
********
Sesampainya di kedai kopi, Jingga kemudian mengedarkan pandangannya, mencari tempat di mana Biru duduk saat ini.
Senyumnya mengembang ketika matanya menangkap sosok Biru yang duduk tak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Namun, itu tak berlangsung lama saat dia menangkap sosok lain yang duduk bersama Biru.
Meremas ujung dress yang dikenakannya, Jingga lantas berjalan perlahan untuk menghampiri Biru agar lebih dekat.
Tubuhnya seketika bergetar dan hatinya bergemuruh saat dengan jelas dia mendengar percakapan Biru dengan orang itu, Luna.
“Waktu kita ketemu di Surabaya, aku mau ngasih ini, tapi malah kelupaan.” Luna menyerahkan sebuah kotak hadiah berwarna hitam dengan hiasan pita merah di atasnya. “Kebetulan kita ketemu di sini, jadi aku kasih sekarang aja. Tadinya mau aku titip di staff Front Office rumah sakit.”
“Padahal nggak usah repot-repot ngasih hadiah segala, Lun. Lagian itu juga udah lewat.” Ujar Biru.
Jingga yang menyaksikan itu hanya bisa tersenyum getir. Hatinya berdegup kencang dan napasnya memburu, tanda dia sedang menahan amarah.
Jingga benar-benar tak percaya dengan apa yang didengarnya. Dia harap pendengarannya bermasalah, tapi sial dia mendengarnya dengan sangat jelas.
“Kakak . . . .” Jingga tertegun dengan wajah pucat pasi begitu dia menghampiri Biru yang tengah duduk dan mengobrol bersama Luna. Orang yang sudah membuat hubungannya dan Biru sempat berjarak.
Tersenyum miring. Jadi hal yang Jingga takutkan terjadi? Mereka bertemu di Surabaya? Di saat Jingga menangis sendirian karena merindukan laki-laki itu, tapi Biru malah bertemu Luna di sana? Tck, sangat lucu.
“Jingga. . . .” Biru yang mendengar suara Jingga sontak menoleh ke arahnya. Laki-laki itu tampak terkejut, begitupula dengan Luna. Mereka seolah telah terpergok melakukan kesalahan.
“Sekarang aku harus apa? Aku capek, Kak, kalau harus lihat kamu kayak gini terus.” Jingga menggeleng pelan sambil tersenyum miris.
“Ji, kamu salah pa–”
“Salah paham atau bukan. Aku tetap nggak suka.” Sambar Jingga memotong ucapan Biru, kemudian memutar tubuhnya dan mengambil langkah cepat untuk pergi keluar dari tempat yang cukup menyesakkan itu.
Jingga pikir, semuanya sudah berakhir hingga dia dan Biru bisa hidup bahagia tanpa bayang-bayang Luna lagi.
Apa Biru tidak ingat betapa sulitnya Jingga memberikan kepercayaan padanya dulu? Jingga memang bisa memberikan cintanya dengan gratis, tapi tidak dengan kepercayaan.
Tidak, Jingga tidak memberikan kepercayaan pada Biru secara cuma-cuma. Tapi apa yang laki-laki itu lakukan? Menyia-nyiakannya? Lucu sekali, saking lucunya, yang bisa Jingga lakukan adalah tertawa miris dengan derai air mata yang mulai mengalir di pipinya.
Melewati kerumunan, Jingga berjalan linglung hingga sesekali dia menabrak bahu beberapa pengunjung mall.
“Dengerin aku dulu, Ji.” Biru menahan tangan Jingga yang nyaris membuka pintu taksi begitu dia berhasil mengejarnya. Namun, Jingga dengan cepat menyentak tangan Biru dan kembali membuka pintu taksi.
“Ya udah kalau gitu pulang sama aku, hem?” Biru kembali meraih pergelangan tangan Jingga untuk mencegahnya masuk ke dalam taksi.
