
********
Setelah keseluruhan acara akad nikah yang berlangsung selama lebih dari tiga jam itu berakhir. Kini Biru dan teman-temannya tengah mengobrol santai di sebuah lounge yang ada di hotel tersebut, sementara Jingga sudah kembali ke kamar hotelnya untuk beristirahat sejenak serta mempersiapkan diri untuk acara resepsi yang akan dilangsungkan malam nanti.
“Hadiah. . . .” Albi menyerahkan sebuah amplop pada Biru.
“Lo ngasih uang sama gue? Nggak usah, deh, makasih.” Tolak Biru seraya meneguk minumannya untuk melegakan tenggorokannya yang kering.
“Terima aja, siapa tahu lo butuh.” Desak Albi, membuat Biru mau tak mau menerima amplop itu.
“Pasti isinya aneh-aneh, kan?” Biru menatap Albi penuh curiga. Dia kemudian merobek sedikit amplop yang tertutup rapat itu. Dan benar saja, salah besar dia sempat berpikir temannya itu akan memberikan hadiah yang benar.
“Sialan, lo pake aja sendiri sana.” Albi hanya terkekeh saat Biru melemparkan kembali amplop darinya yang berisi alat kontrasepsi.
“Haha, kali aja lo butuh gitu, biar nggak kebobolan. Kalau udah hamil, kan nggak bisa puas ngelakuinnya.” Ujar Albi dengan tampang konyol.
“Ya elah, Al. Nggak terlalu ngaruh tuh permen karet, buktinya permen karet durex si Bisma bocor, dan sekarang udah gede aja tuh benih yang lolos.” Timpal Bian kemudian diiringi gelak tawa setelahnya.
“Kampret, kok bawa-bawa gue?” Kesal Bisma sambil menoyor kepala Bian yang duduk di sebelahnya.
“Punya lo bekas kali, ya, Bis, makannya bocor kayak gitu?” Ledek Albi yang dibalas gelak tawa semakin keras oleh teman-temannya. Biru sendiri hanya geleng-geleng kepala mendengar itu.
“Biru sama Jingga udah ngerencanain cepet punya anak. Jadi salah lo ngasih permen karet.” Ucap Langit seraya meraih amplop berisi alat kontrasepsi itu dan memperhatikannya. “Lagian pake ini mana enak.”
Langit bergidik, lalu kembali melempar amplop tersebut. “Nih, Bi. Gue lebih pengertian sebagai teman. Pake ini nanti malem, biar lancar.”
“Nggak! Gue nggak mau nerima hadiah apapun dari kalian. Isinya pasti gak beres semua.” Tolak Biru cepat. Memandang acuh kotak hadiah kecil warna hitam berbentuk persegi panjang dengan hiasan pita merah yang Langit berikan.
“Ya elah, nethink mulu lo. Lihat aja dulu, hadiah gue lebih berguna dari punya nih bidan.” Sahut Langit menoyor kepala Albi. Cowok manis langsung mendelik sebal.
“Kampret lo Dokter Lolita.” Albi tak mau kalah balas mencibir.
“Pfft, Lolita, dong.” Timpal Bian menahan tawa.
“Diem lo kang jagal.” Balas Langit menatap sebal Bian.
Bisma dan Biru menyunggingkan senyum geli melihat ketiga temannya itu saling melempar cibiran menggunakan profesi mereka.
“Buka cepetan.” Langit kembali beralih pada Biru.
Biru sendiri menatap ragu kotak hadiah milik Langit. Dia tahu isinya pasti tidak beres, tapi rasa penasaran membuatnya terdorong untuk mengambil dan melihat isi dari kotak tersebut.
Namun, sejurus kemudian Biru melihat Langit nyengir lebar dengan wajah menyebalkan begitu dia berhasil membuka kotak itu.
“Langit sialan.” Biru menggeram kesal, kemudian melempar tube pelumas yang terdapat di dalam kotak hadiah dari Langit. Semua orang tergelak mengetahui itu.
“Gue baca di internet, katanya itu bisa menambah kenyamanan dan sensasi baru.” Langit sepertinya puas sekali menggoda Biru dengan itu. Tak peduli dengan tatapan tajam yang dilayangkan Biru padanya saat ini.
“Sensasi, sensasi. Pake aja nih pelumas buat kalian yang suka main tangan.” Biru melemparkan tube pelumas itu ke arah Bian yang kini sedang tergelak kencang.
“Ciee dia ngeledekin kita, mentang-mentang sekarang udah punya temen main.” Ledek Albi yang disambut gelak tawa Bian, Bisma, dan Langit. Sementara Biru yang melihatnya, ingin sekali menyumpali mereka dengan permen karet durex yang tadi diberikan Albi padanya.
