Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Pertemuan yang mendebarkan


__ADS_3

"Selamat siang, dok. Maaf, agak telat." sapa syifa.


"Eh, akhirnya datang juga. Saya udah nunggu dari tadi. Bagaimana kabarnya, Bagas?" sapa dokter Taufik.


"Baik, dok." jawab Bagas, dengan wajah yang sedikit tegang.


Dokter pun mulai memeriksanya, lalu dengan tangan yang terampil mulai merangsang semua syaraf-sayaraf yang ada di tubuh Bagas, dari ujung kepala sampai ujung kaki.


"Fa, boleh saya tanya?"


"Boleh, dok. Ada apa?" jawab Syifa.


"Tapi... Itu, maaf. Supirnya.." tunjuk dokter Taufik pada Farhan di pojokan.


"Oh, iya. Farhan, maaf ya. Harus keluar dulu sebentar." pinta Syifa.


"Baik, saya permisi." pamit Farhan, lalu keluar dari ruangan itu.


Syifa kembali menghadap dokter Taufik, dan memulai pembicaraan mereka.


"Iya, dok?" tanya Syifa lagi.


"Maaf, jika harus menanyakan ini. Tapi, apakah kalian sudah pernah berhubungan suami istri?" tanya dokter Taufik, sedikit sungkan.


Bagas tampak seidikit tegang, dan melihat Syifa menunduk sembari menggelengkan kepalanya. Memang canggung, tapi mau tak mau Ia harus jujur dalam hal ini.


" Fa, saya berdiskusi dengan dokter saraf dalam hal ini. Bahwa, kalian sesekali harus mencobanya. Kita sama-sama tahu, jika bagian yang belum menunjukkan perubahan adalah bagian pinggang kebawah. Jadi... Kamu tahu kan, maksudnya?"


"Ya, Ifa tahu. Harus mengetes alat reproduksinya juga 'kan? Selama ini, Ifa hanya takut karena Mas Bagas belum bisa menggerakkan semuanya. Apalagi, dia masih memakai kateter karena kandung kemih yang belum terkontrol. Jadi, Ifa harus bagaimana?" tanya Syifa.


"Saya... Hanya takut jika tak dapat melakukannya dengan baik, Dok. Takut, jika Syifa kecewa." sambung Bagas.


"Ya, saya faham. Dan sebenarnya bukan ranah saya membicarakan ini semua. Saya hanya mewakili Pak Boby saja untuk menyampaikannya. Tak ada salahnya, kalian mulai mencoba. Tapi, ya kembali lagi karena harus sabar menerima keadaan."


Syifa hanya mengangguk, meski wajahnya tampak ragu dan sayu.


"Fa... Ucapan dokter tadi?"


"Iya? Nanti kita coba ya, Mas. Apapun, akan Ifa lakukan, Mas." bisik Syifa, yang menghentikan langkah dan memeluk Bagas dari belakang


"Farhan, ikut kami lagi, ya." ajak syifa, dan Farhan pun kembali mengikuti.


Kini mereka telah tiba di ruangan itu. Ruangan yang penuh dengan alat terapi. Baik terapi Robotic, dan terapi berjalan lainnya.


Syifa mengganti pakaian Bagas dengan kaos oblong yang berbahan dingin, agar dapat menyerap keringat dengan baik. Mereka lalu di sambut beberapa terapis, dan membawa mereka pada alat yang akan di gunakan.

__ADS_1


"Sebelumnya, apakah sudah pernah mencoba terapi?"


"Belum, Kak. Berdiri pun belum, karena belum ada himbauan dari dokter." jawab Syifa.


"Baiklah. Jika benar-benar pertama, mungkin sedikit sakit karena sudah akan ada penyesuaian lagi dengan seluruh organ, apalagi otot-ototnya."


Beberapa orang datang, dan menyambut tubuh Bagas. Mereka membantu Bagas berdiri, dan memasangkan tubuhnya pada alat terapi itu. Bagas berdiri, lalu menggenggam erat pegangan yang ada. Ada sebuah tali yang menyangga tubuhnya agar tak jatuh. Seperti tali yang dipakaikan pemanjat tebing yang menggantung di tubuhnya.


"Aaaaaarrrgghhhh!" Bagas mengerang kesakitan.


"Kenapa, Mas? Apanya yang sakit?" tanya Syifa.


"Pinggang, Fa. Sama otot-otot kakinya terasa ketarik, sakit sekali." lirih Bagas, dengan wajah yang mulai memerah.


Alat pun di gerakkan seperti tredmill, dan kaki Bagas mengikuti semua gerakan itu. Tampak sekali, Bagas semakin kesakitan, bahkan wajahnya memerah dan berkeringat.


" Mas, tahan?" tanya Syifa lirih.


" Sakit, Fa. Tapi, setidaknya kaki ini merasakan sakit itu. Karena sejak kemarin, Ia tak merasakan apapun." balas Bagas, dengan mata terpejam menahan semua sakit yang ada.


Tak tega, dan sedih melihatnya. Tapi, itulah jalan yang harus di tempuh agar Bagas sembuh.


"Hallo, Za? Kamu dimana sekarang?"


