
*********
Jingga berusaha membuka matanya saat merasakan seseorang mengecupi bibirnya berulang-ulang. Dia mengerjap kecil untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam matanya.
“Morning . . . .” Sapa Biru dengan senyum manisnya begitu Jingga membuka mata.
Tak ada sapaan balasan dari gadis itu. Jingga tampak terkejut sekaligus bingung saat yang pertama kali dia lihat begitu matanya terbuka penuh, adalah wajah Biru yang kini tersenyum sambil memandanginya dengan posisi tidur miring menggunakan salah satu tangan sebagai penyangga kepalanya.
“Kenapa?” Tanya Biru mengelus lembut pipi Jingga. Laki-laki itu heran sekaligus gemas melihat wajah bingung Jingga.
Jingga masih terdiam, dahinya tampak berkerut saat dia berusaha mengingat kenapa Biru bisa tidur di sebelahnya. Lalu, sejurus kemudian bibirnya tertarik lucu. “Ohh, iya. Aku lupa.”
“Lupa apa?” Tanya Biru kembali mengecup bibir Jingga sekilas.
“Lupa kalau kamu udah jadi suami aku.” Seketika wajahnya merona merah saat dia menyebut kata 'suami'. Jingga lalu merubah posisi tidurnya menghadap ke arah Biru, hingga kini mereka saling berpandangan dengan jarak yang sangat dekat.
Biru meringis dengan tatapan mata gemas. “Tega banget, suami ganteng kayak gini dilupain.”
Jingga hanya terkekeh kecil mendengar itu tanpa melepaskan atensinya dari cowok tampan di depannya.
“Kayaknya kamu juga lupa tadi malam itu malam apa.” Ucap Biru kemudian sembari membawa tubuh Jingga ke dalam pelukannya tanpa melepas kontak mata mereka.
“Eung, malam Minggu?” Tebak Jingga memastikan dengan sebelah alis terangkat. Satu tangannya terulur untuk membelai lembut wajah Biru. Laki-laki itu menggeleng.
“Sabtu malam?” Biru kembali menggelengkan kepalanya, menandakan jawaban Jingga itu masih salah.
“Terus?” Tanya Jingga bingung melihat Biru yang terus menggelengkan kepalanya. Tapi dia tidak salah, tadi malam itu memang Malam minggu, kok.
“Our first night.” Jawab Biru, tangannya mulai bermain-main dengan tali baju tidur kimono Jingga yang masih terikat itu.
“Malam pertama? Yaa, tadi emang malam pertama kita sebagai suami istri. Terus kenapa?” Tanya Jingga masih dengan ketidakpekaannya. Biru mendengus melihatnya.
“Terus, tadi malam itu kita cuma tidur.” Biru dengan gemas menggigit hidung Jingga hingga membuatnya meringis geli.
“Emang kalau nggak tidur mau ngapain?” Tanya Jingga lagi seraya mengusap-usap hidungnya.
Biru semakin dibuat gemas dengan Jingga yang masih memasang wajah bingung itu. Sepertinya nyawa gadis ini belum terkumpul sepenuhnya dan masih tertinggal sebagian di alam mimpi.
“Yaa kita harusnya ngapa-ngapain tadi malam. Kayak gini misalnya . . . .” Dan satu tangan Biru menyusup masuk ke dalam baju tidur Jingga dari belakang, meraba punggungnya dengan sensual.
Di saat itulah Jingga baru menyadari ke mana arah pembicaraan Biru. Seketika wajahnya memerah begitu dia tersadar dari ketidakpekaannya. Jingga baru teringat, seharusnya dia dan Biru tidak melewatkan malam pertama mereka begitu saja, mereka seharusnya melakukan kegiatan seperti yang biasa pengantin baru lakukan.
Ditengah rasa malunya, Jingga memberanikan diri untuk bertanya. “Kenapa nggak bangunin aku?” Lalu menahan tangan Biru yang bermain-main di kulit punggungnya.
“Udah aku bangunin, tapi kamu nggak bangun.” Biru lalu mencium pipi Jingga sekilas.
“Maaf, semalem aku ngantuk banget.” Ujar Jingga merasa tak enak hati.
Biru tersenyum dan menggelengkan kepalanya pelan. “Ngak apa-apa. Kita bisa ganti malam pertama kita jadi pagi pertama.”
Dan tak butuh waktu lama, Biru langsung membenamkan bibirnya di bibir Jingga tanpa aba-aba hingga membuat gadis itu sedikit terkejut.
“Kak. . . .” Jingga meraih wajah Biru hingga tautan bibirnya terlepas.
“Kenapa?” Biru menatap Jingga yang berada di bawah kungkungannya dengan tatapan protes.
