
********
Hari ini Biru dan Jingga mengunjungi rumah Papa Rendi dan Mama Lisa. Mereka akan bermalam di sana sekaligus memberitahu kabar kehamilan Jingga.
Mereka juga sudah memberitahu orang tua Jingga sebelum datang ke rumah orang tua Biru. Ayah dan Bunda sangat senang mendengar kabar baik ini, begitupula Bintang dan Senja yang ikut berbahagia karena adik kecilnya sudah menjadi wanita dewasa sekarang.
Baik Papa maupun Mama, mereka benar-benar terkejut dan bahagia sekaligus saat Jingga menunjukkan foto hasil USG yang dia dapat saat memeriksakan kandungannya di Dokter Obgyn kemarin.
Mereka tak henti-hentinya mengucap syukur, akhirnya mereka akan kembali mendengar suara tangisan bayi yang akan meramaikan rumah setelah sekitar dua puluh tujuh tahun terasa sepi. Harapan memiliki cucu sebentar lagi terkabul.
“Mimpi Papa jadi kenyataan, Ma.” Ujar Papa senang, matanya tak lepas memandangi foto hasil USG milik Jingga.
Walaupun Mama dan Papa tidak terlalu paham karena foto itu belum jelas memperlihatkan bentuk sang calon cucunya, tapi perasaan bahagia menjalar begitu saja di hati mereka. Terutama Papa, lelaki paruh baya itu bahkan tak sadar meneteskan air matanya saat melihat foto janin calon cucu mereka saking bahagianya.
“Itu takhayul, Pa. Ini cuma kebetulan aja.” Mama protes karena suaminya itu percaya pada mimpi.
“Iya, Pa. Aku juga setuju sama Mama. Mimpi itu bunga tidur, mana ada jadi kenyataan. Nggak baik lho, Pa, percaya sama yang kayak gituan.” Biru menimpali.
“Itu Papa juga kata orang tua zaman dulu. Papa nggak ada maksud mempercayainya, kok.” Seru Papa membela diri, lalu kembali mengalihkan perhatiannya pada foto USG.
Biru mendengus tak menyahutinya, lalu menggerutu dalam di dalam hati. “Orang tua zaman dulu dipercaya.”
“Cucunya Nenek . . . .” Gumam Mama penuh haru sambil menyentuh foto hasil USG itu menggunakan jari telunjuknya.
“Cucu kakek juga, Ma.” Timpal Papa tak mau kalah. Namun, Mama tak mengindahkannya.
“Berapa usianya, Ji?” Tanya Mama tanpa mengalihkan perhatiannya dari foto USG tersebut.
“Kata dokter, udah tiga mingguan, Ma.” Jawab Jingga seadanya.
Mama mengangguk, lalu beranjak dan berpindah untuk duduk di sebelah Jingga hingga membuat Biru otomatis menggeser tubuhnya.
“Makasih, ya, Ji, udah ngasih Mama sama Papa cucu.” Mama memeluk Jingga penuh haru.
Biru mendengus, kenapa dia tidak mendapatkan ucapan terima kasih juga? Kalau tidak ada dirinya, bayi di dalam perut Jingga juga tidak akan ada. Dia yang membuatnya bersama Jingga.
“Mama seneng banget. Kamu sehat-sehat, ya, Ji. Ya ampuun, ini kayak mimpi. Rasanya baru kemarin Mama gantiin popok Biru, ehh sebentar lagi udah mau gantiin popok anaknya aja.” Ujar Mama diiringi dengan mata yang berkaca-kaca penuh haru.
Jingga hanya mengangguk dalam pelukan Mama seraya memberi usapan lembut di punggung wanita itu.
“Ohh, iya. Apa ada keluhan?” Tanya Mama kemudian sesaat setelah dia melepaskan pelukannya.
“Cuma morning sickness sama nggak tahan lihat dan nyium bau daging dan ikan mentah, Ma.” Jawab Jingga yang memang selalu merasa mual saat berhadapan dengan kedua bahan makanan itu.
“Kalau gitu mulai sekarang kamu harus jauh-jauh dari dapur, Ji.” Ujar Papa. Namun, Jingga mengatakan tidak apa-apa karena hanya tidak bisa melihat dan nyium bau daging dan ikan mentah, sementara dengan bahan makanan lain dia baik-baik saja.
Lagipula Jingga juga tidak mungkin jauh-jauh dari dapur karena setiap hari harus menyiapkan makanan untuk dirinya dan Biru.
