
********
“Eung, Ji . . . .”
“Apa?” Sahut Jingga masih dengan nada ketus.
“Aku mau . . . .”
Kalimat Biru tertahan karena fokusnya teralihkan saat melihat rambut Jingga.
“Ji, kepala kamu nggak sakit, kan?” Tanya Biru kemudian.
“Sakit?” Jingga mengernyitkan alisnya tak mengerti.
“Iya. Tadi aku lihat Luna narik-narik rambut kamu.”
“Tadi, sih, sakit. Sekarang enggak. Udah, ahh. Aku nggak mau inget-inget lagi.”
“Harusnya tadi kamu balas dia. Biasanya, kan, kamu suka mukul orang kata Langit.” Sahut Biru meledek. Jingga hanya mendengus dengan bibir mengerucut lucu.
“Nggak, ahh. Nanti orang yang diributin kesenengan lagi.” Sindir Jingga.
“Siapa?” Tanya Biru sambil mengulum senyumnya, lantas dia sedikit menggeser kursinya ke depan agar lebih merapat dengan Jingga. Hatinya berbunga-bunga mengingat tadi dia mendengar Jingga mengatakan pada Luna jika dia mencintainya dan Biru adalah miliknya.
“Nggak tahu. Kakaknya Reno, kali.” Jawab Jingga, membuat wajah Biru merengut.
“Kamu, tuh, yaa.” Biru mencubit pelan pinggang Jingga, hingga membuat gadis itu terkekeh geli.
“Kenapa? Kan Om Rendi bilang harus nganggap Reno adik kamu.” Jingga terus meledek.
“Udah, deh. Jangan ketularan Mama sama Papa.” Dengus Biru. Dia benar-benar merasa terganggu dengan kehadiran Reno di rumahnya. Terlebih kemarin malam, anak kucing itu tiba-tiba masuk ke kamar dan menyusup ke dalam selimutnya saat dia tidur. Jelas saja itu membuatnya terkejut. Biru bergidik ngeri sekaligus geli mengingat itu.
“Kakaknya Reno.” Ledek Jingga lagi, bibirnya terlipat menahan tawa.
“Ish, apaan, sih?” Biru merengut tak suka. Dia benci kucing itu.
“Haha, ya udah jangan cemberut gini, dong.” Jingga tergelak kecil, kedua telunjuk tangannya lalu menarik sudut bibir Biru ke atas, hingga melengkung membentuk senyuman.
Jingga kembali menahan tawanya saat dia melihat wajah Biru yang berubah lucu dan aneh. Telunjuknya terus bermain-main dengan kedua sudut bibir cowok itu.
Biru tertegun melihat Jingga dengan kedua sudut bibirnya yang tertarik mengembang seperti itu. Setelah sekian lama, ini kali pertama Jingga tergelak dan tersenyum lebar lagi dihadapannya.
“Kenapa?” Jingga sedikit terganggu dengan Biru yang terus menatapnya.
Perlahan, dia menurunkan tangannya dari wajah Biru. Namun, cowok itu dengan cepat meraih kedua tangannya untuk dia genggam, tak membiarkan tangan gadis itu menjauh.
“Apa hati kamu udah baik-baik saja?” Tanya Biru seraya menatap lekat-lekat wajah Jingga dengan tatapan sendu.
“Apa kamu masih marah dan kecewa sama aku?” Imbuhnya.
Jingga terdiam selama beberapa detik, lalu berucap. “Kamu mau jawaban apa?”
Sejenak Biru terdiam, dia menatap dalam-dalam mata Jingga hingga tatapan mereka saling terkunci. Kini hanya deru napas teratur mereka yang terdengar di ruangan megah itu.
“Ya untuk pertanyaan pertama dan tidak untuk pertanyaan kedua.”
Tak langsung menjawab, Jingga menarik kedua tangannya dari genggaman Biru. Untuk sesaat, raut wajah Biru tampak kecewa melihatnya. Tapi tidak lagi setelah gadis itu kini melingkarkan tangan di lehernya.
