Still In Love

Still In Love
EP. 90. Tempted


__ADS_3

*********


Biru bernapas lega saat dia berhasil keluar dari ruangan pasien yang dia sebut cewek gila itu.


Si cewek gila, Shanna, bagaimana bisa seorang gadis cantik bersikap terlalu agresif seperti itu? Tidak ada kalem-kalemnya, berbeda sekali dengan Jingga. Tanpa sadar, Biru jadi membandingkan-bandingkan gadis bar-bar itu dengan istrinya.


Masih jelas dalam ingatannya saat Shanna tak melepaskan lengannya, memaksa untuk memberinya nomor telepon, dan mengajaknya untuk mendekatkan diri meskipun Biru sudah mengatakan bahwa dirinya memiliki istri.


“Lebih cantik istri kamu atau aku?” Tanya Shanna sesaat setelah Biru menjawab pertanyaan sebelumnya.


Biru menghembuskan napasnya kasar, dia tak percaya gadis ini benar-benar sakit. Cedera di lehernya cukup parah, kalau saja dia manusia normal, pasti akan memilih beristirahat dengan berbaring di atas ranjang daripada mengganggu orang seperti ini. Gadis bernama Shanna ini benar-benar sudah gila.


“Apa kamu merasa cantik?” Baik Asisten Perawat ataupun ibu Shanna, keduanya sama-sama menahahan tawa mendengar balasan Biru yang seolah mengatakan bahwa di matanya Shanna tidak cantik sama sekali.


“Yang bener aja. Buka mata kamu, Prof.” Shanna terperangah tak percaya. Pasalnya, Biru adalah orang pertama yang mengatakan dirinya tidak cantik walaupun secara tidak langsung. Dan itu malah semakin membuatnya tertantang untuk mendekati laki-laki ini.


“Bagi saya, tidak ada yang lebih cantik selain istri saya.” Biru tersenyum mengingat Jingga. Memang begitu kenyataannya, sejak dulu hingga sekarang, Jingga adalah gadis paling cantik di matanya.


“Kamu buta.” Sungut Shanna.


“Dan mata saya tertutup untuk perempuan lain. Saya hanya bisa melihat istri saya, tidak dengan yang lain.” Lanjut Biru seraya melepaskan kembali tangan Shanna dari lengannya. Dia lantas segera menjauhkan jarak agar gadis itu tak bisa menjangkaunya lagi.


“Wow. Ganteng, sukses, tegas, dan setia. You’re the kind of guy that’s hard to find.” Shanna malah tersenyum kagum ke arah Biru. “Aku makin suka.”


Biru memutar bola matanya jengah. “Terserah.”


“Maaf, masih ada pasien lain yang harus saya periksa. Permisi.” Pamit Biru yang langsung berlalu pergi dari hadapan gadis itu. Bisa ikutan gila dia kalau lama-lama meladeninya.


“Linda.” Biru memanggil Asisten Perawat yang berjalan mengekor di belakangnya.


“Iya, ada apa, Prof?” Asisten perawat bernama Linda itu mensejajarkan langkahnya dengan Biru.


“Ini kunjungan pasien terakhir, kan?” Tanya Biru memastikan.


“Iya, ini yang terakhir.” Biru tersenyum senang mendengarnya. Baguslah, tidak ada operasi, tidak ada kunjungan pasien lagi, tidak ada jadwal membimbing dokter residen, dan tidak ada rapat, dia senggang sekarang.


“Mau pulang sekarang?” Tanya Linda.


“Ke ruangan Jingga.”


Linda tersenyum geli melihat Biru yang langsung berlari tak sabaran begitu saja.


“Tck, dasar pengantin baru.” Cibirnya seraya menggeleng-gelengkan kepala. Selama lebih dari dua tahun dia bekerja dengan Biru, tak pernah sekalipun Linda melihat atasannya seceria itu.


********


Biru berjalan di sepanjang koridor menuju ruangan istrinya. Sebelumnya dia mendapatkan pesan dari Jingga yang mengatakan sedang makan bersama Langit dan Hana.


Peraturan baru untuk Jingga, dia harus mengirim pesan dan melaporkan semua kegiatan yang dilakukannya pada Biru saat jauh darinya.


Tck, padahal mereka bekerja di tempat yang sama. Tapi meski Jingga kesal, gadis itu tetap melakukannya daripada harus berdebat dengan Biru yang ujung-ujungya pasti akan kalah juga.


