
*********
Ayah dan Jingga dalam perjalanan menuju rumah sakit. Biru yang tak mengizinkan Jingga membawa mobil sendiri membuat sang Ayah harus mengantarnya. Sebenarnya ada sopir yang akan mengantar jemputnya, namun Ayah mengatakan kalau dia yang akan melakukannya.
“Padahal tadi aku bawa mobil aja, kan Kak Biru nggak bakalan tahu.” Celetukkan yang keluar dari mulut Jingga membuat Ayah gregetan untuk segera menegurnya.
“Hush, kamu nggak boleh gitu. Emang kamu mau, nanti Biru berbuat macam-macam di sana tanpa sepengetahuan kamu?” Tegur Ayah telak.
“Yaa jangan, dong. Ayah kok nakut-nakutin aku kayak gitu, sih?” Seru Jingga dengan wajah merengut tak terima.
“Kamu aja udah ada niatan bohong sama Biru.” Cibir Ayah tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan yang mulai memadat.
“Ihh, siapa yang mau bohong? Aku, tuh, tadi cuma lagi berandai-andai aja.” Elak Jingga.
“Bisa aja ngelaknya.” Tukas Ayah seraya tersenyum simpul.
“Aku nggak ngelak.”
“Tapi ada baiknya juga Biru larang kamu bawa mobil.” Sejenak Ayah terdiam memperhatikan lampu merah yang sebentar lagi berubah hijau, untuk kemudian melanjutkan kalimatnya. “Ayah jadi bisa nganterin kamu kayak gini. Soalnya kalau nggak salah, terakhir kali Ayah nganter kamu itu waktu SMA.”
“Kayaknya, sih, iya.” Sahut Jingga manggut-manggut pelan.
“Dan kamu suka rewel kalau Ayah anterin kamu ke sekolah.” Lanjut Ayah, mengenang masa-masa di mana dia mengantar jemput anak bungsunya itu sekolah.
Jingga memang sering menolak ayahnya untuk mengantar ke sekolah, dia lebih suka berangkat dan pulang bersama Langit naik motor karena itu akan lebih cepat.
“Itu karena Ayah bawa mobilnya lelet. Kayak gini, nih.” Cebik Jingga mulai ikut mengenang.
“Ayah, kan, penganut prinsip biar lambat asal selamat, Ji.” Bela Ayah diiringi kekehan kecil setelahnya.
“Karena itu, aku pernah hampir terlambat masuk kelas.” Jingga mengingat saat dia datang ke sekolah bertepatan dengan bel masuk berbunyi, hingga dia tak sengaja menabrak Biru karena berjalan tergesa-gesa.
Sepanjang perjalanan, Ayah dan anak itu terus berceloteh mengenang masa lalu. Sesekali Jingga mendengus kesal saat Ayah meledek tingkah konyol atau beberapa kenakalan Jingga.
Baik Jingga ataupun Ayah, hati mereka sama-sama senang. Sudah lama sekali mereka tidak menghabiskan quality time antara Ayah dan anak seperti ini, karena waktu sudah mengubah segalanya secara perlahan. Walaupun ini adalah kebersamaan kecil, tapi ini sudah lebih dari cukup.
“Makasih, Ayah.” Ucap Jingga sesaat setelah dia turun dari mobil Ayah. Ayah hanya mengangguk kecil dengan senyum hangat menyertai.
“Ohh, iya. Nanti pulangnya nggak usah jemput, aku mau keluar sama Langit dan Hana.” Tambah Jingga saat teringat akan hal itu. Rasanya dia jadi tidak sabar untuk menyelesaikan pekerjaannya hari ini. Sudah lama sekali dia tidak hangout bersama teman-temannya. Walaupun temannya hanya Langit, dan sekarang ditambah Hana.
“Sudah dapat izin dari suaminya belum?” Tanya Ayah mengingatkan dengan senyuman meledek.
“Udah, doong.” Jingga berseru yakin.
Ayah tersenyum gemas. “Ya udah, kalau gitu Ayah pergi sekarang.”