“Gimana kalau sementara kalian tinggal di sini aja?” Usul Papa yang memang sangat menginginkan anak dan menantunya itu tinggal bersamanya.
Jingga terdiam bingung menanggapinya. “Eung. . . .”
“Setidaknya sampai kamu melahirkan, Ji.” Bujuk Papa, lalu menjelaskan bahwa Jingga harus menjaga kandungannya dengan baik, terutama di awal-awal kehamilan seperti ini.
Beliau juga mengatakan pada Biru seharusnya tidak membiarkan Jingga melakukan apapun termasuk memasak dan menyiapkan segala keperluannya. Apalagi Jingga mengalami morning sickness, pasti itu akan membuatnya kesulitan di pagi hari.
Sebenarnya Jingga sangat terenyuh dengan perhatian ayah mertunya itu. Tapi untuk tawarannya, Jingga tidak bisa memutuskan. Jingga kembalikan semua itu pada suaminya.
“Kalau kalian tinggal di sini, setidaknya Jingga nggak perlu ngurus rumah dan masak seperti di apartemen, Bi.” Papa kembali menghasut.
Biru terdiam menimang-nimang. Sebenarnya dia kurang setuju karena jika tinggal bersama di rumah orang tuanya, dia dan Jingga tidak bisa bebas berduaan dan melakukan apapun, tapi penuturan Papa juga ada benarnya.
“Dan kamu juga nggak akan bosan karena di sini ada Mama dan Reno selama kamu cuti kerja, Ji.” Tambahnya kemudian dan langsung disetujui oleh Mama. Wanita paruh baya itu juga mengatakan jika Jingga tinggal di rumahnya, maka dia akan dengan mudah mengawasi dan merawatnya.
Alhasil, karena mereka terus merayu dan memaksa, serta setelah dipertimbangkan, Biru dan Jingga menyetujui untuk tinggal di rumah Papa sampai Jingga melahirkan.
“Kalian serius?” Mama memastikan keputusan Biru dan Jingga.
“Iya, Ma. Lagian biar Jingga ada yang ngawasin juga selama aku kerja.” Sahut Biru, membuat Jingga sedikit mendengus. Apa laki-laki itu berpikir dia adalah tahanan yang harus selalu di awasi?
“Wahh, senengnya. Rumah ini bakalan rame kalau ada kalian.” Mama menggenggam tangan Jingga dengan girang.
“Malam ini tidur sama Mama, yuk, Ji. Kita pajamas party sambil sharing tentang kehamilan gitu. Pasti seru banget, Ji.” Mama seketika menjadi heboh.
“Wahh, boleh banget tuh, Ma. Aku juga mau ada camilan biar tambah seru.” Seru Jingga menyetujui.
Membayangkan dia dan Mama menggunakan piyama lucu sambil bercerita, itu pasti sangat menyenangkan. Jingga ingat terakhir kali melakukan pesta piyama yaitu saat sebelum menikah bersama Senja dan Bunda. Jingga benar-benar merindukan hal seperti ini.
“Siap! Biar Mama minta tolong Bibi siapin camilannya. Kamu tinggal bilang aja mau apa.”
Biru yang menyaksikan kehebohan ibu dan istrinya hanya bengong dengan mulut sedikit menganga. Mana boleh seperti itu.
Sementara Papa, beliau tampak tenang sambil tersenyum dan geleng-geleng kepala. Merasa istri dan putri menantunya itu benar-benar pasangan yang cocok.
“Duhh, seneng banget Mama. Selama ini cuma bisa ngebayangin karena nggak punya anak cewek buat bisa diajak pajamas party.” Ujar wanita paruh baya itu kemudian.
“Sekarang Mama boleh ngajakin aku pajamas party kapan aja.” Sahut Jingga menggenggam lembut tangan ibu mertuanya itu.
__ADS_1
“Uhh, terharu. Makasih, Sayang.” Balas Mama berlebihan, lalu kembali heboh saat teringat sesuatu. “Ohh, iya. Kita main uno juga, nanti yang kalah mukanya dicoret lipstick, gimana? Kamu bisa main uno, kan? Mama punya kartunya, lho, yang balok juga ada.”
“Bisa, Ma, bisa. Aku dulu sering main sama Langit dan Kak Senja.” Sahut Jingga tak kalah girang.
“Bisa dari mana? Nggak bisa!” Biru yang sejak tadi diam memperhatikan kehebohan mereka kini angkat bicara. Sontak ucapannya langsung mendapatkan delikkan tak suka dari Jingga dan Mama serempak.
