Still In Love

Still In Love
EP. 48. To be Honest


__ADS_3

********


Malam harinya, Jingga datang ke restoran yang sudah Biru reservasi. Tadi pagi saat mengantarnya, Biru mengajak Jingga untuk makan malam di sana. Katanya, itu sebagai pengganti makan malam mereka yang kacau malam itu.


Sebenarnya Jingga ingin menolak, tapi seolah tubuhnya tidak bisa dikendalikan, kepalanya mengangguk begitu saja menyetujui ajakan Biru.


Jingga tampil anggun bak peri dari negeri dongeng dengan mengenakan blouse dan rok floral yang matching bahan flowly. Tak lupa, dia juga memoles wajahnya dengan sedikit make up. Pewarna bibir koral membuat wajah Jingga terlihat lebih segar di keremangan malam.


Cukup lama menunggu, dia bahkan sudah menghabiskan dua gelas jus, namun Biru tak kunjung datang. Dia lihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah hampir menunjukkan pukul sepuluh malam. Itu berarti, Jingga sudah hampir empat jam menunggu Biru.


Berkali-kali juga dia menghubungi Biru. Tapi nomor Biru di luar jangkauan. Jingga hanya bisa menghembuskan napas gusar. Dia ingin pulang, tapi takut Biru tiba-tiba datang.


“Apa dia masih sama Luna?” Gumam Jingga bertanya-tanya, mengingat terakhir kali dia bertemu Biru adalah di atap saat cowok itu mengatakan akan mengantar Luna pulang.


“Mbak, apa mau saya bawakan pesanannya sekarang?” Ini yang ketiga kalinya pelayan datang untuk menanyakan apakah makanan yang sudah Biru pesan harus di bawa ke mejanya sekarang atau tidak.


“Eung, nanti aja, deh, Mbak.” Jawab Jingga ragu. “Ohh, iya. Saya mau secangkir espresso, ya.” Imbuhnya. Pelayan itu tersenyum sembari menganggukkan kepalanya sopan.


Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan secangkir espresso di tangannya. Dia kemudian meletakkan kopi tersebut di meja Jingga.


“Terima kasih.” Ucap Jingga sebelum akhirnya pelayan itu berlalu pergi dari hadapannya.


Jingga meraih cangkir berisi cairan hitam pekat itu dengan ragu. Seumur hidupnya, ini pertama kali dia mencoba espresso. Meski Jingga tidak terlalu menyukai kopi, tapi dia terpaksa memesan itu guna menahan kantuk yang sudah menyerang dirinya. Dia akan menunggu Biru sebentar lagi.


Jingga kemudian mendekatkan cangkir espresso ke ujung hidungnya, menghirup aroma kopi dari sisi cangkir itu. Sejenak, dia menikmati aroma khas kopi yang menyengat di hidungnya. Sangat wangi, mungkin aroma inilah yang menjadi daya tarik dan keunikan kopi.


Dengan hati-hati, Jingga menyentuh sisi cangkir dengan bibirnya. Rasa yang sangat pahit menyambut indra pengecapnya saat kopi itu mengalir masuk ke dalam mulutnya.


Jika ada Langit atau Hana di hadapan Jingga, mungkin saat ini mereka akan mentertawakannya. Pada tegukan pertama, ekspresi Jingga seperti orang yang sedang minum jamu. Raut wajahnya benar-benar lucu saat lidahnya beradaptasi dengan rasa baru yang tidak pernah menyentuh lidahnya selama ini.


“Yuck, pahit.” Jingga sedikit menjulurkan lidahnya. Dia tidak menyukai itu, dalam hati dia berjanji bahkan jika espresso adalah minuman terakhir dan satu-satunya di muka bumi, dia tak akan pernah mau meminumnya lagi. Jingga heran, kenapa minuman ini banyak peminatnya meskipun rasanya pahit?


Jingga meletakkan kembali cangkir espressonya ke atas meja. Dia memandangi cangkir kecil itu. Sudut bibirnya tertarik membentuk senyum miris, espresso ini mengingatkan cintanya pada Biru saat ini, pahit.


