Still In Love

Still In Love
EP. 101. Wedding Gift


__ADS_3

********


Keesokan paginya, Jingga yang baru saja keluar dari kamar mandi mengomel pada Biru yang muncul dari balik pintu kamar dengan beberapa kantong belanjaan di kedua tangannya.


“Ihh, kok kamu belum siap-siap? Kemarin kamu udah janji, yaa, ngajakin aku ke CFD.” Omel Jingga dengan raut wajah merengut karena mendapati suaminya yang masih mengenakan baju tidur, bukan setelan olahraga seperti dirinya.


“Iya, sabar, Sayang. Ini aku habis ambil belanjaan kamu dulu yang semalem ketinggalan di mobil.” Sahut Biru lemah lembut.


Mendengar kata belanjaan, membuat senyum Jingga terbit seketika. Tadi malam dia melupakan itu karena suasana hatinya tiba-tiba buruk. Tapi sekarang Jingga ingin melihat semua pakaian yang sudah dibelinya. Dia benar-benar tak sabar untuk memakai semua baju hamil yang lucu-lucu itu.


“Ohh, itu belanjaan aku, ya? Coba sini bawa.” Jingga memerintah Biru dengan instruksi gerakkan tangannya.


“Yeah, she is the boss.” Gumam Biru dalam hati seraya memutar bola matanya malas. Lantas dia segera menghampiri Jingga yang kini duduk di kursi meja rias.


“Makasih.” Ucap Jingga saat Biru meletakkan semua tas belanja itu di hadapannya.


“Biaya angkat barangnya, doong.” Biru membungkukkan tubuh seraya mengerucutkan bibirnya.


Jingga berdecak kecil, lalu meraih kedua sisi wajah Biru dan mencium bibirnya sebanyak tiga kali sekilas-sekilas.


“Nihh, aku kasih bonus tambahan.” Jingga lalu beralih mencium pipi sebelah kanan dan kiri Biru bergantian.


“Ini lagi.” Kemudian gadis itu mencium kedua kelopak mata Biru dengan sayang.


“Udah, sana ganti baju. Aku udah siapin di sana.” Ujar Jingga sembari menunjuk pakaian olahraga Biru yang dia letakkan di atas tempat tidur.


“Siap, Ibu Ratu.” Biru lantas beranjak untuk berganti pakaian.


Sementara Jingga, gadis itu memeriksa satu per satu kantong belanjaannya, memastikan tidak ada barang yang tertinggal di toko. Namun, gerak lincah tangannya terhenti ketika matanya menangkap kotak hadiah yang tadi malam diberikan Luna pada Biru berada di dalam salah satu kantong belanjaannya.


“Kak. . . .” Panggil Jingga seraya mengambil kotak hadiah tersebut.


“Iya kenapa, Sayang?” Sahut Biru yang sibuk memasukkan salah satu kakinya pada lubang celana.


“Kok ini ada di dalam tas belanja aku?” Tanya Jingga sambil menunjukkan kotak hadiah itu.


“Ohh, itu.” Biru yang selesai mengganti pakaiannya dengan setelan olahraga, lantas kembali menghampiri Jingga, dan mendudukkan diri di atas meja rias. “Itu, kan, dari Luna.”


“Ciee, yang di kasih hadiah sama Luna.” Cebik Jingga dengan raut wajah berubah jutek.


“Buat kita sayang.” Sanggah Biru penuh penekanan. “Katanya itu hadiah pernikahan.”


“Tck, paling isinya barang buat kamu. Parfum kesukaan kamu misalnya, nggak mungkin juga, lah, dia ngasih barang buat aku.” Cibir Jingga bersungut-sungut, membuat Biru menghembuskan napas kasar.


Ini masih pagi, tapi gadis itu sudah berburuk sangka. Cocok sekali jadi host gossip yang suka nyinyir.


“Dilihat dulu, baru komentar.” Tegur Biru sambil mencubit dagu Jingga gemas.


“Aku nggak mau. Buang aja ini sana jauh-jauh.” Sahut Jingga seraya melempar kotak hadiah tersebut ke atas meja rias.


Biru mendesah pelan, lalu memejamkan matanya sebentar guna menahan kesabarannya menghadapi sang istri. “Nggak baik, Sayang, nolak pemberian orang.”


“Ya udah kamu ambil aja, aku tetap nggak mau.” Jingga mendelik sewot sembari menggeser kotak hadiah itu ke dekat Biru.


