Still In Love

Still In Love
EP. 42. Tasting


__ADS_3

********


Pagi hari setelah menikmati libur akhir pekan, Biru kembali bekerja. Membuka pintu ruangan, langkah kakinya dia bawa ke meja kerja yang ada di sana.


Biru tertegun saat matanya mendapati sebotol yoghurt strawberry di atas meja dengan post it yang tertempel pada botolnya. Tangannya terulur untuk mengambil susu fermentasi itu, bisa dia tebak siapa yang menyimpan itu di mejanya.


Sudut bibirnya tertarik saat dia membaca sederet kalimat yang tertulis pada post it tersebut.


“Minum ini dan ingat aku di setiap sesapannya.”


_Orang Cantik_


Itulah sederet tulisan yang Biru baca. Tidak membutuhkan waktu lama, Biru kemudian menancapkan sedotan pada tutup botol yoghurt itu dan mulai meminumnya.


“Dasar kekanak-kanakan.” Gumam Biru gemas setelah menyesap habis yoghurtnya. Dia lalu menyimpan post it di laci meja kerjanya. Namun saat dia hendak membuang botol yoghurt itu, tiba-tiba memorinya memunculkan ingatan masa lalunya, dia pandangi botol yoghurt tersebut sembari terus berusaha mengingat lebih jauh.


Sekelebat ingatan yang menampilkan Jingga tengah menggigit-gigit kecil sedotan pada botol yoghurt terlihat jelas dalam ingatannya. Bibir merah jambunya yang memainkan sedotan terlihat sangat manis.


Biru memjamkan mata sembari menggelengkan kepalanya. Dia merutuki ingatannya yang memunculkan moment itu. Rasanya, dia ingin pergi ke masa itu dan membenamkan bibirnya di bibir Jingga untuk menggantikan sedotan itu. Bagaimana saat itu dia bisa tahan dan hanya memperhatikannya begitu saja?


Biru jadi teringat ucapan Jingga kemarin. Gadis itu mengatakan jika otaknya sudah tercemar. Sepertinya Biru harus mandi kembang tujuh rupa untuk membuat kepalanya kembali waras.


Ketukan pintu menghentikan lamunan Biru. Dia kemudian membuang botol yoghurt itu ke tempat sampah sebelum akhirnya mempersilahkan orang di luar untuk masuk.


“Masuk.” Sahut Biru mempersilahkan.


Setelah mendengar sahutan dari si pemilik ruangan, terlihat seseorang mendorong pintu dan masuk menghampiri Biru yang tengah duduk di kursi kerjanya.


“Ada apa, Lun?” Tanya Biru yang mendapati Luna masuk ke ruangannya.


“Kamu udah sarapan?” Tanya Luna menyunggingkan senyum manis di bibirnya.


“Udah. Aku berangkat dari rumah Papa.” Jawab Biru yang dibalas anggukkan Luna tanda mengerti.


“Kalau gitu, gimana kalau kita minum kopi?” Ajak Luna seraya mengangkat termos mini berisi kopi yang sudah dia siapkan dari rumah.


“Sorry, Lun. Kayaknya aku nggak bisa.” Tolak Biru halus, membuat senyum manis di wajah Luna perlahan menyurut mendengar penolakan itu.


“Ya udah, deh, nggak apa-apak.” Sahut Luna pelan seraya memasang senyum yang dipaksakan.


“Kamu bisa ngasih kopinya buat orang yang lain.” Ucap Biru kemudian, membuat Luna sedikit kecewa.


Luna mengangguk samar. “Ung, kalau gitu aku permisi.” Pamitnya sambil berlalu pergi dari ruangan Biru. Tapi tak lama Biru memanggil dan terpaksa membuatnya harus berbalik.


“Ada apa, Bi?” Tanya Luna, dalam hatinya terselip harapan Biru akan berubah pikiran untuk mau minum kopi bersamanya.