“Kalau gitu, itu jawabannya.” Mata Biru membulat sempurna tatkala penuturan Jingga menyeruak ke dalam indra pendengarannya.
“Can you say it again?” Pinta Biru ingin memastikan bahwa yang didengarnya beberapa detik yang lalu itu tidak salah.
“Aku bisa mengandalkan kamu, kan?” Sorot mata Jingga seolah meminta keyakinan dari jawaban Biru.
“I’ll do my best.” Jawab Biru yakin.
“Bukan kamu. Tapi kita. Ayo kita mulai kembali dan letakkan semua kenangan buruk di belakang. Kita jadikan hal ini sebagai bagian dari pendewasaan.” Tutur Jingga dengan sorot penuh ketulusan.
Biru mengerjap, memilih diam guna mencerna penuturan Jingga barusan.
“Ayo berhenti merasa saling berhutang dan mulai melangkah dengan kedudukan yang sama.” Lanjut Jingga kemudian, membuat hati Biru terenyuh sekaligus lega mendengarnya.
Jingga sudah membuat pilihan untuk meninggalkan masa lalu yang buruk dan mengambil resiko untuk mempercayai Biru kembali. Jingga ingin memulai kembali, melangkah maju bersama Biru tanpa harus terjebak lagi dalam peran korban dan pelaku, atau pihak yang merasa lebih rapuh dan pihak yang bersalah.
Dengan begitu, baik Jingga maupun Biru akan menjalaninya dengan perasaan tulus, tanpa harus ada beban lagi di hati masing-masing karena mereka berhenti saling menyalahkan dan menghukum satu sama lain.
“Jingga. . . .” Biru menatap Jingga dengan binar bahagia, dia lalu berdiri dan meraih tubuh Jingga untuk memeluknya. Sejenak matanya terpejam, merasakan nyamannya tubuh gadis yang sedang didekapnya itu, seolah membuat beban di hatinya berkurang.
“Makasih karena udah mau percaya sama aku lagi.” Ujar Biru setelah menjauhkan sedikit tubuhnya untuk menjangkau wajah cantik Jingga, tanpa melepaskan tangannya yang tetap melingkar di sepanjang pinggang gadis itu.
“Makasih untuk tetap memilih aku setelah semua yang aku lakukan.” Lanjutnya lagi.
“Dan aku akan memilih kamu lagi, lagi, dan lagi. Tanpa henti, tanpa ragu, aku akan terus memilih kamu. Kamu tahu kenapa?”
Biru menggeleng, diam membiarkan gadis itu melanjutkan kalimatnya.
“Cause I love you.” Ucapan itu terlontar bersamaan dengan semburat merah muda di pipi Jingga. Walau bagaimanapun, mengucapkan kata-kata seperti ini sangat jarang dilakukan atau bisa dibilang bukan gayanya sama sekali. Jingga benar-benar merasa malu sekarang.
Dan kemudian, yang bisa dia lakukan adalah buru-buru menyembunyikan wajah merah meronanya di dada bidang Biru. Cowok itu tersenyum gemas melihat tingkah Jingga yang malu-malu.
“Aku lebih mencintai kamu, Jingga.” Tutur Biru sungguh-sungguh, lalu membenamkan ciuman di puncak kepala gadis itu.
“Aku geli denger ini.” Jingga mendongakkan kepala untuk menatap Biru sambil menahan tawanya.
“Kamu, tuh. Ngerusak suasana aja tahu, nggak.” Kemudian satu kecupan singkat mendarat di bibir Jingga.
“Bibir kamu, yaa.” Jingga pura-pura protes seraya memukul pelan bibir Biru yang sedikit kering.
“Kenapa? Nggak apa-apa, kan, aku cium pacar sendiri?” Sahut Biru disertai senyum menggodanya.
“Jadi sekarang aku pacar kamu, nih?” Jingga melingkarkan tangannya di leher Biru.