Jingga memandang lurus pada cekalan tangan itu seraya tersenyum miris dengan mata yang berkaca-kaca.
“Lepas!” Ucapnya dingin.
“Ji, jangan gini. Dengerin aku dulu, kamu salah paham.”
Jingga berdecak geli. Entahlah, saat ini dia tidak ingin mendengar apapun dari Biru, dia hanya ingin pulang dan menenangkan dirinya sejenak.
Menghapus air matanya yang jatuh, lantas dia kembali menyentak tangan Biru dari pergelangan tangannya. “Aku bilang, lepasin.”
Jingga kemudian dengan cepat masuk ke dalam taksi saat cekalan tangan Biru pada lengannya terlepas.
Biru berusaha menahan laju taksi yang Jingga tumpangi. Namun sia-sia, taksi itu terus melaju hingga hilang dari pandangannya.
“Sial.” Biru mengacak-acak rambutnya sendiri dengan gusar. Dia kembali merutuki dirinya sendiri. Ini memang salahnya, salah karena dia tidak terbuka padahal sebelumnya sudah berjanji untuk berbagi semua hal dengan Jingga.
Jika saja dia mengatakan pada Jingga kalau dia bertemu Luna di Surabaya dan menceritakan semuanya, mungkin Jingga sekarang tidak akan salah paham dengan pertemuannya yang tak sengaja bersama Luna di kedai kopi tadi.
“Bi. . . .” Biru yang hendak melangkahkan kakinya menuju parkiran basement seketika berbalik saat suara Luna memanggilnya.
“Kenapa, Lun?” Tanyanya terdengar tak sabaran, dia harus mengejar Jingga sekarang.
“Belanjaan kalian ketinggalan.” Luna lantas menyerahkan beberapa kantong belanja berisi baju hamil milik Jingga yang tak sengaja Biru tinggalkan di kedai kopi karena terlalu panik untuk mengejarnya.
“Maaf, Bi. . . .”
“Aku harus pergi sekarang, Lun.” Sambar Biru mengabaikan Luna yang memasang raut wajah bersalah, karena yang ada di pikirannya saat ini adalah segera bertemu Jingga dan menjelaskan semuanya.
Luna sendiri hanya tersenyum tipis yang tak bisa diartikan dan memandangi kepergian Biru dari hadapannya.
********
Sesampainya di rumah, Biru memarkirkan mobilnya asal-asalan. Lalu dengan segera dia bergegas masuk ke rumah, menuju kamar untuk menemui Jingga yang sudah lebih dulu sampai.
Kepadatan lalu lintas di malam Minggu membuat Biru tiba di rumah orang tuanya hampir larut. Jam sepuluh malam.
Biru meraih handle pintu kamar, lalu mendorongnya, tapi dia tak mendapati Jingga ada di sana hingga membuatnya panik ketakutan. Takut kalau sang istri pergi meninggalkannya seperti dulu, tapi tak berselang lama dia bernapas lega begitu melihat tas berwarna peach yang tadi dikenakan Jingga tergeletak di atas tempat tidur.
Lantas setelah itu, mata Biru tertuju pada rak lemari yang menghubungkan dengan kamar rahasianya. Dia ingat dulu saat awal menikah, Jingga pernah bersembunyi di sana.
Biru bersyukur dugaannya benar karena begitu dia masuk ke dalam kamar rahasianya, dia mendapati Jingga tengah tertidur miring di atas kasur lipat dengan selimut yang menutupinya hingga sebatas leher.
“Sayang.” Jingga yang baru saja meredakan tangisnya dan nyaris terlelap, kembali membuka mata saat merasakan sebuah tangan mendekapnya.
“Kamu marah, ya, sama aku?” Tanya Biru setelah beberapa saat tak mendapat sahutan dari istrinya itu. “Maaf.” Lanjutnya seraya mencium pelipis Jingga lama.
Jingga yang mendengarnya tersenyum geli, haruskah Biru bertanya seperti itu? Bukankah sudah jelas? Jingga tidak hanya marah, tapi kecewa.