“Dah, Ayaah.” Jingga melambaikan tangannya riang, menatap mobil Ayah yang perlahan hilang dari pandangannnya.
********
Setelah mobil Ayah hilang dari pandangannya, Jingga bergegas ke ruangannya, lalu memeriksa jadwal, serta beberapa catatan medis pasiennya.
Sejurus kemudian, Jingga beranjak setelah melihat jam di ponselnya, lalu berjalan keluar dari ruangannya menuju ruang operasi.
“Berdetaklah lebih lama di tubuh pemilikmu.” Gumam Jingga dalam hati sebelum mengarahkan scalpel blade pada bagian toraks pasien yang siap dia bedah.
Hingga tak terasa, dengan padatnya jadwal operasi serta kunjungan pasien, akhirnya pekerjaan Jingga hari ini selesai.
Waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, Jingga meregangkan otot-ototnya yang kaku. Bagaimanapun, berdiri selama berjam-jam di ruang bedah, serta berkunjung dari satu ruangan ke ruangan lain untuk memeriksa pasien, membuat tubuhnya lumayan pegal.
“Spa kayaknya enak, terus habis itu body treatment sekalian massage.” Gumam Jingga sambil memijat tengkuknya.
“Ayo pergi ke sana.” Seru Hana semangat.
“Nggak! Aku nggak mau mati bosan karena nunggu kalian perawatan spa nanti.” Sela Langit sedikit memutar kepalanya ke belakang di mana Hana dan Jingga duduk.
Mereka saat ini dalam perjalanan menuju pasar malam untuk sekedar jalan-jalan melepaskan penat setelah bekerja.
Sebelumnya ini adalah ide Jingga yang langsung disetujui oleh Langit, sudah lama sekali mereka tidak menyentuhkan kakinya di pasar malam. Saat masih SMA, mereka sering bermain ke sana, mencoba beberapa wahana, serta menikmati jajanan khas pasar malam.
“Dasar pelit.” Dengus Jingga sebal.
“Bodo.” Langit mengedik tak peduli, lalu membelokkan setir mobilnya memasuki sebuah pasar malam yang sudah mulai ramai pengunjung karena hari mulai menjelang malam.
“Waaah, jadi inget waktu muda dulu, ya, Lang?” Jingga tersenyum senang melihat banyak anak muda di sana. Jelas saja, ini malam Minggu, dan tempat ini sangat terjangkau untuk saku anak muda baik untuk berkencan atau hanya untuk bermain-main saja.
“Sekarang aku masih muda, kali. Kamu aja yang calon emak-emak.” Sahut Langit meledek, membuat Hana menahan tawa mendengarnya.
__ADS_1
“Hiish, ngeselin.” Jingga mendengus sebal. Namun, tidak juga protes. Dia memang calon ibu, kan? Semoga saja Tuhan segera mengirimkannya seorang anak di dalam rahimnya.
Sejenak tak ada percakapan lagi di antara mereka, Langit sibuk mencari tempat parkir yang sekiranya strategis. Setelah melihat tempat parkir yang cocok, Langit kemudian memarkirkan mobilnya di sana.
“Ayo.” Ajak Langit sesaat setelah dia membuka sabuk pengamannya. Cowok itu lantas turun dari mobil, diikuti Jingga dan Hana.
Mereka lalu mulai berkeliling menyusuri pasar malam itu. Hanya melihat-lihat, tak ada satupun dari mereka bertiga yang ingin naik wahana atau mencoba permainan berhadiah.
Hanya dengan melihat pedagang kaki lima, orang-orang yang menikmati wahana, serta deretan penjual aksesoris dan pakaian, cukup membuat mereka terhibur.
“Beli es krim atau minuman dingin yuk, panas banget, nih, Lang.” Jingga yang merasa tengorokannya kering tiba-tiba menginginkan sesuatu yang segar.
“Boleh, ayo.” Langit menyetujui, dia lantas memimpin jalan untuk mencari stand penjual minuman bubble atau es krim.
Setelah menemukan stand penjual minuman bubble, mereka langsung memesan minuman yang diinginkan. Dan tentu saja Langit yang bayar.
