Still In Love

Still In Love
EP. 38. Tipsy


__ADS_3

********


“Kamu nggak akan bisa melepaskan aku, sebelum aku sendiri yang akan melepaskan kamu.” Biru mencekal tangan Jingga, suaranya terdengar menajam, begitupula dengan tatapannya.


“Kalau gitu aku sendiri yang akan melepaskan diri. Mulai sekarang aku akan mengakhiri semua perasaan ini dan melupakan kamu. Pergi sana, aku benci kamu.” Sahut Jingga seraya berusaha melepaskan cekalan tangan Biru, namun usahanya gagal. Cekalan tangan Biru terlalu kuat.


“Enggak. Aku yang berhak menentukan itu semua. Kamu nggak akan pernah bisa melepaskan diri kamu karena kamu cinta sama aku. Coba saja, kamu nggak akan pernah bisa.” Suara Biru masih terdengar tajam, rahangnya tampak mengeras. Tatapannya lurus menatap dalam mata Jingga yang mulai digenangi air mata.


“Iya. Aku emang cinta sama kamu bahkan sampai saat ini. Tapi itu bukan berarti aku mau sama kamu.” Balas Jingga penuh amarah.


“Nggak. Kamu nggak akan pernah bisa pergi dari aku. Aku nggak izinin.” Ujarnya dingin, tatapannya berubah marah.


“Izin?” Jinggan mendesis kesal. “Aku nggak butuh izin dari kamu untuk itu.”


“Aku bilang kamu nggak akan pernah bisa!” Bentak Biru.


Jingga membelalak. Dia benci Biru membentaknya seperti ini, sesuatu yang tak pernah cowok itu lakukan di masa lalu. Hatinya terluka, lagi.


“Untuk apa? Untuk apa kamu menahan aku sementara kamu sendiri nggak punya perasaan apapun sama aku? Atau setidaknya kamu bisa ngehargain perasaan aku, nggak sekalipun kamu pernah ngelakuin itu. Kamu jahat.” Suara Jingga mulai tercekat, dadanya terasa sesak seolah oksigen yang melingkupi rongga paru-parunya berkurang.


Dia merasa Biru tengah mempermainkan hatinya. Tapi kenapa? Apa salah Jingga sampai Biru melakukan hal seperti ini padanya?


“Jangan berpikir aku akan terus nunggu kamu, Kak. Kalau aku mau pergi, aku akan pergi, aku bisa melepaskan kamu kapanpun aku mau.” Jingga menarik napasnya dalam, berusaha menahan agar air mata yang sudah menggenang itu agar tidak jatuh.


“Nggak bisa, karena kamu milik aku. Cuma aku yang bisa menentukan kamu boleh pergi atau tidak.”


Jingga sejenak tercengang mendengar ucapan Biru. Bagaimana bisa dia mengklaim dirinya seperti itu?


“Aku nggak peduli kamu bilang apa. Lepasin aku.” Jingga beranjak dari duduknya setelah berhasil melepaskan diri dari cekalan tangan Biru. Namun cowok itu kembali menarik lengan Jingga dan membawa tubuh gadis itu ke dalam dekapannya dengan paksa.


“Aku nggak akan pernah melepaskan kamu.” Tegas Biru.


Jingga mencengkram erat baju yang dikenakan cowok itu. Jingga benar-benar kesal dan dibuat bingung dengan sikap Biru saat ini.


Biru ingin Jingga tetap berada di sisinya, tapi dia sendiri tidak memberinya kejelasan akan perasaannya. Ingin sekali Jingga memarahi, memaki, meneriaki, dan memukul cowok yang sedang mendekapnya saat ini. Biru benar-benar egois, dia seperti terus menarik dan melemparkan hati Jingga begitu saja.


“Sebenarnya apa mau kamu?” Jerit Jingga dalam hati seraya menepis air mata yang lolos di sudut matanya. Tampak guratan kesedihan yang mendalam di raut wajahnya.