__ADS_1
Selalu seperti ini, Biru membuatnya kecewa, minta maaf, lalu selesai. Jingga sangsi jika Biru pernah sekali saja memikirkan perasaannya. Sepertinya tidak.
“Kamu bohong lagi sama aku.” Air mata yang semula menyurut, kini kembali jatuh mengalir melalui sudut matanya.
“Kamu salah paham, tolong dengerin aku dulu.” Pinta Briu memelas seraya berusaha untuk membuat tubuh Jingga untuk berbalik menghadapnya. Tapi dengan cepat Jingga menepis tangannya.
“Coba aja kalau kamu terbuka sama aku. Mungkin sekarang aku nggak akan salah paham dan berpikir aneh-aneh sama kamu.” Sambarnya dengan suara tertahan.
“Aku minta ma–”
“Kamu tahu, nggak, apa yang aku pikirin pas dengar kalian ketemu di Surabaya?” Sambar Jingga yang masih enggan berbalik untuk melihat Biru.
“Jingga aku–”
“Kamu ngapain aja sama dia? Apa kamu ketemu dia setiap hari pas di sana? Apa kamu bener-bener udah menghindari Luna sesuai dengan yang kamu janjikan? Apa kalian diem-diem masih berhubungan di belakang aku? Apa mutasi itu hanya sekadar pengalihan perhatian untuk membuat aku tenang?”
Jingga menghapus air mata yang mengalir di sudut matanya. Kembali tersenyum miris, Jingga merasa bahwa Biru sudah membodohinya. Atau mungkin dia memang bodoh, sebab dari dulu selalu saja percaya dengan laki-laki yang sedang mendekapnya ini.
*“*Maafin aku.”
“Aku nggak akan nyia-nyiain kesempatan ini.”
“Aku nggak akan ngelakuin itu lagi.”
“Aku janji. . . .”
Kata-kata seperti itu selalu membuatnya luluh hingga akhirnya Jingga kembali mempercayai Biru. Tapi apa balasannya? Jingga tidak pernah berharap akan kembali dikecewakan seperti ini.
“Enggak, Ji. . . .”
“Kenapa? Kamu sendiri, kok, yang udah buat aku jadi bertanya-tanya kayak gini.” Sambar Jingga seraya berbalik untuk menghadap ke arah Biru, hingga pandangan mereka saling bertemu.
Biru mematung, bibirnya menjadi kelu seketika seolah yang dikatakan Jingga memang benar dan tak ada perlawanan untuk itu.
Biru tatap wajah sedih itu, tangannya lalu terulur mengusap air mata di kedua sudut mata Jingga menggunakan ibu jarinya. Seketika hatinya terasa sakit, dia benar-benar merasa bersalah karena telah membuat Jingga kembali menumpahkan air mata.
“Aku tahu, kamu sama Luna mungkin cuma berteman, tapi aku nggak bisa menerima itu. Dari awal aku selalu bilang, tapi kamu terus mengabaikan itu.” Ujar Jingga dengan suara tercekat.
Katakanlah dia egois karena tidak ingin Biru memiliki teman perempuan selain dirinya. Sementara Jingga sendiri masih memiliki Langit di sisinya. Tapi, menurutnya Langit dan Luna itu dua orang yang berbeda. Jingga tidak bisa melihat Biru berteman dengan Luna.
“Maafin aku, Ji, maaf.” Ujar Biru dengan suara parau, berusaha menahan nyeri di dadanya setelah melihat raut wajah sedih Jingga. “Maaf aku udah ngecewain kamu lagi sampai kamu sedih kayak gini.”
“Aku tuh bosen denger kamu minta maaf.” Seru Jingga, membuat hati Biru kian tersayat. “Ngapain kamu minta maaf kalau ujung-ujungnya ngecewain aku lagi kayak gini?”
