Still In Love

Still In Love
EP. 54. What Do You Want?


__ADS_3

********


Langit bergerak-gerak gelisah saat Jingga tak kunjung kembali dari kamar mandi. Padahal, acara resepsi hampir berakhir. Dia juga sudah menghubungi Jingga beberapa kali, namun nomornya di luar jangkauan.


Langit semakin khawatir saat dia tak mendapati Jingga di kamar mandi. Langkah dan matanya menyusuri setiap sudut tempat yang mampu dia jangkau, mencari-cari sosok Jingga. Namun, hasilnya tetap nihil.


“Kamu di mana, sih, Ji?” Langit bertanya-tanya dalam hati.


“Mana Jingga?” Tanya Bisma saat melihat Langit kembali sendirian, padahal tadi cowok itu mengatakan akan menyusul Jingga dan mengajaknya pulang.


“Jingga nggak ada di kamar mandi. Gue juga udah cari hampir ke semua tempat, tapi dia nggak ada.” Jelasnya dengan raut wajah khawatir. Langit berkacak pinggang dengan sebelah tangan, sementara satu tangannya lagi menyugar rambutnya dengan gusar, menandakan bahwa cowok itu sangat khawatir.


“Mungkin nggak, sih, dia sama Biru?” Bian menerka saat menyadari Biru juga belum kembali.


Beberapa saat setelah Jingga pergi, Biru meminjam kunci mobil Bisma dan mengatakan akan mengambil barangnya yang tertinggal di sana. Namun sampai saat ini dia juga belum kembali.


“Biru?” Ucap Bisma dan Langit bersamaan seraya melihat ke arah kursi yang tadi Biru duduki.


“Bentar, gue coba telepon dia.” Bisma mengambil ponsel di saku jasnya, lalu mulai mencari kontak Biru untuk menghubunginya.


“Sial, dia bawa mobil gue.” Umpat Bisma saat mendapati pesan dari Biru yang mengatakan bahwa dia membawa mobilnya dan pulang bersama Jingga.


“Hah? Gimana-gimana?” Tanya Bian tak mengerti.


“Ya Biru bawa mobil gue, terus katanya pulang sama Jingga.” Jawab Bisma.


“Lo yakin dia bawa Jingga pulang?” Timpal Langit ragu, raut wajahnya masih menampakkan kekhawatiran.


“Lo nggak usah khawatir, Biru nggak mungkin macem-macem, kok.” Ujar Bisma menenangkan. Walaupun dalam hati dia juga merasa khawatir, mengingat Biru tadi terlihat sedang emosi. Bisma tahu betul, sahabatnya itu sulit mengendalikan diri saat sedang marah.


“Kenapa mereka bisa pulang bareng?” Gumam Luna dalam hati, dia benar-benar merasa kesal. Walaupun sudah berpisah, tapi tak membuat Biru bisa jauh dari Jingga.


“Ya udah, kalau gitu kita juga pulang aja.” Usul Albi yang kemudian mendapat persetujuan.


“Gue bareng sama elo, ya.” Pinta Bisma pada Langit dan diiyakannya. Mereka akhirnya pergi meninggalkan area pesta setelah berpamitan pulang pada empunya acara.


“Lo nggak usah khawatir.” Tutur Bisma terus mencoba menenangkan saat dia dan Langit sudah berada di dalam mobil.


“Biru lagi emosi, mana bisa gue nggak khawatir? Lo tahu apa yang dia lakuin ke Jingga beberapa hari yang lalu? Dia itu nggak kekontrol.” Balas Langit gusar.


“Iya, gue ngerti. Tapi gue juga tahu Biru. Jadi lo tenang aja, gue yakin Biru cuma mau menyelesaikan masalahnya sama Jingga.”


“Gue nggak akan tinggal diam kalau sampai terjadi apa-apa sama Jingga.” Seru Langit seraya mencengkram setir mobilnya geram.


“Tenang, gue bantuin lo mukul Biru kalau sampai terjadi apa-apa.” Sahut Bisma sembari menepuk pelan bahu Langit. Langit sendiri hanya mendengus.


********


Sementara itu, Biru yang kini membawa Jingga ke villa milik keluarganya yang ada di Lembang, dengan emosi yang menguasai dirinya, cowok itu memaksa Jingga untuk keluar dari mobil dan menyeretnya hingga ke kamar.