Kedatangan pelayan membuyarkan lamunan Jingga, pelayan tersebut mengatakan jika restoran akan segera tutup. Jingga terkesiap, lantas dia lirik jam di tangannya sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jingga tak sadar sudah menunggu Biru berjam-jam lamanya.


“Ya udah, deh, Mbak, kalau gitu saya pulang aja.” Ucap Jingga yang merasa Biru memang tidak akan datang. Lantas dia mengambil tasnya, kemudian berlalu pergi dari dalam restoran tersebut.


Jingga terdiam sejenak di balik kemudi mobilnya. Untung saja dia tadi tidak naik taksi. Jika itu terjadi, mungkin saat ini dia akan berjalan kaki untuk pulang karena tidak ada taksi atau kendaraan umum di tengah malam seperti ini, dan dia akan terlihat lebih menyedihkan.


“Lucu banget.” Jingga tersenyum miris sembari menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi, dia menyugar rambutnya dengan gusar.


Sangat lucu. Biru yang mengajaknya makan malam, Jingga yang sudah berdandan cantik untuknya, dan tanpa alasan Biru tidak datang. Lebih lucunya lagi, Jingga rela menunggu dan terus berpikir Biru akan datang.


Apa cowok itu sedang mengerjainya sekarang?


********


Sementara itu sore sebelumnya saat Biru mengantar Luna pulang . . . . .


“Maaf ya, Bu. Luna harus mengalami ini.” Ucap Biru tak enak hati setelah dia menjelaskan kejadian pelecehan yang hampir menimpa Luna. Tentu saja dia merasa tidak enak, karena itu terjadi di rumah sakit milik ayahnya.


“Kenapa minta maaf, Bi? Justru Ibu berterima kasih karena kamu sudah menolong Luna.” Ujar Bu Ratmi, beliau sangat bersyukur karena anaknya selamat.


“Jangan berterima kasih, karena itu sudah seharusnya aku melindungi Luna sebagai teman baik.” Tutur Biru. Luna yang duduk di sebelah ibunya menggeram tertahan, dia kesal setiap kali Biru menyebutnya teman baik.


“Eung, kalau gitu aku pamit dulu, ya, Bu. Ini udah sore banget soalnya.” Pamit Biru setelah melihat jam di tangannya yang menunjukan hampir pukul enam.


“Sebentar, Bi. Kamu minum dulu, Ibu lupa nggak buatin kamu kopi.” Pinta Bu Ratmi yang memang lupa tidak menyuguhkan apa-apa karena tadi Luna datang langsung berhambur memeluknya sambil menangis.


“Nggak usah, deh, Bu. Aku masih ada urusan.” Tolak Biru sopan. Dia hendak beranjak, namun Luna menahannya.


“Cuma minum kopi, Bi. Sebentar aja, lagian kayaknya Ibu kangen sama kamu.” Luna berusaha menahan Biru. Dia tahu alasan Biru ingin buru-buru pulang karena akan bertemu Jingga.


“Iya, Bi. Dan anggap saja ini ucapan terima kasih Ibu karena kamu sudah menolong Luna.” Timpal Bu Ratmi.


Biru yang merasa tidak enak hati, akhirnya memilih untuk mengiyakannya. Bu Ratmi tersenyum senang, kemudian beliau berlalu menuju dapur untuk membuat kopi.


“Lun, aku boleh numpang ke kamar mandi nggak? Tangan aku lengket banget, mau cuci tangan.” Biru meminta izin, dia merasa tak nyaman dengan tangannya yang lengket karena keringat.


“Boleh. Kamu lurus aja ke sana, kamar mandinya dekat dapur.” Jelas Luna menunjuk ke arah dapur. Biru mengangguk mengerti, untuk kemudian dia beranjak untuk pergi ke kamar mandi.


Sepeninggal Biru pergi, Luna masih dalam posisinya duduk diam di atas sofa. Dering ponsel milik Biru yang ada di atas meja mengalihkan perhatiannya. Luna melihat ke kanan dan ke kiri, memastikan tidak ada tidak ada siapapun di sana selain dirinya. Gadis itu kemudian mengambil ponsel milik Biru.