“Pergi sana!” Pinta Jingga dengan suara lemah setelah berhasil menghempaskan tubuh Biru dan menjauhkan jarak darinya.


“Pintunya masih ada di sana, kalau-kalau kamu lupa.” Sambung Jingga sembari menunjuk ke arah pintu berada, dia kemudian berlalu cepat masuk ke dalam kamarnya.


Jingga menutup rapat pintu kamar, lalu menyandarkan tubuhnya di pintu itu. Dia menghela napas berat seraya memejamkan kedua matanya, berusaha menenangkan emosinya yang benar-benar sudah dibuat naik-turun oleh Biru.


Jingga memijat pelan pelipisnya. Kepalanya terasa berat, mungkin karena tubuhnya lelah. Pun dengan hatinya setelah berdebat dengan Biru yang sama sekali tidak ada ujungnya. Jingga ingin beristirahat dan tidur dengan nyenyak sekarang juga.


********


Jingga keluar dari kamar mandi hanya dengan handuk pendek berwarna putih yang membalut tubuhnya. Tidak khawatir dengan hal itu mengingat dia hanya tinggal sendirian di unit apartemennya.


Jingga berjalan menuju lemari untuk mengambil pakaian tidur yang belum sempat dia siapkan tadi. Tapi saat dia kembali menutup pintu lemari dan membalikkan tubuhnya, dia dikejutkan oleh sosok Biru yang kini tengah berselonjor santai dan menyandarkan tubuhnya pada headboard ranjang sembari melihat travel jurnal yang tadi dia berikan.


Saking terkejutnya, Jingga bahkan sampai menjatuhkan pakaian yang tadi didekapnya. Jingga menghela napas dalam, berusaha meredam emosi yang kini menyelimuti dirinya. Baru saja menenangkan hati dan pikirannya di bawah guyuran air shower. Kini Biru kembali membuatnya kesal dan marah sekaligus, kenapa bisa cowok itu masuk ke kamar orang sembarangan?


Jingga menatap Biru berang. Cowok itu terlihat sangat santai seolah menganggap kamar tersebut adalah miliknya.


“Kamu? Sejak kapan kamu di sini? Kan aku udah nyuruh kamu pulang.” Tanya Jingga geram, detak jantungnya berpacu dengan cepat dan wajahnya memerah, menandakan gadis itu benar-benar marah. Sementara yang ditanya, Biru hanya mendongakkan kepalanya dengan raut wajah yang teramat santai.


“Sejak kamu menyalakan shower mungkin. . . . .” Jawab Biru santai, lalu kembali fokus pada jurnalnya, membalikkan satu lembar halamannya.


“Dasar mesum.” Jingga mendelik kesal, lalu dengan cepat memunguti pakaiannya yang terjatuh tadi.


“Aku nggak ngintip, lagian dari tadi aku cuma duduk di sini sambil lihat-lihat ini.” Biru mengacungkan jurnal di tangannya pada Jingga. “Coba jelasin di mana letak mesumnya?” Ucapnya kemudian teramat santai.


Jingga menggeram, menggertakkan giginya, dan menatap Biru dengan wajah marah.


“Kamu mending cepetan pake baju. Soalnya aku nggak tahu berapa lama bisa bertahan untuk tetap duduk tenang kayak gini kalau kamu terus berdiri di depan aku dengan penampilan kayak gitu.” Sambung Biru mengedikkan dagu ke arah Jingga sambil tersenyum menyeringai.


Sorot matanya menatap Jingga lapar, menelusuri tubuh gadis itu yang hanya terbalut handuk hingga menampakkan lekuk tubuh proporsionalnya dengan jelas.


“Aiish, sialan.” Jingga yang tersadar langsung mengambil langkah besar menuju kamar mandi untuk memakai pakaiannya.


