
********
Orang tua Biru yang baru pulang dari Singapura tampak senang saat mendapati mobil Biru masih ada di halaman rumahnya. Itu berarti, anaknya belum kembali ke apartemen sejak tiga hari yang lalu mereka meninggalkan rumah.
“Tumben banget Biru betah di rumah.” Gumam Papa sedikit heran setelah beliau turun dari mobilnya.
“Mungkin betah karena nggak ada kita, kali, Pa.” Sahut Mama, mengingat anak-anak akan merasa bebas saat orang tuanya tidak ada di rumah. “Jadi nggak ada yang ngomelin.”
Papa yang mendengar itu hanya mendengus geli dan melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah.
“Bapak, Ibu.” Sambut Bi Imah, salah satu asisten rumah tangga di rumah mereka.
“Biru ada di rumah, kan, Bi?” Tanya Mama memastikan.
“Iya. Saya tadi dengar Den Biru datang, tapi kebetulan saya lagi di belakang.” Jawab Bi Imah.
“Dia pasti di kamarnya, Ma. Cepat panggil dia, Papa nggak sabar nunjukin kejutannya.”
“Kalau begitu, biar saya panggil Den Birunya, Pak.” Tawar Bi Imah dan siap melangkah pergi menuju kamar Biru. Tapi Mama menahannya, beliau mengatakan dia sendiri yang akan memanggil anaknya.
“Bi . . . .” Teriak Mama begitu membuka pintu kamar Biru. Namun dia tak mendapati anaknya ada di sana. Terlihat tempat tidurnyapun masih rapi. Tapi tidak tahu saja bahwa teriakannya itu sudah mengejutkan anaknya yang kini berada di balik rak lemari.
“Biruuuuu, Nak?” Teriaknya lagi untuk memastikan, siapa tahu saja anaknya itu ada di kamar mandi atau mengurung diri di ruang rahasia seperti biasanya. Tapi Mama tak bisa masuk ke ruangan rahasia milik Biru. Anak itu akan marah jika saja dia melakukannya.
Selama ini Mama penasaran, sebenarnya apa isi dan apa yang selalu Biru lakukan di dalam sana sampai-sampai tidak boleh ada satu orangpun selain Biru sendiri yang memasukinya. Anak itu bahkan selalu membersihkan kamarnya sendiri.
“Kenapa Mama ada di kamar aku?” Gumam Biru dengan suara rendah seraya mengintip Mama dari sedikit celah yang ada pada rak lemari.
“Itu berarti orang tua kamu udah pulang dari Singapur.” Sahut Jingga malas sambil ikut mengintip. Tampak Mama seperti kebingungan mencari keberadaan Biru.
“Iya, aku tahu. Tapi kenapa harus sekarang?” Balas Biru. Jika dilihat-lihat, mereka sudah seperti pencuri di rumah kosong, dan tiba-tiba pemilik rumah datang, hingga mereka akhirnya terjebak seperti ini.
“Mana aku tahu.” Jawab Jingga ketus.
“Ya udah, kamu biasa aja, dong, nggak usah jutek-jutek.” Komentar Biru yang mendapati wajah Jingga tertekuk masam.
“Siapa yang jutek?” Mata Jingga memicing tajam.
“Kamu tuh jutekin aku terus dari tadi.” Jawab Biru.
“Enggak.”
“Iya kamu jutek. Kamu kesel, kan, nggak jadi aku cium?” Sahut Biru menggoda dengan tatapan penuh ledekan.
“Ihh, enggak, enak aja.” Balas Jingga sedikit gugup.
Biru tersenyum dengan tatapan mencibir. “Cieee salting.”
“Issh.” Tak terima diledek seperti itu, Jingga memberi cubitan keras di pinggang Biru.
“Aaww . . . .” Karena serangan tiba-tiba, Biru jadi tak bisa mengontrol suaranya, dia memekik keras saat merasakan capitan panas menjalar di pinggangnya. Hal itu berhasil membuat Mama kembali memanggilnya karena mendengar teriakan sang anak.
“Bi, kamu di dalam?” Mama setengah berteriak di depan rak lemari penghubung ruangan rahasia itu.