“Emm.” Biru mengangguk cepat. “Ayo mulai dari awal. Kita pacaran lagi dan saling mengenal lebih jauh.”
“Call.” Jingga menyetujui.
“Tapi jangan lama-lama.” Tambah Biru.
“Kenapa?” Tanya Jingga dengan alis mengernyit.
“Karena kita udah nggak muda lagi. Aku nggak akan membiarkan kamu lama-lama jadi pacar aku. Kita harus nikah.” Jawab Biru penuh keyakinan.
Jingga mendengus mendengar kalimat ‘tidak muda lagi’, tapi dia memilih untuk tak mempermasalahkan.
“Kalau gitu, kamu harus ngelamar aku dengan baik kali ini. Tapi tentu harus pake cincin baru.” Biru tergelak mendengar penuturan gadis itu, dia lalu mendekatkan wajahnya dan membenamkan ciuman di kening Jingga penuh sayang.
“Anything for you, Jingga. Anything. . . .” Ucap Biru setelah melepaskan ciumannya di kening Jingga.
“Aku becanda soal cincin baru.” Ralat Jingga. Lantas kecupan lembut yang berulang-ulang dia berikan di bibir Biru.
Biru sedikit terkejut dengan perlakuan Jingga yang tiba-tiba. Dia tak percaya Jingga memulainya lebih dulu. Tapi hal tersebut cukup membuat hatinya kembali berbunga-bunga.
“Siapa yang ngajarin kamu kayak gini, hum?” Tanya Biru seolah meledek sesaat setelah Jingga menghentikan kecupannya.
“Si brengsek yang ada di depan aku.” Jawab Jingga lirih untuk kemudian kembali mengecup bibir Biru.
Kali ini Biru tak ingin menyia-nyiakannya, dia menahan tengkuk Jingga untuk membuat ciuman itu lebih lama. Menciumnya dengan lembut, disapunya perlahan bibir Jingga, menggigit kecil-kecil, hingga lidahnya bisa menerobos masuk dan membelit lidah gadis itu. Rasanya manis, membuat Jingga tergoda untuk membalasnya.
__ADS_1
Biru menciumnya rakus. Cowok itu menekan punggung Jingga, semakin mengikis jarak di antara mereka.
Jingga yang terbawa suasana menjadi sedikit agresif dengan meremas kuat-kuat rambut cowok itu, lalu menekan kepalanya agar terus memperdalam ciumannya.
Seolah kehilangan kendali diri, baik Biru maupun Jingga, tidak ada yang ingin menghentikan ciuman yang mulai memanas itu. Tangan Biru semakin tak bisa diam, merayap mengusap-usap punggung Jingga dan menjalar ke pundaknya, hingga membuat tubuh gadis itu kian meremang.
Lalu, saat merasakan pasokan oksigen di paru-parunya mulai menipis, Jingga menepuk-nepuk pundak Biru untuk menghentikan aktivitasnya, hingga tautan bibir mereka terlepas.
Biru menyatukan kening mereka untuk kemudian dia dan Jingga sama-sama terkekeh dengan deru napas yang sama berantakannya.
“I love you.” Biru menarik napas dalam. “And I miss you.” Lanjutnya dan kembali meraup bibir Jingga.
Sesaat Jingga merasa bergetar begitu tangan nakal Biru yang semula berada di punggungnya perlahan menelusuri perutnya, semakin ke atas hingga menyentuh dada, memberi remasan seduktif di sana.
Jingga mendorong tubuh Biru pelan, tapi masih bisa membuat ciuman mereka terlepas.
“Udah, ini bahaya.” Ucap Jingga dengan napas terengah, masih di depan bibir Biru. Hidung mereka saling bergesekkan dengan deru napas yang tidak teratur.
Biru tergelak lirih, lalu dia menyusupkan kepalanya di ceruk leher Jingga untuk menyembunyikan wajahnya yang tersipu karena tidak bisa menghentikan keinginannya untuk terus mencumbu gadis itu.
