Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Jangan ganggu suamiku


__ADS_3

"Kenapa?" tanya Bagas, yang duduk santai di ranjangnya.


"Ngga papa, Mas. Ayah hanya ragu untuk kemari. Masih sungkan sama Mama, gara-gara masalah kemarin." jawab Syifa.


Ia menghampiri Bagas, dan membantu merubah posisi duduknya menjadi tidur. Syifa pun melangkah sejanak, untuk mengganti pakaian tidurnya.


"Maaf, telah membuat trauma yang mendalam dalam hidup kalian." ucap Bagas.


"Itu udah terjadi, ngga usah diungkit lagi, Mas."


Syifa menghampiri Bagas, dan menyelimuti tubuhnya agar tak kedinginan. Tak lupa, Ia menaruh kantung air hangat di bawah pinggang Bagas. Itu berfungsi untuk melebarkan pembuluh darah, sehingga aliran darah ke sel dan jaringan tubuh menjadi lancar.


Bagas memejamkan matanya dengan begitu nyaman, sedangkan Syifa tidur di sebelahnya. Sedikit jauh, dan berbatas bantal guling diantara mereka.


Tepat tengah malam, Hp Bagas berbunyi berkali-kali. Syifa mencoba acuh, tapi bunyi itu begitu mengganggu telinganya. Hingga akhirnya, Ia bangun dan meriah Hp Bagas yang tersimpan rapi di nakas.


"Luna?" lirih Syifa.


Ia ragu, akan mengangkat, atau justru mematikan Hpnya. Ia tak ingin Bagas galau lagi, ketika memikirkan semua pengkhianatan yang telah di berikan. Beberapa lama mencoba berfikir, dan Luna tetap saja menghubungi hingga puluhan kali panggilan darinya.


"Siapa, Fa?" tanya Bagas, yang akhirnya ikut terbangun.


Syifa tak menjawab, hanya memperlihatkan layar Hp pada Bagas.


"Angkat." pinta Bagas, dan Syifa menuruti dengan berat hati.

__ADS_1


"Speaker." ucap Bagas, dan Syifa menurutinya lagi.


"Hmmmm?" jawab Bagas pada Luna.


"Gas, Bagas... Akhirnya kamu angkat telepon aku, Gas." ucap Luna, dengan harapan yang luar biasa.


"Bagas, maaf karena undangan itu. Mama yang kasih ke kamu, meski aku bilang ngga usah. Maaf, telah menyakiti kamu lagi kali ini. Karena besok, aku akan menikah Gas. Aku harap, kamu ngga datang, ya."


"Eh, Mba yang terhormat. Ini Istrinya Mas Bagas." jawab Syifa, yang jutek.


"Kamu, kenapa kamu yang jawab?" tanya Luna, terkejut.


"Jangan tanya kenapa, karena saya istrinya. Embaknya, kenapa nelpon suami saya tengah malem? Saingan sama Kunti. Mas Bagas angkat tangan aja ngga bisa, gimana mau angkat telepon. Dasar!"


"Mana Bagas? Saya mau bicara sama dia, bukan sama kamu." sergah Luna.


" Kenapa ngga boleh dateng? Takut nggs fokus nikahnya, takut sedih? Apa takut nangis diatas panggung. Udah deh, kita juga ngga akan dateng kesana. Mending kami dirumah, berdua menikmati hari dengan penuh kemesraan. Toh udah halal."


"Kamu!!!"


"Udah deh, ya.... Udah tengah malem, nanti kuntinya kebangun gara-gara denger suara istri Mas Bagas yang merdu ini. Sekian, terimakasih, Bye...." balas Syifa, lalu mematikan Hpnya.


Bagas tertawa, meski suaranya tertahan. Ia menggelengkan kepala, melihat wajah dan tingkah Syifa malam ini.


" Bar-bar banget, sumpah." ucap Bagas.

__ADS_1


"Lagian, besok mau nikah malah neleponin lakik orang. Sakit emang, ganggu orang mimpi indah aja.".


"Bukan karena cemburu?" goda Bagas


"Ish, ngga ada. Ayo, tidur lagi." ajak syifa, lalu kembali tidur di samping Bagas.


Ia membelangi Bagas, dan memeluj bantak guling yang tadi menjadi penghalang mereka berdua.


"Psssttt... Fa.."


"Apa?" tanya Syifa.


"Katanya, mau bermesraan? Berpelukan mesra?" goda Bagas.


"Cuma buat dia diem, Mas."


"Beneran juga ngga papa... Ayok, sini." rayu Bagas, dengan mencolek-colek bahu Syifa.


"Apa sih, ah. Males banget. Tidur, udah tengah malem." balas Syifa, tapi Bagas tak juga berhenti menggodanya.


***


"Aaaarrrrrghhh! Brengsek! Aku ngga terima di giniin." pekik Luna yang tampak begitu frustasi.


Marah, kesal, dan merasa begitu terhina oleh ucapan yang dilontarkan Syifa terhadapnya. Ia yang dulu nya di segani banyak orang sebagai kekasih Bagas, serasa begitu terhempas dan bahkan tak di pandang lagi oleh semua orang

__ADS_1


"Bagas!!! Aku cintanya sama kamu!" pekiknya lagi, dengan tangis sejadi-jadinya.


__ADS_2