
********
Satu hari setelah kepergian Biru, Jingga kembali ke sekolah untuk mengambil barangnya yang tertinggal di loker. Sekolah tampak sepi karena libur semester telah tiba.
Jingga berjalan gontai menyusuri koridor menuju ruang kelasnya. Jingga harus mengosongkan lokernya karena setelah kelas dua belas, ruang kelasnya akan pindah ke lantai atas.
Jingga membuka loker, tampak beberapa buku milik Jingga dan barang-barang lain masih tersimpan di sana. Sudut bibir Jingga tertarik membentuk senyum simpul melihat yogurt strawberry pemberian Biru yang belum dia ambil kemarin pagi.
Dia sentuh minuman tersebut, tatapannya berubah sedih, senyumnya menyurut, sekarang tidak ada yang akan melakukan hal ini lagi untuknya.
Menelan ludahnya susah payah, Jingga sedih karena kini harus mulai membiasakan diri lagi menjalankan aktivitasnya tanpa kehadiran Biru di sisinya.
Jingga mengambil yogurt strawberrynya, lalu memerosotkan tubuhnya, terduduk lemas di lantai dengan punggung bersandarkan loker-loker. Dia lantas mulai menyesap minuman tersebut, mendadak ingannya berputar pada waktu pertama kali dia bertemu dengan Biru.
Matanya mulai berkaca-kaca, dia mulai kesulitan menelan minuman yang masuk ke dalam mulutnya.
“Hiks…..”
Ingatannya terus berputar, pada saat mereka mulai berpacaran dan melakukan berbagai hal bersama, hingga akhirnya mereka harus berpisah karena Biru harus melanjutkan pendidikannya.
Dia menjatuhkan minumannya, tidak bisa menahan isak tangisnya lagi. Jingga menutup wajah dengan kedua telapak tangan untuk meredam tangisannya.
Terdengar menyakitkan hingga Langit yang sejak tadi memperhatikannya di balik pintu ruang kelas merasa iba. Untuk pertama kali dalam hidupnya Langit melihat Jingga menangis untuk seseorang seperti itu.
Langit segera menghampiri Jingga. Tubuh gadis itu nampak bergetar seiring isakan kecil yang keluar dari bibirnya.
“Udah, jangan nangis.” Langit menarik Jingga ke dalam pelukannya. “Berisik, tahu.” Ledeknya kemudian hingga membuat Jingga mendengus kesal di sela tangisannya.
“Nanti, kan, bisa cari cowok lain.” Langit terus meledek.
Jingga memukul punggung Langit keras-keras, kesal karena terus meledeknya.
Cowok itu terkekeh. “Becanda, kok. Udah, dong. Kan dia cuma pergi buat belajar, lagian beberapa bulan lagi dia juga pasti balik pas liburan musim panas. Dia sendiri, kan, yang bilang kayak gitu ke kamu?”
“Iya, sih, tapi, kan, tetap aja aku sedih.” Balas Jingga, lalu semakin meraung hingga membuat jaket Langit basan terkena air mata.
Langit menghela napas berat, menepuk-nepuk pelan punggung Jingga, menunggu sampai tangis gadis itu mereda.
“Udah, ya. Aku traktir gelato sepuasnya mau, nggak?”
Mendengar tawaran itu refleks Jingga menghentikan tangisnya. Dia menarik diri untuk menjangkau pandangannya dengan Langit.
“Aku mau ayam juga.” Ucap Jingga dengan wajah menggemaskan dan berlinang air mata.
“Iya-iya boleh. Asal kamu berhenti nangisnya, bete, tahu, nunggu kamu berhenti nangis.” Sahut Langit.
“Aku juga mau beli jajan di street food.” Tambah Jingga sambil menghapus air mata menggunakan punggung tangannya.
Langit mendengus, merasa Jingga malah mengambil kesempatan untuk memerasnya.
“Iyalah terserah kamu mau apa. Aku yang traktir.” Jawab Langit tak ikhlas.
Jingga tersenyum senang, lalu beranjak untuk membereskan semua barangnya di loker dengan cepat.
********
Semester baru telah tiba dan liburan panjang telah berakhir. Jingga kembali pada aktivitas sekolah seperti biasanya.
Namun walau libur panjang, Jingga tidak begitu menikmati masa liburan tersebut meski Ayah dan Bunda membawanya mengunjungi beberapa Negara Asia.
__ADS_1
Jingga duduk di kursi mejanya, menatap ke luar jendela. Tatapannya tampak sedih, dia sangat merindukan Biru.
Sudah lebih dari dua minggu Biru meninggalkan Jingga. Selama itu pula, Jingga tidak mendapat kabar darinya. Padahal, Biru sudah berjanji akan menghubungi Jingga setiap hari. Jingga bahkan rela bangun tengah malam untuk menunggu Biru menghubunginya, namun walau dia terjaga sampai pagi, Biru tetap tidak menghubunginya.
Jingga juga berusaha mengirim banyak pesan kepada Biru, tapi tidak ada yang dilihat satu pun. Jingga juga sudah mencoba menghubungi Biru, namun nomor internasionalnya di luar jangkauan.
