Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Aku yang sakit, kenapa Bagas yang dipeluk?


__ADS_3

"Udah, Fa." panggil Reza, membuyarkan lamunan aneh Syifa.


"Eh, iya. Bentar."


Syifa kemudian membuka pintu kamar mandi, lalu membantu Reza merapikan diri.


"Sedang apa kalian?" tanya Bagas, yang tiba-tiba ada di depan mereka berdua.


"Ti-tidak apa-apa. Hanya......"


"Ya kalau ke kamar mandi mau ngapain, Mas? Pake nanya sih." tukas Syifa.


Bagas kemudian menghampiri. Dengan tatapan tajamnya, Ia meraih infus Reza dan menggantikan Syifa membawanya kembali ke brankar.


"Mencuri kesempatan."


"Hey, aku sakit lah. Tak mengerti juga dengan keadaan orang. Marah-marah terus, ngomel terus. Daritadi di tungguin ngga dateng-dateng, malah pergi entah kemana. Dikiranya aku apa? Sakit langsung bisa lari, gitu?"


"Reza Edwardo!"


"Ya, aku tidur." jawab Reza, dengan memajukan bibirnya.

__ADS_1


Bagas membimbingnya untuk duduk. Ia menyuapi Reza dengan makan siang jatahnya dari Rumah sakit. Tapi, Reza tak menyukai makanan lembek, bahkan melihatnya saja enggan.


"Makan, aku tak mau kau mati kelaparan." bujuk Bagas, mesku dengan nada datar.


"Melihatnya saja aku malas, bagaiman mau makan? Apa tak ada yang lain?"


"Mas, makanan untuk orang sakit memang begitu. Apalagi, setelah operasi seperti ini. Ayolah." imbuh Syifa.


Akhirnya Reza makan meski pelan. Apalagi, dengan bantuan tatapan tajam Bagas yang selalu membuatnya diam tak berkutik. Dan akhirnya makanan habis tak tersisa. Ia pun mendapat pujian dari Syifa dan Bagas.


" Kayak bocah." ledek Bagas. Reza hanya menjulurkan lidahnya, membalas ledekan yang Ia terima.


Hari semakin sore. Tak ada orang lain yang dapat menggantikan mereka berdua. Hanya tinggal menunggu Mama Ayu, atau Papa Erland. Tapi ternyata, Gibran datang dengan membawa sebuah tas dalam gendongannya.


"Hey, Gibran. Kok, kesini?" tanya Reza, heran.


Gibran hanya tersenyum, sembari mencium tangan Bagas dan Syifa. Tak telat, tatapannya pada Bagas yang sudah bisa berdiri dan berjalan secara normal.


"K-Kak Bagas. Kok?" tanyanya, dengan mata terbelalak.


Bagas tersenyum, merangkul sang adik ipar masih kurang tinggi di banding dirinya. Menepuk-nepuk bahunya, ingin sekali rasa memeluk dengan erat.

__ADS_1


"Ya, Kakak sudah sembuh. Maaf, karena belum sempat memberi kabar ini pada kalian."


"I-iya..." jawab Gibran, yang ternyata memeluk Bagas terlebih dulu. Apalagi, ketika melihat wajah lelah sang kakak telah berubah menjadi wajah yang begitu bahagia.


Bagas membalasnya penuh haru. Mengusap rambut adik iparnya dengan lembut kala itu.


"Huaaah, padahal aku yang sakit. Kenapa dia yang dipeluk?" gerutu Reza.


Seisi ruangan tertawa melihat tingkahnya yang menggemaskan, lalu beralih memeluknya bersama-sama.


Selepas itu, Bagas dan Syifa pamit untuk pulang. Gibran meyakinkan diri, akan dapat menjaga Reza dengan baik di sana. Apalagi, sore nanti Pak Abu dan Bu Mariam akan datang membantunya.


Reza seperti mendapat keluarga baru, yang begitu perhatian dan menyayanginya setus hati. Yang mampu membuatnya lupa sejenak, akan semua rasa sakit yang tengah Ia rasakan.


"Mas, laper." ucap Syifa.


"Mau makan dimana? Atau, mau ku buatkan sesuatu yang spesial?"


"Apa?" tanya Syifa.


Bagas hanya tersenyum manis, menggenggam erat tangan Syifa, dan membawanya pergi dengan mobil yang di supiri Farhan. Diam-diam, Ia dan supirnya itu telah berdiskusi untuk memberi sebuah kejutan pada sang Nyonya muda. Apalagi, Farhan memperoleh semua info dari Fina, mengenai semua yang Syifa idamkan selama ini.

__ADS_1


"Aku, yang bahkan tak sempat mencari tahu tentang apa yang kau sukai. Bahkan, tentang apa yang kau inginkan. Padahal, kau mengetahui semuanya tentangku. Aku merasa, bagai orang asing ketika di dekatmu, yang begitu faham diriku. Hari ini, akan ku buat kau bahagia, Fa." batin Bagas, yang berjalan tanpa melepas genggaman itu sedetikpu.


__ADS_2