Sambil menahan senyumnya, kedua tangan Jingga merayap, lalu mengelus punggung cowok itu. Untuk sejenak, mereka terdiam dalam posisi seperti ini.
“Kak.” Biru mengangkat kepalanya saat panggilan yang sudah lama ingin dia dengar, menyusup lirih ke dalam indra pendengarannya.
“Hum?” Sahut Biru saat Jingga manarik diri dan mempertemukan pandangannya.
“Duduk sana. Pegel, tahu, kayak gini terus.” Ujar Jingga, membuat Biru berdecak geli sekaligus kesal.
“Kamu emang paling pinter ngerusak suasana.” Biru dengan gemas menciumi hidung, hingga membuat gadis itu terkekeh geli.
Biru kemudian kembali mendudukkan diri di kursi kerjanya tanpa melepaskan pandangan dari Jingga yang sedang mengancingkan kembali kemejanya.
Biru meringis ngilu saat melihat belahan dada Jingga yang menyembul di balik kemeja yang masih terbuka karena ulahnya.
“Ohh, iya. Tadi kamu mau ngomong apa?” Tanya Jingga sesaat setelah kancing bagian paling atasnya terpasang. Jingga teringat beberapa saat yang lalu Biru seperti akan menyampaikan sesuatu padanya, namun tidak jadi karena fokusnya teralihkan.
Sesaat, Biru terdiam, mencoba mengingat-ingat apa yang akan dia sampaikan pada gadis itu tadi.
“Ohh, iya, hampir aja lupa.” Biru menepuk jidatnya sendiri. “Tadi, tuh, aku mau bilang sama kamu, kalau besok aku mau pergi ke Amerika.”
“Ohh.” Jingga mengangguk tak mempermasalahkan.
“Teman aku minta bantuan buat ikut nanganin pasien di salah rumah sakit yang ada di sana. Terus, habis itu aku harus ikut seminar. Mungkin aku di sana sekitar satu minggu.” Terang Biru kemudian. Jingga kembali menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
“Ada lagi?” Tanya Jingga. Biru terdiam sejenak seolah memikirkan sesuatu.
“Kita mungkin ketemu lagi di resepsi pernikahan Amber di Bali. Aku nanti dari Amerika langsung ke sana.” Tambah Biru.
“Terus?”
“Kamu emang nggak apa-apa pergi berdua sama Langit?”
“Sama sekali nggak apa-apa.” Jawab Jingga santai. Raut wajah Biru merengut melihat ekspresi santai Jingga sejak tadi.
“Kok kamu santai gitu, sih, Ji? Kita nggak bakalan ketemu seminggu lho.” Biru heboh sendiri.
“Terus, aku harus gimana? Lagian emang kenapa kalau kita nggak ketemu seminggu? Sembilan tahun nggak ketemu kamu aja aku masih bisa nahan.” Jingga sengaja ingin membuat Biru kesal.
“Ish, nggak romantis banget. Kamu pura-pura nahan aku pergi atau apa gitu.” Jingga terkekeh geli mendengar penuturan Biru yang merajuk.
“Kita, tuh, bukan abege lagi. Aku nggak bakalan, lah, nahan-nahan kamu pergi.” Tutur Jingga, membuat Biru kembali mendengus kesal.
“Emang nggak bakalan kangen? Seminggu, lho, Ji.” Ucap Biru menekankan kata ‘seminggu.’
“Pasti kangen, sih. Makannya aku mau minta kamu buat cepat pulang, biar aku nggak lama nahan kangennya.” Tutur Jingga sambil mengulum senyumnya.
“Ya udah, ayo pulang. Sopir aku udah nunggu kayaknya.” Ajak Jingga dan bersiap turun dari meja, namun Biru menahannya.
“Kok minta dijemput, sih? Kan tadi berangkatnya bareng aku, pulangnya juga sama aku, lah.” Biru protes. Jingga mengambil napas dalam-dalam seraya memutar bola matanya jengah.
