
********
“Tidur, Ji, udah malem.” Titah Biru sambil mengusap lembut puncak kepala Jingga.
“Aku nggak bisa tidur.” Rengek Jingga menghentikan langkah Biru yang akan kembali ke tempat tidurnya.
“Mau aku tidurin?” Tanya Biru yang sontak membuat Jingga langsung melemparnya dengan bantal.
“Maksud aku, mau aku bantu kamu biar cepat tidur, gitu?” Buru-buru dia mengoreksi kalimatnya sesaat setelah dia berhasil menangkap bantal yang hampir mengenai wajahnya.
“Tahu, ahh. Males aku sama kamu.” Terlanjur kesal dengan pertanyaan awal yang teramat ambigu, Jingga lantas merebahkan diri dan menyelimuti seluruh tubuhnya hingga menutupi kepala.
“Jangan ngambek, dong, Ji. Aku cuma salah ngomong.” Biru duduk di tepi ranjang milik Jingga dan mengguncang tubuhnya agar keluar dari persembunyiannya di balik selimut.
“Udah tahu situasinya kayak gini, kamu ngomong aneh-aneh.” Suara Jingga teredam di balik selimut, dia hampir menangis di bawah sana.
“Iya-iya aku minta maaf.” Bujuk Biru.
“Udah sana pergi, aku mau tidur.”
“Katanya tadi nggak bisa tidur.”
“Terus, kalau aku nggak bisa tidur kenapa?” Tanya Jingga ketus. Biru tersenyum saat melihat gadis itu membuka selimut yang menutupi wajahnya.
“Aku bisa bisa bikin kamu ngantuk.” Sahut Biru yakin.
“Caranya?”
“Peluk kamu.”
Jingga mendengus dan menatap berang Biru. “Kamu mau modus itu mah.”
“Enggak. Janji, deh, habis kamu tidur aku langsung pindah ke kasur aku.” Biru berujar yakin sembari mengacungkan dua jarinya membentuk tanda V.
Jingga terdiam menatap Biru ragu. “Bener, ya, peluk doang sampe aku tidur?”
“Iya, Sayaaang.” Jawab Biru mencubit gemas dagu Jingga.
“Ya udah cepetan.” Cicit Jingga malu-malu sambil menggeser tubuhnya agar bisa memberi tempat untuk Biru.
Biru tersenyum, lalu merangkak naik ke atas tempat tidur dan berbaring miring di sebelah Jingga.
“Aku peluk, ya.” Biru menarik tubuh Jingga dan membawa ke dalam dekapannya.
Jingga mendongakkan kepalanya, menatap Biru waspada. “Awas, lho, kalau–”
“Iya peluk doang, udah sini cepetan tidur.” Biru dengan gemas menenggelamkan wajah Jingga di dadanya, mulai mengusap-usap punggung gadis itu.
“Tunggu. . . .” Jingga kembali mendongak.
“Apa lagi?” Tanya Biru gregetan.
“Kamu gini aja, nanti aku tidur.” Pinta Jingga seraya mengusap kepalanya menggunakan tangan Biru, meminta cowok itu untuk mengusap-usap kepalanya sampai dia tidur.
Biru mendesis sambil menatap gemas gadisnya itu. “Kamu berani bayar berapa nyuruh-nyuruh aku kayak gini?”
“Aku cium kamu sepuluh kali, deh.” Jawab Jingga enteng. Biru menatap dalam mata Jingga, mencari kebohongan di sana, siapa tahu saja gadis ini sedang menipunya.
“Serius. Aku nggak bohong.” Jingga meyakinkan.
“Oke. Awas kalau bohong.”
Jingga tak menjawabnya, dia memilih kembali menenggelamkan wajahnya di dada bidang Biru, menghirup dalam-dalam aroma tubuhnya, rasanya menyenangkan.
“Cukup usap-usap kepala aku, jangan usap yang lain.” Jingga memberi peringatan begitu merasakan Biru mulai membelai lembut kepalanya seolah dia adalah bayi yang akan ditidurkan.
Sentuhan tangan Biru di kepala Jingga terasa begitu menenangkan, seolah itu adalah metode relaksasi terbaik untuk tidur. Hingga akhirnya, perlahan belaian tangan Biru membuat mata gadis itu mulai memberat, lalu tertidur.
“Jingga . . . .” Panggil Biru memastikan saat dia mendengar hembusan napas teratur Jingga.
“Udah tidur, ya?” Gumam Biru saat tak mendapat jawaban. Tangannya masih belum berhenti mengelus kepala gadis itu.
Biru lantas tersenyum saat melihat Jingga yang tertidur dalam dekapannya. Seandainya hal ini bisa terjadi setiap hari. Hatinya berbunga-bunga membayangkan itu.
