
********
Jingga dibawa ke ruang bersalin setelah sebelumnya dokter memeriksa keadaannya dan ternyata Jingga sudah memasuki pembukaan sempurna.
Di sana, Jingga ditemani Biru yang terus berusaha menenangkannya. Laki-laki itu berdiri di samping Jingga seraya tak lepas menggengam tangan sang istri.
“Kuat, ya, sayang.” Biru mengecup pelipis Jingga yang sudah dibanjiri keringat. “I’m here with you.”
Biru terus memberi semangat, menyalurkan kekuatan meski sebenarnya dia juga takut.
“Aku minta maaf.” Lirih Jingga tiba-tiba sedih. “Tadi udah maki-maki kamu. Aku udah durhaka, ya, sama kamu?”
Biru yang mendengarnya hanya mengulas senyum diiringi gelengan kepala. Biru maklum, Jingga sedang menahan sakit yang tak tahu separah apa rasanya demi melahirkan buah hati mereka.
“So, kamu masih mau hamil anak aku, kan?” Tanya Biru seraya menempelkan hidungnya dengan hidung Jingga.
Gadis itu terkekeh geli di sela-sela ringisan kesakitannya. Dalam keadaan seperti ini, suaminya itu masih sempat-sempatnya bergurau seperti itu.
“Kamu ini ada-ada aja, ini aja belum keluar. . . ugh.” Jingga kembali meringis saat rasa sakitnya kian tak terkendali.
“Udah kamu jangan ngomong lagi, simpan tenaganya.” Biru mengusap-usap rambut Jingga yang sedikit basah oleh keringat dengan sebelah tangannya yang bebas.
“Charger. . . .” Jingga mengulas senyum tipis saat merasakan Biru mendaratkan kecupan di keningnya.
Sejurus kemudian, perawat kembali memeriksa Jingga untuk memastikan apakah gadis itu sudah siap untuk persalinan atau belum. Tidak lupa, perawat itu juga memeriksa tekanan darah serta ritme kontraksinya.
Setelah semuanya dirasa sempurna, dokter mengajak para perawat untuk segera membantu Jingga melakukan persalinan.
Detik selanjutnya, dokter segera menuntun Jingga untuk mengejan seiring dengan munculnya kontraksi dan meminta Jingga untuk mengatur pernapasannya saat kontraksi kembali menghilang. Begitu terus hingga beberapa menit berlalu.
Biru yang melihat sang istri tengah berjuang untuk melahirkan buah hati mereka tak bisa menahan pilu di dadanya. Diam-diam dia menyeka sudut matanya yang berair, sebelum kemudian kembali menyemangati Jingga.
Biru tidak tega melihatnya. Tapi, lebih tidak tega lagi jika dia harus meninggalkan Jingga berjuang sendirian.
Ternyata seperti ini perjuangan seorang ibu melahirkan anaknya. Setelah selama sembilan bulan mengandung dengan segala kesulitan yang dialaminya, seorang ibu masih harus berjuang, merasakan sakit yang tak bisa digambarkan untuk membawa bayinya ke dunia.
Dengan menyaksikan semua ini di depan matanya, Biru menjadi semakin respect dengan semua perempuan yang ada di dunia ini. Terutama pada ibunya, ibu mertuanya, dan terlebih pada istrinya yang saat ini sedang berjuang melahirkan anaknya.
Biru berjanji, dia akan memperlakukan mereka lebih baik lagi.
Sementara itu di luar ruang persalinan, para orang tua, termasuk Om Resky, harap-harap cemas menunggu persalinan Jingga selesai.
Papa Rendi yang terlihat lebih gelisah dari yang lain, beliau sejak tadi terus berjalan mondar-mandir ke sana ke mari. Sesekali beliau mengintip di balik kaca ruangan yang tertutup gorden itu.
Dalam hatinya dia terus merapalkan doa. “Ya Tuhan, tidak peduli cucuku laki-laki atau perempuan, aku harap anak itu lahir dengan selamat dan lengkap tanpa kekurangan. Berilah kemudahan pada putri menantuku untuk melahirkannya. Aamiin.”
********
Keringat bercucuran di sekujur tubuh Jingga, dia terlihat begitu kesakitan seiring dengan waktu yang terus berjalan. Biru yang melihatnya tak berhenti membisikan kata-kata semangat agar Jingga tidak menyerah.