“Aku jalan sekarang.” Luna tersenyum menyeringai saat membaca pop up pesan masuk yang ternyata dari Jingga. Dengan santai, Luna mematikan ponsel Biru, kemudian menyimpannya ke tempat semula.


“Aku nggak akan membiarkan Biru datang, Dokter Jingga yang cantik.” Seringai licik terlihat dari salah satu sudut bibirnya yang tertarik.


Selang beberapa menit, Biru datang beriringan dengan Bu Ratmi yang membawa secangkir kopi dan beberapa kudapan di tangannya.


“Ayo diminum dulu, Bi.” Ucap Bu Ratmi seraya meletakkan nampan di atas meja.


“Makasih, Bu.” Balas Biru sembari mengulas senyumnya.


Biru kemudian meminum kopinya sambil mengobrol ringan dengan Bu Ratmi, mengingat kembali masa kecilnya saat diasuh wanita paruh baya itu. Sesekali Biru tertawa ringan saat bu Ratmi menceritakan hal konyol yang pernah Biru lakukan saat masih kecil.


Setelah kopi miliknya habis, Biru berpamitan untuk pulang pada Bu Ratmi dan Luna. Bu Ratmi mengizinkannya pulang dan meminta Luna untuk mengantarnya sampai halaman rumah, sementara beliau membereskan gelas bekas minum Biru.


“Bi. . . .” Luna menghentikan Biru yang hendak membuka pintu mobil. “Kamu bisa anterin aku ke pasar malam di taman kota yang tadi kita lewatin, nggak?” Tanyanya kemudian.


“Nagapain ke sana? Kamu harusnya istirahat aja, Lun.” Biru balik bertanya, alisnya berkerut heran. Seharusnya Luna istirahat dan menenangkan diri di rumah,, mengingat kejadian yang telah menimpanya di rumah sakit tadi.


“Aku ingat ada festival kembang api di sana. Aku mau lihat. Lagian Aku butuh hiburan, Bi. Kalau di rumah, aku bakal keingetan terus.” Jawab Luna sambil menatap Biru penuh harap.


Sejenak Biru tampak berpikir sebelum kemudian mengiyakannya dengan ragu. Luna berseru senang, lalu bergegas kembali ke dalam rumah untuk mengambil tasnya.


********


“Kamu temenin aku ya, Bi.” Pinta Luna saat Biru menepikan mobilnya di pinggir jalan.


“Tapi aku–”

__ADS_1


“Sebentar aja. Aku takut jalan sendirian.” Rengek Luna dengan cepat memotong kalimat Biru. “Tapi, kalau kamu nggak bisa juga nggak apa-apa, kok.” Gadis itu memasang raut wajah kecewa.


“Ya udah. Tapi sebentar aja.” Sahut Biru sambil mendengus. Luna tersenyum senang mendengarnya.


“Lihat aja, aku akan nahan kamu, Bi.” Gumam Luna dalam hati.


Tiba di pasar malam, Luna benar-benar berusaha mengalihkan perhatian Biru. Gadis itu dengan semangat mengajak Biru untuk mencoba semua makanan yang dijajakan pedagang kaki lima.


“Lun, kayaknya aku harus pul–”


“Kamu cobain permen kapas ini, deh. Terakhir kita makan ini waktu masih kecil dulu.” Luna buru-buru menyerobot ucapan yang hendak dilontarkan Biru sembari mengarahkan sejumput permen kapas di depan mulut cowok itu.


Dari raut wajahnya, Biru seperti sudah tidak nyaman berada di sana. Biru ingin segera pergi dari sana. Rasanya tidak menyenangkan.


Rasanya berbeda sekali saat dia pergi bersama Jingga bermain arcade di Timezone beberapa waktu lalu, itu terasa sangat menyenangkan meski Biru tak menunjukannya dan malah mengejek Jingga kalau dia kekanak-kanakkan.


