
********
Sudah hampir satu minggu Jingga kembali bekerja di rumah sakit, dan selama itu pula dia mengabaikan Biru. Tapi Biru tak menyerah begitu saja. Cowok itu setiap hari selalu berusaha untuk mendekati dan menarik perhatiannya agar Jingga tidak mengabaikannya lagi.
Meminta maaf, mengucapkan kata cinta, memberikan sebuket bunga setiap pagi, bahkan Biru memberikan yoghurt strawberry disertai memo seperti yang pernah Jingga lakukan padanya dulu.
Tak lupa, setiap pagi Biru juga menjemput Jingga saat akan pergi bekerja, masuk ke ruangannya begitu saja untuk mengajak Jingga makan siang, dan menahan Jingga di pintu keluar untuk mengantar Jingga pulang.
Namun Jingga tak tersentuh sama sekali dengan usaha yang Biru lakukan. Dia selalu menolaknya, tanpa kata-kata. Gadis itu benar-benar melakukan silent treatment dalam mengekspresikan amarahnya.
Sikap Jingga yang seperti itu membuat hati Biru terasa tersayat-sayat setiap harinya. Bagaimana tidak? Jingga menghindari dan juga menganggap Biru seolah dia adalah hantu yang tak terlihat di matanya.
Jingga seolah tak mendengar, seberapa keraspun usaha Biru memanggil namanya. Jingga seolah tak melihat, walau Biru berdiri di hadapannya. Jingga benar-benar mengabaikannya dengan baik.
Contohnya seperti saat ini. Jingga sedang menunggu pintu lift terbuka untuk kembali ke ruangannya setelah dia selesai melakukan kunjungan pasien. Namun Jingga tidak langsung masuk tatkala pintu lift terbuka. Dia malah berdiri mematung di sana, tatapan matanya kini bertemu dan saling terkunci dengan mata Biru yang juga sedang menatapnya dengan tatapan sendu.
Seulas senyum Biru sunggingkan di bibirnya yang tampak mengering, berharap Jingga membalasnya. Namun seperti biasa, seolah senyuman Jingga untuknya telah membeku. Biru tak mendapatkan balasan yang sama. Gadis itu malah menghindar dari pandangannya dan berbalik, memilih untuk berjalan melewati tangga darurat.
“Aku aja yang keluar.” Biru buru-buru keluar dan menahan lengan Jingga yang hendak melangkah pergi. Jingga menoleh ke arahnya, pandangannya lalu turun pada tangan Biru yang bertengger di lengannya. Seolah mengerti Jingga tak ingin dia sentuh, buru-buru Biru melepaskan tangannya. Dalam keadaan ini, Biru memang harus banyak mengalah.
“Kamu duluan. Aku bisa nunggu lift berikutnya.” Lanjut Biru sembari mengulas senyum tipis. Namun tatapannya menyimpan kesedihan yang mendalam. Rasanya sakit sekali melihat Jingga terus mengabaikannya seperti ini. Apa Biru begitu menjijikan, sampai-sampai Jingga tidak mau bahkan hanya untuk satu lift dengannya?
“Kenapa harus nunggu lift berikutnya? Lift ini bisa nampung lebih dari delapan orang. Kita bisa masuk bareng-bareng.” Seru Langit tiba-tiba yang membuat Biru dan Jingga otomatis menoleh ke arahnya.
“Ayo, masuk.” Langit dengan gemas mendorong Biru dan Jingga yang masih berdiri di depan lift. Jingga mendengus sebal, ingin sekali dia memukul Langit saat ini juga.
“Apa?” Tanya Langit saat melihat Jingga menghunuskan tatapan tajam padanya dengan mulut yang komat-kamit menggerutu tanpa suara.
“Emang aku ngapain?” Tanya Jingga jutek.
“Yeee, nggak usah sewot gitu, kali.” Cibir Langit seraya mengusap penuh wajah Jingga menggunakan telapak tangannya. Namun sesaat kemudian dia memekik saat Jingga dengan sengaja menahan tangan Langit dan menggigitnya.
