
********
Jingga saat ini duduk berhadapan di sofa ruang kerja Biru, setelah tadi cowok yang menjadi atasannya itu meminta untuk ikut ke ruangannya.
Jingga menghembuskan napas kasar. Pikirnya Biru pasti akan meminta bantuannya untuk mengoperasi jantung orang penting. Seperti halnya beberapa hari yang lalu, dia diminta untuk mengoperasi jantung salah satu Dewan Direksi rumah sakit ini, alasannya tentu saja karena Jingga adalah dokter spesialis jantung terbaik di sana.
Jingga sebenarnya tidak suka dimintai seperti itu, dia seperti pilih-pilih pasien jadinya. Padahal, tujuan Jingga menjadi dokter sepenuhnya adalah untuk kemanusiaan. Tidak memandang pasien dari statusnya, di mata Jingga semua pasien adalah sama. Ck, otak Biru memang politik sekali.
“Siapa sekarang? Pejabat Pemerintah? Artis? Presiden? Jadwal operasi aku cukup padat. Coba minta dokter lain aja.” Ucap Jingga setelah beberapa saat terdiam.
Biru bergeming. Sejak mereka datang ke ruangan itu, Biru hanya sibuk menatap Jingga dengan tatapan tajam yang serasa menghunus jauh ke dalam diri Jingga.
“Kalau cuma mau minta bantuan kayak gitu lagi, maaf kali ini aku nggak bisa. Permisi, Prof. Biru.” Ucap Jingga kemudian, penuh penekanan. Dia lalu beranjak dari duduknya dan segera melangkahkan kaki untuk keluar dari ruangan Biru.
“Apa kamu nggak bisa jaga sikap?” Suara dingin Biru menggema di ruangan kedap suara itu, membuat tangan Jingga yang baru saja menyentuh handle pintu tertarik kembali, memilih berbalik dan menatap Biru dengan bingung.
“Jaga sikap kamu sama Langit. Aku bilang di sini nggak boleh pacaran! Kalau kalian mau pacaran jangan di sini.” Tukas Biru.
Jingga tercengang mendengar tudingan tersebut dengan rahang sedikit menganga.
“Pacar?” Tanya Jingga dengan raut wajah tak terima. Sorot matanya menatap Biru tak kalah tajam.
“Ke mana-mana bareng, makan bareng, sering berduaan di ruang kerja, dan apa tadi? Kamu kelihatan panik banget denger dia kecelakaan. Semua orang lihat. Siapa yang nggak nyangka kalau kalian pacaran?” Sindir Biru sinis.
Jingga tersenyum kecut mendengarnya. Apa Biru tidak merasa jika dia sedang membicarakan dirinya sendiri? Bukankah Biru juga seperti itu dengan Luna?
Lalu kenapa Biru kesal padanya seperti itu? Cemburu? Jingga tidak mempercayainya.
“Bukannya itu kamu sama Luna, ya? Bisa-bisanya ngomong kayak gitu ke aku sementara kamu pun nggak beda jauh.” Balas Jingga tersenyum sarkas.
Biru bergeming, untuk sementara tak mendapat kalimat perlawanan atas ucapan Jingga barusan. Tapi tetap saja, hatinya kesal dan Jingga salah di matanya.
Tak ingin berlama-lama di sana, Jingga lantas membalikkan tubuh dengan gerakan cepat, lalu menghembuskan napasnya seolah membuang seluruh emosi yang sejak tadi dia tahan.
Melihat Jingga yang bergerak pergi, Biru dengan cepat menghampiri gadis itu dan mencengkram pergelangan tangannya. Biru menariknya sekuat tenaga dan menyudutkannya hingga punggung Jingga membentur dinding.
Jingga meronta. Dengan tenaga yang tak sebanding dengan Biru, dia berusaha melepaskan diri dari Biru yang kini mengunci tubuhnya dengan kedua tangan bertumpu pada dinding. Demi apapun, Jingga tak pernah melihat sosok Biru yang tampak tak terkendali dan liar seperti ini.
“Kak . . . .” Jingga berusaha mendorong tubuh Biru, namun sia-sia. Tenaga Biru jauh lebih besar dibanding dia. Cowok itu bergeming, menghunuskan tatapan tajam seolah ingin menguliti dirinya.
“What do you want to do?” Jingga memberanikan diri untuk menatap wajah Biru yang kini sangat dekat dengan wajahnya. Jingga bahkan bisa merasakan napas Biru yang memburu, membuatnya sedikit ketakutan.
“Aku juga nggak suka kamu kecentilan kayak tadi.”