“Masih terlalu pagi, Kak.” Jawab Jingga yang melihat jam masih menunjukkan pukul 05.15 WIB.
“Kamu masih ngantuk?” Biru menyelipkan beberapa anak rambut yang menutupi wajah Jingga ke belakang telinga agar tak mengganggu pemandangannya saat dia menatap wajah cantik istrinya itu.
“Enggak.” Jawab Jingga lirih.
“Atau kamu mau kita sarapan dulu?” Jingga menggelengkan kepalanya pelan.
“Kalau gitu, apa kita bisa ngelakuin itu sekarang?” Biru mengusap lembut bibir Jingga dengan ibu jarnya. Bibir yang selalu ingin disentuh dan dirindukannya.
“Hum?” Biru bertanya lagi, dan kali ini dijawab anggukkan perlahan kepala Jingga.
Tanpa menunggu waktu lama, Biru mendekatkan wajahnya dan mulai menguasai bibir Jingga. Menikmati setiap detik sentuhan lembut bibirnya pada bibir istrinya itu. Biru benar-benar ingin segera menyatu dengan Jingga, menyatu seutuhnya hingga dia dan Jingga bisa menjalani takdir mereka untuk menciptakan satu kisah yang indah.
“Kakak . . . .” Biru menatap Jingga dengan tatapan mata sayu saat gadis itu kembali melepaskan tautan bibirnya.
“Aku harus menyiapkan sesuatu. . . .” Ucap Jingga kemudian, tak melepaskan tatapan matanya dari Biru.
__ADS_1
“Apa?”
“Aku mau mandi dulu.” Cicit Jingga kemudian sembari menggigit bibir bawahnya dengan wajah yang bersemu merah. Walau bagaimanapun, ini adalah yang pertama untuknya. Jingga ingin mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.
“Nggak perlu. Aku nggak bisa nunggu ini lebih lama lagi.”Ucap Biru dengan suara yang mulai memberat.
Ya, Biru tidak bisa menahan gairahnya lagi yang kini sudah mencapai puncak ubun-ubun. Terlebih, dia sudah menahannya sejak tadi malam.
“Tapi–”
Belum sempat Jingga menyelesaikan kalimatnya, Biru sudah lebih dulu membungkam gadis itu dengan mencium bibirnya.
Biru melakukanya dengan gerakkan perlahan dan lembut. Biru tidak ingin tergesa-gesa, dia ingin menikmati pengalaman pertamanya bersama Jingga dengan baik dan meninggalkan kesan yang indah.
Jingga mengalungkan kedua lengannya di leher Biru, membalas ciumannya tatkala laki-laki itu menggigit bibirnya dan menelusupkan lidah ke dalam rongga mulutnya.
Jingga menggigit bibir bawahnya kuat-kuat saat dia merasakan tangan Biru menyusup ke dalam baju tidurnya dan mengelus perutnya dengan seduktif.
Dia tak bisa menahan desahannya lagi ketika Biru menyentuh dan memijat dadanya dengan lembut. Sementara bibir laki-laki itu mulai turun mengecupi telinga, leher, hingga tulang selangkanya. Deru napas panas Biru yang menerpa kulitnya membuat Jingga merinding.
Jingga masih berusaha untuk tidak mengeluarkan suara desahannya lagi saat tangan Biru terus bergerak memberi pijatan di dadanya. Namun, pertahanannya runtuh begitu tangan suaminya itu mulai meraba pahanya, terus naik hingga bertemu kain tipis di sana.
Biru tersenyum di sela ciumannya saat dia mendengar suara lenguhan Jingga, apalagi saat jadi tangannya mulai bergerak-gerak lihai di pusat tubuh gadis yang sudah menjadi istrinya itu.
“Kak . . . .” Jingga memeluk leher Biru erat begitu dia merasakan sesuatu meledak di pusat tubuhnya. Napasnya terdengar memburu dengan mata terpejam, gadis itu merasakan sensasi baru yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.
“Kamu siap?” Bisik Biru tepat di telinga Jingga.
“Kenapa nanya? Aku malu.” Jingga memukul pelan pundak Biru dan menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher laki-laki yang kini menjadi suaminya itu.
“Ihh, kok malu? Udah jadi suami istri juga.” Biru menggoda Jingga hingga membuat wajah istrinya itu kian memanas.
Tak ingin menunggu lebih lama lagi, Biru lantas menjauhkan tubuhnya dari Jingga, berdiri dengan kedua lutut sebagai penopang, lalu membuka satu per satu kancing piyama yang dia kenakan untuk dilepasnya.