“Ji, jangan benci sama orang berlebihan, nanti anak kita mirip sama–”


“Amit-amit. Ini anak aku, Kak.” Sela Jingga refleks memeluk perutnya. “Kamu ngomongnya kayak gitu, ya, rese.”


“Habisnya kamu kayak gitu.” Balas Biru.


“Ohh, jadi aku salah?” Sahut Jingga ketus.


“Biru mengedikkan bahu. “Menurut kamu?”


“Ish, udah, ahh, aku males sama kamu belain dia mulu. Aku emang nggak akan pernah menang, ya, dari dia?”


Biru dengan cepat melompat dari atas meja rias dan menahan lengan Jingga yang hendak beranjak pergi, lalu membawa tubuh ringkih istrinya itu ke dalam dekapannya.


“Maaf, Sayang, aku nggak bermaksud ngomong kayak gitu.” Biru mengusap punggung gadis itu lembut.


Sementara Jingga hanya terdiam mengatur napasnya, sebisa mungkin menahan diri untuk tidak menangis. Dia benar-benar kesal.


“Sini, Sayang.” Biru lantas menuntun Jingga untuk kembali duduk, sementara dia sendiri berjongkok di hadapan gadis itu dan menggenggam tangannya erat.


“Aku cuma nggak mau kamu mikirin atau memendam perasaan yang bisa ngerugiin diri kamu sendiri. Itu aja.”


Jingga masih memilih diam. Penuturan Biru memang bisa diterima, tapi perasaan Jingga akan selalu sensitif jika menyangkut Luna.


“Nggak semudah itu buat aku bisa percaya sama dia. Aku harap kamu ngerti.” Sahut Jingga berubah dingin. Kenangan buruknya tentang Luna kembali berputar di kepala, dan sebisa mungkin menahan diri untuk tidak mengungkitnya.


Menghela napas berat, Biru beranjak, lalu bergerak untuk berdiri di belakang Jingga dan mendekapnya.


“Ya udah kalau gitu kamu lupain dia. Anggap dia nggak pernah ada di hidup kamu. Jingga aku nggak mau hati kamu kotor, bukannya ngebelain dia.” Biru membenamkan ciuman di pelipis Jingga cukup lama, berharap istrinya itu lebih tenang.


“Kamu nggak tahu gimana takutnya aku kehilangan kamu. Dia datang lagi, aku takut kalau dia berusaha ngejauhin kamu dari aku lagi.” Ujar Jingga sedih.


Biru mengerjap, lalu memperbaiki posisi kepalanya untuk menjangkau wajah Jingga. “Kamu nggak percaya sama aku?”


“Bukan git–”


“Gimana lagi caranya aku aku harus ngebuktiin cinta aku sama kamu? Jingga kita udah sampai tahap ini, dan kamu masih ngeraguin aku?” Sela Biru sedikit kecewa.


“Aku bilang cuma takut, bukan nggak percaya sama kamu.” Jingga berkelit.


“Ya sama aja, kamu nggak percaya sama aku, Ji.” Biru lantas manarik diri, bergerak mengambil kotak hadiah di meja rias.


“Ya udah aku minta maaf.” Ucap Jingga pelan seraya meraih lengan Biru guna menahannya pergi.

__ADS_1


“Kita siap-siap ke CFD.” Balas Biru mengalihkan topik seraya melepaskan tangan Jingga dari pergelangan tangannya. Tidak ingin perdebatannya dengan Jingga berlanjut, Biru memilih untuk melupakannya.


Jingga buru-buru meraih ujung pinggiran baju Biru. “Kamu marah?”


“Enggak.” Sahut Biru datar. “Udah lepasin aku mau buang ini. Kamu nggak suka, kan?”


Detik berikutnya, Biru melenggang pergi menuju tempat sampah yang terletak di sudut kamar untuk membuang benda pemicu perdebatannya dengan Jingga pagi ini.


“Kamu bilang nggak baik nolak pemberian orang.”


Tangan Biru yang nyaris membuang kotak hadiah tersebut melayang mendengar ucapan Jingga, keningnya berkerut heran dengan sikap Jingga.


“Lho, kamu sendiri yang minta ini dibuang aja.” Suara Biru masih terdengar dongkol.