Setelah berhasil mengenakan pakaian tidurnya, Jingga keluar dari kamar mandi, lalu berjalan menghampiri Biru dan berdiri di tepi ranjang. Tampak cowok itu masih fokus melihat-lihat isi jurnalnya.


“Kenapa bisa masuk ke sini?” Tanya Jingga dengan kesal merampas kasar jurnal di tangan Biru hingga membuat cowok itu mengalihkan atensi padanya .


“Kamu nggak ngunci pintu kamarnya.” Jawab Biru santai, matanya mengikuti Jingga yang bergerak menyimpan jurnal tersebut di atas meja nakas.


Jingga menggeram tertahan seraya merutuki dirinya yang lupa mengunci pintu kamar. Bukan lupa, memang biasanya tidak dikunci. Dia hanya lupa kalau Biru bisa bersikap seenak jidatnya. Tapi dia juga tidak menyangka jika Biru bisa segila ini masuk ke kamarnya begitu saja.


“Ya udah pulang sana!” Usir Jingga frustrasi. Ini sudah malam, dia lelah ingin tidur. Rasanya Jingga sudah kehabisan tenaga untuk kembali berdebat dengan Biru.


“Nggak lihat di luar hujan?” Sahut Biru.

__ADS_1


Sekilas Jingga melihat gorden kamar yang bergerak tertiup angin setelah sebelumnya dia terkejut dengan suara petir yang menggelegar.


“Lagian ini udah malem.” Lanjut Biru sambil menguap. “Aku ngantuk.” Lalu dengan santai merebahkan tubuhnya di kasur.


Jingga menghembuskan napas frustrasi, geram sendiri dengan tingkah Biru.


“Ya aku nggak peduli. Sana cepetan pulang.” Jingga berusaha menarik tangan Biru agar bangkit dari tidurnya. Tapi bukannya tubuh Biru yang tertarik untuk bangun, malah tubuhnya yang kini terjungkal hingga terbaring di samping Biru karena tenaga laki-laki itu lebih besar untuk menariknya.


Mengetahui Jingga berusaha untuk bangun, lantas dengan cepat Biru melingkarkan tangannya di pinggang gadis itu, menariknya untuk lebih dekat, hingga tak ada jarak di antara tubuh keduanya.


“Kak, apa-apaan sih?” Protes Jingga kesal seraya berusaha untuk melepaskan belitan tangan Biru yang ada di pinggangnya.


“Diem atau aku akan cium kamu sepuluh kali.” Ancam Biru yang membuat Jingga terdiam.


Gadis itu waspada, takut-takut kejadian di ruangan Biru beberapa hari yang lalu terjadi lagi. Terlebih posisinya saat ini sangat tidak enak, hal tak terduga bisa saja terjadi. Biru sudah gila.


“Lepasin, Kak.” Rengek Jingga memelas, namun Biru malah mendekapnya lebih erat, menenggelamkan wajah gadis itu ke dada bidangnya.


“Just for a moment.” Ucap Biru seraya mengendus puncak kepala Jingga. Hembusan napasnya yang panas bisa Jingga rasakan menyentuh kepalanya.


“Aku udah ngantuk.” Jingga putus asa sambil terus berusaha memberontak dengan mendorong dada Biru, namun Biru tak megindahkannya.


“Ya udah tidur.” Sahut Biru santai sembari memejamkan matanya.


Jingga mendengus kesal. Biru selalu bersikap seenaknya sejak dulu. Seharusnya sikap ini yang hilang dari ingatnnya.


“Jangan gini, Kak . . . .” Jingga merasa tidak nyaman karena sekarang Biru malah sibuk menciumi puncak kepalanya.


“Kamu bisa, nggak, sih, buat nggak bersikap seenaknya kayak gini?” Kesal Jingga yang kini berhasil mengangkat wajahnya dan mentap marah cowok itu.


“Kamu marah?” Tanya Biru balas menatap Jingga.


Jingga mendelik, lalu memalingkan pandangannnya dari Biru. Cukup sudah rasanya dia mendengar Biru berbicara tanpa tau salahnya di mana.