__ADS_1
Dengan gerakan perlahan dan hati-hati, Biru memindahkan tangan Jingga yang melingkar di tubuhnya agar tidak membangunkan gadis itu. Dia lalu memperbaiki selimutnya, sebelum kemudian turun dari tempat tidur untuk pindah ke tempat tidurnya sendiri.
Sejenak dia menatap wajah tidur Jingga yang meneduhkan hati, lalu membungkukkan tubuhnya, dan membenamkan ciuman di dahi Jingga cukup lama.
“I love you more and more. Sleep tight, my sweetheart. Good night.” Bisik Biru dan satu kecupan lagi dia daratkan di pipi Jingga.
Biru kemudian berjalan dan merebahkan diri di tempat tidurnya. Sebelum tidur, dia berdoa semoga dia bisa segera tidur dan terbangun di samping Jingga setiap hari.
********
Pagi hari, Jingga terbangun dari tidur lelapnya. Dia sedikit terkejut karena kamarnya tampak berbeda dengan kamar tempatnya menginap.
Sejenak Jingga terdiam dan memperhatikan keadaan sekitar. Ahh, dia teringat tadi malam hujan-hujanan dan terjebak bersama Biru di sini. Sepertinya dia tidur terlalu nyenyak, hingga melupakan kejadian semalam.
Jingga lalu menoleh ke arah tempat tidur Biru yang bersebelahan dengan tempat tidurnya. Dahinya berkerut dalam saat tak mendapati Biru di sana.
Lantas kepalanya bergerak lagi, melihat jam yang masih menunjukkan pukul setengah enam pagi. Kepalanya bertanya-tanya akan keberadaan Biru.
Jingga menjulurkan kakinya turun dari tempat tidur. Langkahnya yang akan menuju kamar mandi terhenti ketika melihat pintu kaca yang menghubungkan dengan balkon terbuka. Dia kemudian menyibakkan sedikit gordennya, terlihat Biru sedang berdiri di sana.
Jingga tersenyum senang mendapati Biru ada di sana. Perasaannya lega, dia lalu kembali melangkahkan kakinya menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya.
“Kak. . . .” Panggil Jingga sesaat setelah dia menghampiri Biru.
Biru yang mendengar suara lembut milik Jingga refleks langsung membalikan tubuhnya. Cowok itu tersenyum sebelum kemudian menyapa gadisnya.
“Morning.” Sapanya dengan lembut seraya mengulurkan tangannya, seolah memberi isyarat pada Jingga yang masih berdiri di ambang pintu balkon untuk mendekat padanya.
Begitu Jingga menghampirinya, tangan Biru kemudian terulur menarik pinggang Jingga, hingga gadis itu berdiri di depannya, kemudian Biru memeluknya dari belakang. Jingga jadi sedikit salah tingkah dibuatnya.
“Lagi ngapain di sini?” Tanya Jingga seraya mendongakkan kepalanya untuk dapat menjangkau wajah Biru.
“Nungguin pacar aku bangun.” Jawabnya sambil menyerukkan wajah di ceruk leher Jingga, menghirup aroma tubuh gadis itu dalam-dalam. Tubuh Jingga mendadak gelisah dibuatnya.
“Kenapa nggak bangunin aku?” Tanya Jingga sembari berusaha menjauhkan kepala Biru yang kini mengecupi leher dan rahangnya.
“Udah aku bangunin, kamunya aja yang tidur kayak kebo.” Jawab Biru meledek, membuat Jingga langung mencubit lengan Biru yang melingkar di pinggangnya.
“Haha. Aku becanda, mana ada kebo secantik kamu.” Ujar Biru kemudian, Jingga hanya mendengus geli.
“Hmm. . . .” Sahut Biru seraya meletakkan dagunya di kepala Jingga. Sesekali dikecupinya kepala gadis itu dengan sayang.
“Kita udah kayak orang lagi bulan madu, tahu, nggak?” Ujar Jingga seraya menyunggingkan senyumnya. Tatapan matanya lurus menatap langit yang mulai menjingga karena matahari mulai naik, hendak keluar dari peraduannya.
“Anggap aja ini latihan bulan madu.” Tutur Biru asal, sontak membuat Jingga tergelak kesal.
“Ada-ada aja kamu.”
“Lho, aku bener, kok. Kan sebentar lagi kita mau nikah.” Sahut Biru dan membalikan tubuh Jingga agar menghadap ke arahnya, tanpa melepaskan tangannya yang melingkar di sepanjang pinggang gadis itu.
“Kapan? Kamu aja belum ngelamar aku.” Cebik Jingga.
“Aku ngelamar kamu sekarang. Kamu mau, nggak, terima aku jadi suami kamu?”