Jingga terdiam dengan wajah ditekuk, sejenak menatap kotak hadiah warna hitam yang dibalut rapi dengan merah itu. Jingga sebenarnya penasaran dengan isinya, tapi kepalang gengsi untuk mengatakan itu.


“Coba sini bawa, kalau isinya nggak berguna baru buang.” Ucap Jingga ogah-ogahan.


Biru mendengus dengan pandangan mencibir. “Kamu yakin? Aku nggak mau, lho, kita berantem lagi gara-gara ini.”


Jingga mendelik kesal, lalu menyahuti dengan gengsi. “Sini bawa lagi.”


Berdecak geli, Biru lantas kembali menghampiri Jingga dan menyerahkan kotak hadiah tersebut.


Jingga dengan penasaran membuka kotak hadiah itu buas. Matanya seketika berbinar ketika dia mendapati satu set pakaian bayi, lengkap dengan topi dan sepatunya. Imut dan sangat menggemaskan, tapi dia gengsi mengakuinya. Jingga sudah kepalang berprasangka buruk.


“Tuh, kan. Kamu nethink lagi.” Ledek Biru sesaat setelah dia ikut melihat isi dari kotak hadiah yang diberikan Luna.


“Dia lagi ngejek kita atau apa?” Jingga berdecak sinis sembari mengangkat dan merentangkan baju bayi tersebut.


“Jingga. . . .” Nada suara Biru penuh teguran. “Nggak baik, Ji, berprasangka buruk sama orang. Inget ada Dedek di perut kamu, nanti dia denger.”


Seketika Jingga terdiam, lalu memukul mulutnya pelan. Dia juga tidak tahu kenapa bisa sangat kesal seperti ini hingga berucap demikian.


Sedikit perasaan bersalah kemudian menyergap hatinya begitu membaca sepucuk surat yang ditinggalkan Luna dalam kotak hadian itu.


Selamat untuk pernikahan kalian.


Semoga keberkahan dan kebahagiaan selalu menyertai kehidupan kalian.


Aku harap, kado ini menjadi sebuah doa agar kalian cepat dikaruniai anak yang lucu-lucu.


From: Luna


Jingga tebak, sepertinya Luna sudah menyiapkan kado ini dari dulu. Sedikit senyuman tersungging di bibirnya, tapi tak berlangsung lama begitu dia mengingat sikap Luna padanya dulu.


“Udah, ahh. Ayo jalan.” Ajak Jingga mengalihkan topik pembicaraan.


Biru hanya berdecak geli melihat sikap istrinya yang kini seperti ABG labil, dan mau tak mau dia harus menerima setiap perubahan itu karena ini ulahnya sendiri yang telah menghamili gadis itu.


********


“Apaan, sih? Aku nggak lagi lihatin ibu-ibu itu, kok.” Sahut Biru mengelak tanpa mengalihkan perhatiannya dari ibu-ibu yang sedang bergerak lincah di seberang sana.


Hal itu jelas membuat Jingga mendengus kesal. Ingin rasanya dia mencolok mata Biru dengan sedotan teh kotak yang sedang dia minum.


“Pokoknya malam ini kamu tidur sendiri lagi.” Jingga menghentakkan kakinya kesal, lalu berjalan cepat meninggalkan Biru di belakangnya.


Biru yang tersadar lantas buru-buru mengejarnya sambil meminta maaf dan memohon-mohon. Namun, Jingga mengabaikannya dan terus berjalan dengan cepat.


“Hati-hati, Ji.” Biru menahan tubuh Jingga yang hampir menabrak seseorang.


“Aduh, ma–” Kalimat Jingga tergantung tatkala dia melihat siapa orang yang hampir ditabraknya. Terlihat orang itu tersenyum ke arahnya, Luna.


“Hai, Jingga.” Sapa Luna kemudian.


Sial sekali. Kenapa dia harus bertemu Luna lagi, sih? Jingga tidak mau bertemu dengannya meski itu tak sengaja.


“Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Luna menghentikan Jingga hendak melangkah pergi.


Jingga terdiam dengan senyum sinis tersungging di salah satu sudut bibirnya dengan ekspresi penuh penolakan.


“Aku mohon, sebentar aja.” Lanjut Luna terdengar memelas.


“Kalau mau ngomong, ya, ngomong aja.” Sahut Jingga ketus.


“Ji. . . .” Biru menggenggam tangan Jingga, nada suaranya seperti teguran.


“Ada caffe di seberang taman. Ayo bicara di sana.” Ajak Luna seraya menunjuk sebuah caffe yang terletak di seberang taman.