Jingga memejamkan mata sambil mengatur napasnya, berusaha menetralisir kekesalan yang kini mengendap di hatinya.
“Kamu ngomong apa, sih?” Jingga menatap Biru tak terima.
“Kamu balas nyapa Bian sama senyum-senyum sama dia segala, kalau bukan kecentilan apa namanya” Jawab Biru dengan nada kesal yang tertahan.
“Hhhh….” Jingga menghembuskan napas kasar. “Itu namanya aku bersikap ramah, bukan kecentilan. Masa iya ada orang nyapa aku diem aja.”
Jingga mendelik berang pada Biru. Tak habis pikir dengan pikiran cowok itu. Perihal balas menyapa orang saja harus diperdebatkan.
“Ya udah mulai sekarang kalau ada cowok yang nyapa jangan disapa balik, atau boleh balas tapi jangan pake senyum-senyum segala. Dan satu lagi, jangan terlalu deket sama Langit.” Nada bicara bicara Biru terdengar memerintah, begitupula dengan sorot matanya.
Jingga terdiam menatap sebal Biru. Kalau tidak salah ingat, Biru sendiri yang mengatakan untuk jangan saling menuntut. Lalu kenapa dia melarang-larangnya seperti ini?
Gadis itu mendegus, tapi sejurus kemudian matanya memicing diiringi dengan kedua sudut bibirnya yang terangkat. “Kenapa? Kamu cemburu?”
“Jangan kegeeran kamu.” Elak Biru dengan nada dinginnya.
“Terus, kenapa kamu mempermasalahkan itu?” Tanya Jingga dengan tatapan meledek.
Cowok itu bergerak salah tingkah. “Ya – itu. . , mata aku sakit lihatnya.”
Jingga mencebik. Jawaban Biru yang terdengar konyol membuatnya tertawa geli sekaligus kesal.
“Ya udah, kalau gitu jangan dilihat. Kamu harusnya merem aja tadi, atau lain kali kamu cukup merem. Kayak gini.” Jingga merem sebentar untuk mencontohkan, setelah itu kembali berusaha mendorong tubuh Biru. Tapi Biru tidak melepaskannya begitu saja. Cowok itu malah semakin menghimpitnya. Terpaan napasnya yang panas bisa Jingga rasakan menyentuh telinganya.
__ADS_1
“Turutin apa yang aku bilang barusan atau . . . .” Bisik Biru, membuat Jingga merasa geli saat bibir cowok itu menyentuh daun telinganya.
“Atau apa?” Sambar Jingga menantang. “Kamu mau cium aku sepuluh kali?” Cibirnya kemudian. Jingga tahu jika Biru tak mungkin melakukannya.
Biru menarik wajahnya untuk kembali mempertemukan pandangannya dengan Jingga, tersenyum menyeringai, lalu berucap. “Kamu pikir aku nggak akan berani ngelakuin itu?”
Jingga tertawa tak percaya sambil memalingkan wajahnya ke samping. “Ha – ha, dari dulu kamu nggak pernah berani buat ngelakuin it –”
Mata Jingga terbelalak saat dorongan kuat hingga punggungnya semakin merapat dengan dinding, menyadarkan jika dia seharusnya tidak menantang cowok itu dengan ucapannya. Karena kini Biru benar-benar menyerang lehernya yang terbuka.
Jingga dapat merasakan itu, merasakan bibir Biru mengecupi lehernya hingga sepuluh kali. Namun di hitungan kesepuluh, Biru membenamkan bibirnya lebih lama, dia memberikan gigitan-gigitan kecil di kulit leher Jingga.
Sistem saraf Jingga seperti berhenti mengatur koordinasi tubuhnya. Sel sarafnya seolah tak bisa menghantarkan impuls dengan baik. Jingga yang seharusnya menghentikan Biru yang mulai tak terkendali dengan cara mendorong tubuhnya, namun yang Jingga lakukan adalah menahan napas sambil memejamkan mata saat merasakan Biru menghisap kulit lehernya dengan kuat, hingga menghasilkan tanda merah di sana.
Tubuh Jingga seolah melumpuh, tangannya meremas kuat jas dokter yang dikenakan Biru di pinggir pingganggnya. Sementara tangan Biru kini sudah bergerak ke belakang mengelus lembut punggung Jingga, membuat gadis itu melenguh tertahan.
“Tandai. . . .”
Semakin dalam ciuman itu, membuat ingatan Biru memunculkan sekelebat apa yang terjadi di masa lalu. Biru ingat pernah melakukan ini di atap gedung sekolah.
“Be with me, Jingga. . . .”
