
Bagas semakin menunjukkan rasa cintanya untuk Syifa, begitu juga sebaliknya. Setelah pernyataan cinta barusan, mereka sudah tak terlalu canggung lagi menunjukkan kemesraan dan kasih sayang satu sama lain.
Hanya saja, yang masih menjadi beban bagi Bagas adalah ketika Ia belum mampu menunaikan kewajibannya pada sang istri. Padahal Syifa telah melakukan apapun untuknya.
"Mas, kenapa termenung?" tanya Syifa, yang datang dengan piring berisi makanan untuk suaminya.
"Ah, engga, fa. Hanya memikirkan sesuatu. Mama belum datang?" tanya Bagas.
Syifa menggeleng, sembari menyuapkan makanan pada suaminya itu. Dan ketika kemesraan kembali terjadi, terdengar suara kisruh dari luar. Suara lantang menanyakan keberadaan Syifa dan Bagas.
" Syifa! Syifaaaa! Keluar kamu." pekik Mama Ayu dengan suara garangnya.
Belum sempat Syifa keluar, Mama Ayu mendatangi kamar mereka dan membuka pintu dengan kasar.
"Ma-Mama... Kok udah dateng?" tanya Syifa.
"Ini maksudnya apa?" Mama Ayu menunjukkan foto surat kuasa pada Syifa.
"Astaga, Reza!" pekik Bagas dalam hati.
"Maaf, Ma. Itu..."
"Itu apa? Siapa yang nyuruh kamu buat begini?" tanya Mama Ayu sengan lantang.
Syifa hanya diam, dan melirik Bagas yang tak kalah cemas di kursinya.
__ADS_1
"Engga... Jangan kambing hitamkan anak saya, Syifa. Dia bahkan ngga bisa apa-apa, bagaimana bisa memikirkan itu. Apalagi surat kuasa, yang efeknya akan sangat luar biasa bagi semua orang? Apa, kamu diam-diam mau menguasai harta kami?"
"Engga, Ma. Sumpah. Syifa ngga pernah berfikir sampai kesana, apalagi harta. Syifa hanya melakukan, apa yang....."
"Apa yang Bagas suruh, Ma." sambung Bagas, yang akhirnya bicara.
Mama Ayu tampak syok, menatap Bagas dengan mata nanar. Ia bahkan jatuh terduduk di lantai, akibat keterkejutannya yang begitu hebat.
"Bagas... Kamu?"
"Ma, ayo duduk dulu. Kami akan jelaskan." ajak Syifa, dengan meraih tubuh Mama Ayu dan membawanya duduk di ranjang.
Bagas menjalankan kursi rodanya menghampiri sang Mama. Mendekatinya, lalu menggenggam tangannya begitu erat bahkan menciumnya meski dengan tangan gemetar. Mama Ayu menangis menatapnya.
"Maaf, jika Bagas harus bermain rahasia. Ada sesuatu, yang sedang Bagas cari kebenarannya, sehingga siapapun tak Bagas beritahu akan hal ini. Hanya Syifa, dan akhirnya Reza."
"Salah satunya, Ma. Bagas ingin membersihkan nama Ayah Syifa. Bagas ingin, semuanya terkuak dan tak ada lagi hal kotor dalam perusahaan Kakek. Jika benar itu sabotase, berarti mereka sudah mulai mengincar nyawa. Itu bahaya." ucap Bagas.
"Andai, kamu jujur dari awal... Mama ngga mungkin marah seperti ini."
"Ma, Syifa tahu kalau Mama hanya syok. Syifa juga syok, ketika tiba-tiba Mas Bagas minta itu ke Syifa."
Mama Ayu memeluk anak dan menantunya bersamaan. Di kecupnya kening mereka sebagai ucapan permintaan maaf yang dalam.
"Bagas harap, mulai sekarang jangan ada air mata lagi. Kita harus ceria, dan tunjukkan pada semua orang, jika kita baik-baik saja." pinta Bagas.
__ADS_1
Mama Ayu dan Syifa mengangguk, memyetujui permintaan Bagas.
Mereka pun kembali tersenyum, lalu berpisah lagi untuk menjalani rutinitas masing-masing. Dan Syifa, kembali mennyuapi Bagas, meski makanannya sudah dingin.
" Yang berjanji untuk tak membuatku menangis. Baru saja beberapa jam, eh bikin nangis lagi."
"Bukan aku yang buat, Fa. Itu Mama."
"Tapi 'kan gara-gara Mas juga. Makanya, jangan kebanyakan rahasia."
"Fa........"
"Apa, Mas?"
"Mulai cerewetnya?"
"Nanti Ifa diem, Mas nya bingung?"
"Haish, gadis ini. Untung cinta, kalau engga...."
"Kalau engga, apa? Inget, semua ada di tangan Asyifa Humairah sekarang. Secara tidak langsung, Mas memberikan Hak penuh pada Syifa. HAHAHAHAHAHAHA." tawa Syifa terbahak-bahak.
Bagas spontan meraih tangan Syifa, lalu menggigit jarinya untuk memberi pelajaran. Alhasil Syifa terpekik dan terpingkal, mencoba menghindar dari cengkaram sang suami yang mulai kuat padanya.
"Jangan gitu, nanti lecet."
__ADS_1
"Biarin, biar ada tandanya kalau kamu itu milikku."
"Ya jangan di gigit juga tangannya! Jahaaattttt!"