“Sial banget gue punya temen kayak kalian. Udah, lah, gue duluan. Rusak otak gue lama-lama di sini.” Biru beranjak dari duduknya, dia benar-benar tak tahan dengan teman-temannya yang terus meledeknya seperti ini. Menyebalkan sekali.
“Lo mau ke mana. Bi? Ini hadiah dari gue sama Bisma belum lo buka.” Tanya Bian dengan masih menahan tawanya.
“Terserah, gue nggak butuh.” Sahut Biru ketus untuk kemudian berlalu dari hadapan teman-temannya.
“Jangan unboxing dulu, Bi, masih siang. Tahan-tahanin aja tuh si Biru nomor dua.” Ucap Bisma setengah berteriak. Biru tak mengindahkannya, dia memilih mempercepat langkahnya agar bisa terhindar dengan teman-teman yang menurutnya sangat sialan itu.
********
“Ciee, yang udah sah.” Goda Senja mendudukkan dirinya di samping Jingga yang sedang menikmati makan siangnya di meja makan kamar hotel mereka. Gadis itu terlihat sudah mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih santai.
“Ihh, apaan, sih, Kak?” Cicit Jingga malu-malu, lalu kembali memasukkan sesendok penuh nasi ke dalam mulutnya. Jingga benar-benar sangat lapar seusai acara akad nikah tadi.
Senja mencebikkan bibirnya, lalu kepalanya celingukkan memperhatikan sekitar, untuk kemudian merapatkan duduknya pada Jingga dan berbisik. “Hadiah dari Kakak jangan lupa kamu pake nanti malem.”
Jingga menoleh dengan kening mengernyit. “Hadiah yang mana?”
“Itu lho, lingerie yang warna merah. Pakenya yang merah dulu.” Senja mengerling nakal. “Biar Biru klepek-klepek sama kamu.”
Jingga mengerjap untuk mengingat-ingat, lalu mulutnya membulat. Kemarin Senja memberinya beberapa gaun malam yang seksi.
__ADS_1
“Tapi aku yakin Kak Biru lebih suka kalau aku nggak pake apa-apa.” Balas Jingga berbisik, lalu terkikik geli. Senja memukul pelan lengan bahu adik iparnya itu gemas.
“Itu mah jelas. Tapi kamu pake aja biar sensasinya tambah panas.” Ujar Senja.
Dengan wajah polos Jingga mengangguk sambil membuat tanda oke menggunakan ibu jari dan telunjuknya.
“Tapi pertama kali sakit nggak?” Tanya Jingga penasaran.
Senja mengulum senyum, terdiam sebentar mengingat-ingat sebelum kemudian menjawab. “Banget.”
Jingga meringis, tanpa sadar merapatkan kedua kakinya erat. “Aku takut, Kak.”
“Nggak usah khawatir, lama-lama enak, kok.” Sahut Senja nyeleneh, lalu mengelus perut buncitnya. “Nih, akibat ketagihan.”
Keduanya lantas cekikikan, membuat Bintang yang tak sengaja mendengar itu langsung menghampiri.
“Ngomongin apaan, sih, kalian, kok bisik-bisik gitu aku denger?” Tatapan Bintang menyelidik Senja dan Jingga bergantian.
“Rahasia cewek ini mah, kamu nggak perlu tahu.” Jawab Senja, membuat suaminya mendengus.
“Kamu ngajarin Jingga aneh-aneh, kan?” Bintang melemparkan tatapan curiga pada sang istri.
“Ihh, enggak.” Senja lantas beranjak untuk menghindari Bintang. “Pokoknya sukses, ya, Ji.” Bisiknya sembari menepuk pelan pundak Jingga dan mengedipkan sebelah matanya penuh arti.
“Oke.” Balas Jingga menatap kepergian Senja yang disusul Bintang. Dengan samar Jingga masih bisa mendengar Bintang terus mencecar Senja dengan banyak pertanyaan.
********
Acara resepsi diadakan di malam hari. Kedua pengantin sudah sama-sama berganti pakaian dengan gaun dan tuxedo yang lebih mewah.
Resepsi pernikahan bernuansa santai di tepi kolam renang menjadi pilihan Mama. Ya, pilihan Mama karena kedua pengantin hanya terima beres dan menyerahkan semuanya pada wanita paruh baya yang selalu heboh itu.
Tampak nuansa air yang berpadu dengan cahaya lampu memberi kesan romantis dan intim malam hari itu.
Satu per satu undangan yang hampir mencapai seribu orang itu hadir memberi selamat kepada kedua mempelai.
“Ji. . . .” Jingga tersenyum senang mendapati Langit yang kini ada di hadapannya untuk memberi selamat.
“Langit.” Biru mendengus kesal melihat Jingga yang tiba-tiba memeluk Langit begitu saja.
“Makasih, Lang. Makasih untuk selalu ada di sisi aku selama ini, my best friend.” Jingga mengeratkan pelukannya.