Biru ingat, di hari Minggu setelah dia dan Jingga memilih desain undangan pernikahan bersama Mama, Jingga mengajaknya untuk bermain arcade di Timezone. Gadis itu mengatakan ingin mengingatkannya pada masa lalu mereka.


Mereka mencoba setiap permainan, namun hanya Jingga yang terlihat bersemangat. Biru hanya mengikuti ajakan gadis itu.


“Yeay, I got it.” Gadis itu berseru senang saat berhasil mendapatkan boneka panda berukuran sedang dari claw machine.


“Buat kamu.” Jingga menyerahkan boneka panda hasil tangkapannya pada Biru. “Cepetan ambil. Ini mirip banget sama kamu, Kak.” Ucapnya lagi karena Biru hanya diam tak menerimanya.


“Kok mirip aku?” Biru memasang raut wajah tak terima.


“Kak, kamu tahu, nggak, kalau panda itu hewan lucu, tapi sebenarnya berbahaya?” Saat itu Biru hanya terdiam menunggu Jingga menyelesaikan kalimatnya.


“Panda selalu terlihat polos dan nggak berbahaya sampai dijadiin sebagai simbol kedamaian dan kebaikan. Tapi, pada dasarnya panda itu hewan buas yang harus diwaspadai.” Jelas Jingga panjang lebar.


Biru menautkan alisnya tak mengerti. “Nggak ada mirip-miripnya sama aku.”


Jingga mendengus. “Mirip, lah. Tahu, nggak? Kamu itu selalu terlihat polos, suci, dan nggak kelihatan berbahaya. Tapi kenyataannya nggak kayak gitu, kamu adalah sesuatu yang harus aku waspadai. Karena waktu ada di dekat aku, kamu selalu melakukan hal-hal aneh. Kayak tiba-tiba meluk, tiba-tiba nyium, dan tiba-tiba yang lain. Itu, kan, bahaya. Kalau kebablasan gimana coba?”


Biru mendengus kesal geli mendengar celotehan gadis itu. Lantas dengan gemas dia menarik pinggang Jingga untuk merapat padanya.


“Kalau kebablasan, paling-paling kamu hamil.” Biru berbisik santai di telinga Jingga.


Jingga membelalak, lalu dengan gerakan cepat langsung mendorong tubuh Biru agar menjauh darinya.


“Ish, ngomong apaan, sih? Amit-amit, ya.” Jingga menyerahkan paksa boneka panda itu ke tangan Biru. Kemudian dia berlalu pergi, mengambil langkah cepat, mendahului Biru yang masih diam di tempatnya sembari tersenyum gemas melihat punggung Jingga yang mulai menjauh darinya.


“Bi, kok melamun?” Tanya Luna saat permen kapas di tangannya tak diterima Biru.


Sudut bibir Biru tertarik membentuk senyum tipis. Jika dipikir-pikir, gadis itu terlihat seperti kelinci yang penuh energi, menggemaskan.


“Bi?” Panggil gadis itu sekali lagi.


“Ehh. K-kamu makan aja sendiri, Lun.” Ucap Biru saat tersadar dari lamunannya. Luna menarik tangannya dengan tatapan kecewa.


“Ya udah. Kalau gitu kita duduk di sana, yuk.” Luna menarik tangan Biru untuk duduk di salah satu bangku taman.


“Lun, aku harus pulang sekarang.” Biru sedikit kesal karena Luna memaksanya untuk ikut duduk dan tidak mendengarkannya sejak tadi.


Biru dan Luna mendongakan kepalanya saat suara letupan diiringi cahaya warna-warni menghiasi langit malam yang gelap di atas sana.


“Wahh, keren banget.” Mata Luna berbinar memandang letupan kembang api itu.


“Makasih ya, Bi, udah mau nemenin aku.” Biru terkesiap saat tiba-tiba Luna memeluknya.


Gadis itu tersenyum jahat, dia sengaja melakukan itu saat tak sengaja ekor matanya menangkap sosok Jingga yang sedang berdiri tak jauh dari mereka, Jingga menatap mereka dengan tatapan nanar.