“Lang, aku mau makan bakso, deh.” Ucap Jingga saat matanya menangkap penjual bakso yang posisinya tak jauh dari stand penjual bubble tempat mereka berdiri saat ini.
“Sebentar, Ji. Nunggu ini dulu.” Sahut Langit karena mereka masih menunggu minumannya disajikan.
“Aku juga mau batagor, siomay, sosis bakar, sama telur gulung.” Jingga membaca satu per satu tulisan yang tertera pada gerobak pedagang kaki lima itu.
“Ya ampun, Ji. Satu-satu dulu, ini aja belum selesai.” Dan Langit mulai mengomel.
“Ya udah, kamu tungguin minumannya selesai. Terus nanti kamu tunggu di gerai bakso, aku sama Hana mau beli semua itu dulu.” Jingga menunjuk ke arah jajaran pedagang kaki lima.
“Jangan beli makanan banyak-banyak, nanti nggak abis kayak kemarin, Ji.” Tegur Langit seperti menegur seorang adik yang kebanyakan jajan.
“Tenang aja, kali ini pasti aku habisin.” Ujar Jingga penuh keyakinan. Dia sangat yakin akan menghabiskan semua itu, karena dia benar-benar menginginkannya saat ini.
“Oke, tapi awas aja kalau jadiin aku sama Hana tempat pembuangan kayak kemarin.” Langit memperingati.
“Iya, tenang aja. Lagian, nanti aku belinya nggak banyak-banyak kayak kemarin, kok.” Tutur Jingga menenangkan. Langit mendesah, semoga saja yang dikatakannya benar.
Jingga menarik tangan Hana untuk pergi membeli beberapa makanan yang diinginkannya. Gadis itu sampai geleng-geleng kepala melihat Jingga yang terlalu bersemangat membeli semua jajanan itu.
Sebelumnya, Hana mengira jika Jingga adalah gadis pemilih dan lebih suka tempat-tempat yang mewah, tapi ternyata sangat sederhana. Dia bahkan tidak minder dekat dengannya.
“Han, kamu yakin nggak mau beli apa-apa? Kalau mau sesuatu beli aja, nanti aku yang bayar.” Tanya Jingga sekali lagi, karena Hana terus menolak saat dia menawarkan beberapa jajanan untuk Hana.
“Aku makan bakso aja nanti.” Jawab Hana dengan cengiran lebar.
“Wahh, udah dipesenin. Makasih, Lang.” Seru Jingga saat dia melihat tiga mangkuk bakso sudah siap di atas meja mereka, lalu duduk berhadapan dengan Langit dan meletakkan semua makanan yang dibelinya.
“Bakso doang buat Jingga.” Langit lantas menyodorkan mangkuk bakso itu pada Jingga dan Hana. “Bakso campur buat Hana. Kamu suka mie, kan?” Tanyanya kemudian, takut-takut Hana tidak suka. Gadis itu lalu menjawab dengan anggukkan.
“Lho, kok aku nggak dikasih mie?” Jingga protes karena bakso miliknya beda sendiri.
“Kamu boleh makan punya ak–”
“Shuut, Hana.” Sela Langit memicingkan matanya sekilas pada Hana. “Masih banyak makanan yang harus Jingga habisin. Tuh. . . .” Lalu menunjuk makanan yang dibeli Jingga menggunakan dagunya.
“Ish, padahal aku, kan, juga suka mie.” Jingga masih merajuk.
“Aku nggak mau nanti kamu keburu kenyang kalau baksonya pake mie.” Balas Langit dengan tatapan penuh teguran.
Jingga merengut dan terdiam sebentar seraya menatap beberapa bungkusan makanan miliknya di atas meja. “Ya udah.”
Dengan perasaan sedikit sebal, Jingga lalu melahap baksonya sampai habis. Setelah itu, dia beralih pada batagor, siomay, sosis bakar, dan telur gulung yang sejak tadi diinginkannya.
Kali ini Jingga menepati ucapannya, gadis itu benar-benar menghabiskan semua makanan yang dibelinya.
