlu mengosongkan jadwal di hari Sabtu depan.” Ujar Mama tak ingin dibantah sambil menunjuk semua orang dengan kipas di tangannya.


“Tapi, ada baiknya kita saling membantu untuk mempersiapkannya.” Mama sedikit mengoreksi, namun dengan nada angkuh, gengsi untuk menelan kembali bulat-bulat apa yang sudah diucapkannya.


“Okay, ayo siapkan pernikahan mereka dalam waktu sepuluh hari.” Sahut Bunda dengan nada ragu sembari mengangkat kesepuluh jari tangannya.


“Tapi, Tan. Sepuluh hari itu kayaknya terlalu cepat.” Jingga menimpali dengan hati-hati. “Maksudnya, aku nggak yakin bisa nyiapin pernikahan dalam waktu sesingkat itu.”


“Kami para orang tua bisa manangani semuanya. Kalian berdua nggak perlu melakukan apapun dan tahu beres.”


Jingga hanya bisa menelan ludahnya. Penuturan wanita itu terdengar tidak bisa dibantah. Mungkin, jika dia menginginkan mereka menikah besok, maka Jingga pastikan itu akan terjadi.

__ADS_1


“Dan satu lagi.” Suara Mama yang heboh kembali mengejutkan semua orang. “Mama mohooon banget dengan sangat sama kalian untuk jangan ngelakuin itu dulu.”


Mama menyoroti Biru dan Jingga secara bergantian dengan tatapan penuh peringatan. Sementara dua anak muda itu hanya saling melempar tatapan bingung. Pun dengan yang lain, tak menegrti maksud dari ucapannya.


“Ngelakuin apa, ya, Tante?” Jingga mengernyitkan alisnya tak mengerti.


“Tck, udah, deh, kalian berdua jangan pura-pura bodoh.” Cibir Mama.


“Apaan, sih, Ma, aku nggak ngerti?” Timpal Biru.


Mama memutar bola matanya malas. “Inget, ya. Status kalian saat ini masih calon suami dan istri. Berciuman nggak apa-apa, tapi tidur bareng jangan dulu.”


Ucapannya yang terang-terangan sontak membuat Bintang buru-buru menutup telinga sang anak, Biel, yang duduk di pangkuannya.


“Ya ampun, Lis. Mereka bukan tipe anak yang akan menyimpang.” Sanggah Bunda yang dibenarkan oleh Ayah.


“Kalian nggak tahu saja di belakang kita mereka ngelakuin apa.” Cibir Mama, membuat Bunda langsung menatap Jingga penuh selidik. Gadis itu dengan cepat menggelengkan kepala dan menggerak-gerakkan tangannya mengelak.


“Apa-apaan, sih, Ma? Kami nggak kayak gitu, kok.” Protes Biru. Memalukan sekali membahas hal seperti ini di depan calon mertuanya.


Sementara Papa yang melihat Biru dan Jingga mencoba mengelak, hanya meledek melalui kerlingan mata dan juga senyum mencibir.


“Sudah-sudah. Jangan membahas hal seperti ini. Lebih baik kita makan dulu, sekalian melanjutkan untuk membahas persiapan pernikahan mereka.” Lerai Ayah mengakhiri pembahasan yang sedikit konyol ini.


********


Biru dan Jingga berjalan birsisian menuju ruang makan paling terakhir. Mereka saling melempar senyum, untuk kemudian Biru menautkan jemari mereka satu sama lain, hingga keduanya berjalan sambil bergandengan tangan.


“Kamu laper, nggak?” Tanya Biru setengah berbisik seraya memperlambat langkahnya.


“Enggak.” Jingga menggeleng sambil mengulum senyumnya.


“Apa kita nggak usah ikut makan malam aja?” Tanya Biru lagi memberi saran, lalu menghentikan langkahnya.


“Aku, sih, maunya gitu. Tapi mereka pasti nyariin kita kalau nggak ikut.” Sesal Jingga seraya menunjuk semua orang yang kini mulai menjauh dari pandangannya karena sudah masuk ke ruang makan. Sementara mereka masih berdiri tak jauh dari ruang tamu.