Biru membuka pintu ruangan Jingga tanpa mengetuk terlebih dahulu. Sesampainya di dalam, dia melihat istrinya sedang bertengkar kecil dengan Langit. Dan ini sudah biasa Biru lihat, tak pernah sehari saja dia melihat mereka akur tanpa harus adu mulut.


“Aku bilang udah kenyang. Jadi mual, kan?” Terdengar nada kesal dari sang istri begitu dia berjalan menghampirinya.


“Lho, kok nyalahin? Salah kamu sendiri beli makanan kebanyakan.” Sahut Langit tak kalah kesal.


“Ya emang salah kamu.” Balas Jingga sewot.


“Terus sekarang gimana? Masa kami berdua yang ngabisin.” Ketus Langit. Saking asyiknya bertengkar, sepertinya tak ada yang menyadari kehadiran Biru. Bahkan Hana ikut menjadi wasit di antara Jingga dan Langit.


“Ada apa, sih?” Biru langsung mendaratkan satu kecupan di pelipis Jingga begitu dia menghampiri dan ikut duduk di sebelahnya. Semua orang yang mendapati Biru datang tiba-tiba sontak mengalihkan perhatian padanya.


Lantas Langit mengadukan bahwa Jingga membeli banyak makanan, tapi tak ada yang dimakannya sedikitpun dan malah menghabiskan sushi milik Hana, serta meminta dia dan Hana untuk menghabiskan semua makanan yang dibelinya.


“Sayang, kok gitu? Kamu kalau beli sesuatu, cukup yang kamu mau aja.” Biru menyambar jus kiwi dari tangan Jingga dan meminumnya.


“Tadi aku mau semuanya.” Sahut Jingga yang masih merasa tidak nyaman dengan perut bagian atasnya. Terlebih saat dia kembali melihat sashimi, membuat rasa mual itu kembali muncul.


“Dan kamu malah makan sushi punya Hana?” Jingga terdiam tak menyahuti. Dia sibuk menarik napasnya dalam-dalam untuk mengurangi rasa mualnya agar tidak muntah.


“Maaf atas sikap istri saya, Hana. Nanti makanan kamu saya ganti tiga kali lipat.” Biru beralih pada Hana.


Ucapanya tersebut membuat Hana kelabakan. “Terima kasih, tapi itu tidak perlu.”


“Santai aja, Han. Kamu nggak perlu canggung, jangan anggap dia Kepala Rumah Sakit kalau lagi kumpul gini.” Ujar Langit saat melihat perubahan raut wajah Hana yang tidak nyaman. Dan ucapan Langit itu disetujui oleh Biru. Laki-laki itu meminta pada Hana untuk bersikap santai padanya.


“Anggap aja dia sopirnya Jingga atau kacungnya juga nggak apa-apa.” Ucap Langit jenaka, membuat Jingga yang sedang mengatur pernapasannya seketika tergelak.


“Sialan lo.” Dengus Biru seraya melemparkan satu sumpit bekas Jingga ke arah Langit.


“Haha, benar Han. Anggap dia ini sopir aku.” Timpal Jingga kemudian.


“Paling bisa kamu kalau ngeledek orang.” Biru menarik hidung Jingga gemas hingga gadis itu berhenti tertawa.


“Kakak. . . .” Rengek Jingga manja sembari melepaskan tangan Biru dari hidungnya. “Merah, kan ini?” Lantas mengusap-usap hidungnya yang memerah.


“Mana sini aku lihat?” Biru menangkup kedua sisi wajah Jingga. “Makin manis kalau merah. Kayak stroberi, tahu, nggak?” Ledeknya kemudian seraya mendaratkan satu kecupan di ujung hidung Jingga.


Biru tak sadar bahwa sikap manisnya pada Jingga ini diperhatikan oleh dua orang yang sedang duduk di hadapannya.


Yang satu melihatnya dengan tatapan mencibir, dan yang satu melihat mereka seolah itu adegan romantis dalam drama Korea. Hana tak percaya, ternyata Prof. Biru, si kulkas sepuluh pintu yang selalu terlihat dingin dan tegas bisa bersikap semanis ini.


“Ehem . . .” Langit berdehem, memberi kode pada mereka agar sedikit peka bahwa dia dan Hana masih manusia, bukan makhluk tak kasat mata.


“Kalian kira-kira, dong. . . .” Teguran Langit berhasil menghentikan Biru yang hendak mencium bibir Jingga.


Jingga yang tersadar refleks mendorong tubuh Biru agar sedikit menjauh darinya.


