
*********
Sore harinya, Jingga tiba di apartemen dengan beberapa kantong belanjaan dan sebuah kantong plastik kecil berisi alat tes kehamilan di tangannya. Niat untuk keluar membeli alat tes kehamilan di apotik tadi pagi, seketika terurungkan tatkala Mama Lisa tiba-tiba datang ke apartemen dan mengajaknya untuk jalan-jalan ke mall.
Alhasil, seharian ini Jingga menyusuri mall bersama ibu mertuanya. Namun, dia cukup senang karena Mama ternyata orang yang sangat asyik dan bisa diajak bertukar pendapat mengenai barang-barang yang hendak dibelinya tadi. Mama adalah ibu-ibu kekinian hingga Jingga tidak merasa bosan saat jalan bersamanya.
Dan yang lebih menyenangkannya lagi, ibu mertuanya itu membayar semua barang belanjaan miliknya. Katakanlah dia tak tahu malu, walaupun sedikit tak enak hati, tapi tetap saja ujung-ujungnya senang. Jingga tak ingin menyangkalnya.
Menyimpan semua kantong belanjaannya di samping sofa yang ada di kamar, Jingga segera masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya sekaligus ingin mencoba alat tes kehamilan yang tadi dibelinya di apotik selepas Mama mengantarnya pulang.
Hanya dengan menegenakan bathrobe dan handuk kering membungkus kepalanya, Jingga lantas membuka bungkusan plastik putih yang tadi dia bawa ke kamar mandi, lalu mengeluarkan isinya dari sana.
Tangannya lantas menggenggam tiga jenis test pack dari yang paling murah hingga mahal yang akan memastikan apakah malaikat kecil yang dia pikirkan sudah ada di dalam rahimnya saat ini.
Jingga kembali merasakan jantungnya berdegup hebat. Dia sangat berharap apa yang dipikirkannya memang ada di sana, bayi kecil tumbuh dengan baik di dalam rahimnya.
Seharusnya Jingga melakukannya di pagi hari saat buang air kecil pertama kali, karena katanya konsentrasi urine di pagi hari memiliki konsentrasi paling pekat dan mengandung hGC lebih tinggi daripada waktu lainnya agar tak mendapatkan hasil yang bias atau salah. Namun, Jingga sudah sangat penasaran. Dia tidak bisa menunggu sampai besok.
Mengambil sampel urine dalam wadah penampungan urine, lalu dengan tangan berkerigat dingin Jingga mulai mengunakan ketiga jenis test pack tersebut sesuai dengan cara yang direkomendasikan pada masing-masing kemasan.
Pertama dia meneteskan urine menggunakan pipet pada test pack stick. Lalu terakhir dia mencelupkan test pack strip dan digital secara bersamaan ke dalam wadah.
Gadis itu menunggu beberapa saat dengan harap-harap cemas, dia memejamkan matanya sambil merapalkan doa, berharap semua hasilnya positif.
Setelah beberapa menit berlalu, Jingga membuka matanya, kemudian dia melihat salah satu test pack menunjukkan dua garis merah.
Jantungnya semakin berdebar, namun dia masih belum ingin mengambil kesimpulan, lantas Jingga beralih pada test pack lainnya yang ternyata menampilkan tanda positif.
“Oh my God.” Jingga mulai terharu. Tangannya semakin gemetar, dia lalu beralih pada test pack digital.
“Pregnant 2-3.” Jingga membaca tulisan yang ditampilkan dalam layar kecil test pack digital tersebut. Itu berarti, dia tengah mengandung dan usia anaknya sudah sekitar dua hingga tiga minggu.
“This is real?” Jingga menatap layar kecil itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Jingga bisa merasakan kebahagiaan kini menyelimuti hatinya. Mungkin, jika dia sedang berada di dunia komik, dia sudah melayang tinggi ke angkasa saking bahagianya. Rasanya dia sudah tidak sabar untuk mengatakan ini pada suaminya, Biru. Jingga tidak ingin menyimpan kabar bahagia ini sendirian terlalu lama.
“Kamu bener-bener ada di sini, kan?” Gumamnya seraya mengelus lembut perutnya yang masih rata itu.
Ya ampun, Jingga tak menyangka jika sebentar lagi dirinya akan menjadi seorang ibu. Anaknya bersama Biru, sekarang ada di dalam perutnya.
“Ya ampun.” Jingga menekap mulutnya, matanya berbinar dengan perasaan campur aduk. Jingga masih tak menyangka malaikat kecil itu datang secepat ini. Jingga bersyukur, sangat bersyukur. Dia tidak tahu bagaimana lagi menggambarkan perasaan bahagianya saat ini.