“Tck, kenapa nggak di sini aja, sih? Nyusahin baget.” Gerutunya malas. Namun, lain di mulut lain di hati, Jingga malah berjalan mendahului Luna untuk pergi ke caffe yang dituju sembari menyeret tangan suaminya.


Luna yang melihat sikap jutek Jingga hanya tersenyum geli.


********


“Kamu duduk di sini aja.” Perintahnya pada Biru begitu dia menapakkan kakinya di teras caffe. Jingga tidak akan membiarkan suami gantengnya dekat-dekat dengan Luna lagi. Lebih tepatnya, tidak dengan Luna ataupun gadis lain.


“Lho, kok gitu?” Tanya Biru protes.


“Tunggu di sini atau nanti malam kamu tidur sendiri?” Ancam Jingga membuat Biru tak bisa berkutik dan hanya menganggukinya.


Sesampainya di dalam, Jingga langsung duduk dan memilih meja yang terletak di dekat jendela.


“Kamu mau pesan apa?” Tanya Luna yang baru saja menyerahkan menu yang sudah dia tandai pada pelayan.


“Air putih.” Jawabnya datar. Luna lantas mengatakan pada pelayan untuk menambahkan air putih ke dalam pesanannya.

__ADS_1


“Mau ngomong apa?” Tembak Jingga cepat. Bukan apa-apa, dia hanya tidak ingin berlama-lama dengan Luna. Jingga tidak suka.


“Biru bilang, kamu lagi hamil, ya?” Tanya Luna basa-basi untuk memulai pembicaraan.


“Hmm.” Sahut Jingga malas.


“Wahh, selamat ya. Semoga kehamilan kamu berjalan lancar sampai persalinan.” Ujar Luna terdengar tulus, namun Jingga enggan mengakuinya. Jingga hanya mengangguk dan mengamininya di dalam hati.


“Udah langsung ke intinya aja bisa, nggak, sih? Aku nggak mau lama-lama duduk berdua sama kamu.” Jingga bersungut-sungut.


Luna tersenyum tipis. “Eung, sebenarnya aku mau minta maaf sama kamu.”


Jingga tertegun, matanya mencuat ke atas untuk menangkap sorot mata Luna, hingga pandangan mereka bertemu.


“Maaf untuk semua sikap buruk aku sama kamu. Aku bener-bener minta maaf karena dengan sengaja udah nyakitin hati kamu dan berusaha menghancurkan hubungan kalian.”


Jingga terdiam memperhatikan, menatap lekat-lekat dan mencoba menangkap kesungguhan di mata gadis yang sedang memohon maaf padanya ini.


“Kamu bener, karena kebodohan aku sendiri, aku bener-bener kehilangan teman baik sekarang.” Sejenak Luna menghentikan ucapannya saat pelayan datang mengantarkan pesanan mereka.


“Aku menghancurkan apa yang udah aku punya karena obsesi aku sendiri. Seandainya aja aku berpikir dengan baik waktu itu. . . .” Luna tersenyum getir, menghela napas dalam-dalam untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Ahh, itu udah lewat. Yang jelas, apa yang kamu bilang waktu itu bener dan aku sadar kalau memaksakan sesuatu untuk kita miliki itu nggak baik.”


Jingga masih memilih diam, membiarkan Luna mendominasi percakapan. Jingga tidak tahu apakah dia harus percaya atau tidak dengan apa yang didengarnya dari mulut Luna barusan.


“Dan dari kejadian ini, aku belajar kalau kita harus menghargai dan merasa cukup dengan apa yang kita miliki saat ini.” Imbuh Luna kemudian.


Jingga tersenyum miring, menyoroti Luna sangsi. “Aku nggak tahu harus percaya ini atau enggak.”


“Aku nggak akan minta kamu buat percaya, kok. Tapi kamu harus tahu aku serius.” Ujar Luna tersenyum tipis, mencoba mengerti dari sudut pandang Jingga terhadap dirinya. “So, apa kamu mau berbesar hati untuk memaafkan cewek jahat ini?”


“Jangan menjelek-jelekkan diri sendiri.” Seru Jingga yang merasa tak suka dengan akhir kalimat yang Luna ucapkan. “Kamu bukan cewek jahat, cuma ngeselin.”


