
********
Setelah selesai menangani pasien rawat jalan, Jingga duduk di kursi kerja dengan laptop menyala di hadapannya. Jingga menyentuh touchpad dan mulai membuka link untuk menonton drama Korea yang sedang trending saat ini.
Namun di sela-sela ia menscroll dan membaca beberapa judul drama yang akan ditontonnya, matanya tiba-tiba tertuju pada cincin yang kini bertengger di jari manisnya. Hal ini tentu saja langsung menghentikan aktivitasnya.
Sejenak dia terdiam, memperhatikan cincin yang dua hari lalu Biru sematkan di jari manisnya.
Acara pertunangan Biru dan Jingga berjalan dengan lancar. Walaupun Jingga mendapat beberapa teguran dari orang tua dan kakaknya karena bisa-bisanya dia malah tidur dan terlambat di acara sepenting ini. Tapi itu tak mengganggu kelancaran acara, bahkan dalam acara itu telah menghasilkan kesepakatan antar dua keluarga bahwa dalam waktu tiga bulan setelah acara tersebut, pernikahan mereka akan dilangsungkan.
Tentu saja Biru dan Jingga terkejut. Entah harus senang atau tidak dengan ini, yang jelas hati Jingga begitu gundah. Jingga berharap sebelum pernikahan dilangsungkan, Biru sudah kembali padanya baik tubuh, hati, maupun ingatannya. Dengan demikian, Jingga tak perlu khawatir akan cinta sendirian lagi. Karena jujur, cinta sepihak itu berat.
Jingga hendak melanjutkan aktivitasnya untuk mencari drama yang akan ditonton, namun dia urungkan tatkala melihat jam di layar laptop yang sudah menunjukkan waktu makan siang. Pada akhirnya, Jingga memilih untuk menutup laptopnya.
Jingga mengambil ponsel untuk melepon Biru, bermaksud untuk mengajak cowok itu makan siang bersama. Kebetulan sekali jadwalnya sampai sore tidak sibuk, mungkin Jingga bisa mengajak Biru makan di luar kalau-kalau Biru ada waktu, atau dia bisa mengajak Biru untuk makan di atap gedung sembari mengingat kenangan mereka saat di sekolah dulu.
“Ya, Ji?” Sahut Biru di seberang telepon.
“Emm, ayo makan siang bareng. Kalau kamu nggak sibuk.” Ajak Jingga sedikit ragu, tapi suaranya penuh harap.
“Gimana kalau kita makan siang di atap gedung? Aku bisa ceritain sedikit kenangan kita di sana.” Lanjut Jingga semangat dengan mata berbinar.
“Maaf, Ji. Aku nggak bisa.” Jawab Biru.
Jingga mendesah pelan, tatapannya nampak kecewa.
“Ohh, ya udah, nggak apa-apa. Kamu masih ada pasien, ya?” Tanya Jingga memastikann.
“Uhm. . . .” Biru nampak ragu untuk mengatakan sesuatu.
“Ya?”
“Sebenarnya aku tadi udah makan siang sama Luna. Dia bawain aku bekal makan siang.”
Jawaban Biru barusan membuat raut wajah Jingga seketika berubah muram.
“Gitu, ya?”
“Hmm.”
“Kalau gitu, kamu bisa nemenin aku makan siang, nggak?” Jingga tak menyerah.
“Nggak bisa, Ji. Aku sibuk sekarang. Kamu makan sendiri aja, ya.”
Sekali lagi, Jingga kecewa. Tapi dia memakluminya, berpikir pasti Biru sibuk dengan pasien dan tugasnya sebagai Kepala Rumah Sakit.
“Ya udah. Tapi aku bisa minta kamu buat makan malam bareng aku nggak nanti?” Kali ini Jingga berharap Biru mengiyakannya. Jingga sangat merindukan masa-masa di mana mereka makan bersama sambil berkencan.
“Boleh. Kamu yang tentuin tempatnya.”