Menyimpan kembali masing-masing alat tes kehamilan itu ke dalam kemasannya. Jingga lantas tersenyum di depan cermin saat mendapatkan ide yang cukup bagus untuk menyampaikan kabar bahagia ini pada suaminya nanti.
“He will be glad to hear that.” Jingga dengan perasaan bahagia yang membuncah di hatinya kemudian keluar dari kamar mandi untuk bersiap-siap.
********
Sekitar jam sembilan malam, Jingga mematut dirinya di depan cermin yang menyatu dengan meja rias untuk bersiap-siap menyambut kedatangan Biru.
Tadi sore, dia mendapat telepon dari suaminya yang mengatakan bahwa laki-laki itu akan pulang terlambat karena ada operasi besar yang lupa dia katakan tadi pagi padanya. Biru juga meminta maaf pada Jingga karena tidak bisa menemaninya makan malam.
Mendengar itu, Jingga justru senang karena secara tidak langsung Biru sudah memudahkan serta memberinya banyak waktu untuk menyiapkan kejutan yang akan Jingga berikan padanya.
Sebuah baju tidur model two piece sling berbahan sutra warna merah muda dengan motif stroberi menjadi pilihannya. Terlihat seksi dan cantik, meski gadis itu tidak mengoleskan sedikit make up pun pada wajahnya.
“Udah jam sembilan.” Serunya senang saat melihat jam digital yang tertempel di dinding kamar.
Jingga lantas buru-buru keluar dari kamar, bersiap-siap menunggu Biru di depan pintu apartemen dengan sebuah kejutan yang sudah dia siapkan di sana sejak tadi.
Jantungnya kembali berdebar. Jingga sangat gugup, segugup saat menunggu Biru menyelesaikan ijab kabulnya dulu. Semoga kejutannya tidak gagal.
Tak lama berselang, terdengar bunyi bip yang menandakan ada seseorang yang tengah membuka passcode pintu apartemen.
Sejurus kemudian, pintu apartemen terbuka dan wajah bengong sang suami menjadi pemandangan pertama yang Jingga lihat.
“Sayang, orang ganteng dat–” Biru menggantungkan kalimatnya begitu dia membuka pintu.
Niat hati ingin memberi kejutan pada sang istri dengan membawakannya sebuket bunga Calla lily sebanyak seratus tangkai, tapi malah dirinya sendiri yang dibuat terkejut.
Biru dibuat bingung dan terkejut sekaligus saat dia melihat sebuah balon berwarna orange mengapung tepat di depan wajahnya. Tidak, bukan hanya itu fokusnya. Balon itu terikat pada sepatu bayi yang diletakkan di atas selimut bayi, begitupula dengan tiga buah hasil test pack yang sama-sama diletakkan di sana.
“Hi, Daddy! I can’t wait to meet you. . . .” Biru bahkan membaca berulang-ulang tulisan pada kartu yang Jingga tempelkan pada tali balon. Tidak hanya tulisan saja, pada kartu tersebut juga tercetak gambar kaki dan tangan kecil seorang bayi. Sangat manis.
“Dad–dy?” Kali ini Biru mengalihkan perhatiannya pada Jingga dengan sorot mata berbinar, tatapannya meminta penjelasan.
“Why? You don’t think this is real, do you?” Jingga tahu, pasti Biru juga mengira ini adalah mimpi. Sama seperti pertama kali dia mengetahuinya saat di kamar mandi tadi.
“Tell me if this is real.” Senyumnya mengembang, perasaan bahagia dan haru seketika menyeruak di dalam hatinya. Namun, Biru tetap ingin Jingga meyakinkannya. Meyakinkan kalau apa yang dia ketahui saat ini bukanlah mimpi.
“You mean, you are gonna be a Mommy and I. . . .” Biru tak bisa melanjutkan kata-katanya. Perasaannya benar-benar campur aduk, antara terkejut, senang, dan excited.
“Yes! I’ts true. And you are going to be a Dad.” Sambar Jingga dengan senyum merekah, mengungkapkan perasaan bahagianya yang begitu besar.
Biru tidak tahu harus berkata apa lagi. Perasaan bahagia di hatinya terlalu besar hingga tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. “Ya ampun, Sayang.”
Maka, yang dia lakukan selanjutnya adalah segera berhambur memeluk sang istri. Entah mungkin karena terlalu bahagia, Biru tanpa sadar mengangkat tubuh Jingga, kemudian memutarnya.