“Apaan, sih, kamu nimbrung aja. Ini urusan cewek.” Sahut Mama sebal.
“Nggak bisa kayak gitu, dong, Ma. Kalau Jingga tidur sama Mama, nanti aku sama siapa?” Protes Biru.
“Ihh, lebay banget. Sebelum nikah biasanya juga tidur sendiri nggak apa-apa, tuh, malahan di apartemen. Kamu, kan, nggak suka diganggu.” Cebik Mama yang langsung disetujui Jingga.
“Kan beda, Ma. Sekarang aku udah nikah.”
“Kalau nggak mau tidur sendiri, malam ini kamu bisa tidur sama Papa.” Ujar Mama.
“Nggak mau, masa tidur sama Pap–”
“Udah yuk, Ji, kita siapin kamarnya.” Mama tak peduli dengan rengekan Biru, lantas dengan segera menggandeng tangan Jingga dan membawa menantunya itu ke kamar tamu yang akan digunakan sebagai tempat pajamas party mereka.
“Ma, gak bisa gitu–” Biru berteriak frustasi. Namun, Jingga dan Mama mengabaikannya.
“Pa . . . .” Biru menatap Papa seolah meminta bantuan, namun lelaki paruh baya itu hanya mengangkat bahunya tak peduli.
Biru mendesah pasrah, sepertinya malam ini mau tak mau dia harus merelakan istrinya menjadi milik Mama.
********
Keesokan harinya, mereka sudah siap di meja makan untuk sarapan bersama. Suasana ruang makan itu tampak lebih hangat karena kehadiran Biru dan Jingga.
Semua orang dalam suasana hati yang baik, tak ada satu pun yang memasang wajah muram dari mereka. Terlebih Mama, dia sangat senang karena tadi malam menghabiskan waktu bersama Jingga, bersenang-senang hanya berdua.
Impiannya melakukan pesta piyama bersama anak perempuannya benar-benar terwujud. Beruntung dia tidak memiliki menantu yang kaku. Mama merasa dirinya dan Jingga memiliki kemiripan hingga selalu nyambung saat melakukan sesuatu bersama.
“Ohh, iya. Udah nyiapin nama buat anak kalian belum?” Tanya Mama di sela-sela makannya.
“Belum, Ma. Kami, kan, belum tahu jenis kelamin Dedeknya.” Sahut Biru seraya menyendok nasi gorengnya.
“Papa saranin kalian kasih dia nama Starla supaya dia bersinar seperti bintang.” Papa menimpali.
Biru nyaris tersedak dengan nasi goreng yang masih dikunyah di dalam mulutnya mendengar itu. Seandainya benar anaknya perempuan, tapi nama Starla terdengar mencolok baginya.
“Aku nggak setuju, Pa. Aku bilang kami belum tahu jenis kelamin Dedeknya cewek atau cowok.” Biru kembali menegaskan setelah dengan susah payah dia menelan nasi goreng ke kerongkongannya.
“Tapi firasat Papa mengatakan Jingga nanti akan melahirkan anak perempuan.” Seru Papa. Beliau lantas menambahkan kalau firasatnya itu sangat akurat seperti sebelumnya dia yakin tentang kehamilan Jingga.
“Dan untuk kamu, Ji. . . .” Kini Papa memusatkan perhatiannya pada Jingga.
“Kenapa, Pa?” Tanya Jingga menghentikan kegiatannya memakan smoothies. Gadis itu tadi kembali mual-mual dan ingin makan smoothies untuk sarapannya.
“Selama tinggal di sini, kalau bisa kamu jangan turun ke lantai utama. Kamu stay aja di kamar. Kalau kamu mau makan, nanti biar Bibi yang bawain ke atas. Terus juga kalau kamu mau ketemu sama Papa dan Mama, biar kami aja yang naik ke atas untuk menemui kamu. Sekarang yang harus kamu lakukan adalah menjaga kandungan kamu agar tetap sehat.”
Jingga menelan ludahnya, apa dia jadi Rapunzel sekarang?
“Jangan berlebihan, Pa. Jingga hamil bukannya lumpuh.” Protes Mama yang dirasa suaminya ini terlalu berlebihan.
“Iya, Pa. Lagian kandungan aku sehat, kok.” Timpal Jingga.
“Papa kamu nggak usah di dengerin, Ji. Kalau udah protektif kayak gitu, tuh. Berlebihan.” Ucap Mama yang hanya dibalas senyum dan anggukkan kecil oleh Jingga.
Sekarang Jingga tahu darimana Biru mendapatkan sifat seperti itu, semuanya diturunkan dari Papa Rendi.