“Kenapa kamu nggak bilang kalau malam itu Jingga nelepon aku?”


Hampir saja Biru melupakan pertanyaan yang ingin dia tanyakan sejak kemarin pada Luna. Setelah mendengar Jingga mengatakan bahwa dia meneleponnya saat di restoran malam itu, dan Luna yang menjawabnya. Biru sama sekali tidak mengetahui hal itu sebelumnya.


“Malam itu?” Alis Luna bertaut bingung, gagal mencerna pertanyaan Biru.


“Waktu kita makan malam di restoran Italia.” Biru memperjelasnya, sontak hal tersebut berhasil membuat Luna terkesiap. Tapi gadis itu sebisa mungkin berusaha menyembunyikan keterkejutannya.


“Ohh, waktu itu.” Cicit Luna menjeda kalimatnya sebentar dan segera memasang raut wajah bersalah. “Maaf sebelumnya karena aku udah lancang angkat telepon kamu waktu kamu lagi di toilet.”


“Bukan itu yang mau aku denger. Masalahnya kenapa kamu nggak bilang kalau Jingga nelepon aku?” Biru yang sedikit kesal mengulangi pertanyaannya.


“Maaf, aku lupa, Bi.” Cicit Luna. Hatinya kembali menahan geram, mengira Jingga pasti sudah mengadukannya.


“Jingga pasti marah, ya?” Tanya Luna yang dibalas gelengan kepala dari Biru.


“Aku harap, lain kali kalau lihat hape aku tergeletak, nggak usah coba-coba buat angkat telepon atau apapun itu.” Tegas Biru dingin, tatapannya penuh peringatan.


Luna menatapnya kecewa. “Oke. Sekali lagi aku minta maaf, Bi. Waktu itu aku angkat telepon kamu karena takut ada hal yang penting.”


Gadis itu berusaha membela diri. Biru hanya menganggukkan kepalanya tanda memaklumi.


“Maaf, Luna. Aku agak sibuk.” Tutur Biru mengusir dengan lembut saat melihat Luna masih berdiri mematung di hadapannya. Gadis itu mengerti, lalu beranjak keluar dari ruangan Biru dengan perasaan kecewa.


********

__ADS_1


Siang harinya Jingga ditemani Hana makan siang di ruangannya. Sebelumnya dia sudah menghubungi Biru dan mengajaknya makan siang di atap, tapi cowok itu menolak karena masih sibuk melayani beberapa pasien dan mungkin akan makan siang telambat.


Alhasil, Jingga mengajak Hana untuk menemaninya makan siang dengan makanan yang sudah dia pesan sebelumnya, yang berniat untuk dimakan bersama Biru.


“Ini cincin apa?” Tanya Hana yang tiba-tiba mencekal tangan Jingga sesaat setelah Jingga memperbaiki beberapa sulur anak rambut yang terlepas dari ikatannya. Jingga mengerjap, sorot mata Hana menatapnya penuh selidik.


Hana yang baru menyadari ada cincin yang tersemat di jari manis Jingga tergelitik untuk bertanya. Pasalnya sejak bertemu dengan Jingga, Hana tidak pernah melihat gadis itu memakai aksesoris di tangannya kecuali jam tangan.


“I–ini cuma cincin.” Jawab Jingga sedikit gelagapan sembari menarik tangannya dan langsung dia gunakan untuk mengambil gelas minuman untuk mengalihkan rasa penasaran Hana. Tapi pandangan gadis itu masih tertuju padanya seolah meminta jawaban lebih.


“Ini cincin hadiah. Orang tua aku yang ngasih, jadi sayang kalau nggak dipake.” Jawab Jingga berbohong.


“Ohh, gitu. Aku kira cincin tunangan.” Ucap Hana melanjutkan kembali untuk menikmati makananya. Sementara Jingga, hampir saja dia tersedak saat mendengar ucapan Hana. Lantas buru-buru dia minum air putih yang ada di hadapannya.