“Tadi, kan, aku lagi kesel sama kamu.” Sahut Jingga malas.
“Sekarang, kan, udah enggak. Jadi, kamu suruh pulang lagi aja sopirnya.” Balas Biru tak mau kalah.
“Iya, bawel. Ayo.” Dan satu kecupan mendarat di bibir Biru agar cowok itu tak banyak bicara lagi.
Biru bersorak senang dalam hati mendapat perlakuan seperti itu. Dia lantas beranjak untuk menyusul Jingga yang entah sejak kapan sudah berjalan mendahuluinya.
********
Pukul tiga dini hari . . . .
Jingga sudah berada di depan gerbang rumah Biru. Jingga kemudian membuka pintu mobilnya untuk menunggu cowok itu di luar.
Tadi malam gadis itu memaksa untuk mengantar Biru ke Bandara. Biru sudah melarangnya karena tidak ingin mengganggu tidur Jingga, sebab dia berangkat dini hari. Tapi gadis itu tetap keras kepala hingga membuat Biru terpaksa mengiyakannnya.
Begitu keluar dari mobil, udara dingin langsung menyusup kulitnya. Bahkan knit sweater tebal yang Jingga kenakan tak cukup untuk menghalau hawa dingin yang menyelinap menusuk kulitnya.
Jingga bersandar di samping mobil sembari mendekap tubuhnya sendiri, sesekali gadis itu menguap. Jelas saja, dini hari adalah waktu paling enak untuk tidur, dan dia malah sudah di luar.
Beberapa saat kemudian, gerbang rumah terbuka, dan muculah Biru dengan t-shirt putih dan cardigan warna abu-abu, serta koper warna biru di tangannya. Langsung saja dia menyunggingkan senyum termanisnya untuk Jingga. Manis sekali. Walau ini masih dini hari, Jingga seperti mendapatkan penerangan ekstra untuk mengamati wajah tampan Biru.
“Udah lama?” Tanya Biru begitu dia sudah mendekat. Gadis itu menggeleng.
“Kamu, kan, langsung turun setelah aku telepon tadi.” Sahut Jingga kemudian, suaranya terdengar gemetar karena kedinginan.
“Kamu masuk duluan, gih. Aku nyimpan koper dulu di bagasi. Biar aku yang nyetir.” Ujar Biru kemudian, dia tak tega melihat Jingga kedinginan seperti itu.
“Nggak boleh. Kan aku yang mau nganterin kamu.” Protes Jingga masih dengan suara menggigilnya.
“Nurut atau aku cium kamu sepuluh kali?” Dan Jingga hanya bisa mendengus sebal, tak bisa melawan ancaman Biru yang pasti tidak main-main.
“Kamu udah dikasih izin bawa mobil sendiri lagi sama Om, Ji?” Tanya Biru setelah dia masuk ke dalam mobil dan duduk di kursi kemudi.
“Menurut kamu?” Tanya Jingga seraya menyunggingkan salah satu sudut bibirnya membentuk seringai.
“Tck, nakal.” Ledek Biru dengan gelengan kepala kecil. Jingga hanya mengedik tak peduli
Bukan Jingga jika dia tidak membuat keributan. Gadis itu mengendap-endap mencuri kunci mobilnya sendiri yang disimpan di kamar orang tuanya. Sampai saat ini mereka belum mempercayai Jingga untuk pergi ke mana-mana sendiri. Mereka masih takut Jingga akan melarikan diri lagi.
“Emang kamu enggak?” Cibir Jingga.
“Enggak.” Jawab Biru seraya menjalankan mobilnya. “Nggak jauh beda maksudnya.” Lanjutnya kemudian diiringi tawa ringan setelahnya.
“Beda jauh, lah.” Komentar Jingga. “Nakal kamu sama aku beda.”
Biru mengerling, lalu menggoda gadis itu. “Emang aku nakalnya gimana?”
“Ya gitu. . . .” Cicit Jingga malu-malu sembari menghindari kontak mata dengan cowok itu.