Biru menghembuskan napasnya lemah. Sebenarnya dia ingin menghindari makan malam dan membawa Jingga keluar agar bisa berduaan dengan gadisnya itu. Tapi, sepertinya memang tidak memungkinkan untuk kabur.


“Kalau gitu, diem di sini sebentar.” Dengan gerakkan cepat, Biru merengkuh tubuh Jingga dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya.


“Mau ngapain di sni?” Tanya Jingga seraya mendongakkan kepalanya menatap Biru.


“I want to hug you.” Biru lalu sedikit menekan tubuh Jingga untuk memberikan pelukan yang lebih erat. Gadis itu tersenyum, kemudian membalas pelukan tersebut dengan melingkarkan tangannya di bahu Biru.


“Aku seneng banget.” Ucap Biru lirih sembari membelai punggung Jingga dengan lembut. “Aku seneng banget, karena sebentar lagi kamu jadi istri aku.” Lanjutnya dengan senyum mengembang yang sejak tadi tak menyurut dari kedua sudut bibirnya.


“Tapi aku enggak.” Sahut Jingga, membuat Biru sedikit menjauhkan tubuhnya untuk membuat sedikit jarak di antara mereka. Lantas dia menatap Jingga dengan raut wajah merengut.


Lalu dengan gemas, Biru mendekatkan wajahnya, menempelkan hidungnya ke ujung hidung Jingga, kemudian menggesekkan hidungnya ke kiri dan ke kanan bergantian. Jingga sampai kerkekeh dibuatnya.


“Makasih udah mau milih aku, Jingga.” Biru membenamkan ciuman di kening Jingga.


Ciuman yang dalam hingga terasa sangat menenangkan, ungkapan cinta tanpa nafsu, Biru menunjukkan kebahagiaan dan rasa ingin melindungi gadis yang sangat dicintainya itu melalui ciuman di kening yang dia benamkan cukup lama.


“Aku juga berterima kasih, karena kamu udah milih aku juga.” Balas Jingga.


“I love you to the moon and back.” Ucap Biru setelah ciuman itu terlepas, hingga kini mereka kembali bertatapan.


“Wahh, aku jawabnya gimana, ya?” Gadis itu menatap Biru dengan kerlingan mata jahil.


“Kenapa?” Tanya Biru heran.


“Aku nggak bisa gombal kayak kamu.”


“Ihh, orang aku serius dikatain gombal.” Dengus Biru seraya mencium gemas hidung Jingga.


“Kamu bisa ngelakuin itu di sini, nggak?” Jingga menunjuk bibirnya sendiri dengan pipi yang mulai bersemu merah.


Biru sedikit terkejut akan permintaan Jingga, lalu memutar kepalanya memperhatikan sekitar mereka. “As you wish.”


Dan dengan senang hati, Biru mendekatkan wajahnya hingga bibir mereka saling bersentuhan. Perlahan, Biru menggerakkan bibirnya, mulai mencium gadis itu dengan penuh kelembutan.


Jingga melenguh begitu selipan lidah Biru terasa memasuki bibirnya. Benar-benar memabukkan. Tangan Biru tak tinggal diam, dia mengelus, meraba paha Jingga, dan merambat ke bagian belakang, meremasnya dengan sensual, membuat gadis itu mencengkram pundaknya.


“Kalian pada ngapain?”


Jingga mendorong dada Biru sekuat tenaga hingga tubuh mereka saling menjauh saat tiba-tiba mendengar suara kakaknya, Bintang.


Biru dan Jingga menoleh, tampak Bintang berdiri tak jauh dari mereka dengan cengiran tak jelas.


Sial, sial, sial.


Jingga merutuki dirinya sendiri. Kenapa tadi dia tidak membawa Biru ke kamarnya saja, sih?


Seharusnya Jingga juga sadar, kalau mereka masih berada di tengah-tengah keluarga. Gadis itu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, urat malunya sudah putus sekarang.


“Semua orang udah nunggu kalian. Itu– dilanjut nanti aja.” Ujar Bintang dengan tatapan penuh meledek sebelum kemudian beranjak untuk kembali ke ruang makan. Namun, dia berbalik kembali saat teringat sesuatu.


“Dan lakukan di waktu serta tempat yang tepat.” Tambah Bintang penuh penekanan. Cowok satu anak itu lalu berjalan kembali sambil terkikik kecil.