Di tengah mereka menikmati makan siang, tiba-tiba pintu ruangan Jingga terbuka tanpa ada yang mengetuknya terlebih dahulu. Hana dan Jingga yang sedang fokus mengunyah makanan sontak mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.


Kening Hana berkerut saat melihat wanita paruh baya yang tampak anggun masuk dan menghampiri mereka.


“Bunda . . . .” Seru Jingga setelah menelan makanannya. Dia terkejut melihat kedatangan ibunya yang tiba-tiba. Padahal, kemarin baru saja dia mengunjungi rumah orang tuanya. Untuk apa sekarang wanita itu mengunjunginya?


Mendengar Jingga memanggil wanita itu dengan sebutan Bunda, Hana yakin itu ibunya Jingga. Buru-buru dia berdiri dan menyapa wanita paruh baya itu dengan sopan.


“Lanjutin aja makannya, Nak, jangan sungkan. Kamu pasti Hana, ya? Jingga sering cerita tentang kamu.” Ucap Bunda menenangkan dengan nada lembut. Hana hanya menganggukkan kepala dan kembali duduk untuk menyelesaikan makan siangnya.


“Kenapa nggak telepon aku dulu kalau Bunda mau ke sini? Aku, kan, bisa jemput Bunda di lobby.” Jingga protes karena mendapati ibunya yang datang tiba-tiba.


“Sengaja. Biar surprise aja gitu, Ji.” Jawab Bunda sekenanya sembari berjalan untuk duduk di sebelah Jingga.


“Bunda tahu dari mana ruangan aku di sini?” Tanya Jingga penasaran, mengingat ini pertama kali Bunda datang mengunjunginya di rumah sakit.


“Bunda cari sendiri lah, Ji. Itu gampang buat Bunda. Cari kaos kaki kamu yang hilang sebelah aja Bunda bisa, apalagi cuma ruangan kamu yang jelas udah ada namanya.” Sahut Bunda bangga, membuat Jingga memutar bola matanya malas. Sementara Hana hanya tersenyum geli memperhatikan interaksi anak dan ibu itu.


“Terus kenapa main masuk aja, nggak ngetuk pintu dulu?” Jingga kembali bertanya seraya memasukkan makanan ke mulutnya.


“Ish. Emang harus, ya, Bunda ngetuk pintu ruangan anaknya sendiri?” Gerutu Bunda sembari memukul lengan Jingga cukup keras, hingga membuat gadis itu sedikit meringis.


“Bunda. . . .” Jingga melayangkan tatapan protes. Selain itu, dia juga malu karena Hana ada bersamanya saat ini. Hana tampak menahan tawanya melihat pemandangan tersebut.


Hana menatap Jingga penasaran saat wanita paruh baya itu menyebut nama Biru. Jingga dengan segera sadar akan hal itu.


“Kucing. Aku punya kucing namanya Biru.” Celetuk Jingga asal diiringi cengiran kakunya. Sementara Bunda yang mendengar itu langsung menghunuskan tatapan tajam padanya seolah siap untuk menusuk Jingga.


“Eung, Han. Kamu udah beres belum makannya?” Tanya Jingga melirik makanan Hana sudah habis dengan tatapan tak enak hati.


Hana yang mengerti bahwa Jingga ingin dirinya keluar dari ruangan langsung membereskan sisa-sisa makananya dan berpamitan untuk pergi.


Selepas kepergian Hana, Bunda langsung saja melayangkan pukulan gemas di lengan Jingga.


“Aww. Bunda ini namanya KDRT.” Protes Jingga sembari mengusap lengannya. Bunda hanya mendengus kesal, tak peduli dengan protes yang dilayangkan sang anak.


“Lagian, masa, menantu Bunda yang ganteng dikatain kucing.”


