Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Syifa selalu memancing


__ADS_3

"Hallo, Fa. Tante Viona datang kerumah?"


"I-iya, Ma. Ifa baru tahu, karena waktu pulang, beliau sudah di rumah. Malah sama Farah, anaknya."


"Ya, apa yang terjadi?" tanya Mama Ayu.


"Yaelah, sepertinya ada yang mengadukan nasibnya barusan."batin Syifa.


Kemudian, Syifa menceritakan kejadian baru beberapa jam terjadi itu. Ia menceritakan secara detail, meski Ia ragu jika Mama Ayu akan mempercayainya. Atau bahkan, akan memarahinya karena bertengkar dengan salah satu saudaranya. Tapi, setidaknya Ia jujur dan apa adanya.


"Maaf, Ma. Baru ketemu malah ngajak berantem. Syifa ngga akan ngelawan, kalau ngga digituin." ucap Syifa.


"Ya, ngga papa. Terkadang, memang ada yang harus bersikap keras pada mereka yang keterlaluan. Jaga rumah, jaga Bagas. Besok kami pulang."


"Iya, Ma." balas Syifa, lalu menutup teleponnya.


Tak disangka, justru Mama Ayu membelanya. Ya, mungkin karena Mana Ayu faham dengan apa yang Syifa maksud barusan. Apalagi, mereka memang keterlaluan karena menjelajah rumah orang tanpa izin, apalagi seisi rumah sedang pergi.


"Maaf Non. Beliau kami tinggal karena harus belanja tadi. Semua keperluan sudah habis, dan kami percaya saja pada mereka." sesal Bik Darmi.


"Iya, ngga papa. Syifa ngerti kok. Kalian sudah bekerja dengan baik. Hanya mereka yang menyalah gunakan keadaan." jawab Syifa.


Obrolan terhenti, ketika Bagas bangun. Ia tidur cukup lama karena kelelahan dengan semua aktifitasnya. Dan kini, waktunya Ia mandi lalu Syifa mempersiapkan alatnya.


"Mandi air anget, Fa? Badanku kurang enak. Sakit-sakit." ucap Bagas.


"Ya, efeknya sama ketika kita yang ngga pernah olah raga, tiba-tiba harus gerak sedikit berat. Iya kan?"


"Iya sih... Padahal dulu rajin nge Gym."


"Iya tahu, kelihatan kok dari ototnya yang sixpack." ucap Syifa, dengan menepuk bagian dada Bagas yang berotot.


"Ngga usah mancing bisa ngga?"


"Mancing apa loh? Ifa cuma suka sama ototnya. Wooouuuw, so seksiiiiih." puji Syifa dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Awas kamu, Fa." batin Bagas.


Pakaian Bagas sudah tanggal. Syifa membawanya ke kamar mandi, lalu mengguyur tubuh nya dengan air hangat. Begitu nyaman, dan Bagas menikmatinya. Sentuhan demi sentuhan Ia rasakan, apalagi ketika Syifa menggosok bahunya dengan lembut, sembari memberi pijitan kecil disana. Aroma sabun yang wangi dan begitu menenangkan, menambah relaksasi kala itu. Bahkan Bagas dengan iseng, mencolekkan busa sabun ke hidung Syifa.


"Eh, tangannya... Nakal." lirik Syifa padanya.


"Kalau nakal, tandanya udah mau sembuh 'kan? Mulai aktif." jawab Bagas, dengan bangga menatap kedua telapak tangannya.


Syifa kesal, lalu mengusap wajah Bagas dengan busa sabun. Bagas pun berteriak karena matanya perih, tapi Syifa justru tertawa.


"Fa, serius, Fa. Ini perih banget."


"Iya, iya... Aku siramin bentar." ucap Syifa.

__ADS_1


Ia pun menyiram tubuh Bagas pagi, dari atas kepalanya. Hingga semua shampo dan sabun yang ada di wajah Bagas terbilas dan bersih. Dan saat itu lah, lagi dan lagi mereka bertatap mata dengan begitu dekat. Bahkan Bagas meraih tangan Syifa agar semakin dekat dengannya.


"Tetaplah seperti ini, Fa." ucap Bagas, dan mereka berada dalam guyuran air yang sama.


Tubuh Syifa ikut basah karenanya, dari ujung rambut hingga ujung kaki. Bagas memperhatikan setiap lekuk tubuh yang indah itu, bahkan sempat menarik ikat rambut Syifa hingga terurai dengan indah.


"Kamu cantik." puji Bagas, dengan membelai wajah Syifa yang di aliri air itu.


"Mas, udah yuk. Nanti masuk angin." ajak Syifa.


Bagas tak bergeming. Di raihnya dagu Syifa, lalu menatapnya dengan semakin tajam. Perlahan, Ia mendekatkan wajah pada istri yang bahkan belum pernah Ia cium itu.


Dada Syifa bergemuruh, serasa tak dapat terkontrol lagi. Ia hanya dapat memejamkan mata, dan menerima semua perlakuan itu padanya. Bagas pun makin lama makin dekat, hingga bibir bertemu bibir, nyaris mulai menikmati semua adegan yang Ia ciptakan.