Dokter dan perawat ikut berjuang membantu Jingga agar bayi yang dikandungnya segera lahir.
Jingga terus berkutat mengikuti arahan dokter hingga akhirnya tangisan mungil terdengar memenuhi seisi ruangan bersalin itu begitu Jingga melepaskan satu dorongan terakhirnya.
Hati Biru terenyuh begitu telinganya menangkap suara tangisan bayi mungil itu. Bayi mereka, bayinya dengan Jingga sudah lahir. Winter, putri mahkotanya.
Biru menghela napas lega seraya mengucap syukur. “Kerja bagus, sayang.”
Biru mengecup puncak kepala Jingga penuh sayang. Dia begitu terharu sampai ingin menangis, kebahagiaan yang membuncah di hatinya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
“Terima kasih, sayang. Makasih udah berjuang melahirkan Winter kita.” Bisik Biru kemudian, dia lantas menghadiahi Jingga dengan kecupan di keningnya berulang-ulang.
Sama halnya dengan Biru, Jingga juga merasakan haru menyelimuti hatinya, dan dia tidak bisa menahan tangisannya.
“Bayinya sangat cantik.” Tutur seorang perawat menggendong bayi yang sudah dibersihkan itu.
Si perawat kemudian meletakkan bayi mungil itu di dada Jingga untuk melakukan inisiasi menyusui dini (IMD) untuk membantu bayi beradaptasi dan memudahkannya menyusu.
“Anak aku, Kak.” Seru Jingga terharu melihat bayi mungil itu merangkak mencari-cari puncak dadanya untuk minum ASI. “Anak Mama. . . .” Dielusnya kepala bayi mungil itu dengan penuh sayang.
“Anak kita, Sayang.” Biru mengoreksi, dia lantas menyentuh bayi mungilnya yang ada dalam dekapan sang istri. Ini adalah pertemuan pertama kali yang sangat indah bagi Biru, Jingga, dan buah hati mereka.
Biru seolah dibuat jatuh cinta lagi saat melihat anaknya yang sangat menggemaskan dengan bibir yang merah merona, kulitnya sangat halus, sehalus salju yang tadi turun mengiringi proses persalinan Jingga. Hingga tak terasa, air mata Biru meleleh begitu saja tanpa seizinnya.
Ternyata seperti ini rasanya menjadi seorang ayah. Hatinya dipenuhi rasa bahagia yang meluap-luap. Biru bahkan tak percaya jika dia bisa merasakan kebahagiaan yang sebesar ini di dalam hatinya.
“Welcome to the world, baby girl.” Sambut Biru berbisik penuh haru. Ahh, rasanya tidak ada siapun yang bisa menggambarkan kebahagiaan di hatinya saat ini.
__ADS_1
Di luar ruangan, semua orang yang menunggu tampak bersuka cita begitu melihat tanda bahwa bayi sudah lahir.
Papa dan Ayah bahkan melompat kegirangan sampai tak sadar mereka berpelukan.
Ekspresi bahagia jelas tergambar di wajah mereka semua. Bunda langsung menangis menyaksikan itu. Dia tak menyangka, kini putri kecilnya ternyata benar-benar sudah menjadi gadis dewasa dan melahirkan seorang cucu untuknya.
Tak lama, perawat membawa bayi Jingga keluar. Papa dan Ayah lantas bergegas menghampirinya dan meminta Om Resky untuk memotret moment yang begitu membahagiakan ini.
Sementara itu, Biru yang ikut keluar bersama dengan perawat dan bayinya, langsung berhambur memeluk Mama hingga membuat wanita paruh baya itu terkejut dibuatnya. “
“Makasih karena Mama udah berjuang dan melahirkan aku. Maaf kalau selama ini aku selalu nyusahin Mama.” Biru menenggelamkan wajahnya di pundak sang ibu.
“Uluuh, anak mama kenapa jadi mellow gini, sih?” Ledek Mama seraya menepuk-nepuk pundak anaknya.
“Aku lihat Jingga tadi–” Biru tak bisa melanjutkan kalimatnya, suaranya tercekat oleh tangis yang tak bisa dia tahan.