“Aku minta maaf.” Ucap Biru seraya menarik dagu Jingga, membawa gadis itu untuk kembali mempertemukan pandangan mereka.


Gadis itu hanya bergeming dengan wajah muram.


“Maaf karena aku nggak seharusnya bantak-bentak kamu di depan orang lain.” Suara Biru terdengar seperti tengah menyesali sebuah kesalahan. Begitupula dengan raut wajahnya.


“Jii. . . .” Kali ini tangannya bergerak mengusap lembut pipi Jingga.


“Pasti kamu minta maaf cuma buat nenangin aku aja, kan?” Tanya Jingga sangsi. Pun dengan sorot matanya yang terselip keraguan.


“Pikiran kamu buruk banget, Ji.” Biru berdecak dan kembali mendekap gadis itu lebih erat. “Aku bener-bener minta maaf.” Sambungnya lirih sambil membenamkan ciuman di puncak kepala Jinggga.


Jujur Jingga ingin berontak. Tapi tubuhnya menolak itu. Jauh di lubuk hatinya, Jingga menikmati suasana ini. Rasanya hangat dan menyenangkan.


“Kenapa nggak dari kemarin-kemarin?” Protes Jingga tak kalah lirih.


“Kamu sendiri yang nggak angkat telepon dan terus menghindar dari aku waktu itu.” Sahut Biru. Jingga mengerjap, itu memang benar. “Dan selama tiga hari ini aku ada seminar di Singapura. Aku langsung ke sini dari Bandara.” Jelasnya kemudian. Jingga menerima alasan itu. Pantas saja dia tidak melihat cowok itu di rumah sakit beberapa hari ke belakang.


“Now will you forgive me?” Tanya Biru lagi sedikit menarik diri agar bisa menatap Jingga lekat-lekat.


“Aku nggak tahu. . . .” Jingga menghembuskan napas berat, dia melepas pandangannya dari Biru. Ada beberapa hal yang masih mengganjal di hatinya.


“I’m terribly sorry.” Suara Biru terdengar memelas. Dia menarik wajah gadis itu untuk kembali menatapnya.


“Apa aku boleh minta beberapa hal dari kamu?” Tanya Jingga dengan tatapan ragu. Biru hanya mengernyitkan alisnya, menunggu gadis itu melanjutkan ucapannya.


“Pertama. Aku mau kamu belajar untuk mencintai aku lagi. Pada akhirnya mungkin kita akan menikah, aku nggak mau dijadiin piala kebanggaan seperti yang kamu bilang. Aku nggak mau kalau pernikahan kita itu cuma mutualisme. Aku mau hubungan pernikahan kita nanti normal seperti pada umumnya.”


Biru terdiam untuk sementara, bola mata kelamnya menatap dalam mata Jingga yang penuh harap.


“Hmm. Aku akan berusaha.” Jawab Biru dengan ragu. Namun itu sedikit membuat hati Jingga lega. Jingga akan memberi kesempatan pada Biru untuk membuktikannya.


“Yang kedua. Tarik kata-kata kamu untuk jangan menuntut apapun dalam hubungan kita, karena kamu pun nggak mampu.” Jingga melanjutkan. Biru hanya membalasnya dengan anggukkan.


“Yang ketiga. Aku mau kamu jaga jarak dari Luna.” Kali ini gadis itu mengatakannya dengan suara tercekat, dadanya terasa sesak saat mengingat kedekatan Biru dan Luna.


Biru kembali terdiam sebentar, sebelum akhirnya kembali mengangguk ragu.


“Aku nggak mau berjuang sendirian. Kalau emang kamu nggak mau batalin perjodohan ini, tolong bantu aku.” Pinta Jingga kemudian, lalu berhambur memeluk tubuh Biru erat, menenggelamkan wajahnya di dada bidang cowok itu.