__ADS_1
“Kak, Dedeknya.” Jingga mengingatkan.
“Aduh, maaf, Sayang.” Biru yang tersadar langsung menurunkan tubuh Jingga dan mengelus perutnya sebentar, lalu kembali memeluk tubuhnya dengan erat.
"Kamu seneng?" Tanya Jingga.
“Banget. Makasih kamu udah menjadikan aku seorang laki-laki, suami, dan sebentar lagi– seorang Ayah.” Ucap Biru penuh haru.
Laki-laki itu lantas menenggelamkan wajahnya dalam-dalam di bahu Jingga. Saking terharunya, Biru bahkan meneteskan air mata sekarang, hingga Jingga bisa merasakan baju di bagian bahunya sedikit basah.
“Lihat, Papa kamu nangis.” Ledek Jingga, membuat Biru mengangkat kepalanya, lalu membuat sedikit jarak antara dirinya dan Jingga.
“Jangan ngadu, dong.” Biru mencium ujung hidung Jingga dengan gemas hingga membuat gadis itu terkekeh geli.
“Ohh, iya. Kenapa kamu baru ngasih tahu aku sekarang?” Tanya Biru terdengar protes.
“Aku juga baru tahu tadi.” Sahut Jingga tanpa menyurutkan senyum di wajahnya.
“Terus, gimana caranya kamu bisa tahu?” Biru kembali bertanya.
“Ceritanya nanti aja. Sekarang, kamu mandi dulu, gih.” Ujar Jingga yang merasa tidak enak mengobrol sambil berdiri seperti ini.
“Oke, siap, Sayang.” Sekali lagi Biru mengecup ujung hidung Jingga.
“Ohh, iya. Ini bunganya buat siapa?” Tanya Jingga melihat buket bunga yang ada di tangan Biru.
Biru lantas melepaskan pelukannya, lalu memberikan buket bunga tersebut pada Jingga. “Buat kamu. Tadinya mau buat kejutan, ehh, malah aku yang terkejut.”
“Kali ini kamu kalah.” Jingga menerima buket bunga itu, lalu menghirup aromanya yang harum dan lembut.
Biru sendiri hanya berdecak gemas dengan ucapan istrinya barusan, lalu tanganya terulur mengusap lembut pipi Jingga.
“Makasih bunganya. Aku suka.” Ucap Jingga kembali mengalihkan pandangannya pada Biru dengan senyum yang merekah.
“Nggak gratis.” Sahut Biru seraya menunjuk pipi sebelah kanannya. Jingga mendengus kecil, kemudian berjinjit dan mencium pipi Biru sekilas.
“Satu lagi belum.” Biru menunjuk pipi sebelah kirinya.
“Enggak, ahh. Kan kamu belinya cuma satu buket aja.” Ujar Jingga.
“Ihh, curang.” Biru menjawil ujung hidung Jingga dengan gemas, tapi gadis itu hanya mengedikkan bahunya tak peduli.
“Kalau gitu, aku ambil aja bayarannya sendiri.” Dan satu kecupan singkat mendarat di bibir Jingga sebelum kemudian laki-laki itu berlari ke kamar.
“Hiish, yang curang siapa?” Jingga mendengus geli sembari memegang bibirnya. Sampai sekarang Jingga masih saja selalu dibuat terkejut dan berbunga-bunga saat Biru mencium bibirnya seperti ini.
********
Mereka saat ini tengah duduk santai di atas tempat tidur, bersandar pada headboard sambilmemandangi salah satu hasil test pack Jingga.
“Itu kata test pack. Aku mau periksa ke dokter buat mastiin.” Jingga lantas dengan manja menyandarkan kepalanya di dada bidang Biru sambil melingkarkan tangannya di sepanjang pinggang laki-laki itu.
“Besok kita periksa.” Biru mengecup puncak kepala Jingga. Gadis itu hanya mengangguk dan mengeratkan pelukannya.
“Aku udah jadi laki-laki sejati, ya, Ji?” Biru merasa bangga.
Jingga mendongakkan kepalanya diiringi kening merengut. “Emang selama ini kamu banci?”
“Ish, bukan gitu maksud aku.” Biru dengan gemas menarik hidung Jingga hingga memerah.
“Sakit. . . .” Rengeknya manja.
“Kamunya rese.” Dengus Biru, lantas dia meraih satu tangan Jingga dan mengarahkan untuk menyentuh pusat tubuhnya. “Maksud aku tuh, ternyata ini terbukti juga.”