“Calon, Bun.” Jingga mengoreksi ucapan Bunda. Wanita paruh baya itu hanya mengedikan bahunya tak peduli.


“Ohh, iya. Bunda mau ngapain ke sini?”


“Tadinya Bunda mau nganter Kak Senja ke dokter kandungan. Jadi sekalian lihat ruangan kamu, deh.” Jawab Bunda santai.


“Kak Senja hamil lagi?” Tanya Jingga sembari membelalakan matanya.


“Kayaknya iya. Bunda nggak nemenin dia periksa, soalnya kakak kamu Bintang keburu datang, jadi dia yang nemenin sekarang.” Jelas Bunda yang awalnya akan menemani menantunya periksa kandungan karena Bintang sibuk, malah tidak jadi karena tiba-tiba saja anak sulungnya itu datang menyusul.


“Kak Bintang pinter banget bikin anak.” Gumam Jingga pelan, tapi masih terdengar oleh Bunda. Wanita itu hanya mendengus geli saat mendengarnya.


“Bilangin sama dia, kali ini kasih aku keponakan cewek yang sama cantiknya kayak aku.” Ucap Jingga kemudian, mendadak bersemangat dengan kabar gembira itu.


“Kalau mau yang mirip sama kamu, ya bikin sendiri, dong.” Sahut Bunda merasa gemas dengan anak bungsunya itu.


“Gimana caranya, kan aku solo sekarang?” Tanya Jingga dengan polosnya.


“Ya nanti kalau kamu udah nikah sama Biru.” Jawab Bunda sembari mencubit hidung Jingga dengan gemas.

__ADS_1


Jingga langsung tertegun, lalu mendesis miris. Merasa sangsi jika dia dan Biru akan sampai ke tahap itu.


“Ji, kok malah bengong?”


“Eh– ohh, enggak.” Jingga tersadar. Sejurus kemudian tersenyum jahil. “Gimana kalau aku minta Kak Biru buat hamilin aku? Depe duluan gitu.”


“Awas kamu berani ngelakuin itu. Bunda pites kamu.”


Sontak saja ucapan nyelenehnya tersebut langsung dibalas beberapa pukulan dengan bantal sofa dari Bunda di lengan dan punggungnya. Gadis itu terkekeh seraya meminta ampun agar Bunda menghentikan aksinya yang terus menerus memukulnya.


********


Setelah mengantar Bunda dan menemui kakaknnya di lobby rumah sakit, Jingga hendak kembali ke ruangannya. Jadwalnya senggang sampai jam tiga sore, jadi dia berencana untuk bersantai di ruangannya sembari menonton drama Korea bergenre komedi romantis kesukaannya.


Sambil menunggu lift membawanya ke lantai tujuan, Dia mengambil yoghurt strawberry dari saku jas yang sempat dia bawa dari ruangannya untuk diberikan kepada keponakannya Abrielle. Tapi sayangnya bocah itu ternyata tidak ikut. Alhasil, dia malah meminum sendiri yoghurt tersebut.


Bosan menunggu lift yang terasa berjalan sangat lambat, Jingga menyandarkan tubuhnya pada dindinng lift sembari memainkan sedotan yang menancap di botol yoghurtnya.


Mata Jingga menatap lurus ke arah pintu lift yang terbuka. Dia tersenyum dan membungkukan sedikit badannya saat mendapati Biru masuk ke dalam lift.


“Nggak ada orang lain. Kamu bebas kalau mau ngelakuin apapun.” Tutur Biru yang melihat Jingga bersikap formal padanya.


“Emangnya aku mau ngelakuin apa?” Gadis tiu menggerutu pelan, hingga terdengar samar di telinga Biru. Biru langsung memicingkan matanya tajam ke arah Jingga.


“Udah makan siang?” Tanya Jingga begitu menyadari Biru tengah menatapnya. Biru menjawab dengan anggukkan kepala tanpa berbicara.