“Gimana, nih?” Tanya Jingga panik saat melihat Tante Lisa sudah berada di depan rak lemari.
“Kita keluar bareng aja gimana?” Saran Biru.
“Mana bisa kayak gitu? Nanti Tante Lisa mikir apa lihat aku di kamar kamu?” Sahut Jingga merasa kesal.
“Ya nggak apa-apa. Mama pasti seneng, kok, lihat kamu di sini.” Ucapan Biru tersebut langsung mendapat tatapan galak dari Jingga.
“Cepetan keluar dan bawa aku pulang gimanapun caranya.” Perintah Jingga garang. Wajahnya sudah memerah antara kesal dan ingin menagis sekaligus.
Jingga tidak ingin Tante Lisa atau siapapun melihatnya ada di sana. Atau kemungkinan terburuknya, dia dan Biru akan dinikahkan saat ini juga jika sampai ketahuan. Jingga bergidik ngeri membayangkannya.
“Cepetan!” Titah Jingga lagi sembari memukul pelan lengan bahu Biru, geram karena melihat dia masih terdiam sambil mengamati Tante Lisa di luar sana.
“Iya-iya, kamu sabar, dong, Ji.” Jawab Biru menatap Jingga takut-takut. Tanpa banyak bicara lagi, Jingga kemudian beranjak untuk duduk di kasur lipat yang sudah tergelar di sana, lalu mengambil salah satu buku utuk dibaca.
“Kok masih di sini?” Tegur Jingga yang melihat Biru bergeming sambil memperhatikannya. Namun, bukannya segera keluar, Biru malah bergerak menghampirinya.
“Baik-baik di sini. Awas ada hantunya.” Biru sedikit membungkukkan badannya untuk mengusap-usap puncak kepala Jingga.
“Ish, apaan, sih.” Dengus Jingga sambil menepis tangan Biru dari kepalanya.
“Aku keluar sekarang.” Dan satu kecupan mendarat di pipinya. Biru segera beranjak keluar dari sana dengan senyum penuh kemenangan sebelum gadis itu melayangkan protes padanya.
“Sial, colongan.” Umpat Jingga kesal dengan tangan memegang pipi sebelah kanannya, tempat di mana cowok itu mendaratkan bibirnya tadi.
********
“Bi, ternyata kamu di dalam. Mama panggil dari tadi nggak nyahut-nyahut.” Oceh Mama sesaat setelah melihat Biru keluar dari tempat persembunyiannya.
“Maaf, Ma. Tadi aku ketiduran di sana.” Ujar Biru sambil tersenyum kaku. “Mama, kok, udah pulang?” Tanyanya kemudian, lalu bergerak duduk di sofa bench.
“Iya, Papa kamu, tuh, yang buru-buru mau pulang. Katanya, dia nggak bisa ninggalin kerjaan lama-lama.” Jawab Mama diiringi dengusan kecil, mengingat acara liburannya di Singapura harus diburu-buru.
“Tck, emang gitu, tuh, orang yang kurang piknik. Sekalinya piknik, nggak betah lama-lama.” Cibir Biru yang langsung mendapatkan pukulan ringan di pahanya dari Mama.
“Kamu tuh, ya. Nggak baik ngatain orang tua.” Mama tersenyum jengkel dibuatnya.
“Ihh, kan Mama yang mulai tadi. Lagian Papa emang nggak asyik di ajak liburan. Cari Papa baru aja, deh, Ma.” Celetuknya asal. Jelas saja, hal tersebut membuat Mama langsung memelototi dan mencubit pahanya dengan keras, hingga membuat anaknya itu mengaduh kesakitan.
“Dasar, ya. Nggak dapat warisan tahu rasa kamu.” Ucap Mama geram sekaligus gemas tanpa melepaskan cubitannya.
“Haha. Aww, ampun, Ma. Aku becanda doang.” Biru terkekeh sambil meringis menahan sakit.
“Lagian kamu ngomong ngasal banget. Kalau kedengaran Papa, bisa dipecat kamu jadi anaknya.” Omel Mama setelah melepaskan cubitan tangannya.