Jingga khawatir, sempat juga berpikiran buruk. Namun, dengan segera dia tepis. Menurut Jingga, mungkin Biru masih sibuk untuk beradaptasi dengan lingkungan kampusnya. Jadi, dia pasti belum sempat untuk menghubunginya.
“Aku yakin kamu sibuk. Nggak apa-apa, masih ada hari lain buat kamu telepon aku, Kak. I’ll be waiting. Always.” Gumamnya dalam hati, berusaha menenangkan dan menguatkan dirinya sendiri seraya menghirup napas dalam-dalam.
********
Bulan Juli yang seharusnya masih masa liburan musim panas Biru yang pertama tiba. Jingga bersiap-siap di kamar, berusaha membuat dirinya secantik mungkin.
Biru masih belum memberinya kabar sampai saat ini. Tapi Jingga yakin, Biru akan pulang hari ini dan memberi kejutan kedatangannya. Jadi, dia harus berdandan secantik mungkin untuk menyambut kedatangan Biru.
Jingga akan memberi Biru pukulan bertubi-tubo karena cowok itu sudah me membuatnya sedih dengan tidak memberi kabar meski hanya sebuah titik . Di depan cermin, Jingga tersenyum sinis dan mengepalkan satu tangannya seolah siap memberi bogeman pada Biru.
“Ji, aku boleh masuk, gak?” Teriak seseorang di balik pintu kamar yang diiringi ketukan keras.
“Masuk aja, Lang.” Sahut Jingga tak kalah berteriak untuk mempersilahkan Langit masuk.
“Ji, kamu yakin mau ke klub tenis kayak gini?” Tanya Langit heran saat melihat Jingga tampil imut dan cantik dengan atasan blouse putih yang dipadukan dengan mini skirt hitam dengan aksen kotak-kotak.
“Ya ampun, Lang. Aku lupa lupa ngasih tahu kamu.” Jingga menepuk dahinya. “Aku nggak bisa ke klub hari ini.” Lanjutnya merasa sedikit bersalah karena tidak memberitahu Langit sebelumnya.
“Ya terus kamu mau ke mana?” Tanya Langit penasaran dan kembali menyoroti penampilan Jingga dari atas sampai bawah.
“Kencan . . . .” Jawab Jingga santai sambil berdiri dan menyampirkan sling bagnya.
“Haah? Kencan gimana? Si Biru aja masih di Amrik.” Tanya Langit.
Jingga memutar bola matanya malas. “Kamu lupa? Ini masih liburan musim panas dia?”
Langit juga masih ingat, di malam tahun baru Jingga menangis parah karena mendapati Biru tidak datang.
Mendapat pertanyaan tersebut, Jingga menunduk sedih. Tapi dia masih yakin jika Biru akan pulang dan datang menemuinya.
“Tapi dia udah janji sama aku bakal pulang tiap tahun baru dan musim liburan.” Ujar Jingga datar, kemudian beranjak dari kamar.
“Tapi kenyataannya?” Tanya Langit berhasil menghentikan langkah Jingga yang sudah mencapai ambang pintu.
Jingga menoleh sebentar. “Aku masih percaya sama dia, Lang.” Lalu benar-benar melangkah keluar kamar, meninggalkan Langit yang menatapnya geram.
Hari ini adalah hari terakhir di bulan Juli. Jingga akan memberi Biru kesempatan terakhir untuk datang padanya, karena dua hari lagi Jingga akan pergi ke Inggris untuk melanjutkan pendidikannya. Dia juga sudah mengirim Biru pesan bahwa dia akan mengambil kuliah kedokteran di sana. Berharap Biru akan menyusulnya.
Tapi jika Biru benar-benar tidak datang hari ini. Jingga mungkin akan menyerah.
********
Jingga sampai di taman bermain, berjalan-jalan, senyumnya mengembang saat matanya menggerayangi suasana taman sepi, menenangkan, dan, menyejukkan.
Jingga duduk di kursi taman yang ada di bawah pohon akasia sembari mengayun-ayunkan kakinya. Berulang kali Jingga mengatur napas untuk menenangkan jantungnya yang berdebar cepat. Dia tidak sabar sekaligus gugup menunggu Biru datang.
Sama seperti hari sebelumnya, Jingga juga menunggu cowok itu sepanjang bulan Juli dengan perasaan berdebar.
Jingga melihat jam di pergelangan tangannya. Waktu sudah semakin sore, kawanan burung tampak pulang untuk kembali ke sarangnya, senja di langit sudah tampak mengerling mesra, menyambut malam yang akan segera tiba. Namun, Biru masih tak kunjung datang.
“Mungkin dia datang terlambat. Aku akan menunggunya sebentar lagi.” Gumam Jingga tetap menenangkan dirinya untuk tidak berpikir aneh. Dia sangat optimis.
__ADS_1
“Kamu pasti datang, kan, Kak?” Senyum mengembang di wajahnya perlahan surut, berganti dengan raut wajah sedih, penuh kekhawatiran dan keraguan.
Langit sudah menggelap, berganti malam yang dingin hingga menyusup sebagian kulit Jingga yang tidak tertutup.