“Temenan boleh, tapi peluk-peluk jangan.” Biru dengan kesal melepas paksa kedua sahabat yang tengah berpelukan itu. Langit menatap Biru dengan tak kalah kesalnya. Namun, sejurus kemudian seringai jahil menghiasi wajahnya.
“Ji, kalau kamu lagi bosan sama dia dan butuh selingkuhan, panggil aku aja ya.” Ujar Langit usil yang langsung dibalas delikkan tajam oleh Biru.
Sebenarnya Langit masih ingin menggoda dan menjahili Biru, namun itu tidak memungkinkan melihat tamu lain masih mengantre untuk bersalaman di belakangnya. Alhasil, dia harus cepat-cepat pergi untuk memberikan orang lain ruang.
“Pegel. . . .” Rengek Jingga manja seraya menyandarkan kepalanya di bahu Biru. Jingga merasakan kaki dan punggungnya sangat pegal, telapak tangannya pun bahkan terasa seperti kapalan sekarang.
“Sabar, sebentar lagi.” Ucap Biru sambil mengelus lembut kepala Jingga sekilas. Terlihat tamu-tamu undangan memang sudah mulai mereda.
Jingga mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Biru, dia memperhatikan wajah suaminya itu sepertinya sama lelahnya dengan yang dia rasakan.
Acara resepsi selesai sekitar pukul sepuluh malam, kini Biru dan Jingga memasuki kamar bridal suite yang sudah disiapkan khusus oleh orang tuanya sebagai salah satu hadiah pernikahan mereka.
Tampak kamar pengantin yang didekorasi sedemikian indah dengan taburan kelopak mawar merah yang dibentuk seperti lambang hati di tengah-tengah ranjang, semerbak lilin aromatherapy yang menenangkan, serta lampu kamar yang remang-remang menambah suasana romantis di dalam kamar itu.
Namun, baik Biru maupun Jingga sama sekali tak ada yang tertarik atau sadar dengan ini. Rasa lelah yang dirasakan membuat mereka berpikir untuk cepat-cepat membersihkan diri agar bisa segera tidur dan melepaskan rasa lelahnya.
“Kak, aku mandi duluan ya.” Ucap Jingga yang dibalas anggukkan oleh Biru. Terlihat cowok itu menguap untuk kesekian kalinya.
“Tolong buka ritsleting gaunnya dulu tapi.” Pinta Jingga sebelum masuk ke kamar mandi. Biru dengan mata yang sudah memberat hanya kembali menganggukinya.
Mereka duduk di tepi ranjang dengan Jingga memunggungi Biru. Dan tak memerlukan banyak waktu, Biru berhasil menurunkan ritsleting gaun Jingga hingga punggung gadis itu terekspose dan pakaian dalamnya terlihat. Tapi, sepertinya Biru tidak sadar akan hal itu, karena begitu dia selesai membuka ritsleting baju, Biru langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.
“Makasih.” Ucap Jingga yang langsung beranjak untuk membersihkan dirinya di kamar mandi.
“Hmm. Jangan lama-lama, Ji, aku juga mau mandi” Sahut Biru setengah berteriak dengan mata tertutup.
Biru benar-benar butuh tidur saat ini juga, setelah kemarin malam dia tak bisa tidur karena gugup dan terus belajar melafalkan kalimat ijab kabul, ditambah acara resepsi hari ini yang tak memberinya kesempatan untuk duduk, membuat tubuhnya benar-benar lelah sekarang.
Seusai membersihkan dirinya, Jingga keluar dari kamar mandi dengan baju tidur model kimono berbahan satin warna navy miliknya. Sambil berusaha mengeringkan rambutnya dengan handuk, dia kemudian menghampiri Biru.
__ADS_1
Tampak suaminya itu tengah terbaring dengan satu tangan menutupi mata serta kaki yang menjuntai menyentuh lantai. Sepertinya cowok itu tidur dengan posisi tak beraturan.
Melihat Biru yang tertidur, Jingga tak langsung membangunkannya. Dia lebih memilih untuk menyiapkan baju untuk cowok itu terlebih dahulu.
Jingga lalu mengambil piyama Biru yang memang berpasangan dengan baju tidur kimono miliknya. Gadis itu tersenyum, ada perasaan aneh tapi menyenangkan menyergap hatinya. Apa seperti ini rasanya saat Bunda menyiapkan pakaian untuk Ayah?
Namun, sejurus kemudian senyuman itu menyurut, wajahnya merona malu tatkala dia harus menyiapkan sesuatu yang lain. Sial, dia melupakan bagian ini.
Lalu, dengan mata setengah tertutup, Jingga mengambil pakaian dalam milik Biru, wajahnya memanas saat tangannya menyentuh itu.