“Aku selalu berusaha untuk nggak ngecewain kamu, tapi kayaknya usaha aku masih kurang. Sekali lagi, tolong maafin aku untuk itu.” Biru berujar dengan ekspresi pilu.
“Tapi, aku harap kamu mau denger ini.” Biru mengelus lembut pipi Jingga yang terasa lembab. “Aku emang ketemu Luna di Surabaya waktu itu, sekali. Tapi aku sama dia nggak ngelakuin apa-apa seperti yang kamu pikirin.”
“Aku nggak tahu harus percaya lagi sama kamu atau enggak.” Sahut Jingga seraya melepaskan tangan Biru dari pipinya.
Biru menggeleng cepat dan kembali menangkup kedua sisi wajah Jingga. “Please, dengerin aku dulu. Aku emang ketemu sama dia, tapi cuma ngobrol sebentar di kantin rumah sakit, dan dia minta maaf. Udah itu aja.”
Biru kemudian menceritakan pertemuannya dengan Luna beberapa waktu lalu.
Luna menghubungi Biru dan memintanya bertemu ketika mengetahui laki-laki itu ada di Surabaya. Biru selalu mengabaikannya, tapi saat dia tak sengaja bertemu di rumah sakit, Luna terus memohon padanya agar Biru memberi waktu sebentar untuk berbicara.
Alhasil, Biru mengiyakannya dan mereka berbicara di kantin rumah sakit. Biru sudah bersiap-siap dengan ancaman akan memecat Luna jika saja gadis itu bertindak gila, menjelek-jelekkan Jingga, atau meminta Biru menerima cintanya lagi.
Tapi ternyata Biru salah. Apa yang dilakukan Luna ternyata di luar dugaannya. Gadis itu meminta maaf padanya untuk semua kesalahan yang telah dia lakukan.
Awalnya Biru skeptis dan mengatakan bahwa Luna sedang mencoba menipunya. Tapi setelah Luna terus memohon dan Biru melihat kesungguhannya, pada akhirnya dia percaya dan memaafkan Luna.
Tapi meski demikian, Biru mengatakan jika hubungannya dengan Luna tidak bisa seperti dulu lagi, dan Luna mengatakan tidak apa-apa karena dimaafkan saja sudah cukup untuknya. Luna bahkan memberikan ucapan selamat atas pernikahan Biru dan Jingga, serta mendoakan kebahagiaan mereka sebelum mengakhiri percakapannya.
“Terus kamu maafin dia gitu aja? Yakin dia nggak lagi bohong?” Tanya Jingga tak percaya.
“Ya ampun, Ji. Orang niat baik mau minta maaf, masa iya aku nggak maafin. Aku percaya kok, dia nggak bohong.” Sahut Biru. Jingga yang mendengar itu langsung mendelik sewot.
“Iya, deh, kamu pasti percaya aja. Dia, kan, teman kesayangan kamu.” Seru Jingga jutek dengan penuh penekanan pada kata teman kesayangan.
“Nggak gitu, Ji. Lagian apa salahnya memaafkan orang?” Balas Biru. “Kamu juga selalu ngasih aku maaf, kan, kalau aku berbuat salah terus minta maaf?”
Jingga terdiam dengan wajah merengut masam. Walaupun kenyataannya seperti itu, tapi tetap saja Jingga kesal dan kecewa karena sebelumnya Biru tidak jujur.
“Terus karena udah dimaafin, kamu pindahin lagi dia ke sini?” Tanya Jingga sinis, membuat Biru mengernyitkan alisnya tak mengerti maksud pertanyaan Jingga.
“Pindahin? Pindahin gimana maksud kamu?”
“Ya kamu pindahin lagi Luna ke rumah sakit di sini, kan? Harusnya kamu, tuh, sadar, mungkin itu tujuan dia minta maaf.” Terang Jingga bersungut-sungut.
Biru yang mendengar itu hanya menghela napas dalam-dalam, guna membuat dirinya tetap sabar. Aneh sekali, kenapa Jingga jadi nyinyir seperti ini?