“Kamu apa-apaan sih, Lun?” Biru dengan kasar mendorong tubuh Luna, hingga membuat gadis itu sedikit terkejut.


Jingga yang hendak meghibur diri dengan melihat festival kembang api bukannya malah terhibur.


Tak ingin lama-lama melihat pemandangan yang menyakiti mata dan hatinya, Jingga memilih untuk pergi dari sana, dia lantas melangkahkan kakinya dengan dada bergemuruh hebat.


“Ya ampun, Jingga.” Biru terkejut saat melihat jam di tangannya sudah menunjukan pukul setengah dua belas malam. Dia teringat dengan janji makan malam yang dibuatnya, lalu buru-buru dia mengambil ponsel dari saku celananya.


“Kok bisa mati?” Biru heran ponselnya mati. Padahal seingatnya, daya ponselnya masih penuh.


Tak ingin terlalu memikirkannya, Biru kemudian menghidupkan ponsel, terlihat beberapa notifikasi panggilan dan pesan masuk dari Jingga memenuhi layar ponselnya. Biru hendak menghubungi Jingga kembali. Namun beberapa kali mencobanya, gadis itu tak kunjung mengangkat panggilannya.


“Luna, kita harus pulang sekarang.” Biru beranjak dari duduknya.


“Tapi ini belum selesai. Sebentar lagi, Bi.” Protes Luna manja.


“Terserah. Aku pulang sekarang.” Ucap Biru tegas dan berlalu meninggalkan Luna.


Luna mendengus sebal, lalu mau tidak mau dia mengekori Biru untuk beranjak pergi dari sana.


********


Biru melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh setelah dia mengantar Luna pulang. Tujuannya adalah restoran yang seharusnya dia dan Jingga datangi untuk makan malam tadi. Tak lupa, dia juga masih berusaha menghubungi Jingga. Tapi hasilnya tetap nihil.


“SHI*T . . . .” Umpat Biru sembari memukul setir mobilnya saat mendapati restoran sudah tutup. Bagaimanapun, dia merasa bersalah karena tanpa sengaja sudah membatalkan janjinya.


Biru merutuki dirinya sendiri seraya mengusap wajahnya gusar. Bagaimana dia bisa sampai melupakannya? Seharusnya dia tadi menolak untuk menemani Luna.


Biru menghembuskan napas kasar, dia kemudian melajukan mobilnya kembali. Tujuannya kali ini adalah apartemen Jingga.


Sesampainya di depan pintu apartemen Jingga, Biru berkali-kali menekan bel. Tapi tetap tak ada sahutan, dan tidak ada tanda-tanda Jingga akan membukakan pintu untuknya. Lantas dilihatnya jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sudah sangat malam, dan mungkin Jingga sudah tidur di samping marah padanya.


Cowok itu akhirnya menyerah, dia berniat untuk menemui Jingga dan meminta maaf besok saja. Dengan langkah gontai dan rasa gelisah yang menghinggapinya, Biru beranjak meninggalkan gedung apartemen Jingga.


********


Sementara itu Jingga, dia yang pulang dengan kondisi hati berkecamuk berjalan gontai melalui tangga darurat. Ingin sekali dia menangis saat ini juga, namun dia tak ingin matanya terlihat bengkak besok. Lagipula untuk apa menangisi orang seperti Biru? Mungkin benar, mulai sekarang lebih baik dia membiasakan diri untuk tidak peduli lagi pada Biru dan mengabaikannya saja.


Tak langsung masuk ke unitnya, Jingga terus berjalan menuju rooftop. Karena tadi saat di perjalanan pulang, Langit mengirim pesan dan memintanya untuk datang ke sana. Langit mengatakan ingin menunjukan sesuatu. Sebelumnya Jingga menolak karena mungkin dia akan pulang malam, tapi Langit kembali mengatakan jika dia akan menunggunya sampai Jingga pulang.