Seketika tubuh maskulin Biru yang tampak indah itu terpampang jelas di depan mata Jingga. Jingga menelan salivanya dengan susah payah, ini pertama kalinya dia melihat tubuh setengah telanjang laki-laki secara langsung.
“Buka matanya.” Bisik Biru yang mendapati Jingga memejamkan mata tak lama setelah dia melihatnya membuka baju.
“Kenapa ditutup?” Biru berusaha melepaskan tangan Jingga yang digunakan untuk menutupi dadanya.
“Aku malu. Kamu juga jangan lihatin aku kayak gitu, dong.” Protes Jingga yang mendapati Biru terus memandangi tubuhnya yang nyaris telanjang itu.
Biru tersenyum gemas, dia kembali mendekati tubuh Jingga, melepaskan tangan Jingga yang menutupi dadanya, lalu dengan perlahan Biru kembali mengecupi leher gadis itu, dan memberi jejak-jejak kepemilikan di sana.
Jingga mendongakkan kepalanya saat ciuman Biru semakin turun ke dadanya, menyesap dan terus bermain-main di sana. Biru kembali tersenyum saat merasakan Jingga meremas kuat rambutnya.
Jingga kembali dibuat menggeliat saat ciuman Biru semakin turun ke perutnya, menandakan laki-laki itu sudah siap.
“Kamu takut?” Tanya Biru yang melihat Jingga tampak gugup. Suaranya serak karena kabut gairah sudah menguasainya.
Jingga tak menjawab, menatap Biru yang ada di atasnya dengan jantung berdebar cepat. Sebenarnya dia takut, tapi juga menginginkan lebih.
“Maaf, ini mungkin akan nyakitin kamu. Tapi, aku janji akan melakukannya dengan hati-hati.” Ujar Biru menenangkan.
Jingga akhirnya mengangguk pasrah, dia percaya dan akan menyerahkan semuanya pada Biru.
Hingga sejurus kemudian, suara pekikan terdengar begitu Biru dengan hati-hati dan penuh kelembutan menyatukan tubuh mereka.
“Maaf. . . .” Ucap Biru lirih seraya menghapus air mata Jingga yang jatuh melalui sudut matanya. Gadis itu tersenyum tipis dan menggelengkan kepalanya, seolah mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja.
Untuk selanjutnya, Jingga kembali membiarkan suaminya itu melakukan tugasnya untuk melepaskan gairah yang membuncah dalam dirinya.
Dan pada akhirnya, Jingga ikut menikmati apapun yang dilakukan Biru pada setiap jengkal tubuhnya. Sesekali bibirnya mengeluarkan erangan tertahan, terlebih saat Biru terus memberinya hentakkan di pusat tubuhnya.
Terus begitu, berulang-ulang hingga lenguhan panjang mereka terdengar bersamaan seiring dengan tercapainya ******* yang menjadi akhir dari permainan mereka berdua pagi hari itu.
“Kak, kamu nggak akan kabur, kan?” Tanya Jingga dengan napas tersengal.
“Hah, maksudnya?” Biru balik bertanya, deru napasnya tak kalah berantakan.
“Kamu tanggung jawab, kan, kalau nantinya aku hamil?” Biru yang masih berada di atas tubuh Jingga menahan tawanya saat mendengar pertanyaan konyol istrinya itu.
“Jingga William, aku itu suami kamu, kalau kamu lupa.” Sahut Biru tertawa kesal sekaligus geli. Aneh-aneh saja pertanyaan istrinya ini.
__ADS_1
“Yaaa, siapa tahu aja kamu mau lari dari tanggung jawab. Habis dapat enaknya, langsung go away.” Celetuk Jingga nyeleneh dengan memasang wajah merengut lucu.
“Ngaco kamu, tuh.” Biru menggigit pipi Jingga dengan gemas, hingga terdengar ringisan geli dari istrinya yang kini masih berada di bawah kungkungannya ini.
“Kakak, ihh. Jorok tahu. . . .” Jingga berusaha menjauhkan kepala Biru yang kini malah menjilati dan menghisap pipinya.
“Panggil aku sayang dulu. . . .” Pinta Biru tanpa menghentikan kegiatannya di pipi Jingga.
“Nggak mau.” Tolak Jingga tegas. Menggelikan sekali.
“Ya udah, gini aja seharian.” Ucap Biru santai.
“Mana bisa, kan kita mau pergi ke Swiss hari ini.” Protes Jingga tak terima.
“Makannya ayo panggil sayang dulu.” Kini Biru berpindah menciumi rahang Jingga.
“Sa.” Lidah Jingga terasa kelu, rasanya sulit sekali mengucapkannya. “Sa. . sa.”
“Sayang . . . .” Akhirnya Jingga berhasil menyebutnya, namun suaranya sangat pelan, bahkan nyaris tak terdengar saking pelannya.