Awalnya Biru hanya akan membawa Jingga pulang bersama, namun kemarahannya saat mengingat Jingga pergi bersama Langit membuatnya membawa gadis itu ke sana.


“Kak, kok kamu ngunci pintunya?” Tanya Jingga panik. Namun Biru masih memilih bungkam.


Biru malah semakin menarik tangan Jingga mendekati tempat tidur, lalu menghempaskan tubuh gadis itu ke sana. Cukup keras, hingga rasa sakit seketika menjalar akibat benturan antara punggungnya dengan tempat tidur, membuat Jingga meringis.


“Kak . . . .” Suara Jingga tercekat. Dia semakin ketakutan ketika melihat Biru terus berjalan mendekati tempat tidur dengan tatapan yang begitu menyeramkan.


“Kak, kamu mau apa?” Jantung Jingga berdegup kencang mendapati Biru kini sudah mengungkungnya.


“Aku udah bilang jangan pernah mengatakan seperti mengakhiri atau kata lain dari itu.” Ucap Biru dingin seraya menatap lekat-lekat ke dalam mata Jingga yang mulai berkaca-kaca.


“Dan aku juga udah bilang, aku nggak suka lihat kamu deket-deket sama cowok lain.” Lanjut Biru.


“Kak–”


“Apa aku harus melakukan ini untuk membuat kamu mengerti?” Biru mencengkram bahu Jingga agar gadis itu tidak terus berontak, lalu dia mulai mencium bibirnya dengan gerakan brutal.


“Kak, kamu apa-apaan, sih?” Sentak Jingga berusaha mendorong dada Biru, namun sia-sia. Kini cowok itu malah beralih mengecupi rahang Jingga hingga menjalar ke lehernya, memberi gigitan kecil, menghisapnya dengan kuat, hingga menghasilkan beberapa jejak kepemilikan di sana.


“Kak . ., hiks . . .” Tangis Jingga mulai pecah. “Tolong jangan kayak gini.”


Gadis itu tidak bisa melakukan apa-apa selain pasrah di bawah kungkungan Biru. Tenaga Biru sangat kuat, hingga membuat Jingga kesulitan untuk berontak.


Jingga terus memukul dada Biru dengan keras, berharap cowok yang sedang menciumi lehernya itu berhenti. Namun Biru tak mengindahkannya sama sekali. Dia benar-benar hilang kendali, tangannya bahkan kini sudah merayap ke belakang punggung Jingga, menarik ritsleting, lalu menurunkan dress yang dikenakannya hingga sebatas dada. Begitupula dengan ciumannya yang kini merambat turun ke bahu dan tulang selangka Jingga yang tampak menonjol, dan itu membuatnya terlihat seksi.


“Kak . . . .” Suara Jingga terdengar memelas saat Biru menurunkan ciumannya menuju atas dada Jingga yang kini terekspose karena Biru menurunkan dressnya, dia menghisap bagian itu dengan keras hingga meninggalkan hickey di sana.


“Kak, please. . .” Pinta Jingga dengan suara tercekat seiring dengan lelehan air mata yang berhamburan keluar membasahi pipinya. Tapi, Biru tetap tidak mempedulikannya. Kesadaran cowok itu sudah tertutupi oleh amarah dan kabut gairah yang begitu besar.


“Aku mohon, tolong jangan kayak gini.” Jingga berusaha menahan tangan Biru yang mulai bermain-main dengan buah dadanya.


Biru menghentikan aksinya saat mendengar isak tangis Jingga yang terdengar begitu memilukan. Cowok itu lantas menjauhkan kepalanya yang semula berada di atas dada Jingga, lalu menatap wajah gadis itu yang kini juga menatapnya dengan sorot mata memohon bercampur marah.


“Ji . . .” Ucap Biru dengan suara berat serta deru napas yang masih memburu. Seolah tersadar dengan apa yang telah dilakukannya, cowok itu menatap Jingga dengan tatapan yang teramat merasa bersalah.


Jingga membawa tubuhnya untuk bangun, membenahi dress yang tadi sempat diturunkan oleh Biru, lalu beringsut mundur hingga bersandar pada headboard ranjang.


Dengan tubuh gemetar ketakutan, dia menarik selimut dan menutupi tubuhnya hingga sebatas pinggang. Sejenak, Jingga mengatur napasnya yang sesenggukan karena terlalu banyak menangis.