“Nggak bakalan bisa, lah. Kalian, kan, nggak punya anak lain.” Sahut Biru menantang.
“Ihh, siapa bilang? Kamu punya adik sekarang.” Balas Mama saat teringat sesuatu.
“Adik? Mana ada.” Cibir Biru tak percaya.
“Ada. Mama sama Papa bawain kamu adik.” Biru mencebik, masih menatap Mama tak percaya.
“Jangan becanda, deh, Ma. Aku udah 27 tahun. Kalaupun iya, aku nggak mau punya adik. Usia aku, tuh, udah waktunya punya anak.” Protesnya yang sedikit terpengaruh dengan ucapan Mama.
“Dihh, nyadar udah waktunya punya anak, tapi nggak nikah-nikah.” Cibir Mama, membuat Biru mendengus sebal.
“Makannya cepat nikah, Kak.” Timpal Papa yang tiba-tiba masuk ke kamar Biru.
“Kakak, Kakak apaan, sih, Pa?” Biru mendelik protes saat mendengar Papa memanggilnya dengan sebutan ‘kak’.
“Kan kamu sekarang punya adik.” Jawab Papa santai.
“Jadi Mama nggak becanda?” Tanya Biru memastikan, wajahnya mulai panik. “Ya ampun, Ma, cuma tiga hari kalian liburan di Singapur, pulang-pulang langsung hamil?”
Mama melipat bibirnya menahan tawa. Wajah panik anaknya benar-benar terlihat lucu.
“Ma, kok malah ketawa?” Tanya Biru kesal.
“Maksudnya ini, lho, Bi.” Sahut Mama sambil mengelus kepala anak kucing di pangkuan Papa.
Biru membelalakkan matanya lebar menyadari Papa membawa anak kucing ke kamarnya.
“Lucu, kan, Bi?” Papa mengacungkan dan menyodorkan anak kucing jenis anggora warna putih itu ke hadapan Biru.
“Pa? Papa ngapain bawa anak kucing ke kamar aku? Geli, Pa, kotor lagi.” Biru berucap heboh sambil menggeser duduknya sedikit menjauhi Papa.
Bukan Biru takut kucing, hanya saja dia tidak mau kucing itu mengotori kamarnya. Sebab, selama ini tak pernah ada binatang peliharaan apapun di rumah ini.
“Bukan sembarang kucing, Bi. Sekarang dia adik kamu. Ya, kan, manis?”
Biru menatap geli Papa yang berbicara sangat manis pada anak kucing itu. Dia sendiri bahkan tak pernah mendapat perlakuan seperti itu dari sang ayah.
“Papa mau melihara kucing? Sejak kapan Papa suka pelihara hewan?” Tanya Biru, masih dengan nada protes.
“Bukan memelihara. Papa adopsi dia jadi adik kamu.” Jawab Papa nyeleneh sambil menimang-nimang anak kucingnya dengan gemas.
“Papa nemuin dia di mana?” Tanya Biru penasaran, telunjuknya terulur menoyor kepala anak kucing itu takut-takut, tapi dengan segera dia tarik kembali saat anak kucing itu malah menggigitnya.
“Tadi di tengah jalan, hampir saja Pak Andri nabrak dia. Sebelumnya, Papa kira Pak Andri hampir nabrak orang. Pas papa keluar, ehh ternyata anak kucing. Dia lihatin papa terus, Bi. Kayak minta Papa bawa ke rumah gitu.” Terang Papa menceritakan awal mula dia bertemu anak kucing malang itu.
“Dia udah nipu Papa. Kucing itu suka pura-pura.” Tutur Biru sambil menatap garang anak kucing itu.
“Terserah kamu mau bilang apa.” Papa berucap tanpa mengalihkan atensinya dari kucing itu. “Mulai sekarang, kamu harus baik-baik sama dia.”
__ADS_1
Biru hanya mendengus sebal mendengarnya, lalu berucap malas. “Terserah Papa aja, deh.”
“Sekarang kamu mandiin dia, gih. Habis itu kasih makan, tadi Papa udah beli makanan kucingnya.” Papa menyerahkan anak kucing itu ke pangkuan Biru.