Niat hati ingin menyusul adik dan calon adik iparnya yang tak kunjung datang ke ruang makan, dia malah memergoki mereka berciuman panas. Dia tebak, pasti mereka sangat malu, dan Bintang puas mengacaukannya. “Jingga udah gede.”

__ADS_1


“Selalu aja kayak gini.” Gumam Biru pelan seraya mengulum senyum tipis. Rasanya lucu sekali, sudah berapa kali mereka kena gep seperti ini?


“Ayo.” Biru merangkul pundak Jingga untuk mengajaknya pergi ke ruang makan.


"Ish." Jingga memukul pelan tangan nakal Biru yang berani-beraninya kembali meremas bagian belakangnya. Biru hanya terkekeh pelan.


Jingga sendiri heran karena semakin ke sini cowok itu semakin mesum dan tidak bisa menahan diri.


********


Biru dan Jingga mendekati ruang makan. Dapat mereka dengar suara heboh dan antusias Mama yang tengah asyik mengutarakan semua ide di kepalanya untuk persiapan pernikahan mereka yang akan segera dilaksanakan dalam waktu singkat itu.


Tampak Ayah, Bunda, dan Papa hanya menimpali setuju, membiarkan wanita paruh baya itu mendominasi. Sementara Senja dan Bintang hanya diam memperhatikan, dan Biel yang sudah lebih dulu sibuk memakan makanannya.


“Maaf, kami lama.” Biru mengulas senyum tipis pada semua orang yang telah menunggunya di meja makan. Dia kemudian mendudukkan dirinya di dekat Papa. Sementara Jingga duduk di hadapannya, dekat dengan Bunda.


“Kalian dari mana aja?” Tanya Ayah heran.


Seketika wajah Jingga memanas. Ingatan tentang apa yang dia dan Biru lakukan tadi langsung terngiang-ngiang di kepalanya.


Gadis itu melirik tajam sebentar ke arah Bintang yang menyunggingkan senyum penuh cibiran padanya. Sorot mata Jingga seolah mengatakan pada Bintang untuk diam dan jangan banyak bicara.


“Eung– i–itu . . . , tadi aku nunggu Kak Biru terima telepon, jadi agak lama.” Jingga akhirnya menemukan alasan yang cukup masuk akal. Semua orang mengangguk tanda mengerti.


Biru menyunggingkan senyum saat Jingga melirik sekilas ke arahnya.


“Ehem. . . .” Bintang berdehem seolah meledek. Dapat Biru dan Jingga lihat, cowok itu tengah melipat bibirnya ke dalam menahan tawa.


“Ya sudah, ayo mulai makan.” Ucap Ayah kemudian, tak ingin mempermasalahkannya.


“Ngomong-ngomong, baju pengantin kalian yang dulu sempat kalian coba masih mama simpan rapi di butik. Besok kalian fitting lagi, siapa tahu jadi kekecilan atau kebesaran.”


Jingga yang hendak memasukkan sayuran ke dalam mulutnya seketika diurungkan, kembali meletakkan garpu di piringnya saat penuturan Tante Lisa membutuhkan tanggapannya.


“Iya, Tan. Tapi, mungkin setelah pulang dari rumah sakit atau di jam makan siang. Ya, kan, Kak?” Jingga meminta persetujuan Biru yang sedang asyik mengunyah steak miliknya. Cowok itu hanya menanggapinya dengan anggukkan.


“Apa nggak seharusnya kalian mengambil cuti dari sekarang?” Kali ini Papa ikut bersuara. Ayah tampak manggut-manggut menyetujui.


“Enggak, Pa. Mungkin kita ngambil cuti sekitar H-2 atau H-3 sebelum hari H. Lagian, kan, kalian yang akan nyiapin semuanya.” Ujar Biru mengingatkan tentang ucapan ibunya di ruang tamu tadi.


“Itu benar. Tugas mereka, kan, cuma tinggal nyobain baju pengantin sama cincin, jadi nggak butuh waktu sebanyak itu.” Timpal Bunda setuju. Bunda pikir, mereka memang tidak boleh terlalu lama mengabaikan pekerjaan.