“Eung . . . .” Jingga menggaruk tengkuknya yang tak gatal, dia jadi merasa kikuk. Begitupula dengan Biru yang mengalihkan perhatiannya dengan meminum jus kiwi milik Jingga.


“Makannya puas-puasin di rumah.” Langit mendumel karena kedua sahabatnya ini benar-benar tidak tahu tempat dan keadaan.


“Ayo makan lagi, Han.” Ujar Langit kemudian, berusaha keluar dari situasi tak nyaman yang tiba-tiba melanda. Hana mengangguk, lalu mulai menyumpit takoyaki dengan perasaan canggung karena kehadiran Biru.

__ADS_1


“Bi, cepetan lo ikut bantuin buat ngabisin semua makanan ini.” Pinta Langit dengan mulut penuh.


Biru menghela napas berat, sebenarnya dia masih kenyang, tapi semua makanan ini sangat sayang kalau harus dibuang. Lagipula, sepertinya Langit dan Hana juga tidak akan sanggup kalau menghabiskannya berdua saja.


“Kamu nggak mau makan lagi?” Tanya Biru sesaat setelah dia megambil soba yang belum tersentuh sama sekali.


“Enggak, aku udah kenyang. Kamu aja yang makan.” Jingga kembali menyesap jus kiwinya.


“Kalau aku gendut gimana?” Tanya Biru.


“Nggak apa-apa.”


“ABS aku hilang?”


Langit memutar bola matanya malas menyaksikan interaksi manis pasangan pengantin baru di depannya.


“Nggak apa-apa juga.”


“Yang bener?” Biru memicingkan matanya menggoda sang istri. “Aku nggak seksi lagi, lho?”


Jingga mengangguk. “Beneran nggak masalah. Aku bisa cari cowok lain yang lebih seksi nanti. Dokter Nathan misalnya”


Langit dan Hana melipat bibirnya menahan tawa. Sementara Biru hanya mendengus dengan wajah ditekuk.


“Becanda aku.” Jingga mengusap gemas dagu Biru diiriringi kekehan geli. “Udah, ahh, cepetan makan.”


********


Sekitar jam lima sore, Biru dan Jingga sudah pulang dari rumah sakit dan tiba di apartemen. Namun, bukannya membersihkan diri saat tubuh mereka lengket setelah bekerja, mereka malah bermalas-malasan di atas tempat tidur tanpa ada yang mau beranjak terlebih dahulu.


“Kamu mandi duluan, sana.” Perintah Biru pada Jingga yang kini menempel dan menindih tubuhnya dengan tangan yang sibuk bermain-main dengan kancing kemejanya.


“Males aku.” Jingga merengek manja. “Kamu duluan aja, deh.” Timpalnya kemudian. Tangannya lalu beralih memainkan cuping telinga Biru menggunakan ibu jari dan telunjuknya, mengelus, kemudian menarik-nariknya dengan perlahan.


“Aku juga lagi males banget.” Biasanya saat pulang bekerja, Biru selalu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Namun, entah kenapa hari ini bawaannya malas. Mungkin, karena tadi sore dia terlalu banyak makan hingga membuatnya malas gerak seperti ini.


“Ya udah, kita gini dulu aja sebentar.” Jingga lantas menggerak-gerakkan tubuhnya, untuk mencari posisi yang lebih nyaman. Namun, tanpa sadar lututnya menyentuh pusat tubuh Biru yang masih terbungkus kain di bawah sana, dan yang Jingga tahu itu adalah Biru nomor dua.


“Assshh, Ji. . . .” Biru mengerang sembari memejamkan matanya.


“Kenapa, Kak?” Dan sifat dasar Jingga adalah terkadang tidak peka. Sekarang gadis itu malah asyik menggigit lembut bagian belakang telinganya, dan apa yang dilakukan Jingga membuat Biru semakin tersiksa.


“Ini masih sore, Ji. Kamu jangan mancing-mancing aku kayak gini.” Ujar Biru dengan suara yang mulai memberat. Matanya kembali terpejam.


Sial, dia menikmati sentuhan Jingga di telinganya. Ingin sekali rasanya dia menggulir dan mengungkung tubuh Jingga di bawah tubuhnya saat ini juga. Tapi, Biru tidak suka melakukannya dalam keadaan tubuh lengket dan bau keringat seperti ini.


“Mancing gimana?” Biru mendongakkan kepalanya saat Jingga kini menciumi daerah leher di bawah jakunnya. Itu adalah titik sensitif Biru. Dia benar-benar tidak tahan.