Debaran jantung kebahagiaan Jingga berubah menjadi debaran ketakutan. Suasana hening menyelimuti malam di taman bermain itu, jarum jam di pergelangan tangannya menunjukkan pukul 21.00 WIB. Demi apapun, Jingga benar-benar takut. Di sini gelap dan tidak ada siapapun.
“Ji . . . .” Seketika Jingga bernapas lega dan menyunggingkan senyumnya saat tiba-tiba sebuah suara memanggil namanya. Dengan segera dia membalikkan tubuhnya untuk melihat dan menyambut si pemilik suara.
“Langit . . . .” Senyumnya memudar, tatapannya kecewa, matanya berkaca-kaca. Saking senangnya, dia bahkan tidak bisa membedakan antara suara Langit dan Biru.
“Dia nggak datang lagi, kan?” Tanya Langit, bola matanya menggerayangi sekitar, mencari sosok brengsek bernama Biru yang membuat sahabatnya sedih dan menangis selama hampir satu tahun ini.
“Ji, udah, deh, dia nggak bakal datang lagi. Ayo pulang. Ini udal malem.” Ajak Langit sambil menjulurkan tangannya, tapi bukan meraihnya, gadis itu hanya mematung dengan tatapan nanar.
“Ji, hey, kok malah nangis?” Langit khawatir melihat Jingga yang tiba-tiba menitikkan air mata, lalu ikut mendudukkan dirinya di sebelah Jingga.
“Ji, jangan gini, doong. Nangis, tuh, nggak cocok buat kamu.” Tutur Langit lembut seraya menghapus air mata Jingga, dia benar-benar sedih melihat Jingga seperti ini.
Jingga yang tersadar kemudian mengerjapkan matanya untuk menghentikan air mata yang terus mengalir, menepis tangan Langit, dan mengusap sisa air mata dengan tangannya sendiri.
“Enggak, kok, aku nggak nagis, kelilipan doang .” Jingga berusaha tersenyum agar Langit tidak khawatir. Tapi cowok itu jelas tahu Jingga berbohong.
“Ya udah, kalo gitu kita pulang. Ayah sama Bunda pasti khawatir, ini udah malem banget soalnya.” Ajak Langit lagi. Sebenarnya dia ingin mengumpat pada Biru saat ini juga. Tapi dia tidak ingin membuat Jingga tambah sedih karena mengingatnya.
Jingga hanya mengangguk patuh, Langit lantas beranjak dan mengulurkan tangannya untuk membantu gadis itu berdiri. Tapi dia tetap bergeming.
“Gendong aku, Lang.” Pinta Jingga manja seraya menjulurkan kedua tangannya.
Langit mendengus kesal. Lalu dengan terpaksa, dia membungkukkan badan untuk kemudian Jingga naik di punggungnya dan melingkarkan kedua tangannya erat di sepanjang leher Langit.
“Lang, kok, kamu bisa nyusul aku ke sini, sih?” Tanya Jingga saat mereka dalam perjalanan menuju motor Langit yang terparkir di seberang taman bermain.
"Aku udah nebak kalo dia nggak bakal datang lagi.” Jawab Langit membuat Jingga seketika terdiam dan menunduk sedih. Detik berikutnya cowok itu menyesal dengan ucapannya.
“Sorry, Ji.” Sesalnya dengan suara pelan.
Jingga menggeleng di belakang tubuh Langit. “Nggak apa-apa, kok, Lang.” Ucapnya dengan mata mulai berkaca-kaca, berusaha membendungnya agar tidak jatuh.
“Dia brengsek banget, ya, Lang?” Ucap Jingga lirih, lalumengeratkan pelukannya di leher Langit. Kepalanya dia sandarkan pada pundang kekar cowok itu.
Langit tersenyum kecut, lalu berucap malas. “Nggak usah nunggu dia lagi.”
“Hmm.” Jingga mengangguk.
Hening sejenak. Tidak ada percakapan di antara mereka untuk beberapa saat. Langit memperlambat langkahnya, membuat perjalanan mereka untuk keluar dari area taman menjadi sedikit lebih lama.
“Lang.” Panggil Jingga dengan suara yang mulai serak.
“Hmm.” Sahut Langit tanpa menoleh.
“Jangan noleh ke belakang, ya.” Pinta Jingga kemudian. Gadis itu mulai menangis tanpa suara, tidak bisa menahan air matanya lagi yang sejak tadi sudah menggenang di pelupuk matanya.
“Hmm.” Langit kembali menyahut singkat, dia mulai merasakan pundaknya basah.
“Jingga….” Panggil Langit. Jingga tak menyahutinya, tapi Langit tahu dia menunggu untuk kalimat berikutnya. “Jangan sedih terlalu lama. Dia nggak pantes dapet itu dari kamu.”
“Sebelum dia datang, kamu baik-baik aja. Aku yakin, setelah ini kamu juga akan baik-baik aja tanpa dia. Sama kayak dulu.” Imbuh Langit.
“Mana mungkin sama?” Jingga ingin berkelit, tapi memilih untuk tetap diam.
__ADS_1
********
To be continued. . . .