“Nakal kayak gini maksud kamu?”
“Ish. . . .” Jingga segera menepis tangan Biru yang menggerayangi pahanya. Cowok itu hanya tergelak pelan.
Sepanjang perjalanan, Biru dan Jingga mengisinya dengan obrolan ringan hingga suasana di dalam mobil itu tampak hidup. Sesekali mereka tertawa renyah karena mentertawakan apa yang mereka bicarakan.
Sesampainya di Bandara, Biru dan Jingga tidak langsung keluar dari mobil. Mereka masih berdiam diri di sana tanpa percakapan.
__ADS_1
“Ayo turun.” Seru Jingga yang melihat Biru masih terdiam sambil menatapnya.
“Kamu harus isi daya aku dulu, dong.” Tutur Biru, membuat sebelah alis Jingga terangkat bingung.
“Isi daya? Emangnya bukan charger.” Jingga tertawa kesal.
“Gini maksudnya.” Tanpa aba-aba, Biru berhambur memeluk erat Jingga seperti tak ingin berpisah. Dia menyerukkan wajahnya di ceruk leher Jingga yang tertutupi rambut, menghirup aroma tubuh gadis yang akan dia tinggalkan selama satu minggu dan pasti akan sangat dia rindukan.
“Penerbangannya sebentar lagi. Kamu nggak punya banyak waktu, Kak.” Tegur Jingga agar Biru segera melepaskan pelukannya.
“Aku nggak bakal ketemu kamu seminggu habis ini. Jadi biarin aku peluk kamu agak lamaan.” Sahut Biru sambil lebih mengeratkan pelukannya.
“Kak, kamu bisa ketinggalan pesawat. Nanti lagi aja peluk-peluknya kalau kamu udah pulang. Mau kamu seharian peluk aku juga boleh.” Jingga kembali menegur dengan sedikit bujukan. Lantas dengan berat hati, Biru lalu melepaskan pelukannya.
“Okay. Tapi aku mau kita foto dulu” Biru mengambil ponsel dari saku celananya, kemudian melakukan wefie. Satu foto berhasil diambil dengan pose dia mencium pipi Jingga.
“Cium pipi aku buat foto yang satunya.” Pinta Biru santai. Jingga menuruti, dia mendekatkan wajahnya untuk mencium pipi Biru, namun secepat kilat cowok itu memutar kepalanya, hingga bukan pipinya yang Jingga cium, tapi bibirnya.
“Curang.” Protes Jingga seraya memukul pelan lengan Biru. Cowok itu hanya terkekeh, puas mengerjai gadisnya.
“Aku udah share fotonya ke kamu.”
“Oke.” Jingga mengacungkan ibu jarinya.
“Inget ini! Kamu harus kangen sama aku setiap saat dan jangan mengabaikan telepon atau chat dari aku nanti.” Pesan Biru kemudian.
“Hmm.” Jingga mengangguk malas. Merasa de ja vu, Birunya yang dulu sudah kembali.
“Awas aja, kalau sampai kamu ngelakuin itu, aku akan hukum kamu.” Ancam Biru.
“Nggak takut. Aku mau lihat gimana cara kamu hukum aku nanti.” Sahut Jingga menantang.
“Kayak gini.” Biru dengan cepat menangkup wajah Jingga, lalu memberi kecupan singkat secara berulang-ulang di bibir gadis itu hingga sepuluh kali dengan gemas.
“Kak . . . .” Jingga menahan bibir Biru dengan telapak tangannya agar berhenti menciuminya.
“Haha. Ayo turun.” Ajak Biru setelah dia menghentikan apa yang dilakukannya.
Keduanya turun dari mobil, lalu Biru mengambil koper dari bagasi mobil Jingga.
“Aku pergi dulu.” Biru membenamkan kecupan di dahi Jingga sebelum kemudian berjalan masuk ke dalam Bandara. Jingga hanya menatap kepergian Biru yang semakin jauh dari pandangannya. Dia tidak mengantarnya ke dalam karena Biru melarangnya.