“Ohh, oke, deh.” Ucap Jingga dan kembali menyesap yoghurt miliknya.


Biru tertegun saat melihat gadis itu memainkan dan menggigiti sedotannya. Pemandangan ini persis yang dia lihat di dalam ingatannya tadi pagi.


Dia benar-benar tidak tahan melihatnya, ingin sekali dia menggantikan sedotan itu. Sial. Seumur hidupnya, tidak pernah sekalipun Biru menyangka akan merasa iri pada sebuah sedotan.


“Kamu nggak mau nawarin aku?” Tanya Biru tiba-tiba, membuat Jingga menoleh ke arahnya dengan kening berkerut.


“Ini?” Tanya Jingga sambil mengangkat botol yoghurtnya yang sudah kosong. “Kalau kamu mau, ada banyak di ruangan aku.”


“Aku mau yang kamu minum sekarang.” Sahut Biru sambil mengedikkan dagu ke arah botol yoghurt di tangan Jingga.


“Tapi ini udah habis.” Ucap Jingga sambil menggoyang-goyangkan botol yang sudah kosong.


“Nggak apa-apa. Aku masih bisa nyicip sedikit.”


Jingga terdiam dengan alis bertaut bingung mendengarnya, hingga dia tak sadar Biru sudah berdiri di hadapannya, mengunci tubuhnya dengan satu tangan bertumpu pada dinding lift, sementara sebelah tangannya dia letakkan di pinggang Jingga. Tatapannya lurus pada satu objek, bibir kemerahan Jingga.


“Kak . . . .”


Baru saja Jingga akan protes, Biru langsung membenamkan ciuman yang cukup lama di bibir gadis itu. Sisa-sisa yoghurt yang baru saja diminum Jingga masih bisa Biru rasakan saat dia menjelajahi rongga mulut gadis itu.


“Maksud aku nyicip kayak gini.” Bisik Biru setelah mengakhiri ciumannya.


“Ish, kamu, tuh, ya. . . .” Kesal Jingga dengan wajah yang sudah merona merah. Sudut bibir Biru terangkat, seolah mengejek Jingga yang hanya bisa diam mematung saat tadi dia menciumnya.


“Mau apa?” Jingga menangkup kedua sisi wajah Biru yang hampir menciumnya lagi.


“Aku mau lagi.” Jawab Biru santai sembari melepaskan tangan Jingga dari pipinya, untuk kemudian kembali membenamkan bibirnya di bibir Jingga.


Jingga berusaha mendorong tubuh Biru, namun tubuh cowok itu tak bergerak sama sekali. Biru malah sibuk menggigit-gigit kecil bibir Jingga agar gadis itu membuka mulutnya. Selain itu, tangannya tak tinggal diam, satu tangannya menggerayang ke atas, mulai berani mengusik dada Jingga, hingga berhasil membuat tubuhnya menegang.


Saat bibir mereka masih saling bertautan, tiba-tiba Jingga melihat pintu lift terbuka. Jingga sebisa mungkin melepas paksa ciumannya.


“Kenapa sih?” Biru yang masih dalam posisi mengunci tubuh Jingga terlihat kesal. Sementara Jingga, kini dia sudah menundukkan kepalanya dengan wajah memerah antara menahan malu dan takut sekaligus.


“Benar-benar nggak tahu tempat.”


Biru terlonjak kaget dan segera menjauhkan tubuhnya dari Jingga. Bisa dia lihat dengan jelas, di depan pintu lift berdiri sang ayah yang menatap mereka dengan geram, serta sekretarisnya yang memandang ke segala arah, berusaha menghindari untuk melihat pasangan mesum yang sedang terciduk itu.


“Kalian! Ikut ke ruangan sekarang juga.” Perintah Om Rendi tegas. Beliau berlalu dari hadapan mereka dan memilih untuk menaikki lift lain.


********


To be continued . . . .

__ADS_1


__ADS_2