“Apa orang ini yang udah bilang akan memperbaiki semuanya? Apa seperti ini cara kamu memperbaikinya?” Tanya Jingga dengan tatapan nanar, tak menyurutkan air mata yang terus mengalir di pipinya.


“Apa orang ini yang udah bilang sama Ayah dan Bunda akan menjaga dan ngelindungin aku?” Tanyanya lagi dengan suara yang kian memberat seiring dengan sesak yang tertahan di dadanya.

__ADS_1


Biru termangu, mulutnya mendadak bisu, sorot mata yang semula dipenuhi kilatan amarah dan kabut gairah kini berubah sendu, menatap setiap tetesan air mata yang terus berjatuhan mengaliri wajah Jingga. Ingin sekali dia mengulurkan tangan untuk menyeka air matanya.


“Kamu itu cuma orang jahat yang selalu emosional dan hanya bisa nyakitin aku.” Sambung Jingga menghujam ke dalam lubuk hati dan pendengaran Biru.


“Ji, aku–” Biru berusaha mendekat dan mencoba meraih tangan Jingga, namun gadis itu dengan segera menepisnya. “Aku minta maaf.” Ucapnya penuh penyesalan.


Jingga hanya terdiam, menatap berang Biru meski linangan air mata masih melingkupinya.


“Aku minta maaf, aku bener-bener nyesel. Aku sangat marah sampai aku nggak bisa mengendalikan diri, maaf.” Ucap Biru lagi, tak melepaskan pandangannya pada Jingga yang kini memalingkan wajahnya muak.


Cowok masih berusaha meraih tangan Jingga, namun gadis itu selalu menepisnya. Biru tidak bisa memaksa, karena dia tidak ingin membuat Jingga ketakutan lagi.


“Aku hampir gila waktu kamu bilang akan mengakhiri semuanya, dan aku bener-bener marah saat melihat kamu deket sama cowok lain.” Lanjut Biru mengutarakan perasaannya. Sementara Jingga masih terdiam, hingga menciptakan suasana hening di kamar itu.


“Kenapa? Kamu nggak mau kehilangan barang kamu?” Tanya Jingga sarkas, mengingat Biru yang selalu membuat Jingga merasa seperti sebuah barang yang selalu diperlakukan sesuka hatinya.


“Enggak, Ji. Sama sekali bukan seperti itu.” Biru menggelengkan kepalanya cepat, dia meraih bahu Jingga agar menghadap ke arahnya, namun gadis itu malah menjauhkan tubuhnya.


“Mau kamu apa, sih?” Tanya Jingga frustrasi. “Berhenti membuat aku bingung. Apa salah aku sampai kamu bisa memperlakukan aku kayak gini? Selama ini aku juga nggak pernah maksa kamu buat kembali sama aku.”


Jingga menghembuskan napas kasar. Selama ini dia ingin mendengar kejujuran isi hati Biru, tapi sampai saat ini dia tidak mendapatkan itu. Biru hanya terus menyiksa perasaannya seperti ini.


“Bilang sama aku, aku harus apa? Apa yang harus aku lakukan biar kamu berhenti giniin aku dan mau lepasin aku?”


“Nggak, aku nggak pernah mau ngelepasin kamu.”


“Atau kamu nggak mau ngelepasin aku karena ini?” Perlahan Jingga turun dari tempat tidur, lalu menurunkan dress hingga benar-benar terlepas dan hanya menyisakan pakaian dalam yang membalut tubuhnya, dan itu membuat Biru terkejut.


“Kamu butuh tubuh aku, kan?” Jingga merentangkan tangannya, menatap Biru dengan mata yang kembali berlinang.


“Kamu apaan, sih?” Sentak Biru langsung melompat ke arah Jingga dan kembali membenahi dressnya. “Jangan gila, Ji.”


“Kenapa? Kamu belum puas, kan, sebelum dapetin ini? Silahkan, kalau ini bisa buat aku terlepas dari kamu. Aku juga masih inget kamu bilang tubuh kamu cuma tertarik sama tubuh aku waktu itu.”


Biru mendesah frustrasi. “Nggak kayak gitu, Ji.”


Jingga mendorong tubuh Biru, dan kembali menurunkan dressnya.