“Ada saatnya seseorang menyadari kesalahannya, Ji. Kamu jangan nethink gitu, dong, nggak baik.” Tegur Biru hati-hati, sementara Jingga hanya memutar bola mataya malas. Tck, sok menasehati, padahal dirinya sendiri juga seperti itu.
“Terserah kamu, deh.” Ucap Jingga malas.
Biru berdecak kecil, lalu kembali berucap. “Lagian aku nggak ada mindahin dia, kok.”
“Terus, dia ngapain ada di sini? Kamu janjian sama dia?” Sahut Jingga masih dengan nada sinis, lalu beranjak dari tidurnya dan memilih untuk duduk sambil menekuk lutut. Biru mengikutinya.
__ADS_1
“Aku, tuh, tadi nggak sengaja ketemu sama dia di kedai kopi.” Merasa gregetan, Biru lantas menarik pipi kanan Jingga hingga membuat gadis itu semakin kesal dibuatnya.
“Apaan, sih, sakit, tahu?” Kesal Jingga menepis tangan Biru dari pipinya.
Biru mendengus, berusaha sabar dengan sikap jutek Jingga. “Dia itu datang ke Bandung buat ziarah ke makam ayahnya, sekalian ngurus surat-surat pindah karena dia akan selamanya menetap di Surabaya.”
“Ciee, tahu banget. Emang gitu, tuh, yang namanya teman dekat.”
Kalimat sindiran Jingga membuat Biru semakin frustrasi. Ya Tuhan, Biru ingin pingsan saja sekarang juga. Bukannya tadi Jingga yang bertanya alasan keberadaan Luna di sini? Kenapa dia masih disalahkan?
“Tahu lah, kan tadi sempat ngobrol sebentar.” Sahut Biru sedikit kesal.
“Ciee, ngobrol. Pasti tadi maunya lama, cuma aku keburu datang.” Cebik Jingga membuat Biru semakin dibuat kesal dan gemas sekaligus. Sumpah demi apapun, dia tidak pernah melihat Jingga semenyebalkan ini.
“Ji, coba madep sini, deh.” Titah Biru. Namun, Jingga hanya mengedikkan bahunya tak peduli. “Sebentar aja, coba sini.”
Berdecak sebal, Jingga lantas memutar kepalanya ke arah Biru. Matanya membelalak saat Biru tiba-tiba meraih tengkuk, lalu mencium bibirnya dengan cepat begitu dia menolehkan kepalanya.
“Rese banget, sih, istri aku.” Ucap Biru setelah dia melepaskan bibirnya dari bibir Jingga.
“Ihh, kamu apa-ap–”
Tak membiarkan Jingga berbicara, Biru kembali membungkam mulut gadis itu dengan bibirnya. Tak peduli jika Jingga berontak, Biru tetap menciumnya dengan perasaan gemas.
“Ngeselin.” Dengus Jingga dengan napas terengah-engah seraya mengusap bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan.
“Yang ngeselin itu kamu. Aku udah jelasin, tapi masih aja overthinking sama aku.” Balas Biru dengan napas yang sama memburunya.
“Salah kamu sendiri, kenapa coba nggak cerita sama aku sebelumnya?” Raut wajah Jingga kembali kecewa.
Menghela napas, lantas Biru membawa Jingga ke dalam pelukannya. “Karena aku nggak mau kamu kepikiran.”
Sebenarnya Biru sudah berniat memberitahu Jingga setelah kepulangannya dari Surabaya, tapi dia malah mendapati Jingga sakit, dan dia semakin tidak memiliki momen yang pas begitu mengetahui kehamilan Jingga, hingga akhirnya dia memilih untuk tidak mengatakannya.
“Kan kita udah janji buat berbagi semuanya.” Sambar Jingga terdengar lemah.
“Iya, ini emang salah aku yang masih belum bisa terbuka sepenuhnya sama kamu.” Tutur Biru menyesal.