Jingga tersenyum senang mendengarnya, meski hatinya masih sedikit kecewa karena Biru makan siang bersama Luna. Besok-besok, Jingga juga akan membawakan bekal untuknya.
“Oke. Nanti aku share lokasinya, ya.” Sahut gadis itu antusias sebelum dia mengakhiri panggilannya.
Jingga menatap layar ponselnya sekilas, dia membuang napas perlahan, berusaha untuk tetap menenangkan dirinya. Tidak apa-apa, dia masih bisa mengajak Biru makan siang besok.
Perhatian Jingga teralihkan ke arah pintu ruangan yang tiba-tiba diketuk. Jingga mempersilahkannya masuk, dan nampaklah Hana dengan beberapa berkas catatan medis pasien di tangannya. Hana kemudian memberikan berkas tersebut yang diterima dengan baik oleh Jingga.
“Kamu udah makan siang belum, Han?” Tanya Jingga menghentikan langkah Hana yang nyaris bergerak untuk kembali keluar. Perawat itu mau tidak mau berbalik kembali.
“Belum. Kenapa, Dok?” Sahut Hana.
“Aku juga belum. Aku nggak suka makan sendirian, gimana kalau kita makan bareng?” Ajak Jingga penuh harap. Lantas Hana tanpa pikir panjang langsung menyetujuinya.
“Kenapa nggak ngajak Dokter Lang –” Kalimat Hana menggantung saat orang yang baru saja dia ingin tanyakan tiba-tiba datang.
“Fotosintesis . . . .” Kepala Langit yang tiba-tiba menyembul dari balik pintu membuat Jingga dan Hana otomatis menoleh ke arahnya.
“Panjang umur.” Gumam Hana dengan nada pelan.
“Itu bagus, Han. Kita bisa minta Langit traktir makan siang, ayo.” Jingga beranjak dari duduknya sembari menarik lengan Hana untuk keluar dari ruangannya.
“Kok aku?” Tanya Langit dengan wajah protes.
“Uang kamu, kan banyak. Kamu nggak bakalan bangkrut cuma karena bayarin kita berdua makan siang. Ya, nggak, Han?” Jingga meminta persetujuan Hana.
“Eung, sering-sering juga nggak bakalan bangkrut, sih. Kan Dokter Langit masih jomblo, jadi belum ada yang minta dijajanin.”
Jawaban Hana sontak membuat Jingga tertawa geli. Sementara Langit hanya mendengus, tak bisa melawan ucapan dua gadis yang sedang bersamanya itu.
********
Jingga dan Biru duduk manis di sudut kafe dekat jendela dengan pasta dan minuman yang sudah dihidangkan di meja mereka. Jingga sengaja memilih kafe untuk makan malam mereka, karena tempat seperti ini lebih nyaman, sehinggga lebih mudah untuk mengobrol santai dibanding makan malam romantis di restoran mewah. Selain itu, ini juga akan membangkitkan kenangan mereka semasa SMA dulu, siapa tahu membantu ingatan Biru cepat pulih.
Tapi bayangan makan malam dan mengobrol ringan berdua dengan Biru sirna seketika. Senyuman manis yang sejak tadi menghiasi wajah cantik Jingga perlahan memudar tatkala dia melihat Luna menghampiri meja mereka dengan polosnya.
__ADS_1
“Bii . . .” Sapa Luna seraya melempar senyum manis ke arah Biru.
“Lho, Luna? Ngapain di sini?” Sama halnya dengan Jingga, Biru juga terkejut mendapati Luna ada di sana.
“Aduh, Bi. Ini kan kafe, ya aku mau cari camilam sambil minum kopi, lah.” Luna tampak terkekeh.
“Kebetulan banget kita ketemu di sini, aku nggak nyangka. Ohh, iya, kalian berdua aja?” Tanyanya kemudian, sesekali kepalanya tampak celingukkan, memastikan siapa tahu ada orang lain ikut bergabung dengan Jingga dan Biru.