Terakhir, dia menyeruput minuman bubble rasa stroberinya hingga tandas. Langit dan Hana yang memperhatikan Jingga sejak tadi terperangah tak percaya, karena tak sampai satu jam, gadis itu sudah selesai dengan semua makanannya.
“Kamu baca doa sebelum makan nggak, sih, Ji?” Tanya Langit, tak percaya yang menghabiskan semua makanan itu adalah Jingga. Pasti ada setan yang membantunya.
“Baca, lah. Emang kenapa?” Jingga balik bertanya.
“Habisnya kamu makan kayak orang kesetanan kayak gitu, rakus banget.” Cibir Langit, membuat Jingga kembali mendengus.
“Enak aja kesetanan. Aku, tuh, kelaparan, soalnya tadi makan siang cuma dikit banget, keburu ada panggilan darurat.” Sahutnya tak terima.
Langit hanya berdecak, tadi siang dia bahkan hanya memakan snack bar, tapi tak sampai kelaparan seperti Jingga hingga menghabiskan banyak makanan.
“Tapi makan kebanyakan sama terlalu cepet juga nggak baik, Ji, kayak kamu nggak tahu aja. Kena gangguan pencernaan nanti baru tahu rasa.” Tegur Langit bersungut-sungut.
“I-iya, aku tahu. Tapi mau gimana lagi? Ini aku udah habisin semua.”
__ADS_1
Langit hanya berdecak sambil geleng-geleng kepala, lalu beralih pada minuman bubble milinya untuk dia sesap hingga tandas. “Habis ini kita mau ngapain?”
“Pulang aja, lah.” Jawab Jingga sembari melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya sudah menunjukkan pukul delapan malam. Dia teringat pesan Biru untuk jangan keluar sampai larut malam. Meski sangat disayangkan karena ini malam Minggu.
“Kamu gimana, Han? Mau naik wahana dulu, nggak? Aku temenin kalau kamu mau.” Langit beralih pada Hana yang sejak tadi hanya diam saja.
Pada dasarnya, Hana memang sedikit pendiam. Kalau tidak ditanya, dia tidak akan bersuara. Berbeda sekali saat gadis itu sedang merawat pasien, selalu ramah dan tak malu-malu.
“Jangan modus, dia punya pacar. Pacarnya itu Kepala Laboratorium di rumah sakit kita.” Jingga melempar Langit dengan tisu bekas hingga membuat cowok itu bergidik jijik.
“Ihh, enak aja, siapa juga yang modus? Aku, kan, cuma nawarin.” Sahut Langit tak terima, dia memang tidak ada niatan modus, kok.
Langit lantas kembali bertanya pada Hana, siapa tahu saja gadis itu ingin membeli sesuatu atau mencoba wahana. Namun, Hana mengatakan tidak ada wahana yang ingin dia coba ataupun membeli sesuatu, gadis itu mengatakan lebih baik mereka pulang saja.
********
Dalam perjalanan pulang, suasana di dalam mobil Langit tampak hening. Tak ada satupun di antara mereka yang berniat membuka suara. Jingga yang biasanya senang berceloteh, kini gadis itu hanya diam saja sembari menyandarkan kepalanya pada kaca mobil.
“Lang. . . .” Panggil Jingga dengan suara lemah.
Ternyata, sejak tadi Jingga diam karena menahan rasa tidak nyaman di perutnya. Tapi, semakin ditahan, perutnya semakin bergejolak, ditambah AC dan pengharum dari mobil Langit membuatnya semakin mual hingga ingin muntah.
“Kenapa, Ji? Masih mau jajan?” Tanya Langit tanpa menoleh.
“Bisa menepi dulu sebentar, nggak?” Tanya Jingga susah Payah, lalu menekap mulut dengan telapak tangannya.
“Lho, kamu kenapa?” Tanya Hana sedikit panik begitu melihat Jingga seperti menahan sesuatu. Tapi, Jingga tak menjawabnya, karena kalau sampai dia membuka mulut, sudah pasti dia akan muntah di dalam mobil Langit.