“BERHENTI!” Teriak Biru keras hingga Jingga terhenyak takut. Untuk pertama kalinya dia mendengar Biru membentaknya sekeras itu. Tubuh Jingga sampai gemetar dan napasnya tercekat. “Aku bilang nggak kayak gitu.”


“Kenapa? Apa yang kamu mau dari aku?” Jingga mengulang pertanyaan seiring dengan tubuhnya yang merosot, terduduk lemah di lantai. “Kamu jahat.”


“Maaf. . . .” Biru ikut terduduk dengan bertumpu pada kedua lututnya, lalu dia merengkuh tubuh gadis itu yang bergetar.


“Maaf udah ngebentak kamu.” Gadis itu masih belum mau mengangkat wajahnya. “Maaf udah keterlaluan sama kamu.”


“Kamu nyakitin aku.”


“Iya, aku tahu.” Tangan Biru merambat mengusap punggung gadis itu. “Itu karena aku bingung sama perasaan aku.”


Biru kira pertahanannya selama ini tidak akan runtuh. Sialnya Jingga berhasil menghadirkan perasaan aneh di hatinya, tapi sampai saat ini Biru juga masih tidak mengerti dengan apa yang dia rasa. Atau lebih tepatnya gengsi, dia gengsi untuk menjilat ludahnya sendiri.


“Jadi karena kamu bingung, kamu bisa seenaknya sama aku? Biru kamu cuma hilang ingatan, bukan hilang akal.” Jingga mendorong dada Biru hingga pelukannya terlepas. “Jahat kamu.”


“Tapi sekarang aku sadar kalau aku cinta sama kamu.” Biiru meraih tangan Jingga, tapi dengan cepat ditepisnya.


Gadis itu lantas tersenyum kecewa. Sudah terlambat. Biru sudah terlalu jauh menyakiti hatinya, semua harapan Jingga padanya sudah hilang.


“Makannya aku mau kita memulai semuanya lagi, dari awal. Kamu mau, kan?”


Jingga kembali menepis tangan Biru yang nyaris merengkuh pundaknya, lalu membuang muka, enggan menatap cowok itu.


“Ji, tolong lihat aku.” Pinta Biru lirih.


“Aku mau pulang.” Ucap Jingga tak mengindahkan ucapan Biru. Dia lantas berdiri, sesaat setelah memperbaiki dressnya.


Cowok itu sudah mengikis kepercayaannya, sebelumnnya Jingga pernah mengambil keputusan dengan hati, kali ini tidak. Dia akan menggunakan otaknya. Jingga tidak ingin sakit lagi.


“Ji. . . .” Biru dengan cepat menahan lengan Jingga yang mulai melangkah mendekati pintu kamar. Cowok itu menatap Jingga meminta jawaban.


“Aku bilang mau pulang.” Ucap Jingga sekali lagi, dia menatap Biru tanpa ekspresi.


Biru menghela napas dalam seraya memejamkan matanya singkat. Situasinya tidak pas untuk membahas itu. Jingga terlihat masih terguncang.


“Ini udah malem. Kita pulang besok, oke?” Bujuk Biru sambil berusaha menuntun gadis itu ke tempat tidur dan mendudukannya di sana.


“Kalau gitu kamu keluar sana.” Usir Jingga dengan suara parau karena terlalu banyak menangis. Jingga tidak ingin mendebat Biru. Ketakutan masih menghantui dirinya, Jingga takut Biru melakukan hal tak terduga seperti tadi jika dia mendebatnya.


“Enggak, aku temenin kamu.”


Jingga mendengus sebal, menyentak tangan Biru, lalu berucap dingin. “Kamu mau buat aku tambah benci sama kamu, ya?”


“Oke, aku keluar.” Biru mengalah. “Aku minta maaf.” Ucapnya sembari memberi usapan halus di puncak kepala Jingga, sebelum kemudian beranjak meninggalkan kamar.


Jingga mengunci pintu kamarnya rapat-rapat selepas kepergian Biru. Ingatan tentang apa yang beberapa saat lalu Biru lakukan padanya membuatnya takut dan harus lebih waspada.


Jingga mengambil ponsel dari dalam tasnya, dia menghembuskan napas frustrasi saat mendapati ponselnya mati. Tidak ada charge atau power bank di dalam tasnya. Sial. Dia tidak bisa menghubungi Ayah atau Langit untuk menjemputnya.