“Geli, Pa, aku nggak mau.” Biru berteriak heboh, tapi anak kucing itu malah anteng di pangkuannya.
“Papa nggak mau tahu. Kamu urusin dia.”
“Kenapa nggak Papa atau Mama aja?” Protes Biru menatap Mama dan Papa bergantian.
“Mama capek, Bi, mau istirahat. Lagian cuma mandiin sama ngasih makan apa susahnya?”
Mendengus sebal, Biru memelototi galak anak kucing itu. Bagaimana bisa seekor kucing bisa mengganggu posisinya di rumah ini?
“Aku nggak ma–” Ucapan Biru terhenti tatkala ponsel di saku celananya berbunyi. Tampak sebuah pesan masuk dari Jingga.
Biru mengerjap, hampir saja dia melupakan jika Jingga masih terjebak di ruangan rahasia.
“Turutin aja apa kata Om dan Tante. Cepetan bawa mereka keluar. Aku udah nggak tahan mau pipis.”
“Tapi cuma mandiin sama ngasih makan doang ya? Aku ada urusan habis ini.” Ujar Biru.
“Kamu mau ke mana?” Tanya Mama dengan satu alis terangkat.
“Rumah Jingga.” Jawab Biru sambil beranjak dari duduknya dan bergerak keluar kamar untuk memandikan kucing di bawah.
“Mereka bener-bener udah baikan, ya?” Tanya Papa penasaran, mengingat akhir-akhir ini mereka sering terlihat bersama.
“Mama harap, sih, begitu.” Sahut Mama, lalu beranjak menyusul Biru keluar.
********
“Kamu gimana, sih, katanya Mama sama Papa kamu pulangnya besok?” Jingga masih mendumel bahkan sudah hampir seperempat perjalanan pulang ke rumahnya. Dengan susah payah tadi dia dan Biru mengendap-endap untuk bisa keluar dari rumah Om Rendi dan Tante Lisa tanpa ketahuan orang rumah
Biru menghela napas dalam guna mencari kesabaran menghadapi Jingga yang terus mengoceh. “Ya maaf, aku juga nggak tahu mereka pulang mendadak.”
“Lagian kamu pake bawa-bawa aku ke kamar segala, udah aku bilang nggak mau malah maksa.” Jingga melemparkan punggungnya kesal pada sandaran kursi mobil. Wajahnya tertekuk masam, tapi tak mengurangi kadar kecantikannya di bawah remang-remang lampu kabin.
“Maaf, deh. Udah, dong, jangan ngambek gini.” Sebelah tangan Biru terulur menarik gemas pipi Jingga. “Jadi pengin aku cium tahu, nggak?”
Gadis itu hanya mendelik sambil menepis tangan Biru dari pipinya.
“Aku, tuh, cuma mau nunjukin dan buktiin sama kamu kalau aku udah suka sama kamu dari lama dan nggak pernah berubah.” Ujar Biru kemudian seraya melirik sekilas pada Jingga yang enggan menatapnya.
Biru lalu meraih tangan Jingga dan menggenggamnya. “Bahkan di saat ada cewek lain deketin aku, kamu tetap satu-satunya buat aku, Jingga. Aku cuma mau kamu tahu itu.”
Jingga mendengus, lalu mencibir dengan memajukan bibir bawahnya ke depan.
Biru yang melihatnya merasa gemas, tapi dia memilih kembali melanjutkan apa yang belum selesai diucapkannya. “Aku tahu, ini kedengerannya murahan. Tapi aku mau kamu tahu, kalau kamu adalah orang yang sangat berarti buat aku dari dulu sampai sekarang, dan seterusnya.”
Jingga masih memilih untuk diam mendengarkan kalimat Biru yang mendadak serius.
“And I just wanna tell you, that you are the only one for me no matter what other people say to me or to you. I love you.”
Jingga tertegun, ucapan manis dari mulut Biru selalu membuatnya terenyuh. Sebenarnya dia juga ingin mengatakan hal yang sama, tapi rasa kecewa untuk cowok itu masih menyelimuti hatinya.