“Kamu kira kamu anjing?.” Langit menggerutu kesal sambil menatap tangannya yang terdapat bekas gigitan Jingga.
“Ya dan kamu kelihatan kayak tulang.” Sahut Jingga santai, namun dengan nada malas. Langit hanya mendengus sebal mendengarnya.
“Mata kamu, tuh, nggak normal, nggak bisa bedain mana tulang mana orang ganteng.” Protes Langit kemudian.
“Eww, amit-amit.” Jingga memasang ekspresi pura-pura ingin muntah.
Langit kembali mendengus. “Emang kenyataannya kayak gitu, kok. Semua dokter dan suster cewek di rumah sakit ini bilang sendiri.”
“Mungkin saat ini cuma gue yang paling tahu rasa itu. Rasa bagaimana orang yang gue suka, sama sekali nggak mau melihat ke arah gue.” Batin Biru yang sejak tadi hanya berdiri di belakang melihat interaksi Jingga dan Langit dengan tatapan miris. Sedikit rasa iri terselip di hatinya melihat perdebatan kecil mereka. Biru juga ingin melakukan itu. Berdebat tentang sesuatu yang tdak jelas. Itu terlihat menyenangkan.
“Tapi aku enggak. Kamu nggak ganteng sama sekali dibandingkan Kak–”
“Siapa?” Tanya Langit tersenyum meledek, tatapannya penuh selidik dan mendesak. Sial. Nyaris saja Jingga keceplosan.
“K–kak Gara.” Ucap Jingga sedikit gelagapan dan bertepatan dengan itu pintu lift terbuka, hingga Jingga menggunakan kesempatan itu untuuk melarikan diri dan segera keluar dari sana meski belum sampai ke lantai tujuan.
“Kamu mau ke mana, Ji, ini bukan bangsal kamu?” Tanya Langit setengah berteriak melihat Jingga yang buru-buru pergi, namun gadis itu tak mengindahkan, dia hanya melambaikan tangannya dari belakang.
“Jelas dia nggak mau ada di satu ruangan sama gue.” Ucap Biru tersenyum getir.
Mendengar Biru mengatakan itu, Langit menoleh dan tersenyum ke arahnya, lalu berucap “Jingga still in love with you.”
“I’m not sure.” Biru menghembuskan napas berat seraya memasukkan kedua tangan ke dalam saku jas dokternya. Raut wajahnya nampak putus asa, membuat mulut Langit gatal untuk mencibirnya.
“Lo emang bener-bener yaa jadi cowok. Udah cengeng, gak peka, gampang putus asa lagi.” Cibir Langit gemas. Biru tak melawan, dia hanya diam menerima semua cibiran itu. Telinganya sekarang sudah terbiasa mendengar ocehan Langit yang terkadang mengalahkan netizen julid.
“Terus, sekarang lo mau apa? Meratapi sambil mengasihani diri sendiri?” Oceh Langit kemudian. Biru hanya menggelengkan kepalanya lemah. Entah artinya apa dari gelengan kepala tersebut, Langit tidak tahu.
“Jingga emang kehilangan kepercayaannya sama lo, tapi bukan berarti dia udah nggak sayang, dan lo jangan merasa perjuangan lo udah gede banget. Coba dipikir lagi, mungkin usaha lo masih kurang buat dia. Di sini yang dikecewain Jingga, jangan malah lo yang merasa paling tersakiti.”
Biru terdiam, kembali tertohok dengan ucapan Langit. Memang benar dia yang sudah menanamkan kekecewaan di hati Jingga hingga membekukan hatinya yang hangat.
“Kenapa lo jadi nyemangatin gue kayak ini?” Tanya Biru tersenyum geli. Bukankah seharusnya cowok itu merasa senang, karena berarti kesempatan untuk Langit mendapatkan hati Jingga terbuka lebar.