“Ji. . . .” Desah Biru dengan napas yang mulai memburu. “Jangan sekarang.” Lanjutnya susah payah.


“Tanggung. . . .” Jingga yang awalnya hanya ingin tiduran di atas tubuh maskulin suaminya, tapi entah dorongan dari mana, dia jadi ingin menciumi Biru seperti ini. Tidak hanya itu, dia ingin lebih. Gairahnya terlanjur bergejolak saat ini. “Aku, kok, jadi pengin, ya, Kak?”


“Ji, kamu. . . .” Biru terperanjat saat melihat Jingga sudah berhasil membuka sebagian kancing kemejanya. Apa istrinya benar-benar akan melakukannya sekarang? Aneh sekali, biasanya dia yang susah payah meminta.


Biru senang Jingga berinisiatif sendiri, tapi kenapa harus sekarang? Di saat tubuhnya lengket dan bau keringat. Dia tidak nyaman. Lebih tepatnya, dia tidak mau membuat Jingga tidak nyaman dengan bau keringat dan tubuh lengketnya.


“Ya ampun, Jingga. . . .” Biru menggeliat saat Jingga mengecupi dan menyesap dadanya, sama seperti yang selalu dia lakukan pada gadis itu. Biru tak menyangka sudah mengajari istrinya dengan sangat baik.


“Eungh, Kak. . . .” Jingga melenguh pelan saat Biru bergerak mengelus-elus punggungnya.


“Ji. . . .” Tiba-tiba Biru berguling, hingga membuat tubuh Jingga berada di bawahnya sekarang.


“Jangan salahin aku kalau kamu melewatkan makan malam hari ini.” Ujarnya dengan deru napas tak beraturan.


“Aku nggak butuh makan malam.” Sahut Jingga lirih, dia lantas mengalungkan kedua tangan di leher Biru dan mulai mencium bibirnya dengan tak sabaran.


Di saat ciuman mereka kian memanas, dering ponsel milik Biru sontak menghentikan kegiatan mereka.


“Hape kamu.” Ucap Jingga saat tautan bibir mereka terlepas.


“Biarin aja.” Biru kembali membenamkan bibirnya di atas bibir Jingga. Mereka kembali berciuman dengan tangan Biru yang sudah merayap, menjamah setiap inchi tubuh Jingga yang masih terbalut pakaian. Namun, dering ponsel milik Biru tak berhenti hingga membuatnya terganggu.


“Siapa, sih?” Biru menggeram kesal. Padahal, dia sedang asyik bermain-main dengan dada Jingga. Awas saja jika telepon itu tidak penting, dia akan memarahi siapapun itu yang meneleponnya.


Biru lantas bangkit dari atas tubuh Jingga, lalu turun dari tempat tidur untuk mengambil ponselnya yang tadi dia letakkan di atas sofa. Laki-laki itu tampak awut-awutan dengan rambut yang sudah seperti orang kesetrum, serta kemeja yang sudah sangat kusut akibat ulah istrinya.


Lantas diraihnya ponsel itu dengan cepat, lalu dia berjalan kembali ke arah tempat tidur sambil melihat nama si penelepon yang tertera di layar ponsel.


“Siapa?” Tanya Jingga yang kini duduk sambil mengancingi kemeja yang beberapa kancingnya sempat Biru buka.


“Papa.” Biru menunjukkan layar ponselnya pada Jingga sesaat setelah dia duduk di ujung tempat tidur.


Biru lalu menjawab panggilan dari Papa. Sekitar lima belas menit, Jingga mencoba mencuri dengar pembicaraan mertua dan suaminya itu dengan menempelkan tubuhnya, memeluk Biru dari belakang.


“Kenapa?” Tanya Jingga begitu Biru membalikkan tubuhnya setelah panggilan telepon itu selesai.


“Besok, aku sama Papa harus pergi ke Surabaya. Katanya, pembangunan rumah sakit di sana bermasalah.” Jelas Biru.


Lantas dia menceritakan secara singkat bahwa proyek perluasan rumah sakit cabang Surabaya mengalami kecelakaan proyek yang disebabkan karena bangunan roboh. Ada beberapa pekerja yang menjadi korban tewas serta luka parah akibat tertimpa tembok bangunan.


“Berapa lama?” Tanya Jingga lesu.


Sejenak Biru berpikir, untuk kemudian dia menjawab. “Sekitar tiga sampai lima hari, mungkin paling lama satu minggu. Aku juga nggak tahu pasti.”