“Kamu mau, kan, percaya sama aku lagi? Dengan sepenuh hati kamu, apa kamu mau kembali sama aku?” Tanya Biru penuh harap. Biru ingin Jingga bisa meluruhkan semua kekecewaan dan rasa sakit di hatinya dengan ikhlas.
“Siapa nama anak kucingnya?” Pengalihan pembicaraan tersebut memperjelas jika Jingga tidak ingin menjawab pertanyaan Biru dan membahas hal itu.
Jingga sudah mengatakan butuh waktu, bukan? Jingga memang menginginkan Biru, tapi dia tak cukup berbesar hati untuk melupakan semua kesalahannya secepat ini.
“Jingga.” Nada suara Biru terdengar mendesak. Dia ingin Jingga menjawabnya
“Let’s take it slow.” Jawab Jingga akhirnya. “Aku udah pernah bilang ini nggak mudah buat aku, aku butuh waktu, dan aku juga nggak ngelarang kamu boleh nyerah kalau nggak sang–”
“Aku bilang jangan pernah nyuruh aku untuk nyerah sama kamu.” Sela Biru berubah dingin. Jangan lupakan salah satu sifat buruknya adalah tidak sabaran. Biru ingin segera memiliki Jingga kembali, lalu menjaga hatinya dan mencintainya dengan semua yang dia miliki karena gadis itu sangat berarti untuknya.
Sudut bibir Jingga tersungging membentuk senyum sinis. “Kamu bilang mau berubah, kamu juga udah bilang nggak akan nuntut aku untuk itu dan akan nunggu aku selama apapun.”
Sejenak Biru terdiam, tak mendapat kalimat balasan atas penuturan Jingga. Dia lantas membawa tangan Jingga yang sejak tadi masih digenggem untuk dia tempelkan di bibirnya. “Maaf.”
“Sekali lagi, kasih aku waktu untuk meyakinkan hati aku.” Ucap Jingga dengan sorot mata berubah sendu.
“Tapi jangan terlalu lama.” Biru terdengar memelas.
“I might be going crazy.” Jawab Biru kemudian, membuat Jingga memutar bola matanya jengah.
Sejenak, tak ada percakapan lagi setelah itu. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Hanya terdengar hembusan napas berat yang terkadang mereka keluarkan.
“Namanya. . . . Reno.” Biru bersuara, memecah keheningan yang terjadi beberapa saat yang lalu.
“Reno?” Tanya Jingga dengan alis mengernyit tak mengerti.
“Kamu tadi nanya nama anak kucing itu, kan?” Jingga mengangguk-angguk mengerti setelah itu.
Jingga tersenyum geli, lalu berucap. “Namanya mirip Papa kamu. Rendi dan Reno.”
“Dan kucing itu mulai nyingkirin posisi aku sekarang.” Biru mendengus, mengingat Papa yang terlihat sangat menyayangi kucing itu meski baru pertama kali bertemu. Papa bahkan meminta Biru menganggapnya adik.
“Itu karena kucingnya lucu dan gemesin.” Ujar Jingga membela.
“Nggak sama sekali.” Sahut Biru jutek. “Aku bakalan buang. Dia bener-bener ganggu. Bulunya berantakan ke mana-mana.”
“Bilang aja kamu takut nggak jadi anak kesayangan lagi.” Cibir Jingga.
“Nggak juga.” Elak Biru mengedikkan bahu. Jingga tak menyahuti, dia hanya melemparkan tatapan penuh ledekan pada Biru.
********
Beberapa minggu berlalu, Jingga sudah mulai terbiasa menerima Biru kembali, walau dia masih irit bicara dan terkadang ketus, tapi setidaknya sekarang gadis itu tidak menolak untuk pergi dan pulang bersama Biru ke rumah sakit. Terkadang mereka juga menghabiskan waktu luang berdua di atap rumah sakit, atau sekedar menikmati camilan di kedai kopi.
Siang ini Jingga baru saja keluar dari ruang ICU, dia hendak kembali ke ruangannya menggunakan lift, namun diurungkan.