Jingga menahan tawanya mendengar penuturan Biru yang lolos dari mulutnya dengan mudah, semudah membeli jajanan di minimarket.
“Jingga, apa kamu bersedia untuk selalu ada di sisi aku, meskipun kamu tahu itu nggak akan mudah?” Pertanyaan Biru terdengar sangat serius, membuat Jingga tertegun mendengarnya. Apa benar Biru sedang melamarnya? Kalau benar, ini membuatnya terharu.
“Apa aku harus bikin lamaran romantis di restoran mewah atau ngelakuin ini di depan orang banyak dengan sebuket bunga dan cincin, terus aku teriak bilang will you marry me?” Tanya Biru lagi, sedikit kesal melihat Jingga hanya terdiam menatapnya seolah tak percaya. “Aku serius, Ji.”
Jingga menggelengkan kepalanya dengan mata berkaca-kaca untuk kemudian dia berhambur memeluk Biru. “Enngak. Buat aku ini udah lebih romantis dari itu.”
“So, will you marry me?” Bisik Biru tepat di telinga Jingga.
“Kamu mau jawaban apa?” Jingga mengurai pelukannya, kini kepalanya terangkat untuk memandang wajah Biru.
“Yes, I will.” Jawab Biru penuh harap.
“Ya udah, kamu dapat jawabannya.” Sahut Jingga dengan yakin.
“Kamu serius?” Biru mencari keyakinan di mata Jingga yang sedikit basah.
Jingga mengangguk cepat tanpa kata-kata. Biru tersenyum senang melihat itu.
__ADS_1
“Makasih.” Ucap Biru penuh haru seraya membenamkan ciuman di kening Jingga, cukup lama. Ciuman yang terasa menenangkan, hingga membuat Jingga merasa jika dia adalah gadis yang paling beruntung karena telah dipertemukan dengan Biru.
“Tapi mana cincin aku?” Tanya Jingga sambil menengadahkan sebelah tangan sesaat setelah Biru mengakhiri ciumannya.
Biru merogoh saku bathrobenya, dia lalu mengeluarkan dan menunjukkan dua buah cincin pasangan di tangannya pada Jingga.
Cincin yang sudah dia siapkan sejak dulu dan selalu dia bawa di dalam dompetnya, akhirnya akan kembali ke tempatnya. Jari manisnya dan Jingga.
Mengerjapkan mata. Jingga seolah taak percaya dengan apa yang dilihatnya.
“Kak, aku cuma becanda. Ini kamu sengaja beli lagi?” Tanya Jingga merasa tak enak hati. Mengira Biru membeli cincin baru karena ucapannya waktu itu. Tidak. Jingga tidak sungguh-sungguh. Biru melamarnya seperti ini saja sudah lebih dari cukup untuknya.
“Enggak.” Biru menggeleng. “Aku emang udah nyiapin ini dari lama. Waktu kamu pergi dan ngembaliin cincin tunangan kita dulu, aku udah janji buat ganti itu dengan yang lebih baik kalau kamu pulang dan kembali sama aku.” Jelasnya sembari menyerahkan satu cincin pada Jingga.
“Kenapa nyiapin dari jauh-jauh hari? Gimana kalau aku nggak mau kembali sama kamu waktu itu?” Tanya Jingga kemudian.
“Aku selalu yakin kamu pasti kembali.” Biru meraih jari manis di tangan kiri Jingga, lalu menyematkan cincin dengan ukiran namanya di jari lentik gadis itu.
“Kamu terlalu percaya diri.”
“Sekarang giliran kamu.” Biru tak mengindahkan ucapan Jingga, dia lantas mengulurkan tangan kirinya agar Jingga melakukan hal yang sama, untuk kemudian mereka kembali berpelukan setelah itu.
“Mulai sekarang, aku berjanji, aku akan selalu menjaga kamu dan melakukan semua yang terbaik untuk kamu sebatas kemampuan aku sebagai laki-laki.” Ucap Biru dengan penuh keyakinan.
“Aku akan pegang janji kamu.” Jingga mengeratkan pelukannya.
“Tapi . . . .” Biru sedikit menjauhkan tubuhnya untuk memberi jarak agar bisa saling berpandangan, namun tanpa melepaskan pelukannya.
“Kenapa?” Tanya Jingga dengan sebelah alis terangkat.
“Kalau aja . . ., seandainya aku jadi dokter miskin, apa kamu masih mau untuk tetap ada di sisi aku?” Pertanyaan Biru yang terdengar konyol itu membuat Jingga kembali menahan tawanya.
“Nggak apa-apa. Walaupun kamu adalah dokter miskin, aku rela untuk ada di sisi kamu, asal kamu jangan sampai kasih aku makan rumput aja nantinya.” Jawab Jingga sedikit nyeleneh, membuat Biru gemas, lalu menggigit hidungnya.