“Karena gue mau kalian bersatu kembali.” Jawab Langit dengan senyumnya yang terlihat lebih lepas. Biru menatapnya dengan dahi yang berkerut dalam.
“Bukannya lo sendiri yang bilang kita mau bersaing dengan sportif?” Tanya Biru heran.
“Bersaing apa? Gue udah udah jadi pemenangnya.” Jawab Langit enteng. Sebelah alis Biru terangkat tak mengerti.
“Iya, gue yang menang, karena gue udah berhasil mengikhlaskan orang yang gue sayang untuk berbahagia dengan pilihan hatinya.” Langit menjeda sebentar kalimatnya. “Dan kebahagiaan Jingga itu elo.”
“So, go forth and conquer. Everything will work out fine for you, I’m sure of it. Fighting.” Langit tersenyum dan menepuk pundak Biru, seolah menyalurkan semangat di sana sebelum kemudian dia keluar dari dalam lift dengan perasaan yang jauh lebih tenang.
“I’ll do my best.” Gumam Biru seraya menatap kepergian Langit yang semakin jauh dari pandangannya seiring dengan pintu lift yang kembali tertutup.
Terkadang, Tuhan membuat kisah hidup kita berjalan dengan seseorang hanya untuk sebagai teman di suatu masa. Seperti halnya Langit, dia menyadari hati Jingga tidak akan pernah menjadi miliknya.
Langit merasa dia dan Jingga tidak ditakdirkan untuk berada dalam satu kisah yang indah melebihi warna-warni pertemanan. Hubungan mereka hanya akan terabadikan sebagai teman. Hanya teman, sulit untuk menjadi lebih, dan mungkin tidak akan pernah. Langit tidak mau membantah kenyataan itu atau berusaha mendobraknya.
Sejak awal, semuanya sudah sangat jelas. Jingga adalah seseorang yang terlalu mustahil untuk ditakdirkan berada dalam satu perasaan yang sama dengannya. Sudah sangat jelas pula irama jantungnya dengan Jingga berbeda. Lalu apa yang bisa dia harapkan?
Jika saja Langit tidak melepaskan Jingga. Maka, dalam setiap harapannya hanya akan monorehkan setitik luka yang perlahan kian menumpuk, lalu menyebar dan membentuk sebuah lubang besar di hatinya. Langit tidak ingin hal itu terjadi pada dirinya.
Love may not always keep us together, right? Setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mencintai seseorang. Seperti halnya Langit, cowok itu memilih untuk merelakan, dan berharap Jingga bahagia meski bukan bersamanya.
********
Sehari sebelumnya, Langit menghampiri Jingga yang tengah membaca buku di perpustakaan di rumah orang tuanya. Semenjak kepulangannya gadis itu belum diizinkan untuk tinggal di apartemen sendirian setelah apa yang terjadi. Orang tuanya kini bahkan memberinya sopir untuk mengantarnya pulang-pergi bekerja. Hal tersebut membuat Jingga sedikit kesal, rasanya dia seperti menjadi tahanan.
__ADS_1
“Baca buku apaan, sih?” Langit merampas buku yang sedang Jingga baca dari tangannya. Hal itu tentu saja membuat Jingga mendelikkan matanya sebal.
“Trauma Healing?” Langit menatap Jingga dengan tatapan penuh selidik.
“Aku cuma baca doang. Nggak salah, kan?” Jingga menghindari kontak mata dengan Langit.
“Jingga. . . .” Nada suara Langit terdengar meminta penjelasan lebih.
“Aku masih bisa ngatasin semuanya sendiri tanpa bantuan psikolog.” Jawab Jingga tak bisa mengelak.
“PTSD (post traumatic stress disorder)?” Tanya Langit meyakinkan. Jingga hanya mengangguk pelan.
“Apa gejalanya?” Tanya Langit lagi, raut wajahnya mulai khawatir.