“Ihh, mesum.” Jingga buru-buru menjauhkan tangannya saat menyentuh sesuatu di balik celana Biru yang menonjol. Rasanya aneh sekali saat menyentuhnya dalam keadaan sadar.
“Tapi suka, kan?” Biru tersenyum menggodanya. Sontak, hal itu membuat pipi Jingga merona merah.
“Ciee, malu-malu.” Ledek Biru saat melihat pipi istrinya bersemu.
“Kakak, ihh. . . .” Jingga merengut karena suaminya itu malah menggodanya.
“Nggak usah malu-malu gitu kali, Ji. Lagian udah sering pegang juga–aww.” Jingga yang merasa kesal langsung mendaratkan cubitan keras di perut Biru hingga membuatnya mengaduh kesakitan.
“Becanda, Ji.” Biru terkekeh di antara ringisannya seraya berusaha melepaskan tangan Jingga yang masih mencapit perutnya.
“Ngeselin tahu, nggak?” Dengus Jingga sembari memukul pelan dada Biru, lalu kembali menyandarkan kepalanya di sana. Biru sendiri hanya terkekeh.
“Ohh, iya. Ayo kasih tahu orang tua kita, mereka pasti seneng banget denger kabar ini.” Ujar Biru kemudian.
“Jangan sekarang, deh.” Jingga tak menyetujui, menahan tangan Biru yang hendak mengambil ponsel di atas meja nakas.
“Lho, kenapa?” Tanya Biru heran. Padahal, dia sudah tidak sabar ingin memberitahu orang tuanya, mereka sudah menunggu kabar baik ini sejak lama, terutama Papa.
“Nanti aja kalau kita udah periksa di rumah sakit. Aku mau mastiin dulu, Kak.” Terang Jingga. Biru sejenak terdiam, untuk kemudian menyetujuinya. Jingga benar, mereka harus membuat semuanya lebih jelas dulu.
Untuk beberapa saat, tak ada percakapan di antara Biru dan Jingga. Keduanya tenggelam dalam pikirannya masing-masing.
__ADS_1
Dengan senyum yang terus mengembang, mereka sama-sama berandai-andai, mulai membayangkan bagaimana rasanya dipanggil “Papa” dan “Mama”. Hanya memikirkannya saja sudah membuat mereka bahagia. Apalagi ditambah bayangan kegiatan yang akan dilakukan bersama anak mereka nanti.
“Ji. . . .” Panggil Biru tiba-tiba memecah keheningan di antara mereka.
“Hum?” Jingga mendongakkan kepalanya agar bisa menjangkau wajah Biru.
“Kamu mau sesuatu, nggak? Biasanya ibu hamil suka ngidam, kan? Bilang apa yang harus aku lakuin buat kamu?” Tanya Biru bertubi-tubi seraya mengelus-elus rambut Jingga yang halus, sesekali menciuminya.
“Sekarang aku belum mau apa-apa.” Jawab Jingga sambil menggeleng pelan. “Tapi, aku mau kamu ngelakuin sesuatu buat aku.”
“Anything for you. . . .” Biru menatap Jingga untuk menunggu gadis itu mengatakan apa yang harus dilakukannya.
“Kalau suatu saat aku kesel dan marah, tolong terima itu dan jangan memasukannya ke dalam hati. Tolong tenangin aku kalau itu terjadi. Karena yang aku denger, perempuan di awal kehamilannya akan lebih emosional.” Pinta Jingga seraya menatap wajah Biru dengan tatapan sendu. “Aku harap, kamu bisa lebih sabar menghadapi aku nanti.”
Rasa takut mulai menyelimuti hatinya. Jingga takut masa-masa kehamilannya ini akan menimbulkan pertengkaran di antara mereka. Karena sebelumya, dia membaca di artikel bahwa banyak suami yang tidak bisa mengontrol emosi saat menghadapi mood swing istrinya yang sedang hamil.
“Aku pastikan, aku nggak masalah dengan hal itu. Aku pasti akan berusaha buat ngertiin kamu. “ Biru kembali mendaratkan kecupan di puncak kepala Jingga.
“Makasih. Aku cuma takut, Kak.”
“Kamu jangan mikir aneh-aneh. Lagian kamu hamil kayak gini, kan, gara-gara aku juga. Jadi aku harus menerima segala konsekuensinya. Apapun perubahan yang terjadi sama kamu nanti, aku akan menerima semuanya.” Ujar Biru menenangkan.
Jingga tersenyum, lalu dengan cepat menyambar pipi Biru untuk dikecupnya. “Makasih.”