Biru hanya mengira-ngira, karena pasti akan ada banyak hal yang harus dia dan Papa urus di sana nanti.


“Kenapa?” Biru mengelus wajah istrinya yang berubah muram.


“Aku khawatir di sana nanti kamu ketemu Luna.” Jawabnya terang-terangan.


“Percaya sama aku. Seandainya aja aku ketemu dia di sana, aku pastikan nggak akan terjadi apa-apa.” Tutur Biru menenangkan. Sejenak Jingga terdiam, menatap mata suaminya dalam-dalam untuk mencari keyakinan di sana.


“Jangan lebih dari seminggu, ya?” Pinta Jingga memelas sembari mendekap erat tubuh Biru dengan manja.


“Aku usahain.” Biru mengecup puncak kepala Jingga.

__ADS_1


“Harus.” Jingga semakin mengeratkan dekapan tangannya.


“Atau kamu mau ikut aja?” Biru menyarankan seraya menarik diri tanpa melepaskan pelukannya. Dia tidak akan keberatan jika Jingga ikut dengannya, malah mungkin akan sangat senang.


Mata Jingga seketika berbinar mendengar ajakan Biru, namun seketika binar itu menyurut tatkala mengingat jadwal operasinya minggu ini cukup menumpuk.


“Tapi, jadwal aku sibuk.” Jawabnya sedih.


“Kan bisa minta dokter lain buat gantiin kamu.” Seru Biru.


“Nggak bisa! Aku udah sering banget kayak gitu. Nggak enak, lah, nanti aku dikiranya manfaatin keadaan karena aku istri kamu. Sekarang aja orang-orang pada ngejauhin aku karena sungkan.” Ujar Jingga menyayangkan sekaligus mengeluh.


Menghembuskan napas lemah. Sayang sekali, padahal dia dna Biru bisa sekalian berbulan madu kedua, sekaligus melindungi suaminya dari kemungkinan bertemu Luna atau perempuan lain sejenisnya.


“Terus, kamu maunya gimana? Aku nggak boleh pergi, nih?” Tanya Biru gemas.


“Yaa nggak gitu juga.” Cicit Jingga pelan. Kedua pipinya mengembung lucu, membuatnya terlihat semakin menggemaskan.


“Percaya sama aku.” Biru menangkup kedua sisi wajah Jingga hingga pandangan mereka bertemu dalam satu garis lurus. “Hum?”


“Yaaa terpaksa.” Jawab Jingga dengan berat hati, lalu menghembuskan napas berat. Baru saja satu bulan mereka menikah, kenapa sudah mau ditinggal saja, sih?


Biru tersenyum geli seraya memberi usapan lembut di pipi gadis itu. “Ya udah, kalau gitu untuk sementara, selama aku nggak ada, kamu tinggal di rumah Ayah, oke?”


“Lho, kenapa? Aku nggak apa-apa, kok, sendirian di sini.” Sahut Jingga yang memang sudah nyaman dan betah tinggal di apartemen milik Biru. Lagipula, dulu dia sudah terbiasa tinggal di apartemen sendirian.


“Langsung nurut aja sama suami, bisa, nggak, sih?” Biru menjawil hidung Jingga gemas. Selama ini Jingga selalu menurutinya, tapi selalu saja ada bantahan terlebih dahulu hingga membuat mereka berdebat.


“Iya, deh, iya.” Jawab Jingga malas.


“Kalau gitu, ayo siap-siap. Kita ke rumah Ayah sekarang juga.” Seru Biru sembari melepaskan tangan Jingga yang sedari tadi mendekapnya.


“Ya udah, kamu mandi duluan. Aku mau nyiapin baju kamu buat dibawa ke Surabaya.”


“Oke. Bajunya buat empat hari aja, jangan banyak-banyak.” Biru beranjak dari tempat tidur, lalu mengacak-acak rambut Jingga sebelum kemudian dia berlalu untuk pergi ke kamar mandi.


********


Keesokan harinya, Jingga dengan raut wajah sedih membantu memasangkan jaket untuk Biru. Pagi-pagi sekali, suaminya itu sudah harus berangkat ke Bandara untuk penerbangannya ke Surabaya.


“Jangan sedih gini, dong. Aku kan jadi nggak tenang ninggalin kamunya.” Ujar Biru sesaat setelah istrinya itu selesai memasangkan jaket untuknya.


“Aku bakalan kangen banget sama kamu. Masih ada di sini aja, aku udah kangen.” Biru terkekeh geli mendengarnya.