Biru menarik wajahnya dengan napas yang sama memburu dengan Jingga.
Gadis itu membuka mata, menatap Biru dengan tatapan sayu, dadanya naik turun berusaha mengatur napasnya yang semula berantakan.
“Ini yang kedua?” Tanya Biru dengan suara serak. Tangannya turun mengelus pinggang Jingga.
Jingga termangu. Dia tahu Biru mengingat bagian itu, tapi dia terlalu bingung bagaimana meresponnya.
“Jingga?” Desak Biru. Kali ini tangannya naik menangkup kedua sisi wajah gadis itu.
Pandangan Jingga mencuat ke bawah, lalu mengangguk malu.
Biru tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Detik berikutnya, dia memiringkan kepalanya untuk menjangkau bibir Jingga. Tapi belum sempat bibirnya menyentuh, Jingga lebih dulu memalingkan wajah.
“T–tunggu.” Cegat Jingga.
Jingga mendongak untuk menatap Biru, lalu berucap gugup. “K-kamu bilang nggak boleh pacaran di sini.”
“It’s a kiss.” Ucap Biru. Lalu dengan cepat menempelkan bibirnya pada bibir Jingga. Mengecupnya, memaksa bibir Jingga untuk terbuka hingga bisa leluasa menghisap itu semua.
Tangan Jingga yang semula berada di pinggang Biru terkulai lemas di kedua sisi pahanya. Dia kembali dibuat terkejut atas sikap tak terduga Biru, meski ini bukan yang pertama kali untuknya.
Cowok itu selalu berhasil membuat Jingga berada di bawah kendalinya.
Jingga kembali memejamkan matanya, menikmati setiap pagutan yang Biru lakukan di atas bibirnya. Rasanya sangat. . . . manis.
Ciuman tak berbalas itu berlangsung cukup lama, keduanya larut dalam pagutan mesra itu.
Jingga mendorong paksa tubuh Biru. Bukan karena dia nyaris kehabisan napas, tapi suara baritone yang tiba-tiba terdengar di sana.
“Kalian?”
Jingga membelalak dengan napas terengah, sementara Biru memejamkan matanya erat menahan kesal karena kegiatannya harus terganggu.
“Papa ngapain, sih, masuk nggak ngetuk pintu dulu?” Gerutu Biru setelah menarik diri, dia mengusap bibirnya yang basah menggunakan punggung tangan.
Biru pasrah, karena mungkin setelah ini lelaki paruh baya itu akan memukuli dirinya dengan tongkat golf.
Sementara Jingga yang mendapati reaksi santai Biru langsung blingsatan. Dia menundukkan kepala sambil meremas ujung jas dokter milik Biru guna menyalurkan kepanikannya.
Jingga benar-benar malu, wajah cantiknya memerah. Dia bingung harus mengatakan apa pada Om Rendi yang saat ini sedang menatap mereka dengan tatapan tak terbaca.
Lelaki paruh baya itu sengaja datang ke ruangan Biru untuk membahas beberapa hal mengenai kemajuan rumah sakit. Namun siapa sangka, dia malah melihat putra kesayangannya tengah berbuat hal yang kurang pantas dan tak tahu tempat menurutnya. Terlebih saat ini beliau datang bersama sekretarisnya, apa yang akan dipikirkan wanita itu setelah melihat semuia ini?
“Giselle . . . .” Panggil Om Rendi, membuat sekretarisnya yang masih terkejut dengan pemandangan yang baru saja dia lihat itu gelagapan menjawabnya.
“I– iya, Pak?”
__ADS_1
“Berapa gaji Kepala Rumah Sakit dan Kepala Bagian?” Mata Om Rendi menghunus tajam ke arah Biru dan Jingga.
“Yaa?” Giselle mendongakkan kepalanya dengan raut wajah bingung.
“Berapa gaji mereka sampai tidak sanggup bayar hotel, setidaknya untuk kamar paling murah?” Sindir Om Rendi menahan geram.
“Pa, kami cuma ciuman.” Sahut Biru, tapi lelaki itu tak mengindahkan ucapannya. Sementara Jingga hanya mendelik kesal, ingin sekali menyumpal mulut Biru agar tak berbicara apapun.
“Kalau begini, kalian nggak perlu tunangan-tunangan segala. Papa lebih baik langsung menikahkan kalian.” Om Rendi menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir dengan kedua anak muda di depannya. Lantas tanpa berbicara lagi, beliau keluar dari ruangan Biru dengan langkah besar bersama Giselle yang mengekorinya.
“Kamu tuh seharusnya nggak usah ngomong apa-apa.” Omel Jingga. Biru hanya memasang ekspresi santai.
