Suamiku Pria Lumpuh

Suamiku Pria Lumpuh
Oh, Baby Brey


__ADS_3

Baby Brey menangis. Ia tengah dimandikan oleh susternya di kamarnya. Sedangkan Syifa, tengah menjalani perawatannya sendiri saat ini. Rambutnya kusam, dan tubuhnya serasa lengket dan lelah. Mama Ayu memanggilkan spa khusus untuk melayani menantunya itu.


"Fa, udah belum?" Mama Ayu datang membawa Brey pada Maminya.


"Tinggal perawatan rambut, Ma. Kenapa?"


"Brey dulu deh, daritadi nangis. Haus kayaknya."


"Okey," jawab Syifa. Ia memang sangat rindu pada putranya itu. Tapi memang, sebagai istri seorang direktur, penampilannya dituntut untuk selalu sempurna.


Syifa mulai duduk di kursi istimewanya. Itu pemberian sang mertua, yang menginginkan menantu dan cucunya tetap nyaman ketika sedang berdua. Agenda menyusui pun dimulai, Brey begitu tenang menikmati setiap hisapan segarnya yang mengenyangkan..


Mama Ayu harus terus mengawasinya. Pasalnya, ifa sering kali gemas kebablasan dengan sang putranya yang mulai tampak gemoi itu. Seperti saat ini. Menyusui, tapi terus menggenggam tangan mungil Brey dan seolah ingin menggigitnya.


"Aaah, kamu menggemaskan sekali sayang. Mami gemesh, Mami gemesh. Masyaallah." sebutnya berkali-kali, sembari menahan diri.

__ADS_1


"Fa, udah. Itu udah mau tidur, malah di utik-utik lagi. Nanti malah nangis."


"Iiih, tapi gemes banget. Hidungnya, bibirnya. Persis papanya. Iiiiih!" Ifa menciumi pipi Brey berkali-kali. Terpaksa lah, sang Oma merebut paksa cucu kesayangannya itu.


"Udah! Makin lama makin aneh kamu. Kasihan anaknya.."


"Maaa, jangan dulu, please. Masih mau sama Brey." rengek Syifa pada sang mertua, dengan mengulurkan kedua tangannya.


"Engga. Lanjutin tuh, perawatannya. Abis itu mandi, baru main sama Brey lagi."


"Iiih, gemes banget, sumpah. Masih ngga nyangka, kau aku yang lahirin kemarin." gemasnya.


"Astaghfirullah, ini anak. Makin jadi aja." Mama Ayu membawa Brey pergi, dan Syifa melanjutkan segala treatmentnya.


Brey diajak ke taman belakang, menikmati segarnya udara sore hari. Disana penuh dengan bunga yang harum, dan sedap dipandang. Tak lupa, sang Oma bersenandung langu dengan begitu merdu untuknya.

__ADS_1


"Dulu, Papi mu diambil Oma nya ketika balita. Dibesarkan di didik dengan keras. Oma, bahkan tak bisa memanjakannya seperti keinginan Oma sebagai Mamanya. Dan kini, kamu akan jadi cucu Oma juga. Oma akan memanjakan kamu seperti yang Oma mau." kecupnya gemas, pada sang cucu.


Baby Brey hanya menggeliat dengan kuat, sampai muka nya memerah. Tampak semakin menggemaskan, dan Membuat Oma Ayu nya semakin sayang. Wajar saja. Brey adalah pemilik tahta tertinggi dalam keluarga itu.


Syifa masih lanjut pada perawatannya. Ia begitu santai dengan semua tindakan yang diberikan. Ia pun tak sabar ingin segera selesai, karena sudah begitu rindu menimang Brey gembulnya.


(Satu jam kemudian.)


"Ma! Mama, Brey mana?" panggil Syifa yang telah bersih dan mandi.


"Tidur, dikamarnya. Awas loh, jangan digangguin. Seumuran Brey, harus lebih banyak tidur, apalagi sering begadang malem. Kamu juga sana, tidur. Jangan sampai kelelahan."


"Iya, Ma." turut Syifa, dengan bibir manyunnya. Tapi, diam-diam Ia pergi ke kamar Brey. Ia mengambil Brey nya, lalu menculiknya ke kamar. Untung saja, Brey begitu tenang dan sama sekali tak bangun karena tingkah Maminya itu.


"Akhirnya, aku mendapatkan mu." ucap Syifa, dengan begitu puas dan bahagia. Ia menidurkan Brey di ranjangnya, lalu tidur disampingnya. Rasanya, tak sabar untuk mereka tidur berpelukan bersama.

__ADS_1



__ADS_2