Jingga kembali masuk ke dalam mobil dan bersiap-siap untuk kembali ke rumahnya. Namun baru saja dia menghidupkan mobil, ponselnya berbunyi tanda ada pesan masuk.
“Belum beberapa menit, aku udah kangen kamu. ❤❤❤” Jingga tersenyum antara senang dan geli sekaligus saat membaca pesan dari Biru.
“Aku enggak. 😛” Balas Jingga, membuat Biru yang masih menunggu keberangkatannya di pintu masuk mendengus kesal.
“Awas aja aku pulang nanti.” Gumam Biru dalam hati untuk kemudian dia memasukkan ponselnya kembali ke dalam saku celana.
********
Siang harinya, Jingga berjalan di koridor rumah sakit menuju ruangannya dengan senyum semringah. Sejak tadi pagi, dia tidak bisa menutupi kebahagiaannya dengan terus mengukir senyum di kedua sudut bibirnya.
“Kayaknya percuma kamu pergi selama lima bulan.” Cibir Langit yang kini sudah bersandar pada pintu ruangan Jingga sambil menenteng kantong berisi makanan di dalamnya. Cowok itu melayangkan tatapan penuh ledekan.
“Apaan sih.” Sahut Jingga ketus, dia lalu membuka pintu, kemudian masuk ke ruangannya diikuti Langit.
“Maksudnya, udah kabur jauh-jauh, sok-sokan mau ngelupain, terus hampir mati. Ehh, ujung-ujungnya balikan lagi. Hidup kamu drama banget tahu, nggak. Jangan kebanyakan nonton drakor deh sekarang.” Cibir Langit lagi setelah dia berhasil mendaratkan tubuhnya di sofa.
“Kata kamu aku nggak boleh dendam dan harus ngasih dia kesempatan.” Elak Jingga sambil mengeluarkan dua paper box berisi salad dari kantong yang dibawa Langit tadi.
“Tck, bilang aja kamu emang nggak mau Biru diambil cewek lain, makannnya gercep.” Langit tak berhenti meledeknya. Namun, seolah telinganya tersumpal sesuatu, Jingga tak menggubrisnya, dia malah sibuk memasukkan salad berisi sayuran itu ke dalam mulutnya.
“Kamu tahu dari mana?” Tanya Jingga sambil menyesap ice blendednya.
“Muka kamu, tuh, nggak bisa nyembunyiin apapun dari aku. Lagian, ya, aku perhatiin dari tadi pagi kamu senyum-senyum mulu kayak orang kurang obat.” Jingga mendengus saat mendengar penuturan Langit, selalu saja menyebalkan.
“Tapi sayang, baru aja baikan, ehh udah ditinggal lagi.” Jingga melemparkan tisu bekas membersihkan bibirnya ke wajah Langit karena kesal.
“Jorok, Ji.” Protes Langit heboh.
“Lagian, kamu dari tadi ngeledekin aku terus.” Sahut Jingga tak kalah kesalnya.
“Haha, habis lucu aja, gitu. Aku kayak lagi nonton drama di dunia nyata. Apalagi pas inget kamu dikira semua orang udah mati. Bikin aku mau ketawa sampai nangis.” Langit tergelak kencang saat mengingat bagaimana chaosnya situasi saat itu.
Jingga terus menarik napasnya dalam-dalam guna mendapatkan kesabaran dalam menghadapi teman menyebalkannya itu. Namun sesaat kemudian gelak tawa Langit terhenti saat seseorang mengetuk pintu ruangan Jingga.
“Maaf, aku ganggu.” Ucap Hana tak enak hati sesaat setelah gadis itu masuk ke ruangan Jingga.
“Kamu kayak sama siapa aja, deh, Han.” Sahut Jingga menenangkan. Selama ini, kan, mereka sudah dekat. Jingga heran karena Hana terkadang masih merasa sungkan.