Tanya Papa Erland. Ia nyaris seharian mencari Reza, namun tak kunjung Ia temukan.


"Reza lagi di Pak Hans, Om. Ngurusin peralihan kuasa Bagas sama Syifa. Kenapa, Om?"


"Ternyata masih se repot itu prosesnya?"


"Iya, Om. Karena, pernikahan mereka 'kan pernikahan siri. Jadi, agak sulit mengenai urusan." jawab Reza.


Sesuatu yang tak pernah terfikir, dan baru disadari untuk semua pemberkasan. Meski semua orang tahu, tapi dokumen kenegaraan mereka memang belum lengkap dan sah bagi negara.


" Astaga. Maaf, Om baru menyadari semua ini, dan sekali lagiĀ  terimakasih karena harus kamu lagi yang repot, Za."


"Iya, Om. Ngga papa, kan sekalian urus semuanya. Daripada harus bolak balik lagi."


"Yasudah. Jika selesai, segera kembali, ya?" pinta Papa Edward pada keponakan kesayangannya itu.


Reza kini sedang duduk manis menunggu antrian. Tapi bukan antrian di pengacara, melainkan antrian pecel lele yang ada didekat sana. Reza bahkan lupa makan, dan nyaris kelaparan demi sepupu tercintanya itu.


"Ini, Mas_pesanannya." ucap seorang pelayan yang mengantarkan makan siang Reza.


"Hmmmm, pecel lele dengan sambal terasi, plus lalapan nya." kagum Reza, sembari menjulurkan lidahnya penuh napsu.

__ADS_1


Pria jomblo itu kemudian melahap semuanya hingga tandas, ia kini kekenyangan dan duduk bersandar di pagar bambu Lesehan nya.


Ia memainkan gawainya, sembari mendengarkan suara anak-anak yang mengamen di hadapannya. Ia pun tak lupa memberikan beberapa lembar uang pada mereka.


"Bagi rata loh, jangan rebutan." ucap Reza.


Tanpa sadar, dompetnya terjatuh dan anak-anak itu akan mengambilnya.


"Eh... Ambil apa kamu? jangan nyopet. Kalau mau ngamen, ya ngamen aj yang bener." tegur seorang wanita pada mereka.


Reza menoleh, lalu menatap wanita muda itu dengan wajah menenangkan. Gadis yang tinggi semampai, berperawakan tomboy dan rambut ikal tergerai. Kulitnya putih bersih, meski tak dibaluri make up sama sekali. Reza nyaris tak berkedip menatapnya.


Namun, Reza hanya diam, bengong tanpa mengeluarkan sepatah katapun.


"Mas? halooooo?" panggil nya lagi, dengan mengibaskan tangan ke wajah Reza.


"Eh, iya... Kenapa?" tanya Reza yang akhirnya tersadar dari lamunan.


"Ini, dompetnya. Lain kali hati-hati sama orang lain. Orang yang sudah pernah kita tolong pun, bisa menjadi penjahat terbesar dalam hidup kita." ucap gadis itu, lalu melangkah pergi meninggalkan reza yang masih bengong.


"Loh... Eh! kok pergi? Tunggu, kita belum kenalan." panggil Reza, tapi Ia tak menoleh.


Reza beranjak dari tempat duduknya, lalu pergi dengan meninggalkan uang Pembayar pecel lele di meja. Ia mencoba mengejar gadis itu dan terus berjalan cepat sesuai kata hatinya.


" Itu cewek, cepet banget ilang nya. Pakai Hiraishin No jutsu, apa ya?" gumamnya, sembari menggaruk kepala.


"Aaaaaa, sudahlah. Gue yakin, kalau jodoh pasti ketemu. Rambut mie nya itu loh, menggemaskan." gemas Reza.


Ia pun melangkahkan kaki kembali menuju mobilnya. Ia segera pergi menuntaskan semua tugas yang di pikul nya saat ini. Berat, tapi itu lah tanggung jawabnya.


Sementara itu, Syifa dan Bagas masi ada di klinik terapi. Bagas kelelahan, setelah hari ini mereka mencoba menggerakkan kaki Bagas beberapa kali. Seperti ketika menggunakan treadmill di Gym. Hanya saja, karena memang baru pertama kali, rasa sakit yang Bagas rasakan begitu luar biasa.


"Masih sakit, pak Bagas?" tanya sang terapis.


"Masih." lirih Bags.


"Ya, namanya baru pertama. Seperti ketika pertama kali nge Gym, pasti akan terasa sakit. Bapak rajin nge-Gym bukan?" tampak dari tubuhnya yang bagus." puji nya.


Bagas hanya tersenyum dan tersipu malu. Ternyata, ototnya masih tampak meski selalu di sodori makanan an vitamin oleh Syifa.


Ia diturunkan dari alatnya. Lalu Syifa di bantu Farhan meraih tubuhnya dan membawa Ia duduk disofa dengan meluruskan kaki.


"Capek?" tanya Syifa, yang memberinya minum.


Bagas hanya mengangguk, dan meneguk minuman itu hingga tandas. Sementara Syifa membuka pakaian Bagas dan menggantinya dengan yang baru.

__ADS_1


__ADS_2