"Haaachiiiiiim...!!" syifa bersin, dan menyembur tepat di wajah Bagas.


"Fa... Bisa ngga sih tahan dikit. Baru mau mesra." gerutu Bagas


Hay Guys... Mau promo karya sahabat otor nih. Karya baru netes, tapi udah banyak bab nya. Ehmmm, ada Hot2nya gitu.


Ya, kalian kan suka nanya, Syifa dan Bagas yang belum bisa hot kan ya. 🤣🤣 Gimana mau hot, gerakin kaki aja belom bisa. Wkwkwkw.


Jadi, saranin mampir deh kesini. Sambil nunggu Syifa dan Bagas. 🙏🙏 Buat yang selalu setia... SARANGHAE ❤️❤️❤️😘😘


Nah ini sampel bab nya buat testimoni


Bagaimana Arya tidak fokus ke arah bagian tubuh Anna yang menantang, dia hanyalah laki-laki normal yang terjebak dalam situasi yang sangat memungkinkan dirinya untuk terbangun gairahnya.


Apalagi Arya memang diam-diam mengagumi sosok sekretarisnya yang cerdas, cakap, pintar, perhatian, kadang sedikit manja meski tidak terlalu kentara, membuat dia lambat laun jatuh dalam pesona Anna yang menawan.


"Ehem," Anna berdehem saat sudah berhasil naik ke atas ranjang karena Bos di sampingnya masih fokus pada gunung kembarnya yang kini makin terlihat jelas.


Arya pun segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan mereka berdua bersiap tidur.


Keduanya tidak bisa memejamkan kedua mata mereka.


"Pak," panggil Anna lirih.


"Iya," sahut Arya cepat.


"Aku kira Bapak udah tidur, hehe," tawa Anna pelan.


"Belum kok. Aku nggak tau kenapa ga terlalu ngantuk," dan adik kecilku juga sekarang tidak bisa ditidurkan, lanjutnya dalam hati. "Kamu kenapa belum tidur juga?" tanya Arya balik.


"Aku pun nggak bisa tidur, Pak."


Suasana hening sesaat.


"Pak,"

__ADS_1


"An,"


Keduanya memanggil satu sama lain.


"Hahaha," tawa renyah pun terbit dari keduanya.


Kini mereka berdua saling berpandangan.


"Kamu mau ngomong apa, An?"


"Bapak tadi mau ngomong apa?" tanya Anna yang malah membalikkan pertanyaan.


"Aku cuma mau tanya kalau jam segini biasanya kamu ngapain kalau ga bisa tidur?"


Anna terlihat berpikir, "Aku ga pernah kayak gini sih, Pak. Ini baru pertama kalinya. Mungkin efek karna tidur seranjang sama lawan jenis."


"Kamu nggak nyaman sama kehadiran saya?" tanya Arya dengan nada bicara tidak enak dan juga tersirat getar kecewa karena Anna tidak nyaman berada dekat dengannya.


Anna langsung menyampingkan tubuhnya dengan gerakan yang panik. "Nggak, Pak. Aku nggak ngerasa kayak gitu kok." gelengnya kuat-kuat.


Arya pun ikut menyampingkan tubuhnya dan menghadap ke arah Anna.


"Lalu kalau bukan itu alasannya, trus karena hal apa?"


"Aku ini udah lama kehilangan sosok seorang ayah, Pak, dari jaman masih kecil, jadi aku tuh ngerasa kehadiran Bapak di samping aku kayak menggantikan sosok ayah. Gitu lho, Pak," jelas Anna yang malah membuat ngilu hati Arya karena dirinya hanya dianggap sebagai sosok ayah.


"Kenapa aku kok malah kecewa ya?" batin Arya.


"Aku pengen kayak anak gadis lain yang bisa curhat sama ayahnya pas mereka masih kecil. Makanya aku ga bisa eh lebih tepatnya ga mau tidur karena pengen rasain pengalaman yang sama."


"Ya udah kalau gitu kamu anggap aku sebagai ayah kamu aja." pasrah Arya meski dalam hati menangis pilu cuma dianggap ayah.


"Makasih ya, Pak," senang Anna yang dengan refleks memeluk laki-laki dewasa itu.


Serrr ....


Arya makin berkobar ga*rahnya saat anggota badan kenyal dan lembut milik Anna dengan sangat nyata dan terasa menempel pada tubuhnya.


Adik kecilnya yang sedari tadi dia usahakan untuk tidur kini malah semakin bertambah rewel ingin diluapkan segala hasrat yang tertahan.


"Eh, maaf, Pak," ucap Anna yang sadar kalau dirinya telah kelewatan batas.


Arya tak menjawab dan saat Anna ingin menjauhkan tubuhnya, tangan lelaki itu mencekal lengan Anna agar tak segera menjauh darinya.


Keduanya saling bertatapan dengan sangat dalam dan karena memang sudah terbawa suasana wajah Arya mulai mendekati wajah Anna yang hanya berjarak beberapa puluh centi saja dari posisinya.


Bersambung ....


__ADS_1


__ADS_2