“Iya, kita berdua aja.” Kini Jingga menimpali dengan sedikit penekanan, berharap Luna mengerti bahwa mereka sedang berkencan.
“Eung, aku boleh ikut gabung, nggak?” Luna menatap Biru dan Jingga bergantian dengan wajah penuh harap.
Jingga mengehmbuskan napas kasar. Sangat tidak tahu diri, Jingga benar-benar dongkol mendengar permintaan gadis itu. Luna bukan orang bodoh, kan?
“Boleh. Gabung aja, Lun.” Jawab Biru santai. Jingga semakin geram dibuatnya, apa Biru tidak tahu kalau dia hanya ingin berduaan saja dengannya?
Luna kemudian menoleh ke arah Jingga untuk meminta persetujuannya. Mau bagaimana lagi? Bilang tidak boleh juga tidak enak, kan? Lantas dengan sangat terpaksa, Jingga menganggukkan kepalanya sambil tersenyum palsu.
“Aku kira kamu nggak suka tempat kayak gini.” Tutur Luna pada Jingga setelah berhasil mendudukkan dirinya tepat di sebelah Biru.
Penuturan Luna barusan sontak membuat kening Jingga berkerut bingung.
“Aku kira, kamu itu tipe cewek sehat dan lebih suka milih tempat-tempat yang mewah dibanding kafe.” Terangnya seolah mengerti kebingungan Jingga.
Jingga benar-benar tidak suka dengan ucapan Luna. Ingin sekali menimpali ucapannya itu, tapi dia memilih unuk diam dan sebisa mungkin mengontrol ekspresi wajahnya agar tetap terlihat tenang.
“Enggak, kok. Aku dulu malah sering kencan di kafe sama dia.” Jawab Jingga sambil mengedikkan dagu kea rah Biru.
Jingga tersenyum miring, dalam hati puas karena ucapannya berhasil membuat wajah Luna masam seketika. Sementara Biru, cowok itu malah sibuk dengan pastanya sekarang.
“Ohh, ya? Padahal Biru lebih suka ke coffe shop, lho. Biru, tuh, suka banget sama kopi. Kami juga sering pergi bareng buat hunting coffe shop yang nyediain menu kopi baru, ya, kan, Bi?.” Luna tak mau kalah. Biru hanya mengangguk di sela-sela makannya.
Jingga menggeram tertahan, rasanya gondok lama-lama satu meja dengan cewek ular ini. Dari luar dia tampak seperti malaikat, tapi aslinya kenapa menyebalkan seperti in? Apa maksud dia memberitahu Jingga? Sedang pamer? Ingin membuat Jingga cemburu?
“Ohh, iya. Kenapa kamu nggak pesen kopi, Ji?” Tanya Luna lagi saat melirik gelas Jingga yang berisi red velvet ice blended. Bersamaan dengan itu, pesanan espresso miliknya datang.
“Aku nggak terlalu suka kopi.” Jawab Jingga malas, lalu menghembuskan napas panjang. Dia kemudian meminum minumannya untuk menenangkan hatinya yang sedikit panas.
“Harusnya kamu, tuh, belajar untuk suka biar bisa mengimbangi Biru. Atau jangan-jangan kamu nggak terlalu tahu banyak apa yang Biru suka dan enggak?”
Jingga pikir, cewek ini kalem dan tak banyak bicara, sungguh di luar dugaan. Memang pribahasa don’t judge a book by its cover itu benar.
“Aku emang nggak tahu banyak. Tapi aku tahu beberapa.” Jawab Jingga masih tetap bersikap tenang. Dia kemudian menggarpu spaghetti dan memasukannya ke dalam mulut, berharap Luna berhenti berbicara.
“Apa perlu aku kasih tahu kamu? Kami sudah hidup bersama sejak kecil, aku tahu semua hal tentang Biru. Dengan begitu, kamu juga bisa melakukan hal yang Biru sukai.”