Biru mendengus geli. “Jangan bilang makasih, itu udah tugas aku sebagai suami kamu.” Lalu mencubit gemas dagu Jingga sekilas. “Tapi, aku juga minta kamu untuk ngelakuin satu hal.”
Alis Jingga bertaut penasaran. “Apa?”
“Setidaknya, selama dua atau tiga bulan ke depan, aku harap kamu di rumah dulu.”
Jingga mengerjap, senyumnya perlahan mulai menyurut mendengar penuturan Biru barusan.
“Kamu jangan salah paham.” Biru menahan tangan Jingga yang hendak melepaskan pelukan di pinggangnya.
“Aku cuma mau kondisi kamu stabil. Trimester pertama kehamilan nggak mudah, kan?” Karena yang Biru tahu, selama trimester pertama kehamilan, ibu hamil akan melalui berbagai perubahan besar. Dan itu pun sudah mulai terjadi pada istrinya.
“Awal kehamilan juga sangat rentan, aku nggak mau kamu kecapekan dan terjadi sesuatu sama kamu dan anak kita kalau kamu kerja. Apalagi ini pengalaman pertama kita, Ji.”
Jingga masih terdiam tak menanggapi. Gadis itu sepertinya sedang menimang-nimang ucapan Biru.
“Tiga bulan aja.” Biru harap Jingga mengerti. “Hum?” Lantas mengelus lembut perut Jingga yang masih rata itu.
“Ya–ya udah, deh. . . .” Jawab Jingga lesu dan tidak ikhlas setelah beberapa saat berpikir.
“Anak baik.” Biru tersenyum seraya mengacak-acak rambut Jingga gemas.
“Tapi pasti aku bakalan bosen.” Keluh Jingga.
“Aku akan cari cara biar kamu nggak bosen di rumah.” Seru Biru menenangkan.
“Bener, yaa?” Tanya Jingga memastikan. Biru mengangguk yakin.
“Awas lho, kalau bohong.” Jingga memperingati.
“Iya, Mama Jingga.” Jawab Biru gemas. Jingga mendengus geli, rasanya sedikit aneh dirinya dipanggil dengan sebutan Mama.
“Eung, kak–” Panggil Jingga terdengar ragu.
“Kenapa?” Sahut Biru sambil menautkan alisnya.
“Kamu nggak mau nyapa dia?” Jingga mulai bermain-main dengan kancing piyama yang Biru kenakan.
“Ya?” Biru mengerjap lugu, ingin memastikan pendengarannya tidak salah.
“Hem?” Rayu Jingga, tangannya mulai menyusup begitu dia berhasil membuka dua kancing piyama Biru.
“Emang nggak apa-apa?” Tanya Biru sembari menahan napas saat tangan Jingga meraba dan mengelus dadanya.
“Tapi aku mau. . . .” Cicit Jingga malu-malu, tangannya dengan nakal memainkan puncak dada Biru, hingga membuat tubuh suaminya itu meremang.
“Tapi aku denger dari Albi, awal kehamilan masih rentan kalau kita ngelakuin itu.” Biru menahan tangan Jingga agar berhenti bermain-main di dadanya. Bukannya dia tidak mau, Biru hanya berhati-hati.
“Emm. . ., katanya nggak apa-apa, asal pelan-pelan.” Dan ini Jingga baca di internet. Walaupun dia seorang dokter, tapi dia bukan spesialis kandungan. Jadi, Jingga juga tidak tahu kehamilan itu seperti apa pastinya.
Jingga terdiam menatap Biru penuh harap, menunggu persetujuan suaminya yang masih bergeming itu.
“Ish, ya udah kalau nggak mau nyapa, kamu sombong banget sama anak sendiri.” Dumel Jingga kesal, lalu melepaskan pelukannya, mengalihkan perhatian pada perutnya untuk mengelus perut rata itu.
“Emang aku ada bilang nggak mau?” Jingga menoleh ke arah Biru dengan wajah merengut lucu. “Ayo, dia harus kenalan sama Papanya.”
“Kakak. . . .” Pekik Jingga terkejut saat Biru merebahkan tubuhnya tanpa aba-aba. “Kamu mau ngapain?” Tanyanya saat melihat Biru sudah berada di atas tubuhnya saat ini.
Laki-laki itu mendengus kecil, bukannya tadi Jingga yang memintanya? Kenapa dia malah bertanya? Apa dia berubah pikiran?
“Mau nyapa Dedek bayi.” Biru dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka sebelum Jingga benar-benar berubah pikiran.
********
__ADS_1
To be continued . . . .