
Syifa mulai berbenah, hari pun sudah semakin sore. Gibran di luar sedang mengumpulkan rambutan yang telah Ia petik, dan akan Ia bawakan ke pada Syifa.
"Fa, ini Bakso buat Mama mu." ucapĀ Bu Mariam.
"Iya, Bu. Makasih, ya. Mama pasti seneng ini. Oh iya, katanya Mama mau ajak kumpul bareng, tapi belum tahu kapan. Nanti Ifa kabarin."
"Hah, ketemuan? Serius kamu, Fa?"
"Iya lah, Bu. Mama sendiri yang bilang. Malah katanya kenapa, datang waktu mereka ngga ada. Ngomel deh." ucap Syifa.
Ibu Mariam hanya tertunduk lesu, Ia merasa masih saja canggung dengan besan dadakannya itu. Para tetangga, masih sempat melakukan pendekatan dengan baik pada calon besan masing-masing. Sedangkan Ia, nyaris tak mengenali sosok besannya itu seperti apa. Bahkan, Ia hanya diam ketika semua teman menceritakan akan besan dan menantu masing-masing.
"Santai aja, Bu. Mama ngga se garang yang di kira. Emang sih, kata-kata yang keluar dari bibirnya itu sering kali begitu pedas, sepedas cabe untuk bakso."
"Eh'em...." Bagas berdehem, melirik Syifa.
"Ya, ditegur anaknya. Hihi." tawa Syifa.
Semua telah beres, hanya tinggal menunggu jemputan Pak Tomo. Syifa mengajak Bagas duduk di teras, sembari menyuapinya rambutan kupas.
"Ini apa, Fa?"
"Itu ac portable, Bu. Pakai aja kalau kepanasan. Syifa pakainya cuma kalau disini aja, karena di rumah ada Ac." jawab Syifa.
__ADS_1
"Ngga ngerti pakainya. Ibu udah biasa kepanasan juga." jawab Bu Mariam, yang kembali menyimpan Ac itu di dalam kamar.
Tampak para tetangga memperhatikan Syifa dari kejauhan. Mengintip dari warung Bu Sus, dan beberpa berpura-pura santai diteras rumah. Mungkin, sebagian penasaran, tapi sungkan untuk bertanya. Apalagi, melihat dandanan Syifa dan Bagas yang memang klimis. Tak tampak adanya raut wajah kesulitan hidup diantara mereka.
Datang sebuah mobil Fortuner berwarna hitam, masuk dalam gang. Sang pengemudi pun membunyikan klakson berkali-kali, memekakkan telinga yang mendengarnya.
"Kenapa harus dia lagi?" tanya Bagas dalam hati.
"Itu... Mas Reza?" tanya Syifa.
Mobil kemudian berhenti di halaman. Reza pun turun dengan merentangkan tagannya, menikmati sejuknya suasana perkampungan itu.
"Kok, Mas Reza yang antar?" tanya Syifa.
"Wuiiiih, rambutan. Kamu yang ambil, Gib?" sapanya, dengan memberikan salam pada Gibran.
"Iya dong, Kak Ifa manjat juga. Tapi keburu turun karena ada pawangnya dateng." ledek Gibran.
"Iya, mereka udah jadi pawang satu sama lain. Apalagi Bagas tuh, kalau udah sama Kakakmu. Ya, begitu." balas Reza.
Mereka hanya tertawa renyah, di sambung Bu Mariam yang mendengarnya. Gibran dan Reza mulai memasukkan barang, dan rambutan yang hampir Satu karung penuh.
" Woaaah, untung mobilnya gede." gumam Reza, yang menyusun barang se rapi mungkin.
__ADS_1
" Fa... Mau pulang?" Bu sus menghampiri. Mungkin, Ia menjadi wakil untuk menjawab praduga dari yang lain.
"Iya, Bu. Belum bisa nginep, Mas Bagasnya."
"Naik travel?"
"Hah, ganteng pakai jas gini di bilang supir travel." kaget Reza, melirik diri sendiri sembari tertawa geli.
"Engga, Bu. Itu Mas Reza, sepupu Mas Bagas. Ini mobilnya, karena mobil kami di pakai Ibu. Mobil yang tadi pagi." jawab Syifa.
"Sama-sama ganteng, Fa. Apalagi yang ini, ganteng banget. Tinggi, putih, sempurna. Bibit bagus buat benerin keturunan." ujar Bu Sus.
"Oh, Bagas... Akhirnya ada yang bilang aku ganteng. Ada yang memujiku. Bolehkah, aku berlari memeluknya?" tanya Reza.
"Lebay." batin Bagas, dengan lirikan mautnya..
Syifa tak lupa memberikan kartu nama Bagas. Siapa tahu, ada orang yang mau melamar menjadi supirnya nanti.
"Takutnya, Bu Yana ngga bolehin Farhan. Jadi, sambil cari yang lain." ucap Syifa.
"Hah... Nugraha's Company?" kaget Bu Sus. Wajahnya tercenganga, matanya melotot melihat mereka semua.
"Pantas saja, Syifa bahagia meski suaminya lumpuh."
__ADS_1