“Ihh, Kakak.” Jingga merengek seraya memukul pelan punggung Biru.
“Kamu gemesin.” Tak mengindahkan Jingga yang protes, Biru kini malah menggigit pipi Jingga, hingga pipi gadis itu sedikit basah.
“Jorok, ihh.” Ucap Jingga kesal seraya mengusap pipinya yang sedikit basah itu. Sementara Biru hanya terkekeh geli melihat wajah kesal Jingga yang terlihat lebih menggemaskan di matanya.
“Aku harap kita bisa cepet-cepet punya banyak anak yang gemesin kayak kamu.” Ujar Biru kemudian, mengabaikan Jingga yang tengah menatapnya dengan tatapan kesal.
“Dasar gila. Itu terlalu cepat. Kamu baru aja ngelamar aku.” Dengus Jingga diiringi kekehan geli.
“Tiga anak cewek dan empat anak cowok, setuju?” Biru terus menggoda Jingga dengan membahas anak. Tapi, dia memang serius mengatakan jumlahnya.
“Sebanyak itu?” Tanya Jingga tak percaya. Biru lalu mengangguk penuh keyakinan.
“Dan kita bisa cicil itu mulai dari sekarang.” Dan tak butuh waktu lama, tanpa memberi aba-aba, Biru sudah membenamkan bibirnya di bibir Jingga, memberikan ciuman lembut dengan segenap rasa cinta yang mendalam, hingga akhirnya ciuman lembut tersebut berubah menjadi ciuman panas untuk kemudian tercipta suasana yang semakin intim.
Biru menggiring tubuh Jingga untuk masuk kembali ke dalam kamar, lalu merebahkan tubuh gadis itu dengan hati-hati di atas tempat tidur, tanpa melepaskan tautan bibir mereka.
Sejenak Biru melepaskan tautan bibir mereka, dia terdiam menatap lekat-lekat wajah cantik gadis yang kini sudah menjadi calon istrinya itu, untuk kemudian dengan suara berat dia mengatakan. “I love you more than you know, Jingga.”
Jingga tak menjawabnya, dia hanya terdiam menatap Biru sembari menyusuri seluruh lekuk wajah cowok itu dengan jari telunjuknya.
Dia sentuh keningnya, kedua alisnya, mata, hidung, terus turun hingga telunjuknya berhenti tepat di atas bibir kemerahan milik Biru. Jingga bahkan bisa merasakan hembusan napas panas Biru menyentuh jarinya.
Biru tersenyum seraya memindahkan tangan Jingga dari bibirnya. Dan bergantian, kini ibu jari Biru yang menyentuh lembut bibir Jingga.
Setelah itu, Biru kembali mencium bibir Jingga dengan penuh kelembutan. Tak ada penolakan dari gadis itu, Jingga bahkan melingkarkan tangannya di leher Biru, membuka mulut untuk membiarkan cowok itu mengeksplor rongga mulutnya, hingga hawa panas mulai menjalar di tubuh keduanya.
Mungkin karena tak ada penolakan dari Jingga, membuat Biru yang memang sudah kehilangan akal sehatnya kian kehilangan kendali, tangannya dengan nakal mulai bergerilya, merayap menyusuri lekuk tubuh Jingga yang masih tertutup bathrobe itu.
Ini gila. Baik Biru maupun Jingga, seperti tak ada yang ingin menghentikan kegiatannya. Sentuhan tangan Biru benar-benar berhasil menggoda Jingga, hingga gadis itu menerima dan menikmati semua perlakuan yang Biru berikan.
“Kak . . . .” Suara Jingga terdengar parau saat Biru memberikan hisapan dan giggitan kecil di lehernya yang terasa begitu menggoda. Seolah kehilangan akal sehat, dia malah mendongakkan kepala, membiarkan cowok itu dengan mudah menyusuri leher jenjangnya, hingga meninggalkan beberapa tanda kemerahan di sana.
Sampai saat di mana Biru mulai melepas ikatan tali bathrobe milik Jingga, suara ketukan pintu sejenak menghentikan kegiatannya.
Namun saat ketukan pintu sudah tak terdengar, Biru kembali mencium bibir Jingga dengan rakus, mengulum bibir atas dan bawahnya bergantian, tangannya semakin tak tinggal diam, mulai berani mengusik paha bagian dalam Jingga, dan terus merambat naik ke pusatnya, membuat gadis itu mengeluarkan ******* tertahan.
“Layanan guest laundry.” Dan ketukan pintu itu kembali terdengar diiringi dengan seruan seseorang di luar.
__ADS_1
********
To be continued . . . . .