
********
Pagi harinya, Biru dan Langit masih tertidur pulas di atas kasur milik Jingga. Biru berbalik dan mendekap tubuh orang di sebelahnya. Dia merasa ada yang aneh, tubuh yang lembut dan pas dalam dekapannya semalam, kini berubah menjadi lebih kekar dan besar.
Tanpa membuka mata, kening Biru mengernyit, tangannya meraba-raba dada Langit yang terasa lebar dan cukup keras.
Tidur Langit terganggu saat dia merasakan ada sebuah tangan meraba dadanya. Dia mencoba menghempaskan tangan Biru, namun kini tangan itu malah mendekapnya erat, bahkan setengah tubuhnya tertindih kaki orang yang sedang mendekapnya itu.
Langit semakin tidak nyaman saat merasakan Biru menelusupkan wajah di ceruk lehernya, dia bahkan bisa merasakan bibir Biru menempel di sana. Langit berusaha membuka mata, dia terkejut saat mendapati tubuh Biru sangat menempel dengan tubuhnya.
“Oh My God.” Langit lupa jika tadi malam dia pindah ke kamar Jingga. Dia benar-benar dibuat terkejut, geli, dan jijik sekaligus. Tubuhnya serasa didekap seekor beruang sekarang. Demi apapun, Langit akan lebih suka Jingga yang memeluknya meski bajunya akan basah karena air mata dan ingus gadis itu.
“Heh, bangun, lo.” Titah Langit seraya menggoyangkan kakinya agar tubuh Biru menyingkir.
“Sebentar, Ji . . . .” Biru meracau, cowok itu malah semakin menelusupkan wajahnya di ceruk leher Langit, bahkan Langit merasakan ujung hidung Biru mengendusnya di sana. Sontak saja hal tersebut membuat Langit bergidik jijik.
“Euw, apaan, sih, gue bukan pelangi. Minggir sana.” Sungut Langit dengan sekuat tenaga mendorong Biru menggunakan sebelah tangannya yang tidak sakit, hingga akhirnya tubuh cowok itu berhasil dia gulingkan ke samping.
Merasakan ada yang mendorong tubuhnya begitu kuat, Biru dengan perlahan membuka matanya. Dia mengerjap-ngerjap, memastikan bahwa yang ada di sebelahnya itu masih Jingga. Keningnya berkerut dalam, raut wajahnya menampakkan kebingungan karena Jingga seketika berubah wujud.
Biru masih terdiam seraya menatap lekat-lekat sosok cowok di sampingnya yang memasang wajah masam.
Biru memastikan ingatannya kembali jika tadi malam dia memang tidur di samping Jingga, dia juga ingat tadi malam ketiduran saat tangannya masih sibuk menggerayangi gadis itu.
Dia merasa lega karena tadi malam rasa kantuk lebih menguasai daripada gairahnya. Dengan demikian, dia tidak melakukan hal yang lebih gila pada Jingga. Karena saat bersama Jingga, dia tidak akan bisa mengendalikan dirinya.
“Ngapain lo ngeliatin gue kayak gitu?” Ucap Langit ketus, merasa tak nyaman karena Biru terus memandangnya. Dia lantas bangun dan menyingkap selimut yang semalam menutupi tubuhnya dan Biru, lalu menggeser tubuhnya untuk sedikit menjauh dari cowok itu.
“Lo masih normal, kan?”
Biru yang tersadar jika Jingga tidak ada di sampingnya langsung beranjak duduk.
“Lo? Elo ngapain di sini?” Tanya Biru menatap Langit tak suka.
Langit mendelik sewot. “Elo, tuh, yang ngapain pake tidur di kamar Jingga segala?”
“Ya terserah gue. Kan ini kamar calon istri gue. Habis nikah juga ujung-ujungnnya pasti gue sama dia tidur bareng.” Sahut Biru tak kalah sewot.
“Yeee, mesum lo.” Cibir Langit.
“Jingga mana?” Tanya Biru kemudian tak ingin berdebat lebih lama dengan Biru..
“Di kamar gue.” Jawab Langit malas.
Mata Biru terbelalak. “Ngapain dia di sana?”
“Ya mana gue tahu. Lo tanya aja sendiri sama dia kenapa bisa tidur di kamar gue.” Balas Langit ketus.
“Kalian udah bangun?”
Jingga yang baru keluar dari kamar mandi mengalihkan perhatian dua cowok tampan itu ke arahnya. Gadis itu sudah siap dengan setelan kerjanya, dia berjalan santai menuju meja rias untuk memoles wajahnya dengan sedikit make up.