“Hmm. . . .” Sahut Biru kembali membenamkan ciuman di puncak kepala gadis itu cukup lama.


Terjadi keheningan selama beberapa saat. Keduanya tenggelam dalam perasaan masing-masing dengan posisi itu.


“Kalau gitu sekarang kamu pulang.” Jingga melepaskan pelukannya. “Hujannya udah berhenti.” Sambungnya kemudian sambil beranjak duduk.


“Kamu tega ngusir aku tengah malam begini?” Tanya Biru dengan tatapan penuh protes.


“ Ya udah kalau kamu mau nginep, tidur di ruang tengah.” Balas Jingga mengedikkan dagunya ke arah luar kamar.

__ADS_1


“Ada istilah tamu kalau tamu itu raja. Masa kamu ngebiarin tamu tidur di luar.” Tutur Biru, membuat emosi Jingga kembali lagi.


“Ya udah, kalau gitu aku yang tidur di ruang tengah. Kita nggak mungkin tidur berdua di sini, Kak.” Ucap Jingga dan siap untuk beranjak turun dari tempat tidur, tapi dengan cepat Biru menarik lengannya hingga kembali tertidur di kasur.


“Kita bisa, kok, tidur berdua. Lagian kita cuma tidur, dan nggak ngapa-ngapain.” Cowok itu kembali memeluk Jingga erat.


Jingga menghembuskan napas frustasi. Apakah dia akan berdebat dengan Biru sampai pagi?


“Ya udah, tapi lepasin dulu, aku nggak nyaman kita tidur kayak gini.” Pinta Jingga kesal.


“Tapi awas jangan coba-coba buat lari.” Biru memberi peringatan.


“Hmm.” Jawab Jingga malas.


Biru lantas melepaskan pelukan tangannya dari tubuh Jingga. Tapi matanya tak lepas mengawasi Jingga penuh waspada, membuat ancang-ancang, takut-takut gadis itu akan lari dari sana.


“Puas?” Tanya Jingga setelah dia memperbaiki posisi tidurnya, memilih berbaring di samping Biru dengan memunggunginya. Biru hanya menganggukan kepalanya puas.


Jingga menarik selimut, menaikannya hingga sebatas pundak, dan mulai memejamkan mata, tapi tidak lama mata itu terbuka lagi saat merasakan tangan Biru melingkar di perutnya.


“Kak. . .” Rengek Jingga protes.


“Diem, atau aku akan . . . .”


“Oke.” Sambar Jingga sebelum Biru mengeluarkan ancaman akan menciumnya sepuluh kali.


Biru menarik salah satu sudut bibirnya, puas karena berhasil membuat gadis itu diam tanpa protes lagi. Dia lalu menelusupkan wajahnya di tengkuk Jingga, hingga membuat gadis itu menghembuskan napas gelisah saat merasakan hembusan napasnya menggelitik di tengkuknya.


“Kak . . . .” Jingga tersentak, dia dapat merasakan Biru mulai menempelkan bibir di tengkuknya. Tapi dia kembali tak bisa melakukan perlawanan. Tubuhnya seolah lumpuh seketika, darahnya berdesir saat Biru mulai menciumi dan menelusuri tengkuknya. Matanya terpejam seolah terbuai dengan sentuhan itu.


Tangan Jingga meremas ujung selimut saat merasakan Biru menghisap kuat tengkuknya hingga menghasilkan tanda kemerahan di sana.


Tubuh Jingga semakin menegang tatkala tangan Biru ikut berulah dengan menyusup ke dalam perut dan mengusapnya dengan lembut. Dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat guna menahan agar lenguhannya tak keluar.


Jingga mengerjap, menyadari lama-kelamaan pergerakan tangan Biru melemah. Jingga melihat kini tangan itu terkulai di balik piyama yang dia kenakan. Selain itu, dia juga tidak merasakan Biru menciumi atau menghisap tengkuknya lagi. Hanya hembusan napas teratur yang Jingga rasakan di belakang sana.


