
Reza kembali menggendong Bagas ke kamar nya yang ada di bawah. Syifa belum mau tinggal di kamar atas, dengan alasan bayang-bayang Luna masih kental di sana. Mungkin ke kanak-kanakan, tapi begitu lah ketika rasa takut dari seorang wanita terus membayangi. Bukan takut Bagas kembali, tapi hanya takut jika Luna terus membahas masa lalu mereka yang manis.
"Udah, gue balik ke kamar." pamit Reza.
"Ngga disini aja?" goda Bagas.
"Ish....." Reza mencebik bibirnya kesal.
Syifa lalu menggantikan pakaian Bagas, dan menidurkannya kembali. Begitu juga Syifa, Ia yang kelelahan langsung mengganti pakaian dan tidur di samping Bagas dengan begitu nyenyak. Bagaimana tidak, karena dalam waktu semalam, Bagas menyingkirkan semua kenangan dari Luna. Membuat hatinya tenang seketika.
Reza masih terjaga dengan segudang pekerjaannya. Sebenarnya bisa, jika Ia meminta Bagas mengganggu. Tapi, Ia tak mungkin membiarkan Bagas duduk terlalu lama, apalagi dengan alat fisioterapi yang selalu Ia pakai di pinggangnya.
"Selagi bisa, kerjain aja dulu. Besok pagi tinggal minta tanda tangan Syifa." ucapnya.
Hingga larut malam, Reza menyelesaikan pekerjaan dan tidur memeluk laptop kesayangannya.
***
"Mas mau sarapan pakai apa? Nasi apa roti?" tanya Syifa, yang kini ada di meja makan dan melayani suaminya.
__ADS_1
Begtiu juga Mama Ayu, yang tengah menikmati sarapannya bersama Papa Erland. Sebuah koper besar pun bertengger di sebelah mereka, bersiap di bawa sesuai tujuan dalam waktu yang lama.
Reza keluar. Ia begitu terburu-buru dengan laptop masih dalam pelukannya. Ia memang sudah rapi dengan jas nya, tapi kakinya masih telanjang dan bahkan belum memakai kaos kakinya. Ia menuju meja komputer, dan mulai pekerjaan untuk mengeprint filenya.
"Reza sarapan dulu."panggil Mama Ayu.
" Bentar, Tan. Ngeprint bentar, abis itu Ibu negara harus tanda tangan." jawab Reza, yang menanti lembar demi lembar kertas tercetak sesuai isi yang Ia ketik.
"Ah, akhirnya selesai." ucapnya lega.
Reza kemudian menghampiri mereka, dan sarapan bersama dengan pelayanan dan Tantenya.
"Tan, mau kemana?" tanya Reza, melirik koper besar di dekatnya.
"Hah? Keluar kota seminggu? Astaga..." kaget Reza, dengan wajah tampak Syok.
"Kenapa? Kayak takut bener di tinggal Mama? Kan disini masih ada Ifa sama Mas Bagas." tanya Syifa.
Reza hanya diam, menatap gerak gerik Bagas dan Syifa sembari di suapi oleh Mama Ayu.
__ADS_1
"Mas, Ifa makan dulu, ya? Mas diem aja sambil mainan bolanya." ucap Syifa.
Bagas pun mengangguk dan diam dengan bola karetanya. Hal itu masih terus di lakukan, untuk memantapkan pergerakan buku-buku jari Bagas.
Syifa menyantap makanannya dengan sedikit buru-buru, hingga bibirnya berantakan. Bagas pun membersihkan itu dengan sebuah kecupan dari bibirnya.
"Ih, kok gitu? Malu lah." tegur Syifa dengan mata membulat. Dan Bagas hanya tersenyum renyah.
"Tante, Bagas tuh!" lapor Reza yang cemberut melihat kelakuan mereka berdua.
"Apa sih? Mereka wajar udah suami istri." jawab Mama Ayu.
Bagas hanya melirik Reza, tatapan matanya bernada cibiran dan begitu puas ketika Reza merengek.
"Udah, Mama sama Papa pergi ya, Sayang. Jaga diri baik-baik di rumah. Lakukan, apa yang dokter sarankan demi kesembuhan kamu." kecup sang Mama di dahinya.
Bagas dan Syifa pun mencium tangan kedua orang tuanya itu, lalu mengantarkan mereka hingga ke depan pintu. Meninggalkan Reza yang sendirian menghabiskan sarapannya.
Bagas dan Syifa kembali menghampiri. Menemani Reza agar sarapannya semakin nikmat.
__ADS_1
"Nikmat apanya? Malah dipanasin sama kebucinan gini. Tante.... Kenapa tante pergi? Tahu kah Tante, betapa perih hati Reza melihat semua ini?" keluh Batin Reza.
Ia pun segera menghabiskan sarapannya, lalu berangkat menuju kantor setelah meminta tanda tangan Syifa. Dan sesuai rencana, Ia memakai motor Bagas kali ini. Demi sebuah cinta yang sedang Ia kejar.