Jingga terlihat classy dan chic dengan balutan blouse berwarna cream yang dipadukan dengan white skirt di atas lutut, berhasil membuat Biru tak berkedip.
“Kamu kapan balik, Ji?” Berbeda dengan Biru, Langit melihat Jingga sangat santai, seolah tak tertarik sama sekali dengan gadis itu.
“Belum lama.” Jawab Jinggga tanpa menoleh. Dia sibuk mengoleskan pelembab di wajahnya.
“Kok nggak bangunin aku?” Protes Langit.
Biru hanya diam menatap percakapan mereka dengan wajah masam dan bingung.
Jingga memutar tubuhnya untuk melihat ke arah Biru dan Langit yang masih duduk di atas tempat tidurnya. Dia melemparkan senyum seolah mentertawakan keadaan mereka saat tertidur tadi. Manis sekali. Menurut Jingga, mereka tadi tampak seperti bromance dalam drama Korea yang pernah dia tonton.
“Aku nggak mau ganggu kalian tidur. Ohh, iya. Posisi kalian, tuh, romantis banget tadi.” Ucap Jingga sambil menahan tawanya, mengingat Biru dan Langit saling berpelukan saat mereka tidur.
Biru dan Langit seketika jadi merasa geli mendengar penuturan Jingga.
“Euw. Amit-amit, Jii. Nggak mau lagi aku tidur sama dia nyosor mulu.”
Penuturan Langit barusan berhasil membuat Jingga tergelak pelan. Sementara Biru masih diam dalam kebingungannya.
“Dia kayak gitu, Lang?” Tanya Jingga di sela-sela gelak tawanya.
Langit mengangguk. “Lagi mimpi basah, kali, dia. Dikira aku, tuh, kamu.” Ledeknya sambil bergidik, mengingat bagaimana Biru mencium-cium lehernya tadi.
“Jingga . . . .” Panggil Biru dingin, tapi sorot matanya meminta penjelasan kenapa dia berakhir tidur bersama Langit.
“Ehem. Udah, ahh, jangan ngeledekin dia mulu.” Jingga berusaha menghentikan obrolannya dengan Langit. Paham dengan tatapan Biru yang tak menyukai Langit ada bersama mereka.
“Ya udah, sekarang kalian siap-siap. Aku mau nyiapin sarapan buat kita bertiga.”
“Bertiga?” Tanya Biru tak terima. Langit dengan segera melayangkan tatapan jengkel.
“Yaaaa bertiga. Aku, kamu, sama Langit.” Jelas Jingga.
“Kenapa harus ngajak dia?” Protes Biru.
“Karena kalau berdua-duaan, yang ketiganya setan.” Seru Langit.
“Ya elo setannya.” Sewot Biru.
“Ihh, enak aja. Kelakuan lo, tuh, kayak setan.” Langit tak mau kalah, dia dengan gemas menimpuk Biru menggunakan bantal.
“Gue pecat lo, ya.” Ancam Biru.
“Gue nggak takut. Lagian rumah sakit lo yang butuh gue, bukan gue yang butuh kerjaan dari –”
__ADS_1
“Ya ampuun. Kalian apa-apaan, sih, masih pagi udah berantem kayak anak kecil?”
“Dia duluan.” Sahut Biru dan Langit bersamaan saling menunjuk.
Jingga memutar bola matanya jengah. “Bangun nggak kalian, atau aku kunciin berdua di sini?”
“Oke-oke.” Sahut Langit cepat dan beranjak dari tempat tidur, lalu bergerak keluar, meninggalkan Jingga dan Biru di dalam kamar.
“Kamu juga ngapain masih di sana? Cepetan siap-siap!” Omel Jingga yang melihat Biru masih bergeming di atas kasur.
********
Jingga sedang menata meja makan untuk sarapannya, terlihat tiga piring French toast dengan maple syrup dan beberapa mix berries sebagai toping sudah terhidang di meja itu.
Perhatiannya teralihkan saat melihat Biru keluar dari kamar dan berjalan ke arahnya. Cowok itu terlihat semakin tampan dengan setelan kerja yang tadi Jingga ambil dari koper yang ada di mobilnya.
Ternyata tadi malam Biru memang berkata jujur. Cowok itu langsung pulang ke apartemen Jingga setibanya di Indonesia.
Jingga dibuat salah tingkah saat Biru berdiri di dekat meja makan, memperhatikannya dengan tatapan yang sulit di artikan.