__ADS_1


Jadi, di sinilah Jingga sekarang. Berdiri mematung di rooftop gedung apartemen, memasang raut wajah terkejut sambil menutup mulutnya dengan telapak tangan saat mendapati Langit menyambutnya dengan kue dan lagu selamat ulang tahun.


Happy birthday to you . . . .


Happy birthday to you . . . .


Happy birthday to you Jingga . . . .


Happy birthday to you . . . .


Seiring lagu berjalan, raut wajah terkejutnya berubah menjadi binar bahagia dan penuh haru. Nyaris saja dia lupa kalau hari adalah hari ulang tahunnya. Tidak hanya ulang tahunnya, tapi hari ini juga ulang tahun Langit.


Biasanya mereka merayakannya bersama-sama dan saling bertukar hadiah. Jingga merasa sedikit bersalah karena hari ini Langit menyiapkannya sendiri.


“Selamat ulang tahun yang ke 26, Jingga. I wish you all the best.” Langit mengakhiri lagunya dengan ucapan selamat dan harapan. Dia kemudian mendekatkan kue ulang tahun dengan 26 lilin yang menyala di atasnya ke depan Jingga.


“Selamat ulang tahun buat kamu juga, Langit. Aku harap, kamu hidup sehari lebih lama dari aku.” Begitulah harapan yang selalu Jingga ucapkan untuk Langit setiap tahunnya. Jingga tidak bisa membayangkan betapa sedihnya jika harus kehilangan sahabat yang selalu menemaninya sejak kecil itu.


“Maaf, aku aku nggak ikut nyiapin ini.” Lanjut Jingga tak enak hati.


“Diih, pake minta maaf. Biasanya juga kalau nyiapin bareng, kamu cuma nyuruh-nyuruh doang.” Ledek Langit. Jingga hanya mendengus.


“Ohh, iya. Biru pasti tadi habis ngasih kejutan, ya? Cieee, aku tebak itu makan malam romantis?” Langit kembali meledek dengan binar bahagia di wajahnya.


Sejenak Jingga terdiam, teringat apa yang sudah terjadi. Biru memang memberinya kejutan, kejutan yang menyakitkan.


“Ji?” Tegur Langit heran melihat Jingga malah diam.


“Eh– oh, iya.” Gadis itu gelagapan, susah payah dia memaksakan senyumnya. Jingga tidak ingin merusak moment bahagia ini dengan ceritanya yang menyedihkan.


“You deserve it. I’m glad” Ucap Langit tulus. Jingga hanya mengangguk dan berusaha menahan air matanya yang sudah menggenang agar tidak jatuh.


“Ohh, iya. Ayo tiup bareng-bareng lilinnya.” Seru Jingga mengalihkan pembicaraan.


“Make a wish dulu, Ji.” Langit mengingatkan agar Jingga tidak buru-buru meniup lilinnya.


Mereka memejamkan mata, melafalkan beberapa doa untuk kebaikan mereka. Setelah selesai, mereka meniup lilinnya bersama-sama. Keduanya terkekeh saat ada beberapa lilin yang kembali menyala, dengan susah payah mereka meniupnya lagi, begitu terus sampai tiga kali pengulangan.


“Makasih, Lang.” Ujar Jingga dengan senyum mengembang di wajahnya.


“Terima kasih kembali.” Balas Langit yang langsung menggiring tubuh Jingga untuk duduk di sofa yang ada di sana. Di atas meja sudah ada sekotak pizza dengan dua botol air mineral.


“Kok air putih?” Tanya Jingga heran dengan minuman pairingnya.


“Aku mau makan pizza tanpa rasa bersalah.” Jawab Langit.


Jingga mengangguk mengerti. Bagaimanapun, pizza adalah makanan berkalori tinggi, rupanya Langit mengganti soda dengan air putih untuk mengurangi asupan kalori yang akan masuk ke dalam tubuh mereka. Terlebih mereka makan tengah malam begini.


“Okay.” Jingga mengangguk-angguk pelan. “Kita memang harus menyayangi tubuh kita.” Tuturnya kemudian dengan tangan terulur untuk membuka kotak pizza.


