
Di perusahaan yang Bagas pimpin, Nugraha's Company. Sedang terjadi sebuah ketegangan antar dewan dan substansi. Mereka sedang membicarakan tentang surat kuasa yang baru saja dibuat dan di Tanda tangani sah oleh Bagas selalu Direktur utamanya.
Reza dan Papa Erland, mau tak mau mengadakan rapat besar untuk membahas semua masalah itu. Dan kini, mereka telah ada di sebuah ruang rapat yang luas, dengan meja besar lonjongnya. Mereka diam, namun menampakkan wajah penuh tanya pada Kedua wakil Bagas itu.
"Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa, istri yang baru saja di nikahi bisa menjadi kuasanya?"
"Kalau Bagas bisa Tanda tangan, kenapa tak dia sendiri yang bergerak? Ada apa ini sebenarnya?"
"Apa yang kalian sembunyikan dari kami? Jawab Reza."
Pertanyaan demi pertanyaan dihadapkan pada mereka. Tampak wajah Papa Erland begitu bingung, bahkan tampak pucat karena kelelahan.
"Maaf, karena harus membuat huru hara yang seperti ini. Bagas memang menunjukkan beberapa perkembangan. Tangannya dapat di gerakkan meski tremor. Dan tanda tangan ini, Ia berusaha melakukannya dengan susah payah."
Jawab Reza.
"Yang kami tanya adalah, kenapa harus istrinya? Banyak yang bisa Ia percaya daripada perawat itu. Apalagi dari segi pendidikan, pasti dia ngga ngerti tentang perusahaan."
"Ya, memang belum mengerti, dan bahkan Ia menolak dengan tegas awalnya. Tapi, Bagas memintanya dengan semua kode yang Ia berikan."
"Kode? Jangan-jangan hanya permainan dia saja? Toh, yang lain tak mengerti." bahas yang lain.
Reza mulai bingung menjawabnya. Meski Ia tahu akan rusuh, tapi tak disangka akan seperti ini.
__ADS_1
"Begini... Dari awal Bagas koma, memang hanya Syifa yang bisa mengerti semua bahasa dan kode yang diberikan Bagas. Dan itu, membuat Bagas tak mau di sentuh orang lain kecuali gadis yang menjadi istrinya sekarang." jawab Papa Erland, berusaha mencairkan suasana.
" Apa pendidikan, bagaimana? Apa dia harus belajar? Lalu bagaimana dengan Bagas jika dia belajar? Dia akan jadi tak fokus."
Alasan demi alasan Reza utarakan dengan baik dan sedetail mungkin. Hingga pada akhirnya, mereka mengerti dan memahami maksudnya. Meski, beberapa memaksa untuk mengerti.
Rapat di bubarkan, dan mereka kembali pada tempat nya masing-masing. Dan akhirnya, berita begitu cepat sampai ke telinga Papa Reza.
"Hallo, kenapa?" tanya Reza, ketika Papanya menelpon.
"Apa maksud berita ini?"
"Kenapa? Keberatan?"
"Goblok! Harusnya yang jadi kuasa itu kamu. Kenapa? Aaarrrgh! Kenapa kamu sebodoh ini Reza!"
Ia pun mematikan teleponnya, tanpa perduli lagi dengan Papanya yang masih meracau disana. Ia terbayang kondisi rumah saat ini, yang pastinya akan banyak benda berterbangan dan berantakan. Biasanya, Ia yang selalu membersihkan semuanya dan kembali rapi seperti semula.
***
"Mas, lagi nonton apa? Serius amat?" tanya Syifa yang menghampirinya.
"Lihat, hasil mereka rapat, Fa. Ngga disangka, akan jadi seperti itu. Efeknya sangat besar pada semuanya."
__ADS_1
"Itu yang aku fikirin, Mas. Aku ngga bodoh-bodoh banget soal begituan, apalagi perusahaan sebesar itu. Selembar kertas berisi tanda tangan kamu, begitu berharga."
"Maaf, sekali lagi merepotkanmu, Fa."
"Udah terlanjur, hadapi saja sih. Ayo mandi, air hangatnya udah siap." ajak Syifa.
Ia lalu membuka pakaian suaminya, dan segera membawanya ke kamar mandi. Syifa melakukan tugasnya lagi seperti biasa. Bahkan rasanya, setiap jengkal tubuh Bagas sudah Ia hafal diluar kepala. Kadang, itu terasa tak adil bagi Bagas. Ia merasa tercurangi oleh keadaan.
"Kapan gantian?"
"Apa?"
"Aku mandiin kamu?" jawab Bagas.
"Nanti, ada saatnya. Kalau benar berjodoh, aku akan punya anak dari. Kamu, Mas. Di saat itu, baru aku akan butuh kamu sepenuhnya
"Dan saat itu aku janji, aku ngga akan memberikan kamu pada siapapun. Aku lah yang akan merawatmu seperti kamu merawat aku."
Buuuugggh! Bogeman ringan melaju ke bahu kekar Bagas.
"Makanya, cepet sembuh dong" bisik Syifa dengan lembut di telinga suaminya itu.
Tuh,. Kan pada minta visual kan ya?
__ADS_1
Otor bisa kasihnya begini. Kalau kurang sesuai, bayangin aja siapapun sesuai halunya kalian. Bebas pokonya. 🙏🙏😘😘