
********
“Jadi apa?” Kali ini Biru mendekatkan wajahnya dan berbisik hingga Jingga merasakan bibir lembab Biru menyentuh daun telinganya. “Kamu mau aku jadi pacar kamu?” Ulang Biru, terpaan napas hangat di telinganya membuat tengkuk Jingga meremang.
Jingga bergeming. Dia belum siap dengan situasi yang tiba-tiba seperti ini. Jingga juga merasakan jantungnya berdetak lebih cepat dan pipinya tiba-tiba memanas seiring dengan rona merah yang terukir cantik di sana.
“Wajah kamu merah, Ji.” Goda Biru berbisik, membuat wajah Jingga semakin memerah. Biru yang melihat reaksi Jingga semakin gemas.
Jingga berusaha menahan napasnya saat menyadari wajah Biru sudah sangat dekat. Dia bahkan bisa merasakan napas Biru yang hangat menerpa wajahnya.
Tolong, Jingga ingin segera keluar dari situasi ini. Tapi seolah waktu berhenti, tubuhnya mematung akibat sel syaraf di otaknya membandel tidak mengikuti keinginannya. Lidahnya begitu kelu, matanya seolah terhipnotis untuk menatap wajah tampan Biru yang kini hanya beberapa cm saja dari wajahnya, Jingga bahkan saat ini merasakan jantungnya berdegup semakin cepat dan mungkin saja Biru bisa mendengarnya.
“Kamu gugup, ya, Ji?” Melihat wajah Jingga yang semakin memerah, Biru tergelitik untuk terus menggoda gadis itu. senyuman usilpun menghiasi wajah tampannya.
“Ish, apaan, sih?” Jingga kesal sendiri.
“Aww….”
Rasa panas seketika menjalar di pinggang Biru saat tangan Jingga yang mungil mendaratan cubitan keras di sana.
“Puas banget, ya, godain orang. Haah?” Jingga yang gemas semakin mengeratkan cubitannya hingga membuat Biru mengaduh kesakitan.
“Haha, ampun, Ji. Habisnya wajah kamu lucu kalau gugup.” Biru tertawa geli di tengah rasa sakitnya. Tangan kecil Jingga rupanya kuat juga.
“Ya udah, maaf. Aku salah. Aww….sssh. lepasin, Ji, udah.” Pinta Biru.
Mendengus sebal, Jingga lantas melepaskan tangannya dari pinggang Biru. Sementara Biru langsung mengusap-usap pinggangnya yang tertutup baju.
“Ketawa aja terus.” Sungut Jingga yang masih melihat Biru tertawa meledek. Dia lantas menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi dengan memasang wajah kesal, kedua pipinya mengembung lucu.
“Haha, ya udah, sih, nggak usah ngambek gitu. Makin lucu, tahu.” Jingga mendengus kesal dan geli sekaligus mendengar ucapan Biru.
Tak berniat membalas ucapan Biru, Jingga memilih untuk melanjutkan meminum yogurt strawberry miliknya yang belum sempat dia habiskan tadi.
“Manis.” Biru bergumam dalam hati. Matanya tak lepas memperhatikan Jingga yang menggigit-gigit kecil sedotan pada botol yogurtnya. Bibir merah jambu gadis itu bergerak naik turun. Biru merasa gemas melihatnya. Hanya menggigiti sedotan, kenapa Jingga terlihat semanis ini?
Anak remaja berusis 17 tahun itu lantas menelan ludahnya saat perasaan aneh muncul. Perasaan seperti ingin mencicipi bibir manis gadis yang sedang duduk di sebelahnya.
“Kenapa?” Tanya Jingga yang sadar Biru memperhatikannya.
“Yaa?” Biru gelagapan. Jingga mengernyitkan keningnya bingung.
“Kamu jangan ngeliatin aku kayak gitu, dong.” Protes Jingga yang mulai risih seraya mengusap penuh wajah Biru untuk membuat cowok itu tersadar.