Perlahan, Jingga mendongakkan kepala dan menatap Biru kini tengah tertidur dengan menenggelamkan wajah di tengkuknya.


Jingga tersenyum geli sekaligus lega melihatnya. Dengan gerakan perlahan, dia melepaskan tangan Biru yang melingkar di tubuhnya dan turun dari kasur. Tak lupa terlebih dahulu dia memastikan Biru benar-benar tertidur dengan cara melambaikan-lambaikan tangan di depan wajah cowok itu.


Jingga kemudian mengambil satu bantal dan selimut dari lemari, lalu beranjak keluar dari kamarnya dengan langkah berjinjit agar tidak menimbulkan suara berisik.


********


Jingga mendatangi unit apartemen Langit, tak lupa dia menekan bel hingga berulang kali layaknya kode darurat di rumah sakit.


“Ngapain, sih, Ji, malem-malem gini?” Langit menggerutu kesal dengan wajah ngantuknya.


“Lang, kamu tidur di kamar aku, ya.” Jingga memelas.


“Aku masih waras untuk nggak tidur sama kamu. Kamu pikir aku cowok apaan?” Langit masih dengan nada kesalnya.


“Ish. Aku bukan lagi ngajak kamu tidur bareng.” Jingga memukul pelan lengan Langit. “Di sana ada Kak Biru mau nginep, makannya aku suruh kamu temenin dia. Terus gantian aku tidur di kamar kamu gitu.”


Mata Langit yang mengantuk kini terbelalak mendengar Biru ada di kamar Jingga, tak perlu mengerjap-erjap lagi.


“Kalian?” Langit menatap Jingga penuh selidik. “Ngapain kamu ngajak Biru nginep di apartemen?”


“Nggak gitu, Lang. Aku nggak gapa-ngapain sama dia.” Seru Jingga mencegat Langit untuk berpikiran liar.


“Udah pokoknya gini. Kamu temenin Kak Biru tidur di kamar aku, dan aku mau tidur di kamar kamu.” Jingga dengan cepat menerobos tubuh Langit yang berdiri di ambang pintu dan masuk ke dalam, kemudian berjalan menuju kamar Langit.


“Kalian beneran nggak habis ngelakuin yang aneh-aneh, kan?” Tanya Langit masih tak percaya, dia mengekori Jingga untuk mengambil bantal dari kamarnya.


“Kalau aku mau macem-macem sama dia, aku nggak harus susah-susah ke sini dan pasti milih buat berduaan aja di sana.” Sambar Jingga sebal, lalu menghempaskan tubuhnya di kasur milik Langit.


Begini lebih baik. Jingga memilih pindah ke kamar Langit karena takut Biru terbangun dan melakukan hal yang lebih ekstrim dari yang tadi.


“Aku pergi.” Pamit Langit seraya menghembuskan napasnya kesal. Dia berjalan gontai keluar dari kamarnya.


“Hmm.” Jawab Jingga enggan membuka matanya yang sudah terpejam.


********


Langit merangkak naik ke atas kasur milik Jingga, meletakkan bantalnya, lalu merebahkan dirinya di samping Biru yang sudah tertidur pulas. Tak lupa Langit menendang kaki Biru yang menghabiskan lahan tidur sekeras-kerasnya. Dia menendangnya dengan sepenuh hati, karena Birulah yang menjadi penyebab tidur nyenyaknya terganggu. Tak peduli jika cowok itu adalah atasannya di rumah sakit, yang jelas saat ini Langit sangat kesal pada Biru.


“Kenapa dia bisa ada di sini?” Langit mengendus tubuh Biru, siapa tahu dia habis mabuk dan nyasar ke apartemen Jingga. Tapi Langit tak mencium bau alkohol di tubuhnya sama sekali.


Tak ingin memikirkannya lagi, Langit memilih untuk tidur, melanjutkan mimpi indahnya yang sempat terganggu.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2