“Kak– ” Tegur Jingga, tapi cowok itu malah berbalik dan berjalan kembali menuju ke kamarnya.
“Dia masih kesel, ya?” Jingga bertanya-tanya dalam hati, mengingat beberapa saat lalu Biru protes dan menggerutu kesal padanya setelah dia menjelaskan bagaimana tadi malam meninggalkannya tidur ke kamar Langit.
“Bodo, ahh.” Jingga berusaha tidak peduli dan memilih untuk mengambil susu dari lemari es.
Saat Jingga sedang mencuci tangannya di wastafel, dia dikejutkan dengan Biru yang kini tengah berdiri di belakangnya. Dia bahkan bisa merasakan tubuh Biru menyentuh punggungnya.
“Kak, mau ngapain?” Tanya Jingga waspada seraya berusaha membalikkan tubuhnya, namun ditahan oleh Biru.
“Sebentar, Ji . . . .” Tubuh Jingga meremang begitu tangan Biru menyentuh tengkuknya. Dia nyaris protes, namun diurungkan saat menyadari Biru bukan ingin menciumnya.
Biru menempelkan plester besar di tengkuk Jingga untuk menutupi love bite yang cukup besar di sana karena perbuatanya tadi malam. Entah gadis itu lupa atau tidak menyadarinya karena dengan santai malah menguncir penuh rambutnya ke atas. Beruntung tadi Biru melihatnya, maka dari itu dia inisiatif mengambil plester dari kotak P3K yang ada di kamar Jingga.
“Kenapa nggak yang kecil aja, sih?” Protes Jingga sembari mengusap tengkuknya. Plester besar itu pasti akan sangat mencolok.
“Gak ketutup semua.” Sahut Biru sambil memastikan tanda merah itu benar-benar tertutup, menekan-nekan lembut hingga plester itu benar-benar menempel.
Jingga mendengus. “Lagian kamu, sih –”
Gadis itu menggantungkan kalimatnya. Masih terlalu pagi, dia tidak ingin membahas hal yang menjurus ke sana. Takut malah dia tak sengaja memancing Biru.
“Kenapa?” Tanya Biru menantang.
“Ng– nggak jadi. Udah, ahh, minggir.” Jingga gelagapan, lantas dengan cepat mendorong tubuh Biru dan memilih untuk kembali ke meja makan. Tapi belum beberapa langkah, cowok itu menyambar tangannya.
“Kenapa?” Tanyanya lagi, tatapannya yang dalam membuat Jingga salah tingkah.
“Nggak ada. Lepasin, Kak.” Jingga berusaha menghempaskan tangan Biru, namun usahanya gagal.
“Jawab atau aku akan cium kamu sepuluh – ”
“Itu Langit . . . .” Seru Jingga berhasil melepaskan dirinya dari Biru, tapi Biru kembali menahannya saat dia hendak melangkah menuju pintu.
“Aku aja yang buka.” Biru dengan cepat mencuri satu kecupan di bibir Jingga sebelum kemudian dia bergerak membukakan pintu untuk Langit.
Jingga terpaku, seolah ciuman singkat tersebut mampu membekukan tubuhnya. Itu sangat manis.
********
“Kak . . . .” Jingga menyerahkan sebotol yoghurt strawberry setelah mobil yang dikendarai Biru berhenti di parkiran basement rumah sakit.
“Dulu kamu suka ngasih ini setiap hari. Karena sekarang kamu lagi lupa, jadi aku yang bakal ngasih ini ke kamu.” Imbuh Jingga. Biru mengambil botol susu fermentasi itu dari tangan Jingga.
“Jangan pernah ngasih ini sama cowok lain selain aku, termasuk Langit.” Biru memberi peringatan. Jingga hanya memutar bola matanya jengah dan mendengus malas.
“Itu, kan, cuma sebotol yoghurt, lagian aku bukan orang pelit.” Gerutu Jingga dengan suara pelan.
“Aku denger, Ji.” Ucap Biru seraya memberi tatapan Jingga penuh ancaman.
“Iya-iya.” Jingga berdecak sebal, enggan menanggapinya. Lebih baik mengiyakannya saja daripada harus berdebat panjang nantinya. Masalah yoghurt saja Biru besar-besarkan.
“Ya udah, ayo turun.” Tegur Biru melihat Jingga masih terdiam.
“Sebentar.” Tahan Jingga seraya mengambil lipbalm dari dalam tas warna coklatnya.