“Kamu mau muntah?” Jingga mengangguki pertanyaan Hana.
Langit yang mendengarnya langsung panik dan meminta Jingga untuk menahannya sebentar saja. Jelas, dia tidak mau mobil kesayangannya kotor.
“Tahan, Ji.” Langit berusaha mencari tempat yang aman untuk menepi.
Sampai saat Langit menepikan mobilnya di pinggir jalan yang cukup sepi, Jingga langsung turun, berlari ke sisi kiri mobil, lalu memuntahkan isi perutnya saat itu juga. Semua makanan yang tadi dia makan dimuntahkannya begitu saja.
“Han, tolong ambilin air di dashboard.” Pinta Langit yang sibuk memijat tengkuk Jingga saat gadis itu mencoba mengeluarkan semua isi perutnya hingga keluar cairan bening yang rasanya pahit.
“Ini pasti karena kamu makan kebanyakan sama grasak-grusuk. Jadi kena gangguan pencernaan kayak gini, kan? Aku bilang juga apa?” Langit mengomeli Jingga sambil terus memijat tengkuknya.
Jingga mendelik di sela-sela mengeluarkan isi perutnya. Euh, ingin sekali dia memukul Langit saat ini juga. Kesal sekali, orang sedang kesusahan malah diomeli.
Merasa semua isi perutnya sudah keluar, Jingga lantas duduk bersandar pada badan mobil. Tubuhnya benar-benar lemas dan kepalanya sangat pusing. Aneh sekali, tiga hari belakangan ini dia mengalami mual setelah makan. Sepertinya memang gangguan pencernaan.
“Minum dulu, Ji.” Langit menyerahkan botol air mineral yang tutupnya sudah Hana buka.
Jingga yang merasa tenggorokannya kering, lalu menerima botol air mineral tersebut dan meminumnya hingga tengorokannya lega.
“Kamu nggak apa-apa, kan?” Tanya Hana khawatir.
Jingga hanya menganggukkan kepalanya lemah. Dia belum sanggup untuk bicara. Bagaimana tidak? Sumber energinya sudah dia keluarkan semua.
“Ya udah, ayo bangun.” Langit membantu Jingga untuk berdiri dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.
Sepanjang perjalanan, Langit terus mengomeli Jingga. Langit benar-benar kesal dan khawatir sekaligus.
Serakah . . . .
Berlebihan . . . .
Rakus . . . ., dan lain sebagainya. Langit terus mengomelinya seperti itu.
Jingga yang masih merasakan tubuhnya lemas, hanya memejamkan mata dan mendengarkan omelan Langit yang sudah seperti seorang DJ radio.
Langit benar-benar cerewet seperti Kak Senja. Berbeda sekali dengan Biru, seandainya dia ada di sini, mungkin saat ini punggung Jingga sedang diusap-usapnya dengan sayang. Ahh, Jingga jadi merindukannya.
********
Sesampainya di rumah, Jingga langsung masuk ke kamar dan merebahkan dirinya, telentang di atas tempat tidur.
Sejenak Jingga terdiam sambil menatap langit-langit kamar, dia memijat keningnya yang berdenyut nyeri. Kepalanya benar-benar pusing, tubuhnya lemas, dan sakit semua.
“Kak.” Jingga tiba-tiba merasa sedih saat melihat tempat kosong di sebelahnya. Biasanya Biru tidur di sana sambil memeluknya, itu sangat nyaman. Jingga ingin Biru datang ke sini dan memeluknya saat ini juga.
Sejurus kemudian, dering ponsel membuyarkan lamunan Jingga. Tangannya lalu dengan malas mengambil ponsel yang dia letakkan sembarang di dekat bantal. Matanya berbinar tatkala dia melihat nama “Penguntit” tertera di layar ponsel melakukan panggilan video.
“Kakak. . .” Seru Jingga begitu wajah Biru muncul memenuhi layar ponselnya sesaat setelah dia menggeser icon dari panggilan video tersebut.
__ADS_1
********
To be continued . . . .