“Uhh, aku lapar banget.” Jingga berucap tanpa sadar, hal ini tentu saja membuat Langit heran.


“Bukannya kamu baru aja makan sama Biru, ya?” Tanya Langit membuat Jingga terkesiap.


“Eung – maksud aku, aku lapar lagi. Tadi aku makannya dikit, aku nggak mau Biru lihat aku makannya rakus kayak babi.” Elak Jingga. Langit tergelak pelan dan tak mempermasalahkannya lagi.


“Sok-sokan jaga image, sih.” Cibir Langit, tangannya kemudian terulur mengambil sepotong pizza dari kotaknya.


Jingga mendengus, lalu terdiam lagi. Seandainya makhluk menyenangkan yang sedang bersamanya saat ini adalah Biru.


Gadis itu membuang napas lemah, membuang jauh-jauh angannya. Langit adalah Langit, dan Biru adalah Biru. Keduanya adalah cowok spesial yang Jingga sama-sama cintai dengan posisi yang berbeda.


“Ngomong-ngomong, mana hadiah buat aku?” Jingga menengadahkan tangannya yang sedikit kotor karena terkena saus pizza. Langit kemudian mengambil sesuatu dari saku celana dan menyerahkannya pada Jingga.


“Gunting kuku?” Wajah Jingga merengut saat mengetahui hadiah yang diberikan Langit. Cowok itu selalu saja memberinya hadiah yang konyol. Tahun kemarin bahkan Langit memberinya boneka super mario berukuran mini yang didapatkan dari claw machine. Langit bilang, hadiah itu sangat spesial karena didapatkan dengan susah payah. Tapi itu lebih baik daripada voucher makanan.


“Kamu nggak punya gunting kuku dan sering pinjem punya aku. Peka banget, kan, aku, Ji?” Sahut Langit santai sembari menaik turunkan kedua alisnya.


Jingga hanya mendengus geli mendengarnya. Jauh di lubuk hatinya, Jingga senang dengan hadiah kecil seperti ini, dibandingkan dengan hadiah mewah. Itu tidak terasa spesial.


“Sekarang, mana hadiah buat aku?” Langit melakukan hal yang sama dengan Jingga, menengadahkan tangan meminta hadiah.


“Aku, kan, lupa ulang tahun kita. Jadi nggak nyiapin, lah.” Jawab Jingga di sela-sela kunyahan pizza dalam mulutnya. “Tapi kamu tinggal bilang aja mau apa , aku pasti kabulin.” Lanjutnya, lalu meminum air untuk mendorong makanannya masuk.


“Kabulin-kabulin, emang kamu Om Jin?” Cibir Langit sambil terkekeh geli. Ucapan Jingga barusan membuatnyaa teringat akan Om Jin pada iklan rokok di TV.


“Cepetan kamu mau apa?” Desak Jingga.


Sejenak Langit terdiam berpikir, kemudian berucap. “Aku cuma mau minta kamu jangan pernah membenci aku.”


Jingga mendegus geli mendengar penuturan Langit. “Ngapain aku benci sama kamu? Nggak mungkin, lah. Aneh banget kamu ngomongnya. Kamu lagi kesurupan atau apa?”


“Mungkin aja, kalau kamu tahu yang sebenarnya setelah ini. . . .” Gumam Langit pelan, sangat pelan hingga Jingga tak bisa mendengarnya. Dia menatap gadis itu dengan wajah sendu.


“Kamu ngomong apa?” Tanya Jingga karena mendengar Langit bergumam tak jelas.


Langit hanya menggeleng sambil tersenyum tipis, kemudian meneguk air mineral dari botol miliknya.


“Eung, Ji.” Panggil Langit kemudian.


“Hmm.”


“Main jujur-jujuran, yuk.”


Jingga hampir tersedak mendengar ucapan Langit yang terdengar sangat konyol dan menggelikan itu.


“Permainan apaan, tuh?” Jingga tak langsung menyetujui untuk ikut bermain.


“Ikutin aja. . . .” Balas Langit tak mau berdebat.


********

__ADS_1


To be continued . . . .


__ADS_2