“Nggak parah. Aku cuma agak terganggu sama suara mesin pesawat, petir, kembang api, suara benda berat yang jatuh, dan insomnia. Pasti bakalan sembuh sendiri, kok, lama kelamaan. Udah, deh, nggak usah berlebihan.” Terang Jingga sambil merebut kembali buku dari tangan Langit.
“Itu parah. Kamu butuh pengobatan.” Tegur Langit kesal.
“Ish, iya nanti, ahh, cerewet.” Dengus Jingga dan mulai membuka bukunya lagi, mencari halaman terakhir yang tadi dia baca.
“Cerewet-cerewet. Aku cuma khawatir sama kamu. Kalau kamu jadi gila gimana, coba?” Balas Langit tak kalah kesal.
“Aku nggak akan jadi gila cuma karena gangguan panik yang nggak seberapa ini.” Jingga terkekeh kesal.
“Selain PTSD, apa lagi yang kamu dapat dari sana?” Cibir Langit kemudian. Jingga menautkan alisnya, gagal mencerna apa maksud pertanyaan Langit. “Apa kamu udah berhasil ngelupain Biru?”
Jingga cukup terkejut mendengar pertanyaan Langit, namun dia menyamarkan keterkejutannya dengan pura-pura membuka halaman buku.
“Hmm.” Jawab Jingga singkat tanpa melepaskan pandangannya dari buku yang sedang pura-pura dibacanya.
“Gimana bisa, sementara aku mikirin dia setiap hari?” Batin Jingga menatap kosong deretan tulisan dalam buku yang tengah dipegangnya. Dia membenci hatinya karena masih saja merindukan cowok itu di saat dia berusaha keras untuk melupakannya.
Jingga merindukan Biru sebesar dia membencinya.
“Ini lucu.” Sudut bibir Jingga sedikit tertarik dan membentuk senyuman tipis.
Entah sia-sia atau lucu. Jingga sudah pergi jauh-jauh dan berusaha melupakan Biru. Namun seolah sel sarafnya tidak berfungsi, Biru terus berkeliaran di dalam hati dan pikirannya meski dia terus mengatakan pada dirinya sendiri bahwa dia sangat membenci Biru, tak tanggung-tanggung, cowok itu bahkan muncul di dalam mimpinya setiap kali dia terlelap.
“You’re a bad liar. I know, you’re still in love with him, Jingga.” Cibir Langit melihat Jingga yang berusaha melarikan diri dari tatapannya.
“Kamu bener. Aku emang masih cinta sama dia. Tapi sekarang, aku nggak mau nunjukin itu lagi.”
“Hati aku udah banyak terluka. Gara-gara dia.” Dan kata itulah yang terucap dari mulutnya.
“Dan menambah luka di hati kamu sendiri dengan cara mengabaikan dia?” Sambar Langit tepat sasaran.
“Enggak.” Elak Jingga.
“It’s not fine. Aku bener-bener tersiksa ngelakuin ini. Tapi aku rasa, ini jauh lebih baik daripada aku harus terluka lagi.” Jingga pikir aksi silent treatmentnya itu adalah bentuk dari pertahanan dirinya.
“I’m fine.” Dan Langit tidak bodoh untuk tidak bisa membaca bahasa tubuh Jingga.
“Jangan terlalu dendam, Jingga. Kamu sadar, nggak? Selain nyakitin diri sendiri, sikap kamu ini juga nyakitin perasaan Biru. Silent treatment itu bentuk marah paling tega, itu adalah sikap terkejam untuk nyakitin orang lain, karena ngediemin orang bener-bener bisa gerusak pikiran.” Tutur Langit kemudian.
“Aku nggak peduli.” Bohong, bahkan hatinya merasa nyeri saat melihat wajah putus asa Biru karena sikap dinginnya. Jingga bahkan merasa lebih buruk setelah melakukan itu dan kembali menangis saat sendirian.
“Everyone deserves a second chance.” Seru Langit.