Gadis itu mencengkram garpu di tanganya. Kali ini kekesalan Jingga sudah sampai di ubun-ubun, dia lantas mendongakkan kepala, menatap Luna dengan raut wajah sekesal-kesalnya.
“Daripada melakukan seribu hal yang Kak Biru sukai. Aku lebih baik nggak melakukan hal yang dia benci.” Jawaban Jingga menohok.
Jingga tidak akan menarik perhatian Biru dengan cara seperti itu. Jingga akan tetap menjadi dirinya sendiri.
“Dan kamu nggak perlu ngasih tahu aku apapun. Aku bisa tanya langsung Kak Biru atau Om dan Tante.” Imbuh Jingga sedikit emosi, rahangnya mengetat menahan itu.
“Jii, kok jadi kesel gitu? Luna, kan, baik mau ngasih tahu kamu.” Tegur Biru sambil menatapnya tak suka.
Jingga tersenyum kecut, tak percaya dengan sikap Biru yang justru membela Luna, padahal jelas-jelas telah membuatnya kesal. Meski Luna memang berniat baik, namun yang Jingga tangkap adalah Luna sedang mengatakan bahwa dia telah mengenal Biru lebih jauh daripada Jingga.
“Aku permisi ke kamar mandi dulu.” Pamit Jingga menghiraukan teguran Biru.
Jingga memejamkan matanya sebentar seraya menghembuskan napas berat, lalu berjalan meninggalkan meja untuk ke kamar mandi. Sorot mata Biru mengikuti gerak tubuh gadis itu hingga menjauh dari pandangannya.
“Kayaknya Jingga nggak suka sama aku. Aku kira, kita bisa jadi deket karena aku sahabat kamu.” Luna memasang raut wajah sedih dengan kepala menunduk setelah Jingga pergi.
“Mungkin Jingga cuma bisa berteman dengan yang selevel sama dia. Aku lihat dia bisa akrab sama Albi, Bian, dan juga Bisma.” Tambah Luna masih dengan nada sedihnya. Bahkan kini matanya sudah mulai berkaca-kaca.
“Nggak gitu, Lun. Jingga nggak pernah melihat orang dari latar belakangnya.” Biru meraih pundak Luna untuk menghadap ke arahnya.
“Tapi tadi . . . .” Kalimat Luna menggantung saat Biru memotongnya ucapannya.
“Jingga mungkin lagi capek. Jadi dia agak ketus.” Tutur Biru menenangkan meski nada suaranya terdengar dingin. Ibu jarinya terulur menghapus air mata Luna yang sempat menetes. Padahal, Jingga tidak membentak atau mengeluarkan nada tinggi, kenapa gadis itu sensitif sekali?
Belum hilang kekesalan Jingga, dari kejauhan dia malah melihat adegan yang tak diinginkan dan tak disangka-sangka. Sejenak dia bersembunyi di balik dinding, memperhatikan Biru dan Luna dengan tatapan getir.
********
Biru dan Jingga kini dalam perjalanan pulang ke apartemen, setelah beberapa saat lalu Biru mengantarkan Luna ke rumahnya.
Setelah dirasa suasana mulai tidak enak, Biru mengajak Jingga untuk pulang. Tapi parahnya Biru malah menawarkan diri untuk mengantarkan Luna pulang juga, padahal mereka tidak berangkat bersama sebelumnya. Selain itu, waktu juga belum terlalu malam, masih banyak taksi atau kendaraan umum lain yang bisa Luna naiki.
Hati Jingga semakin kesal tatkala Luna mengiyakan tawaran Biru tanpa banyak berpikir. Padahal jika memang bisa menjaga perasaan, gadis itu bisa menolak meski pura-pura.
“Ji, aku nggak suka ya kamu bersikap kayak gitu sama Luna.”
Jingga yang sejak tadi memalingkan wajahnya ke arah luar kaca mobil, kini menoleh ke arah Biru.
__ADS_1
“Emangnya aku gimana?” Tanya Jingga malas.