Luna tersenyum geli mendengar itu. Sekarang Luna tahu kenapa Biru dan teman-temannya selalu menjuluki Jingga gadis peri, ternyata selain cantik, Jingga juga baik hati.


“Jadi, kamu mau maafin aku?” Tanya Luna lagi.


“Terpaksa.” Sahut masih bersikap jutek. “Aku nggak mau ngotorin hati aku.”


“Cara kamu maafin orang, tuh, lucu. ” Luna tergelak pelan. Sementara Jingga hanya membalasnya dengan kedikkan bahu tak peduli.


“Ngomong-ngomong, kapan kamu pulang ke Surabaya?” Tanya Jingga kemudian.


“Kenapa? Kamu mau aku buru-buru pergi?” Luna mengulum senyuman geli.


“Jelas, lah. Aku nggak mau kamu ada dalam jarak dekat sama suami aku.” Jawab Jingga terang-terangan.


Luna kembali tergelak pelan. “Kamu tenang aja. Aku bakalan pulang sore ini, kok.”


“Ya bagus, deh.”


Luna mendesis dengan pandangan gemas, lalu beralih melihat jam di pergelangan tangannya. “Oke, kalau gitu sekarang aku permisi. Makasih udah baik hati mau maafin aku.”


“Ya udah pergi aja.” Jingga mengedik tak peduli. Luna hanya terseyum mendengarnya.


“Ohh, iya. Aku harap, kamu ngizinin aku buat lihat bayi kalian nanti.” Ucap Luna sebelum beranjak untuk keluar dai caffe.


Jingga tak menyahuti, dia hanya menatap punggung Luna yang perlahan menghilang di balik pintu kaca.


********


Biru menghampiri Jingga ke dalam setelah melihat Luna keluar dan berpamitan padanya. Terlihat istrinya itu tengah meneguk air putihnya hingga tandas.


“Sayang, ayo pulang.” Ajak Biru setelah menghampiri Jingga.


“Yuk.” Jingga meraih uluran tangan Biru untuk membantunya berdiri.


Namun, belum sempat mereka melangkahkan kakinya. Jingga tiba-tiba mendapati sosok yang sangat dikenalnya masuk ke dalam caffe bersama seseorang. Lebih tepatnya, seorang gadis.


“Kak, itu Langit, kan?” Tanya Jingga ingin memastikan. Mata Biru lantas mengikuti arah telunjuk Jingga.


“Kayaknya iya. Tapi, dia sama siapa?” Jawab Biru seraya memicingkan matanya untuk memastikan bahwa laki-laki yang kini duduk di seberang sana adalah Langit.


“Aku ke sana, deh.” Jingga yang penasaran lantas melepaskan tautan tangannya dengan Biru, lalu berjalan untuk menghampiri Langit.


Benar saja, begitu mendekat, Jingga melihat Langit yang sepertinya sedang berusaha merayu seorang gadis.


Mata Jingga memicing, memperhatikan wajah gadis itu yang terlihat familiar.


Jingga membelalak saat tersadar jika gadis yang bersama Langit adalah si gadis gila, hanya rambutnya saja yang kini dipotong pendek sebahu dan berubah warna menjadi brown hingga terlihat sedikit berbeda.


“Langit.” Panggil Jingga menyentuh bahu laki-laki itu.


Sontak panggilannya tersebut membuat Langit dan gadis yang menurutnya gila itu menolehkan pandangan ke arahnya.


“Lang, ternyata lo ke CFD juga. Padahal kita bisa janjian sebelumnya . . . .” Kalimat Biru terhenti saat dia melihat Shanna, si gadis gila yang duduk berhadapan dengan Langit.


“Shanna? Lo bareng Shanna, Lang?” Tanya Biru dengan tatapan tak percaya. Kenapa selera Langit jadi turun drastis seperti ini?


“Hiish, apa hari Minggu ini nggak bisa sedikit lebih tenang?” Tiba-tiba saja Shanna menggerutu, lantas dengan wajah sedingin es, gadis itu menyoroti Jingga, Biru, dan Langit satu per satu, kemudian dia beranjak dari duduknya dan berlalu begitu saja.


“Aiish, ini gara-gara kalian.” Omel Langit, lalu ikut beranjak untuk mengejar gadis itu.


Biru dan Jingga yang menyaksikannya hanya mengernyitkan keningnya dan saling melempar pandangan heran.


“Shien, tunggu . . . .” Teriak Langit sambil mengejar gadis itu.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2