“Tapi aku bukan termasuk orang yang bisa ngasih itu.” Balas Jingga tegas. Untuk ketiga kalinya dia mendengar ini setelah Ameera dan Sagara.
“Jangan keras kepala.” Dengan gemas Langit kembali merebut buku dari tangan Jingga. Dia tahu jika Jingga hanya berpura-pura membaca untuk menghindari kontak mata dengannya.
“Kenapa sekarang kamu malah belain dia, sih?” Protes Jingga kesal. Tidak hanya Langit dan Ameera, bahkan keluarganya juga tampak membela Biru.
“Karena dia udah jadi teman aku. Teman baik.” Jingga mendelik sebal mendengar Langit mengatakan hal itu.
“Jangan ngaco, deh. Dari dulu kamu nggak pernah bisa temenan selain sama aku.” Seru Jingga seraya terkekeh tak percaya.
“Habisnya teman aku satu-satunya ini ninggalin lama banget dan nggak pernah ngabarin.” Jawab Langit penuh dengan sindiran. Jingga hanya mendengus.
“Denger. Dia udah nyesel sama semua perbuatannya.” Langit lantas menceritakan bagaimana keadaan Biru pasca kepergiannya, Biru yang terus menyalahkan dirinya sendiri, Biru yang menangis setiap hari karena begitu merindukannya, termasuk Biru yang sampai sakit dan mabuk-mabukan karena memikirkan Jingga.
Jingga tertegun mendengar cerita Langit, dia jadi teringat akan harapan buruknya saat itu yang menginginkan setidaknya Biru harus merasakan sakit, sama seperti yang dia rasakan.
Hatinya mencelos sakit mendengar itu, tapi kekecewaan yang ditancapkan Biru dalam hatinya tak membuatnya luluh.
“Bukannya itu udah lebih dari cukup? Biru bahkan mendapatkan rasa sakit yang lebih dari kamu. Si brengsek itu udah bener-bener tersiksa selama ini, Ji.” Tutur Langit kemudian.
“Dia kayak gitu karena udah inget sama aku, kan? Aku nggak percaya dia bener-bener sadar sama kesalahannya.” Jingga mencoba menyangkal, sudut bibirnya tersungging membentuk senyum sinis.
“Enggak. Sebelum atau setelah ingatan dia sembuh, penyesalan dan rasa bersalahnya sama besar, aku bisa lihat itu, Ji.” Jawab Langit yakin.
“Gimana sama cewek itu? Biru masih nempel sama dia?” Jingga merasa hatinya kembali sakit. Masih jelas dalam ingatnnya bagaimana dulu Biru selalu membela Luna, bahkan cowok itu tak segan-segan menuduhnya. Terlebih saat dia mengingat Luna di apartemen Biru waktu itu. Benar-benar menjijikan.
“Beberapa bulan ke belakang Biru lebih sering sama aku. Aku nggak tahu apa yang udah terjadi sama mereka, yang aku tahu Biru berusaha ngehindarin dia selama ini.”
Memangg setelah Biru mengetahui bagaimana sifat Luna yang sebenarnya, dia benar-benar menjaga jarak dengan gadis itu. Meski Luna masih berusaha untuk mendekatinya, tapi Biru tak pernah memberi kesempatan pada Luna bahkan untuk sekedar menyapanya.
“Kenapa bisa?” Tanya Jinga penasaran.
“Mana aku tahu.” Sahut Langit sambil mengedik tak peduli.
Jingga terdiam dengan pikiran menerka-nerka, rasa penasaran menyusup di hatinya.
__ADS_1
“Pokoknya denger ini baik-baik. Kasih dia kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Langit kembali pada topik awal.
“Apaan, sih, males banget.”
“Kamu boleh marah sekarang, tapi jangan lama-lama, atau kamu akan menyesal. Biru orang yang cukup mampu dapetin cewek yang lebih cantik dari kamu.” Langit sedikit menakut-nakutinya.