“Anak kecil Mama udah jadi ayah.” Ucap Mama begitu Biru melepaskan pelukannya. “Selamat, Sayang. Kalau kamu udah tahu bagaimana perjuangan seorang ibu melahirkan, maka jangan sekali-kali kamu mencoba menyakiti Jingga.” Lalu mengacak-acak rambut anaknya itu dengan gemas.
Setelah itu, tak lupa Biru juga memeluk Bunda dan mengucapkan terima kasih karena sudah melahirkan putri secantik dan sehebat Jingga.
********
Jingga dan bayinya sudah dipindahkan ke ruang rawat. terlihat bayi kecil Jingga tertidur lelap di dalam box bayinya.
Di sana Jingga ditemani Ayah dan Bunda, sedangkan orang tua Biru memutuskan pergi ke kantin untuk makan siang yang sebenarnya sudah kesoren itu sebelum nanti bergantian dengan orang tua Jingga.
Sementara Biru, laki-laki itu tadi meminta izin pulang sebentar untuk mengganti sekalian mengambil pakaiannya di apartemen.
“Bunda dulu pasti kesakitan banget waktu ngelahirin aku, kan?” Tanya Jingga lirih, seketika dia mengingat dosa-dosanya pada Bunda.
Wanita paruh baya itu tersenyum tipis dan tanpa sadar meneteskan air matanya.
“Itu nggak sia-sia, karena yang Bunda lahirkan itu anak cantik dan jelita ini.” Bunda lantas mencubit pelan pipi putrinya dengan gemas.
“Makasih udah mau berjuang mengandung dan melahirkan aku, Bunda. Maaf karena aku suka ngelawan sama Bunda.” Jingga lalu memeluk Bunda sambil menangis haru.
“Lagi taubat, nih, ceritanya?” Ledek Bunda sembari mengusap-usap lembut punggung Jingga. Jingga sendiri yang mendengar itu hanya mendengus.
“Winter nggak akan nakal kayak aku, kan, Bun?” Tanya Jingga mendongakkan kepalanya menatap Bunda, dia khawatir kenakalannya menurun pada anaknya kelak.
“Ihh, Bunda. . . .” Rengek Jingga manja dengan bibir yang mengerucut lucu.
“Jangan manja, malu, dong, sama anaknya.” Cibir Ayah yang sejak tadi hanya fokus memandangi cucu barunya dalam box bayi.
“Nggak apa-apa, Winter, kan, belom ngerti.” Sahut Jingga tak peduli dengan cibiran sang ayah, dia kemudian kembali memeluk perut Bunda dengan manja.
Sementara Ayah yang melihat kelakuan putrinya yang tak banyak berubah walaupun sudah memiliki anak itu hanya geleng-geleng kepala.
“Mama kamu itu beber-bener nggak tahu malu, ya, Sayang.” Cibir Ayah lagi setelah dia kembali mengalihkan perhatiannya pada bayi Winter. Jingga yang mendengarnya langsung merengut, tapi tak ingin mempermasalahkannya.
Tak lama setelah itu, Ayah dan Bunda keluar dari ruang rawat Jingga setelah Biru datang dengan sebuket bunga mawar merah besar di tangannya. Kini di ruangan itu hanya ada mereka bertiga. Biru, Jingga, dan bayinya.
“Hadiah. . . .” Biru menyerahkan buket bunga mawar merah yang langsung diterima Jingga dengan senang hati.
“Makasih udah mau berjuang mengandung dan melahirkan putri cantik kita ke dunia, Sayang. Semoga kamu sehat dan bahagia selalu.” Biru lantas mendaratkan kecupan di kening Jingga.
“Jangan berterima kasih, itu udah jadi tugas aku.” Jingga yang terharu mendengar penuturan Biru tidak tahan untuk tidak menangis. Terlihat air mata menggenang di pelupuk matanya.
“Maaf, selama ini aku rewel dan banyak nyusahin kamu.” Jingga lalu menenggelamkan wajahnya di pundak Biru.
Mendengar itu, Biru sedikit mengambil jarak agar bisa bersitatap dengan sang istri. “Heii, kamu ngomong apa, sih?”
“Ya emang gitu kenyataannya, kan?” Sahut Jingga dengan mata yang berlinang-linang.