Dia berbalik arah menuju pintu yang menghubungkan dengan tangga darurat, dia memilih berjalan kaki karena sudah lama tidak berolahraga karena sibuk.
“Jingga.” Seseorang tiba-tiba memanggilnya saat dia baru sampai di lantai tiga. Jingga memutar tubuhnya, tampak Luna sedang berjalan menghampiri. Gadis itu menatap Luna dengan dahi mengernyit penuh tanya.
“Bisa kita bicara sebentar?” Tanya Luna. Jingga hanya mengangguk dengan wajah dinginnya.
“Ayo bicara di luar.” Ajak Luna.
“Aku nggak ada waktu untuk keluar sama kamu. Kalau mau ngomong, ya, ngomong aja di sini.” Sahut Jingga jutek.
“Oke. Kalo gitu aku langsung aja.”
Jingga mengangguk, mengisyaratkan Luna untuk mengatakan apa yang ingin dikatakannya.
“Tolong lepasin Biru.”
Jingga memutar bola matanya malas, bisa menebak apa yang akan gadis itu katakan.
“Kamu udah ninggalin dan mengabaikan dia. Kenapa sekarang kamu malah ngebiarin dia memohon untuk kembali sama kamu?” Ujar Luna.
“Aku nggak pernah minta dia untuk itu.” Sahut Jingga santai.
“Jangan terlalu serakah.” Seru Luna kemudian.
“Aku serakah?” Jingga tersenyum geli mendengarnya.
“Ya, kamu serakah.” Ucap Luna geram. “Kamu mengabaikan dia, tapi kamu juga nggak ngelepasin dia.”
“Apa kamu nggak merasa kalau kamu terlalu mencampuri kehidupan aku, Luna?” Sindir Jingga menusuk.
“Aku harus karena itu berhubungan sama Biru.” Balas Luna.
“Bahkan dia mengabaikan kamu sekarang. Kenapa masih nggak sadar juga?” Jingga menyunggingkan senyum sarkas. Jelas saja ucapannya itu membuat Luna emosi.
“Dan ini semua gara-gara kamu.” Tukas Luna.
Jingga menggeleng dengan senyum mencemooh. “Nggak. Itu karena Biru udah lihat dengan jelas seperti apa kamu sebenarnya.”
“Jangan sok tahu kamu.” Ucap Luna tak terima, rahangnya nampak mengetat.
“Aku udah bilang untuk jangan membiarkan obsesi kamu menghancurkan apa yang kamu punya saat ini.” Jingga mengingatkan, lalu tersenyum meledek. “Dan lihat sekarang? Kamu kehilangan teman kesayangan kamu, kan?”
“Kamu!” Luna menuding wajah Jingga dengan satu telunjuknya, garis rahang Luna semakin menegang, dia menatap Jingga dengan tatapan penuh amarah.
“Kenapa? Kata-kata aku waktu itu nggak salah, kan?” Tanya Jingga menantang sembari menepis kasar tangan Luna dari hadapan wajahnya.
__ADS_1
Ucapannya barusan semakin membuat Luna geram dan nyaris saja melayangkan tamparan. Namun, dengan cepat Jingga menepis dan mencengkram tangan gadis itu dengan erat.
“Aaakh.” Pekik Luna saat dengan gerakan cepat Jingga mendorong tubuhnya dan menyudutkannya pada dinding.
“Jangan menguji kesabaran aku.” Ucap Jingga geram, nyaris tak membuka mulutnya. Dia menatap tajam Luna penuh intimidasi, tangannya mencengkram lengan gadis itu semakin keras.
“Aku nggak akan membiarkan kamu dapetin Biru.” Luna masih berusaha berbicara meski tubuhnya sudah tersudut di dinding.
“Luna, aku akan ngasih tahu kamu satu hal lagi. Jangan pernah menginginkan sesuatu yang udah jadi milik orang lain.” Tutur Jingga tegas. Luna yang mendengarnya hanya tersenyum meremehkan.
“Apa kamu baru aja bilang kalau Biru milik kamu?”
“Yes, he’s mine.” Jawab Jingga penuh penekanan. “Karena dia cinta sama aku, begitu pun aku.”