Biru mengamati Jingga yang sedang mengaplikasikan lipbalm di bibirnya yang selalu tampak menarik di mata Biru. Ahh, tidak hanya bibir. Semua bagian dari tubuh gadis itu terlalu menarik di matanya.
“Selesai. Ayo.” Seru Jingga riang sembari tersenyum manis.
Biru tertegun, enggan melepaskan pandangannya, terutama pada bibir Jingga yang tadi sedikit pucat dan kering, kini bibir itu tampak glossy dan kemerahan.
Gairah itu kembali lagi. Rasanya Biru ingin menggigit bibir plum itu. Terlebih aroma stroberi dari pelembab bibir yang kini menyeruak di hidungnya, membuat dia semakin ingin menyentuh bibir itu.
“Ayo, Kak.” Desak Jingga. Heran karena cowok itu malah melamun.
Biru tersadar, buru-buru dia turun dari mobilnya untuk kemudian mengejar Jingga yang kini sudah berjalan mendahuluinya.
“Jingga.” Panggil Biru yang berhasil menghentikan langkahnya. Gadis itu berbalik dengan alis bertaut.
“Kenapa, Kak?”
“Stroberi. . . ”Gumam Biru tak jelas
“Apaan, sih, Kak?” Jingga semakin mengerutkan keningnya dalam.
“Itu yang tadi kamu pake.”
__ADS_1
“Apaan? Ini?” Jingga menunjukkan lipbalm yang dia ambil dari tasnya.
Biru mengangguk, lalu kembali bergumam tak jelas. “Iya aku mau coba.”
Jingga kembali mengerutkan kening, tak mengerti karena BIru terus berbicara tak jelas.
“Apaan, sih, ihh ngomong yang jelas.” Jingga gregetan sendiri akhirnya.
Lantas tanpa berkata apapun, Biru dengan cepat mendorong dan menyudutkan tubuh Jingga pada salah satu tiang beton penyangga yang ada di parkiran itu.
“Kamu apa-apaan, sih, Kak?” Kesal Jingga sambil berusaha berontak karena kedua tangan Biru kini mengunci tubuhnya.
“Aku mau cobain. . . .” Dengan cepat Biru meraup bibir kemerahan Jingga, menciumnya dengan lembut, mencecap bibir yang mengeluarkan aroma manis stroberi itu hingga lipbalm yang telah diaplikasikan Jingga tadi terhapus sepenuhnya.
Tidak puas karena tak mendapat balasan, Biru mulai memberi gigitan-gigitan kecil pada bibir bawah Jingga untuk meminta gadis itu membuka mulutnya, sehingga dia bisa melesakkan lidahnya masuk ke dalam. Cukup lama Biru mengeksplor rongga mulut Jingga hingga membuat napas gadis itu melenguh tertahan.
Tangan Biru juga rasanya tidak bisa diam saat mencium Jingga. Dia mengelus, meraba dan meremas bagian belakang gadis itu sensual, membuat Jingga mencengkram pinggiran kemejanya.
Jingga menepuk punggung Biru keras saat merasakan dadanya mulai sesak. Biru mengerti dan melepaskan ciuman tak berbalas itu. Biru menyatukan kening mereka seiring dengan deru napasnya yang memburu. Laki-laki itu tersenyum menyeringai.
“Stroberi, aku suka.” Bisik Biru lirih, membuat tubuh gadis itu meremang.
“Ngeselin.” Dengus Jingga di sela-sela napasnya yang masih terengah.
“Salah kamu godain aku pake ini.” Ujar Biru sambil mengangkat tangan Jingga yang masih menggenggam lipbalm. Jingga hanya mengerucutkan bibirnya sebal.
“Jangan pake ini di depan cowok lain.”
Jingga mendelik tak terima. “Kok gitu?”
“Karena aku nggak mau ada cowok lain tergoda sama ini.” Biru mengetuk-ngetuk pelan bibir Jingga menggunakan telunjuknya.
“Cowok lain nggak kayak kamu.”
Biru mendesis dan kembali melayangkan tatapan tajam pada Jingga.
“Pokoknya nggak boleh.”
Dan sekali lagi Biru memberi kecupan singkat pada bibir Jingga tanpa seizinnya.
“Kak. . . .” Teriak Jingga kesal sambil menatap berang cowok itu.
“Selamat bekerja, Dokter Jingga yang cantik.” Biru memberi elusan lembut di puncak kepala Jingga untuk kemudian berjalan mendahuluinya. Meninggalkan gadis tu yang masih memendam kekesalan.