Biru menggeleng, kedua tangannya terulur mengusap air mata yang mengalir di wajah Jingga. “Jangan minta maaf, itu udah jadi tanggung jawab aku.”
Biru lantas menempelkan keningnya dengan kening Jingga untuk kemudian mereka terkekeh pelan, sangat pelan agar tidak membangunkan bayi mereka yang sedang tertidur.
“Mau cium boleh, nggak?” Tanya Biru membuat Jingga mendengus geli.
“Kalau aku bilang nggak boleh, kamu mau apa?” Ledek Jingga.
“Mau maksa.” Jawab Biru, dia lalu meraih tengkuk Jingga untuk mengikis jarak di antara mereka. Namun, baru saja bibirnya dengan Jingga saling menempel, tiba-tiba terdengar tangisan pendek dengan nada rendah bayi mereka, otomatis Biru dan Jingga menjauhkan wajahnya.
“Kayaknya dia nggak mau dicuekin.” Ucap Biru menahan tawanya, dia kemudian beranjak untuk menghampiri bayi mereka. Tampak bayi mungil itu mengecap-ngecapkan bibir di sela rengekannya.
“Uluuh, anak Papa kayaknya laper.” Seru Biru seraya meraih putri cantiknya itu ke dalam gendongannya.
__ADS_1
Jingga yang duduk bersandar di ranjangnya tersenyum sambil mengulurkan kedua tangannya untuk menyambut bayi mereka.
“Mama, aku laper. Cepetan, mana susu aku!” Biru menirukan suara anak kecil seraya menyerahkan bayinya yang seperti sudah tak sabaran itu ke dalam dekapan Jingga.
Gadis itu sangat cekatan menggendong bayinya, pengalamannya sering menggendong keponakannya dulu ternyata sangat bermanfaat untuknya di masa depan. Jingga jadi tidak mengalami kesulitan untuk menggendong bayinya.
Tak butuh lama bagi bayi mungil itu untuk menemukan puncak dada ibunya dan perlahan mulai menyusu dengan cepat.
“Anak pinter.” Jingga merasa senang, dia lalu mengusap lembut pipi bayi cantiknya.
“Anak cantiknya Papa.” Biru mencolek hidung Winter yang terlihat mancung itu begitu dia duduk di tepi ranjang. Dia tak bisa berhenti tersenyum memandangi anaknya yang menyusu dengan cepat.
“Sssh . . . .” Jingga meringis saat rasa nyeri bercampur sensasi menggelitik kembali dia rasakan pada puncak dadanya. Jelas saja, puncak dadanya sangat sensitif saat si kecil menyusu, dia belum terbiasa.
“Kenapa?” Tanya Biru panik. Jingga menoleh sekilas seraya mengulas senyum dan menggelengkan kepalanya pelan.
“Nggak apa-apa. Puncak dada aku agak nyeri campur geli gitu pas Winter mimi.” Jingga kembali meringis saat sensasi itu datang lagi.
“Biasanya kalau sama aku enggak.” Celetuk Biru enteng, membuat Jingga yang mendengarnya langsung mendelik sebal.
Seandainya saja dia sedang tidak menggendong Winter, mungkin Jingga sudah memukul mulut laki-laki itu saat ini juga.
“Kamu jangan ngomong aneh-aneh. Ini ada Winter, lho.” Tegur Jingga, Biru hanya terkekeh sembari mengangkat jari telunjuk dan tengahnya membentuk tanda V.
“Iya, iya, maaf.” Biru dengan cepat mencium pipi Jingga sekilas.
“Hiish.” Jingga mendengus geli melihatnya.
Sejenak mereka terdiam, menikmati kebersamaan mereka sebagai orang tua baru bersama anaknya. Rasanya sangat indah, hanya dengan menatap bayi mereka yang tertidur dalam dekapan Jingga seperti ini.
********
Satu bulan berlalu. Kini Biru, Jingga, dan putri kecilnya sudah kembali ke Indonesia.
Hiruk pikuk mewarnai rumah keluarga besar Rendi Harsa sore itu. Rumah besar bergaya Eropa modern itu ramai karena akan diadakan acara syukuran atas lahirnya bayi pertama Biru dan Jingga. Lebih tepatnya cucu pertama pemilik RH Hospital.