Malam semakin larut, bahkan waktu sudah menunjukkan pukul dua dini hari. Tapi Jingga belum bisa memejamkan mata, hati dan pikirannya yang kalut membuatnya hanya berguling-guling di tempat tidur. Metode yang biasa dia gunakanpun tak membuatnya mengantuk. Hingga akhirnya terpaksa dia harus menghitung domba, berharap rasa kantuknya datang.


“879 domba . . . .”


“880 domba . . . .” Dan Jingga terlelap setelah itu, meniggalkan kekacauan dalam hatinya untuk sejenak.

__ADS_1


********


Pagi harinya sekitar pukul setengah enam, Jingga keluar dari kamar setelah sebelumnya dia mencuci wajah di kamar mandi. Matanya menyusuri setiap sudut ruangan, mencari-cari di mana letak dapur berada. Kerongkongannya terasa sangat kering, dia butuh minum.


Mata Jingga berbinar seolah menemukan oase di tengah gurun saat langkahnya tiba di dapur. Dengan cepat, tangannya lalu terulur membuka pintu lemari es dan mengambil sebotol air mineral dingin dari sana, kemudian dia meneguknya hingga tandas. Sekarang kerongkongannya terasa sangat lega.


“Non Jingga sudah bangun?” Suara seseorang mengejutkan Jingga yang masih berdiri di depan lemari es. Alis Jingga mengernyit mendapati wanita paruh baya seusia ibunya kini berdiri di hadapannya.


“Saya Bi Nyai, yang biasa mengurus villa keluarga Pak Rendi.” Ucapnya memperkenalkan diri, seolah mengerti akan kebingungan Jingga. Villa milik Om Rendi memang hanya ada dua orang kepercayaan yang mengurusnya. Bi Nyai dan Pak Ujang suaminya.


“Ini benar Non Jingga, kan? Calon istrinya Den Biru? Bibi dengar dari Ibu, kalian akan segera menikah. Ternyata calon istrinya Den Biru sangat cantik.” Cerocos wanita paruh baya itu.


“I-iya, Bu.” Jawab Jingga canggung. Dia terpaksa mengiyakannya, karena tidak ingin menimbulkan pertanyaan lebih.


“Panggil saya Bibi aja, Non.” Ucap Bi Nyai sembari mengulas senyumnya.


“Iya, Bi.” Jingga membalas dengan tersenyum ramah.


“Kalau begitu, Bibi permisi untuk menyiapkan sarapan.” Pamit Bi Nyai sopan, Jingga hanya menganggukkan kepalanya. Namun sebelum Bi Nyai beranjak, wanita itu sejenak tertegun memperhatikan leher Jingga yang terdapat banyak love bite di sana.


“Ada apa, Bi?” Tanya Jingga yang merasa tidak nyaman diperhatikan seperti itu.


“Ahh, enggak, Non.” Jawab bi Nyai gelagapan sebelum akhirnya dia benar-benar pergi.


“Dasar anak muda zaman sekarang. Suka nabung dulu sebelum sah.” Gumam Bi Nyai dalam hati seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.


Tak lama setelah itu, Jingga kembali ke kamar untuk mengambil tasnya, dia ingin pulang sesegera mungkin. Tapi dia bingung bagaimana caranya, karena daerah tersebut tidak dilewati kendaraan umum.


“Kamu mau ke mana, Ji?” Tanya Biru yang mendapati Jingga keluar dari kamar dengan tasnya.


“Pulang.” Jawab Jingga singkat tanpa melihat ke arah Biru.


“Sarapan dulu, Ji.” Pinta Biru, namun Jingga tak mengindahkannya. Gadis itu berlalu meninggalkan Biru dan melangkah keluar dari villa dengan gerakan cepat. Biru pun mau tidak mau harus mengejar Jingga, dengan cepat dia meraih pergelangan tangannya saat sudah sampai di halaman depan.


“Oke, kita pulang sekarang.” Biru menyerah dan menuntun Jingga untuk masuk ke dalam mobil. Tak lupa dia berpamitan terlebih dahulu pada Pak Ujang dan Bi Nyai.


Sepanjang perjalanan, tak ada percakapan di antara mereka, hingga membuat suasana di dalam mobil terasa membeku. Kebisuan Jingga yang tak mau menjawab ucapan yang Biru lontarkan padanya membuat Biru berhenti untuk berbicara.