“Aku nggak peduli.” Sahut Jingga terdengar ragu. Langit tersenyum mencibir melihat air muka Jingga yang berubah dilema.
“Ingat baik-baik apa yang aku bilang. Aku pergi.” Langit beranjak dari duduknya sesaat setelah mengacak-acak rambut Jingga, untuk kemudian dia berlalu pergi meninggalkan Jingga yang masih tenggelam dalam pikirannya sendiri.
********
“Minum ini dan kasih aku sedikit aja maaf kamu di setiap sesapannya. ❤❤”
From : Cowok brengsek yang minta kesempatan.
Jingga tersenyum mencemooh saat membaca tulisan pada sticky note yang tertempel pada botol yoghurt strawberry yang setiap pagi menyambutnya di atas meja kerja.
“Apa dia nggak bisa nulis kata-kata lain selain ini?” Tanya Jingga dalam hati seolah mencibir memo yang ditinggalkan Biru yang isinya sama setiap harinya.
“Aku harap, sunflower ini bisa sedikit menghangatkan hati kamu.”
Jingga mendengus saat matanya beralih membaca pesan yang tertera pada sebuket bunga matahari yang dikirimkan Biru.
“Kenapa nggak sekalian dihangatin di atas tungku?” Cibir Jingga yang merasa geli dengan tulisan itu.
Mungkin jika itu di dalam drama Korea yang dia tonton, Jingga akan merasa tindakan seperti ini sangat romantis. Tapi saat mengalaminya sendiri, dia benar-benar merasa geli. Jingga tak merasa tersentuh sama sekali.
“Aku penasaran siapa, sih, yang suka ngirim kamu bunga setiap pagi? Nggak pernah sekalipun dia kepergok, padahal aku suka datang pagi.” Ucap Hana yang tiba-tiba masuk ke ruangan Jingga untuk menyerahkan berkas pasien. Jingga sedikit terkejut akan kedatangannya.
“Hana, kenapa nggak ngetuk pintu dulu?” Tegur Jingga sedikit kesal.
“Maaf. Tadi pintunya udah kebuka.” Sahut Hana santai sembari menunjuk ke arah pintu. Jingga mendengus, lalu mengalihkan perhatiannya ke arah pintu yang memang terbuka lebar.
“Ohh, iya, aku lupa nutup tadi.” Gumam Jingga saat menyadari kesalahannya. Hanya hanya mendengus geli.
“Kamu nggak mau terima bunganya lagi, kan?” Tebak Hana yang langsung dijawab anggukkan oleh Jingga.
“Sini, biar aku ambil. Nanti aku simpan itu ruangan pasien.” Selalu seperti itu. Jingga hanya mengambil sticky notenya, sementara bunga itu dia simpan di ruangan pasien dengan alasan pelayanan khusus. Bukan apa-apa, Jingga hanya menyayangkan jika bunganya dibuang begitu saja.
“Kenapa nggak diterima, sih? Padahal, tiap hari orang itu ngirimin kamu bunga yang cantik dan beda-beda.” Komentar Hana heran.
“Aku nggak suka.” Jawab Jingga sekenanya. “Nggak suka sama orang yang ngirim.” Jelasnya dalam hati.
“Aku kira orang cantik kayak kamu suka bunga.” Ucap Hana menyayangkan Jingga tidak menerima bunganya.
“Kalau aku berhasil mergokin dia. Aku bakal bilang untuk jangan ngirimin kamu bunga lagi. Kasihan dia, uangnya kebuang percuma, ntar habis.” Oceh Hana sebelum kemudian dia pergi dari ruangan Jingga.
Jingga mendengus geli, tidak tahu saja Hana jika yang mengirim bunga itu adalah atasan mereka.
********
Siang harinya, Jingga memilih menikmati waktu luangnya di atap rumah sakit. Dia berdiri di dekat dinding pembatas, menghirup napas dalam-dalam di sana sembari menikmati angin sepoi-sepoi yang dia biarkan menerpa wajahnya.