“Yaa, kamu bisa, kan, nggak usah ketus kayak tadi?” Nada bicara Biru terdengar kesal. Jingga menarik salah salah satu sudut bibirnya membentuk seringai. Biru tak salah membela orang, kan? Apa memang tadi sikap Jingga terlalu berlebihan?
“Kamu childish, Ji.” Mendengar itu, sontak membuat mata Jingga membelalak sempurna. Dia tak percaya kata itu lolos dari mulut Biru.
“Oke, aku salah. Aku minta maaf.” Menghela napas berat, Jingga memilih untuk mengalah. Percuma saja dia membela diri, sudah jelas Biru berpihak ke mana.
“Ngomong-ngomong, kalian sangat dekat.” Sindir Jingga setelah beberapa saat terdiam.
“Aku, kan, udah bilang, kami berteman baik dari kecil.” Jawab Biru tanpa menoleh ke arah Jingga.
“Aku ingat kamu pernah bilang kalau cewek sama cowok itu nggak bisa berteman dengan baik.” Jingga mengingat ucapan Biru saat mereka ada di atap gedung sekolah membahas Langit. Jingga tak menyangka, Biru mengatakan hal itu di saat dia juga memiliki teman perempuan.
“Tapi kami bisa. Aku nggak pernah sedikitpun suka atau melihat Luna sebagai cewek.” Sanggah Biru.
“Tapi Luna enggak. Dia suka sama kamu.” Sahut Jingga tertahan saat Biru berhasil menyambar ucapannya.
“Kamu jangan asal ngomong. Udah deh, Ji. Aku dulu pernah bilang untuk nggak mencampuri hubungan aku sama teman-teman. Hubungan kita hanya sebatas mutualisme.”
Hati Jingga tersentak mendengar penuturan Biru. Raut wajahnya berubah kecewa, segera dia kembali memalingkan wajahnya ke arah luar dan memilih untuk diam.
Bukannya Jingga tidak suka Biru berteman dengan Luna. Tapi Jingga hanya tidak suka Biru yang seperti lebih mementingkan Luna dibanding dirinya. Dia tahu Biru menjalani hubungan ini tanpa perasaan. Tapi Jingga ingin setidaknya Biru bisa menghargainya. Sedikit saja. Hanya itu.
********
Mobil Biru tiba di depan gedung apartemen Jingga. Buru-buru Jingga melepas pengait sabuk pengamannya. Saat ini dia sudah tidak tahan berlama-lama di dekat Biru dalam situasi seperti ini. Jingga ingin segera sampai di kamarnya dan tidur, berharap esok hari hati dan pikirannya kembali membaik.
“Ji . . . .” Jingga mengurungkan niatnya membuka pintu mobil saat Biru memanggilnya.
“Aku ingat sesuatu, aku bisa lihat wajah kamu walaupun samar.” Lanjut Biru. Cowok itu tampak mengatur napasnya untuk membuat dirinya tenang, terlihat keningnya berkerut menahan sakit.
“Ohh, ya? Bagian mana yang kamu ingat?” Kekacauan di hatinya sedikit hilang, terselip rasa senang begitu Jingga mendengarnya.
“Bagian di mana kita berangkat dan pulang sekolah bareng. Aku bisa ingat itu dengan jelas.” Jelas Biru dengan mata berbinar seiring dengan rasa lega menyeruak di hari karena dia telah menemukan satu per satu kepingan puzzle yang akan ia susun.
Biru bisa melihat senyum ceria Jingga kala itu, serta bagaimana mereka saling melempar candaan.
“Aku kangen waktu itu.” Gumam Jingga pelan sambil tersenyum pedih. Ingatnnya melayang jauh ke hari di mana dia dan Biru selalu menciptakan kebahagiaan di setiap waktu saat mereka bersama.
“Ada lagi yang kamu ingat?” Tanya Jingga kemudian. Sejenak Biru terdiam sambil menatapnya lekat-lekat.