Terlihat kerabat dekat keluarga hadir dengan wajah berseri bahagia. Masing-masing membawa kado terbaik untuk si kecil Winter yang satu bulan lalu lahir ke dunia.
Terlihat Luna juga hadir di sana bersama seorang pria di sampingnya, begitupula dengan Bu Ratmi yang turut hadir bersama mereka.
Ruang tengah rumah itu sudah didekorasi sedemikian rupa dengan tema rustic. Ornamen simple bernuansa kayu yang menjadi backdrop memberikan kesan alami dan sederhana, namun tak menghilangkan kesan elegannya.
Tidak lupa si kecil Winter yang menjadi bintang acara hari itu terlelap anteng dalam keranjang bayinya, seolah tak terpengaruh sama sekali dengan keriuhan di sekitarnya.
Semua tamu undangan dan keluarga yang memiliki acara tampak mengenakan pakaian serba putih sebagai dresscode dari acara tersebut.
Tak lama, pembawa acara nampak memulai acara tersebut dan memberikan kesempatan kepada Papa Rendi sebagai sesepuh sekaligus Kakek dari Winter untuk memberikan sambutan.
“Saya ucapkan terima kasih banyak kepada para undangan yang berkenan hadir hari ini. Meskipun cuaca di luar sangat terik, tapi masih menyempatkan diri untuk datang di hari bahagia kami. Satu bulan yang lalu, Winter lahir ke dunia seperti malaikat dan dalam waktu singkat dia sudah berumur satu bulan, dia . . . .” Papa sejenak menghela napas dalam, dia terharu, nyaris ingin menangis, Papa begitu mengagumi cucunya. “Sangat cantik.”
“Dan Jingga, menantu Papa . . . .” Papa mengalihkan perhatiannya pada Jingga. “Terima kasih sudah memberi kami cucu yang cantik, Nak.”
Jingga tersipu, dia lantas mengangguk dengan mengulas senyum di wajahnya.
“Kamu tahu, kan, kalau papa selalu punya firasat yang kuat? Winter kita . . . .” Papa kembali menggantungkan kalimatnya begitu menatap Winter. “Di masa depan, dia akan menggenggam dunia. Dia akan menjadi bintang besar dan terkenal di seluruh dunia.”
Sambutan yang sedikit aneh memang hingga membuat semua tamu undangan tergelak karenanya.
“Dia mau Winter jadi kayak Ariana Grande. Aku nggak setuju.” Biru berbisik di telinga Jingga. Namun, Jingga memberi isyarat pada Biru untuk jangan protes dan biarkan saja Papa mengatakan sesuai keinginannya.
“Dan dalam waktu enam bulan, kita akan mendapatkan kabar kehamilan, kali ini anak laki-laki. Winter akan menjadi penyanyi kelas dunia, sementara anak laki-laki yang akan lahir tahun depan, dia akan membantu Ayah dan Kakeknya untuk menjadikan RH Hospital nomor satu di Asia.”
Ucapan Papa barusan otomatis membuat Biru dan Jingga yang mendengarnya melongo tak percaya.
“Aku aja belum selesai nifas.” Kali ini Jingga yang berbisik di telinga Biru.
“Habis kamu nifas, kayaknya kita harus gaspol bikin adik buat Winter.” Balas Biru nyeleneh dan langsung mendapat cubitan kecil di pinggangnya dari Jingga.
“Terakhir, semoga Jingga berumur panjang dan hidup berbahagia bersama suami dan anaknya. Semoga keberkahan selalu menyertai keluarga kecil kalian, Nak.” Papa mengakhiri sambutannya dengan doa dan harapan yang tulus.
Jingga terenyuh mendengar kalimat terakhir Papa hingga meneteskan air matanya. Dia merasa sangat beruntung, karena selain mendapatkan suami yang begitu mencintai dan menyayanginya, dia juga mendapatkan mertua sebaik Papa.
Sekarang, yang harus Jingga lakukan adalah menjalani hidup bahagia bersama Biru dan anak-anak mereka nanti. Walaupun dia menyadari masih banyak hal yang akan menanti mereka di masa depan, mungkin juga akan ada kerikil-kerikil tajam yang akan menghalangi dan mengganggu kehidupan mereka, namun semuanya akan berlalu jika mereka selalu bersama dan saling menguatkan.
THE END.
********
__ADS_1