
Bel berbunyi, mengalihkan perhatian mereka. Syifa berdiri, lalu membukakan pintu untuk yang datang.
"Paket, Mba." ucap seorang kurir, memberikan sebuah kotak pada Syifa.
Syifa menerimanya, lalu membubuhkan tanda tangan di kertas yang di sediakan.
"Terimakasih." ucap Syifa ramah..
Syifa masuk ketika kurir telah pergi, lalu menghampiri suami dan keluarganya lagi.
"Apa itu, Fa?" tanya Bu Mariam.
Syifa yang mengetahui isinya, hanya diam dan mengulas senyum. Lalu, Ia pun membuka bungkusan secara perlahan. Tampak lagi Dua buah kotak, yang tak lain adalah kotak berisi Hp baru yang Bagas belikan untuk Syifa dan adiknya.
" Gib, ini buat kamu. Dari Kak Bagas." ucap Syifa, dengan menyodorkan Hp Oppo Reno seharga Lima Jutaan pada sang adik.
"Wuaaaah? Serius buat Gibran? Kak... Ini mahal, Kak." ucap gibran.
"Kak Bagas yang bayarin. Ini, Kak Ifa juga dibeliin." balas Syifa, memamerkan miliknya.
"Apa itu?" tanya Pak Abu.
Tak ada yang menjawab, hanya Gibran membuka kotak dan memperlihatkan Hp berwarna Silver tersebut.
Pak Abu menghela nafas panjang. Ia tak enak hati pada Bagas, karena ini baru awal mereka bertemu seprti sekarang. Ia tak ingin, ada sesuatu karena pemberian ini nanti.
Pak Abu ingin berbicara, tapi tangan Bagas menghalanginya. Pak Abu melirik, dan Bagas menggelengkan kepala padanya. Pertanda, Ia ikhlas dengan apa yang Ia berikan.
"Ayah hanya takut, kami dikira memanfaat kan keadaan." lirih pak Abu.
__ADS_1
"Yah, anggap saja ini hasil kerja Syifa. Ngga akan ada yang bisa membicarakan kita. Omong aja sama Syifa, biar Syifa damprat dia." tantang syifa.
"Kak Ifa ini, terkenal tomboy. Bahkan, cowok kampung ngga ada yang berani sama Kak Ifa. Makanya jomblo seumur hidup." ledek Gibran, yang mulai mengotak atik Hp barunya.
"Eh, jangan nyebar gosip deh. Tabok nih." sergah Syifa.
Bu Mariam hanya melerai mereka, dan yang lain tertawa renyah termasuk Bagas. Meski Ia masih merahasiakan suaranya.
"Bar barnya emang dari dulu rupanya." batin Bagas.
*
"Assalamualaikum, Bagas..."
Terdengar suara Reza yang lantang memanggilnya. Sepertinya memang mengarah untuk masuk ke dalan rumah, karena makin lama suara nya semakin dekat.
"Mas, Reza?" sambut Syifa dengan senyumnya.
Langkah Reza terhenti, ketika melihat keadaan rumah yang ramai. Dan lagi, tatapannya mengarah pada seorang remaja yang duduk di sofa.
"Kamu?" tunjuk Reza pada Gibran.
"Eh, Kakak. Kok disini?" tanya Gibran.
"Lah, kalian saling kenal?" tanya Syifa menengahi.
Gibran beringsut dari sofanya, dan menghampiri Syifa.
"Kakak ini, yang mobilnya aku senggol, Kak." bisik Gibran.
__ADS_1
"Dia?"
"Ini adek aku, Mas. Namanya Gibran. Dan itu, Ibu sama Ayahku. Sengaja main kesini, mau nengokin Mas Bagas." jawab Syifa.
"Cieeee... Bagas di jenguk mertua. Seneng tuh." ledek Reza, lalu menyapa Pak Abu dan Bu Mariam.
Syifa lalu mengajak Reza mengobrol sebentar, mengenai masalah mobil itu. Sekaligus, Ia meminta maaf atas nama Adiknya, dan ingin mengganti biaya kerugian yang diderita.
" Eh, ngga usah. Mobilnya ngga papa. Ngga usah diotak atik juga. Kan baretnya dikit." jawab Reza.
"Dikit, tapi kalau ngga diperbaiki gimana? Itu mobil mahal, Mas." ucap Syifa.
"Ya karena mahal, sayang aja di cat ulang. Aku lebih suka yang orisinil."
"Serius ngga papa? Uangnya udah ada." Syifa menegaskan pertanyaan.
"Serius... Kalau ada apa-apa, nanti aku minta Bagas aja. Dia banyak uangnya, kan dia yang bertanggung jawab sama kamu. Aman lah."
Balasan Reza melegakan hati Syifa. Untung saja Reza baik, jika itu terjadi pada orang lain, mungkin mereka akan memanfaafkan keadaan.
Syifa kembali pada Bagas, Ia memberikan obat sesuai jadwalnya. Dan mungkin, sebentar lagi Ia akan izin untuk tidur siang di kamarnya.
"Widih, Hp baru Gib?" tanya Reza.
"Iya, Kak Bagas kasih. Tapi susah mau ngaturnya." jawab Gibran.
Reza pun mengambil Hp itu. Ia membatu Gibran untuk mengatur Hp barunya. Mungkin, Hp seperti itu masih murah bagi Reza dan Bagas, tapi sudah terlalu mahal bagi Syifa.
Keduanya cepat akrab, dan langsung bermain bersama dengan keseruan mereka. Tampak Bagas nanar menatapnya. Ia tak cemburu, tapi Ia sedih karena harusnya Ia juga bisa akrab dengan adik iparnya itu.
__ADS_1