"Aku mau….itu…” Jingga semakin mengernyikan keningnya mendengar ucapan tidak jelas Biru. Sementara pandangan cowok itu masih tertuju pada bibir Jingga.
“Ini?” Jingga menyodorkan yogurt miliknya.
“Ohh…” Seolah diberi jalan keluar, Biru dengan cepat menyambar yogurt tersebut dari tangan Jingga dan meminumnya hingga tandas. Dia lalu membuang botol tersebut ke tempat sampah yang ada di dekatnya.
“That’s mine. Kenapa dihabisin?” Protes Jingga, matanya menatap Biru dengan berang.
“Kan aku yang beli. Berarti itu juga punya aku.” Jawab Biru santai seraya nyengir lebar sehingga memperlihatkan giginya yang bersih dan tersusun rapi.
“Mana ada orang ngasih terus diambil lagi. Ck, dasar.” Jingga berdecak geli.
“Kan aku orangnya.” Sahut Biru sambil menunjuk dirinya sendiri. Jingga mendengus geli, tidak menanggapi.
Hening sejenak, perhatian Jingga kini beralih pada langit sore yang tiba-tiba sedikit muram. Sepertinya akan hujan.
__ADS_1
“Huuft….” Jingga mendesah pelan. Sepertinya hari ini dia tidak bisa berlama-lama berada di taman itu untuk menikmati pemandangan sore. Pipinya langsung mengembung lucu melihat cuaca tidak terlalu mendukung sore itu.
Gadis itu lantas menyilangkan kaki hingga membuat paha mulusnya terpampang begitu rok seragam sekolahnya tersingkap. Biru yang melihat hal tersebut sedikit risih. Rasanya ingin sekali dia protes pada pihak sekolah karena memperbolehkan siswa perempuan mengenakan rok sependek itu.
Bukannya Biru tidak suka. Hanya saja dia tidak ingin cowok lain melihat Jingga seperti itu. Tidak. Dia tidak ingin berbagi.
“Kalau ada cowok lain di dekat kamu. Tolong jangan lakuin ini, oke?” Ucap Biru lembut seraya meletakkan jaketnya di pangkuan Jingga untuk menutupi pahanya yang terbuka.
Jingga yang terkesiap dengan perlakuan Biru otomatis menurunkan kakinya. Gadis itu kemudian mengusap-usap tengkuknya untuk menetralisir gugup yang tiba-tiba melanda.
Jingga merasa sedikit tersentuh. Sikap Biru cukup manis. Tapi dia juga malu karena tidak menyadari jika roknya tersingkap begitu tinggi hingga mengekspose pahanya. Dia berpikir kalau besok-besok akan mengenakan rok yang sedikit lebih panjang. Mungkin beberapa centi dari rok yang dikenakannya saat ini.
“Eung, maaf.” Cicit Jingga merasa sudah menimbulkan ketidaknyamanan. Biru hanya tersenyum lembut, beberapa detik setelahnya cowok itu merentangkan tangannya pada sandaran kursi.
DEG….
Jingga dibuat gugup lagi saat menyadari jarak duduk mereka yang terlalu dekat. Dia bahkan dapat menghirup aroma maskulin dari parfum yang dipakai Biru.
“Ehem….” Jingga berdehem untuk menghilangkan rasa gugup sembari bergeser untuk kembali membuat jarak duduk di antara dirinya dan Biru. Namun sial, cowok itu malah ikut bergeser.
“Kenapa?” Tanya Biru dengan tatapan usil.
“Terlalu deket. Aku gerah.” Jawab Jingga seraya mengipas-ngipas wajahnya dengan kedua tangan.
“Bukannya kalau lagi sama Langit kamu biasa sedeket ini, ya?” Sindir Biru semakin merapatkan posisi duduknya.
“Ya-iya, sih, tapi itu karena….”
“Karena apa?” Sela Biru menatap dalam mata Jingga.