“Kamu ngantuk? Ya udah kalau gitu tidur aja. Nanti kalau udah sampai, aku bangunin.” Ujar Biru saat melihat Jingga bersandar pada kursi mobil sambil menutup matanya. Gadis itu kembali tak menyahuti.


Jingga memilih memanfaatkan waktu untuk berpura-pura tidur demi menghindari percakapan yang mungkin terjadi dengan Biru. Selain itu, dia juga muak melihat wajah Biru lama-lama.


Perjalanan pulang terasa sangat lama karena mereka terjebak macet. Jelas saja karrena ini hari libur. Dalam hati, Jingga ingin sekali memaki setiap orang karena harus berpergian di hari libur. Karena mereka, jalanan menjadi macet, hingga menyebabkan semakin lama pula dia harus terjebak bersama Biru.


Satu jam kemudian, Jingga merasakan Biru memperlambat kecepatan mobilnya dan berhenti secara tiba-tiba. Jingga yang masih mempertahankan pura-pura tidurnya perlahan membuka mata. Gadis itu tersadar bahwa mereka sudah sampai di depan gedung apartemen.


“Udah bangun, Ji?” Tanya Biru yang melihat Jingga mengusap wajahnya. Gadis itu masih mengabaikannya, dia langsung membuka pintu mobil dan turun tanpa pamit terlebih dahulu.


Biru segera keluar dari mobilnya untuk mengejar Jingga yang baru saja turun saat dia menyadari sesuatu.


“Ji, tunggu.” Dia meraih pergelangan tangan Jingga dan berhasil menghentikan langkahnya.


“Aku juga minta maaf untuk ini.” Biru melingkarkan sapu tangan miliknya yang cukup lebar di sepanjang leher Jingga untuk menutupi love bite yang dibuatnya semalam.


Sejenak Jingga tertegun sambil menyentuh bagian lehernya. Pantas saja tadi pagi Bi Nyai memperhatikannya seperti itu. Pasti wanita itu berpikiran macam-macam padanya.


“Kamu istirahat. Kita ketemu dan bicara besok.” Ucap Biru seraya mengusap puncak kepala Jingga singkat. Rasanya Biru tidak mau mengakhiri pertemuannya dengan Jingga saat ini, namun dia harus memberi waktu sejenak untuk gadis itu menenangkan diri. Bagaimanapun caranya, Biru akan membuat Jingga tetap berada di sisinya.


“Jangan harap!” Sahut Jingga menatap Biru dengan ekspresi tak terbaca.


“Aku pulang dulu.” Balas Biru tak mengindahkan.


Cowok itu kemudian berlalu dan masuk ke dalam mobilnya, meninggalkan Jingga yang masih diam mematung di depan gedung apartemennya.


********


Keesokan paginya, Biru masuk ke ruangan dengan lagkah gontai. Sepertinya Jingga masih tak mau berbicara dan ingin menghindarinya hari ini. Terbukti saat dia menjemputnya di apartemen, Jingga tidak membukakan pintu untuknya. Begitupula saat dia menelepon, nomornya bahkan di luar jangkauan.


Biru juga sudah mencari ke ruangannya, di taman, atap, dan tempat-tempat sekitar rumah sakit yang biasa dikunjungi Jingga. Namun gadis itu tidak ada di sana.


Dengan demikian, dia memutuskan untuk pergi ke ruangannya sendiri dan menemui Jingga nanti di jam makan siang karena mungkin saat ini gadis itu sudah sibuk dengan pekerjaannya.


Pupil mata Biru seketika melebar saat benda kotak berwarna merah muda yang ada di atas meja kerja mencuri perhatiannya. Dia lantas mendekati meja, dan perlahan membuka penutup kotak.


Tampak benda-benda lucu seperti boneka, gantungan tas, beberapa foto polaroid, kalung pemberian Biru, sebotol yoghurt strawberry, dan sebuah surat berada di dalam sana.


Tangan Biru terulur mengambil surat yang ditulis dalam kertas origami berwarna jingga, lalu dia mulai membaca deretan tulisan yang cukup panjang itu.


Ini mungkin yoghurt strawberry terakhir yang bisa aku kasih buat kamu, minum ini dan lupakan aku dalam setiap sesapannya.


Kamu nggak perlu berusaha untuk mengingat aku lagi mulai sekarang. Karena pada akhirnya, kamu tetap harus ngelupain aku.


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


. . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2