“Bukan berlebihan. Papa cuma takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sama Jingga.” Bela Papa.
“Papa emang berlebihan, nggak usah didengerin.” Biru berbisik di telinga Jingga.
Jingga mendengus, bukankah kemarin laki-laki itu juga mengatakan hal yang sama dengan Papa? Dia lupa ingatan atau lupa diri?
“Makasih perhatiannya, Pa. Tapi Papa tenang aja. Aku pasti bisa jaga diri baik-baik, kok.” Ujar Jingga menenangkan.
********
Seharian ini Jingga menghabiskan waktunya bersama Mama. Wanita paruh baya itu sengaja tidak pergi ke butik dan memilih untuk bekerja dari rumah demi menemani menantu tersayangnya.
Mereka saat ini tengah duduk di ayunan yang ada di halaman belakang rumah sembari melihat album foto masa kecil Biru yang dibawa Mama dari kamarnya.
“Ini kak Biru, Ma? Kok kayak gini? Haha.” Jingga tertawa saat melihat foto Biru yang memakai dress jeans overall anak perempuan dengan rambut dikuncir.
Jingga baru tahu, ternyata waktu kecil Mama membiarkan rambut Biru sedikit panjang hingga foto-fotonya banyak memperlihatkan rambut Biru yang dicepol. Namun, itu masih terlihat stylish.
Tapi memang ada tujuan lain dari Mama Lisa memanjangkan rambut Biru, wanita paruh baya itu sengaja melakukannya agar dia bisa mendandani Biru seperti anak perempuan sesekali.
“Dulu Mama kadang dandanin dia kayak gitu karena Mama nggak punya anak cewek, Ji.” Mama memperhatikan foto Biru sambil tersenyum. “Waktu itu Mama pengin banget punya anak cewek.”
“Kenapa nggak kasih Kak Biru adik aja, Ma?” Tanya Jingga heran
Mama menghembuskan napas berat, lalu mulai bercerita tanpa mengalihkan pandangannya dari foto.
__ADS_1
“Maunya, sih, gitu. Tapi Mama nggak bisa punya anak lagi karena mengalami masalah kesuburan. Biru aja Mama dapatnya lewat inseminasi buatan, itu juga udah yang ke berapa kali baru berhasil.”
“Maaf, Ma. Aku nggak tahu.” Sesal Jingga merasa salah bertanya.
Mama menggeleg seraya mengalihkan pandangannya untuk menatap Jingga. “Makannya, Mama harap kamu dan Biru selalu sehat dan bisa ngasih Mama cucu yang banyak, Ji.”
“Mama doain kami selalu, ya.” Jingga menggenggam tangan Mama, menatap haru wanita baik hati di sampingnya.
“Pasti. . . .” Jawab Mama Lisa penuh ketulusan.
“Ohh, iya. aku boleh ambil satu foto ini, nggak?” Tanya Jingga menunjuk foto Biru yang didandani seperti perempuan. Dia akan menggunakan itu untuk meledek Biru, pasti menyenangkan sekali.
“Boleh. Tapi, jangan bilang-bilang sama Biru kalau Mama masih nyimpan banyak foto dia yang kayak gini.” Mama memperingati.
“Lho, kenapa?” Jingga menautkan alisnya heran.
“Kalau Biru tahu, dia bisa marah.” Jawab Mama sambil menahan tawanya. Jingga mengerti, pasti Biru kesal melihat fotonya yang seperti ini.
“Kebayang wajah keselnya dia kayak apa, sih.” Jingga ikut menahan tawanya.
“Soalnya Mama dulu bilang sama dia kalau Mama udah bakar semua foto-foto bancinya.” Terang Mama kemudian, lalu terkikik geli. “Nanti kalau Biru nanyain, bilang aja kamu nemu ini di gudang atau di mana aja lah kamu cari alasan lain.”
“Oke.” Jingga membentuk lingkaran dengan jari telunjuk dan ibu jarinya.
********
Malam harinya, Jingga duduk di atas tempat tidur sambil bersandar pada headboard ranjang setelah beberapa saat yang lalu dia menghabiskan makan malam bersama Mama dan Papa.
Biru belum pulang ke rumah karena dia harus mengambil barang-barang mereka di apartemen terlebih dahulu. Alhasil, makan malam tadi hanya bertiga, namun itu tak menyurutkan kehangatannya.
Jingga cekikikan saat melihat foto Biru yang sengaja dia selipkan pada buku kehamilan yang sedang dia baca. Lebih tepatnya, sejak tadi dia hanya membuka buku dan melihat foto Biru saja.