“Ngak kedengeran, Sayang. . . .” Kali ini Biru menghisap kuat leher Jingga hingga membuatnya menjerit kecil.
“Sa . .yang, udah, dong. Eungh.” Jingga melenguh, menahan wajah Biru agar berhenti menciuminya.
“Nggak jelas. Ulang.” Titah Biru tanpa ingin menarik diri, terus bermain-main di leher Jingga hingga membuat gadis itu kembali meremang. Gairah itu mendadak datang lagi.
Jingga mendengus, namun sejurus kemudian dia kembali mengatakannya. “Sayang, udah yaa.”
Lantas Jingga mengangkat kepala Biru hingga kini pandangan mereka kembali bertemu. Biru meringis ngilu, Jingga yang berada di bawahnya terlihat sangat seksi dengan penampilan awut-awutan seperti ini.
“Penerbangan kita jam berapa, Ji?” Tanya Biru yang menatap Jingga dengan tatapan penuh arti.
“Sekitar jam tiga sorean. Tapi kita harus udah check out dari hotel jam dua.” Jawab Jingga, mengingat mereka harus sudah stay di Bandara tiga puluh menit sebelum keberangkatan.
“Masih jam setengah delapan. . . .” Jingga menatap suaminya penuh curiga saat Biru menyunggingkan seringai mesum di bibirnya.
“Kamu mau ngapain?” Tanya Jingga waspada.
“Satu kali lagi, ya?” Tak perlu menunggu persetujuan dari Jingga, Biru dengan cepat menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka.
Begitulah Biru memulai semuanya kembali di bawah gulungan selimut. Pada akhirnya, Jingga harus menyerah, membiarkan suaminya kembali menjamah tubuhnya untuk yang kedua kali.
********
Sekitar pukul sebelas siang, Biru duduk di tepi ranjang sembari mengeringkan rambutnya yang masih basah dengan handuk. Tampaknya, laki-laki itu sudah mandi lebih dulu setelah satu jam yang lalu dia menyelesaikan kegiatan panasnya bersama Jingga.
Biru tersenyum sambil terus memandangi wajah istrinya yang masih terpejam. Jingga tadi memilih untuk tidur sebentar guna mengistirahatkan tubuhnya yang cukup lelah akibat olahraga pagi itu.
Lantas dibelainya lembut wajah Jingga. Biru nikmati wajah teduh gadis cantik yang kini sudah menjadi istri seutuhnya itu.
“Eungh . . . .” Jingga menggeliat kecil di bawah selimut yang masih membungkus tubuhnya itu. Dia membuka matanya perlahan saat merasakan ada sesuatu yang lembut membelai wajahnya.
“Udah bangun?” Tanya Biru tepat saat Jingga membuka matanya dengan sempurna.
“Curang, mandi duluan.” Bibirnya mengerucut lucu saat dia mendapati Biru sudah rapi dengan celana jeans dan oversized shirt warna putihnya. Sangat tampan. Ahh, dia jadi ingin menyembunyikan Biru agar tak bisa dilihat perempuan lain di luar sana selain dirinya.
“Emang tadinya mau mandi bareng?” Goda Biru membuat wajah Jingga kembali bersemu merah, kembali teringat kegiatannya tadi bersama Biru.
“Bukan gitu, masa kamu udah rapi, tapi aku masih tiduran kayak gini. Kan aku jadi insecure.” Wajah Jingga merengut lucu.
“Haha, ada-ada aja kamu, tuh.” Biru tertawa geli melihat tingkah Jingga yang selalu menggemaskan di matanya.
“Ya udah, sekarang kamu cepetan bangun, terus mandi, habis itu kita brunch.” Ujar Biru membelai lembut rambut Jingga.
“Kamu tutup mata dulu tapi.” Pinta Jingga, dia bangun dari tidurnya seraya mengapit kuat selimut yang membungkus tubuhnya di antara dua ketiak agar tidak lepas. Jingga tidak ingin Biru kembali melihat tubuh polosnya. Terlebih, hari sudah semakin terang.
“Kenapa ditutupin segala sih? Lagian aku udah lihat semuanya. Seksi.” Biru dengan usil menarik selimut Jingga dalam satu kali hentakkan tangan, hingga tubuh polosnya kembali terpampang jelas di hadapan Biru. Jelas saja, hal itu membuat Jingga terkejut bukan main.
Buru-buru Jingga meraih kembali selimut itu untuk menutupi tubuhnya. Namun, sia-sia saja saat Biru dengan cepat menahan tangannya. “Ji, aku ikut kamu mandi, ya.”
********
To be continued . . . .
__ADS_1