“Karena Langit…..” Jingga berusaha melarikan diri dari pandangan Biru. Gadis itu tampak kebingungan untuk mencari kelanjutan kalimat yang akan diucapkannya. “Langit, kan, teman aku.” Lanjutnya kemudian.
“Ihh, enggak.” Jingga berusaha mendorong tubuh Bitu, namun tidak bergerak sama sekali.
“Ya udah pacar.” Kali ini Biru merangkul pundak Jingga hingga sekarang taka da jarak sedikitpun.
Jingga sendiri mendengus geli mendengar ucapan Biru yang tampak enteng keluar dari mulutnya. Laura mengatakan jika Biru sangat dingin. Cih, dingin dari mananya? Penggoda begini.
“Ihh, apaan pacar-pacar? Orang kita nggak deket.” Sahut Jingga berusaha melepaskan tangan Biru dari pundaknya. Tapi nihil.
“Ini deket.” Biru semakin mengeratkan rangkulan tangannya, membuat gadis itu gugup lagi.
“Iiish.” Jingga geram sendiri, kehabisan kata-kata. Sementara Biru tersenyum geli, merasa sangat menyenangkan menggoda gadis itu.
“Kita nggak cukup saling kenal.” Ucap Jingga, masih berusaha melepaskan tangan Biru.
“Aku Biru, kamu Jingga. Kamu kelas sebelas, aku dua belas. Aku tahu nomor kamu, dan kamu tahu nomor aku.” Ujar Biru santai. “Apa lagi yang kurang, ya? Ohh iya, aku juga tahu Bunda kamu. Namanya Mona.” Lanjutnya sembari memiringkan wajahnya untuk menjangkau wajah Jingga dan kembali mempertemukan pandangan mereka.
“BIRU.” Jingga menatap sebal Biru. Tapi cowok itu hanya memasang ekspresi santai.
“Aku nggak suka kamu.” Jingga memukul pelan dada Biru. Wajahnya masih tampak kesal.
“Tapi aku suka.” Sahut Biru membuat Jingga kembali tergugup dan bergeming, padahal dia tahu jika Biru hanya sedang menggodanya. “Aku suka kamu, Ji.” Bisiknya kemudian. Jingga menelan ludah saat merasakan bibir lembut Biru menyentuh daun telinganya.
“Kak–” Suara Jingga tercekat begitu tangan Biru merayap dan mengusap-usap wajahnya. Pandangan mereka terkunci satu sama lain. Detik selanjutnya Biru mendekatkan wajahnya, membuat gadis itu membeku dan otomatis menutup matanya.
Jingga mengumpat dalam hati kenapa dia malah menutup mata seolah siap untuk apa yang akan dilakukan Biru selanjutnya.
Biru tersenyum geli menatap wajah cantik Jingga. “Cieee, geer. Ngapain kamu tutup mata, Ji? Katanya nggak suka.” Dia lantas melepaskan tangan dan menjauhkan wajahnnya dari wajah Jingga.
__ADS_1
Mendapati hal itu. Jingga merasakan wajahnya teramat panas, mungkin sudah memerah. Dia benar-benar malu. Gadis itu menatap Biru hampir menangis.
“Kamu ngeselin.” Sentak Jingga akhirnya seraya beranjak dari duduknya. “Aku nggak mau ketemu kamu lagi.” Imbuhnya kemudian, lalu buru-buru pergi dari hadapan Biru sambil merutuki dirinya sendiri karena tidak terkontrol. Padahal, dia biasanya santai saja jika berada di dekat Langit, Ken, atau teman cowok lainnya. Tapi kenapa berbeda saat bersama Biru?
“Jii, hei….” Biru kelimpungan melihat Jingga yang tiba-tiba pergi. Dia berusaha mengejar, tapi Jingga sudah menaiki angkot dan bergerak jauh.