“Aku benci kamu.” Jingga memukul punggung Biru keras-keras.
“Jadi tolong maafin aku lagi kali ini. Aku masih harus berusaha, tolong ngertiin aku, hem?”
Jingga terdiam tak menjawabnya. Dia paham kalau mereka masih dalam tahap belajar saling mengerti dan menyesuaikan diri untuk menerima kekurangan masing-masing. Tapi mendapati Biru melakukan kesalahan, entah kenapa Jingga merasa kesal dan tidak bisa menerimanya seperti ini.
Sejak kapan dia yang biasanya berkepala dingin menjadi tak bisa mengontrol emosinya seperti ini? Apa ini yang dinamakan bawaan hamil? Ahh, benar-benar menyebalkan.
“Kamu mau maafin aku, nggak?” Tanya Biru lagi seraya mengambil jarak untuk mempertemukan pandangannya dengan Jingga, tapi tanpa melepaskan pelukannya.
Dengan raut wajah merengut, Jingga lantas mengangguk. “Tapi nggak ikhlas. Aku masih kesel sama kamu.”
Biru mendengus geli, lalu kembali memeluk Jingga dengan erat. “Ngak apa-apa, besok juga pasti hilang keselnya.”
“Aku benci kamu. Kamu jahat.” Jingga masih ingin mengumpati suaminya itu. “Kamu brengsek.”
“Shuut, kamu jangan ngomong gitu, dong, nanti Dedek denger, lho.”
“Nggak apa-apa, biar dia tahu Papanya rese.” Jingga kembali bersungut-sungut, lalu menarik diri, meninju pelan dada Biru. “Ish, aku benci banget sama kamu.”
Biru meraih tangan Jingga untuk digenggamnya. “Jingga kamu tahu, nggak?”
“Nggak.” Sambar Jingga tak tertarik.
“Ish, dengerin dulu.” Biru mencolek gemas dagu Jingga. “Kata Mama, kalau terlalu benci sama orang nanti anaknya mirip orang itu. Emang kamu mau Dedek mirip sama aku sepenuhnya?”
“Ya nggak apa-apa, kan, kamu Papanya.” Jingga masih menanggapi dengan ketus.
“Udah, ahh, jangan ketus-ketus gini.” Biru mencolek dagu Jingga sekali lagi, lalu beranjak berdiri dan mengulurkan tangannya. “Ayo tidur, kasihan Dedeknya kalau kamu tidur terlalu malem.”
“Aku nggak mau tidur di sini.” Sahut Jingga memukul uluran tangan Biru.
“Iya, lah, kan kita tidurnya di kamar, ayo.”
“Maksud aku, kamu tidurnya di sini, terus aku sama Dedek di kamar, berdua.”
Biru sontak terperangah mendengarnya. “Ihh, mana bisa kayak gitu?
“Bisa.” Balas Jingga cepat. “Katanya Dedek lagi nggak mau tidur sama Papanya.”
Jingga mengelus perutnya sebentar diiringi senyum licik tersungging dari sudut bibirnya, Ternyata hamil menyenangkan juga, dia bisa memanfaatkan anak di dalam perutnya untuk dijadikan alasan dan meminta apapun.
“Ji, kamu jangan curang, dong.” Protes Biru tak terima.
“Ihh, siapa yang curang. Emang Dedeknya yang nggak mau, kok.” Seru Jingga sambil beranjak untuk keluar. Sejenak dia berbalik saat hendak membuka rak lemari saat teringat akan sesuatu yang belum dia katakan.
“Awas, ya, kalau kamu berani deketin apalagi naik tempat tidur, aku pastikan seminggu ke depan kamu tidur sendiri. Di sini.” Jingga memberi peringatan, membuat Biru yang mendengarnya hanya bisa mendesah pasrah. Hanya malam ini, tidak apa-apa.
********
To be continued . . . .
__ADS_1