
Pesta pernikahan tinggal beberapa hari lagi. Baik dirumah, mau pun di hotel sudah begitu sibuk dengan persiapannya masing-masing. Hari pun semakin malam, tak terasa Syifa begitu lelah dengan semua kesibukan yang ada.
Tapi hingga malam begini, Bagas masih fokus dengan pekerjaannya dan menatap laptop yang masih menyala.
Syifa yang tiba-tiba teringat akan semua kegiatannya sewaktu merawat sang suami, lalu menghampiri nya. Ia mengambil sebuah kursi, dan duduk dibelakang Bagas dengan perlahan. Kedua tangannya mulai bermain di bahu, tengkuk, hingga ke lengan Bagas. Dan seperti biasa, respon Bagas langsung aktif seperti saat dulu pertama Syifa melakukan itu padanya.
"Rasanya tak ada yang berubah, Fa. Aku masih memejamkan mataku, ketika kau melakukannya. Menikmati setiap sentuhan yang kau berikan, dan meresapinya hingga ke dalam hatiku." bisik Bagas padanya.
"Ada satu lagi, mau?"
"Apa? Tanya Bagas."
Syifa bergerak kembali. Ia menggelitiki lengan Bagas dengan pelan. Sama, seperti ketika Ia memberi rangsangan kala itu. Bagas hanya tertawa, sembari memegangi dahinya.
"Suka?" goda Syifa.
"Jangan menggoda, Humairah. Nanti beda lagi, katanya lelah."
"Eh iya, yasudah. Ifa tidur duluan, ya? Besok mau ke rumah Ibu, soalnya."
Bagas mengangguk, lalu meraih tengkuk Syifa dengan lembut. Satu kecupan di dahi, turun ke pipi, lalu ke bibir. Bertubi-tubi dengan begitu gemasnya.
"Iih, udah..." dorong Syifa pada suaminya.
__ADS_1
Ia pun kemudian berdiri, lalu menghampiri tempat tidurnya yang nyaman itu. Berselimut tebal, dan berusaha memejamkan mata tanpa lampu yang dimatikan. Sulit bagi Syifa yang terbiasa tidur dalam gelap. Tapi Ia harus terus menyesuaikan diri dengan keadaan, karena Bagas pun tak pernah mengeluh padanya.
***
Apel malam pertama yang dilakukan Reza, sejak status jomblo Abadinya lengser. Meski masih sama-sama tegang, tapi Reza selalu berusaha mencairkan suasana agar Olin nyaman di dekatnya.
"Ehm, Mas?" panggil Olin, pada Reza yang tengah mengapelnya malam ini.
"Ya, sayang, kenapa?" jawab Reza.
Jawaban yang cukup membuat hati Olin bergetar. Karena itu panggilan sayang pertama dari Reza untuknya.
"Ehm, anu... Mengenai tawaran Ibu Syifa. Gimana, ya?"
"Cuma ragu, pasalnya kerjanya ringan, dan....."
"Carolina, pasti kamu mikir omongan orang lagi 'kan? Ngga usah dipikirin. Hidup ini hidupmu, dan kamu yang menjalani. Kalau kamu selalu berpedoman dengan pendapat orang lain, kamu akan galau setiap hari." balas Reza dengan manis, memegangi kedua pipi Olin yang cuby dan menggemaskan.
Olin tersenyum mendengar wejangan itu. Hatinya sedikit tenang, dan mulai cerah untuk memikirkan keputusan yangย diambil. Ia melepas tangan Reza yang menempel dipipinya, tapi Reza menolak untuk lepas.
"Kenapa? Aku ingin menatapmu seperti ini. Baru ini, kita bisa dekat dan duduk berdua di temani teh manis hangat yang menyegarkan jiwa."
"Ta-tapi...."
__ADS_1
"Jangan ingat dia. Dia sedang tak ada, jangan pernah ingat dia."
"Siapa?" tanya Olin.
"Huuusssst...." Reza meletakkan jari nya di bibir manis Olin.
Ia kemudian menatapnya kembali dengan mesra. Dekat, dan semakin dekat. Hingga nyaris, bibir bertemu bibir. Olin berusaha menghindar, tapi Reza terus mendekatinya. Hingga sebuah panggilan masuk di Hpnya.
" Aaaarrrghhh! Siapa sih?" kesalnya, lalu meraih Hp yang ada di saku celananya.
"Halo? Kenapa?" tanya nya dengan nada tinggi.
"Pulang."
"Hey, aku baru saja ngapel. Papi tahu, apa itu ngapel? Izinkan sebentar lagi, aku mohon." rengek Reza padanya.
"Pulang, atau....."
"Iya, Pi. Iya... Reza Eduwardo akan segera pulang. Pintu jangan di kunci, ya? Sebentar lagi sampai." ucap Reza yang kesal.
Ia pun kemudian pamit dengan sang kekasih hati. Berjanji akan kembali esok hari, dan bahkan hari-hari berikutnya. Rasa cinta yang semakin dalam, memang harus ada yang mengontrolnya meski sedikit menyebalkan. Bagas, menggantikan itu semua untuk Reza dan Olin, demi kebaikan mereka berdua.
Mampir ke karya baruku. ๐๐Baru netes. ๐๐
__ADS_1