“Bukunya lucu ya, sampai ketawa-ketawa gitu?” Jingga terkejut dan segera menutup bukunya begitu Biru masuk ke kamar tanpa dia sadari.
“Eung. . . .” Jingga melipat bibirnya ke dalam, pipinya terasa panas dan memerah karena menahan tawa.
“Apa yang lucu, sih?” Biru hendak merampas buku dari tangan Jingga, tapi dengan cepat gadis itu menyembunyikannya di balik punggung.
“Jingga. . . .” Biru memicingkan matanya penuh curiga. Tangannya berusaha meraih buku itu dari balik punggung Jingga, namun Jingga tak membiarkannya.
“Nggak ada yang lucu, kok.” Seru Jingga yang masih berusaha menahan tawanya. Dia benar-benar ingin tertawa karena terus terbayang-bayang dengan wajah Biru yang seperti perempuan.
“Kalau nggak ada yang lucu, terus kenapa kamu ketawa? Aku yakin kamu nggak lagi gila.” Dumel Biru dengan wajah penasaran sembari mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.
“Yaa, lagi mau ketawa aja.” Sahut Jingga asal.
“Kamu pasti nyembunyiin sesuatu, kan?” Biru kembali menatap Jingga penuh curiga.
“Enggak.” Cicit Jingga menundukkan kepala untuk menghindari pandangannya dari wajah Biru agar tawanya tidak lepas. Duhh, pipinya semakin panas sekarang.
“Siniin nggak, bukunya. . . .” Biru hendak menyambar buku itu kembali, namun dengan cepat Jingga melindunginya.
“Nggak!” Jingga menggelengkan kepalanya.“Sana mandi, nggak ada yang lucu juga.” Lanjutnya mengalihkan pembicaraan.
“Ihh, aku udah mandi di apartemen, kok. Enak aja disuruh mandi lagi. Kecuali . . . .” Biru tersenyum menyeringai.
“Apa?” Jingga membanting bantal hingga mengenai bahu suaminya.
“Aku mau lihat bukunya, Ji, siniin. . . .” Biru kembali dirundung rasa penasaran. Dia lantas berusaha menyingkirkan tubuh Jingga agar bisa mengambil bukunya. Namun, Jingga malah tidur telentang dan menindih buku tersebut.
“Nggak bisa ambil. Wlee.” Jingga menjulurkan lidahnya meledek.
“Kalau kayak gini lebih gampang ambilnya.” Cibir Biru yang sejurus kemudian mendaratkan gelitikan kecil di pinggang Jingga hingga membuat gadis itu tergelak kencang saat merasakan geli di pinggangnya.
“Haha . . . , geli, Kak.” Protes Jingga yang tanpa sadar mengubah posisi tidurnya menjadi miring hingga membuat Biru dengan mudah mengambil buku yang disembunyikannya di balik punggung tadi.
“Ihh, curang.” Jingga buru-buru beranjak hendak merebut buku itu kembali, namun dengan segera Biru mengangkat tinggi-tinggi tangannya hingga Jingga tak bisa menjangkaunya.
Laki-laki itu lantas membuka buku seputar kehamilan tersebut untuk mencari tahu apa yang membuat istrinya tertawa dan tidak mau berbagi dengannya.
“Aku mau anak cewek yang cantik kayak kamu.” Jingga mengangkat dua jarinya membentuk tanda V begitu Biru menemukan foto di dalam bukunya.
“Aku baru tahu kalau kamu bisa secantik itu.” Jingga mulai meledeknya.
Biru hanya memasang wajah merengut sembari meremas foto itu geram. Dia tahu pasti Mama yang sudah memberikan foto itu pada Jingga. Ternyata Mama sudah membohonginya.
“Kak, coba, deh, pake baju aku sekarang. Aku sama Dedek mau lihat apa Papanya masih bisa secantik dulu.” Tawa Jingga hampir meledak saat membayangkan Biru memakai dress miliknya.
“Boleh. . . .” Biru tersenyum menyeringai, dia lalu melempar buku serta fotonya ke lantai. “Tapi bajunya yang ini.” Lantas mengulurkan tangannya untuk meraih kancing piyama yang Jingga kenakan.
“Ihh, mau ngapain?” Jingga berusaha menahan tangan Biru yang kini berhasil membuka satu kancing baju tidurnya.
“Aku harus buka baju kamu dulu biar bisa aku pake.”
********
To be continued . . . .
__ADS_1