Biru menatap angkot itu bingung sambil menggigit bibirnya. “Bego.” Umpatnya kemudian. Tersadar karena sudah menggoda Jingga berlebihan. Seharusnya dia melakukannya perlahan.
********
“Hiks, malu-maluin banget.” Rengek Jingga yang kini sedang bergelung di bawah selimut, menutupi seluruh tubuhnya.
“Harusnya aku nggak nutup mata. Aaaaaakh.” Jingga membenamkan wajahnya pada bantal untuk meredam rasa malunya.
“Biru pasti ngira aku beneran kegeeran.” Dan Kejadian dua jam lalu saat di taman kota tadi terus terngiang-ngiang. “Tapi emang kegeera, sih.” Lanjutnya terus bergumam dan semakin membenamkan wajahnya pada bantal. Rasanya dia ingin mati saja.
“Hiks, mau ditaruh di mana muka aku kalau ketemu dia besok?”
“Minta pindah sekolah aja kali, ya?”
“Ngapain pindah segala, Ji?” Suara baritone yang tidak asing mengejutkan Jingga. Dia lantas buru-buru membuka selimutnya.
Langit melongo takjub melihat penampilan Jingga yang kacau. Seragam sekolah yang tadi saat mereka berpisah di sekolah masih bertengger rapi, kini sudah acak-acakan. Pun dengan rambut Jingga.
“Teman siapa, sih? Kucel banget.” Langit bergidik jijik.
Jingga mendengus. “Apaan, sih?” Ucapnya sewot. Suasana hatinya benar-benar kacau. “Lagian kamu, tuh, ya, kalau mau masuk kamar aku ketuk dulu.” Tegurnya kemudian.
Menurut Jingga, meskipun mereka sudah sangat dekat seperti saudara, Langit tetap harus mengetuk dulu, mengingat dia tetaplah laki-laki dan Jingga seorang perempuan.
“Ya ampuuun, aku udah gedor-gedor dari tadi, kali. Kamunya aja yang nggak nyaut. Aku tuh takut kamu kenapa-kenapa di dalem. Ya udah, deh, langsung masuk.” Jelas Langit seraya berjalan dan duduk di tepi tempat tidur.
“Ya udah, terus kamu mau ngapain ke sini? Kita nggak ada tugas kelompok, kan?” Tanya Jingga.
Langit menggeleng, lalu mengangkat goodie bag bertuliskan brand ternama di depannya. Alis Jingga terangkat tak mengerti.
“Dari Kak Senja.” Langit menyerahkan goodie bag tersebut yang langsung dirampas dan dibuka secara tak sabaran oleh Jingga.
Mata bening gadis remaja itu berbinar begitu mendapati sneakers terbaru idamannya.
“Aku yang milih warnanya. Suka, kan?” Langit berucap bangga.
“Bilangin makasih sama Kak Senja.” Sahut Jingga tak peduli dengan Langit, membuat cowok itu merengut kesal. “Ya udah kalau gitu kamu pergi sana.” Usirnya kemudian.
“Ngeselin banget, bukannya bilang makasih.” Sungut Langit.
“Yee, kan aku udah bilang, bilangin makasih sama Kak Senja. Kan Kak Senja yang beliin, bukan kamu.” Jingga tak mau kalah.
“Hiish, udah, ahh, males.” Langit beranjak dari duduknya. Namun dia kembali berbalik sebelum melangkahkan kakinya untuk keluar dari kamar Jingga.
“Ngomong-ngomong, tadi aku denger kamu mau pindah sekolah. Kenapa?”
Jingga merasakan wajahnya kembali memanas. Kejadian di taman tadi sore yang mungkin hampir saja dia melupakannya, kini terngiang kembali.
“Aiish, malu-maluin.” Gumamnya geram sendiri begitu teringat. Dia lantas dengan cepat turun dari tempat tidur dan berlari ke kamar mandi, membuat Langit keheranan melihatnya.
********
To be continued. . . .
__ADS_1