“Aku ngelakuin ini . . . .” Biru mendekatkan wajahnya hendak mencium pipi Jingga, namun dengan cepat tangan Jingga menahannya. Biru mengernyitkan alisnya bingung. Kenapa Jingga menolaknya?
“Oke, itu bagus.” Jingga tersenyum, namun raut wajahnya tampak sedih. “Aku turun sekarang.” Ucap Jingga kemudian sambil mengelus lembut pipi Biru sebentar, lalu bersiap untuk turun.
Namun baru saja tangannya menyentuh handle pintu mobil, Biru kembali mencegatnya.
“Jangan.” Jingga dengan cepat menahan bibir Biru yang hendak menciumnya. Cowok tampak kecewa, dia menatapnya protes.
“Kamu selalu ngelakuin ini tanpa mikirin perasaan aku.” Ujar Jingga lirih. Biru tertegun mendengarnya.
Cukup sudah Biru membuat perasaannya jungkir balik seperti ini. Jingga tidak mengerti sebenarnya apa yang Biru inginkan.
“Kenapa kamu selalu ngelakuin itu, padahal jelas kamu tahu kalau saat ini kamu nggak punya perasaan apapun sama aku?”
Biru bergeming. Sorot matanya menatap lurus ke dalam bola mata jernih Jingga yang tampak sendu.
“Ini nggak adil karena aku melakukannya dengan perasaan. So please, jangan ngelakuin itu lagi karena aku pasti nggak akan bisa nolak.” Jingga menghela napas berat untuk menjeda kalimatnya. “Tapi aku nggak akan baik-baik aja setelahnya, mengingat kamu cium-cium aku nggak didasari perasaan, tapi karena tubuh kamu butuh.”
Biru tertohok, menyadari sebuah kenyataan bahwa yang Jingga katakan adalah benar. Tidak ada kata perlawanan untuk ucapannya.
“See you.” Pamit Jingga tersenyum lemah. Dia kemudian melepaskan tangan Biru yang masih menahan pergelangan tangannya, lalu turun dari mobil, meninggalkan Biru yang masih bergeming menatap kepergiannya.
Setelah Jingga hilang dari pandangannya, Biru menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi sembari mendongakkan kepala menatap langit-langit mobil. Kedua tangannya tampak mengusap wajahnya dengan gusar.
Biru menghembuskan napasnya berat, dia mendalami hati dan pikirannya.
Biru merasa sudah terlibat ikatan emosional dengan Jingga. Karena selain dia butuh Jingga di sisinya untuk membantu mengembalikan bagian ingatannya yang hilang, secara tak sadar tubuhnya membutuhkan gadis itu. Biru akui itu.
Dia pernah mengatakan bahwa Jingga itu seperti kutub magnet yang berlawanan dengannya, bukan?
Bersama Jingga. Biru selalu ingin melakukannya, dan hanya dengannya. Baginya Jingga seperti efek kafein, dia menikmati itu layaknya secangkir kopi yang biasa dia hirup dan minum.
Tapi meski demikian, Biru tidak tahu perasaannya bagaimana. Sampai saat ini dia merasa hatinya kosong.
Dia sadar tidak suka melihat Jingga dekat atau tersenyum pada cowok lain, tapi dia rasa itu bukan cinta. Biru hanya merasa Jingga adalah miliknya setelah gadis itu mengatakan kalau dia masih mencintai Biru hingga saat ini, dan Biru tidak suka berbagi miliknya dengan orang lain. Jingga hanya boleh melihatnya.
Itu saja.
Lagipula tidak ada kata jatuh cinta pada gadis cantik dalam kamus hidupnya. Ingatkan saja Biru skeptis pada gadis cantik dan mandiri seperti Jingga. Biru sangsi karena gadis seperti itu kebanyakan dia temui sangat suka menjadi pusat perhatian, dan Biru tidak suka.
********
To be continued . . . . .
__ADS_1