“Jangan terlalu percaya diri, Jingga.” Semakin merasa geram, Luna lantas menarik rambut Jingga dengan sebelah tangannya yang bebas.
“Aww . . . .” Jingga memekik saat merasakan kulit kepalanya sakit. Rambutnya yang diikat ke atas memudahkan Luna untuk menarik seluruhnya.
Jingga berusaha melepaskan tangan Luna dari rambutnya, namun sepertinya Luna menggunakan seluruh tenaga hingga tangannya itu sulit terlepas.
Tapi beberapa saat kemudian, Luna melepaskan tangannya dari rambut Jingga dan memundurkan tubuhnya hingga menempel kembali pada dinding seperti tadi.
“Kamu, berani-beraninya.” Jingga melayangkan tatapan tajam pada Luna.
Luna menundukkan kepala dan memegang sebelah pipinya seolah ketakutan. Jingga yang melihat tingkah Luna yang berubah aneh mengernyit bingung.
“Aku minta maaf, Jingga.” Kening Jingga semakin terlipat dalam.
“Kamu ngomong apa, sih, aneh banget?”
“Aku janji nggak akan deketin Biru lagi. Jadi tolong berhenti nampar aku.” Pinta Luna memohon.
Jingga melongo, matanya mengerjap, semakin bingung dengan ucapan Luna. “Kamu udah gila, ya?”
“Kalian lagi ngapain?” Suara bariton menggema dari arah bawah.
“Bi . . . .” Ucap Luna lirih saat melihat Biru yang berjalan menghampiri mereka.
“Jingga, kamu lagi ngapain?” Tanya Biru, tatapannya menyelidik posisi Jingga yang terlihat sedang mengintimidasi Luna.
“Aku nggak lagi ngapa-ngapain.” Jawab Jingga seraya memundurkan tubuhnya, wajahnya merengut sebal, tidak suka dengan cara Biru melihatnya.
“Jingga tadi peringatin aku buat jangan deket-deket sama kamu, Bi. Padahal, jelas-jelas dia tahu kalau kamu udah jaga jarak dari aku belakangan ini.” Luna mengatakan itu seperti orang yang tersakiti.
“Tck, playing victim.” Gerutu Jingga dalam hati sambil melemparkan tatapan tajam ke arah gadis itu.
”Tapi kayaknya Jingga masih terganggu sama kehadiran aku.” Lanjut Luna.
Jingga membelalak dengan mulut sedikit menganga, tak habis pikir Luna bisa berbicara seperti itu. Dasar cewek ular.
“Itu nggak bener.” Jingga menatap Biru untuk membela diri.
“Jingga bahkan nampar aku.” Adu Luna berbohong, dia bahkan memasang raut wajah sedih dan ketakutan melihat Jingga.
“Jingga, apa itu bener?” Biru menatap Jingga dengan tatapan penuh selidik.
Jingga mendelik, tatapannya berubah kecewa. “Kamu mau percaya apa yang dia bilang? Silahkan, aku udah biasa.”
Menggeleng tak percaya, gadis itu lantas pergi dengan perasaan kecewa.
“Jingga.” Biru meneriakinya, namun tak dihiraukan.
Senyum licik sedikit tersungging dari wajah Luna melihat itu, senang rencana tak terduganya berhasil. Kedatangan tiba-tiba Biru yang lebih dulu terlihat oleh Luna membuatnya bisa melakukan hal licik ini dengan berpura-pura seolah Jingga sedang mengintimidasinya.
“Bener Jingga udah nampar kamu?” Tanya Biru memastikan, tatapannya tak terbaca. Luna hanya mengangguk. “Dia bilang sama kamu jangan deketin aku?”
Luna kembali mengangguk, lalu berucap lemah. “Tadi dia tiba-tiba marah dan minta aku kayak gitu.”
“Kalau gitu, lakukan!”
Luna membelalak dengan tatapan tak percaya.
“A-apa maksud kamu, Bi?” Tanyanya terdengar kecewa.
“Aku pernah memperingatkan kamu, kan, untuk jangan ngelakuin hal murahan kayak gini lagi?” Penuturan Biru membuat Luna kembali terkesiap, dia menggeleng.