Setelah berhasil diambilnya, buru-buru pakaian dalam itu dia selipkan di bawah baju Biru agar tak lama-lama melihatnya. Ahh, dia benar-benar malu, meski sadar dia dan Biru sering berciuman dan saling menyentuh.
“Kak, bangun.” Jingga mengguncang tubuh Biru begitu dia menghampiri dan duduk di sebelahnya.
“Ngantuk, Ji.” Rengeknya seperti anak kecil.
“Iya, tapi mandi dulu sana. Aku udah siapin air hangat sama baju kamu.” Jingga menarik lengan Biru sekuat tenaga agar cowok itu terbangun.
“Besok aja, lah.” Biru hendak merebahkan tubuhnya kembali, namun Jingga menahannya.
“Jangan jorok, ihh. Cepetan mandi sana.” Omel Jingga kemudian.
Biru berdecak kecil sebelum kemudian menyahut dengan malas “Iya. . . .”
Jingga tersenyum melihat Biru yang berjalan gontai ke kamar mandi. Dia seperti melihat dirinya sendiri saat Bunda menyuruhnya untuk mandi setelah pulang bekerja atau sekolah dulu, tapi dia dengan malas malah tiduran di atas tempat tidur.
“Kak, aku tidur duluan ya. . . .” Ucap Jingga setengah berteriak sebelum Biru benar-benar memasuki kamar mandi.
“Iya. Kalau udah ngantuk, kamu tidur duluan aja, Ji.” Biru menyahutinya dengan santai.
“Okay.” Seru Jingga. Dia kemudian membersihkan taburan kelopak bunga mawar di atas tempat tidurnya, lalu membuangnya ke tempat sampah.
“Done.” Jingga berseru senang dan langsung merangkak naik ke atas tempat tidur begitu selesai membersihkannya.
Beberapa saat kemudian, Biru keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang terasa lebih segar.
“Ji, kamu udah tidur, ya?” Tanya Biru saat dia mendudukkan dirinya di tepi ranjang sambil sibuk menggosokkan handuk untuk mengeringkan rambutnya yang setengah basah.
Tak ada jawaban dari gadis itu, menandakan bahwa Jingga benar-benar sudah tertidur.
Untuk sesaat, Biru sama sekali tak terganggu dengan hal itu. Namun, ada sesuatu yang mengganjal pikirannya sejak keluar dari kamar mandi, rasanya ini tidak benar.
Tunggu . . . .
Biru kembali menoleh ke arah Jingga. Matanya membulat sempurna tatkala dia mengingat sesuatu.
Jingga istrinya sekarang, kan? Mereka akan tidur di tempat tidur yang sama mulai hari ini? Dan ini malam pertama mereka, kan?
Biru lalu teringat tadi dia menurunkan ritsleting baju Jingga. Dia terperangah akan kebodohannya sendiri. Apa dia baru saja menyia-nyiakan kesempatan? Punggung Jingga yang terekspose di depan mata, tapi dia membiarkannya begitu saja?
Ya Tuhan. Bisakah Biru kembali ke beberapa saat yang lalu?
“Ji, kok kamu udah tidur?” Biru merangkak naik ke atas tempat tidur dan mengguncang tubuh Jingga untuk membangunkannya. Tapi, istrinya itu tidur seperti sleeping beauty, tidak mungkin bisa bangun semudah itu.
“Sayang . . . .” Biru berbisik seduktif di telinga Jingga, namun gadis itu hanya melenguh.
“Ish, sial.” Biru menyugar rambutnya frustrasi, kenapa dia tadi tidak sadar saat mengizinkan Jingga untuk tidur lebih dulu, sih?
Dan pada akhirnya, Biru hanya bisa mendesah pasrah melihat Jingga yang tidak mungkin bangun. Lagipula dia juga tidak setega itu membangunkan Jingga.
Lantas Biru menatap lekat-lekat wajah teduh istrinya yang tertidur pulas, tampak guratan lelah menghiasi wajah cantiknya.
“Capek banget ya, Ji?” Tanyanya sembari membelai lembut wajah Jingga yang halus, hembusan napas teratur gadis itu bisa Biru dengar.
“Ya udah, kita tidur aja malam ini.” Lanjutnya tanpa melepaskan pandanganya dari wajah cantik Jingga.
“Tidur yang nyenyak, Sayang.” Dan satu kecupan mendarat di kening Jingga, lalu kembali mamandangi wajah cantiknya. “Istrinya aku.”
Sejurus kemudian, Biru ikut merebahkan dirinya di samping Jingga, lalu membawa tubuh istrinya itu ke dalam dekapannya.
Biru tersenyum saat melihat wajah Jingga sekali lagi sebelum dia ikut terlelap. Hanya dengan mencium kening dan tidur memeluk istrinya seperti ini saja sudah membuat hatinya bahagia. Sangat bahagia dan menenangkan.
********
__ADS_1
To be continued . . . .