Lantas dengan rasa malu yang sudah sampai di ubun-ubun, gadis itu langsung berlari dari ruangan Biru sambil mengumpat kesal.
Biru sendiri hanya menatap kepergian gadis itu sampai hilang dari pandangannya. Dia tidak mengerti dengan cara kerja tubuhnya yang tak bisa mengendalikan diri saat berada di dekat Jingga.
Biru merasa dirinya dan Jingga seperti medan magnet, di mana Jingga adalah kutub yang berlawanan sehingga menarik dirinya untuk mendekat.
********
Jingga menghempaskan tubuhnya di sandaran sofa apartemen milik Langit. Dia melemaskan otot tangannya yang kaku dengan melakukan beberapa gerakan stretching setelah beberapa saat lalu membereskan apartemen Langit yang berantakan.
Mau tidak mau Jingga harus membantunya karena tidak mudah bagi Langit melakukan sesuatu dengan sebelah tangan, meski sebenarnya tubuh Jingga benar-benar lelah.
Jingga baru pulang dari rumah sakit jam sembilan malam. Waktu yang seharusnya dia gunakan untuk istirahat, tapi malah digunakan untuk bekerja kembali.
“Makasih, Ji. Ternyata ada untungnya juga tangan aku sakit kayak gini, aku jadi nggak usah repot-repot beresin apartemen. Sering-sering, deh, bantuinnya, jangan pas aku lagi sakit doang.”
Jinggga hanya mendengus mendengar penuturan Langit.
“Tapi kamu bisa mandi sendiri, kan?” Tanya Jingga kemudian. Langit langsung menekuk wajahnya sebal, mengingat dia tidak lumpuh.
“Aku bisa kok bantuin kamu mandi kalau mau.” Ledek Jingga sembari menaik-turunkan alisnya. “Nggak usah malu, deh. Aku, kan, udah pernah lihat semuanya waktu kecil. Lagian nggak ada satu pun yang menarik dari tubuh kurus krempeng kamu.”
“JINGGA. . . .” Seru Langit kesal seraya memelototkan matanya.
Jingga menarik kedua sudut bibirnya, senang sekali rasanya bisa meledek sahabatnya itu.
Langit mendelik. “Kamu nggak tahu aja kalau badan aku sekarang lebih baik dari oppa-oppa Korea di drama yang kamu lihat. Kamu malah bisa terpesona kalau lihat sekarang.”
Jingga hanya mengedik dengan ekspresi meledek tak percaya, menimbulkan hening di antara mereka. Hingga sesaat kemudian, mata Langit memicing tajam memperhatikan leher Jingga yang ditempeli plester.
“Itu . . . .”
Jingga mengernyitkan alisnya bingung saat Langit menunjuk ke arah lehernya.
“Apa, Lang?” Tanya Jingga tak mengerti.
“Itu leher kamu kenapa?” Jingga terkesiap, refleks dia menyentuh lehernya.
Kilas balik yang terjadi di ruangan Biru sore tadi kini berputar kembali di kepalanya. Sialan, Jingga benar-benar kesal dan malu sekaligus. Sebenarnya dia tidak kesal sepenuhnya pada Biru, Jingga juga kesal pada dirinya sendiri yang tidak bisa mengendalikan diri tadi.
Kenapa dia bisa ikut menikmatinya sampai tak sadar Om Rendi masuk dan memergoki mereka? Jingga memejamkan mata seraya menggelengkan kepalanya, mencoba meredam rasa malu dan melupakan kejadian itu.
“Jii . . . .” Langit kembali memanggil Jingga saat tak kunjung mendapat sahutan. Gadis itu bergerak-gerak gelisah.
“Ehh, eung . ., i– ini, tadi nggak sengaja kebentur sesuatu.” Jawabnya gelagapan sambil berusaha menutupi lehernya dengan tangan.
“Kebentur apa?” Langit mengernyit, menatap Jingga penuh selidik.
Tak langsung menjawab, Jingga menghindari tatapan Langit dengan berpura-pura melihat jam di pergelangan tangannya.
“Udah malem, nih. Aku pulang dulu, ya.” Jingga mengelak.
Sebelum Langit membuka suaranya kembali, buru-buru Jingga mengambil langkah cepat dan keluar dari unit apartemennya. Di luar pintu apartemen, dia menghembuskan napasnya lega sambil mengelus dada.
Sementara Langit di dalam menatap kepergian Jingga dengan tatapan terluka. Dia tidak bodoh untuk tidak bisa mengartikan hal itu.
********
__ADS_1
To be continued. . . .