Tanpa Biru dan Jingga sadari. Tak jauh dari tempat mereka berdiri tadi, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sejak kedatangan hingga adegan romantis yang dilakukannya.
“Biru s*nge.” Cibir Albi sambil geleng-geleng tak percaya. Cowok itu memasang seringai jahil, senang karena mendapat bahan ledekan untuk sahabatnya.
********
Biru masuk ke dalam lift setelah pintu lift terbuka, lalu dia menekan tombol agar pintu lift tertutup kembali dan segera membawanya ke lantai tujuan. Tapi baru saja tertutup, pintu itu kembali terbuka, menandakan ada orang yang juga akan masuk ke dalam sana.
Pandangan Biru lurus ke arah pintu lift. Dia menduga orang yang akan masuk adalah Jingga yang berhasil menyusulnya. Namun ternyata dugaannya salah karena dia melihat Luna baru saja masuk ke dalam lift. Langsung saja gadis itu memposisikan dirinya untuk berdiri di samping Biru.
“Hai, Bi.” Sapa Luna sambil tersenyum senang. Biru hanya membalasnya dengan senyuman tipis.
“Kamu kapan pulang, Bi?” Tanya Luna kemudian, mengingat Biru yang mengikuti seminar di Singapura.
“Tadi malam.” Jawab Biru singkat. Luna hanya menanggapinya dengan anggukkan kepala dan ber-ohh ria.
“Ohh, iya. Kamu udah sarapan belum, Bi? Aku bawain bekal, nih. Gimana kalau kita sarapan bareng?” Ajak Luna seraya mengacungkan tas kotak bekal yang dia tenteng dengan semangat.
“Aku tadi udah sarapan sama Jingga di apartemennya.” Raut wajah Luna langsung kecewa mendengarnya.
“Kamu ke apartemen Jingga?” Tanya Luna ingin memastikan pendengarannya tidak salah. Biru hanya mengangguk.
Luna merasa hatinya seketika menjadi panas. Kedua tangannya mengepal, meremas kuat-kuat tali tas kotak bekal yang ditentengnya.
“Jingga pasti minta kamu buat datang ke apartemennya, ya, Bi?” Tanya Luna lagi, menerka-nerka, mengingat pertengkaran kecil Biru dan Jingga waktu itu.
“Jingga nggak pengertian banget, ya. Kamu pasti masih capek, tadi malam baru pulang dari Singapura, terus paginya dia malah minta kamu ke apartemennya cuma buat ngajak kamu sarapan. Mungkin dia takut kamu sarapan bareng aku lagi, kali, ya.” Lanjut Luna menahan geram di hatinya. Padahal, dia sudah memperingatkan Jingga untuk tidak membebani Biru.
Sementara Biru hanya menatap Luna sambil mengernyitkan keningnya heran. Merasa tidak pantas Luna berbicara seperti itu pada Jingga.
“Nggak gitu, kok. Aku sarapan di apartemen Jingga karena emang tadi malam langsung pulang ke –”
Biru mengatupkan bibirnya saat tersadar akan ucapannya. Hampir saja dia keceplosan.
“Kenapa, Bi?” Luna menatap penasaran karena Biru menggantungkan kalimatnya.
“Maksud aku, Jingga nggak seperti yang kamu pikirkan.” Ucap Biru.
Luna tersenyum kecut saat mendengar jawaban yang tak dia harapkan. Biru selalu saja membela Jingga.
“Kalian udah baikan, ya?” Luna memasang senyum palsu, terdengar ketidakrelaan pada nada suaranya.
“Hmm.” Sahut Biru tanpa menoleh ke arah Luna. Pandangannya kembali lurus menatap pintu lift.
“Aku masih merasa nggak enak soal kejadian waktu itu, gara-gara aku kalian jadi – ”
“Udah, nggak usah dibahas lagi.”Sambar Biru dengan nada dingin.
Luna terdiam seketika, dia menundukkan kepalanya. Merasa kecewa karena Biru dan Jingga cepat sekali berbaikan.
“Jingga pasti sangat membebani kamu, kan, Bi? Dia pasti udah maksa kamu buat balikan, kan? Lihat aja. Aku nggak akan ngebiarin dia terus menggoyahkan hati kamu. Nggak semudah itu Jingga bisa rebut kamu dari aku, Bi.” Luna menggeram dalam hati, tangannya semakin mencengkram kuat tali tas kotak bekal yang di pegangnya.
********
__ADS_1
To be continued . . . .