
Bagas mendorong pelan tubuh Syifa ke dinding kaca kamar mandinya. Ia meraih dagu Syifa, dan langsung ********** dengan begitu menggila.
"M-mas, katanya masih sakit?" tanya Syifa berusaha menghindar.
"Tidak, jika buat kamu, Fa." ucapnya.
Tangannya yang kekar meraih tengkuk Syifa, dan mendorongnya agar semakin dekat. Mereka bertukar saliva untuk beberapa waktu, membuat Syifa sesekali menghela untuk mengatur nafasnya yang tersengal. Lalu, Bagas turun untuk menyusuri bagian yang lainnya. Ke leher Syifa yang jenjang, meninggalkan beberapa tanda disana.
Syifa hanya bisa terpejam, menikmati semua sensai lain yang Ia rasakan. Bagas tak membiarkannya bergerak sedikitpun untuk saat ini, bahkan ketika tangan Bagas mulai mencari bola kenyal pavoritnya, dan memainkan seperti ketika itu dengan bola karetnya.
"Mas, dingin..." lirih Syifa, yang bahkan tak sanggup membuka mata.
"Sebentar lagi akan hangat." bisiknya.
Bagas semakin liar dalam permainan itu, seolah membalas dendam dengan keadaan ketika Ia bahkan tak dapat berbuat apapun pada Syifa. Dan hanya membiarkan Syifa bermain sendiri tanpa balasan.
Tangan yang kekar dan semakin agresif itu, lama kelamaan membuka semua yang membalut di tubuh Syifa. Tak dapat melawan lagi, Ia hanya pasrah pada keganasan sang suami.
__ADS_1
"Kau tak membiarkan aku bergerak, Mas?" batin Syifa.
Bagas mulai menyesap mainannya, membuat Syifa mencengkram kuat apapun yang dapat Ia gapai. Menggigit bibirnya, berusaha menahan semua desah'an yang ada.
"Luapkan." ucap Bagas. Dan Syifa akhirnya mampu melepas segalanya.
Suara gemericik air dari shower menjadi samar, tertutup oleh suara sahutan mereka berdua. Bagas meraih kaki kanan Syifa, dan mengalungkan ke pinggangnya. Lalu, mulai lah Bagas beraksi dengan sang junior di tempat teryamannya.
Syifa kembali bersuara, sembari sesekali ingin menjambak rambutnya sendiri. Tapi, Bagas meraih tangannya, dan menggantinya dengan sebuah kecupan mesra.
"Hanya, belum terbiasa." lirih Syifa. Ia mengalungkan tangan ke leher Bagas, lalu menyerang bibir Bagas bertubi-tubi. Tak perduli ada sedikit luka disana. Toh, Bagas juga tak merasakannya.
Bagas mengangkat tubuh Syifa, Ia membawa nya ke kamar dengan tubuh yang masih menyatu. Ia pun menjatuhkan tubuh Syifa di ranjang, menempatkannya pada posisi nyaman. Gempa lokal pun terjadi disana, di iringi nada nada kenikmatan dari mereka berdua.
Peluh pun membasahi tubuh, tak lagi terasa jika Bagas baru saja membersihkannya. Ia akan mandi Dua kali malam ini.
Permainan semakin memanas, Bagas membawa Syifa mempercepat gerakan. Syifa bahkan nyaris menjerit tapi Bagas menahannya dengan bibirnya. Syifa pun menggelinjang, dan Bagas menghela nafas lega setelah bersama-sama mencapai klimaksnya. Bagas membaring kan tubuhnya di sebelah Syifa, menatap Humairahnya yang tampak begitu lelah, tapi juga bahagia.
__ADS_1
"Humairah, tidurlah. Aku akan membersihkan diri lagi. Setelah itu akan makan malam." bisik Bagas, menyelimuti istrinya.
Syifa hanya mengangguk, dan tetap memejamkan mata ketika Bagas pergi darinya. Bagas pun masuk ke kamar mandi, dan kembali membersihkan diri sembari membereskan pakaian Syifa yang berserakan di lantai.
"Pak suami, sudah kembali ke mode normalnya. Masih lemah saja seperti ini, bagaimana ketika sudah benar-benar sembuh. Waduuuuuh?" gumam Syifa, menarik selimutnya hingga menutupi sebagian wajah.
Bagas keluar dari kamar mandi, memakai bajunya dan menemui sang Mama yang telah menunggunya di ruang makan.
"Ma..?" sapanya dengan ramah, berjalan seperti biasa meski pinggangnya nyeri.
"Hey sayang, mana Syifa?" tanya Mama Ayu.
"Tidur, Ma. Dia lelah, biarkan saja."
"Ya, bagaimana tak lelah. Seharian dalam keadaan stres begitu. Bersyukur kamu cepat bebas, dan dia langsung tenang." ujar Mama Ayu, yang kemudian menemani putranya makan.
Perasaan pembaca otor banyak, tapi kok yang follow dikit? Follow otor banyak2 yuk😘 supaya lebih mudah tahu, kalau otor ada karya baru..
__ADS_1