“Aku bener-bener kangen tempat ini.” Gumam Jingga dalam hati. Matanya berbinar, dia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat. Masih sama, tidak ada yang berubah sedikitpun. Mungkin karena dia hanya meninggalkannya sebentar.
Namun beberapa saat kemudian tubuhnya merosot ke lantai begitu mendengar deru mesin helicopter yang akan mendarat sangat memekakkan telinganya. Jingga meremas baju di bagian depan dadanya saat merasakan jantungnya berdebar sangat cepat, tubuhnya gemetar dan lemas, serta mulai berkeringat dingin.
“Tutup mata kamu.” Seseorang datang tiba-tiba dan menutup telinga Jingga dengan kedua tangannya, lalu membawa gadis itu ke dalam dekapannya.
Tanpa sadar, Jingga menurut. Dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang orang tersebut hingga membuatnya sedikit tenang.
“Are you okay?” Tanya Biru setelah Jingga terlihat lebih normal sambil menurunkan tangannya dan mengambil sedikit jarak. Jingga mendongakkan kepala untuk melihat ke arah orang yang sudah membantunya.
“Panic disorder . . . atau semacam itu?” Tanya Biru dengan hati-hati. Raut wajahnya tampak khawatir.
Menyadari orang itu Biru, Jingga lantas dengan kasar mendorong tubuh Biru hingga cowok itu terhuyung ke belakang. Dia lalu berdiri dan dan bersiap untuk pergi dari atap rumah sakit.
“JINGGA.” Bentak Biru seraya menahan lengan Jingga. Dia sudah tak tahan dengan Jingga yang terus mengabaikannya seperti ini.
Gadis itu terhenyak kaget dengan bentakan Biru barusan. Dia mematung dengan tubuh gemetar. Dia benci Biru meninggikan suaranya.
“Tolong jangan kayak gini.” Suaranya kembali merendah, sadar sudah menakuti gadis itu.
“Kalau kamu marah, tolong marahlah dengan bahasa manusia. Luapin kemarahan kamu sama aku dengan benar. Please, jangan diemin aku kayak gini.” Pinta Biru memelas, suaranya terdengar bergetar seiring dengan matanya yang mulai berkaca-kaca.
Tangannya kemudian terulur untuk membawa tubuh Jingga ke dalam dekapannya. Biru mendekapnya sangat erat, meski dia tak mendapatkan balasan yang sama dari gadis itu.
“Aku maaf udah keterlaluan nyakitin hati kamu, maaf untuk semua tuduhan yang pernah aku lakukan, maaf untuk bersikap dingin sama kamu, maaf karena udah mengabaikan kamu, maaf karena aku nggak percaya sama kamu, maaf untuk membiarkan kamu berjuang sendirian waktu itu, maaf untuk kedekatan aku sama Luna yang begitu melukai kamu, dan maafin aku untuk apa yang udah aku lakuin malam itu.” Dan masih banyak kata maaf serta alasannya yang belum Biru sampaikan. Kesalahannya terlalu banyak.
“Aku juga minta maaf karena udah ngelupain kamu, maaf karena aku datang sangat terlambat. Maaf udah membuat kamu menunggu sangat lama.” Lanjutnya lagi.
Sementara Jingga masih terdiam dengan perasaan tak karuan. Tatapannya kosong di belakang pundak Biru.
“Tell me what to do?” Suara Biru tercekat seiring dengan dadanya yang mulai sesak karena tangis yang tertahan.
“Kasih tahu, Ji, apa yang harus aku lakuin supaya kamu mau maafin aku?” Lanjut Biru dengan air mata yang mulai mengalir dari sudut matanya.
“Aku mungkin nggak bisa menghapus setiap kesalahan yang pernah aku lakukan. Tapi aku bisa memperbaikinya, Ji. So, tell me what to do?”
********
To be continued . . . .
__ADS_1