“Ada-ada aja kamu, tuh.” Dengan gemas, dia menggesekkan hidungnya dengan hidung Jingga.


“Jangan macem-macem di sana.” Jingga memperingati dengan tatapan penuh ancaman.


“Ihh, kamu nggak percayaan banget sama aku.” Biru menarik pipi sebelah kanan Jingga dengan gemas. Ahh, istrinya ini memang selalu menggemaskan.


“Aku bukan nggak percaya sama kamu. Tapi, aku, tuh, takut ada cewek lain yang ngegodain kamu, terus habis itu kamu tergoda lagi.” Raut wajah Jingga merengut lucu.


“Sama aja, kamu tetap nggak percaya sama aku.” Kali ini Biru menarik hidung Jingga.


Jingga terkekeh kecil, kemudian berhambur memeluk Biru dengan erat. “Aku percaya, kok, sama kamu.”


“Kamu tenang aja.” Biru kembali menenangkan, Jingga hanya megangguk dalam dekapannya.


“Ohh, iya, Kak.” Jingga mendongakkan kepala untuk mempertemukan pandangannya dengan Biru.


“Kenapa?” Tanya Biru dengan sebelah alis terangkat.


“Nanti kalau kamu lagi nggak ada, aku boleh nggak main ke luar sama Hana atau Langit?” Tanya Jingga penuh harap.


Sejenak Biru tampak berpikir, untuk kemudian menyahuti. “Boleh. Tapi awas jangan main sampai malem.”


“Yeay, makasih.” Jingga berseru senang, dia lantas berjinjit dan mengecup bibir Biru sekilas.


“Dan ingat satu hal lagi. . . .”


“Laporin semua kegiatan aku sama kamu.” Sambar Jingga seraya memutar bola matanya malas. Hampir setiap hari Biru selalu mengatakan ini, Jingga sampai menghapalnya di luar kepala.


“Good girl.” Biru mengelus puncak kepala Jingga dengan gemas.


“Ya udah, sekarang ayo ke turun. Papa kayaknya udah jemput, tuh.” Ajak Jingga yang beberapa saat lalu melihat mobil ayah mertuanya masuk ke pekarangan rumahnya dari balkon kamar.


“Sebentar. Kamu belum ngasih aku bekal.” Biru menahan tubuh Jingga yang hendak melepaskan diri darinya.


“Kan semalam udah.” Cicit Jingga dengan wajah bersemu merah, teringat permainan panas mereka tadi malam. Jingga kembali mengambil alih kendali, dan itu membuatnya malu sendiri. Namun, hal itu sengaja dilakukan agar Biru selalu merindukannya saat di Surabaya nanti.


“Bukan itu. Tapi, ini.” Biru mengelus lembut bibir Jingga untuk kemudian menciumnya.


“Baik-baik di sini.” Biru lantas beralih membenamkan bibirnya di kening Jingga.


“Anak Papa juga baik-baik di sini, yaa.” Biru kemudian membungkukkan tubuhnya, lalu mencium serta mengelus lembut perut Jingga.


“Ihh, kamu apa-apaan?” Jingga memukul bahu Biru seraya terkekeh kesal.


“Siapa tahu aja udah jadi, Ji.” Biru ikut terkekeh. Tidak apa-apa, biarlah candaannya menjadi sebuah doa.


Selang beberapa saat, terdengar suara ketukan pintu yang diiringi teriakan dari luar kamar Jingga.


“Biru. Nak, kamu udah siap belum? Itu Papa kamu udah jemput.”


“Bunda udah manggil, tuh. Ayo.” Ujar Jingga berjalan mendahului Biru untuk keluar dari kamar.


********


Jingga mengantar Biru sampai ke depan halaman rumah. “Hati-hati, ya. Semoga urusan kamu di sana cepat selesai.” Ucapnya disertai senyum yang tersungging penuh ketulusan.


“Iya. Kamu juga hati-hati selama aku tinggal.” Balas Biru, lalu kembali memberikan kecupan di kening Jingga sekilas, kemudian pandangannya beralih pada Ayah dan Bunda yang ikut mengantarnya ke depan halaman rumah. “Titip Jingga ya, Yah, Bun.”


“Apaan sih, emang aku anak kecil?” Jingga sontak mencubit pinggang Biru pelan, nyaris seperti gelitikan hingga laki-laki itu terkekeh.


“Tenang, Bi. Jingga aman di sini, kalau perlu Ayah kurung di rumah.” Sahut Ayah berkelakar.

__ADS_1


********


To be continued . . . .


__ADS_2