“Ayo gabung, Han. Kamu bisa makan berdua sama aku.” Langit ikut bersuara diiringi sedikit candaan.
“Haha, makasih, Dok. Tapi aku mau makan apa?” Hana mengamati salad Langit yang hampir habis, hanya tinggal dua lembar sayuran tersisa di sana.
“Tadi masih banyak, kamu nyuri makanan aku, ya, Ji?” Mendengar itu, Jingga langsung saja memukulkan sendok salad di kepala Langit, hingga membuatnya sedikit meringis. Hana tersenyum gemas melihat tingkah mereka yang seperti larva Red dan Yellow.
“Ohh, iya. Ada apa, Han?” Tanya Jingga kemudian, mengalihkan perhatiannya pada Hana.
“Aku mau minta nomor rekening kamu.” Jawab Hana.
“Buat apa?” Tanya Jingga dengan alis bertaut bingung.
“Aku mau ngembaliin uang yang aku pinjam untuk bayar perawatan di salon waktu itu.” Jelas Hana. Jingga ber-ohh ria. Dia ingat, beberapa hari yang lalu dia dan Hana pergi ke salon untuk perawatan. Tapi saat akan membayarnya, dompet Hana tertinggal dan akhirnya Jingga yang membayar.
“Hana, aku kira kamu teman aku sekarang.” Nada suara Jingga terdengar kecewa. “Kamu nggak usah ngembaliin itu.”
Hana adalah orang terdekat dengannya di rumah sakit ini. Jingga sudah menganggapnya sebagai teman dan partner kerja yang baik.
“Tapi, namanya hutang, kan, tetap harus dikembaliin. Udah sini mana norek kamu?” Hana menyodorkan ponselnya. Jingga tak menggubris, dengan kesal menyesap sisa minumannya.
“Oke, kalau gitu aku bayar pake uang cash aja.” Hana lalu menyerahkan beberapa lembar uang seratus ribuan.
“Aku bilang enggak, ya enggak.” Seru Jingga penuh penekanan, dia kemudian berlalu membawa bekas makanannya untuk dibuang ke tempat sampah yang ada di sudut ruangan, dekat dengan meja kerja.
“Dia emang keras kepala.” Ucap Langit pada Hana dengan setengah berbisik.
Hana putus asa, dia menghempaskan tubuhnya di sofa berhadapan dengan Langit. Dia hendak menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa, namun terurungkan tatkala matanya menangkap objek di sudut sofa dekat Langit.
Dompet berwarna kuning milik Jingga tergeletak tanpa pengawasan di sudut sofa. Seolah mendapatkan peluang, dengan gerakkan cepat, Hana melirik Jingga yang kini sedang fokus dengan ponselnya.
Kemudian tanpa membuat suara, Hana mengambil dompet Jingga dengan hati-hati. Dia lalu membuka gesper dompet itu, membuka lipatannya, dan hendak menyelipkan beberapa lembar uang seratus ribuan itu. Namun, gerakannya terhenti saat dia kembali menangkap sesuatu.
Hana mendongakkan kepalanya. Dia mengerjap untuk memastikan foto Biru dan Jingga yang terpajang manis di sana adalah nyata. Walaupun itu foto lama, tapi foto tersebut masih sangat jelas, tidak pudar sama sekali.
“Dokter Jingga . . . .” Panggil Hana menggantung.
Jingga mengalihkan pandangannya ke arah Hana. Seketika itu dia terkejut mendapati Hana membuka dompetnya. Jingga hendak berlari menghampiri Hana. Namun, karena tak memperhatikan gerakkan, kaki Jingga malah menabrak meja.
“Arrgh, sialan.” Umpat Jingga seraya menendang kembali meja itu, namun kakinya malah semakin ngilu.
Dengan berjalan setengah pincang, buru-buru Jingga mendekati Hana dan mengambil paksa dompet miliknya untuk berusaha menutupi apa yang sebenarnya sudah tidak bisa ditutupi lagi.
********
To be continued . . . . .
__ADS_1