“Bukan itu masalahnya, Bun. Tapi yang Ayah khawatirkan, tuh, takut mereka kecapekan karena terus bekerja sebelum hari H.” Sanggah Ayah yang disetujui Papa dan Mama.


“Tapi, kalau semisal mereka ngambil cuti dari sekarang, nanti waktu cuti mereka terlalu lama kalau ditambah dengan cuti bulan madu.” Bunda menginterupsi. Mama ikut mengangguk setuju.


“Lebih baik mereka cutinya nanti aja, biar bisa bulan madu lebih lama. Siapa tahu lebih cepat juga nanti mereka punya anak. Bunda nggak sabar pengin cucu dari Jingga, Yah.” Celetuk Bunda kemudian. Sebenarnya beliau tidak jauh beda dengan Lisa.


Mama hendak menanggapi untuk menyetujui usulan Bunda, namun terurungkan saat mendengar Biru berdehem keras hingga terbatuk-batuk.


Dan ternyata, karena terkejut mendengar penuturan Bunda, potongan daging yang baru saja Biru masukkan ke dalam mulut meluncur begitu saja ke dalam saluran pencernaannya. Dada sebelah kanannya seketika merasakan sakit begitu potongan daging itu masuk, seolah daging itu mengganjal di sana.


Mendengar Biru yang terbatuk hebat, Jingga kemudian beranjak dan berjalan menghampirinya.


Jingga segera melingkarkan tangannya mengepal pada perut Biru, mengarahkan kepalan tangannya ke atas pusar di bawah tulang dada Biru, hingga akhirnya potongan daging yang tersangkut di sana keluar begitu Jingga memberi tekanan pada tubuh cowok itu.


“Kamu nggak apa-apa, Bi?” Tanya Mama khawatir melihat wajah dan mata Biru yang kini sudah memerah dan berair.


Mama lalu memberikan segelas air pada Biru. Namun, Biru tak langsung menerimanya. Tampaknya cowok itu masih berusaha menenangkan diri, menikmati sisa-sisa rasa sakit di dada dan tenggorokannya.


“Aku permisi ke kamar mandi sebentar.” Biru mengabaikan semua orang yang memandangnya dengan meringis ngilu.


Dia kemudian beranjak dan berlalu untuk pergi ke kamar mandi. Biru ingin segera membasuh wajahnya terasa berantakan.


Rasanya menyeramkan. Kenapa dia bisa tersedak sampai rasanya akan mati?


“Kayakya emang nggak baik makan sambil berbicara.” Ayah terkekeh geli, namun dia masih khawatir dengan Biru. Ternyata, tersedak bisa cukup menyeramkan seperti itu.


“Haha, ayo bahas ini setelah makan saja.” Papa menimpali.


“Biru baik-baik aja, kan, Ji?” Tanya Bunda khawatir sesaat setelah Jingga kembali duduk di sebelahnya.


“Kayaknya nggak apa-apa,si. Kan makanannya udah keluar.” Jawab Jingga santai.


“Kenapa dia bisa keselek kayak gitu?” Gumam Bunda heran.


“Itu karena Bunda pake bahas bulan madu sama anak segala. Ya kaget lah dia.” Jingga berbisik di telinga Bunda. “Untung aja dia nggak mati.”


“Awwsh.” Jingga memekik tertahan begitu tangan Bunda mencubit kecil pahanya.


“Jangan sembarangan ngomong, kamu.” Geram Bunda dengan suara tertahan. Gemas sekali dengan anaknya ini, karena bisa-bisanya mengatakan kata mati dengan mudah.


“Kamu lihat keadaan Biru sana, Ji.” Titah Ayah, meminta Jingga untuk menyusul Biru ke kamar mandi.


“Iya, Yah.” Sahut Jingga beranjak untuk menyusul Biru. Namun, dia dibuat kesal saat melewati kursi Bintang. Kakaknya itu kembali meledek. “Awas jangan ngambil kesempatan.”


Untuk selanjutnya, di sisa waktu makan malam mereka, tak ada percakapan lagi setelah itu. Semua orang benar-benar fokus dengan makanannya, hal ini semata-mata karena tidak ingin apa yang menimpa Biru terjadi lagi.


Mereka memilih untuk melanjutkan perbincangan mengenai pernikahan Biru dan Jingga di ruang tamu setelah makan malam selesai.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2