“Atau kamu akan mendapatkan konsekuensinya.” Ancam Biru kemudian dengan tatapan tajam, dia lalu pergi meninggalkan Luna yang masih terdiam dengan wajah memucat.
“Apa Biru lihat semuanya tadi?” Gumam Luna yang mendapati respon Biru di luar dugaannya.
********
Hari menjelang malam. Jingga sudah bersiap-siap untuk pulang, dia juga sudah meminta sopir menjemputnya karena tidak mungkin pulang bersama Biru.
“Dia emang udah nggak bisa diharapkan.” Gumam Jingga tersenyum miris, mengingat Biru seolah menyudutkannya tadi.
“Dokter Jingga.”
Jingga yang baru sampai di ambang pintu menghentikan langkahnya.
“Kenapa, Han?” Tanya Jingga malas.
“Tadi aku ketemu Prof. Biru di UGD, dia minta kamu untuk ke ruangannya sekarang.” Terang Hana.
Jingga terdiam dengan kepala menerka-nerka. Jingga tebak pasti cowok itu akan menegurnya seperti biasa dulu dia lakukan.
“Mau ngapain?” Tanya Jingga ketus.
Hana mengerjap dengan kening merengut. Heran dengan sikap Jingga yang mendadak ketus. Tapi dia juga tak berani berkomentar.
“Katanya itu ada hubungannya sama pekerjaan.” Jawab Hana hati-hati.
Jingga mendengus, lalu mengangguk. “Ohh, oke. Aku ke sana.”
Hana hanya membalasnya dengan anggukkan dan melihat Jingga melenggang pergi hingga hilang dari pandangannya.
Sesampainya di ruangan Biru, Jingga melihat cowok itu berjalan menghampirinya sambil tersenyum hangat.
“Kok dikunci?” Tanya Jingga menatap waspada saat Biru berjalan melewatinya dan malah mengunci pintu serta menutup tirai dari pintu kaca tersebut.
“Biar nggak ada orang yang masuk.” Jawab Biru santai.
“Emang kita mau ngapain?” Tanya Jingga ketus.
“Yaa, nggak ngapa-ngapain. Aku cuma nggak mau ada orang ganggu kita berduaan.”
Jingga hanya terdiam menatap kesal cowok di hadapannya itu.
“Ayo. Aku mau ngomong sama kamu.” Tangan Biru terulur meraih pundak Jingga dan menuntunnya untuk duduk di atas meja kerja, sementara dia sendiri duduk di kursinya.
“Udah cepetan mau ngomong apa? Aku mau pulang.”
“Kamu marah, hem?” Tanya Biru menggenggam tangan Jingga seraya menatap wajah gadis itu dengan tatapan lembut. Tapi dengan cepat Jingga memalingkan wajahnya.
“Aku lihat semuanya, Ji.” Lanjut Biru kemudian yang berhasil membuat Jingga kembali melihat ke arahnya.
“Tapi kamu nggak belain aku.” Protesnya.
“Aku cuma ngerjain Luna aja. Biar dramanya seru gitu, Ji.” Jawab Biru enteng.
“Ngeselin tahu, nggak?” Jingga memukul pelan pundak Biru. Cowok itu terkekeh kecil, lalu kembali meraih tangan Jingga untuk digenggamnya.
“Maaafin aku.” Biru mengelus punggung tangan Jingga menggunakan ibu jarinya. Sementara Jingga hanya merengut sambil mengerucutkan bibirnya lucu.
“Dimaafin nggak?” Tanyanya lagi sambil mencolek gemas dagu Jingga.
“Hmm.” Sahut Jingga malas, suasana hatinya terlanjur rusak meski sudah tahu yang sebenarnya.
Biru mendengus. Untuk beberapa alasan keduanya terdiam saling memandang sebelum kemudan Biru mengakhiri keheningan yang terjadi.
“Eung, Ji . . . .”
“Apa?” Sahut Jingga masih dengan nada ketus.
“Aku mau . . . .”
********
To be continued . . . . .
__ADS_1